Fanfiction

Cast : Jongin, Sehun

Genre : Romance, Drama

Warning : Sexual Content

Summary : Si introvert Jongin yang menghabiskan nyaris dua belas jam sehari didepan komputer jatuh cinta pada seorang blogger manis nan seksi bernama bubblyoh. Jongin ingin sekali bertemu dengan bubblyoh walau tanpa ia sadari ia sudah mengenal bubblyoh sejak dulu. KaiHun. Yaoi. Rated M.

Part Three

"Apa kau sudah lelah?"

"Belum."

"Baguslah, aku masih ingin mendengar suaramu."

"Dasar gombal. Apa kelas kimia mengajarkan teknik menggombal?"

"Hahahaha, aku rasa jatuh cinta membuatku jadi sedikit romantis."

"Dasar gila."

Seorang pemuda yang berbaring ditempat tidur single itu tertawa mendengar suara berat dari ponselnya. Senyuman lebar sudah beberapa jam terakhir tidak pernah menghilang dari wajahnya. Semua itu karena seseorang yang sedang mengobrol dengannya via telepon ini.

Pemuda itu berguling-guling diatas tempat tidur dan sesekali meremas bantalnya. Jika ada seseorang yang melihat tingkah konyol pemuda tersebut pasti orang tersebut langsung tahu jika si pemuda sedang kasmaran.

Ya, Oh Sehun.

Sehun yang populer itu.

Sehun yang cantik dan seksi itu.

Sehun yang sejak kecil sudah banyak penggemar.

Wajar saja sebenarnya pemuda seumuran Sehun ini jatuh cinta. Hanya saja cerita cinta Sehun kali ini sedikit tidak biasa. Sehun jatuh cinta pada sahabat masa kecilnya. Well, itu masih biasa. Oke, jadi bagian ini yang membuat kisah cinta Sehun menarik.

Sehun, pemuda populer yang selalu menjadi idola semua orang memiliki sebuah rahasia kecil. Sehun adalah seorang blogger. Porn blogger lebih tepatnya. Cukup mengejutkan bukan?

Sehun yang cantik saat itu sedang merasa frustasi secara seksual. Iseng-iseng, Sehun merekam kegiatannya yang sedang beronani. Entah bagaimana Sehun merasa berkali-kali lipat lebih terangsang saat melihat hasil videonya sendiri. Ide gila terlintas dibenak Sehun waktu itu.

Bagaimana jika video ini ia unggah di internet?

Membayangkan dirinya yang sedang beronani dilihat orang lain membuat Sehun semakin kepanasan. Dan ternyata benar! Begitu videonya ia unggah dan mendapat respon banyak orang Sehun semakin ketagihan. Komentar-komentar nakal yang orang-orang tinggalkan menjadikan Sehun semakin merasa seksi.

Hingga suatu hari, sebuah komentar yang tidak biasa ditulis oleh sebuah nama yang familiar. Komentar itu memuji jari-jarinya dan memiliki username jonginkim. Sehun membuka blog si jonginkim ini dan terkejut bukan main. Kim Jongin? Kim Jongin tetangganya itu? Kim Jongin yang suka sekali pelajaran mipa itu? Kim Jongin yang dulu pernah ia sukai itu?

Ya, ya, ya. Sebuah fakta menarik bahwa Sehun dulu pernah menyukai Jongin. Dulu sekali waktu dia masih duduk dibangku sekolah dasar. Menurut Sehun kecil, Jongin adalah sosok pria yang sangat bisa diandalkan. Mau meminjamkan PR-nya, mau memberikan bukunya kalau Sehun lupa bawa buku, mau memberikan sisa permen terakhir, selalu mengantarkan ia pulang dan yang jelas selalu melindunginya jika ada yang jahil.

Sehun dulu menganggap Jongin sebagai pahlawannya. Namun seiring ia beranjak dewasa, Sehun memahami jika Jongin tidak pernah menyukainya. Jongin melakukan itu karena Jongin menganggapnya sebagai seorang adik. Jongin melakukan itu karena Jongin adalah anak yang baik hati.

Sehun ingat betul bagaimana hatinya hancur ketika Jongin kecil memilih untuk mengantarkan pulang teman perempuan sekelas mereka dari pada makan es krim bersamanya. Akhirnya Sehun pun sadar jika Jongin melakukan kebaikan-kebaikan itu bukan karena menyukainya tapi karena Jongin memang baik.

Kini perasaan itu tumbuh kembali ketika ia sudah kuliah.

Harus Sehun akui, sejak ia dan Jongin dibangku kuliah, Jongin terlihat sangat tampan. Tubuh Jongin tidak kurus kerempeng seperti kebanyakan orang doyan belajar. Sehun tentu tahu dari mana Jongin mendapatkan tubuh seperti itu. Lalu potongan rambut serta pakaian yang dikenakan Jongin juga tidak menunjukkan jika ia adalah anak culun.

Mungkin itu pengaruh Baekhyun. Teman Jongin yang super cerewet. Awalnya Sehun mengira jika Baekhyun dan Jongin berpacaran namun akhirnya ia tahu jika keduanya hanya berteman baik. Sebal juga melihat Jongin yang cupu menjadi sedikit lebih keren karena itu artinya Jongin akan didekati banyak orang. Huft.

Rasa suka itu tidak benar-benar tumbuh pada awal Sehun mulai rajin berchatting ria dengan Jongin. Awalnya, Sehun malah hanya ingin mengerjai Jongin saja. Ia masih tidak percaya jika Jongin yang culun itu ternyata nonton video porno juga. Video dirinya apa lagi.

Berawal dari hanya iseng-iseng saja mengobrol dengan Jongin atas nama bubblyoh, Sehun jadi bisa mengenal Jongin lebih dekat. Jongin yang tekesan pendiam dan cuek dikehidupan nyata ternyata sangat menyenangkan diajak mengobrol. Hingga Sehun bertanya-tanya apa Jongin punya kepribadian ganda ya?

Hanya dalam dua bulan mengobrol nyaris setiap malam, Sehun langsung mengetahui jika ia menyukai Jongin. Beruntungnya ia, sebulan kemudian Jongin mengungkapkan perasaan suka juga padanya.

Seharusnya Sehun senang bukan?

Ya, memang Sehun senang. Tapi saat itu ia mulai menyadari. Tidak mungkin kan ia membuka identitas bubblyoh? Bagaimana reaksi Jongin saat mengetahui Sehun adalah bubblyoh? Pasti sangat marah dan merasa dipermainkan.

Sehun juga akan malu setengah mati karena video-video panas yang ia unggah atau ia kirim untuk Jongin. Mau ditaruh dimana mukanya kalau Jongin tahu jika ia suka exhibitionism? Begitu banyak kemungkinan-kemungkinan yang membuat Sehun ragu untuk membuka identitas diri bubblyoh pada Jongin.

"Princess? Aku harus terus memanggilmu princess?"

"Uhum." Kepala Sehun mengangguk menggemaskan. Sehun memang belum mau membuka identitas dirinya. Kalau boleh jujur, pesan yang ia kirim ke Jongin beberapa jam yang lalu adalah sebuah spontanitas.

Rasa cemburu dan kesal melihat Jongin berkencan membuat Sehun nekat melakukan hal tersebut. Sehun yang waktu itu baru saja melewati sebuah counter penjual ponsel, langsung membeli nomor baru hanya untuk menghubungi Jongin.

Dari sudut matanya ia melihat Jongin keluar dari restoran meninggalkan kencannya kurang dari tiga menit ia mengirim pesan. Sehun melonjak kegirangan dan langsung berlari riang kembali ke asramanya.

Dan disinilah dia, mengobrol dengan Jongin selama empat jam via telepon.

"Baiklah Princess-ku."

"Jongiiiin, jangan membuatku malu."

"Aku senang mendengarmu merengek."

"Jongiiiiiin." Sehun merengek lagi. Kenapa Jongin pintar sekali menggodanya? Seingatnya Jongin tidak punya banyak pengalaman dalam berkencan.

"Ya, pacarku?"

"Ish, apa sih." Pipi Sehun semakin memerah.

"Senang saja akhirnya kau jadi pacarku."

Sehun terdiam mendengarnya.

"Apa kau tidak membenciku?"

"Kenapa?"

"Karena aku tidak mau terbuka padamu." Sehun diam, menggigit bibirnya. Heran sekali Sehun pada Jongin. Kenapa pemuda itu masih mau menunggunya bahkan setelah ia terang-terangan mengatakan jika ia tidak bisa memberi tahu identitas aslinya.

"Aku yakin kau punya alasan yang cukup kuat kenapa tidak mau mengatakannya padaku."

"Lalu, apa kau tidak uh, jijik padaku?"

"Kenapa?"

"Karena aku…aku…"

"Karena kau pernah mengunggah video-video itu?"

"Hu'um." Sehun tidak pernah menanyakan hal ini pada Jongin dan jujur saja ia penasaran bagaimana pendapat Jongin akan dirinya tentang hal itu.

"Tidak, aku tidak pernah jijik dengan hal itu." Sehun diam mendengar ucapan Jongin. "Kalau boleh tahu, kenapa kau membuat blog seperti itu?"

Sehun memainkan boneka beruangnya.

"Karena…karena…." Sehun malu jika harus menjawab jujur masalah itu.

"Kalau tidak dijawab tidak apa-apa, itu pertanyaan yang cukup pribadi."

"Karena aku merasa seksi saat orang lain melihatku beronani." Sehun menjawab cepat. Jantungnya berdegup cepat. Ia takut jika setelah ini Jongin akan menganggapnya orang aneh kemudian meninggalkannya.

"Ah, begitu."

Hanya itu?

Sehun menunggu komentar Jongin selanjutnya.

"Kau tidak merasa jijik akan hal itu?"

"Kenapa aku harus merasa seperti itu? Itu adalah selera seksmu." Suara Jongin terdengar biasa saja. "Kau mau tahu apa fetish-ku?"

"Apa?!" Sehun terkejut mendengar ucapan Jongin. Sahabatnya itu ternyata tidak selugu wajahnya.

"Aku suka melihat pasanganku diikat dan tidak berdaya dibawahku." Sehun tersedak liurnya sendiri mendengar pengakuan Jongin hingga terbatuk-batuk. Rasanya seperti ia baru saja disiram air dingin karena terlalu terkejut mendengarnya. Jongin? Seorang Kim Jongin?

"Princess, kau baik-baik saja?" Jongin terdengar khawatir.

"Uhuk! Iya—uhuk uhuk—aku baik-baik saja." Sehun menelan segelas besar air putih dan akhirnya menemukan suaranya kembali. "A-apa kau suka BDSM?"

"Well, uh, sedikit." Kini Jongin yang terdengar gugup.

"Aku…tidak tahu." Air dingin imajiner yang tadi menyiram Sehun rasanya kembali membasahi tubuhnya. Oh astaga, Kim Jongin, temanku yang jenius dan pendiam. Jadi kau seorang masochist?

"Apa kau…jijik?"

"Tidak! Tentu saja tidak!" Sehun menjawab cepat. Memang, Sehun sama sekali tidak jijik. Hanya terkejut. Sehun sebagai anak yang juga sering bergaul dengan dunia malam sedikit banyak mengerti hal-hal seperti itu. Mulai dari seks bebas, alkohol dan juga narkoba. Biarpun dia tidak benar-benar berkecimpung dalam dunia seperti itu, Tao yang merupakan sahabatnya juga seorang masochist dan peminum handal.

"Hanya terkejut." Lanjut Sehun.

"Fiuh, untunglah." Jongin terdengar lega diseberang sana. Sehun tidak bisa berkata apapun karena pikirannya masih dipenuhi oleh keterkejutan. Otaknya langsung membayangkan bagaimana Jongin saat bercinta.

Sosok pintar nan pendiam yang selama ini ia kenal berubah menjadi seorang monster yang diselimuti gairah panas. Pemuda itu berubah menjadi bak serigala yang mampu membuatnya luluh dan menyerahkan diri sepenuhnya.

Jongin yang telanjang dada…

Jongin yang menyeringai lebar sementara ia berbaring tidak berdaya diatas kasur…

Jongin yang menciumnya kasar…

Oh tidak, pikiran Jongin berlarian terlalu jauh.

"Princess…? Apa kau baik-baik saja?"

"Huh? Aku? Aku baik-baik saja. Memangnya kenapa?" Sehunt tersentak dari lamunan kotornya.

"Suaramu…suaramu…"

"Suaraku?"

"Suaramu menjadi serak dan…dan…tunggu, apa kau memikirkan sesuatu yang nakal?"

Sehun rasanya seperti dibakar mendengar pertanyaan Jongin. Malu sekali. Bagaimana Jongin bisa tahu? Apa dia juga bisa membaca pikiran manusia? Ah, tidak mungkin. Kalau Jongin bisa membaca pikiran pasti dia sudah tau identitasnya.

"Princess?"

"Y-ya?"

"Apa kau membayangkan aku mengikatmu diranjang?"

Sehun menelan air liurnya dengan susah payah. Lidahnya terasa kelu dan sekujur tubuhnya memanas. Memang hanya perasaannya atau suara Jongin juga terdengar lebih serak dari biasanya.

"Princess, jawab aku."

"I-iya." Sehun menjawab dengan suara pelan.

"Good, karena Daddy juga membayangkanmu terikat ditempat tidur Daddy." Jongin berkata dengan suara beratnya. "Telanjang." Lanjut Jongin.

Seluruh tubuh Jongin rasanya tersulut api. Daddy? Oh Tuhan. Jongin sebagai daddy-nya? Yes! Yes! Yes! He wants daddy like him! Suara Jongin yang serak membuat Sehun bisa membayangkan betapa panasnya Jongin diseberang sana.

"Princess, coba katakan pada Daddy apa yang kau bayangkan tadi?"

Sehun menggigit bibirnya malu. Astaga, Jongin benar-benar tahu cara membuat dirinya kepanasan. Hanya dengan kata-kata Jongin mampu membuat Sehun terbakar gairah. Sehun jadi ragu apakah selama ini Jongin lebih banyak mengurung diri dikamar itu untuk belajar atau kegiatan lainnya.

"A-aku…" Sehun berkata terbata. "Aku, aku membayangkan Da-daddy…" Lidah Sehun terasa tergelitik memanggil Jongin dengan panggilan 'daddy'. Rasanya aneh namun ia menyukainya.

"Ya?"

"Aku berbaring dikasurku lalu…lalu Daddy mengikat tangan dan kakiku…" Sehun bisa mendengar nafas Jongin semakin berat. "Daddy menatapku seolah siap menerkamku."

"Lalu?"

"Aku…aku…Daddy…" Sehun tidak mengerti apa yang harus ia katakan selanjutnya. Dia terlalu malu untuk menceritakan secara gamblang bagaimana ia membayangkan Jongin menghabisinya ditempat tidur.

"Katakan Princess."

"Daddy memanjakanku d-dan…Daddy membuatku merasa sangat nikmat."

"Bagaimana Daddy membuatmu merasa nikmat?"

"Daddy bermain dengan…dengan…"

"Dengan lubangmu?"

Sehun tidak mengeluarkan kata apapun alih-alih suara setengah rengekan setengah desahan terdengar. Sehun bisa mendengar Jongin terkekeh. Sial, sejak kapan kekeh Jongin terdengar begitu seksi?

"Apa yang kau pakai Princess?" Jongin kembali bertanya.

"Kaos dan celana pendek."

"Boleh Daddy lepas?"

"Bo-boleh Daddy." Sehun berkata gugup sambil perlahan melepas celana pendeknya terlebih dahulu. Jangan dipikir hanya karena Sehun adalah anak populer maka ia pernah bercumbu dengan banyak orang. Bahkan jika Sehun boleh jujur ciuman pertamanya baru dulu kelas dua SMU. Selain berciuman Sehun tidak pernah terlibat kegiatan seksual yang terlalu jauh. Paling hanya pelukan atau ciuman-ciuman panas, tidak lebih.

"Aku sudah tidak pakai celana Daddy." Sehun menatap kaki jenjangnya yang sudah tidak tertutup apa-apa. Kaos kebesarannya belum ia lepas karena sejujurnya ia lebih merasa seksi seperti ini.

"Kaosnya?"

"Aku malu.." Sehun berkata seolah Jongin berada didepannya.

"Lepas Princess, biar Daddy bisa melihat kesempurnaan tubuhmu." Sehun dengan perlahan melepas kaos ditubuhnya, meninggalkan ia dalam keadaan telanjang sempurna.

"Su-sudah Daddy.."

"Good boy." Sehun menelan ludahnya mendengar bagaimana Jongin memanggilnya barusan. Good boy. Sial, sial, sial. Sehun semakin terbakar karena panggilan tersebut. "Apa milik Princess sudah keras?"

Sehun sebenarnya malu mengakui hal ini. Hanya karena dirty talk yang mereka lakukan, penisnya sudah sangat keras. Bahkan ujungnya nampak sudah basah. Menunjukkan betapa besar gairah yang ia rasakan. Yah, maklum saja selama ini mereka hanya sexting, belum pernah memperdengarkan suara masing-masih. Ternyata, mendengar suara berat Jongin berbicara kotor padanya membuat Sehun kecil sangat bersemangat.

"Sudah Daddy…" Sehun meremas seprai kasurnya, malu.

"Princess suka mendengarkan kata-kata kotor Daddy?"

"Humm, iya.." Pipi Sehun semakin memanas.

"Good boy, Daddy senang kau menjawab semuanya dengan jujur." Ah, panggilan itu lagi. Sel-sel tubuh Sehun rasanya seperti dialiri listrik ketika panggilan itu disebut. "Sekarang dengarkan Daddy…"

"Yes Daddy?"

"Bayangkan tangan Daddy…."

"Kau gila?!"

"Baek, aku tidak bisa melanjutkan semua itu." Telinga Sehun menangkap suara Jongin dari balik rak buku diperpustakaan kampus. "Aku tidak bisa terus mengencani Kyungsoo, aku hanya menganggapnya seperti seorang adik."

"Apa ini karena si psikopat bubblyoh itu?" Tubuh Sehun menegang mendengar kata bubblyoh keluar dari bibir Baekhyun, teman dekat Jongin.

"Jadi benar itu karena dia?" Suara Baekhyun terdengar lagi. "Sebenarnya apa yang dia lakukan padamu sampai kau bisa tergila-gila padanya?"

"Baek, semalam aku dan mengobrol—"

"Kau mengobrol dengannya setiap malam Jo—"

"Via telepon."

"Okay, aku mendengarkan." Sehun semakin tegang mendengar pembicaraan antara Jongin dan temannya. Sebenarnya mencuri dengar pembicaraan seseorang bukanlah gayanya sama sekali. Termasuk menyembunyikan identitasnya pada orang yang ia sukai atau seperti siang ini, berkunjung ke perpustakaan kampus.

Semua itu hanya karena Kim Jongin.

Kim Jongin yang waktu kecil sering menangis jika komiknya ia rebut. Kim Jongin yang hobi sekali mengomelinya sejak mereka balita karena kebiasaan buruknya. Kim Jongin yang dulu sering sekali mengerjakan PR-nya.

"Jadi, dia mengatakan padaku jika dia menerima perasaanku dan aku rasa sekarang aku sudah punya kekasih Baek." Pipi Sehun memerah mendengar ucapan Jongin pada Baekhyun. Jadi sekarang mereka sepasang kekasih?

"Apa dia memberi tahu namanya?"

"Uh…"

"Sudah aku duga." Baekhyun menghela nafas panjang. Sehun menggigit bibirnya gugup. "Kau masih ingat apa kataku tentang sebuah hubungan?"

Sehun menunggu kata-kata Baekhyun selanjutnya.

"Kepercayaan." Jongin berkata pelan.

"Tanyakan pada hatimu Jong, apa dia benar-benar menyukaimu? Jika iya kenapa dia sama sekali tidak percaya padamu?"

"Mungkin—"

"Jangan konyol Jong, apapun kemungkinannya dia tidak percaya padamu. Titik." Sehun rasanya ingin keluar dari persembunyiannya dan meneriaki Baekhyun karena sudah berkata buruk tentang bubblyoh. Tapi dia tidak bisa.

Selain itu apa yang dikatakan Baekhyun benar.

Walaupun ketidakpercayaan bukan alasan kenapa dia tidak membuka identitasnya pada Jongin. Sehun hanya takut jika Jongin membencinya. Sehun takut jika Jongin berpikir ia hanya mempermainkan pemuda tersebut.

"Ah, aku pusing Baek." Jongin menghela nafas panjang.

"Minta maaf pada Kyungsoo dan katakan padanya kau ingin mengulang semua dari awal. Katakan hari ini juga, dia selesai kelas nanti jam empat sore." Sehun membelalakkan matanya mendengar ucapan Baekhyun. "Aku pergi dulu."

Tidak boleh! Tidak boleh! Jongin tidak boleh menemui Kyungsoo!

Sehun berusaha memutar otaknya mencari cara agar bisa mencegah Jongin menemui Kyungsoo. Jam empat masih tiga jam lagi. Apa yang harus ia lakukan agar Jongin tidak menemui Kyungsoo?

Sehun melihat Jongin yang meletakkan buku dirak dan berjalan menuju pintu keluar perpustakaan. Rasa cemas semakin menggerogoti seluruh sel tubuh Sehun. Otaknya masih belum juga menemukan ide untuk mencegah Jongin pergi.

"Jongin!" Sehun tidak tahu harus melakukan apa jadi ia hanya bergerak mengikuti instingnya saja.

"Se-sehun?" Sehun tidak peduli dengan desisan kesal para penghuni perpustakaan dan mendekati Jongin. "Apa yang kau lakukan disini?"

"Uh, uh, me-mencari buku…" Sehun berbohong. Tentu saja. Tujuan utama Sehun ke perpustakaan untuk mencari Jongin. Rencananya sih Sehun ingin bicara serius dengan Jongin mengenai bubblyoh tapi begitu mendengar pembicaraan antara Baekhyun dan Jongin, Sehun jadi sedikit ragu.

Selama ini Baekhyun ternyata berusaha menjauhkan Jongin dari bubblyoh—dan menurut Sehun itu tidak salah-salah amat walaupun ia kesal dengan fakta tersebut—lalu Jongin tampaknya juga sedikit ragu dengan bubblyoh.

Sehun hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri.

Andaikan sejak awal dia berkata jika bubblyoh adalah Oh Sehun…mungkin dia tidak akan segundah ini. Tapi jika dipikir-pikir tetap memalukan mengakui pada Jongin jika dia adalah seorang porn blogger.

"Oh begitu." Jongin menjawab singkat.

"Kau mau kemana? Kau sudah makan?" Sehun memasang senyumnya yang paling ceria.

"A-aku akan ke…ke…ke kantin gedung C. Dan makan disana." Jongin menjawab pelan, tidak mau memandang mata Sehun.

"Gedung C? Kenapa jauh sekali makan disana?" Dada Sehun semakin bergemuruh. Gedung C adalah gedung perkuliahan untuk jurusan yang diambil Kyungsoo belajar.

"Aku ada sedikit urusan disana nanti jadi aku kesana…" Jongin masih tidak mau memandang Sehun.

"Makan siang bersamaku saja yaaaaa." Sehun dengan manja memeluk lengan Jongin. "Aku lapar dan tidak ada teman makan siang."

Jongin tampak tidak nyaman dengan sikap manja Sehun.

"Ta-tao? Bukankah kau selalu bersamanya?" Jongin melepaskan lengannya dari Sehun.

"Dia ada kencan." Sehun menjawab cepat dan menarik Jongin keluar dari perpustakaan.

"Lalu teman-temanmu yang lain?"

"Mereka sibuk." Sehun tahu jika Jongin bukan orang yang mudah dibodohi. Selama ini dirinya memang selalu dikelilingi banyak orang. Teman Sehun itu banyak sekali jadi berkata dia tidak ada teman makan siang memang sedikit tidak masuk akal.

Sehun tentu tidak menunggu jawaban dari Jongin. Dengan semangat Sehun menarik Jongin menuju depan kampus mereka yang memang banyak sekali penjual makanan.

"Jong, kau ingin makan apa?" Sehun bertanya masih sambil memeluk lengan Jongin.

"Eh, apa saja." Jongin terlihat sangat kikuk dengan tingkah Sehun yang seperti ini. Terakhir kali mereka bergandengan seperti ini kira-kira sepuluh tahun lalu ketika mereka masih sekolah dasar.

"Pizza?" Sehun menatap Jongin dengan wajah cerah.

"Te-tentu saja." Jongin menganggukkan kepalanya kecil. "Se-sehun, tolong lepaskan tanganmu." Jongin menambahkan sambil melepas tangan Sehun dilengannya.

"Oh, maaf." Sehun sedikit terluka karena sikap Jongin sebenarnya. Belum ada orang yang menolak ia gandeng, bahkan Tao pun suka jika ia bermanja-manja.

"Aku…ehem, aku tidak ingin ada yang salah paham." Jongin menggaruk tengkuknya.

"Salah paham?" Sehun sedikit bingung.

"Penggemarmu akan mengira kita ada sesuatu." Jongin berkata pelan.

"Ah, kalau hanya itu sih tidak masalah!" Sehun baru saja akan memeluk lengan Jongin lagi namun pemuda berkulit eksotis itu segera menjauh dari Sehun seolah Sehun dipenuhi bakteri menular.

"Aku sudah punya pacar!" Jongin berkata keras dan menghentikan langkahnya, membuat Sehun ikut berhenti. Beberapa orang terkejut dengan tingkah Jongin. Siapa yang tidak? Seorang pemuda tiba-tiba berteriak panik sambil mengatakan dia sudah punya pacar?

Sehun menatap Jongin terkejut.

"Aku merasa bersalah jika kau menggandengku sementara aku punya pacar." Jongin menjelaskan dengan wajah gugup. Sehun sebenarnya ingin sekali tertawa terbahak-bahak karena wajah Jongin yang sangat menggemaskan namun ia lebih tersentuh oleh sikap Jongin yang sangat menghargai bubblyoh padahal Jongin sama sekali tidak benar-benar mengenalnya.

Sehun jadi semakin terpesona oleh sahabatnya itu.

Andaikan Jongin tahu jika aku adalah bubblyoh apakah Jongin mau menggandengku ya?

"Ba-baik." Sehun menganggukkan kepalanya. "Aku tidak…aku tidak tahu kalau kau punya pacar."

"Ti-tidak apa." Jongin tersenyum kikuk.

"Tidak biasanya kau tidak banyak pertanyaan."

"Huh? Tentang?" Sehun mengerjap bingung dengan ucapan Jongin yang tiba-tiba.

"Dulu, waktu kau tahu aku punya pacar kau menanyaiku paling tidak seratus pertanyaan." Jongin berkata. "Sekarang kau bahkan tidak menanyakan namanya."

"Uh, uh…" Sehun sedikit gelagapan dengan ucapan Jongin. "Bu-bukankah pacarmu Kyungsoo?"

"Kami baru berkencan dua—eh sekali." Jongin berkata seraya menuangkan saus tomat pada piringnya. Sehun menggigit bibirnya senang. Jongin sama sekali tidak menganggap Kyungsoo sebagai seorang kekasih!

"Oh, lalu siapa kekasihmu?"

"Ehm, seseorang yang tidak kau kenal." Jongin menjawab dengan senyum diwajahnya.

"Aku tidak kenal?" Sehun berkata tanpa mau menatap Jongin, dia takut jika Jongin menangkap sandiwara yang sedang ia mainkan.

"Ya, aku mengenalnya di internet." Jongin melanjutkan ceritanya. "Jangan tertawa."

"Aku tidak tertawa." Sehun berkata cepat. "Ceritakan sedikit tentang pacarmu."

Sehun tidak tahu kenapa dia berkata begitu. Tapi dia ingin sekali tahu bagaimana pendapat Jongin tentang bubblyoh. Perut Sehun mendadak terasa bergejolak karena ucapannya sendiri.

"Dia…" Sehun melihat sebuah senyuman terukir diwajah Jongin. Senyum yang sangat tampan dan memikat. "Dia sangat menggemaskan."

Mata Sehun tidak bisa lepas dari wajah Jongin yang tampak sangat berbeda dari biasanya saat membicarakan bubblyoh. Matanya berbinar-binar, senyum yang selalu merekah dan juga pipi sahabatnya itu bersemburat merah muda.

"Aku sangat nyaman bicara dengannya, dia kadang bisa dewasa lalu kekanakan. Dia bisa membuatku tertawa. Menurutku dia bukan orang yang terlalu cerdas tapi itu malah membuatku ingin melindunginya."

"Tidak terlalu cerdas?" Sehun tidak tahu harus merasa apa mendengar ucapan Jongin. Ada sedikit rasa kesal disebut sebagai 'bukan orang yang terlalu cerdas' tapi ada juga buncahan bahagia mendengar sisa ucapan Jongin yang lain.

"Hm, dia sering menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang sangat sederhana. Dia sangat lugu dan ceroboh." Jongin menambahkan.

"Lu-lugu?" Sehun menelan pizza-nya dengan susah payah. Seingat Sehun, bubblyoh sama sekali tidak lugu. Bahkan baru saja semalama ia—sebagai bubblyoh—melakukan phone sex dengan Jongin.

Shit, jangan ingat! Jangan ingat!

Sehun menggelengkan kepalanya, berusaha melempar jauh-jauh ingatan akan kejadian panas semalam. Ketika ia membayangkan tangan-tangan besar Jongin menggerayangi tubuhnya, ketika kejantanan pemuda didepannya itu menumbuk bagian terdalam tubuhnya…

"Sehun, kau baik-baik saja?"

"I-iya, aku baik." Sehun menundukkan kepalanya. Tangannya meraih milkshake cokelat didepannya kemudian meminum minuman itu dengan cepat.

"Kau yakin?" Jongin tampak cemas. "Wajahmu merah sekali."

"Tidak apa! Sungguh!" Sehun menggelengkan kepalanya cepat. Matanya berusaha untuk tidak menatap Jongin. Ia takut jika pikirannya akan semakin memanas jika melihat bibir Jongin atau lengan kokoh Jongin atau bahu lebar Jongin. Semua yang ada di diri Jongin itu berbahaya untuk Sehun, paling tidak untuk saat ini.

"Apa karena hawa musim panas?" Jongin masih menatap Sehun dengan sorot mata dipenuhi kecemasan. "Setelah ini makan es krim bagaimana? Siapa tahu kau akan merasa lebih baik."

Sehun mendongakkan kepalanya cepat dan tersenyum lebar. Tentu saja dia menerima ajakan Jongin. Dia jadi tidak usah memutar otak bagaimana menahan Jongin sampai beberapa jam ke depan agar pemuda itu tidak bertemu Kyungsoo.

Satu jam kemudian, Sehun dan Jongin sudah berjalan menyusuri area pertokoan Seoul yang ramai oleh muda-mudi hingga turis manca negara. Sehun dengan wajah cerah menggenggam es krim rasa strawberry sementara Jongin memilih rasa vanilla.

"Jong! Lihat itu lucu sekali!" Sehun menarik Jongin mendekati sebuah pet shop yang berisikan anjing-anjing lucu dalam rumah-rumahan yang sama lucunya. Jongin tertawa melihat tingkah Sehun yang seperti bocah melihat toko mainan. Sehun dan Jongin memang lemah oleh hewan-hewan menggemaskan. Keduanya pun memutuskan untuk masuk pet shop tersebut dan bermain sejenak dengan anjing-anjing lucu disana.

Sore itu, Jongin dan Sehun menghabiskan waktu dengan gelak tawa serta kegiatan jalan-jalan yang menyenangkan. Pet shop, toko aksesoris hingga toko pakaian bekas keduanya datangi. Hingga yang terakhir adalah arena game centre yang ramai.

"Kalau aku memenangkan ini kau belikan aku makan malam!" Sehun berkata penuh percaya diri pada Jongin yang berdiri berseberangan diujung meja.

"Fine!" Jongin menerima tantangan Sehun sambil tertawa.

Permainan table hockey pun segera dimulai.

"JONGIN SEKALI LAGI!" Dalam waktu singkat Sehun segera kalah telak oleh Jongin. Pemuda cantik ini cemberut dan memohon pada Jongin untuk mengulang permainan.

"Kalau aku menang lagi belikan aku es krim juga, bagaimana?" Jongin tertawa melihat wajah Sehun yang memerah karena berkeringat.

"Fine." Sehun terlihat sejenak berpikir lalu menerima syarat Jongin.

Dua puluh menit kemudian Sehun dengan bibir cemberut berjalan menuju sebuah kedai es krim disamping game centre. Jongin memenangkan permainan table game tentu saja yang berarti Sehun harus membelikan Jongin makan malam serta es krim.

"Aku sudah berusaha sekuat tenaga tapi kenapa kau menang terus?" Sehun menatap Jongin kesal.

"Karena aku Kim Jongin." Jawab Jongin sambil tertawa.

"YA!" Sehun memukul lengan Jongin sebal. "Lihat saja besok-besok aku akan mengalahkanmu dalam permainan lain. Bagaimana kalau basket? Atau tembak menembak?"

Jongin tertawa mendengarnya.

"Kau yakin bisa mengalahkanku dalam dua permainan itu?" Sehun semakin kesal karena ditertawakan oleh Jongin.

"Kalau begitu aku akan mengalahkanmu dalam permainan monopoli!"

"Monopoli?" Jongin tertarik mendengarnya.

"Kalau aku mengalahkanmu dalam satu jam permainan monopoli kau harus melakukan apapun yang aku inginkan. Deal?"

"Boleh juga." Jongin menerima tantangan Sehun sekali lagi. Dan Sehun pun tidak bisa menahan senyumnya. Bermain monopoli bersama Jongin artinya bisa menghabiskan waktu bersama pemuda itu. Tentu saja Sehun tidak bisa berhenti tersenyum.

"Nah, sekarang kau mau es krim apa?" Sehun memandang deretan es krim warna-warni yang menggugah selera. Sehun menelan ludahnya melihat semua es krim-es krim itu.

"Tolong es krim cokelat satu dan vanilla satu." Jongin berkata pada seorang pelayan.

"Kau beli dua?!" Sehun membelalakkan matanya. Jongin tidak menjawab dan berjalan ke counter tempat kasir berada.

"Ya! Kau curang sekali kenapa beli dua!" Sehun menahan lengan Jongin yang sama sekali tidak menghiraukannya tapi…tapi…kenapa Jongin mengeluarkan dompetnya?

"Berapa semuanya?" Jongin mengeluarkan kartu kreditnya dan memberikan benda tersebut pada petugas kasir. Sehun tidak mengerti kenapa Jongin malah membayar dua es krim tersebut.

"Ini untukmu." Jongin menyodorkan sebuah cone dengan es krim rasa strawberry.

"Aku.."

"Cepat! Keburu meleleh." Sehun mengerjapkan matanya dengan bingung namun tangannya menerima es krim pemberian Jongin.

"Kenapa malah kau membelikan es krim untukku?" Sehun bertanya bingung pada Jongin yang terlihat santai memakan es krim cokelatnya.

"Kau tidak mau?" Jongin memandang Sehun. "Berikan saja sini padaku."

"Siapa bilang aku tidak mau?" Sehun langsung menjauhkan es krimnya dari jangkauan Jongin. Sehun memakan es krimnya dan sesekali melirik Jongin.

Kenapa petang ini Jongin terlihat lebih keren dari biasanya? Kenapa ia merasa saat ini mereka sedang berkencan? Kenapa melihat Jongin berjalan disampingnya membuat ia berdebar?

Sehun tahu ia menyukai Jongin, tapi setelah menghabiskan waktu seharian bersama Jongin ia semakin menyadari jika rasa suka tidak cukup mengungkapkan apa yang ia rasakan pada Jongin.

Jongin itu seorang kakak, seorang ibu pengganti, seorang pelindung, seorang penolong. Sehun akui jika hubungan keduanya bukanlah seperti sahabat tapi mereka memiliki ikatan yang berbeda. Biarpun tidak sering mengobrol atau menghabiskan waktu bersama, ia dan Jongin merasa sangat nyaman satu sama lain.

Sehun jadi berpikir, apa Jongin merasakan hal yang sama seperti yang sedang ia rasakan? Apakah Jongin juga berdebar setiap kali melihat dirinya tertawa? Apakah Jongin ingin menggandeng tangannya?

"Sehun! Ada claw machine!" Jongin berseru keras, membuyarkan lamunan Sehun. "Kau tahu? Aku sangat jago main ini?"

Sehun mendengus tidak percaya.

"Akan aku buktikan!" Jongin merogoh kantong celananya, mencari uang koin.

"Yang mana saja." Sehun berdiri disamping Jongin yang sudah mulai menggerakkan tuas mesin tersebut. Mata Sehun mengikuti gerak penjepit mesin yang mulai bergerak turun menuju sebuah boneka beruang berwarna cokelat.

Sehun tidak percaya. Penjepit tersebut meraih kepala si beruang dan mengangkatnya menuju lubang tempat mengambil hadiah.

"See?!" Jongin mengambil boneka beruang yang berhasil ia menangkan dan menggoyangkannya didepan wajah Sehun.

"Woah, kau berhasil dalam sekali coba." Sehun tidak bisa menyembunyikan kekagumannya. "Apa sih yang tidak kau bisa.." Sehun berkata dengan bibir cemberut. Sehun bertanya-tanya, sejak kapan Jongin jadi serba bisa begini? Sepertinya dulu mereka masih sama-sama kesulitan mengikat tali sepatu…

"Aku?" Jongin memandang boneka beruang ditangannya sementara bibirnya mulai memakan es krim yang tadi sempat ia lupakan. "Aku tidak bisa berteman,"

"Huh?" Sehun memandang wajah Jongin yang mendadak terlihat serius.

"Aku sulit bergaul." Jongin berkata dengan senyum kecil diwajahnya. "Kau lihat sendiri berapa banyak temanku sejak kecil." Jongin berkata sambil berjalan pelan kembali ke area pejalan kaki.

Sehun mengikuti langkah Jongin sambil mendengarkan ucapan pemuda tersebut.

"Sulit berteman membuatku sulit menjalin hubungan dengan orang yang ku sukai." Jongin terus berkata sambil memandang boneka beruang ditangannya. Sehun memakan es krimnya dalam diam.

"Aku ingin sekali memberikan kekasihku boneka dari suatu permainan yang aku menangkan." Jongin berkata pelan. "Makanya aku sangat ahli bermain claw machine, karena aku ingin memberikan hadiah seperti ini pada kekasihku."

Sehun menggigit bibirnya mendengar ucapan Jongin. Kira-kira siapa yang Jongin pikirkan ketika bicara seperti ini? Apakah bubblyoh? Atau Kyungsoo? Walaupun Sehun berharap Jongin akan memberikan boneka itu padanya.

"Ehm, kau bisa memberikan boneka itu pada kekasihmu." Sehun berkata setelah beberapa saat mereka berjalan dalam kesunyian.

"Aku rasa aku tidak akan bertemu dengannya dalam waktu yang cukup lama." Jongin berkata dengan suara sedih. Sehun menundukkan kepalanya, rasa bersalah menyeruak didalam dadanya.

"Sehun, sebenarnya aku…" Jongin memandang Sehun dengan wajah gugup. Jantung Sehun berdebar semakin cepat melihat wajah Jongin.

"Sepertinya aku menyukai orang lain selain kekasihku." Jongin menatap wajah Sehun lekat-lekat.

"Apa?!" Sehun langsung menjerit.

"Tidak usah berlebihan begitu." Jongin memutar bola matanya.

"Tidak usah berlebihan?!" Sehun menatap Jongin dengan sorot mata super galaknya. "Kau menyukai orang lain selain pacarmu dan aku tidak boleh berlebihan?!" Sehun ingin rasanya mencincang Jongin mendengar pengakuan pemuda tersebut. Jongin menyukai orang lain selain bubblyoh?!

"Siapa orang yang kau sukai? Apa aku mengenalnya? Apa dia teman sekampus kita? Atau teman SMU? SMP?" Sehun segera menyerbu Jongin dengan pertanyaan-pertanyaan.

"Hah, aku menyesal mengatakannya padamu." Jongin tidak menjawab pertanyaan Sehun dan mempercepat langkahnya.

"YA! KIM JONGIN! JAWAB PERTANYAANKU!"

To Be Continue

Yeay akhirnya update!

4,5k lhooooo

Btw, maap ya anuanunya dipotong hahaha

Belakangan engga ada mood bikin yang rated M :(

Jadi diutamain alur dulu aja yaaa

Gimana chapter ini?

Apa kurang memuaskan?

Tolong kritik dan sarannya yaaa^^

Sama reviewnya juga jangan lupaaaa

Gomawoooo!