"Lagi-lagi begini." Cecyl sudah lebih dari terbiasa mendapati Dino ada di sampingnya atau memeluknya ketika membuka mata. Kalau begini sungguh percuma mereka menyewa kamar dengan 2 tempat tidur "Boss, kau sungguh menyebalkan."

Masih jam 7 sehingga gadis itu membiarkan Dino tidur lebih lama sementara dia memesan sarapan dan melanjutkan pekerjaan yang tertunda semalam. Diacuhkannya ponselnya yang terus menerus berdering karena kakaknya menelepon. Paling dia mau tahu mereka ada di mana dan datang membuat keributan. Sarapan datang setengah jam kemudian, Dino sendiri sudah bangun -dengan lemparan map- dan melangkah ke kamar mandi dengan mata setengah tertutup, sempoyongan.

"Hum...kita ke Vongola? Bukannya kita mau ke Shimon Famiglia?"

"Tsuna bilang lebih baik lakukan di tempatnya karena Enma dan Byakuran malah datang ke tempatnya pagi ini."

"Kalian sungguh Boss yang seenaknya."

"Yang penting kan pekerjaan kami selesai." itu benar sih, tapi Cecyl lebih berharap punya boss yang normal.

"Arg, jangan ikuti aku!"

"Mukuro! Aku tak terima surat pengunduran dirimu! Hibari-san cegat dia!"

"Aku tak perduli! Hibari sekalipun takkan bisa menghentikanku!"

"..." Hibari tak melangkah dari tempatnya, senyum tipis malah menghiasi wajahnya karena bossnya kesulitan menghadapi mist guardian mereka. Sesekali membiarkan mereka ribut seperti ini bukan hal jelek.

"Hayato, Takeshi!" sayangnya mereka juga tak mau menolong.

"...maaf Jyuudaime."

"Tsuna...kau seharusnya minta maaf pada Mukuro."

"Tiada maaf baginya!" jerit Mukuro kesal. Pertarungan tangan kosong pun terjadi antara Mukuro dan Tsuna, dari sisi penonton terlihat Tsuna berusaha menghindar tanpa menyerang titik fital. Dino dan Cecyl terpana melihat pertengkaran Boss besar Vongola dengan Mist Guardiannya. Begitu masuk ke main hall Vongola HQ, mereka malah melihat Don Vongola mengejar Mist Guardiannya yang kelihatan marah. Sepertinya mereka bertengkar karena hal yang cukup gawat sampai Mukuro minta berhenti, yah itulah perkiraan Cecyl.

"Bronco!" Mukuro menghampiri Dino "Aku boleh bekerja denganmu?!"

"Eh? Aku tak masalah, tapi kau kan Guardiannya Tsu-"

"Dia boss brengsek!"

"Mukuro! Aku minta maaf!" Tsuna tampak panik, bahkan tampangnya menyedihkan. Masa laki-laki berusia 26 tahun menangis hanya karena bertengkar dengan anakbuahnya?

"Sudah kubilang tiada maaf bagimu!"

"Anda bertengkar?"

"Cecyl, dia itu seenaknya menggunakan kedudukan boss untuk mengaturku!" adu Mukuro pada sang brunette.

"Aku juga mengalami hal yang sama."

"Kau juga?" Cecyl menggenggam tangan Mukuro "Kita senasib...punya boss yang tak berperasaan."

"Hoi, hoi, jangan jadi lesbi ya!"

"Mukuro!" kedua boss tak berguna itu tampaknya tak bisa merebut hati bawahan mereka dengan mudah dalam kasus cinta.

Helpless, Enma dan Byakuran yang sejak tadi menonton tertawa terpingkal-pingkal sampai sakit perut melihat kedua boss bodoh dicampakkan. Bahkan Hibari pun jelas menahan tawa, Yamamoto menggaruk kepalanya yang jelas tak gatal, Gokudera menatap Bossnya dengan pandangan mengasihani.

"Cecyl, kau pergilah bersama Mukuro. Temani dia sampai kami selesai." sang brunette mengangguk.

"Nona Mukuro?"

"...kalian membela baka Tsuna ya."

"Uhm...tidak. Aku tak ada niat membela Vongola Decimo. Hanya saja ini pekerjaan penting jadi tolong tahan diri hingga rapat selesai. Setelah itu anda boleh melakukan apa saja setelah rapat selesai. Oh iya, aku bawa cake. Kita makan bersama?"

"Aku minta!" Byakuran menghampiri Cecyl "Ada yang pake marsmallow?"

"...Sachetorte dengan marsmallow."

"Buatku!" Cecyl hendak memberikannya pada Byakuran sayangnya Enma mendahului mengambil kue itu "En-chan!"

"Kerja dulu baru makan. Tolong simpan kue ini. Dilarang memberi hadiah hewan peliharaan kalau mereka tidak melakukan apapun dengan benar."

"En-chan~ aku mau kueku!"

"A-ah, kita pergi yuk, Nona Mukuro?"

"Hm..." Mukuro mendahului untuk menunjukkan dimana kamarnya.

"Aku bukan peliharaan!" rengek Byakuran yang diacuhkan Enma.

Tsuna kecil mulai berlari keliling lingkaran dalam kepala sang Vongola Decimo. Setelah rapat dia masih harus menghadapi urusannya dengan Mukuro "Dino-san!"

"Maaf Tsuna." Hibari menyeret Tsuna ke ruang rapat, hal yang sama dilakukan Enma pada Byakuran, Dino, Gokudera dan Yamamoto mengikuti dibelakang.

.

.

.

.

.

"Apa Dino pernah masuk seenaknya ke kamarmu tanpa ijin?" tanya Mukuro sembari memakan coklat velvetnya.

"Tidak." mau gimana jawabnya? Mereka tidur sekamar jadi tak bisa dibilang masuk tanpa ijin, toh itu kamar Dino.

"Kalau mengintip saat mandi?"

"Juga tidak." Dino memang tak pernah melakukannya. Bahkan nurut saja untuk keluar kamar atau berbalik jika Cecyl akan ganti baju, yah...kecuali waktu Casandra datang dia ganti baju di depan Dino jadi tak masuk hitungan ngintip.

"...ternyata dia lebih alim."

"Memangnya Vongola begitu?"

"...baru beberapa waktu ini dia jadi berengsek."

"Dia suka padamu." Mukuro mendeathglare Cecyl "Kelihatan kok."

"Dia juga bilang begitu, tapi kelakuannya sungguh kurang ajar!"

"Maksudnya cari perhatian?"

"Cari masalah untuk mati." ralat Mukuro yang disertai Sweatdrop di kepala Cecyl "Kau ada masalah dengan Dino?" dijawab gelengan "Tapi kau murung."

"Bukan dengan boss."

"...pinjam tanganmu." sang brunette mengulurkan tangan kanannya, gadis itu agak kaget karena tangan Mukuro dingin "Ah...dia sangat memanjakanmu, tapi kenapa kau tak mau?"

"..."

"Aku pasti takkan melepaskan Haneuma, apa lagi pada kakakmu itu."

"Cukup, jangan lihat lagi!" Cecyl menarik tangannya dengan paksa "Sebanyak apa yang anda lihat?"

"Hingga kau mencampakkan pacarmu." Mukuro melahap potongan terakhir kuenya "Bagus kau melakukannya, dia bukan laki-laki yang cukup baik untukmu."

"..."

"Apa sebegitu bencinya pada Haneuma?"

"Aku...tidak membencinya. Hanya saja soal cinta juga tak ada."

"Bukan berarti tidak mungkin kan?"

"Kalau anda dan Decimo?"

"Jangan mengalihkan pembicaraan!"

.

.

.

.

.

"Jangan pergi!" yah, keadaan kembali ke semula begitu rapat selesai. Malah lebih parah karena Tsuna, sang Vongola Decimo minta maaf sambil menyembah pada mist guadiannya sendiri.

"Memangnya aku bisa pegang janjimu?"

"Aku janji takkan masuk kamarmu sembarangan tanpa mengetuk pintu!"

"..." Dino dan Cecyl makin bingung karena kedua orang di hadapan mereka itu bagai majikan dan pelayan yang bertukar peran.

"Apa sebaiknya kita pulang?" gadis di sampingnya mengangguk "Tsuna~"

"Hm, sudah mau pulang?"

"Hey Haneuma. Jika Vongola macam-macam lagi, aku akan culik Cecyl dan pergi bersamanya!"

"Culiklah aku nona Mukuro!"

"Kok begitu?!" Dino melempar deathglare -untuk pertama kali- pada Tsuna. 'Kalau sampai kejadian, aku takkan peduli kau itu adikku!' Tsuna merinding memikirkan apa yang akan terjadi padanya nanti.

"Permisi, saya mencari Nona Mukuro." Suara ketukan membuat keempat orang yang ada di dalam kamar Mukuro. Cecyl tampak membatu mendengar suara yang sangat dia kenal, tanpa disadarinya dia mengamit lengan Dino.

"Migelle, kau membawa laporan yang aku minta?" Dino pun akhirnya menyadari sebabnya setelah melihat siapa yang memasuki ruangan. Migelle Spencer yang belum lama ini ditemuinya di acara Reuni SMA Cecyl kini malah ada di depannya, di Vongola HQ,

"Oh, maaf aku tak tahu anda ada tamu." Wajah laki-laki itu tampaknya tidak terkejut melihat Dino dan Cecyl. Dino tak berharap dia akan bertemu dengan mantan pacar tunangannya dengan waktu dekat apa lagi orang itu ada di tempat yang sering mereka kunjungi.

.

.

.

.

.

TBC