~~(。´-д-)。o○Zzz。o○(。`・д・) ハッ!

Bagian terakhir dari niatnya-oneshot ini.

Disclaimer: Characters © Crypton Future Media, AH Software, Internet, 1st Place, Yamaha, i-style Project.


The Researcher

Part Three


"Selamat ulang tahun, Rin!" seru ibuku saat ia melihatku keluar dari kamarku.

"Terima kasih banyak, Ibu!" jawabku sambil tersenyum lebar, kemudian aku menghampirinya untuk memeluknya.

"Sekarang 17 tahun, ya?" kata Ibu sambil memelukku. "Kalian ini memang cepat besar, ya? Tahun depan Rin juga akan menginjak kelas tiga kemudian pergi kuliah!"

"Iya, memang," jawabku. "Tapi hari ini giliran Len-sOnii-san; dia yang berada di kelas tiga dan akan pergi kuliah."

"Benar juga," gumam Ibu. "Kau tahu, Len itu sangat bekerja keras untuk mencapai apa yang ingin dia capai. Selalu bersemangat, pantang menyerah, dan… Bukannya Ibu ingin membanding-bandingkan Len denganmu, Rin, tapi kakakmu itu adalah contoh yang baik."

Aku mengangguk pelan, "Aku tahu itu." Kalau Len tidak seperti itu, aku tidak akan merasa sekagum ini padanya; pada kakakku.

Kemudian Ibu kembali berbicara, "Apakah kau bangun sepagi ini untuk bersiap-siap?"

"Ah, bisa dibilang begitu," kataku jujur.

Ibu tertawa mendengarnya, "Aku tahu itu, kau 'kan tidak seperti Len yang baru akan bersiap-siap di lima menit terakhir. Tapi Ibu mengerti, perempuan memang lebih memerhatikan penampilan. Ya, sudah, bersiap-siaplah. Kita akan pergi jam sebelas."

Selama berjam-jam, aku mengurung diri di kamarku tanpa sekalipun menampakkan batang hidungku di luar, kecuali tadi pagi saat aku membutuhkan kamar kecil yang itu pun hanya dilihat oleh Ibu. Namun bukannya aku terus-terusan berdandan, aku justru berjalan mondar-mandir di kamar dengan kado yang terbungkus rapi di tangan—gulungan kabel headphone berbentuk pisang yang dibungkus dengan sebuah kotak dan dibalut dengan kertas kado berwarna emas—sambil sesekali berhenti dan melakukan sebuah gerakan. Pertama-tama, kado yang sudah kupegang dengan kedua tangan ini kujulurkan ke depan, kemudian aku menundukkan kepalaku sedikit ke bawah, dan berkata, "Sudah lama aku ingin memberikanmu kado, namun aku masih belum bisa menemukan apa yang akan kausu…akkai… Salah lagi."

Sulit untuk mengeluarkan kata-kata itu.

Benar, aku sedang berlatih untuk memberikan kado kepada Len. Memang terdengar bodoh, namun jika tidak kulakukan, kemungkinan besar aku akan mengacaukan segalanya karena gugup.

"Rin, ayo keluar! Kita akan berangkat sekarang," suara Ibu sayup-sayup terdengar dari luar. Dengan segera aku melempar pandanganku ke jam yang tertempel di dinding—sudah jam sebelas. Secepat itukah waktu berjalan? Rasanya aku belum cukup latihan. Tetapi mau bagaimana lagi? Aku memasukkan kadonya ke dalam tasku dan berjalan ke luar kamar. Seketika aku disambut oleh ketiga anggota keluargaku, yang semuanya menaruh pandangan padaku. Tapi tentu saja yang paling menarik perhatianku adalah Len; walaupun ia hanya mengenakan kemeja lengan panjang biasa, entah kenapa ia tetap terlihat bagus. Dan karena itu aku terus-menerus memandanginya tanpa henti, sampai aku menyadari bahwa ia juga memperhatikanku dari balik kacamatanya. Dengan terburu-buru aku mengalihkan perhatianku.

"Kerja yang bagus, Rin! Kau terlihat lebih cantik dengan pakaian itu!" seru Ibu saat melihatku. "Yuu, kau juga berpikir begitu, 'kan? Oh, dan tentu saja Len juga!"

"Hahaha, benar Ia, anakmu itu terlihat sangat cantik," kata Ayah sambil tertawa. Di saat yang sama aku melihat Len mengangguk pelan tanda setuju dari ujung mataku.

"Ah, terima kasih," kataku sedikit tersipu. Bagaimanapun, mendengar pujian seperti itu terasa aneh.

"Kalau begitu apa lagi yang kita tunggu? Ayo bergerak."

Setelah Ayah memberikan komando tersebut, kami mulai bergerak mengambil mantel masing-masing kemudian mulai meninggalkan rumah. Lapis' Place terletak tidak jauh dari rumah, sehingga kami memutuskan untuk berjalan kaki. Ibu dan Ayah berjalan berdampingan, dan aku tidak mempunyai pilihan lain selain berjalan di samping Len. Sayup-sayup terdengar suara obrolan Ibu dan Ayah. Entah apa yang mereka bicarakan, namun terdengar menyenangkan.

Aku melirik ke arah Len yang sedang berjalan. Tangannya dimasukkan ke dalam kantung celananya dan ia berjalan sambil melihat ke bawah, entah apa yang sedang ia pikirkan. Melihat hal tersebut, aku tergerak untuk mengajaknya bicara. "Um…"

"Ya?" ia memutar kepalanya saat mendengarku mengatakan itu.

"Ti… Tidak ada apa-apa," jawabku dengan cepat. Untungnya aku segera menyadari bahwa bukan itu yang seharusnya kukatakan dan cepat-cepat memperbaikinya. "Maksudku, selamat ulang tahun."

Ia membalasku dengan senyuman. "Terima kasih. Selamat ulang tahun untukmu juga, Rin-chan," katanya. "Tidakkah kau berpikir bahwa memiliki tanggal ulang tahun yang sama itu hebat?"

"Um, kupikir begitu. Memang kebetulan yang hebat, ya?" Rasanya aneh berbicara dengan Len seperti ini, tapi memang jika kami tidak berbicara akan terasa lebih aneh.

"Atau mungkin ini takdir?"

Karena suatu alasan yang tidak kuketahui aku mendapati diriku tidak bisa berkata-kata setelah itu, dan kami pun melanjutkan perjalanan dalam kesunyian. Ironis, karena jalanan terdengar sangat riuh. Tak lama kemudian kami sampai ke Lapis' Place, sebuah restoran yang menyediakan berbagai jenis makanan dengan rasa yang memuaskan lidah. Nama Lapis mungkin terdengar tidak ada hubungannya, namun ini diambil dari nama pendirinya.

Kami tidak mengambil waktu lama untuk memilih makanan untuk dipesan. Kemudian sambil menunggu, kami mengobrol sebentar. Ibu yang memulai percakapan, "Rasanya aku jarang mendengar cerita dari kalian berdua. Sekarang, ceritakanlah," katanya sambil melihat ke arahku dan Len. "Mungkin Len terlebih dahulu. Apakah hubunganmu dengan Lily-chan berjalan lancar?"

"Semuanya baik-baik saja, tidak ada masalah sama sekali," jawab Len.

"Hanya itu? Tidak ada hal lain yang ingin kauceritakan?"

"Apa lagi yang perlu kukatakan, memangnya? Mengenai sekolah?" lanjut Len sambil tertawa kecil. "Rasanya cepat juga, sebentar lagi SMA akan selesai."

"Lalu kuliah, ya? Seharusnya kau sudah menentukan ke mana kau akan pergi," kata Ayah.

"Mungkin sudah, mungkin belum. Tapi sejujurnya aku tidak ingin pergi jauh," jawab Len. Aku sudah mendengar pernyataan ini sebelumnya, saat aku menguntitnya dan Lily. Tapi kenapa?

"Apa alasannya? Kenapa tidak mengejar yang lebih jauh?" rupanya Ayah memiliki pertanyaan yang sama denganku.

Len hanya tersenyum, "Sesuatu yang tidak bisa kukatakan."

"Ah, pasti karena Lily-chan, 'kan?" tanya Ibu menggoda. "Ya sudah, apa pun pilihanmu, kami akan selalu mendukungmu—bahkan Rin sekalipun."

"Eh, iya. Itu benar," kataku setengah kaget mendengar namaku tiba-tiba disebut. Bagaimana lagi, aku memang masih memikirkan tentang alasan Len. Kenapa juga ia mengatakan bahwa ia tidak bisa mengatakannya? Rasanya jawabannya bukan karena Lily; kalau memang karena Lily, pasti ia akan mengatakannya secara langsung.

"Rin tidak ingin menanyakan apa pun pada Len?" tiba-tiba Ibu menambahkan. "Sepertinya kalian tidak banyak bicara dengan satu sama lain, ya? Maaf, selama ini Ibu dan Ayah terlalu sibuk bekerja sampai tidak begitu memperhatikan kalian."

"Tidak apa-apa."

"Bukan masalah besar, kok. Kalian juga melakukannya untuk kami, 'kan?"

Aku dan Len langsung menatap satu sama lain saat menyadari kami menjawab dalam waktu yang bersamaan walaupun jawaban yang kami berikan beda; aku menjawab dengan singkat sementara Len memberikan sedikit penjelasan. Kami terdiam untuk beberapa saat, kemudian keheningan tersebut terpecah saat Len membuka kembali mulutnya, "Nah, kami baru saja berbicara di saat yang sama."

Aku yang masih terdiam melanjutkan diamku sejenak sebelum menanggapi, "Kurasa bukan itu yang dimaksud—"

"Yak, Rin-chan menganggapi kata-kataku! Itu berarti kami berbicara dengan satu sama lain," ujar Len dengan semangat, jari telunjuknya mengarah padaku sementara matanya memandang ke arah Ibu dan Ayah. Kemudian ia kembali melihat ke arahku, "Benar begitu, bukan?"

Aku sama sekali tidak menyangka bahwa Len akan mengatakan sesuatu yang seperti itu, dan itu telah berhasil membuatku tertawa kecil. Namun sepertinya bukan hanya aku yang dibuat tertawa; pada wajah Ibu dan Ayah juga terlihat senyuman, seperti menahan tawa. "Len, kau ini lucu," komentar Ibu. "Jadi sepertinya tidak ada masalah dengan hubungan kalian, Ibu tidak perlu membahasnya lebih jauh lagi kalau begini."

Salah paham. Barusan itu kesalahpahaman. Kenyataannya memang ada masalah dengan hubungan kami, tapi Ibu salah menangkapnya—ini semua ulah Len. Tapi aku tidak merasa kesal atau kecewa atau tidak terima dengan hal itu. Jika Ibu mengira bahwa hubungan kami berjalan normal, itu seharusnya merupakan hal yang baik.

Pembicaraan tersebut tidak dilanjutkan karena makanan telah terlebih dahulu dihidangkan. Setelah itu kami makan dengan tenang tanpa suara. Selain itu adalah tata krama, di saat yang sama kami semua menikmati makanan tersebut dengan sebaik mungkin; sampai-sampai tidak ada waktu untuk memikirkan hal lain selain kelezatan makanan. Ini adalah hal yang paling kusukai dari makanan di Lapis' Place, bagiku belum ada yang bisa mengalahkan kelezatan makanan di tempat ini.

Dan pada akhirnya, acara makan-makan selesai. Dan bodohnya lagi aku baru menyadari bahwa aku belum menemukan saat yang tepat untuk memberikan kado kepada Len. Bagaimana kalau misalnya setelah ini Ayah dan Ibu langsung mengajak pulang? Apa gunanya aku membawa-bawa kado ini?

"Sebentar," tiba-tiba Len mengangkat tangannya setelah kami berjalan keluar dari restoran. "Ke mana tujuan kita selanjutnya?"

"Kami akan pulang," jawab Ibu singkat. "Memangnya Len ingin pergi ke mana?"

"Oh, kalau begitu kalian pulang terlebih dahulu juga tidak apa-apa," lanjut Len. "Aku ingin berjalan-jalan sebentar dengan Rin-chan."

Baiklah, dengan itu Ibu dan Ayah akan pulang sementara aku… Tunggu, apakah tadi Len benar-benar mengatakan ia ingin berjalan-jalan denganku? Denganku? Dalam rangka apa? Dan kenapa seakan-akan ia membaca pikiranku dan memutuskan untuk membantuku?

Rupanya aku terlalu tenggelam dalam pikiranku dan ketika aku menyadarinya Ibu dan Ayah telah mengucapkan sampai jumpa nanti dan menghilang dari pandanganku. Dan tentu saja aku telah ditinggal berduaan dengan Len. Sebelum aku dapat berkata apa-apa lagi, Len tiba-tiba menggenggam tanganku dan menarikku pelan, "Ayo, Rin-chan," katanya.

Kami mulai bergerak menjauh dari depan restoran Lapis' Place, dan sepanjang itu aku terus memikirkan kenyataan bahwa kami bepegangan tangan. Tanganku dipegang oleh Len. Dingin, tapi tidak kupermasalahkan; pada akhirnya aku bisa berpegangan tangan dengan laki-laki yang kukagumi—walaupun pada kenyataannya dia adalah kakakku sendiri.

"Kenapa kau tiba-tiba mengajakku pergi? Memangnya ke mana kita akan pergi?" aku memberikan dua pertanyaan sekaligus padanya.

"Tidak tahu; aku hanya ingin berjalan berduaan denganmu," jawabnya. "Bukankah kita sudah lama… Bukan, tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya? Padahal kita telah menjadi kakak beradik sejak 17 tahun yang lalu."

Itu benar. Kami sudah menjadi kakak beradik sejak aku dilahirkan ke dunia ini. Tetapi tidak pernah sekalipun kami melakukan hal ini—berjalan berduaan.

"Mungkin memang salahku, ya? Kita sudah berada di sekolah yang sama sejak SMP, tetapi tetap saja jarang berbicara dengan satu sama lain baik di sekolah maupun di rumah. Aku selalu pergi di pagi hari dan pulang malam. Sama sekali tidak menyimpan kesempatan bahkan hanya untuk melihatmu. Jadi…"

"Bukan salahmu," ujarku cepat sebelum ia bisa melanjutkan kata-katanya. "Aku juga… tidak berani menyapamu walau hanya sebatas 'halo'. Aku takut kau akan menganggapku tiba-tiba ingin akrab denganmu karena sebelumnya kita tidak pernah berbicara dengan satu sama lain."

"Kenapa begitu? Kita ini kakak beradik, seharusnya kita akrab…" suaranya menghilang perlahan-lahan. "Seharusnya aku tidak mengatakan hal itu. Kita memang tidak akrab, dan aku sendiri juga tidak melakukan apa-apa untuk mengubahnya… Hahaha." Len sama sekali tidak tersenyum saat ia mengatakan hal itu. Entah kenapa wajahnya terlihat sedih dan kecewa. "Mungkin aku bukan kakak yang baik di matamu. Atau mungkin kau tidak memandangku sebagai kakak sama sekali?"

Aku terdiam mendengar pertanyaannya. Jika harus jujur, tentu jawabanku adalah aku tidak menganggapnya sebagai kakak. Tetapi entah mengapa aku tidak bisa mengatakannya begitu saja, rasanya itu terlalu kejam untuk dikatakan. Dan sebenarnya aku tidak ingin tidak menganggapnya sebagai kakak, memang harus kuakui bahwa dia adalah kakakku, tidak peduli sejauh apa pun kami menjauh. Tetapi bukankah mengatakan hal yang sebenarnya lebih baik, tidak peduli seberapa menyakitkannya kenyataan itu?

Karena suatu alasan yang tidak dapat kumengerti, aku dapat menjelaskan semuanya dengan terus terang, "Sebenarnya aku memang tidak memandangmu sebagai kakak, namun sebagai kakak kelas yang sangat kukagumi karena kepribadiannya yang sangat baik entah sejak berapa tahun yang lalu. Dari jauh; kau ada di depan, aku memperhatikanmu dari belakang. Selalu," jelasku. "Tetapi, ingat saat kau mengucapkan terima kasih padaku saat aku memberikanmu lensa kontak? Orang-orang yang melihatnya langsung saja menaruh curiga terhadap hubungan kita berdua."

"Oh, saat itu. Apakah pada akhirnya orang-orang membanjirimu dengan pertanyaan?" tanya Len.

"Iya. Apa hal yang sama juga terjadi padamu?" aku balik bertanya, dan Len hanya menjawab dengan memberikan anggukan. "Pada akhirnya aku menyatakan bahwa kau adalah kakakku. Tentu saja orang-orang tidak menyangkanya karena kita sama sekali tidak pernah berbicara dengan satu sama lain sebelumnya. Tapi saat itu memang membuatku sadar bahwa kau memang kakakku; orang yang selama ini kukagumi adalah kakakku sendiri. Kakak yang… tidak pernah ada sebagai seorang kakak."

Tidak ada balasan, Len hanya terdiam setelah aku mengatakan hal itu. Seketika aku merasa ada yang salah dengan perkataanku. Mungkin aku terlalu terus terang dan ia merasa tersinggung oleh kata-kataku. Oh Tuhan, apa yang sudah kulakukan? "Ma—"

"Maaf." Sebelum aku bisa menyelesaikan permintaan maafku, Len sudah terlebih dahulu memotongku dengan mengucapkan permintaan maaf juga. "Aku senang mendengar bahwa kau mengagumiku, tapi apakah kau seharusnya mengagumi kakakmu yang tidak pernah ada ini? Bukan—kau tidak pernah mengagumiku sebagai seorang kakak, 'kan? Maafkan aku, Rin. Itu memang salahku. Aku seharusnya ada sebagai seorang kakak, tapi pada kenyataannya tidak; kuakui itu. Maaf. Aku bahkan tidak tahu apa yang ada di pikiranku. Maaf."

Mengabaikan caranya memanggil namaku—ia hanya memanggil namaku tanpa menambahkan akhiran—dan juga banyaknya kata maaf yang keluar dari mulutnya, aku merasa tertusuk sendiri oleh perkataannya—perasaan bersalah ketika menyakiti seseorang. Ekspresi wajah yang ia tunjukkan menambah perasaan tertekanku; sedih, bersalah, penuh penyesalan, dan rapuh. Sangat rapuh, seakan-akan ia akan mengangis jika 'tersentuh' sedikit saja. Namun itu belum berakhir, Len melanjutkan perkataannya, "Kau bahkan tidak menganggapku sebagai kakak… Apa yang telah kulakukan selama hidupku ini? Hanya memikirkan diri sendiri? Melupakan sebuah fakta bahwa aku memiliki seorang adik perempuan yang seharusnya kujaga, kulindungi, dan kusayangi? Itu sangat keterlaluan—dan apa barusan aku meminta maaf padamu? Setelah 17 tahun aku baru meminta maaf padamu atas perbuatanku selama ini dan berharap kau akan memaafkanku? Seharusnya tidak, tapi aku ingin kau melakukannya. Aku benar-benar… minta maaf."

Lepas.

Mataku membelalak kaget ketika merasakan kehangatan yang tiba-tiba. Len memelukku erat dengan sedikit menunduk, kepalanya disandarkan ke bahuku. Rasanya aneh, aku tidak pernah dipeluk olehnya sebelumnya, dan dapat kukatakan ini terasa nyaman. Tapi kemudian sesuatu menyadarkanku dari kenyamanan tersebut—sebuah suara isakan kecil yang langsung saja kuduga berasal dari kakakku sendiri. Len… menangis? Awalnya aku berpikir bahwa dugaanku salah; Len tidak akan menangis begitu saja, bukan? Namun setelah memperhatikannya, memang, suara itu berasal darinya, dan di tengah-tengah itu sesekali ia mengulang permintaan maafnya.

Kenapa ia menumpahkan semua kesalahan itu kepada dirinya sendiri? Itu bukan salahnya seutuhnya. Dan itu salahku, seharusnya aku memikirkan kata-kataku terlebih dahulu sebelum diucapkan. "A-aku juga minta maaf—apakah kata-kataku menyakitimu? Aku sama sekali tidak menyangkanya; aku benar-benar tidak bermaksud. Maafkan aku, seharusnya aku tidak mengatakannya," ucapku sambil mengeratkan pelukan, mendekatkan tubuh kami. "Tapi, kalaupun kau bersalah, bukankah seharusnya aku juga bersalah? Seorang adik juga seharusnya selalu mendukung dan menyemangati kakaknya. Tapi di sini aku adalah seorang pengecut yang tidak berani berbuat apa-apa. Aku juga… bersalah. Sangat bersalah. Maafkan aku."

Pada akhirnya, perasaan bersalah yang tertumpuk ini menjadi sebuah rasa sakit yang menusuk dada. Aku menggigit bibirku perlahan, berusaha untuk menahan air mataku yang sudah menggantung di ujung mata. Rasanya adil jika aku ikut menangis di saat ia menangis—bukankah kami memang benar-benar dalam keadaan yang sama jika begini? Tapi berada di kesedihan yang sama bukanlah hal yang harus dibanggakan, akan menjadi lebih baik jika kami berada di kebahagiaan yang sama. Ya, kurasa begitu. Jangan menangis; berbahagialah. Karena sekarang kami bersama, dan itulah hal yang harus disyukuri saat ini.

Suasana terasa sangat sepi di sini—biarkanlah sisa dunia menyuarakan apa yang ingin disuarakan; sekarang ini di antara kami berdua adalah keheningan dan yang terdengar hanyalah suara isakan kecil yang tertahan, dan suara napasku sendiri. Berat rasanya mendengar suara tangisan Len yang belum juga berhenti, dan upaya yang kulakukan untuk menenangkannya hanyalah dengan menepuk-nepuk punggungnya perlahan. Seperti seorang ibu yang menenangkan anaknya; seseorang yang kuat menopang yang lemah.

Perlahan-lahan, aku menarik diriku, berusaha melepaskan pelukan yang mengikat kami, namun Len sama sekali tidak bergerak dan justru mengeratkan dekapannya. Bukannya aku ingin melepaskan diri dari kehangatan ini, tapi… "Um, O… Onii-san? Lihat aku." Itu pertama kalinya aku memanggilnya. Pertama kali dalam seumur hidup. Namun Len tetap tidak bergerak, dan itu membuatku mengulangi permintaanku. "Onii-san? Kumohon."

Setelah itu ia pun menarik dirinya dariku, dan menuruti permintaanku, ia melihatku. Dengan itu aku bisa melihat wajahnya—matanya sembab dan merah, bulu mata dan pipinya dibasahi oleh air mata, tatapan matanya… tidak bisa kujelaskan, tapi wajah itu terlihat jauh lebih menyedihkan dibanding sebelumnya. Ternyata… seorang Len juga bisa merasa sesedih itu, karena Len yang selama ini kulihat sama sekali tidak seperti ini. Hanya melihatnya saja membuatku tertusuk lebih dalam—apakah aku memang telah salah bicara sampai menyebabkannya sesedih ini? Namun baik itu alasannya atau bukan, yang ingin kulakukan hanyalah menghapusnya. "Kau tidak perlu menangis karena ini, Onii-san. Kuatkanlah dirimu. Sudah kukatakan tadi, ini juga merupakan kesalahanku—kita menanggungnya bersama, karena kita kakak beradik." Dan aku pun mendekatkan tanganku ke wajahnya, kemudian menghapus air matanya dengan jari telunjukku. "Dan sekarang kita bersama lagi; bukankah itu yang terpenting?"

Raut wajahnya berubah sedikit saat mendengar kata-kataku, seakan hal itu mengangkat sedikit kesedihannya. Tentu saja hal itu tidak langsung menghentikan air matanya, tapi setidaknya ia terlihat sedikit lebih baik. Aku menjadi tidak tahan untuk mengatakan sesuatu yang tiba-tiba terlintas di pikiranku, "Lagipula, di mana sang mantan ketua OSIS yang bahkan sampai sekarang masih dihormati seisi sekolah? Bukankah ia sangat berwibawa dan kuat?"

"Tidak tahu. Memangnya siapa orang itu?" jawabnya dengan suara yang masih bergetar. Sambil mengatakan itu, ia menyeka air matanya dengan tangan kanannya. Lalu sambil tersenyum, ia melanjutkan, "Bukankah yang ada di hadapanmu sekarang ini kakakmu? Kakakmu mempunyai hak untuk menangis juga, bukan?"

"Iya, tapi melihatmu sedih membuatku merasa bersalah," kataku. "Sekarang kau sudah merasa baikan?"

"Iya. Terima kasih banyak, Rin. Dan maaf, sepertinya aku membasahi mantelmu," katanya sambil tertawa ringan.

"Tidak apa-apa. Sekarang semuanya telah diperbaiki, 'kan?"

Kami melanjutkan perjalanan kami menuju ke 'tidak tahu' seperti kata Len. Kami hanya mengikuti ke mana kaki kami membawa, sambil sesekali berbicara dan tertawa bersama. Aku bahkan tidak memperhatikan fakta bahwa aku berbicara dengan Len dengan mudah, tidak seperti sebelumnya.

"Walau sebentar, setidaknya kita telah menghabiskan waktu berduaan."

Sekarang kami sedang duduk-duduk di sebuah bangku taman sambil menikmati taiyaki hangat dengan asap yang mengepul dengan orang-orang berlalu lalang di hadapan kami. Aku melihat ke arah Len sesaat setelah ia mengatakan itu dan menjawabnya, "Iya. Terima kasih sudah mengajakku berjalan-jalan, Onii-san. Mungkin lain kali kita harus melakukan ini lagi."

"Hahaha, bukan masalah. Dan tentu saja kita akan melakukannya lagi," jawab Len.

Dan tiba-tiba aku tersadar. Bukankah Len akan pergi kuliah? Dan seperti apa kata Yukari, mungkin saja ia akan pergi jauh dan kami akan lebih jarang bertemu. Dan karena itu, apakah masih ada kesempatan bagi kami untuk melakukan ini lagi? Ternyata ini sangat kejam. Setelah aku menyadarinya, ini memang sangat kejam—kami baru saja dekat dengan satu sama lain, namun waktu yang ada telah menipis. Mungkin ini memang kesalahanku karena telah membuang-buang kesempatan yang sebenarnya ada sejak bertahun-tahun yang lalu—memang, penyesalan selalu datang belakangan.

"Tadi sudah kukatakan bahwa aku tidak ingin pergi jauh," kata Len. "Entahlah, walaupun apa yang Ayah katakan memang benar—seharusnya aku mengejar sesuatu yang lebih jauh—aku tetap berpikir kalau aku tidak ingin pergi jauh. Karena rasanya akan aneh; sekarang saja aku sudah sangat jarang bertemu dengan adikku, dan kalau aku pergi jauh akan menjadi lebih-lebih jarang. Dan aku belum menghabiskan banyak waktu dengannya."

Akhirnya ia memberikan alasan. Dan alasan tersebut adalah aku—aku hampir tidak memercayainya, ternyata alasannya adalah aku? Senang, aku senang mendengarnya. Padahal kami memang jarang menghabiskan waktu bersama, tapi ternyata ia masih memerhatikanku dari jauh, sebagai adiknya. Kupikir akulah yang kejam di sini, sampai-sampai tidak menganggapnya sebagai kakakku padahal ia masih menganggapku adiknya. Tapi sudahlah, jika aku mengungkitnya kembali, Len akan kembali menyalahkan dirinya sendiri dan aku tidak menginginkan hal itu terjadi.

"Terima kasih, aku senang mendengarnya. Tapi jika Onii-san memang ingin pergi jauh, tidak apa-apa. Aku seharusnya mendukung jika memang itu baik untukmu," jelasku.

"Dan itu berarti kita harus benar-benar menghabiskan waktu bersama sampai aku pergi jika itu yang kau mau. Dua puluh empat jam, tujuh hari seminggu. Tidak keberatan?"

"Eh?" aku menjawab kaget. Apa itu berarti kami juga akan tidur bersama?

"Hanya bercanda kok," kata Len dengan senyuman. "Jika itu yang Rin mau, maka aku akan melakukannya. Kau akan senang dengan keputusan itu, 'kan?"

"Iya. Tapi sejujurnya aku merasa lebih senang jika kita bisa lebih sering menghabiskan waktu bersama. Bukan berarti aku memaksamu untuk tinggal—apa pun keputusanmu, aku harus mendukungnya!"

"Yah, eh, kau membuatku bingung. Jadi, keputusan apa yang seharusnya kuambil?"

"Tentu saja itu terserah padamu. Atau minta saja ke Lily-senpai untuk memberikanmu saran, jika, eh, kau memang bingung," jawabku ragu-ragu.

"Eh, Lily ya? Benar juga, sebaiknya aku meminta sarannya," jawab Len. "Bukan berarti aku akan mengabaikan saranmu—aku akan tetap mempertimbangkannya, tenang saja."

Menyebut nama Lily mengingatkanku pada kado yang seharusnya kuberikan. Sekarang ini saat yang tepat untuk memberikan kado, bukan? Kami sudah duduk berduaan, belum ada bahan pembicaraan baru, dan momennya tepat. Ini kesempatan, kesempatan yang sesungguhnya yang tidak boleh kubuang! Sekarang, aku akan benar-benar memberikannya.

"Um, Onii-san."

"Apa?" dan pandangan Len pun beralih ke wajahku. "Hei, tidakkah kau berpikir bahwa kau tidak pernah memanggilku sebelum hari ini?"

"Rasanya iya," jawabku. Aku memang menyadarinya dari tadi, tapi baru sekarang ini terasa—ternyata memanggilnya 'Onii-san' tidak begitu buruk. Tiba-tiba aku teringat bahwa aku harus melanjutkan kata-kataku, siapa tahu kesempatan tersebut akan hilang. "Ah, jadi sebenarnya… aku sudah lama ingin memberikanmu sesuatu." Aku merasakan detak jantungku mengencang, padahal dari tadi aku merasa biasa saja berbicara dengannya. Kenapa tiba-tiba aku merasa gugup lagi? Tapi, sudahlah, ini memang harus dilawan.

Aku mulai merogoh tasku, dengan Len memperhatikanku di saat yang sama. Setelah itu aku menarik kadonya ke luar dan tanpa berpikir panjang menyerahkannya pada Len. "S-sebenarnya, kau tahu, tadi sudah kukatakan bahwa aku sudah lama mengagumimu, dan aku sudah ingin memberikanmu kado sejak saat itu. Sekarang akhirnya aku dapat memberikannya, namun aku sedikit mengubah pikiranku. Pada awalnya ini hanyalah kado yang diberikan seseorang kepada seseorang yang dikaguminya, tapi kupikir tidak ada salahnya juga mengganti benda ini menjadi kado yang diberikan seorang adik kepada kakaknya. Dan sekali lagi, selamat ulang tahun."

"Terima kasih banyak, Rin! Aku sama sekali tidak menyangka kau akan memberikanku kado," kata Len sambil menerima kado yang kuulurkan.

"Mungkin tidak banyak, tapi kuharap kau akan menyukainya," kataku lagi.

"Tidak apa-apa, dan kurasa aku akan menyukainya, apa pun ini. Sekali lagi, terima kasih, Rin." Wajah Len terlihat sangat bahagia, ini benar-benar menyenangkan. Hasil akhir dari usaha-usaha yang telah kulakukan sama sekali tidak buruk; senyumannya saja sudah cukup. Ah, pada akhirnya! "Dan Rin, sebenarnya aku juga sudah mempersiapkan sesuatu padamu. Ini," dengan cepat ia mengeluarkan sesuatu dari balik mantelnya. Sebuah benda persegi dan pipih yang dibungkus dengan kertas kado berwarna jingga. "Ini juga tidak banyak sebagai kado ulang tahun, tapi aku yakin kau pasti menyukainya."

Rupanya Len juga sudah mempersiapkan kado untukku. Apakah aku harus meminta lebih banyak lagi kebahagiaan? Sama sekali tidak. "Terima kasih! Aku sangat senang menerimanya," kataku. "Ini akan kubuka nanti di rumah, tidak apa-apa?"

"Tidak apa kok, aku juga belum membuka kado darimu," jawab Len.

Dengan itu aku memasukkan kado yang baru saja kuterima ke dalam tas. Walaupun aku mengatakan bahwa aku akan membukanya di rumah, tidak bisa kumungkiri, aku penasaran dengan isinya. Tadi Len mengatakan bahwa aku pasti akan menyukainya; tapi apa itu? Dan kenapa ia bisa merasa seyakin itu? Apakah selama ini Len juga memperhatikanku? Jika memang benar…

"Maaf, Rin," tiba-tiba panggilan Len membuyarkanku dari pikiranku. "Bukannya aku sengaja mengintip ke dalam tasmu—percayalah, aku hanya tidak sengaja melihatnya—tapi, apakah di dalam tasmu itu ada… kacamataku?"

Ups.

Karena kacamata itu sudah kuanggap sebagai kenang-kenangan; kenang-kenangan yang berharga dari Len (walaupun tanpa izin), tanpa sadar aku selalu membawanya ke mana-mana. Lagi pula, kacamata itu juga bisa kupakai ketika aku sedang tidak menggunakan lensa kontakku. Tapi seharusnya aku tidak bertindak seceroboh itu. Kalau sudah begini, bagaimana caranya untuk menjelaskan semua padanya?


"Selamat pagi, Rin-chan!" pada suatu pagi setelah liburan tahun baru usai, Yukari datang menghampiriku yang sudah duduk di bangkuku dan menyapaku. Sebelum aku menjawab, ia telah menyadari sesuatu, "Kau menggunakan kacamata? Memutuskan untuk berganti penampilan?"

"Kau tidak perlu mengatakannya," kataku pelan. "Sebenarnya bukan untuk berganti penampilan, tapi ada suatu alasan lain…"

Setelah menaruh tasnya di samping meja, Yukari pun ikut duduk di hadapanku, kursinya diputar agar kami bisa bertatap muka. "Entah kenapa kejadian ini mirip dengan saat kau mengambil kacamata Len-senpai dan ia berakhir menggunakan lensa kontakmu, hanya saja ini kebalikannya."

Mendengar perkataannya, aku menelungkupkan wajahku ke meja. "Sebenarnya memang itu yang terjadi. Onii-san memutuskan untuk balas dendam atas kejadian itu."

"Eh, benarkah?" tanya Yukari, tapi dari suaranya aku bisa mengetahui bahwa ia tersenyum. "Waktu itu kau bilang kalau Len-senpai tidak merasa keberatan dengan itu—dengan… kau mengambil kacamatanya dan, yah, itu."

"Waktu itu ia memang bilang begitu! Tapi suatu saat ketika aku tidur dengan melepas lensa kontakku, pada pagi harinya mereka hilang! Sementara aku berpikir bagaimana caranya aku dapat bertahan hidup tanpa lensa kontak, Onii-san yang sudah ada di meja makan berkata, "Pakai saja kacamataku; aku ada 'sisa', kok. Sudah ada padamu, 'kan?" dan ia tertawa setelah itu!"

"Itu lucu. Jujur saja, itu lucu," kata Yukari. Kali ini jelas terlihat bahwa ia memang tertawa. "Lagipula, bukannya itu juga salahmu sendiri, Rin-chan? Kau yang memulai, 'kan?"

"Memang benar sih, tapi…"

"Yah, tapi setidaknya dengan 'balas dendam' ini berarti hubungan aneh kalian telah berakhir ya? Tidak kusangka saat ini akhirnya datang juga."

Dapat dikatakan, hubungan kami menjadi normal (menurut diksi Yukari) seperti layaknya kakak dan adik pada umumnya setelah saat itu—tanggal 27 Desember. Terasa sangat spesial karena hari itu juga merupakan hari ulang tahun kami. Kado yang diberikan Len padaku saat itu ternyata adalah buku kosong yang waktu itu kutemukan di kamarnya; siapa sangka itu ternyata untukku? Selain itu, juga terdapat pesan di kertas kecil yang diselipkannya di buku itu, bunyinya adalah, "Kau senang mencoret-coret, 'kan? Makanya kubilang kau pasti akan menyukainya!" Sama sekali tidak kusangka bahwa Len mengetahui apa yang kusukai.

Sementara itu, walaupun Len tidak mengatakan apa-apa tentang kado yang kuberikan, aku melihatnya menggunakannya untuk menggulung kabel headphone-nya yang kebetulan terlalu panjang. Pisang. Jika diperhatikan memang terlihat sedikit konyol, namun Len sama sekali tidak memedulikan hal itu karena sepertinya ia memang sangat menyukai pisang—dapat kulihat dari porsi konsumsi pisangnya yang ternyata memang banyak. Tapi apa pun alasannya, aku bersyukur ia memakai benda pemberianku. Berhasil menang undian, rupanya.

"Yah, aku juga tidak menyangkanya. Itu berarti aku berhasil menepati janjiku, bukan?"

"Itu benar, selamat ya, Rin-chan!" Yukari langsung saja mengenggam tanganku dan menyalamiku. "Dan ini juga berarti semua misi pencarian informasi selesai?"

"Sepertinya itu benar. Terima kasih atas dukungannya selama ini ya, Yukari-chan."

"Tidak masalah! Sebenarnya aku justru merasa aku akan merindukan masa-masa itu," kata Yukari sambil tertawa. Harus kuakui, aku juga akan merindukan masa-masa 'sulit' dan aneh tersebut. Sekarang saatnya menutup penelitian dan pencarian informasi mengenai apa yang disukai oleh Len; dan jika aku memang membutuhkannya, aku hanya perlu menanyakannya langsung. "Sekali lagi, selamat atas keberhasilannya!"

"Ya, sekali lagi terima kasih!"

"Jadi, tentang simulator Len-senpai," tiba-tiba Yukari menambahkan, "Jangan sampai ia mengetahuinya juga—aku tidak dapat membayangkan saat Len-senpai mengetahui bahwa kau telah membuat kloning virtualnya."

"Ah, iya. Kuharap begitu…" Ucapanku terhenti saat aku mendengar ponselku bergetar; sebuah pesan telah masuk; dari Len. Dengan segera aku membuka pesan tersebut. Panjang, tapi aku membaca semuanya perlahan.

"Jadi sebenarnya kemarin aku menemukan sebuah program yang menarik di komputer rumah; kalau tidak salah namanya 'simulator Len'? Sepertinya itu adalah 'aku' dalam bentuk virtual, jadi aku mencobanya. Karena menarik aku mengopinya dan baru saja kutunjukkan pada Lily, dia juga bilang itu menarik—dan lucu. Karena dia menanyakan tentang pembuat program yang terlalu mencurigakan itu… Rin, apakah program yang kutemukan itu ada hubungannya denganmu?"

Lantas aku berteriak, "Kenapaaa?!" Pasti hukumanku ditambah oleh Len kalau begini!

"A, ada apa, Rin-chan?!"


~~Terima kasih banyak atas dukungannya!

• Letter Of Regret
• neko-neko kawaii (Reply: Oh, feeling! Makasih banyak!)
• Ren Nishikawa
• Yuuhizaka Sora
• Arisa Amori

Semoga cerita ini dapat menghibur para pembaca. Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk membaca ini!