UNLEASH
Chapter 7
KAIHUN KAIHUN KAIHUN
GS!Hun
Warned
.
.
.
God i see a lot of spiders web here lmao nope this story is so fucking old i cry
.
.
Dalam ruangan berbentuk segi enam dengan tiga sisi dindingnya yang sepenuhnya berupa kaca ini, tidak ada suara yang bisa kalian dengar selain suara keyboard yang beradu dengan jari ataupun suara "click-click" dari mouse yang mereka pergunakan. Yup! Kalian sedang berada di ruang kerja Kim Jongin. Ruang kerja -bekas arsitek kepala yang dulu- yang akhirnya ditempatinya setelah direnovasi sesuai dengan desain yang diinginkannya. Kalian tentu ingat pamor Jongin yang merupakan arsitek capable milik cabang perusahaannya di luar negeri, dan tentu saja sejak kedatangannya kembali ke Korea lelaki itu sangat dimanjakan oleh perusahaannya. Well, Jongin tidak memanfaatkan apa yang mereka berikan padanya, tapi jika dia diberi sebuah ruangan khusus dengan ukuran yang cukup besar, siapa yang akan menolak? Lagipula Jongin suka dengan posisi dan bentuk ruangannya. Dia hanya perlu merenovasi here and there, put something here and there, then tadaah! He got what he wanted.
Uhm, tentu kalian tidak lupa dengan affair atau percintaan yang dilakukannya dengan si Nona Interior designer - Nona Sehun—'kan? Ya, ya, Jongin tak mau menyebutnya dengan "affair" atau apapun itu namanya, dia hanya mau menyebutnya "sex with your workmate", bukan percintaan (Dia membohongi dirinya sendiri, you know).
"Kenapa dengan wajahmu?"
Jongin mengeluarkan suaranya setelah sekian menit bekerja tanpa bersuara, tapi entah pada siapa dia bicara, karena sampai beberapa saat tidak ada yang menjawab perkataannya.
"Hey aku bertanya padamu."
Lagi, tidak ada suara yang menjawabnya. Well, ada. Suara dari mouse dan keyboard. Tapi itu bukan dari laptopnya, karena si pemilik suara sedang menghentikan kegiatan bercintanya dengan gadget tersebut.
"Aku berbicara padamu, Nona Oh."
"Diamlah, Jongin."
Sebuah suara gerutuan menjawab kalimatnya dan Jongin menjauhkan dirinya dari laptop dihadapannya sambil tersenyum miring. Dia terlihat amazed dengan jawaban yang dikeluarkan oleh lawan bicaranya itu. Masih tetap di atas kursi kerjanya, Jongin memusatkan seluruh perhatiannya pada orang yang ada di ruangannya itu.
"Kau terus menerus menekuk wajahmu. Kau kenapa?"
"Diamlah, aku benci padamu."
Wanita itu -si Nona Oh- menjawab sambil menarik turtle neck yang digunakannya dengan raut kesal, menarik nafasnya dalam-dalam dan kembali pada pekerjaan di laptopnya tanpa menengok maupun melirik ke arah Jongin sedikitpun.
Entah kepalanya sedang tidak waras atau Jongin memang tidak waras, melihat wanita di ruangannya bersikap seperti itu malah membuatnya tertawa. Dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Kenapa kau benci padaku?"
"Kau membuatku harus menggunakan turtle neck lebih dari dua minggu. Dan ini sangat panas."
Jongin terbahak dengan jawaban gadis itu. God, dia membencinya hanya karena masalah itu. Aint she cute?
Well, kalian mungkin bertanya-tanya apa yang salah dengan menggunakan baju model turtle neck. FYI, sekarangpenghujung musim semi, which means the weather is starting to get rather hot. And turtle neck? Kalau kalian tidak merasakan perubahan suhu yang mulai membuatmu berkeringat sepertinya kalian harus memeriksakan metabolisme tubuh kalian. the weather is for sure akan membuat kalian lebih berkeringat dibanding hari-hari sebelumnya, dan Sehun dengan sangat akan menolak menggunakan baju sialan itu kalau bukan karena "keharusan".
Jongin berdiri dari kursinya dan berjalan dengan santai menuju meja wanita yang sedang menggerutu padanya, tangannya dimasukkan ke dalam kantung celana which makes him look so freaking masculine. Dia mendudukkan dirinya di ujung meja kerja gadis itu, tepat di samping jari lentik sang gadis yang sedang memegang mouse. Jongin mengeluarkan tangan kanannya dari dalam saku dan mengangkatnya untuk menyentuh dagu gadis yang sedang mengernyitkan dahinya dengan kesal.
"Kau membenciku karena itu? Aku tidak memintamu untuk memakai pakaian seperti itu, 'kan?"
Gadis itu mengalihkan pandangannya dari pekerjaannya untuk memandang lelaki yang tengah menyentuh dagunya itu. Kalau saja gadis itu adalah orang lain, pasti wajahnya terlihat seram sekali mengingat gadis itu kini sedang memandang Jongin dengan mata tajamnya.
"Kau memang tidak memintaku untuk memakainya, tapi kau sama sekali tidak membantu."
"Apa? Tidak ada yang melarangmu datang ke kantor dengan leher penuh tanda, kan?"
Sebuah tinju didapatkan Jongin di perutnya, tidak sakit memang, tapi itu cukup membuatnya terkejut. Gadis itu memiliki gerakan yang cukup cepat, setelah meninjunya, tangan gadis itu kembali menjamah laptop dan mouse. Well, Jongin sedikit banyak berharap tangan itu menjamah dirinya sekarang. Pssh.
Jongin menggerakkan tangannya yang sedari tadi bertengger di dagu runcing gadis itu untuk menyentuh turtle neck berwarna merah marun yang dikenakan sang gadis. Dia menariknya turun sedikit dan terlihatlah leher putih sang gadis yang dihiasi beberapa titik di beberapa tempat. Titik itu ada yang berwarna kemerahan, sedikit ungu, ada juga yang sudah mulai memudar. Jongin tersenyum melihat titik-titik itu. Tapi senyumannya berganti dengan kernyitan saat si pemilik leher menepis tangannya dan membenarkan letak turtle neck yang digunakannya.
"Yah! Why?!" jongin bertanya seperti anak kecil yang tidak bisa mendapatkan mainan yang diinginkannya.
"Diamlah, Jongin, terakhir kali kau melihat leherku yang penuh tanda hampir hilang ini kau malah menambahkannya. Aku jadi harus memaki turtle neck sialan ini lagi!"
Jongin tertawa mendengar gerutuan gadis itu dan memutar kursi kerja gadis itu agar menghadap padanya.
"Kau seksi menggunakan baju itu."
"Panas sekali memakai ini di cuaca seperti ini."
"Kau boleh melepasnya kalau kau mau."
"Fuck you, Jongin."
"No, I will fuck you, Miss Oh."
Jongin kembali tertawa dengan umpatan yang di keluarkan Sehun. Semakin hari semakin banyak umpatan yang dikeluarkan oleh gadis itu -saat mereka hanya berdua tentu saja-. Sehun masih dengan sangat baik menjaga image sempurna miliknya, tanpa mengabaikan profesionalitas yang selalu dijunjung tinggi olehnya.
Hubungannya dengan Jongin? Well, masih sekedar arsitek kepala dengan staff interiornya. Uhm, with a lil' bit sex include. Karena rasanya sekarang seperti ada yang janggal jika kalian melihat keduanya tanpa melakukan sesuatu. Ya, sesuatu. Atau sesuanu, you name it.
Yes, ini sudah berlalu nyaris satu minggu lebih sejak kepulangan mereka dari site survey laknat itu (kata-kata itu Jongin yang buat), dan hubungan keduanya berjalan seperti biasanya. Itu di hadapan orang lain. Kalau di balik tembok ruang kerja Jongin, yah, sedikit berantakan. Hanya sedikit.
Dengan adanya "perasaan" yang mulai ikut campur dalam permainan ini, Jongin dan Sehun agaknya sedikit merasa awkward satu sama lain. Tidak, diantara mereka tidak ada yang menyatakan perasaannya atau apa, hanya saja sepertinya mereka memiliki self-conscious yang tinggi. Jadi, well, kalau boleh kukatakan keadaannya sedikit lucu. Jongin dengan posisinya sebagai seorang arsitek capable yang memiliki ekspektasi penuh dari orang lain, dan Sehun dengan memiliki image sempurna penuh profesionalitas miliknya membuat hubungan mereka seperti coklat, keras di luar tapi lumer di dalam (itu Jongin yang bilang). eww, that's so cringeworthy, Jongin.
Ohiya, Jongin menemukan hobi barunya akhir-akhir ini. Hal itu berhubungan dengan Sehun dan hisapan. Uhm yah Jongin senang sekali "menghisap" Sehun baru-baru ini. Kalian bisa lihat dari banyaknya bekas hisapan di leher gadis putih itu. itu sebabnya gadis itu selalu memakai turtle necknya. Man, itu sebabnya Sehun membenci Jongin sekarang. Kalian tahu, sejak kembalinya mereka dari survey ini, Jongin nyaris tak pernah absen 'memainkan' hobinya yang baru. Korbannya? Tentu saja Sehun yang sekarang menggunakan baju sialan itu hampir setiap hari dengan berbagai macam warna yang berbeda. Untungnya baju itu sangat bergaya classy sehingga Sehun bisa memadupadankan baju itu dengan scarf tipis maupun blazer cantik hingga dia terlihat seperti Madam dari Inggris. Dia membeli beberapa set dan dia bersumpah jika Jongin terus melakukannya dia akan menuntut ganti rugi.
Kalau dia tidak mau lalu kenapa membiarkan Jongin terus melakukannya? Bukankan tubuhnya kan dia sendiri yang mengendalikan?
Memang benar, but come on, haruskah aku jelaskan lagi pada kalian perihal mengapa kalian tidak bisa menolak pesona seorang Kim Jongin? Man, bahkan tatapannya mampu membuat Sehun basah saat itu juga.
Oh, bicara tentang basah, sepertinya gadis itu sedang mengalaminya. Lihatlah, entah bagaimana caranya Jongin bisa duduk di kursi kerja Sehun dan sekarang Sehun sudah berada di pangkuannya. Sehun terlihat sangat menikmati apa yang Jongin lakukan pada tubuhnya. Matanya terpejam dan bibir bawahnya dia gigit untuk meredam desahannya yang sudah berada di ujung kerongkongannya. Sialan, Jongin memang selalu hebat dengan bibir dan lidahnya.
"Hentikan, Jongin." Cegah Sehun sambil terengah. Tangannya meremat rambut lelaki itu, berusaha menjauhkan kepalanya dari usahanya untuk abusing her neck. Tapi apa yang dilakukannya malah membuat rambut lelaki berkulit coklat keemasan itu semakin terlihat seksi.
"Kau yakin?" Jongin menanggapi perintah gadis diatasnya itu dengan sebuah pertanyaan, lebih tepatnya pertanyaan yang sangat meremehkan. Bibirnya tersenyum miring penuh kejahilan, tangannya mulai bergerak untuk mengusap pinggang ramping sang gadis sambil mengangkat baju gadis itu penuh rasa sensual.
Sehun meremang merasakan jemari kekar lelaki itu yang mulai mengerjai pinggangnya, dia melengkungkan tubuhnya dan sebelah tangannya yang lain meremat pundak lelaki yang masih saja memperlihatkan seringaiannya. Lelaki itu sudah menjauhi wajahnya dari spot favoritnya itu, tapi tangannya tetap saja menggerayangi pinggang, perut dan punggung halus sang gadis seperti seekor ular yang bergerak di atas gurun pasir. Tangannya sesekali menggelitik lembut beberapa titik yang menghasilkan sebuah pekikan kecil dari si pemilik tubuh.
"Kita harus segera menyelesaikan gambar-gambar itu, Jongin."
"Kurasa kita bisa istirahat selama lima menit."
"Kau tak akan pernah membiarkanku beristirahat."
"Damn! Why are you so clever, Miss Oh? Kau membuatku ingin menunggangimu."
"Brengsek!"
Jongin tertawa ringan dengan umpatan yang dikeluarkan oleh gadis di atasnya itu, tapi dia tahu umpatan itu tidak bermakna apa-apa. Lihat saja, gadis itu mulai menggeliat dan menggerakkan pinggulnya tepat di atas selangkangan si lelaki.
Baiklah, sepertinya kita tidak perlu melihat adegan itu (lagi). Kau tahu, ingat saja jika itu berhubungan dengan Jongin dan Sehun, maka itu juga akan selalu berhubungan dengan pekerjaan. Yah, pekerjaan dan "pekerjaan". Kalian pasti mengerti maksudku, 'kan?
.
.
.
"Kau tinggal dengan siapa sekarang?"
"Huh?"
"Aku bertanya padamu. Kau tinggal dengan siapa sekarang?"
"Apa maksudmu?"
"Aku hanya bertanya. Tidak boleh?"
"Well, ini sedikit aneh. Sejak kapan kita pernah mengobrol selain tentang pekerjaan atau sekedar basa-basi? Kupikir kita lebih sering 'bekerja'."
"Kalau begitu anggap saja ini sebagai basa-basi."
"Psh. Terserahlah."
"Hey kau belum menjawab pertanyaanku."
"Aku tinggal sendiri."
"Orangtuamu?"
"Mereka memiliki rumah sendiri."
"Kakakmu?"
"Aku tak punya kakak."
"Adik?"
"Nope."
"Hewan pelihar—"
"God, Jongin kau berisik sekali!"
Sehun sedikit menggebrak meja kerjanya mendengar Jongin yang terus saja memberikannya pertanyaan yang tidak penting. Matanya sudah lelah terus menerus menatap layar monitor yang penuh dengan garis-garis dan bentuk yang masih belum jelas. Badannya pun sama lelahnya dan Jongin dengan pertanyaan-pertanyaannya sama sekali tidak membantu. Dan nada bicaranya yang monoton itu benar-benar megganggu pendengarannya.
"Daripada kau terus menerus bertanya hal tak penting, dan kuperhatikan kau tidak melakukan apapun sejak tadi, lebih baik kau membantuku menyelesaikan ini. Kepalaku rasanya mau pecah."
"Man, kau mengejutkanku. Kupikir kau hanya bisa mendesah, ternyata kau juga bisa marah-marah."
"Diamlah atau pendulum ini akan menimpa kepalamu."
"Okay. Okay aku diam."
Sehun mengancam dengan mengangkat pendulum yang menjadi hiasan di mejanya, sepertinya dia benar-benar akan melemparnya jika Jongin masih bertahan dengan seringai sialannya itu.
"Aku punya satu pertanyaan lagi. Sorry, but, are you PMS-ing? I don't judge you, tapi kau tidak seperti biasanya."
Jongin bertanya, dengan sedikit nada takut dalam kalimat itu. Dia menutup mulutnya rapat-rapat saat gadis yang menjadi lawan bicaranya melayangkan sebuah tatapan yang menusuk. "Jangan marah aku hanya bertanya!"
"Yes, dan sialnya kau sangat tidak membantu. Pekerjaanku banyak dan kau malah semakin membuatku lelah."
"Well, sorry for that. Tapi itu bukan sepenuhnya salahku. Kau tidak menolak."
"Fuck you."
"I just fucked you. You want more?"
"Astaga sebenarnya atasan macam apa yang aku punya ini." Sehun menghela nafasnya dengan berat sambil mengusap lelah wajahnya. Pungungnya bersandar ke kursinya dan dirinya mulai merasa jenuh dengan pekerjaannya ini. Sebelum kehadiran Jongin dikantornya, biasanya pada saat-saat seperti ini Sehun akan "memanjakan" dirinya, menghabiskan beberapa jam untuk sekedar menyegarkan dan melepaskan hasratnya sebelum akhirnya pikirannya kembali dengan ide-ide untuk pekerjaannya yang lebih baik. Tapi sejak dia „melakukannya" dengan Jongin semuanya menjadi berbeda. Yes, she enjoyed it, too much bahkan. Mereka bisa melakukannya berjam-jam bahkan hingga lupa waktu. Dia tak bisa mengendalikan dirinya dengan benar. Dia tidak keberatan, memang, karena sepertinya sekarang Jongin juga tidak bermasalah dengan hal itu. bahkan akhir-akhir ini selalu Jongin yang memulainya.
"Aku akan istirahat sebentar."
"Kau bisa tidur di kamar kerjaku. Disana lebih nyaman."
"Aku akan tiduran di sofa saja."
"Baiklah."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu. Jongin kembali dengan pekerjaannya, sedangkan Sehun membaringkan dirinya di sofa panjang di dalam ruangan itu. Dia menutup matanya sambil memijat keningnya dengan perlahan. Saat dirinya hampir memasuki alam bawah sadarnya, suara seorang lelaki membuatnya keluar dari sana.
"Bagaimana kalu kau tinggal denganku?"
.
.
.
Ahra_17/03/17
Dahel apa yang aku buat ini -_- cerita ini semakin tidak jelas, ya?
Mianhae mianhae. Pada dasarnya semua cerita yang aku buat memiliki alur yang bebas. I mean, aku tidak pernah membuat suatu plot dari awal hingga berakhir dari suatu cerita secara runtut. Aku akan menulis kalau aku mendapat ide. Jadi kalau kalian bingung dengan cerita-cerita yang aku buat, itu bukan karena kalian sulit mengerti, tapi bahkan aku sendiri pun terkadang tidak mengerti hahaha.
All the stories I've written here are adventurous, benar-benar tidak ada plot yang benar.
Karena alur ceritanya sesuka hatiku, aku minta maaf pada kalian yang memiliki ekspektasi tinggi terhadap cerita ini.
Tenang, aku akan menyelesaikan cerita ini. Tapi sepertinya cerita ini masih panjang /eh.
Cerita ini belum mendapat goals yang aku harapkan. Atau haruskah kuperpendek?
Ya, seperti di cerita unwavering aku minta maaf juga karena telah menelantarkan cerita yang satu ini.
P.S.: NC scene di chap ini aku cut ya, kurasa kalian akan overdosis jika kalian terlalu banyak membaca cerita NC. (I know you guys are pervs. Lmao jk)
P.S.S: aku serius saat aku bilang Bahasa Indonesia ku buruk. Dan bagian aku sudah tua juga dahel -_-
