Okeee ini chapter 3-nya! XDD
Eeemm... Lemonnya ditunda dulu ya~ (TT_TT)v
Habis... Disini pairnya banyak, dan kalo mau Naru lemonan sama setiap Seme, terpaksa lemonan tanpa hubungan khusus... (=_=)a
Mohon readers memberi solusi tentang request lemon ini, Arigatou~ m(_ _)m
Title : SHINE
Author : Arisa Akaike
Fandom : NARUTO
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : (Main) SasuNaru, (Slight) GaaNaru, SaiNaru, ItaNaru, dll.
Rating : M-m-m-masih T~ Hehe XDD
WARN : KEPENDEKAN, ALUR KECEPETAN, OOC, GEJE, TIDAK MEMATUHI EYD YANG BERLAKU, DAN LAIN-LAIN.
.
.
.
"Selamat datang di SHINE, Naruto," kata Jiraiya, Itachi, dan Sai bersamaan.
Naruto menghapus air matanya dan tersenyum, "Arigatou Gozaimasu."
"Nah, sekarang kemasi seluruh barangmu dan tinggal bersama kami," kata Jiraiya sambil beranjak dari tempat duduknya.
Naruto terkejut dan berdiri, "Tunggu! A-apa maksudmu dengan... 'Tinggal bersama kami'...?"
Jiraiya menoleh, "Tentu kau tahu maksudku, Naruto. Mulai sekarang—atau setidaknya selama kau menjadi personil SHINE, kau akan tinggal bersama sesama personil SHINE di rumah khusus untuk SHINE."
"Ma-maksudmu... Disini...? Di Tokyo...?" tanya Naruto, memastikan.
"Sudah jelas, 'kan? Kau akan memulai debutmu disini, di Tokyo ini. Namamu akan bersinar setelah debutmu berhasil...!" kata Jiraiya sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Ta-tapi... Aku tidak tinggal disini..."
"Kalau begitu, dengan caravan ini, kita ke tempat tinggalmu, ambil barang-barangmu, dan pindah ke Tokyo."
"Bagaimana dengan sekolahku?"
"Aku sudah menyiapkan segala hal untuk pindah sekolah. Aku akan memasukkanmu ke sekolah yang sama dengan Sai dan Sasuke."
"Bagaimana dengan... Gaara...?" Naruto menoleh pelan kearah Gaara.
"Apa hubungan semua ini dengan Gaara?" tanya Jiraiya bingung.
"Kalian tahu bahwa aku adalah... Yatim piatu... Aku hanya sebatang kara. Apalagi disini. Tidak ada seorangpun yang kukenal disini..." Naruto berbicara dengan suara yang semakin lama semakin pelan.
"Dan apa yang membuatmu yakin bahwa orang yang bernama 'Ga-a-ra' itu mau disini bersamamu, Idiot?" tanya Sasuke dengan nada meremehkan.
Gaara yang kekesalannya kembali muncul berkata dengan tegas, "Aku akan pindah kemari, untuk melindungi Naruto dari orang brengsek sepertimu."
Naruto menatap Gaara dengan pandangan tidak percaya. Hatinya campur aduk, antara terkejut, senang, lega, dan rasa bersalah menjadi satu. Ia tahu Gaara juga seorang yatim piatu, tapi ia masih memiliki saudara, yaitu Kankuro dan Temari. Ia tidak ingin membuat Gaara berpisah dari keluarganya, tapi hatinya berkata bahwa tanpa Gaara disisinya, ia tidak bisa melakukan apapun di kota yang maju ini.
"Gaara..." lirih Naruto sambil tersenyum.
"Tapi kau bukan personil SHINE, jadi, maaf, aku tidak bisa memberimu izin untuk ikut tinggal di rumah SHINE..." kata Jiraiya dengan penyesalan dalam kalimatnya.
Gaara mengangkat bahunya, "Bukan masalah. Aku akan membeli apartemen atau rumah yang berada dekat dengan rumah SHINE itu," katanya tenang.
Naruto membelalak kaget, "Tapi... Maaf, kau punya... Uang...?" tanyanya takut-takut.
Gaara tersenyum, "Kau bisa menghitung tabungan seseorang yang sudah menabung setiap hari selama 12 tahun?"
Naruto terdiam. Dari mulutnya hanya keluar kata, "Wow."
"Jadi? Bagaimana, Naruto?" tanya Jiraiya.
"Aku ikut! Eh, tapi... Aku ada satu permintaan..." Naruto mengacungkan satu jarinya.
"Apa itu?"
Naruto tersenyum dan berkata, "Aku akan kembali ke kotaku sendiri."
Gaara mengusap rambut Naruto, "Maksudmu denganku, 'kan?"
.
.
.
Dan, disinilah mereka, didalam kereta yang penuh sesak, ramai, namun dengan suasana hati yang menyenangkan. Gaara kembali tertidur, namun kali ini ia mencoba untuk tidak merepotkan Naruto dan menggunakan tangannya sebagai penopang kepalanya. Namun, berkat masinis yang menambah kecepatan kereta, kembalilah pundak Naruto jadi tempat dimana kepala Gaara bertumpu. Naruto hanya tertawa kecil menanggapi kebiasaan Gaara yang satu ini.
Setelah sampai, Naruto kembali membangunkan Gaara yang masih malas untuk membuka matanya lagi. Saat kesadaran Gaara pulih sepenuhnya, reaksi yang sama kembali ditunjukkan dihadapan Naruto. Naruto kembali tertawa kecil dan berjalan keluar kereta dengan Gaara disampingnya. Mereka terus berjalan sambil saling bertukar cerita. Naruto tidak tahu apa yang akan ia katakan soal hari ini. Dia merasakan sebuah penghinaan, pelecehan, keberhasilan, kekecewaan, sampai akhirnya ia bisa merasakan kasih sayang.
Naruto memegang perutnya, "Gaara... Aku lapar..."
"Benar juga. Dari tadi kita belum makan apa-apa," Gaara melihat ke sekeliling, "Bagaimana dengan cafe kecil itu? Aku pernah kesana dan kopi disana lumayan enak."
Naruto mengangguk, "Kedengarannya bagus!"
Mendapat respon yang baik dari Naruto, Gaara menggandengnya dan membawanya masuk kedalam cafe yang ia maksud.
Cafe itu memang kecil, namun hangat, nyaman, dan bersih. Pelayanannya sangat memuaskan dan membuat pelanggannya betah berlama-lama disana. Gaara memesan kopi dan... Hanya kopi. Naruto memesan Pie dan Jus Jeruk—minuman favoritnya. Gaara tersenyum saat melihat Naruto melahap Pie-nya dengan lahap. Ia menenggak kopinya sambil terus memperhatikan orang dihadapannya.
Naruto menghentikan kunyahannya dan menatap Gaara dengan tatapan heran, "Gaara, kau tidak memesan makanan?" tanyanya sambil memiringkan kepalanya, memberi kesan manis pada wajahnya yang sudah manis.
Gaara kembali tersenyum dan memajukan badannya, "Aku minta Pie-mu," katanya sambil membuka mulutnya.
Naruto bisa merasakan suhu di pipinya bertambah. Ia menyendok Pie-nya dan menyuapkannya pada Gaara dengan ragu. Gaara mengunyah Pie di mulutnya, dan kembali meminum kopinya.
"Arigatou," kata Gaara sambil tersenyum, dibalas Naruto dengan anggukan dan senyuman lebar.
Gaara memutar sendok di cangkir kopinya. Sepertinya ia sedang berpikir, dan mencoba memutuskan sesuatu. Ia terus diam, sampai...
"Naruto, aku sudah berpikir..."
Jantung Naruto berdetak lebih cepat. Akankah Gaara mengatakan bahwa...
"...Dan ini adalah pemikiran yang cukup serius..."
Apakah Gaara mencoba mengatakan bahwa...
"...Daripada sebagai seorang teman..."
Semakin berdebar-debar rasanya jantung Naruto sekarang. Ia menahan nafas. Apa yang akan Gaara katakan adalah...
"...Apa menurutmu aku tidak lebih baik menjadi..."
Adalah...
"...Manajermu?" tanya Gaara sambil bertopang dagu.
Rasanya Naruto seperti jatuh dari langit ke bumi. Seolah dia baru dilempar keluar dari surga. Hancur sudah angan-angannya. Tapi, bukan akhir dari segalanya, bukan? Semoga saja.
"E-eh? Ma-manajer?" tanya Naruto.
Gaara mengangguk, "Benar. Manajermu. Bagaimana?"
"Um..."
"Dengan menjadi manajermu, hak-ku untuk mencampuri urusanmu akan jadi semakin luas, memungkinkanku untuk memberi perlindungan lebih padamu dari tekanan yang bisa saja muncul setelah kau menjadi anggota dari SHINE."
Seolah mendapat penerangan dalam kepalanya, Naruto dengan semangat berkata, "Gaara, kau jenius! Aku dengan senang hati menerimamu sebagai manajerku!"
"Masalahnya, apa manajer SHINE memperbolehkannya?" tanya Gaara.
"Eh... Itu... Aku tidak tahu..."
Gaara tersenyum, "Kita bisa menanyakannya setelah kita selesai mengurus semuanya. Besok adalah hari terakhir kita untuk bersekolah di sekolah kita, jadi kita harus segera bersiap-siap."
.
.
.
Naruto masuk kedalam kelasnya sambil menenteng tas oranye kesayangannya. Dia menyapa beberapa temannya dan segera duduk di bangkunya. Disana, ketiga sahabatnya sudah menunggu.
"Naruto! Bagaimana hasilnya?" tanya Sakura dengan antusias.
"Baik... Aku punya kabar baik, dan kabar buruk," jawab Naruto dengan ekspresi serius, "Yang mana yang harus kukatakan duluan?"
"Kabar buruk," jawab ketiga sahabat Naruto bersamaan, dengan suara pelan.
Naruto menghela nafas, "Aku akan pindah ke Tokyo..."
Sakura, Ino, dan Kiba menahan nafas. Raut wajah mereka berubah serius.
"...Karena aku terpilih menjadi personil SHINE!"
Sakura dan Ino memekik senang. Mereka berempat melompat-lompat bahagia. Kegembiraan yang meluap memberi energi lebih pada mereka untuk melompat lagi. Mereka berhenti sejenak untuk mengambil nafas, lalu mereka melompat lagi. Setelah energi ekstra yang mereka dapat habis, mereka duduk di bangku mereka dengan nafas terengah-engah. Beberapa menit berlalu dan nafas mereka kembali normal.
"Jadi... Kau tidak akan berada disini lagi?" tanya Ino dengan ekspresi sedih.
"Sayangnya begitu, Ino-Chan... Aku tahu ini berat, tapi..."
Sakura buru-buru menyela, "Tidak apa-apa, Naruto! Jangan jadikan kami sebagai penghalang karirmu!"
"Kami bangga bisa memiliki teman sepertimu. Kita akan dicap sebagai sahabat artis! Hehehe!" canda Kiba.
Naruto tersenyum, namun air mata mengalir dari mata birunya. Dia mencoba menghapus air matanya, namun justru semakin deras air matanya mengalir. Sakura, Ino, dan Kiba mencoba menenangkannya, namun Naruto buru-buru memeluk mereka sambil berurai air mata.
"A-aku... Hiks... Aku tidak... Hiks... Aku tidak akan... Hiks... Melupakan kalian... Uuh..." Naruto berbicara sambil menahan air matanya yang terus menerus mengalir. Terpengaruh dengan suasana haru, mau tidak mau, Sakura, Ino, dan Kiba juga mengalirkan air mata mereka sambil berpelukan satu sama lain.
"Terima kasih... Semuanya..." kata Naruto lirih sambil mempererat pelukannya.
Tak lama kemudian, Iruka masuk kedalam kelas. Pelajaran dimulai seperti biasa, sampai Gaara masuk kedalam kelas Naruto dan memanggil Naruto untuk segera ke ruang kepala sekolah. Naruto mengemasi barang-barangnya dan keluar utuk menyusul Gaara.
"Ada apa, Gaara?" tanya Naruto sambil berjalan disamping Gaara.
"Kita harus mengurus perihal perpindahan sekolah kita, ingat?" kata Gaara.
Naruto tersenyum, "Tentu aku masih ingat!"
"Kyaaaaaaaaaaaaa! SHIIIIIIINE!"
"Sai-Kuuuun!"
"Itachi-Kuuuuun!"
"Sasukeeeee!"
Pekikan murid wanita memenuhi sekolah itu. Penasaran, Naruto melongok keluar jendela. Disana, terlihatlah caravan yang pernah ia tumpangi bersama SHINE. Dari caravan, keluarlah Jiraiya yang melambaikan tangannya pada Naruto dan Gaara. Naruto membalas lambaian tangan Jiraiya dengan semangat. Ia memajukan tubuhnya hingga keluar jendela lantai tiga itu.
"Jiraiy—Aaaaaaaaaaaah!" Naruto berteriak kencang seiring dengan tubuhnya yang semakin dekat dengan tanah.
BRUKK!
Naruto menutup matanya rapat-rapat. Ia jatuh. Ia jatuh diatas sesuatu yang hangat dan...
"Untunglah kau tidak apa-apa, Naruto," kata Itachi lega. Ia menurunkan Naruto dari gendongannya.
"A-a-arigatou... Itachi-San..." Naruto memerah malu setelah merasakan dekapan hangat Itachi. Pekikan kembali terdengar dan hampir semuanya menyuarakan kata 'Itachi'. Gaara bergegas turun dan menghampiri Naruto. Ia menghela nafas lega setelah memastikan Naruto baik-baik saja, lalu berjalan menuju Jiraiya.
"Jiraiya-San, ada apa? Kenapa tiba-tiba kemari?" tanya Gaara.
"Gaara-Kun, kami datang kemari—walau sebenarnya aku yang punya urusan disini—untuk mempermudah kalian mengurus segala hal berkaitan dengan perpindahan sekolah kalian. Aku akan menjadi wali kalian yang akan mengurus segalanya untuk kalian. Sekarang, Naruto dan Gaara, kalian bisa tenang dan segera pindah ke Tokyo," kata Jiraiya sambil beranjak pergi.
"Jiraiya-San, tunggu," Gaara menyusul Jiraiya untuk menghentikannya sejenak.
"Ada apa, Gaara?"
"Aku ingin bertanya. Bolehkah aku menjadi manajer Naruto? Aku tahu kau adalah manajer SHINE, tapi... Kupikir Naruto membutuhkan seorang manajer untuk dirinya sendiri. Naruto sendiri sudah setuju, dan kami menunggu jawaban darimu, Jiraiya-San," kata Gaara.
Jiraiya berpikir sejenak, "Manajer Naruto? Hm... Bisa kulihat Naruto memang membutuhkan seseorang untuk melindunginya. Tapi, daripada manajer, kenapa kau tidak berpikir untuk menjadi pacar Naruto saja?"
Wajah Gaara memerah seketika, "PA-PA-PA-PACAR?" pekikknya pelan, takut didengar oleh orang lain.
Jiraiya tertawa, "Hahahaha! Aku hanya bercanda! Baiklah, akan kupertimbangkan penawaranmu tadi. Sekarang, aku permisi dulu, aku ada urusan dengan kepala sekolahmu."
Itachi merangkul bahu Naruto, "Sebentar lagi kau akan jadi bagian dari kami, Naruto. Aku senang bisa memiliki junior sepertimu di SHINE. Maksudku, aku mulai bosan dengan rambut berwarna hitam dan kulit putih," Itachi sedikit memainkan ujung rambut pirang Naruto, lalu mengelus pipinya, "Kau berbeda dari kami. Dan aku menyukai perbedaan itu. Garis di pipimu ini membuatku gemas untuk menyentuhnya."
Naruto membeku, namun pipinya terasa panas. Ia tidak bisa bergerak, tapi tubuhnya terasa lemas. Sentuhan dari Itachi telah membuatnya tidak dapat menguasai dirinya sendiri. Ia ingin bicara, tapi bibirnya entah kenapa tidak mau terbuka. Ia memandang mata onyx Itachi setelah Itachi menarik pelan dagunya agar ia berhadapan dengannya.
"Mata birumu membuatku merasa seperti tenggelam di lautan yang ada didalamnya—"
"Hentikan. Rayuanmu menjijikkan. Lagipula kau membuang tenaga saja untuk merayu orang idiot sepertinya," sela Sasuke sambil berlalu kedalam caravan, tidak mempedulikan ratusan fans yang menyebut namanya dengan sekuat tenaga.
"Kau tidak perlu mengatainya idiot, Otoutou," kata Itachi.
"KUBILANG BERHENTI MEMANGGILKU OTOUTOU!" bentak Sasuke sambil membanting pintu caravan keras-keras.
Naruto cemberut, "Kenapa dia kasar sekali? Bahkan pada kakaknya sendiri!"
Itachi tersenyum, "Aku sudah biasa diperlakukan seperti itu olehnya."
"Kau pasti orang yang sabar..." Naruto memandang Itachi dengan mata berbinar-binar, penuh dengan kekaguman.
Itachi tertawa kecil, "Tidak juga. Aku hanya suka melihat reaksinya kalau sedang marah."
Naruto ikut tertawa, sampai Sai menghampirinya. Sai menyapanya dengan senyuman yang selalu ia tunjukkan, dan memulai percakapan bertiga dengan Naruto dan Itachi. Gaara bergabung, membuat perbincangan menjadi semakin seru. Perbincangan itu berakhir ketika Jiraiya berkata bahwa ia sudah mengurus segalanya, dan menyuruh mereka berempat untuk naik ke caravan dan berangkat ke Tokyo.
.
.
.
Sepanjang perjalanan mereka berlima diam. Sasuke terlihat kesal sekali. Tak sepatah katapun dikeluarkannya dari mulutnya. Tangannya disilangkan dan matanya hanya melihat keluar jendela. Tak dipedulikannya Itachi yang mengajaknya bicara, Sai yang menyindirnya, atau Jiraiya yang menawarkan makanan kecil. Sesekali ia melirik Gaara dan Naruto dengan tatapan kesal, lalu kembali melihat keluar jendela.
"Ah! Pulpenku!" pekik Naruto seiring pulpen itu mengelinding ke kaki Sasuke. Sasuke melirik sekilas ke pulpen di kakinya, lalu kembali melihat keluar jendela.
"Teme, tolong ambilkan pulpenku, dong!" pinta Naruto.
Sasuke melirik kebawah, lalu menendang pulpen itu sehingga menjauh darinya, dan lebih jauh lagi dari Naruto. Naruto menggeram kesal, lalu bangkit untuk mengejar pulpen yang terus menggelinding. Setelah mendapatkan kembali pulpennya, Naruto kembali duduk disebelah Gaara untuk menceritakan hal yang baru saja terjadi. Gaara memberi nasehat pendek, lalu mengalihkan pembicaraan ke topik yang bisa mereka bicarakan bersama.
Beberapa jam berlalu, dan Gaara sudah lama tertidur di pundak Naruto—seperti biasa. Naruto yang sudah tidak dapat menahan kantuknya, ikut tertidur dengan menggunakan pundak Sai disebelahnya. Sai terseyum dan membelai rambut Naruto yang tertidur pulas.
.
.
.
Naruto tercengang melihat sebuah rumah bertingkat tiga yang sekilas mirip istana didepannya. Rumah itu sangat indah, dengan halaman depan yang luas dan terawat dengan baik. Ia berharap dapat mengutarakan kekagumannya akan rumah itu kepada Gaara, namun Gaara sudah pergi untuk mencari tempat tinggal baru. Kini ia hanya menganga dan tidak berkedip memandang bangunan yang akan ia tinggali bersama SHINE.
"Nah, Naruto. Disinilah kau akan tinggal. Kuharap kau cukup puas dengan dengan tempat ini," kata Itachi sambil tersenyum.
"Puas? Tempat ini luar biasa!" Naruto berteriak girang. Matanya berbinar-binar, senyumnya merekah cerah. Ia meninggalkan kopernya dan berlari ke taman untuk mengejar kupu-kupu. Itachi dan Sai tertawa melihat kelakuan Naruto yang menggemaskan.
"Kampungan," dengus Sasuke sambil berjalan masuk kedalam rumah SHINE itu.
Setelah puas mengejar kupu-kupu, Naruto kembali ke caravan dan mengambil kopernya. Lalu, bersama dengan Itachi dan Sai, Naruto berjalan masuk kedalam rumah itu. Naruto kembali dibuat kehabisan kata-kata saat melihat kemewahan didalam rumah itu. Lampu kristal menggantung dengan anggun diatas kepala Naruto. Karpet impor dari Persia melapisi lantai marmer yang memiliki kesan artistik yang kuat. Tangga marmer dengan warna senada dengan lantai terlihat melingkar di sekeliling ruangan yang luas itu.
"Mari, kutunjukkan kamarmu," kata Sai sambil menggandeng tangan Naruto. Naruto mengangguk dan berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Mereka berjalan dan berhenti didepan pintu kayu yang mengkilap.
"Neji pernah menggunakan kamar ini. Sekarang, kamar ini milikmu," kata Sai sambil membuka pintu kamar itu.
Mata Naruto melebar melihat isi dari kamar itu. Kamarnya jauh lebih luas dari kamarnya yang lama, dan semuanya serba oranye. Karpet, gorden, bedcover, dan furnitur-furnitur didalamnya.
"Kau suka warnanya? Aku yang menyarankan untuk menggunakan warna oranye. Kupikir itu warna yang cocok untukmu," kata Sai sambil tersenyum.
Mata Naruto sudah menunjukkan jawabannya. Kilauan-kilauan kecil keluar dari mata birunya. Ia reflek memeluk Sai yang jauh lebih tinggi darinya dan mengucapkan banyak terima kasih. Sai tersenyum dan mengusap rambut Naruto sambil mengatakan bahwa ia senang apabila ia juga senang.
Yah, kehidupan baru untuk Naruto akan segera dimulai...
To Be Continued~!
Oke, oke, Risa tahu ini pendek (=_=)a
Tapi emang udah kebisaan Risa buat bikin fic dengan panjang rata-rata 2000 kata XD
Soal Lemon... Pikirin dulu deh... (=_=)a
Yooosh! Kita bales ripiuwnya XD
FujoshiLoveYaoi
Haru yang mana yaaa? XDD
Oke, nopenya bole di save ^v^
Arigatou~
AiChan-KIe
Salam kenal juga Ai-Chan XDD
Gapapa kok, tapi awas kalo nggak review lagi! *ngancem* *digeplak*
Keren? Hohoho, Arigatou~ XDD
Jarang banget ni Risa apdet kilat, biasanya ngaret *plakk*
Arigatou~
IxliLove LiThyBoy
Gomen kalo pendek.. =_=a
Udah diupdate nih XD
Arigatou~
CCloveRuki
Hwahahahaha! Kita siksa si Sasu! XD
Siap deh! XD
Arigatou~
Shiki Raven-Sakuraii
Untung belum di sms =_=a
Beneran gaswat kalo terjadi =_="
SaiNaru? o.O
Gimana yaaa? XDD
Arigatou~
Namichiha yuu-chan
Berubah? Iya kali? Nyahaha XD
Arigatou~
Versiera Shie Chibie
Bener! XD
Caranya jadi deket... Rahasia XD
Arigatou~
Hana-ChanSasuNaru
Gapapa gapapa XD
Tapi jangan bocorin password Risa ya? =_=a
Nyehehe, seru yak? XD
Arigatou~
Uchiha Uzumaki Hatake Hotaru
Iyaaa pendeeek! DX *kelindes*
ItaSasu? o.O
Gimana ya...? =_=a
Arigatou~
Kimmy no Michiku
Lemon? Weh, itu dipertimbangin dulu ya? XD
Masih awal-awal nih... =_=a
Arigatou~
Ichizuku no RenMay
Benci jadi cinta XD
Nyahaha XD
Arigatou~
Reikyaku Kinri
Threesome? O.O
Gimana caranya bisa bikin gitu? O.O
Udah diupdate ini XD
Arigatou~
Superol
Cameo? =_=a
Apa itu? =_=a *plakk*
Shikamaru, ya? :D
Ntar Risa cari caranya buat munculin Shika ya ^.^
Arigatou~
Ryuujin Shinkami Ashura
Hukum berat! Risa buat dia sulit mendapatkan Naru! XDD *dibunuh Sasu*
Arigatou~
kira tiqa-Alegra Maxwell
Kapan yaaa? XD
Chapter 15? :9
Hehehehe XD
Arigatou~
ttix lone cone bebe
Iyaaa Lemonnya ditunggu XD
Lemonan sama tiap Seme? O.o
Dipertimbangkan lagi ya...? =_=a
Arigatou~
Devil Brain
Gomeeen~ DX
Jadi Ukenya si... XD
OsaOS? Itu mau Risa tamatin... =_=a
Arigatou~
Vii no Kitsune
Oke Risa tau ada genre Humor kok XD
Risa coba bikin Sasu menderita ya? XD
Neji keluar karena... :D
Kayaknya nggak ada pair lain deh XD
Arigatou~
NaruDobe Listachan
Nyahaha Risa juga suka ngadu domba mereka XD
Gapapa, kok XD
Arigatou~
Delta Dwina Alpha Fujoshi
Ini chap selanjutnya XD
Arigatou~
Black CapXa
Nyahaha XD
Nanti juga baek kok XD
Arigatou~
O.K. See ya at the next chapter! XDD *terbang*
