Aku terus menangis mendengarkan lantunan melodi ini. Begitu menyedihkan untuk didengar, aku merasa begitu tersiksa dengan keadaanku sekarang. Apa salahku!? kenapa nasibku begini!?
"Aphrodi..." terdengar suara Shirou memanggil namaku. Spontan aku berbalik tanpa berpikir panjang.
Ia melihatnya... butiran kristal bening yang mengalir ini... Maaf aku terlihat sedih dihadapanmu.
"... Aku... Apa aku bisa bermain piano lagi Shirou? aku... setidaknya ingin memainkan lagu itu lagi, walaupun itu hanya sekali saja." ucapku dengan begitu egois. Air mataku terus menemani setiap kata yang kulanturkan.
Shirou terdiam.
Our Music
Disclaimer: I don't own anything, just this fict that's all
Summary: Kita bertemu, menjalani semuanya dan kita berpisah. Itulah takdir yang selalu kita jalani. Bila segala takdir berjalan begitu, aku berharap aku memiliki kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama. Walaupun itu berarti hanya 1 detik.
Note: Disini Aphrodi saya jadiin cewek, karena saya entah kenapa lebih suka straight pair ._.
Tiap chapter gonta-ganti POV ._. untuk ch 3 Aphrodi POV dan Shirou POV
.
.
.
Chapter 3: Decretum (Final)
"... Maaf, aku tidak bisa berkata 100% akan terjadi... tapi, aku yakin suatu saat donor mata itu akan kau dapatkan! pasti!" ujar Shirou dengan begitu pasti. Intonasi yang membuatnya terdengar begitu yakin dan tegas benar-benar membuatku kembali memiliki tujuan hidupku. Sangat disayangkan aku tidak dapat melihat wajahnya yang sekarang sedang meyakinkanku.
Aku langsung mengangguk cepat. "Terima kasih... aku juga yakin... donor mata itu pasti akan memberiku kesempatan lagi untuk bermain piano." ujarku sambil kembali tersenyum.
Hari itu, adalah hari yang begitu berharga bagiku, hari dimana Shirou menyemangatiku tentang pentingnya hidup.
Dan waktu pun berlalu, sudah 6 bulan lebih aku menjalani kehidupan sebagai orang buta. Dengan terus berpegang erat dengan ucapan Shirou saat itu, aku terus berjuang menghadapi rasa sakit karena tidak dapat menggapai impianku disaat aku baru saja mendapatkan tujuan hidup.
Tapi, masih bisakah aku berpegangan pada ucapan itu? Dengan kemungkinan keberhasilan operasi yang hanya berhasil 70% dan kemungkinan mendapat mata yang cocok denganku yang hanya berpersentase 30%, apa benar aku dapat melihat lagi? bukankah itu hanya sebuah keajaiban yang dapat melakukannya?
Mungkin memang lebih baik aku menyerah dan menjalankan kehidupan sebagai manusia biasa. Tapi, dapatkah aku melupakan impianku semudah itu dan terus berjalan di tempat gelap yang bahkan tak kukenal ini. Aku masih terlalu egois untuk melupakan impianku.
Perlahan air mataku kembali mengalir setiap kali aku mengingat impian yang tidak akan bisa tercapai itu.
Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki mendekat. Dengan cepat aku langsung menghapus air mataku.
"Ah, Afuro-san sedang apa disini?"
Suara yang terdengar lumayan familiar, Gouenji-kun.
"Ah, aku... tadi aku ingin ke lapangan mau mengajak Shirou pulang bareng, tapi aku tersesat dan gak tahu harus jalan kemana. Go-Gouenji-kun sendiri kenapa ke sini?"
Perlahan aku mendengar suara langkahnya mendekat. "Aku mau mengambil barang ini. Oh iya Afuro-san... surat itu... apa kau sudah membacanya?"
"Belum, aku berniat membacanya setelah penglihatanku kembali normal. Maaf..."
Gouenji-kun terdiam sejenak. "Syukurlah, aku memang berniat kamu langsung membacanya tanpa ada perantara. Ah, aku sedang buru-buru maaf ya. Lapangan tinggal lurus kedepan saja kok. Aku duluan!"
... Kalimat terakhir Gouenji-kun, apa maksudnya itu? Kenapa aku menjadi begitu gugup mendengarnya?
Shirou POV
Aphrodi terus terlihat termenung. Apa yang terjadi?
"Fubuki!" terdengar anggota lain meneriakiku. Sesaat kubalikkan pandanganku, sebuah bola tengah melesat begitu cepat dan menghantam wajahku dengan lumayan cepat.
Gouenji yang sedari tadi berdiri didekatku langsung mengulurkan tangannya. Tanpa pikir panjang, aku langsung meraihnya sambil mengucapkan terima kasih.
Tapi, pandanganku tak bisa lepas dari Aphrodi yang sekarang terlihat khawatir dan ketakutan.
Perlahan Gouenji berjalan mendekatiku sembari berbisik kearahku. "Ada yang ingin kubicarakan, datanglah ke halaman belakang setelah latihan." ujarnya tanpa menunjukkan ekspresi.
AKu begitu kaget mendengarnya, tapi kuhilangkan seluruh pikiran negatif yang terlintas dikepalaku dan kembali fokus pada latihan.
Hari sudah menjadi sore, dengan cepat aku langsung berlari ke halaman belakang usai latihan selesai.
Ditengah latar lapangan yang dipenuhi pepohonan rindang, Gouenji berdiri sambil menatap langit dengan begitu serius.
"... Jadi apa yang ignin kau bicarakan?" ucapku sambil berjalan mendekati sosok Gouenji.
Gouenji langsung berbalik badan menghadapku. Tatapannya begitu tajam, tampaknya topik yang akan ia bicarakan adalah topik yang serius.
"Fubuki... aku memiliki perasaan pada Afuro-san. Aku hanya ingin bertanya, apa hubunganmu dengannya dan apakah kamu memiliki perasaan khusus dengannya." ujarnya singkat tanpa lepas dari tatapan yang begitu serius.
Kalimat itu... kalimat yang selalu kutakutkan dan selalu kuharap takkan muncul disaat kami memiliki rasa persahabatan yang kuat.
Sekarang, apa yang harus kulakukan? Menyerahkan semuanya demi persahabatan dan melupakan cinta pertamaku atau bertindak egois dan tidak mengalah?
Ah, hidup benar-benar tak adil ya... disaat aku baru mengerti perasaanku pada Aphrodi... hal ini harus muncul dihadapanku.
"... Aku hanya teman dekat Aphrodi dan kami tidak memiliki hubungan ataupun perasaan khusus. Kau tidak perlu khawatir, tenang saja aku mendukungmu Gouenji!" haha, aku bodoh ya... mendukung hal yang sangat berlawan dari keinginan dan merelakan segalanya hanya demi seorang sahabat.
Gouenji hanya tersenyum menatapku. "... Terima kasih, kukira kita akan menjadi rival karena hal ini. Maaf, aku ada janji dengan Yuuka jadi aku akan pulang duluan, dah!" ujarnya sebelum pergi meninggalkanku sendiri.
Dan sekarang aku sendirian, karena semua tingkah bodoh yang kulakukan, aku hanya bisa menyesal diakhir.
Perlahan air hujan turun membasahiku. Menghilangkan kristal bening yang mengalir dengan begitu lancar.
Maaf, bila aku hanya menjadi baban dan selalu bertingkah egois.
Aphrodi POV
Usai latihan, aku tidak mendengar Shirou menyapa ataupun berjalan mendekatiku. Sebenarnya apa yang terjadi?
Tiba-tiba pintu kelas yang sudah kututup terbuka secara perlahan. "Shirou? darimana saja? ayo pulang, hujannya deras sekali... untung aku bawa pa-
Kalimatku terhenti saat aku menyentuh tubuh Shirou yang basah. "Maafkan aku..."
"Haha, apa maksudmu? kamu kan tidak bersalah apapun. Ayo pulang!" Shirou terdengar begitu sedih. Ada apa dengannya?
Sepanjang perjalanan tak ada seorang pun yang membuka mulut untuk memulai pembicaraan. Hal ini justru membuatku semakin khawatir.
Kalau saja aku bisa melihat, aku pasti bisa mengetahui permasalahan ini. Tapi dengan keadaanku sekarang...
Aku benar-benar tidak berguna ya...
"Kita sudah sampai dirumahmu. Aphrodi, aku permisi pulang. Jaga kesehatan ya, dan semoga kau bahagia." Terdengar suara Shirou yang begitu lembut. Kalimat penuh doa dan terdengar begitu baik. Ini bagaikan kalimat terakhir sebelum seseorang akan pergi jauh. Sangat jauh sampai tidak bisa bertemu lagi.
"Shirou! Shirou!" suaraku tidak tersampaikan. Semoga rasa takut ini hanya pemikiran yang salah. Semoga saja...
Shirou POV
Terdengar suara Aphrodi memanggilku. Tapi kuabaikan seluruh panggilannya dan terus berjalan ditengah derasnya hujan.
Aku selalu berbuat egois demi mendapatkan kesenanganku. Mungkin sekaranglah aku berbuat baik.
Setelah berjalan cukup lama aku sampai dirumah sakit yang pernah merawat Aphrodi.
Aku langsung masuk kedalam rumah sakit itu. Aku menunggu sebentar di lobby sambil menuliskan surat terakhir yang akan kusampaikan pada Aphrodi tepat setelah operasi selesai.
Kubuka tasku kembali dan kuambil sebuah kotak yang berukuran sedang. Untung saja kotak ini tidak basah.
Aku hanya tersenyum sejenak sebelum memasukkan surat itu kedalam kotak itu. Disaat kubuka kotak itu, perlahan melodi-melodi indah mengalun dari kotak itu. Sekarang hilang sudah semua penyesalanku, aku langsung berjalan kearah resepsionis untuk mengisi formulir donor mata dan menitipkan kotak itu pada salah satu suster yang akrab dengan Aphrodi saat masih dirawat disini.
Dengan cepat aku mengisi seluruh formulir yang harus kuisi dan langsung beranjak keruangan yang akan menjadi tempat terakhirku di bumi ini.
Kupejamkan mataku disaat dokter perlahan memberikan suntik mati padaku. Ya, inilah akhir dari hidupku.
Maaf, dan selamat tinggal Aphrodi. Semoga kau senang dengan kehidupan barumu. Kalau aku bisa terlahir kembali...
Aku ingin mendengar permainan pianomu dan bertemu denganmu kembali.
Aphrodi POV
#DEG! Secara tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak. Seluruh pikiran entah kenapa dipenuhi Shirou. Ada apa dengannya? apa ada sesuatu yang terjadi padanya?
Lamunanku terhenti ketika aku mendengar bunyi telepon yang berdering. Aku mencoba meraih telepon tersebut. Telepon yang begitu kutunggu, telepon dari rumah sakit.
"Kediaman Afuro? Saya dari Rumah Sakit Central. Kami baru saja mendapatkan donor mata yang cocok untuk Afuro-san, dapatkah anda melakukan operasi malam ini?"
Donor... mata? Air mataku kembali membendung, akhirnya aku bisa kembali menggapai impianku.
"Ya, saya aku segera mengambli operasi itu. Terima kasih, sus!"
Dengan cepat aku langsung memanggil ibu dan memberitahukan berita ini. Akhirnya, aku bisa melihat lagi. Aku harus memberitahukan pada Shirou!
Aku meminta ibu untuk menekan tombol angka pada , telepon itu sama sekali tidak dia angkat. Aku semakin khawatir dibuatnya. Tapi kuhilangkang kekhawatiranku dan kukabari Gouenji-kun dan Haruna-chan tentang berita ini.
Beberapa menit sebelum operasi ini dimulai, rasanya begitu gugup. Tiba-tiba seorang suster mendekatiku.
"Terumi-chan, berterima kasihlah pada pendonornya. Dia rela memberikan matanya padamu tanpa takut akan ada penyesalan." ujarnya sambil memegangi bahuku.
Orang yang melakukan donor mata ini... orang yang masih hidup? kenapa dia rela melakukan suntik mati demi aku? siapa dia?
Operasi pun dimulai, obat bius telah merangsang keseluruh tubuhku dan membuatku kehilangan kesadaran.
Aku terbangun dari tidurku. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Eh? aku... bisa melihat jam dinding?
Penglihatanku... aku kembali normal. Syukurlah aku masih bisa kembali.
Aku menangis terharu melihat keadaanku yang sudah kembali normal. Kamar yang begitu putih, ini masih di dalam rumah sakit ya?
Eh? pandanganku terhenti disaat aku melihat kotak yang terlihat mewah disamping vas bunga.
Aphrodi ni todoke. Untukku?
Aku langsung membuka kotak musik itu. Melodi-melodi lagu Nocturne mengalun pelan dari kotak musik itu. Didalam kotak itu terdapat sepucuk surat.
Kubuka surat itu dengan perasaan sedikit takut.
Aphrodi ni todoke,
Konnichiwa, bagaimana keadaanmu? sehat kan? Disaat kau membaca surat ini, pasti penglihatanmu sudah kembali normal. Syukurlah ya Aphrodi...
Maaf kemarin saat pulang bersama aku tidak banyak berbicara padamu. Aku kemarin terus berpikir, apa aku bisa membuat semua orang tersenyum dengan memilih jalan ini.
Maaf, kalau kau bertanya-tanya siapa orang yang telah mendonorkan mata itu, orang itu adalah aku, Fubuki Shirou. Aku selalu membuatmu dalam masalah, maka dari itu aku ingin membalas budimu dengan memberikan donor mata ini. Banyak hal yang ingin kukatakan padamu. Tapi, sepertinya dengan memberikan donor mata ini, aku dapat menyampaikan segala hal yang ingin kukatakan.
Maaf dan terima kasih atas segala perhatian dan kasih sayang yang selalu kau berikan disaat kita bersama. Dan maaf jika aku hanya bisa mengatakannya melalui surat ini.
Aku menyukaimu... sayonara, Aphrodi.
-Fubuki Shirou
Butiran kristal bening ini mulai mengalir dan membasahi surat yang terus kugenggam sedari tadi. Bodoh! kenapa dia memilih untuk memberikan matanya dan membuang nyawanya? kenapa!?
Aku langsung berdiri dan menatap cermin yang bertengger didekat kamar mandi. Iris biru yang sedikit kehijauan... ini... warna iris mata Shirou.
Kenapa demi aku dia sampai melakukan ini!? aku... aku hanya menjadi mengganggu hidupnya.
Aku terjatuh sambil terus menangis. Apa yang bisa kulakukan tanpanya?
"... Kenapa kau harus pergi demi aku? padahal aku masih bisa menunggu donor itu daripada mendapatkannya darimu. Kau kejam sekali, pergi begitu saja sebelum aku dapat mengutarakan perasaanku. Aku juga menyukaimu... Shirou! hiks." Aku terus terisak membayangkan senyuman yang hilang dari pandanganku.
Aku merasa bodoh karena selalu memendam perasaan ini dan tidak memberitahukannya dulu. Sekarang, yang bisa kulakukan hanya duduk dan menangisi kepergiannya.
Kalau ada kehidupan kedua, berkan aku kesempatan untuk mengutarakan perasaanku. Kumohon!
Keesokan harinya aku pergi kesekolah seperti biasa. Tentunya tanpa ada kehadiran Shirou yang sering menjemputku.
Sesampai disekolah, seluruh penghuni sekolah ikut mengantar kepergian Shirou. Satu kelas tak ada yang dapat mengubah ekspresinya, mereka hanya bisa diam bahkan menangis kehilangan teman sekelasnya yang begitu berharga.
Ditengah lamunanku, Gouenji-kun menepuk bahuku. "Aku yakin dia akan bahagia disana." Aku hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Gouenji. Untuk apa aku terus bersedih? itu hanya akan membuat Shirou menjadi tidak tenang.
"Oh iya Afuro-san, bisa bicara sebentar?"
Aku hanya mengangguk pelan menjawab ajakan Gouenji-kun.
"Aku... menyukaimu..."
Aku sedikit tersentak mendengarnya. Tapi aku kembali terdiam.
"Hanya suka? tidak mengajak pacaran atau semacamnya?" tanyaku kebingungan.
"... Aku tidak bisa... Karena aku sudah mengetahui jawabanmu. Maka dari itu aku hanya ingin menyampaikan perasaanku." ujar Gouenji-kun, matanya tampak begitu sedih.
Tapi aku sedikit bingung apa maksudnya sudah mengetahui jawabanku? "Apa maksudmu?" tanyaku penasaran.
"Kemarin... aku berniat menjengukmu karena Yuuka diinap dirumah sakit yang sama, tapi ketika aku masuk ke kamarmu...
-Flashback-
Gouenji POV
"... Kenapa kau harus pergi demi aku? padahal aku masih bisa menunggu donor itu daripada mendapatkannya darimu. Kau kejam sekali, pergi begitu saja sebelum aku dapat mengutarakan perasaanku. Aku juga menyukaimu... Shirou! hiks."
Aku terdiam mendengarnya. Selama ini Afuro-san selalu terlihat tegar dalam menjalani kehidupannya. Tersenyum tanpa merasakan beban. Disaat kehilangan Fubuki, wajahnya begitu terlihat penuh dengan penyesalan. Aku merasa bersalah, mungkin lebih baik aku meninggalkan perasaan ini. Maaf, aku tidak bisa membahagiakan dia, Fubuki.
-End of Flashback-
Aphrodi POV
"Fubuki... dia mendonorkan matanya untukmu tanpa meminta izin pada kami. Tapi mendengar ucapanmu kemarin, aku sudah merasa tak bisa berbuat apapun. Bahkan aku tidak bisa menepati janjiku pada Fubuki." Gouenji-kun terus melanjutkan penjelasannya.
Aku tersenyum. Bodoh, jadi dia mendoakanku untuk bahagia sedangkan dia menghapuskan kebahagiaan terbesarku?
"Terima kasih sudah menyukaiku, tapi aku... Ingin terus menyimpan perasaan ini dan menyatakannya disaat yang tepat. Maaf, Gouenji-kun." aku hanya menjawab sedikit sambil membungkukkan badan.
Gouenji-kun hanya bisa tersenyum. "Tidak, kebahagiaanmu, merupakan hal terpenting sekarang karena aku sudah berjanji padanya. Terima kasih sudah mau jadi temanku."
Shirou, penglihatanku sudah kembali berkat dirimu, tapi... aku belum bisa menyampaikan perasaan dan janji yang sudah kusimpan.
"Gouenji! Terumi-chan! pelajaran sudah mau mulai!"
Suatu saat nanti, kuharap kita bisa bertemu lagi. Dan kelak, aku akan menepati janjiku,
Kan kumainkan lagu Conturbatio dan Decretum khusus untukmu.
Dan inilah chapter terakhir dari fict ini... TT^TT aku akan merindukan fict ini. Hari ini aku upload 1 chapter 2 cerita yang berbeda XD *yey!* mungkin bokutachi no uta tidak begitu ditunggu tapi aku senang bisa menyelesaikannya XD
Theme song chapter 3... kali ini lagu yang membuat satu-kesatuan dengan lagu chapter 2... Decretum-Kajiura Yuki. Lagu ini cocok banget didengar setelah mendengarkan lagu Conturbatio. Nyambung lho entah kenapa XD terus yang kedua... kembali bersama Nocturne-F. F. Chopin. Author begitu banyak make lagu klasik ya? XD iya, dari kecil gak tahu kenapa suka yang klasikan XD
Oh iya, saya mau numpang balas review karena saya adalah anak males yang buka FFn aja gak tau kapan
Mist Harmonicts: ayo sabarkan hati dulu XD iya, aku juga kasian sama Aphrodi yang jadi buta Q_Q *plakk! (kalo gitu jangan dibikin buta dong!). Kalo dipikir iya juga tinggal dikit banget sebelum tamat TT^TT aku juga bakal rindu sama fict ini... tapi setelah kubaca lagi fict ini... ternyata kisahnya unik juga ya? OvOu gak nyangka aku... untuk chapter 3... untung banget karena banyak konflik jadinya panjang XD terima kasih reviewnya, dan sangat diharapkan masih minat baca ini. arigatou! XD
Watanabe Mayuyu: iya update yang ini lebih menyenangkan (untuk sementara) soalnya idenya masih hangat XD maaf senpai Aphrodi kubikin buta QAQ oh iya, satu lagi... awalnya aku mau bikin GouenAphro tapi setelah dipikir... kesannya bakalan jadi katakoi triangle (cinta segitiga yang tidak berbalas) dong QAQ jadi kupikir mungkin lebih baik tetep AphroShiro... gomennasai TTATT lain kali Yu bikinin ShuuTeru deh *plokk! (ini ceritanya nyogok ya?). Iya, kan Terumi anak tunggal, namanya aja sampe diganti jadi Aphrodi XD. hai! makasih udah mau repiu, ini baru saya update sama IFT X9. diharapkan masih minat baca yang extra.
Huwaaa! walaupun yang review cuma 2 orang tapi saya seneng banget XD karena sekarang saya tahu kalau saya tidak sendirian dan masih ada yang mau nyemangatin X'D terima kasih XD *bow*
Selanjutnya adalah Extra~ XD Extra menceritakan kejadian 2 tahun setelah itu, saat mereka SMA.
Mungkin sekian aja~ jaa ne XD
Review?
