"Keadilan sangat berbeda dengan balas dendam. Keadilan berarti keseimbangan, sedangkan balas dendam hanyalah pemuasan diri manusia."

Sungmin melangkah mengikuti Kyuhyun memasuki kamar tidur mereka, tiba-tiba merasa takut kepada suaminya. Kyuhyun benar-benar terasa asing, seperti bukan dirinya. Dan Sungmin merasa tidak nyaman dengan Kyuhyun yang sekarang menjadi suaminya ini.

"Kenapa kau marah-marah kepadaku, Kyu?" Sungmin memberanikan diri bertanya, mencoba bersikap lembut kepada suaminya. Bukankah dulu Kyuhyun berkata bahwa dia sangat menyukai kelembutan Sungmin?

Tetapi Kyuhyun tetap bersikap dingin, sama sekali tidak tersentuh dengan kelembutan Sungmin, ditatapnya Sungmin dengan sinis, "Suami mana yang tidak marah ketika istrinya malahan mengunjungi lelaki lain di hari pertama setelah mereka menikah. Seolah tidak tahan untuk segera menghambur ke pelukan lelaki itu?"

Wajah Sungmin memucat mendengar tuduhan Kyuhyun, tetapi dia mencoba membela diri, " Kau yang meninggalkanku untuk bekerja di hari pertama pernikahan kita, dan aku bingung tidak tahu harus bagaimana. Lagi pula aku ke sana bukan untuk menemui Jungmo, aku ingin menengok rumah kacaku."

"Alasan." Kyuhyun menatap Sungmin dengan merendahkan, "Dari awal aku sudah curiga ada sesuatu yang lebih di antara kalian. Dan jangan mencoba melempar kesalahan dengan menyalahkanku karena pergi bekerja. Aku berkerja kau pikir untuk siapa? Untuk menghidupi istriku juga. Kau juga menerima keuntungan dari rumah mewah, pakaian mahal, dan makanan enak yang akan selalu disediakan untukmu. Jadi kuharap kau menghargainya dan jangan menjadi perempuan cengeng hanya karena aku pergi bekerja."

Kata-kata kasar Kyuhyun sekali lagi telah membuat hari Sungmin terasa teriris. Dia sampai mundur satu langkah, menjauhi suaminya, menatap Kyuhyun dengan wajah tidak percaya,

"Kyu..?" suaranya bergetar, "Ada apa sebenarnya...?" tanyanya lirih. Menahan perasaan.

Kyuhyun tampaknya tidak tersentuh melihat ekspresi Sungmin, dia menatap dingin, "Tidak ada apa-apa. Hanya saja tiba-tiba aku menyesali keputusan bodohku untuk menikahi seorang perempuan kampung dari kelas rendahan yang tidak tahu terima kasih dan malahan sibuk menjalin affair dengan lelaki lain." Mata Kyuhyun tampak kejam menatapnya, "Dan kupikir aku terlalu muak untuk tidur sekamar denganmu. Keluar dari kamarku!, dan tidurlah di salah satu kamar kosong di rumah ini. Dimana pun itu, carilah yang paling jauh dari kamarku."

"Kyuhyun?" kali ini Sungmin tidak mampu menahan air matanya, dia merasa sangat bingung.

Kyuhyun melangkah ke pintu, sebelum ke luar dia menoleh dengan dingin, "Aku akan pergi keluar, dan aku harap ketika aku pulang, kau cukup tahu diri untuk memindahkan seluruh barangmu dari ruangan ini."

oOo

Sungmin tidak tahu harus berbuat apa, ini adalah hari pertama pernikahannya. Dan Kyuhyun sudah memperlakukannya dengan begitu kejam.

Sebenarnya ada apa dengan Kyuhyun? Apa salah Sungmin sehingga Kyuhyun setega itu dan sekasar itu kepadanya? Benak Sungmin berpikir keras, tetapi dia tidak menemukan pertanda apapun. Bahkan setelah pesta pernikahan itu sebelum Sungmin masuk ke kamar, Kyuhyun masih bersikap lembut kepadanya, memeluknya mesra di dansa pengantin mereka sambil berbisik betapa bahagianya dia ketika pada akhirnya bisa menikahi Sungmin.

Sambil mengusap air matanya, Sungmin mengemasi pakaiannya. Dia sebenarnya tidak ingin melakukannya, diusir seperti ini dari kamar suaminya dan direndahkan karena disuruh mengemasi pakaiannya sendiri dan berpindah tempat.

Tetapi harga dirinya menuntutnya melakukannya, dia tidak mau ketika Kyuhyun pulang nanti dan menemukan dirinya masih ada di kamar ini, Kyuhyun akan semakin merendahkannya.

Apa yang harus dia lakukan? Nuraninya menjerit, memintanya melarikan diri saja dan kabur dari rumah ini, kembali ke lindungan rumah kacanya yang nyaman. Tetapi Sungmin adalah perempuan dewasa, bukan remaja lagi yang bisa kabur kalau menemukan permasalahan yang tidak sanggup untuk dia hadapi. Sungmin harus bisa berbicara dengan Kyuhyun dan meluruskan semuanya, mungkin saja Kyuhyun memang benar-benar cemburu dan salah paham tentang hubungannya dengan Jungmo? Sungmin akan menjelaskan bahwa Jungmo adalah gay dan Kyuhyun tidak perlu mencemaskan hubungannya dengan Jungmo, begitu ada kesempatan.

oOo

Kyuhyun memasuki rumah mewah itu, yang terletak dipinggiran kota yang tenang dan sepi. Sontak seorang pelayan membukakan pintu untuknya dan membungkuk memberi hormat, Kyuhyun menatapnya tenang,

"Bagaimana keadaannya?"

"Nona Seohyun sangat baik kondisinya sekarang, tuan. Beliau bahkan bisa meminum obatnya tanpa perlawanan seperti biasanya."

"Apakah dia mau makan?" Kyuhyun bertanya cemas, karena dia tahu persis, Seohyun sering menjerit-jerit mencarinya dan tidak mau makan. Dia akan melemparkan makanannya ke segala arah dan mengamuk, yang bisa menenangkannya hanyalah Kyuhyun. Seohyun kebanyakan hanya mau makan kalau disuapi oleh Kyuhyun.

Sang pelayan menganggukkan kepalanya dengan bersemangat, "Nona sangat tenang hari ini, beliau meminum obatnya dengan patuh dan kemudian mau memakan sup dan nasinya ketika pelayan menyuapinya."

Bagus, dengan langkah tergesa Kyuhyun melangkah menaiki tangga menuju lantai atas, ke ruangan yang terletak di ujung, dengan pemandangan indah ke arah taman yang menghijau.

Kyuhyun membuka pintu dengan hati-hati, kamar itu temaram seperti biasa. Suasana kesukaan Seohyun, meskipun sebenarnya tidak ada bedanya bagi Seohyun, batin Kyuhyun dengan sedih.

Seohyun sedang duduk di atas kursi rodanya seperti biasanya. Termenung menatap ke arah pemandangan balkon. Suasana sudah menggelap, tetapi apakah Seohyun merasakan perbedaannya? Kyuhyun kadang-kadang bertanya-tanya ketika dirinya selalu menemukan Seohyun sedang duduk termenung menghadap pemandangan di arah balkon, seolah-olah perempuan itu sedang menikmati pemandangan. Padahal Kyuhyun persis bahwa tidak ada pemandangan apapun yang bisa dinikmati oleh Seohyun dengan kedua matanya yang buta.

Dengan lembut Kyuhyun meremas pundak Seohyun dan berdiri di belakangnya.

"Hai sayang, kata pelayan kau sangat baik hari ini, aku bangga padamu."

Seulas senyum tampak hadir di bibir Seohyun ketika merasakan kehadiran Kyuhyun.

"Kyunnie?" Bisiknya lemah, jemarinya dengan lembut meremas tangan Kyuhyun di pundaknya, "Bogoshipo."

"Na do Bogoshipo, Seo-ah, Jeongmal, tapi kau tahu terkadang aku harus pergi bukan? Untuk membuat hidup kita semakin baik?" Dengan lembut Kyuhyun memutar dan berlutut di depan kursi roda Seohyun, "Aku senang kau bersikap baik hari ini, tidak memecahkan apapun dan membuat pelayan kerepotan, kau membuatku sangat bangga."

Ada secercah kebahagiaan di mata Seohyun ketika menunduk menatap Kyuhyun yang berlutut di bawahnya, "Aku senang membuatmu bangga." Bisiknya lemah.

Kyuhyun menatap Seohyun dengan penuh sayang dan keharuan. Seohyun adalah perempuan yang sangat cantik, dulunya. Sekarang dia begitu rapuh dan kurus, tampak begitu lemah hingga seolah kalau Kyuhyun salah memegangnya, Seohyun akan hancur berkeping-keping.

Seperti biasanya, Kyuhyun merebahkan kepalanya di pangkuan seohyun, membiarkan perempuan itu mengusap kepalanya, memberinya secercah kedamaian.

Kyuhyun memejamkan matanya. Saatnya makin dekat... saat yang dia tunggu-tunggu sudah menjelang...

oOo

Sungmin pindah ke kamar tamu yang berada di ujung lorong, dengan malu, karena semua pelayan tampak kaget dengan kepindahannya. Tetapi Sungmin menegarkan hati, mengatakan bahwa ini adalah keputusannya sebagai nyonya rumah yang tidak dapat diganggu gugat.

Seumur hidupnya Sungmin tidak pernah menjadi nyonya rumah, tetapi ternyata menjadi istri Kyuhyun ada untungnya juga di rumah ini, karena semua pelayan takut dan tunduk kepadanya tanpa berani membantahnya.

Kamar itu sama bagusnya dengan kamar-kamar yang lain di rumah itu, dan Sungmin mengatur pakaiannya yang hanya sedikit di dalam lemari yang sangat besar itu.

Setelah itu dia duduk dengan ragu, dan menunggu Kyuhyun pulang. Dalam hati dia bertanya-tanya, apakah keputusanya mengikuti perintah Kyuhyun tadi dengan pindah dari kamar utama sudah benar? Ataukah ini hanya memperburuk keadaan?

Haruskah Sungmin bertahan saja di kamar itu dan memaksa Kyuhyun menjelaskan semuanya kepadanya? Tetapi bagaimanapun juga Sungmin tidak sanggup kalau harus menerima penghinaan dan sikap kasar Kyuhyun kepadanya.

Mungkin ini adalah keputusan yang tepat, ketika mereka berpisah kamar mungkin Kyuhyun bisa berpikir dengan lebih tenang dan menyadari bahwa dia terlalu berlebihan dalam kecemburuannya kepada Jungmo. Dan setelah Kyuhyun tenang, Sungmin akan menjelaskan semuanya kepada Kyuhyun, kenyataan tentang Jungmo dan bahwa Kyuhyun sebenarnya tidak perlu cemburu kepada Jungmo.

Tetapi ternyata penantian Sungmin sia-sia. Malam itu ternyata Kyuhyun tidak pulang ke rumah.

oOo

Sungmin bangun dengan mata bengkak dan sembab, semalam setelah menunggu berjam-jam dan menyadari bahwa Kyuhyun tidak pulang ke rumah. Sungmin menghabiskan waktu dengan menangis dan meratapi diri, larut dalam kebingungan yang menakutkan. Dia tidak tahu apa yang terjadi, dia tidak tahu kenapa Kyuhyun memperlakukannya seperti ini.

Dan dia merasa sangat sendirian, benar-benar sendirian di rumah ini. Sambil menghela napas, Sungmin melangkah ke kamar mandi dan mencuci mukanya di wastafel, ketika menatap ke arah kaca dia mengernyit menatap matanya yang bengkak dengan lingkaran hitam di sekitar matanya.

Ini bukanlah penampilan seorang pengantin yang sedang berada di masa bulan madunya. Tidak akan ada pengantin berbahagia yang bangun tidur dengan kepala pening dan mata sembab, tidak mengetahui keberadaan suaminya...

Sungmin merasa matanya kembali panas, ingin menumpahkan air mata di sudut-sudutnya. Tetapi dia kemudian menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri.

Masalah tidak akan bisa diselesaikan hanya dengan menangis.

Sungmin harus mencari tahu kenapa Kyuhyun tiba-tiba berubah menjadi orang yang tidak dikenalnya. Kyuhyun yang menjadi suaminya bukanlah lelaki lembut yang begitu penuh kasih sayang yang Sungmin tidak mau diam saja, dia tidak mau diperlakukan kasar tanpa tahu apa kesalahannya.

Setelah mandi dan berganti pakaian, Sungmin melangkah keluar dan menuju ruang makan.

Sarapan lengkap sudah disiapkan di sana. Dan tiba-tiba perut Sungmin berbunyi ketika mencium harumnya omelet dan nasi goreng yang tersedia di sana. Tidak bisa dipungkiri, meski perasaannya berkecamuk, tubuhnya berteriak mengirimkan alram yang mengatakan bahwa dia lapar. Karena semalam, setelah Kyuhyun pergi, tidak ada sama sekali nafsunya untuk makan.

Perutnya terasa perih dan melilit, dan meskipun Sungmin tidak selera makan, dia mengambil piring dan mengisinya dengan sedikit omelet dan sayuran untuk mengganjal perutnya. Sungmin tidak boleh jatuh sakit hanya karena dia kelaparan. Entah kenapa dia merasa bahwa dirinya harus tetap kuat dan bertahan.

Karena yang lebih buruk mungkin akan datang.

Kyuhyun pulang beberapa saat kemudian, ketika Sungmin sudah berhasil menyelesaikan makannya yang dipaksakan dilakukannya meski dia tidak berselera. Suara khas mobil Kyuhyun yang memasuki halaman rumah yang luas itu membuat Sungmin menegang. Dia meletakkan sendoknya dan duduk menanti dengan cemas di meja makan.

Langkah-langkah Kyuhyun tampak tergesa menaiki tangga. Sungmin mendengarnya dengan waspada sampai kemudian mendengar suara lelaki itu membanting pintu kamarnya, lalu kemudian menarik napas lega.

Tak lama kemudian ketika tidak ada tanda-tanda Kyuhyun akan keluar dari kamarnya, Sungmin melangkah menuju ruang tengah, duduk di sudut sofa cokelat muda yang nyaman dan merenung. Kenapa dia jadi takut menghadapi pertemuannya dengan Kyuhyun? Apakah karena penghinaan Kyuhyun begitu menggores hatinya sehingga membuatnya trauma bahkan hanya untuk berbicara dengan lelaki itu?

Tetapi perempuan mana yang tidak trauma ketika dilamar dengan penuh cinta, dinikahi dengan keyakinan bahwa dia telah menemukan belahan jiwanya yang akan menyayangi dan menjaganya, hanya untuk kemudian menemukan suaminya telah berubah seperti pria lain yang begitu kasar, menghinanya dan bersikap sangat jahat kepadanya?

Sebuah gerakan dipintu mengalihkan perhatian Sungmin dan membuatnya terkesiap. Kyuhyun berdiri di sana, dengan wajah dingin dan tak terbacanya, menatap Sungmin dengan tajam.

Rambutnya basah karena lelaki itu sepertinya habis mandi. Ini hari Minggu jadi sepertinya Kyuhyun tidak akan pergi ke kantornya.

Jantung Sungmin berdegup kencang, Apakah ini saatnya mereka berbicara dan meluruskan semua salah paham atau entah apapun itu yang seolah membuat Kyuhyun sangat marah dan membencinya?

Ekspresi Kyuhyun tidak tetap tidak terbaca ketika dia melangkah memasuki ruang baca dan bersedekap menatap Sungmin,

"Kau pindah dari kamar."

Sungmin mendongakkan dagunya, berusaha tampak tegar di bawah tatapan Kyuhyun yang tajam, "Ya. Sesuai permintaanmu." Batin Sungmin melanjutkan bahwa permintaan Kyuhyun, dilakukan dengan merendahkan dan menghina Sungmin. Tetapi tentu saja dia tidak mengeluarkannya dalam kata-kata, dia tidak mau memperkeruh keadaan.

"Bagus," Suara Kyuhyun sangat dingin hingga Sungmin terkesiap dan menatap terkejut ke arah Kyuhyun. Dia tidak menyangka bahwa jawaban seperti itu yang keluar dari bibir suaminya.

"Kenapa kau bersikap seperti ini kepadaku, Kyu?" Sungmin mengernyit menatap suaminya, mencoba mencari kelembutan dan kasih sayang di sana, yang biasanya terpancar ketika suaminya itu menatapnya. Tetapi tidak ada apapun di ekspresi Kyuhyun yang datar dan dingin, yang ada malahan seulas sinar kejam di sudut matanya,

"Karena aku kecewa kepadamu." Kyuhyun menyipitkan matanya. "Karena setelah menikahimu aku baru sadar bahwa aku tidak pernah mencintaimu."

Kata-kata Kyuhyun bagaikan petir yang menyambar hati Sungmin, langsung menghanguskannya tanpa ampun. Tetapi Sungmin bukanlah perempuan yang lemah, dia tegar. Kalau memang hal ini adalah kenyataan, dia akan menerimanya. Kyuhyun bisa saja menghancurkan hatinya dan membuatnya menangis di kamar karena hatinya hancur. Tetapi di depan Kyuhyun, Sungmin akan berjuang supaya bisa tegar, tidak akan dibiarkannya dirinya tampak lemah di depan Kyuhyun.

"Kalau begitu kau bisa membatalkan pernikahan kita. Kau belum menyentuhku dan kita baru dua hari menikah. Aku rasa kita bisa mengajukannya ke pengadilan." Jawab Sungmin tenang.

Kali ini giliran Kyuhyun yang menyipitkan matanya, dia menatap Sungmin dengan pandangan menyelidik,

"Kenapa kau bisa semudah itu mengatakan tentang perpisahan?" kata-katanya tajam menusuk, setajam ucapannya, "Apakah kau memang tidak mencintaiku dan hanya mengincar hartaku. Jadi kau merasa senang ketika aku mengajukan perceraian?" Kyuhyun mendekat dengan mengancam, membuat Sungmin otomatis memundurkan langkahnya, "Apakah kau sudah merencanakan ini bersama Jungmo kekasihmu? Kau pikir kau bisa membodohiku?"

"Jungmo bukan kekasihku." Sungmin menegaskan nada suaranya, berusaha terdengar tegar meskipun bergetar, "Dan kenapa kau memutarbalikkan fakta Kyuhyun? Bukankah kau yang mengatakan menyesal menikahiku dan tidak menginginkan pernikahan lagi?"

Lama Kyuhyun terpaku, menatap Sungmin dengan tatapan terpaku, "Perempuan cerdik." Gumamnya kemudian, "Kau pikir aku akan menceraikanmu semudah itu? Kalau aku membatalkan pernikahan ini, aku harus memberikan kompensasi kepadamu. Kalau aku menceraikanmu, kau akan mendapat bagian yang tak sedikit dari hartaku kepadamu, semua hal itu menguntungkanmu, dan aku tidak akan membiarkannya," Mata Kyuhyun menyipit, "Tidak akan ada perceraian." Desisnya, "Tidak sampai aku bisa membuktikan perselingkuhanmu sehingga kau bisa kuceraikan tanpa membawa apapun yang bukan hakmu."

Lalu seperti yang sebelumnya, Kyuhyun membalikkan badannya dan meninggalkan Sungmin sendirian.

oOo

Sungmin sudah tidak tahan lagi, air matanya sudah tumpah tak karuan di kamar luas yang sepi itu. Sementara setelah pertengkaran tadi, Kyuhyun pergi lagi entah kemana. Sepertinya lelaki itu sengaja pulang hanya untuk menyakitinya.

Sejak tadi Sungmin sudah menahan diri untuk tidak menghubungi Jungmo, dia tidak mau sahabatnya itu cemas. Selain itu jauh di dalam dirinya, Sungmin masih berharap kalau semua ini hanyalah mimpi, kalau sebenarnya semuanya baik-baik saja, kalau dia tinggal membuka matanya dan kemudian mendapati Kyuhyunnya yang dulu sudah kembali.

Ada apa dengan Kyuhyun? Itulah pertanyaan yang selalu terngiang-ngiang di benak Sungmin.

Kebingungan yang menyakitkan, membuat air matanya tumpah karena dirinya merasa disalahkan atas sesuatu yang tidak pernah dia perbuat.

Ada yang lebih besar dari kecemburuan Kyuhyun kepada Jungmo, hanya sesuatu yang besarlah yang bisa menyebabkan sinar kebencian yang tiba-tiba menyeruak begitu besar di mata Kyuhyun. Apapun itu Sungmin harus tahu, karena dia tidak tahan berdiam diri di sini, penuh air mata dan tak tahu harus berbuat apa.

Saat ini hanya satu orang yang bisa membantunya, sahabatnya yang paling mengerti dirinya di atas segalanya. Sungmin mengambil resiko menyulut kemarahan Kyuhyun yang lebih besar dengan menghubungi Jungmo, tetapi bagaimanapun juga Kyuhyun toh sudah marah besar tanpa alasan kepadanya. Jadi tidak ada gunanya Sungmin sibuk memikirkan menjaga perasaan Kyuhyun sementara lelaki itu tidak mempedulikannya.

Dipencetnya nama Jungmo di ponselnya, dengan penuh tekad, lalu Sungmin menunggu. Pada deringan ke tiga Jungmo mengangkat teleponnya,

"Minnie?" suara Jungmo yang lembut terdengar di seberang.

Sungmin menghela napas panjang, menahan rasa tercekat yang dalam ketika tangisnya mulai menyeruak lagi,

"Jungmo-ah..."

.

.

.

TBC

Maaf barudate .. kekeke,,,, seminggu ini saya sibuk pkl.. ;(

Yang fansnya jungmo oppa mian ya bukannya aku haters jungmo yang bikin dia di ff ini gay bukan,,, :( mian mian mian

Masa reviewnya Cuma Sembilan sih? ;( author sedih deh.. jadi males lanjut kalo reviewnya dikit,,, setidaknya review kalian jadi penyemangat saya yang sibuk ini ;( …