Ini chapter terbaru. Mind to RnR?
Disclaimer : Naruto milik Kishimoto Masashi-sensei
Hari ini, giliran sibuk berpindah ke Ino. Dari tadi ia mondar-mandir rumahnya, rumah Sakura, toko kue, toko buah, rental kaset & video. Di rumahnya, ia mengecek kerja Tenten. Ya, akhirnya ia berhasil memaksa Tenten membantunya karena ia punya senjata yang tidak bisa ditolak Tenten. Kalau di rumah Sakura, tentu saja merawat Sakura. Di toko kue, Ino harus membelikan Sakura kue-kue kecil yang dimintanya. Di toko buah, Ino harus membelikan Sakura buah. Di rental, ia sibuk memelototi layar kaca. Loh!? Hihi, enggak ding. Ia sibuk mencari video dan lagu yang diinginkan Sakura.
"Sakura, maaf ya.. gara-gara aku kamu jadi kecapekan dan sakit. Aku tidak tahu," kata Ino penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa kok, yang penting kamu mau merawatku kan," kata Sakura tersenyum. Dalam hati ia berkata, Hehe, polos sekali Ino-chan.
"Sakura..." kata Ino pelan.
"APAPUN AKAN KULAKUKAN UNTUKMU! ASAL KAU SEMBUH!" Teriak Ino. Sakura menutup kuping.
"Iya-iya. Tapi jangan teriak-teriak dong," katanya sebal.
"Gomen," kata Ino.
"Eng, Sakura. Kau perlu makan? Bisa makan sendiri atau perlu kusuapi?" Tanya Ino.
"Aku bisa makan sendiri kok," kata Sakura. Lalu memakan makanan yang dibuatkan Ino untuknya. Baru beberapa suap, ia berhenti. "Aku sudah kenyang," katanya.
"Hey, kamu mau nggak nonton video?" Tanya Ino.
"Boleh saja," kata Sakura pelan.
Ino langsung memilih video yang ingin ditonton. Beberapa saat kemudian, ia dan Sakura sudah mulai asyik menonton.
"Hahaha, coba lihat! Kamu konyol sekali saat itu!" Tawa Ino saat mereka menonton video konyol Sakura.
"Ino-chan! Kamu menyebalkan! Ayo, cepat ganti videonya!" Bentak Sakura.
"OK, deh. Mau nonton yang lain? Misalnya, video saat kita main drama-dramaan," kata Ino sambil mengambil video yang lain.
"Itu lebih baik," kata Sakura.
"OK, coba lihat yang ini. Ini saat kita main drama putri salju. Waktu itu kau yang jadi putrinya. Pangerannya Tenten. Sementara aku, jadi cerminnya ibu tiri," tawa Ino.
"Iya, aku ingat kok,"
"Setelah ini kita nonton video lain ya?"
Setelah beberapa jam...
"Sakura, ini sudah malam, aku pulang dulu ya, besok aku akan datang lagi, bye, aku sayang kamu Sakura,"
"Ya, sampai jumpa,"
Sakura memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, ia sudah terlelap.
Keesokan harinya...
"Hey, Sakura! Hari ini aku datang lagi," kata Ino ceria seperti biasa.
"Hey, Ino-chan," kata Sakura tersenyum.
"Nih, aku sudah masak untukmu. Makan, ya," kata Ino.
"Wah, pancake dan sausnya. Terimakasih, Ino-chan," kata Sakura riang.
"Hehe, sama-sama. Oh ya, yang kumasak cuma pancakenya. Sausnya tidak. Aku beli," kata Ino cengar-cengir.
"Kapan-kapan, buat bersama yuk," kata Sakura.
"Iya, tapi kamu makan dulu," kata Ino.
"Iya, pancakenya enak ya..." kata Sakura.
"Senang kamu suka," senyum Ino.
Sakura mulai merasa bosan lagi. Ino dapat merasakannya.
"Ada apa, Sakura?" Tanya Ino.
"Aku bosan. Apa tak ada hal lain yang bisa kita lakukan?" Tanya Sakura lirih.
"Oh, pastinya masih ada! Mau cerita tentang kejadian masa lalu?" Tanya Ino sambil menyeringai nakal.
"Ayo saja!" Kata Sakura (sedikit) bersemangat.
"Baiklah. Begini ceritanya. Suatu hari, ada anak bernama Sakura. Dia itu lemah, cengeng dan tidak bisa melakukan apa-apa..."
"APA KATAMU?!" Teriak Sakura.
"Nanti dulu, dong. Ceritanya belum selesai. Walau begitu, ia baik, manis dan pintar. Sayangnya banyak orang tidak menyadarinya. Termasuk, aku. Sekarang aku menyesal dulu kita bermusuhan. Benar-benar menyesal," kata Ino pelan.
"Sudahlah, Ino-chan. Yang dulu jangan diingat terus. Aku juga salah kok. Dulu, kan, aku yang memulai." Kata Sakura.
"Ya sudah. Lupakan saja. Sekarang, kita kan sudah bersahabat lagi. Kenangan buruk dilupakan saja," senyum Ino.
"Kamu benar, sahabatku... tersayang!" Kata Sakura mengerling.
"Haha, karena, aku sahabatmu yang pertama. Benar, kan?" Tawa Ino.
"Ya. Tapi, seandainya kamu bukan yang pertama, kau tetap berarti bagiku," kata Sakura.
"Oh, begitu. By the way, kamu kelihatannya tidak terlalu sakit lagi ya,"
"Iya, kuharap besok aku sudah sembuh,"
"Eh, jam berapa ini?" Ino tiba-tiba teringat sesuatu. "Wah, sudah malam begini. Aku pulang dulu ya Sakura,"
"Tidak usah," kata Sakura. "Kamu bawa baju kan? Malam ini menginap saja. Aku kesepian tidak ada teman nih,"
"OK, Sakura," kata Ino sambil tersenyum. Lalu ia beranjak.
"Baiklah, aku rasa aku harus menyiapkan sendiri tempat tidurku karena kau tidak mungkin melakukannya. Permisi sebentar ya,"
Lalu Ino pun menyiapkan segalanya. Setelah itu ia kembali ke tempat Sakura.
"Sakura, kurasa kau harus segera tidur karena orang sakit tidak boleh tidur terlalu malam," kata Ino.
"Ya, Ino-chan. Aku tidur dulu ya, tolong matikan lampuku," kata Sakura.
"Baik,"
Setelah itu, Sakura dan Ino tidur di kamar yang berbeda. Keesokan harinya.
Ino dan Sakura bangun dengan perasaan segar. Lalu mereka berdua langsung mandi dan berpakaian di kamar masing-masing. Setelah selesai, mereka langsung turun. Ketika mereka saling melihat satu sama lain mereka tersenyum dan menyapa.
"Ohayou Sakura," sapa Ino.
"Ohayou Ino-chan," kata Sakura.
"Kau sudah sehat ya," kata Ino senang.
"Iya. Kamu bisa pergi meninggalkanku sekarang, terima kasih sudah merawatku selama ini" kata Sakura.
"Itulah gunanya sahabat," kata Ino sambil tersenyum lebar. Sakura ikut tersenyum.
"Baiklah, hari ini aku yang masak saja ya," kata Sakura.
"Tidak usah, kan baru sembuh. Aku yang masak. Nanti kita makan berdua ya," kata Ino.
"Kalau begitu, kita berdua masak," putus Sakura.
"Ok deh,"
Mereka berdua memasak bersama sambil bercanda dan mengenang masa lalu.
"Aku pulang dulu ya Sakura. Aku harus mengurus tokoku. Aku sangat merindukannya setelah jauh terlalu lama." Kata Ino.
"Puitis amat! Tetapi ya sudahlah. Bye, Ino-chan."
"Ya, jangan terlalu memaksakan diri, kamu kan baru sakit." Kata Ino, lalu pergi.
Ino-chan adalah sahabat yang baik. Aku menyesal dulu pernah mencampakkannya.
Sakura tersenyum.
Ino mulai sibuk melayani pelanggan toko bunganya. Dia selalu bahagia saat berada di toko dengan wangi bunga di mana-mana. Sakura juga suka, kadang-kadang ia membantu Ino.
Ino-chan...
Sakura membayangkan kejadian beberapa hari lalu. Saat Ino memberinya kalung berliontin. Ino mengatakan bahwa ayahnya sudah memiliki kalung yang sama. Tetapi ia merasa tidak pernah diberitahu ayahnya tentang kalung itu. Dia tidak tahu.
Kenapa dia justru memberitahu Ino-chan terlebih dahulu, bukan aku, anaknya? Sudahlah, aku tanya saja ayahku.
Sakura bangkit dari kursinya. Sejak menikah dia tinggal terpisah dengan orangtuanya. Orangtuanya sudah lemah jadi mereka tidak bisa merawatnya saat sakit.
"Kami sudah memberitahumu, kok. Apa kamu lupa?" Tanya ayahnya saat ditanya.
"Begitu, ya? Baiklah, maaf, otoosan, okaasan." Kata Sakura. Kemudian pergi.
Aneh, aku kan, tidak hilang ingatan. Sudahlah, besok aku tanya Ino-chan. Pikir Sakura. Dia pun langsung kembali ke rumahnya dan Sasuke.
Keesokan harinya, Sakura datang ke toko Ino. Ino, seperti biasanya, sibuk. Saat Sakura membuka pintu, Ino menoleh.
"Hai, selamat datang, Sakura. Ada apa?" Tanyanya.
"Aku ingin membantumu." Kata Sakura.
"Wah, terimakasih. Kalau begitu, kamu di kasir saja, ya." Pinta Ino. Sakura mengangguk. Ia pun langsung menuju kasir. Kemudian mulai sibuk. Ino juga.
"Fyuh." Ino menghembuskan nafas lega. Pelanggan mulai banyak berkurang.
"Terima kasih, Sakura." Kata Ino.
"Tidak masalah, Ino-chan." Kata Sakura.
"Ini upahmu," kata Ino sambil menyerahkan uang pada Sakura.
"Tidak usah, Ino-chan. Sebagai gantinya, aku mau menanyakan sesuatu padamu." Kata Sakura.
"Ya? Tanya apa, Sakura?" Tanya Ino sambil tersenyum.
"Aku ingin tahu mengapa orangtuaku tidak menceritakan tentang kalung itu padaku. Tapi mereka bilang sudah. Kenapa mereka memberitahumu?" Tanya Sakura.
"Eh, percayalah, Sakura. Kau tidak ingin mengetahuinya," kata Ino sambil mengangkat kedua tangannya ke depan.
Sakura mendekatinya.
"Tak apa, ayo cerita." Paksa Sakura.
"Tidak usah." Kata Ino gemetaran.
"Ayo bilang," wajah Sakura mulai terlihat mengerikan seperti ketika ia marah kepada Naruto.
"Kalau tidak..." Sakura mulai siap mengeluarkan ancamannya. Tetapi Ino lenyap.
"Kaburr!" Teriak Ino.
"Ino-chan! Tunggu, sini kamu. Kalau tertangkap aku akan menggelitikmu!" Teriak Sakura.
"Coba saja!" Teriak Ino dari jauh.
Sakura berlari mengejar Ino. Bila Sakura semangat mengejar, Ino bersemangat kabur.
"Oh," Sakura merasa seperti mengenali sesuatu. Lalu dia berhenti. Setelah memastikan yang dia lihat, dia melangkah ke tempat dia bisa melihatnya dengan jelas. Tak lama, air mata mulai membasahi pipinya.
Hai, bagaimana? Maaf bila di sini terdapat banyak kesalahan. Bila anda mau, anda dapat membantu memperbaikinya. Terakhir, terima kasih telah membaca FF ini. Saya senang bila ada yang mau membaca FF ini.
Balasan reviews:
chan: Ini ;-)
Hasegawa : maaf, sebab ini file lama yang dibuka lagi. Sudah kehilangan sebagian alur ceritanya.
