Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : Uzumaki Naruto/Hyuuga Hinata

Warning : AU, OOC, Typos, OC, Gag Jelas, Terlalu menghayal

Rated :T

Don't Like? Please, Don't read...

~AUREOLE~

Part-3

"Ayu-chan, apa yang terjadi disini? Apa kamu tidak mau menceritakannya pada kami?" Sakura bertanya pada anak perempuan yang masih setia memeluk erat leher Naruto. Ayu menoleh pada Sakura, memberikan atensi lebih pada gadis musim semi itu, "Meleka..meleka...membakal ..desa..Ayu...juga.. ..meleka ...membawa Kazuki-kun..huee..hikss" suara cempreng khas anak kecil itu mulai tersendat-sendat, wajah tembam Ayu mulai memerah menahan tangisnya.

"Kazuki-kun?" Naruto memastikan perkataan Ayu. "Meleka juga...juga membawa Ai-hime, Kou-ni dan..dan yang laiinn...huaaa...meleka..meleka ..." Ayu kembali menyurukkan kepalanya diantara bahu dan leher Naruto, tidak bisa melanjutkan kalimatnya. "Sepertinya mereka menculik anak-anak itu," Naruto menyimpulkan. Mata sapphirenya melihat Hinata yang memperhatikan Ayu, dari ekspresi Hinata itu, Naruto tahu ada yang mengusik pikiran gadisnya.

"Ada apa Hinata-chan?" pertanyaan Naruto membuat Hinata mengalihkan pandangannya dari gadis kecil dalam gendongan kekasihnya menatap mata Naruto. Hinata menggeleng pelan, meyakinkan Naruto bahwa dirinya tidak apa-apa.

"Kita sebaiknya membawa Ayu-chan,dan mencari tempat berkemah Naruto," Sakura memberi saran mengingat hari sudah mulai menunjukan tanda-tanda menggelap. "Ya, Sakura-chan benar," Naruto mengalihkan perhatiannya pada anak kecil yang mulai terkantuk-kantuk kelelahan, akibat terlalu lama menangis. "Ayu-chanuntuk sementara waktu kamu ikut dengan kami ya?" Ayu hanya mengangguk kecil dan kembali menyamankan kepalanya pada pundak kanan Naruto.

Tiba-tiba mereka merasakan sesuatu, cakra asing yang mendekat. "Dobe! Ada yang datang," suara rendah Sasuke memperingatkan Naruto. "Semua merapat!" Sasuke, Sakura dan Hinata merapat mendekati Naruto, mulai bersiaga. "Hinata-chan berapa jumlah mereka?" Naruto bertanya sambil menurunkan Ayu dari gendongannya. "Ayu-chanjangan jauh-jauh dariku," Gadis kecil berbaju biru itu mengangguk dan menggenggam erat-erat jubah hokage Naruto.

Hinata memusatkan cakranya pada kedua mata putihnya, "Byakugan!" memperhatikan sekelilingnya. "Naruto-kun mereka mengepung kita, jumlah mereka banyak sekali. Dan.." Hinata terdiam sejenak, memperhatikan lebih seksama, "mereka semua anak-anak,"

"Cih! Mereka licik," Sasuke melihat anak-anak itu mulai bermunculan.

"Apa yang harus kita lakukan, Naruto?" Sakura mulai panik ketika kerumunan anak kecil itu mulai membatasi ruang gerak mereka. Anak-anak itu terlihat tidak normal. Mata mereka tampak kosong dan berjalan seperti zombie.

Naruto tampak berpikir keras 'Sial, kenapa jadinya kami harus melawan anak kecil? Nenek Tsunade benar, kami tidak mungkin menyakiti mereka,' Naruto memperhatikan anak-anak kecil itu lebih seksama, mata biru langitnya tiba-tiba menangkap sesuatu. Naruto langsung mengeluarkan suaranya.

"Lumpuhkan mereka!"

Oo00oO

Perintah Naruto membuat kedua gadis dalam timnya berjengit. "Yang benar saja Naruto, kamu mau membuat kami membunuh anak kecil?" Sakura bergidik ngeri. "Na..naruto..k..kun, lebih baik kita menghindar," Hinata memberikan saran lain, dirinya tidak sanggup jika harus menggunakan jyukenkepada anak kecil.

"Dobebenar, kita harus melumpuhkan mereka, atau kita yang dilumpuhkan," Sasuke mengacungkan katana-nya ke arah salah satu anak kecil itu. "Sasuke-kun? Jangan bercanda, mereka anak-anak," Sakura memegang lengan kanan Sasuke berusaha menahannya. "Anak-anak atau bukan mereka tetap musuh," Sasuke memandang sengit Sakura.

Hinata melakukan hal yang sama dipegangnya erat lengan baju Naruto, "Naruto-kun? Ki...kita pergi saja," Naruto menggenggam tangan putih yang mulai mendingin karena tegang tersebut. Memberikan senyum terbaiknya, "Perhatikan baik-baik mereka Hime, apa kamu melihatnya?"

Masih menggenggam tangan besar Naruto, Hinata menggunakan byakugan-nya lagi. Memperhatikan aliran cakra anak-anak itu. Dia melihat tali-tali cakra tipis dipunggung mereka, membelit kaki dan tangan mereka serta membentuk segel di kening mereka. Hinata memandang Naruto dan menganggukan kepalanya.

Hinata menerjang mereka, memutus tali-tali cakra di belakang mereka dengan kunai yang dialiri cakra. Satu persatu anak-anak itu roboh, karena aliran cakra mereka terputus. Sakura yang melihat aksi Hinata hanya dapat menganga dan terbelalak. Dia tidak menyangka, heiressHyuga yang terkenal lemah lembut itu tega menyakiti anak-anak. "Kamu mau diam saja atau membantu kami?" Sasuke bertanya sarkatis, sambil mengarahkan katana-nya ke punggung mereka tanpa belas kasihan, "Kamu tidak diminta untuk membunuh hanya melumpuhkan, perhatikan mereka baik-baik," Sasuke berkata dingin.

Mendengar perkataan Sasuke, Sakura memperhatikan gerakan Sasuke. 'Astaga! Ternyata aku bodoh sekali. Tapi kenapa Sasuke tidak ada lembutnya sama sekali? Naruto saja tidak pernah sedingin itu dengan Hinata. Huh!'

Dengan membabi buta, Sakura melakukan gerakan yang sama dengan kunainya yang dialiri cakra yang berkobar-kobar. Melampiaskan rasa kesalnya. Naruto yang melihat Sakura langsung mengkeret. 'Astaga, Sakura-chanbenar-benar menyeramkan,'

"Saa..sa..kura-chan," Hinata melihat Sakura dengan pandangan horor. Sedangkan Sasuke tetap fokus dengan musuhnya. Tidak terasa mereka sudah merobohkan semua anak-anak yang mengepung mereka. Naruto meminta Sakura dan Hinata untuk memeriksa anak-anak itu.

"Mereka semua sudah meninggal Naruto," Sakura memandang sedih anak-anak yang kini mereka baringkan berjajar. Naruto mengepalkan tangannya, memandang tubuh-tubuh yang mulai mendingin itu. 'Mereka benar-benar keterlaluan menggunakan tubuh anak-anak, mereka harus merasakan akibatnya nanti,'

Hinata yang memperhatikan wajah Naruto, seperti mengerti perasaan kekasihnya. Diusapnya pelan pundak Naruto ingin menyalurkan perasaannya pada pemuda pirang kekasihnya "Naruto-kun," suara lirih Hinata dibalas oleh Naruto dengan genggaman erat pada tangan porselennya.

"Itu..itu..ni-chan!" teriakan Ayu membuat mereka berempat menoleh memperhatikan arah pandang gadis kecil yang kini menunjuk-nunjuk seseorang di atas pohon.

Tampak sosok dengan rambut coklat jabrik memakai jubah berwarna hitam yang melambai-lambai tertiup angin sedang memperhatikan mereka dengan senyum sinis yang tampak di wajah pucatnya. "Tidak kusangka, Rokudaime-samamau melawan boneka-bonekaku.."

Oo00oO

Mereka berempat bersiaga, memperhatikan musuh yang turun dari tempat persembunyiannya dan menjejakkan kakinya pada tanah. "Hajimemashite,Aku Karada, yang yakin sebentar lagi kalian akan jadi bagian dari koleksi boneka terbaikku, hmm...Rokudaime-sama,Uchiha, Hyuga dan errrr..." Laki-laki berambut coklat itu menunjuk Sakura "aah...Haruno..murid Tsunade,"

"Darimana kau tahu nama kami?" Sakura menggeram marah.

"Ayolah...tidak sulit menemukan nama kalian dalam daftar pahlawan setelah perang..semua orang membicarakan kalian..tapi tidak dengan mereka yang menjadi korban," wajah musuh di depan mereka menggelap "kalian terlalu gembira di atas penderitaan orang lain, cih! Aliansi shinobi? Jangan membuatku tertawa. Kalian membuat banyak nyawa melayang hanya demi melindungi jinchurikibenar-benar bodoh dan diajuga orang bodoh,"

Mereka menanti kalimat selanjutnya yang akan terdengar "kalian mengorbankan tunangankuhuh! Sara benar-benar bersemangat ikut dalam aliansi bodoh itu, tapi apa yang di dapat? Dia mati, tanpa ada yang peduli. Yang kalian pedulikan hanya para kage tua bodoh, jinchuriki,dan Uchiha si penghianat,"

"Apa yang kau katakan? Teman-teman kami yang gugur tidak ada yang sia-sia, mereka mengorbankan nyawa mereka demi mereka yang hidup demi banyak orang, semangat mereka membantu kami bangkit, kau meremehkan semangat mereka. Tak akan kubiarkan kau mengotori jasa mereka," Naruto menggeram marah.

"Katakan itu jika kau bisa menjaga tunanganmu dengan benar Rokudaime-sama," Karada menekankan suaranya pada kata terakhirnya dan tersenyum senang ketika melihat lawan di depannya mulai menggeram.

Tangan Karada mulai membentuk segel, "Chimei-makihage!"

Sulur-sulur cakra berwarna biru mulai terlihat keluar dari ke sepuluh jari Kurada. "Tanshi!" sulur-sulur cakra itu mengincar mereka. Menembus tanah yang mereka pijak.

Dengan gesit keempatnya berlompatan menjauh, Naruto menggendong Ayu dan mengajaknya bersembunyi di tempat yang aman. "Ayu-chanjangan keluar dari sini sebelum kami kembali, mengerti?" Ayu mengangguk patuh.

Naruto melihat ketiga rekan timnya, sedang berusaha menghindar dari serangan Karada. Ia memperhatikan lebih seksama kemampuan musuhnya. Terlihat sulur-sulur cakra itu menari-nari menyerang ketiga temannya.

'Tidak ada cara lain selain menyerang tubuh utamanya,' pikir Naruto.

"Chidori!" tubuh Sasuke kini terlihat dialiri listrik serta katana-nya.

"Jangan lakukan itu Uchiha-san," kata-kata tenang Karada membuat Sasuke meradang. Sasuke berlari cepat mendekati musuhnya. Tapi tiba-tiba gerakannya terhenti, tubuhnya terasa diambil alih sesuatu "Ayo kita coba lihat bagaimana ekspresimu ketika melihat Haruno Sakura mati di tanganmu sendiri,"

"Hikitsugu! Sigyou-hontai!" Tubuh Sasuke tiba-tiba bergerak sendiri menerjang Naruto yang mencoba menahannya. "Hentikan! Teme! Kamu bisa membunuh Sakura,"

Sakura berusaha menghindar, tapi tidak bisa kakinya seperti ada yang menahan. Matanya menataponiksmilik Sasuke. 'Sasuke-kun,apa aku akan mati?'

Sasuke berusaha menghentikan langkahnya, berusaha menghentikan chidorimiliknya tapi tidak bisa. 'Apa yang harus ku lakukan, Sakura?' emeralddan manik hitam Sasuke mencoba berkomunikasi.

"Haha...haha..lihat! Para pahlawan ini cuma bisa membual, ini akhirnya! Surashuu!"

Katana Sasuke sudah akan menyentuh tubuh Sakura ketika sebuah tangan tan memegang lengannya. "Kendalikan dirimu Sasuke!" Teriakan Naruto membuatnya sadar.

Dengan usaha yang benar-benar menguras tenaganya, Sasuke memutus benang cakra yang mengendalikan dirinya. Dan membebaskan Sakura yang masih diam mematung, akibat tali cakra Karada.

Tubuh Sakura langsung jatuh ke pelukan Sasuke. "Wah! Wah! Kalian bisa lolos juga ya,"

"Kau!" Naruto merapalkan jurusnya "Kagenbunshin no jutsu!"

Tiruan-tiruan Naruto bermunculan. "Enyah kau! Rasengan!" Pusaran bola angin berwarna biru mulai bermunculan di tangan setiap bunshinNaruto. Mereka bersamaan menyerang Karada.

Karada yang melihat itu hanya tersenyum "Trik lama Rokudaime-sama,"

"Marui-shien," sulur-sulur cakra itu membanyak dan melindungi Karada dalam bentuk kubah besar. "Sauzando-senshi!" Sulur-sulur itu mulai menjalar keluar menusuk setiapbunshinyang menyerangnya.

"Aargh!" Lengan kanan Naruto terasa perih. Tusukan sulur cakra itu terasa perih dan panas.

"Hati-hati Rokudaime-samasulurku memiliki racun," Karada tersenyum licik.

"Naruto-kun!" Teriakan Hinata membuatnya mengalihkan perhatian dari lengannya dan kembali melihat musuhnya. Sulur-sulur itu kembali menyerang Naruto. Naruto mulai berlompatan lagi.

Mereka sama sekali tidak bisa mendekati tubuh utama Karada. Akibat sulurnya yang selalu menyerang mereka dari jarak jauh.

"Kalau begini terus aku merasa bosan, kutunjukkan sesuatu yang lebih menarik," Karada menghujamkan lagi sulur cakranya. Sulur-sulur itu menghujam tanah yang mereka pijak. Tanpa disadari Hinata, salah satu sulur yang sudah menembus tanah itu menusuk belakang kepalanya.

Dalam sekejap, yang Hinata dengar berikutnya hanya teriakan Naruto dan semuanya menghitam.

~TBC~

Minna...konbanwa..

Arigatou kepada semua yang sudah mau membaca dan mereview karya Yuu yang tidak jelas ini..hehehe

Bagi yang merasa jurus yang dimiliki musuh itu aneh..silakan komentarnya..

Yuu juga merasa aneh...

Cukup frustasi membuat chapter ini..benar-benar sulit merangkai kata untuk adegan berantemnya..

Harus baca ulang Naruto untuk merhatiin jurus-jurus mereka lagi...hahaha..

Ya sudah..semoga minna menikmati membacanya...

Salam hangat..

Yuu^ _-

NB:

Tolong review yang banyak dan bila berkenan kasih saran yang banyak. Hehe^^