Disclaimer ; Naruto milik Masashi Kishimoto, dan saya hanya meminjam karakternya saja.

Rated ; M (untuk jaga-jaga).

Pair ; Uchiha Sasuke - Haruno Sakura

Warning! Ooc. OOT. AU. TYPO dan EYD tak beraturan.

Don't like Don't read.

And enjoy, Minnaaaa~~

.

.

.

Sakura menatap Sasuke dengan alis tertekuk tak mengerti. Kalimat demi kalimat yang tertera di dalam otak jeniusnya itu seperti tak menimbulkan dampak apapun. Ingatannya akan perbincangan Sasuke dengan Sasori tempo hari di lapangan membuat gadis dengan surai merah muda itu semakin gelisah. Apalagi saat melihat raut ekspresi Sasuke yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

Sekelibat otaknya pun tak bisa berhenti menghilangkan bagaimana ekspresi Sasuke kala itu. Ekspresi yang entah bagaimana mendiskripsikannya. Selama beberapa hari ia tinggal dan bertatap muka dengan lelaki emo itu, tak pernah sekalipun Sakura melihat raut muka menyeramkan yang di tampilkan oleh bungsu Uchiha tersebut.

Mencoba menanyakan apa yang ada di pikirannya?

Sakura langsung menggelangkan kepala cepat. Sasuke pasti tak akan menjawab pertanyaannya semudah itu. Lelaki itu pasti akan balik bertanya sebelum menjawab pertanyaan yang Sakura berikan.

Lalu bagaimana?

Menghela nafas beberapa kali, akhirnya Sakura menggurungkan niatnya dan kembali menatap Sasuke yang kini tengah sibuk dengan beberapa kertas di depannya.

"Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan, sih?" tanya Sakura memecah keheningan dengan alis terangkat.

Sekilas Sasuke menatap Sakura dan kemudian memfokuskan kembali obsidiannya ke kertas-kertas itu dengan gumaman tak berarti.

"Aku bosan menemanimu disini. Kau pikir aku senang duduk mematung di sampingmu seperti ini," dengus Sakura yang sekali lagi hanya di jawab dengan gumaman tak berarti dari Sasuke.

"Sasuke?"

Sambil mendengus tertahan, Sakura menatap Sasuke sambil mengembungkan pipi chubbnya dan bibir mengerucut sebal. Dalam hati tentu saja gadis musim semi itu menggerutu kesal bukan main. Sejak pulang sekolah tadi, ia sudah duduk diam di samping Sasuke sambil menatap lelaki itu yang sedang mengerjakan sesuatu yang tak di mengertinya.

"Daripada aku disini seperti orang bodoh, lebih baik aku pergi!" pungkas Sakura sambil beranjak pergi meninggalkan Sasuke. Namun sebelum kaki jenjangnya itu melangkah semakin menjauh, sebuah lengan menariknya dan menuntut ia untuk kembali duduk.

"Apa?" tanya Sakura sinis dengan mata mendelik tajam.

"Duduk!" Sasuke kembali berucap tanpa melepaskan cengkraman tangannya pada lengan mungil Sakura.

Sakura menghentakkan kakinya dan semakin mengerucutkan bibir mungilnya. Setelah mendapat perhatian dari Sasuke karena tak kunjung duduk juga, akhirnya Sasuke menghela nafas dan kembali berujar.

"Aku belum selesai mengerjakan beberapa hal disini. Duduk, dan temani aku sampai selesai. Mengerti!?" kali ini dengan nada yang sedikit halus Sasuke berkata. Sakura kembali menghela nafas dan dengan sedikit terpaksa kembali duduk di samping Sasuke.

"Sebenarnya apa yang sedang kau kerjakan. Aku sama sekali tidak mengerti. Kau bermaksud membuatku tampak bodoh dengan hal-hal yang tak bisa kumengerti sama sekali, ya?" tanya Sakura kemudian.

"Aku sedang membantu Itachi untuk menyelesaikan beberapa laporan perusahaan. Dia sungguh membuatku repot." gumam Sasuke kembali menggerakkan jari jemarinya di atas kertas dengan sempurna.

Sedangkan Sakura hanya mengangguk patuh sambil ber-oh ria.

"Jadi, selain sekolah kau juga ikut membantu masalah perusahaan juga." Sasuke mengangguk pelan sebagai jawaban.

"Tak kusangka, lelaki menyebalkan sepertimu bisa diandalkan juga."

"Lelaki sepertimu?"

"Tentu. Kau itu sangat menyebalkan. Aku heran kenapa para gadis selalu menjerit menyebut namamu setiap hari." tutur Sakura sambil memiringkan kepalanya.

"Kau tidak!"

"Haahh? Apa kau bilang?!"

"Kubilang 'kau tidak'!"

"Kau ingin aku ikut menjerit seperti mereka? Kau ingin aku berteriak seperti ini ; 'Sasuke~ aku mencintaimu. Sasuke.. jadilah kekasihku. Sasuke, berkencanlah denganku..' Kau ingin aku terlihat konyol seperti mereka? Yang benar saja."

Sasuke menarik setiap sudut bibirnya begitu mendengar perkataan Sakura yang sudah bisa ia tebak sebelumnya. Lelaki emo itu tahu, bahwa gadis yang memiliki surai merah muda dan duduk tepat disampingnya ini pasti memiliki hal yang sangat tak terduga. Dikala para gadis memuja ketampanan dan karisma yang dimikilikanya, hanya Haruno Sakuralah satu-satunya gadis yang tak tertarik dengan Uchiha Sasuke.

"Akan lebih baik kau tetap jadi Sakura yang seperti ini. Membayangkan dirimu ikut menjerit memanggil namaku saja sudah membuatku mual."

Seketika itu pula Sakura memukul lengan Sasuke. Gadis itu sungguh tak habis pikir. Bagaimana mungkin lelaki yang kini tepat berada disampingnya bisa menjadi salah satu magnet untuk para gadis.

"Tentu saja! Jangan harap aku melakukannya, ayam."

"Hn."

"Oh ya, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu." tanya Sakuta ragu.

"Katakan."

"Kemarin aku melihatmu bermain basket dengan Sasori-senpai. Apa yang sedang kalian bicarakan?"

Seketika itu pula pergerakan jari Sasuke terhenti saat mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir ranum Sakura.

"Tidak ada!"

Dan satu jawaban singkat dari Sasuke membuat kening Sakura mengernyit.

"Kau bohong padaku."

"Kalaupun kau tahu, apa yang akan kau lakukan. Apa yang aku bicarakan dengan Sasori sama sekali bukan urusanmu,"

Dan satu kalimat panjang itu sontak membuat tubuh Sakura tegang. Memang, semua itu bukan urusan Sakura. Namun pantaskah Sasuke berkata sinis seperti itu terhadapnya?

"Memang bukan urusanku. Tapi saat melihat ekspresi wajahmu saat itu membuatku takut." gumam Sakura dengan kepala tertuduk.

Sasuke menghela nafas dan mengusap surai milik Sakura halus dan memaksa gadis itu untuk menatapnya dengan mengangkat dagu Sakura tinggi untuk menatapnya.

"Tidak ada! Aku hanya memperingatkan Sasori suatu hal."

Kemudian satu kecupan kecil di kening Sakura membuat gadis itu terperangah sekaligus terkejut dengan tindakan yang baru saja dilakukan oleh Sasuke.

"A-apa sih yang kau lakukan." ujar Sakura terbata dengan wajah merona merah.

"Kenapa? Aku sudah pernah mencium bibirmu waktu itu. Sekali-kali mencium jidat lebarmu tak apa, kan."

Dengan seringai andalan milik khas Uchiha, Sakura langsung menjitak kepala Sasuke cukup keras dan berkata;

"Dasar mesum! Jangan seenaknya menciumku, bodoh."

Dan satu kalimat terakhir yang keluar dari bibir ranum Sakura membuat dahi Sasuke mengernyit dan menyeringai.

Meski begitu, ada rasa hangat yang mengalir di tubuhnya saat tanpa sengaja Sakura mengkhawatirkannya. Dan hal itu sukses membuat Sasuke tersenyum tipis setelah kepergian Sakura.

.

.

Living Together

.

.

Buliran keringat kini membanjiri wajah tampan Uchiha Sasuke. Baju putihnya terpampang jelas oleh lekuk tubuh bidangnya yang atletise. Tak urung nembuat para gadis menjerit melihatnya. Adapun yang menatap takjub, benggong, nelan ludah, dan bahkan hampir mimisan begitu melihat pemandangan yang luar biasa disana.

Uchiha Sasuke. Ya... lelaki yang berparas tampan dan memiliki otak jenius itu kini sedang ditatap penuh gairah oleh para gadis disana. Semua mata tak luput dari pergerakannya tanpa terlewati sedikitpun. Oh... Ayolahhh... siapa sih yang tak akan tergoda dengan pemandangan yang semenakjubkan itu, eh?

"Coba lihat, Sasuke sangat tampan. Tubuh bidangnya itu ingin sekali kupeluk," tutur Shion menatap Sasuke dengan mata berbinar. Sedangkan sosok yang ada di sampingnya hanya mengedikkan bahu acuh dengan ucapan sahabat pirangnya tersebut.

"Ne, Sakura, apa kau tak setuju dengan ucapanku?" tanyanya tanpa menoleh.

Sakura menarik nafasnya dalam-dalam. Mata beningnya masih memperhatikan Sasuke yang masih asik bermain basket. Meski begitu, ia tak habis pikir, bagaimana mungkin Sasuke bermain basket saat tangannya masih dirasa sakit? Ayolahhhh.. meski tangan sebelah kirinya yang terkilir, namun apa pantas ia seperti ini? Padahal lelaki itu selalu mengeluh sakit tiap kali Sakura menolak permintaannya.

"Sakura, apa yang sedang kau pikirkan?"

Sakura mengerjapkan matanya beberapa kali dan kemudian berkata, "Memang sih dia tampan, tapi aku benci sikapnya itu. "

"Sikap yang bagaimana?"

"Tentu saja sikap menyebalkannya itu."

Tanpa mengalihkan pandangannya, Sakura terus menatap pergerakan Sasuke. Hingga mata bening dan sekelam malam itu saling menatap satu sama lain. Sontak hal itu membuat Sakura mengerucutkan bibirnya dan mengalihkan padangannya kearah lain. Ia tak ingin jika Sasuke beranggapan kalau dia sama seperti gadis-gadis itu yang menatapnya dengan mata berbinar dan mulut terbuka. Cih! Membayangkannya saja sudah membuat kening berdenyut.

"Tapi lelaki menyebalkan menurut versimu itu adalah pangeran di Konoha High School, Sakura." Opini Shion yang lagi-lagi di tanggapi dengan dengusan tertahan dari bibir mungil Sakura.

"Kalian dibutakan oleh ketampanannya saja," ungkapnya datar. "Lagipula apa kau tak memiliki lelaki lain selain dia,?" tanya Sakura sambil bersedekap menatap Shion.

Sedikit tercengang dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh sahabat merah mudanya tersebut, Shion langsung menahan nafas terkejut.

"Kenapa wajahmu tegang begitu. Apakah kau pernah memiliki hubungan dengan seorang lelaki sebelum ini?" tanya Sakura lagi.

Shion masih diam. Gadis itu menatap sahabatnya dengan senyum kaku di wajahnya. Setelah itu ia mulai bicara.

"Hmmm... ada. Dan itu sudah lama berlalu. Keadaan yang membuat begini." gumamnya memberi penjelasan. Sedangkan Sakura bergumam dan mengangguk kecil mengerti

"Dan sekarang kau tertarik dengan lelaki model pantat ayam itu. Seleramu payah, Shion."

"Payah? Well... bagaimana seleramu?"

Sakura menimbang-nimbang pertanyaan Shion dan mulai berpikir.

Selera? Yuuppp... selama hampir tujuh belas tahun, Sakura hanya memikili dua mantan kekasih dan itupun karena sebuah keterpaksaan atau karena rasa kasihan. Dan kalaupun sekarang di tanya bagaimana seleranya, sepertinya gadis Haruno itu mulai mengernyitkan keningnya binggung.

Sasori?

Satu nama itulah yang kini melintas dibenaknya. Namun perasaannya terhadap Sasori apakah memang benar demikian? Maksudnya, apakah perasaannya itu memang rasa suka atau hanya sekedar mengagumi? Sakura menggeleng dan menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan. Sepertinya ia tak terlalu mengerti selera seperti apa yang di inginkannya. Yang jelas, Sakura hanya ingin jika lelaki itu bertanggung jawab dan memiliki rasa prinsip teguh yang layak untuk di perjuangkan, misalnya?

"Setidaknya seleraku tak sepertimu saat ini, Shion."

Shion langsung terkekeh geli mendengar kalimat Sakura barusan.

"Dasar! Hanya kau saja diantara para gadis yang tak menyukai Sasuke, Sakura."

"Memang kenapa? Aku memang tak menyukainya."

Shion menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Gadia dengan mata violet itu menatap jengah sahabatnya yang entah kenapa bisa sebenci itu pada Sasuke. Kalau alasannya hanya karena dirinya ditolak, apakah ini tidak berlebihan?

"Ahhh... terserah kau saja," ujar Shion pasrah pada akhirnya.

Shion melihat Permainan basket dilapangan itu masih sangat ramai. Beberapa penonton menatap Sasuke tanpa berkedip sedikitpun. Meski hawa panas menyertai, namun tidak menyurutkan pekikan mereka yang semakin menjadi. Semua peluh menetes dengan sempurna membanjiri pelipis tanpa terkendali. Tapi meski demikian, sorak penyemangat tetap bersua membanjiri. Sontak membuat Sakura semakin mengernyit tak mengerti. Demi apapun... apa yang sebenarnya para gadis pikirkan tentang si Uchiha tersebut?

Kembali Sakura menarik nafas dan membuangnya begitu saja. Melihat permainan basket Sasuke yang begitu lihai membuat opini Sakura akan Sasuke sedikit berbeda kali ini. Meski dia menyebalkan, tapi Sakura akui jika Sasuke memang pandai mendribbel bola dengan sangat lihai.

"Haaahhh..." Sakura mendesah berat. Ia menatap alroji di pergelangan tangan kanannya sambil mengernyit.

Hampir lima belas menit Sakura menemani Shion untuk melihat aksi Sasuke mendribel bola, kini gadis Haruno itu memutuskan untuk kembali. Ia tak suka berlama-lama disini. Tempat dimana ia bisa melihat seseorang yang sebenarnya ingin di jauhinya sebisa mungkin.

"Sebaiknya aku pergi. Aku bosan dan telingaku panas setiap kali mendengar mereka menjeritkan nama yang sama." Dan satu anggukan kecil Shion sematkan untuk mengijinkan Sakura pergi meninggalkannya

.

.

.

Lelaki itu menatap bawahannya dengan alis tertekuk. Sebelah tangannya ia sandarkan pada dagu untuk menopang wajahnya yang meski sudah berusia empat puluh delapan tahun, namun lelaki paruh baya tersebut masih terlihat muda dan tampan.

Tampak sekali jika ia sangat sibuk. Itu di buktikan dengan beberapa kertas yang sedikit menumpuk di meja kebanggaan miliknya. Namun sepertinya itu tidaklah penting, karena seseorang yang di percayainya pasti membawa hal yang lebih berguna untuk ia dengar saat ini

"Bagaimana, apakah dia betah tinggal disana, Yamato?" Tanyanya setelah lelaki yang di panggil Yamato tersebut berdiri tegap di depannya.

Lelaki yang kedudukannya penting di Tokyo itu menatap lelaki yang bernama Yamato itu dengan menaikkan sebelah alisnya. Menunggu jawaban yang seharusnya mampu nembuat harinya semakin sempurna.

"Iya, tuan. Seperti yang tuan perkirakan sebelumnya. Ternyata dia bisa menyeimbangi sifat tuan muda." Katanya yang langsung di sambut dengan seringai lelaki paruh baya tersebut.

"Bagus! Pantau mereka. Dan beritahu aku berita apa lagi yang mereka lakukan."

Yamato mengangguk mengerti sebagai jawaban. Kemudian ia membungkukkan diri untuk undur diri dari ruangan itu dengan helaan nafas dalam. Sementara lelaki paruh baya tersebut menarik setiap ujung bibirnya dengan kilatan mata yang tak bisa dimengerti oleh siapapun.

Sambil membalikkan tubuhnya kearah jendela ruang kebanggannya, lelaki itu bergumam, "ini akan lebih cepat dari yang kuperkirakan."

.

.

.

Ini bukanlah hari yang menyenangkan bagi Sakura. Ia sama sekali tak habis pikir dengan semua gadis yang selalu menjeritkan nama yang sama. Gadis itu selalu berpikir, apa yang membuat seorang Sasuke begitu dipuja sampai sebegitunya? Tidakkah ini aneh? Maksudnya, dari sekian lelaki di KHS, apakah tidak ada satupun lelaki yang bisa membuat gadis-gadis itu menjeritkan nama lelaki lain kecuali Sasuke. Sungguh! Ini membuat Sakura mengernyitkan keningnya penasaran.

Kalau di ingat-ingat sekali lagi, Sasuke memang tampan dan memiliki karismatik yang tidak ada satupun lelaki di KHS yang bisa menandinginya. Namun, bukan itu permasalahannya. Apakah mereka tidak pernah berpikir bagaimana sikap dan sifat lelaki ini?

Sakura menggeleng dan mengusap permukaan wajahnya kasar. Tentu saja mereka tak tahu jika lelaki yang mereka sebut-sebut itu memiliki kepribadian ganda. Selain menyebalkan dan seenaknya sendiri, Sasuke juga sangat manja.

"Haaahhh..."

Sambil menghela nafas panjang, Sakura menyandarkan kepalanya ke meja dengan kedua tangan di lipat sebagai sandaran. Dibalik surainya itu, selalu muncul beberapa pertanyaan yang entah sejak kapan sudah menyarang di otak jeniusnya itu. Ia menyadari beberapa hal saat pertama kali ia menginjakkan diri di kediaman rumah Uchiha. Pertama, ia tak pernah sekalipun melihat kedua orang tua Sasuke meski sudah hampir dua minggu lamanya ia berada tinggal disini. Bahkan kakak lelaki Sasuke yang bernama Itachi pun tak pernah kelihatan berseliweran berada di sini. Jadi? Dimanakah keberadaan mereka?

Kemudian, bagaimana dengan keluarganya?

Selama berada disini, Sakura sendiri tak mengetahui bagaimana kabar dari kedua orang tuanya. Kabar yang ia terima saat itu hanyalah bahwa mereka sedang melakukan perjalanan bisnis ke Okinawa bersama kolega-koleganya. Dan setelah itu, tak ada kabar sama sekali.

"Jadi, harus bagaimana," gumamnya parau.

Sakura semakin membenamkan kepalanya dengan perasaan tak menentu. Keberadaannya disini bahkan tak tahu sampai berapa lama. Ia sudah pernah membicarakannya dengan Sasuke, namun sekali lagi, Sasuke selalu memiliki alasan yang sangat pas untuk kondisi Sakura saat ini.

Masih terhanyut dengan berbagai spekulasi yang melintas di kepalanga, tanpa Sakura sadari jika seorang yang berpawakan tinggi tegap itu menatapnya dengan alis bertaut menjadi satu.

"Ehmm..." dan satu deheman yang lolos dari bibirnya langsung membuat Sakura mendongak.

"Apa?" Sakura menatap Sasuke dengan bibir mengerucut. Entah kenapa sebabnya, hal itu sukses membuat Sasuke menatapnya dengan penuh selidik.

"Seharusnya aku yang bertanya. Kenapa wajahmu jadi jelek seperti itu,"

Sakura mendengus tertahan. Sambil mendecih ia menatap Sasuke dengan mata melotot tajam.

"Kau terpesona padaku?" dengan seringai andalannya, sekali lagi Sasuke menggoda Sakura untuk kesekian kalinya.

"Tkh! Apa kau sedang mabuk, Tuan?"

"Lalu kenapa? Apa yang membuatmu jadi jelek seperti itu,"

"Bukan urusanmu," jawabnya dengan memalingkan muka.

"Kau ingin mrmberitahu dengan sukarela atau perlu paksaan untuk itu? Aku sama sekali tak keberatan untuk melumat bibirmu disini. Sekarang juga."

Perkataan Sasuke langsung membuat tubuh Sakura tegang seketika. Dilihat dari sisi manapun, Sakura pasti akan kalah. Ingatlah, bahwa seorang Uchiha selalu bisa mendapatkan apa yang dia mau dengan cara apapun.

"Kenapa kau begitu menyebalkan." Kata Sakura dengan mata mendelik tajan menatap Sasuke yang menyeringai menatapnya.

"Jadi, katakan padaku. Kenapa kau mengerucutkan bibirmu setelah melihatku?" tanya dengan tangan bersedekap.

"Kau membuatku kesal," gumamnya.

"Kenapa?"

"Kau bilang kenapa? Apa kau tak berpikir, aku sudah hampir dua minggu disini dan kau tak kunjung memperbolehkanku pulang," desisnya dengan mata melotot.

Sasuke menatap emerald itu dengan tatapan datar. Lelaki itu tahu jika merajuknya Sakura pasti tidak jauh dengan hal seperti ini.

"Jadi, kapan aku boleh pergi?" tanyanya sekali lagi.

Sakura menatap mata sekelam itu dengan perasaan tak menentu. Di balik bola matanya yang sekelam malam itu tersembunyi beberapa hal yang tak dimengerti Sakura sama sekali.

"Sasuke?"

Sasuke memposisikan duduk disamping Sakura dengan tenang tanpa suara. Lelaki itu hanya diam dan menatap emerald bening itu dengan pandangan yang sulit di artikan. Di detik kemudian, lengan kokoh itu menarik tubuh mungil Sakura ke dalam dekapannya. Sontak membuat Sakura terkejut sekaligus tertegun tak mengerti akan sikap Sasuke kali ini.

"Maaf," dan satu kalimat sakral yang keluar dari bungsu Uchiha tersebut membuat Sakura mendongakkan kepalanya menatap Sasuke dengan penuh tanda tanya.

"Kenapa?"

"Untuk saat ini aku tak bisa memulangkanmu, Sakura."

"Aku perlu alasan untuk itu Sasuke." tanya Sakura yang semakin membuat Sasuke mengeratkan pelukannya.

"Dengarkan aku. Untuk saat ini aku tak bisa mengatakannya. Tapi aku janji, bahwa tak lama lagi aku akan mengatakannya padamu. Dan setelah kau mengetahuinya, kuharap kau tak pergi dariku atau menjauhiku. Apapun alasannya. Kau mengerti?"

Suara itu mengalun serius. Membuat Sakura yang menatap obsidian Sasuke semakin mengernyit tak mengerti dengan setiap lontaran yang baru saja di dengarnya. Ia hanya menatap mata sekelam itu yang kini menatapnya dengan pandangan yang tak di mengertinya sama sekali. Jika Sasuke tak memberinya penjelasan yang masuk akal kenapa ia di tahan berlama-lama di rumahnya, Sakura pastikan kalau lelaki yang sedang memeluknya itu pasti akan menerima ganjarannya dengan sempurna.

"Baik."

Satu jawaban itu akhirnya meluncur dengan sempurna. Sambil menarik nafas lega, Sasuke semakin mengeratkan pelukannya dan sesekali mengelus surai milik Sakura halus dan kembali mencium keningnya singkat.

Sakura yang mendapat perilaku seperti itu hanya mampu berdiam diri tanpa memprotes. Ia tak menolak apapun yang Sasuke lakukan kali ini. Ia bahkan menempatkan kepalanya di dada bidang Sasuke dengan nyaman. Jarang sekali seorang Sasuke nemperlakukannya sehalus dan penuh perhatian seperti ini.

Kadang Sakura berpikir, siapa Sasuke sebenarnya?

Kadangkala ia terlihat serius. Menyebalkan, manja dan sangat arogan. Tapi satu yang Sakura yakini, bahwa Sasuke adalah sosok lelaki yang berpegang teguh pada prinsip dan menjunjung tinggi tanggung jawab.

.

.

.

Tbc

.

.

Maaaaaffffff... aku telat publish Fict ini. Sungguh, bukan maksud hati ingin menelantarkannya, namun sekali lagi kondisi yang membuat jadi seperti ini. Hehehehe...

Ok, nggak tahu lagi harus bilang apa lagi, intinya aku sangat bersyukur karena masih ada yang berminat untuk membaca Fict ini yang ceritanya bahkan sudah tak asing lagi. :-P. Untuk chap ini aku nggak tahu harus berekspresi bagaimana. Jari dan otakku bekerja sama menghasilkan chap 3 yang lumayan berantakan alias stuck di tempat (?).

Maaf juga jika banyak Typo yang bertebaran. Soalnya aku ngetik lewat HP dan itulah alasan utamaku nggak bisa update kilat. #dilempar.

Shhiiiipppp... kayaknya itu saja celoteh tak bermutu dariku, sekali lagi mohon maaf kalau publishnya nggak bisa kilat dan wordnya pun agak nggak panjang.

.

.

Yoshhh... ini balasan untuk yang Non-login:

.

Guest: Ok, terima kasih sudah menyukainya. Chap 3 sudah datang! :-P.

Mii-chanchan2: Hahahah... ini sudah di update. Selamat baca. XD

haruchan: Betul! Biar pasaran tetap suka XD. Kisah klasik sihhhh.

Jajaigo: Duuuhhh... mau JDrama atau apapun itu, yang penting Fict ini punyaku. XD

Noname: Ok, makasih sudah menyukainya. Chp 3 sudah datang. ^-^

Eriko: Mau komentar apapun nggak ngaruh kok. So, kalau nggak suka ya jangan dibaca. Sudah ada DLDR kn?

.

Ok, bagi yang login, kalian cek PM masing-masing ya?

.

09-02-2015, Lamongam jawa timur.

Salam sayang; Chizuru Mey.

See you next time ^-^.

.