Harry Potter belongs to our beloved Queen Jo
La La Love belongs to GwendyMary
OOC, alur kadang cepet kadang lambat, aneh, gajelas, dsbg
RnR if you mind
Hope you like it! ;)
La La Love
"Malfoy." Panggil Hermione pelan ke arah partnernya yang tampak begitu sibuk dengan pikirannya sendiri sejak tadi. Putri Gryffindor itu mengayun-ayunkan kaki nya bosan. Malfoy yang memaksa untuk duduk di satu tempat duduk yang sama dengannya, dan sekarang, coba lihat! Pemuda itu benar-benar mengacuhkannya dari tadi. Oh, mungkin soal Malfoy mengacuhkannya tak akan benar-benar penting baginya. Hanya saja sekarang ia sedang satu gerbong dengan seluruh anak-anak murid asrama Slytherin! Dan hanya dia seorang yang memakai syal berwarna merah-emas!
Ia seakan-akan sedang menantang satu gerbong tersebut. Seekor singa di tengah-tengah kawanan ular yang buas dan kelaparan. Hah, bagus sekali. Mari kita berikan tepuk tangan yang meriah untuk pemuda berambut pirang platina yang kini sedang mengacuhkannya.
"Malfoy!" Desis gadis Trio Gryffindor itu dengan sebal. Oke, ia benar-benar merasa risih sekarang. Salahkan Pansy Parkinson yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan seakan ingin menggigitnya dengan taring berbisanya disitu sekarang juga. Di samping gadis gila itu, ada Blaise Zaibini serta Theodore Nott yang sepertinya asyik sendiri dengan obrolan mereka berdua tentang Quidditch, hal yang sama sekali tak pernah tersentuh oleh Hermione.
"Hm?" Merlin! Rasanya Hermione ingin mencakar wajah polos Draco Malfoy. Ia sedari tadi memanggilnya, dan pemuda itu berani sekali dengan polosnya hanya menjawab sebatas 'hm?' yeah, pergilah kau ke neraka, Draco Malfoy Batin Hermione garang.
"Aku ingin pindah gerbong saja. " Ucap Hermione setengah merengek pada Draco sementara pemuda itu hanya mengernyitkan kedua alis milik nya.
"Kenapa memangnya?" Sebuah nada keheranan jelas terselip di pertanyaan pangeran Slytherin tersebut.
Demi janggut Merlin yang beruban, tidak bisakah Draco Malfoy lihat! Tepat di hadapannya seorang Pansy Parkinson sedang menatap Hermione dengan tatapan yang kelewat sewot. Ugh, sedikit—meskipun dirinya benci mengakui hal ini—Hermione merasa bersyukur karena menjadi kekasih Draco karena kalau tidak, Pansy pasti akan menghabisinya habis-habisan. Dan tentu saja sebagai seorang Gryffindor, ia tidak akan tanggung-tanggung menunjukkan kepada si wanita ular tersebut,seberapa bahaya nya seekor singa kalau sedang diganggu.
Hermione berdehem sebentar sembari melirik Pansy lewat ekor mata nya sebelum berkata, "Lihat ke depan mu." Bisiknya berusaha sepelan mungkin.
"Hah? Apa?"
"Kubilang, lihat ke depan mu!"
Draco buru-buru melihat ke depan nya, ingin tahu apa kira-kira yang membuat Hermione sebegitu risihnya. Ah, sekarang ia tau dan ia jelas mengerti mengapa partner Ketua Murid nya sampai seperti itu. Siapa pula yang tidak risih jika ditatap sedemekian rupa? Apalagi oleh seorang Pansy. Rasanya pemuda itu ingin tertawa disaat itu juga, menertawakan kekonyolan yang terjadi di depan nya. Namun ia berusaha menahan tawa nya. Setidaknya lebih baik begitu daripada berakhir dengan ia ditinggal oleh Hermione dan terlantar di stasiun Kingcross layaknya gembel.
"Tenanglah, dear. Aku jamin 100% dia tak akan berani menyentuhmu barang sehelai pun." Draco menyeringai puas ketika dilihatnya Hermione memutar kedua bola mata nya bosan, sekaligus menggumamkan kata "Ew."
Tunggu, sejak kapan ia sampai begini senangnya untuk menggoda seorang Hermione Jean Granger? Pasti ada yang benar-benar salah di otak nya.
Dan akhir nya, perjalanan ke Stasiun Kingcross dihabiskan dengan Hermione yang merengut bosan ke arah jendela, disertai dengan godaan Draco.
"Someday, we'll forget the hurt, the reason we cried and who caused us pain. We will finally realize that the secret of being free is not revenge, but let things unfold in their own way and own time. After all, what matters is not the first, but the last chapter of our life which shows how well we ran the race. So, smile, laugh, forgive, believe, and love all over again." -Anonymous
Stasiun Kingcross dipenuhi oleh para penyihir saat itu yang sudah tak sabar ingin bertemu dengan anak-anak nya. Tentunya kecuali duo Ketua Murid kita, Hermione Granger dan Draco Malfoy yang hanya mempunyai masing-masing karena orang tua mereka sibuk berlibur ke Paris.
"Ugh, akhirnya aku bisa terlepas dari sorotan mata pembunuh milik wanita kesayanganmu, Malfoy. Thank goodness, i'm still alive." Hermione menarik dan menghembuskan nafasnya secara bebas berulang-ulang, seolah-olah ia baru saja tercekik tadi. Gadis berambut coklat semak itu tersenyum girang, menatap sebuah papan yang tergantung di dinding batu bata merah di hadapannya. Stasiun Kingcross. Ah, kapan terakhir kalinya ia merasa sesenang ini berada di London?
Sementara Hermione tersenyum-senyum sendiri, Draco Malfoy hanya bisa mendengus melihat kelakukan aneh milik partner ketua muridnya itu. Pikirannya sendiri sedang tidak terlalu berada disini sekarang, melainkan memikirkan apa saja yang hendak dia lakukan nantinya saat menghabiskan semua liburan natalnya bersama Hermione. Ia sebenarnya juga merasa bersyukur karena mereka berdua telah turun dari kereta saat ini, terlepas dari sorotan mata milik salah satu fans beratnya, Pansy Parkinson. Oh, bahkan dirinya yang cuek setengah mati tadi tentu saja bisa merasakan betapa membunuhnya tatapan Pansy kepada 'kekasih'nya.
"Hey Granger, mau sampai kapan kita disini?" Tanya putra semata wayang keluarga Malfoy itu dengan wajah malas. Tidur di kereta tadi sama sekali tidak menambah tenaganya berkat tatapan Pansy.
Hermione melirik sebal ke arah Draco, berniat memakinya atau semacamnya karena pemuda itu telah mengganggu waktu bernostalgia miliknya, namun cepat-cepat dihilangkannya niatan itu tatkala dilihatnya wajah Draco yang sudah kelewat lelah. Mungkin sebaiknya untuk kali ini ia memang harus mengalah.
"Baiklah, baiklah. Ayo kita seg—"
"HERMIONE GRANGER! TUNGGU!" Suara teriakan milik seseorang yang jelas sangat dikenal oleh Hermione tiba-tiba bergema, membuat seisi stasiun Kingcross menengok ke arah si empunya suara. Dari balik kerumunan orang-orang, sosok Ginerva Weasley, masih dengan tanpa malunya, berlari-lari ke arah Hermione. Di belakangnya, tampak sosok Harry dan Ron yang sedang meminta maaf dengan wajah penuh malu atas kelakukan kekasih dan adiknya.
Entah untuk keberapa kalinya dalam hari ini, Draco Malfoy mendengus. Bagus sekali, bagus. Ia baru saja akan bersyukur dengan sungguh-sungguh karena Hermione mau mengalah padanya, dan seketika semua rasa syukurnya itu terasa menguap begitu saja di udara berkat duo kakak beradik Weasley serta seorang 'calon' anggota keluarga Weasley yang baru. Rasanya ia ingin sekali melemparkan mantra Imperio ke arah tiga anggota keluarga Weasley itu agar mereka bisa cepat-cepat pergi dari hadapan dirinya dan 'kekasih'nya. Argh! Entah sudah keberapa kali pula ia memanggil partner berambut semaknya itu dengan sebutan 'kekasih'nya!
"Kau benar-benar harus menjelaskan tentang panggilan Draco tadi kepadamu!" Pekik Ginny, sambil sesekali melirik ke arah si Ketua Murid Lelaki yang tak balas menatapnya.
WHAT?! Seorang Draco Malfoy harus membuang-buang waktu istirahatnya yang berharga hanya demi pertanyaan setidak penting barusan tadi?! Apakah adik Weaselbee ini tidak punya otak sendiri untuk berfikir?! Draco mendelik sebal. Ia sungguh jengkel sekarang. Tubuhnya lelah, perlu diistirahatkan, dan ia disini malah dipaksa menjawab sebuah pertanyaan yang bahkan seorang anak bocah bisa menjawabnya? Jangan bercanda!
Dengan segera, pemuda berambut platina mengkilat itu meraih tangan Hermione, menarik gadis itu. "Ayo, love. Kau tau kita tidak punya banyak waktu. Mum tentu saja tidak akan senang melihat kita terlambat. Nah, sampai jumpa Potter, Weasleys!" Lalu tanpa sempat memberi seorang Hermione untuk memprotes, Draco sudah terlanjur menyeret gadis itu, jauh-jauh, meninggalkan tiga anggota keluarga Weasley yang hanya bisa tercengang mendengar penuturan katanya barusan.
.
.
"Granger."
"…"
"Hei, Granger."
"…"
"Granger!"
"…"
"Merlin, Granger! Ayolah, jangan berlebihan seperti itu." Draco mengacak rambut pirang platinanya frustasi. Entah sudah keberapa kalinya ia diacuhkan begitu saja oleh sosok gadis yang tengah berjalan di depannya kini. Alasannya? Ngambek. Iya, gadis itu ngambek padanya hanya karena kata-kata sepele yang ia ucapkan tadi siang di stasiun Kingcross. Tentu saja kata-kata itu tidak akan perlu ia ucapkan dari bibirnya kalau saja Sahabat-Merah-Yang-Selalu-Ingin-Tau-Urusan-Orang-Lain itu tidak muncul begitu saja dan bertanya hal-hal tidak penting. Hasilnya sekarang adalah seorang Hermione Jean Granger yang jelas-jelas ngambek padanya.
Menyerah, pemuda yang tingginya tak begitu jauh dari partner perempuannya itu terpaksa ikut terdiam. Di satu sisi, ia terlalu malas untuk merengek sekaligus membujuk seorang Hermione Granger agar tidak lagi marah kepadanya, tapi di satu sisi ia juga tak suka kalau dirinya terancam akan diacuhkan selama 24 jam kedepan. Oh ayolah, liburan seatap dengan seseorang yang sedang jelas-jelas mendiamkanmu? Percayalah, itu bukanlah hal yang menyenangkan, terlebih lagi untuk tipikal seperti dirinya.
Bola mata keabu-abuan milik Draco melirik sedikit ke arah Hermione—yang tentu saja masih mendiamkannya—dan sedetik kemudan, kilatan iba terpancar dari matanya. Di sampingnya, sosok Hermione tampak sedang menahan hawa dingin yang tengah menggigitnya. Gadis berambut kecoklatan itu sesekali menggosokan kedua telapak tangannya, berharap hal itu akan berpengaruh pada kehangatan tubuhnya yang kini sangat minim.
"Kau bisa mati kedinginan kalau terus menahannya seperti itu." Ucap Draco sambil menarik salah satu pergelangan tangan milik Hermione dan memasukkan tangannya ke dalam saku mantel hangatnya. Hermione menggigit bibir bawahnya, terlalu gengsi mengakuinya tetapi tak mau pula menarik tangannya. Entah sejak kapan perlakuan Draco yang baik menjadi sesuatu yang normal di matanya. Pemuda itu memang menyebalkan, sangat menyebalkan malah. Tapi Hermione akui kalau Draco adalah seorang 'kekasih' yang baik, meski hanya untuk sebuah dare konyol yang mereka dapatkan sebulan yang lalu.
Ah, bahkan dirinya baru ingat kalau hari ini adalah hari tepat mereka mendapatkan dare itu sebulan yang lalu. Waktu berjalan begitu cepat dan baik dirinya maupun Draco sama sekali tak menyadari kalau mereka telah melakukan dare itu selama sebulan penuh. "Terimakasih dan—" Hermione menghentikan kata-katanya, berusaha untuk tak menyesali perkataan selanjutnya yang akan keluar dari bibirnya. "—selamat satu bulan hari 'jadi' kita, Malfoy."
Untuk sesaat, pemuda keturunan Malfoy itu membeku di tempatnya. Bola mata nya menatap lurus ke arah Hermione dengan pandangan tak percaya. Otaknya bekerja keras untuk mencerna apa yang baru saja ia dengar, meyakini kalau ia sama sekali tidak salah dengar barusan dan kalimat itu benar keluar dari bibir seorang Hermione Granger yang ada di hadapannya. Lalu sedetik kemudian sebuah seringaian terbentuk di wajah tampannya. "Kau ini menyukaiku ya, Granger? Mengakulah."
Kalimatnya barusan sukses membuat wajah partner berbeda gender yang ada di sampingnya memerah sempurna. "Tidak! Tentu saja aku tidak menyukaimu! Aku hanya sekedar iseng mengucapkannya! Jangan berbicara hal bodoh, Malfoy!" Teriak Hermione tak terima, sambil berusaha meyakinkan Draco. Sayang sekali ekspresi wajahnya mengkhianati kalimatnya.
"Ah, benarkah? Aku meragukan hal itu, Granger."
"Jangan banyak berharap, Ferret idiot. Sampai kapanpun aku tak akan mungkin jatuh cinta kepadamu."
"Yakin?"
"Yakin! Argh, aku benci kau, Ferret!"
"Hm, aku mencintaimu juga, Beaver."
"Malfoy!"
"Forget the risk, and take the fall. If it's meant to be, then it's worth it all." -Tumblr
Suara kretek yang diciptakan dari kayu yang dibakar di perapian terdengar begitu mendominasi di ruangan itu. Aroma cokelat panas yang dibuat oleh Hermione semenjak 10 menit yang lalu masih menguar jelas, membuat ruangan itu berbau harum. Di pojok ruangan, terlihat sosok Hermione Granger yang tengah berkutat dengan buku di tangannya sementara tak jauh darinya sosok Draco Malfoy kelihatannya sedang sibuk sendiri pula dengan buku berjudul 'Strategi Quidditch Masa Kini'.
Suasana begitu hening sampai akhirnya suara Hermione memenuhi ruangan. "Kau tak lapar, eh Malfoy?" tanyanya. Sejujurnya, ia cukup lapar sekarang tapi sungguh tak sopan bagi dirinya untuk makan sendiri sedangkan ada Draco di rumahnya. Terakhir kali ia makan adalah pagi ini, saat sarapan bersama di Hogwarts. Dan karena ia bersama Draco seharian, bisa dipastikan kalau pemuda itu sama laparnya dengan dirinya sekarang.
"Lumayan. Kau sendiri?" jawab Draco tanpa mengalihkan pandangannya dari lembaran-lembaran bukunya.
"Sama."
Sedetik kemudian, Hermione bangkit dari posisi duduknya yang nyaman dan berlalu untuk mengambil syal beserta mantel juga sarung tangannya. Gerakannya itu sukses membuat sang pangeran Slytherin mengalihkan pandangannya dari bukunya, menatapnya dengan pandangan heran. "Kau mau kemana, Granger?"
"Berbelanja untuk memasak makan malam, tentu saja. Aku tak mau membiarkan kita berdua tidur dengan perut kelaparan malam ini. Kau mau ikut atau di rumah saja? Aku tak keb—"
"Aku ikut. " Sebelum sempat memberi Hermione kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya, pemuda berambut pirang platina itu keburu bangkit dari duduknya, menyambar mantel beserta perlengkapan musim dingin miliknya yang lain.
"Jaraknya lumayan jauh lho." Goda Hermione.
"Aku ikut."
"Udaranya dingin lho."
"Aku ikut."
"Salju sedang turun lho."
Draco melayangkan pandangan bosannya pada partnernya yang berada tepat disampingnya. "Aku ikut, Granger. Terserah diluar sedang ada badai salju, atau supermarket itu berjarak 100 km dari sini, atau suhu nya minus derajat celcius, atau ada seribu Pansy Parkinson yang tiba-tiba menyerang rumah kita, aku akan tetap ikut menemanimu pergi. Okay?"
"Baiklah. Tapi—" Entah untuk keberapa kalinya, Hermione berusaha mematahkan keinginan Draco.
"Granger…" Draco mendesah malas.
"Okay, okay!"
.
.
"Kau mau makan apa malam ini, Malfoy?" Hermione Jean Granger memutar kedua bola matanya untuk kesekian kalinya ketika didapatinya beberapa pengunjung masih senantiasa menatap Draco dengan pandangan terkagum-kagum. Norak, begitulah kiranya isi pemikiran Hermione. Entah kenapa mood nya jadi cukup jelek berkat segerombolan gadis kelebihan make up yang baru saja beberapa menit lalu melayangkan tatapan menggoda kepada 'kekasih'nya. Kalau saja dirinya tak menarik Draco duluan, Hermione yakin gadis-gadis itu pasti masih setia menatap penuh puja si ferret idiot satu ini.
Sementara itu, Pangeran Slytherin kita satu-satunya, yang sejak tadi menjadi pusat perhatian, sama sekali tak menyadarinya. Atau mungkin memilih untuk berpura-pura tidak menyadarinya—karena ia masih penasaran dengan reaksi yang diberikan oleh partner Ketua Murid nya. Entahlah.
"Hm, pasta kedengarannya tak terlalu buruk. Well, apapun mungkin tidak terlalu buruk. Yang jadi permasalahannya adalah… apakah kau—" Pemuda berambut pirang platina itu menyeringai sembari melirik sosok Hermione yang ada di sampingnya, "—bisa memasak atau tidak?"
Bola mata cokelat madu milik Hermione membalas tatapan Draco dengan tatapan sinis. "Fine, mungkin tak ada salahnya membiarkan ferret idiot sepertimu kelaparan untuk semalaman penuh." Lalu kedua kaki jenjangnya melangkah pergi, meninggalkan seorang Draco Malfoy yang terlihat cukup panik berkat ancamannya barusan.
"Whether or not you write well, WRITE BRAVELY." -Bill Stout
Kedua sosok yang tampak kontras berbeda warna rambutnya itu tengah berjalan beriringan, tak terlalu peduli dengan tatapan-tatapan yang tertuju pada mereka. Ah, atau mungkin lebih tepatnya pada sosok pemuda tegap bersurai pirang platina yang sedang membawa sebuah kantong cokelat berisi belanjaan sambil sesekali mengajak ngobrol gadis di sampingnya—yang tentu saja tak jarang hanya membalasnya dengan memutar bola mata, khas dirinya.
"London tak terlalu buruk, Granger." Ucap Malfoy.
Hermione melirik malas ke arah pemuda di sampingnya, "Yeah, tentu saja. Tak terlalu buruk karena penggemar-penggemar mu bertebaran disini." Jawabnya.
"Apa maksudmu? Penggemar?" Draco mengerutkan dahi nya tak mengerti. Partner berbeda gender nya itu entah kenapa tiba-tiba bersikap tak enak kepadanya sejak mereka menginjakkan kaki di supermarket tadi. Apakah ia berbuat sesuatu yang salah lagi? Apakah Hermione masih marah karena ejekannya tadi? Tapi rasanya konyol kalau gadis itu mau memikirkan soal ejekannya yang biasanya selalu gadis itu biarkan layaknya angin yang berlalu. Lantas kira-kira apa yang membuat gadis itu jadi begitu dingin kepadanya?
"Jangan berpura-pura tidak tau, Ferret. Kau jelas sadar kalau sedari tadi puluhan gadis dengan bedak setebal 2 cm dan lipstick merah yang seolah-olah glow in the dark itu menatapmu dengan tatapan 'buas'."
Kedua bola mata keabu-abuan milik Draco menyipit, mencoba mencerna kalimat milik Hermione barusan, sebelum pada akhirnya pemuda itu mengulum senyumnya. "Kau… tidak sedang cemburu kan, Granger?"
Langkah kaki Hermione terhenti tiba-tiba, menatap sosok Draco dengan pandangan tak percaya dan nyaris tertawa. "Bermimpilah setinggi langit, Draco Lucius Malfoy."
.
.
Ginerva Weasley tengah asyik-asyik membantu Ibu nya di dapur ketika tiba-tiba ia teringat akan sahabatnya, Hermione Jean Granger. Malam ini adalah malam natal, dan ia sungguh tak yakin apakah sahabatnya itu mau menghabiskan malam natal nya bersama musuh abadinya, Draco Malfoy. Tetapi, dahinya mengernyit, tanda kalau ia sedang berpikir keras. Tak dihiraukannya Molly Weasley—Ibu nya—yang sibuk berjalan kesana-kemari menyiapkan makan malam. Seorang Ginerva Weasley punya spekulasi hebat di otaknya sekarang, dan suara teriakan seorang Molly Weasley tak bisa menghentikan derap langkah kaki cepatnya ke arah pintu keluar
"Harry!" Ia berteriak sembari menggaet lengan kekasih berkacamatanya itu yang nyaris terjungkal ke belakang akibat ulahnya. Entah sejak kapan, di samping Harry, sosok Ron memutar kedua bola matanya, persis seperti yang sering dilakukan oleh Hermione. Ah, mungkin efek terlalu lama bersahabat dengan gadis jenius itu.
Harry tertawa pelan ketika dilihatnya Ginny tersenyum lebar kepadanya. Tetapi, secepat ia tersenyum, secepat itu pula ekspresi horror tercetak di wajahnya ketika bibir Ginny bergerak, mengatakan kalimat yang seakan-akan terdengar slow motion di telinganya.
"Kita harus membuntuti liburan Hermione dan si Ferret Malfoy itu!"
Oh shit.
.
.
Semarak natal terlihat jelas di London pagi ini. Dimana-mana terpasang dengan rapih hiasan-hiasan natal seperti hiasan daun holly yang ada di depan pintu rumah keluarga Granger. Hermione telah memasangnya pagi-pagi, tentu saja dengan senyuman lebar di wajahnya. Pohon natal sudah terhias indah di dalam rumahnya, dengan puluhan cahaya kelap-kelip yang mengelilingi dedaunan hijaunya. Semuanya sudah siap, kecuali satu hal. Ia sama sekali tak menyiapkan hadiah apa-apa untuk Draco, sosok yang sudah sebulan terakhir ini selalu berada di sampingnya, dan sejak 2 hari yang lalu berlibur di rumahnya. Apa kira-kira yang disukai si Ferret idiot itu? Haruskah ia membeli makanan pellet untuk Ferret yang dijual lengkap di toko-toko hewan? Tidak, tidak, ia tidak setolol itu untuk memberikan seorang Draco Malfoy sekantong pellet makanan hewan.
Hermione sedang berpikir keras, saat sosok Draco masuk ke ruangan tengah, tempat gadis itu duduk bersama dengan cokelat panasnya.
"Memikirkan aku, Granger?" Tanya Draco yang dibalas dengan dengusan oleh Hermione.
Bagaimana? Bagaimana caranya ia membeli hadiah untuk seorang Draco Malfoy? Atau mungkin lebih tepatnya, kenapa ia harus repot-repot membeli hadiah untuk pemuda itu?
Entahlah, Hermione sepertinya harus sering-sering mengecek kesehatan pikirannya.
"Kenapa kita harus jalan-jalan keluar? Kenapa kita tidak bersantai di dalam rumah saja sambil memakan cookies dengan tenang?" Draco Malfoy menyipitkan matanya keberatan. Tiba-tiba saja Hermione menyuruhnya berganti baju dan mengajaknya keluar, menyeretnya ke tengah-tengah keramaian kota London yang padat meski hari ini malam natal. Padahal ia sedang sangat ingin menghabiskan bacaannya, 'Strategi Quidditch Masa Kini' yang telah ia tinggalkan semenjak ia pergi ke supermarket dua hari yang lalu.
Di sampingnya, Hermione menggigit bibir bawahnya. Ia tak mungkin mengatakan dengan terang-terangan di wajah Malfoy, "Aku sedang ingin mencari hadiah yang tepat untukmu, so shut up, Malfoy." Tidak! Itu adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan di dunia ini setelah menikah dengan Voldemort.
Maka Hermione kembali berusaha memutar otak jeniusnya. Pasti di sudut rak perpustakaan otaknya yang berdebu, ada panduan bagaimana caranya mendiamkan seorang pemuda yang sedari tadi tak henti-hentinya bertanya.
"Aku sedang mencari hadiah untuk Ginny, Harry, dan Ron, Malfoy." Jawab Hermione tenang setelah beberapa menit berlalu. Untuk sesaat, ia berterimakasih kepada Ginny, sahabatnya, yang selalu hebat dalam masalah membuat alasan lain.
Draco mendesah malas. Untuk apa ia membuang-buang waktunya hanya untuk ikut memilih hadiah yang cocok untuk tiga orang idiot itu. Jangan protes, karena bagi Draco, semua orang yang bukan Slytherin adalah orang idiot, terkecuali Hermione—yang terpaksa harus ia akui kalau gadis itu jenius, meski tak sejenius dirinya. Rasanya ia ingin sekali berbalik pulang ke rumah kalau saja ia tahu dimana letak arahnya. Jadi, mau tak mau pemuda itu mengekori sosok Hermione yang terlihat sibuk melihat-lihat kesana kemari.
"Carilah sesuatu yang kau sukai, Malfoy. Aku akan menunggumu disini." Hermione menatap iba Draco yang sedari tadi tak henti-hentinya mengikuti dirinya. Tetapi bukan salahnya juga kan? Toh, ini kan juga untuk hadiahnya.
"If you want to be a writer, you MUST do two things above all others: READ a lot & WRITE a lot." -Stephen King
Hari berjalan dengan cepat ketika sosok Hermione melangkah keluar dari salah satu toko hadiah yang ada di London. Bola matanya menatap ke sekeliling, mencari sosok lain yang seharusnya berada di depan toko yang baru saja ia masuki tadi. Ia baru saja hendak menggumam tak jelas, saat kedua bola matanya menangkap sosok Draco Malfoy yang tengah berjalan santai ke arahnya. Ia heran. Pemuda itu sama sekali tak ada niatan untuk membeli hadiah untuk kawan-kawan Slytherinnya. Maka karena itu, Hermione tak berharap banyak kalau pemuda itu akan membelikanny hadah natal.
"Darimana, Malfoy?" Tanya Hermione penasaran.
"Hanya iseng berjalan-jalan." Jawab Draco singkat. Dilihatnya beberapa kantong belanja yang ditenteng oleh Hermione, lalu mengambil dua diantaranya yang terlihat paling berat. "Sudah selesai?"
Hermione mengangguk. Gadis bermata cokelat madu itu mengangkat salah satu pergelangan tangannya, mengecek jam. Waktu sudah menunjukan pukul 2 siang dan ia sadar kalau mereka berdua sama sekali belum makan apapun kecuali cookies pagi ini. Sedikit, ia merasa bersalah karena memikirkan kemungkinan Draco kelaparan. Draco tampaknya sering kali kelaparan semenjak berlibur dengannya, berkat kebiasaannya yang sering lupa waktu.
Mungkin tak ada salahnya sekali-kali mengajak pemuda itu makan diluar. Mungkin pemuda itu akan senang, dan rasanya tak dosa sama sekali untuk membuat seorang Draco Malfoy senang. Hermione tak mau pula kalau pemuda itu jadi kurus seketika hanya karena berlibur dengannya. Entah apa komentar kedua Malfoy senior nantinya.
Jadi, Hermione berusaha memerkan senyuman terbaiknya, membuat Draco menoleh keheranan pada gadis itu. "Ayo kita makan diluar, Malfoy! Aku tau tempat Fish and Chips yang enak!" katanya girang. Sedetik kemudian, keduanya berjalan beriringan tanpa menyadari 3 pasang sorot mata yang menatap mereka dengan tatapan intens. Atau mungkin lebih tepatnya hanya sepasang mata yang menatap begitu intens sementara yang dua lainnya hanya menatap dengan tatapan malas, meski tak bisa menyembunyikan rasa penasaran mereka juga.
"Aku tau kalau mereka pasti sudah berkencan secara real sekarang. Ya kan, Harry? Ron?"
.
.
Malam natal kali ini mungkin adalah malam natal satu-satunya milik Hermione yang begitu hening—meskipun setidaknya tidak semencekam ketika ia sedang berperang melawan Voldemort tahun lalu dan menghabiskan malam natalnya bersama Harry. Suara nyanyian pujian sesekali terdengar sayup-sayup dari gereja yang berada tak begitu jauh dari rumahnya. Kaus kaki berwarna merah dan hijau menggantung cantik di perapian miliknya, yang senantiasa mengeluarkan bunyi kretek halus dari kayu bakarnya.
Khusus malam ini, Draco dan dirinya bisa makan enak karena ia membeli seekor ayam utuh—berkat dirinya yang menolak kalkun karena merasa kalkun terlalu banyak untuk dihabiskan berdua saja dengan Draco—tadi siang setelah makan Fish and Chips yang lezat bersama.
Setelah makan, ia dan Draco menghabiskan waktu di teras, menatap gugusan-gugusan bintang yang tampak berkilau malam itu, tak terlalu peduli dengan hawa dingin yang menusuk kulit. Semuanya berjalan begitu indah, begitu jauh dari perkiraan Hermione. Ia pikir ini mungkin akan menjadi malam yang membosankan sampai ia mengira ia akan tertidur duluan sebelum pukul 12 malam, tepat ketika bel gereja berdenting kerasnya, menandakan natal telah tiba. Tetapi ternyata semua dugaannya salah. Ia benci mengakui ini, tapi menghabiskan natal bersama seorang Draco Malfoy tidaklah seburuk yang ia kira.
"Hei Granger." Panggil Draco tiba-tiba ketika dirinya tengah sibuk menonton televisi yang menampilkan tayangan-tayangan bagus pada malam natal. Hermione menoleh, mendapati sosok Draco Malfoy yang sedang menyodorkan sebuah hadiah berbentuk kotak kecil di depan wajahnya.
"Aku tak tau apa yang kau suka, tapi mungkin kau akan suka ini." Katanya santai sembari menghempaskan tubuhnya diatas sofa, disamping Hermione. Bola matanya keabu-abuannya kelihatan fokus menatap layar televisi yang ada di hadapannya.
Sementara Draco menonton dengan santainya, Hermione sendiri malah melongo tak percaya menatap hadiahnya yang baru saja diberikan oleh Draco kepadanya. Tangannya bergetar, tampak ragu-ragu. "Boleh aku membukanya?" Gadis berambut semak itu bertanya dengan aneh. Ini hadiahnya, jadi tentu saja ia boleh membukanya! Bodoh.
Setelah mendapat respon anggukan dari pemuda yang ada di sampingnya, Hermione membukanya perlahan. Dibalik kertas kado berwarna hijau pasta yang membungkusnya, sebuah kotak beludru berwarna dark green muncul, membuat kedua bola mata madunya membelalak tak percaya. Ia baru saja nyaris tak percaya ketika Draco memberinya hadiah, dan sekarang ia juga nyaris tak percaya ketika ia menatap kotak beludru berwarna dark green yang ada di tangannya.
Hermione membuka kotak beludru itu penasaran, dan rasa penasarannya terjawab lengkap ketika tangannya menyentuh sebuah gelang berbentuk ular yang terbuat dari emas perak. Slytherin sekali, begitu kontras dengan asramanya, Gryffindor. Tapi bukan itu masalahnya. Ini terlalu mahal!
"Kenapa? Kau tidak suka?" Wajah Draco berubah masam, menyadari kalau Hermione sedari tadi tak bersuara dan hanya menatap hadiah nya dengan tatapan layaknya orang tolol.
Hermione buru-buru menggeleng. Ia merasa tak enak karena membuat Draco berpikiran seperti itu. Ia ingin mengucapkan sesuatu, tapi lidahnya semakin kelu ketika tangan-tangan Draco mulai memasangkan gelang itu di pergelangan tangannya. "Kau cocok dengan ular ternyata." Ucap pemuda itu dengan nada yang terdengar begitu puas. Sebuah seringaian seperti biasa terpatri di wajah tampannya.
Otak jenius milik sang putri Gryffindor seketika berhenti bekerja. Ia tak mengerti bagaimana, tapi bisa ia pastikan kalau jantungnya berdegup jauh lebih kencang saat Draco menyeringai ke arahnya. Entah mengapa seringaian yang kiranya selalu menjadi seringai paling menyebalkan sedunia itu menjadi seringaian yang cukup membuat darahnya mengalir deras ke otak. Dirinya baru saja akan berlama-lama memandangi partnernya itu kalau saja ia tak mengingat soal hadiah yang sudah ia siapkan sejak siang tadi.
Dengan gugup, Hermione menyodorkan hadiah berbentuk kotak pula, hanya saja lebih besar dari kotak kalung yang diberikan Draco tadi kepadanya. "Untukmu. Aku juga tak tau kau suka apa, tapi kurasa hadiah ini cukup berguna." Untuk hadiah itu, Hermione terpaksa menguras isi perut dari celengan babi nya, membuat celengan babinya melompong seketika.
Kali ini giliran sang pangeran Slytherin yang terpaku menatap hadiah yang disodorkan kepadanya. Berkali-kali Draco mengerjab-erjabkan kedua bola mata nya, memastikan kalau ia sama sekali tidak bermimpi. Sebenarnya ia sama sekali tak berharap kalau Hermione akan membelikannya hadiah mengingat gadis itu tadi siang berkata ingin membeli hadiah hanya untuk ketiga teman idiotnya. Bahkan sebelumnya ia juga sama sekali tak berniat mengeluarkan uang dari dompetnya yang di kirim oleh Mum nya hanya untuk berbelanja hadiah. Tetapi ia benar-benar tak bisa menahan dirinya untuk tidak membeli gelang ular itu yang terpajang di etalase toko perhiasan yang berjarak sekitar 2 toko dari toko yang sedang didiami oleh Hermione.
"I-ini untukku? Serius? Kau tidak sedang bercanda dan memberikanku hadiah dari tempat Weasleys' Wizard Wheezes kan?" Melihat reaksi Hermione yang memutar kedua bola mata nya seperti biasa, untuk terakhir kalinya Draco yakin kalau hadiah ini bukanlah sebuah lelucon. Maka pemuda keturunan Malfoy itu membuka hadiahnya, lalu beberapa detik kemudian ia terkesiap memandangi sebuah jam tangan berwarna silver mengkilat yang di dalamnya terdapat simbol singa. Ia memasang jam itu di pergelangan tangannya dan sama sekali tak menyangka kalau simbol singa terlihat cocok di dirinya.
"Singa itu cocok berada di tanganmu, Malfoy." Ucap Hermione, menyuarakan pemikiran pemuda itu barusan. Gadis itu tersenyum setelahnya, menyentuh gelang ular yang melilit pergelangan tangan kirinya dengan sempurna. "Selamat natal, Draco Malfoy."
Draco sendiri yakin kalau wajahnya pasti terlihat seperti orang tolong saat ini. Dan untuk pertama kalinya, ia sepertinya tak terlalu peduli. Ia bahagia hari ini. Terlalu bahagia untuk yang bisa dirasakannya selama bertahun-tahun. "Selamat natal, Hermione Granger."
.
.
TO BE CONTINUE
HEY I JUST MET YOU, AND THIS IS CRAZY
BUT HERE'S MY FICTION, SO REVIEW MAYBE? ;)
DON'T BE A SILENT READER
"The secret of being a writer: not to expect others to value what you've done as you value it. Not to expect anyone else to perceive in it the emotions you have invested in it. Once this is understood, all will be well." -Joyce Carol Oates
A/N: Akhirnya saya berhasil update juga setelah sekian lama nya fic ini terbengkalai. Saya mohon maaf kalau ada yang sudah bosan menunggu fic ini, tapi saya berterimakasih sebesar-besarnya kepada kalian yang masih setia menunggu fic ini. Tadinya saya mau update fic ini disaat malam natal, tapi ternyata saya sudah diseret lebih dahulu ke Lampung sehingga terpaksa meninggalkan dokumen-dokumen saya di Jakarta. Intinya, semoga kalian menyukainya ya! :)
BIG THANKS TO:
Druella, Riri26, Reina, Uulill, Destin Merry, MichelleOey, Caca, DraconisChantal, Blizzard19, Obind Granger, Viselle, Ran, Just Ana, Tsurugi De Lelouch, Ochan Malfoy, Zheexo, GiaMione, Skyesphantom, Fuuchi, Guest, Ridiculous Aura, Orang Cakep, Atacchan, Imas, Yanchan, KsarmilaH, Syamanti, Athena99, AureLiaStuff, Marissa Freena, Ryunkzhi, Dheeviefornaruto19, Megu Takuma.
REVIEW, FAV, DAN FOLLOWING DARI KALIAN ADALAH KEKUATAN SAYA UNTUK MENULIS :)
Terimakasih juga untuk kalian yang sudah membaca La La Love dan memutuskan hanya untuk menjadi silent reader. Semoga kalian dapat pencerahan supaya mau ngereview hehehe *dihajar
