Summary: Untuk kesekian kalinya, Nami tak tahu apa yang merasukinya sepanjang hari ini.
Disclaimers: Harvest Moon: A Wonderful Life © 2004 by Victor Interactive Software and Marucome, published by Natsume; Harvest Moon: DS © 2006 by Marvelous Interactive, published by Natsume.
Notes: third person POV, AU.
Percikan air sahut-menyahut memancing genangan, berebut memilih tempat bersantai menunggu datangnya mentari hangat; baringkan tubuh pada perahu apung penyaring penat.
Seorang pria dengan kecapi dalam genggaman, sulut api kala sejuk mengitar pelan.
Malam yang indah?
Tentu saja.
Setiap manusia pasti dapat menikmati detik per detik saat udara berubah napas, apalagi bila mereka mengenakan kacamata hidup secembung dirinya: seorang musisi pecinta alam dengan topi lancip khas hiasi kepala.
Dan saat ini, lelaki itu terlihat menggoyangkan jemarinya pada mulut kecapi, sementara sebelah tangan berganti mengekang lehernya dengan pola yang sama, hingga muncul citraan sederhana yang mampu buat alam menjelma; kadang hidup dan kadang lirih, bebas berganti sesuai suasana hati.
Satu kepastian: nada yang mengalir sama sekali tak tertata, bagai gelombang lembut yang air nyalakan ketika lembar-lembar asing menyentuh tubuhnya—begitu spontan, begitu tiba-tiba; seakan tertenun dalam bercak hambar yang tak seterang lentera, tak semerdu orkestra…
Namun, perlu diketahui bahwa di balik seluruh kekurangannya, tersirat bakat khusus yang menghangatkan apa yang terlindung dalam cermin penyimpan warna.
Sebuah kemampuan… untuk menjadikan angan serasa nyata.
Beterbangan di langit malam, sulap setiap orang bermimpi tentang alam.
Siul-siul kecil, genderang merdu pasir, terbang bersama debu dan syair…
.
.
.
-(halaman tiga)-
Derit pintu bercampur hening malam yang ia rusak sukses membangunkan Nami dari bilik semesta: tempat di mana sinar bintang selalu terpancar dari dunia yang terbentuk kala kaki tak memijak tanah.
Dan tak lagi membaringkan kepalanya di atas bantal, remaja itu kini dihadapkan pada pemandangan yang tak penuh; yang beberapa bagiannya tertutup oleh sekat yang melayang bagai debu. Sehingga, tanpa perlu diperintah, ia pun segera membersihkan mereka dari kedua tirai matanya; yang berkali-kali menutup dan membuka agar kaca yang mereka lindungi mampu membulat seperti sediakala.
Setelahnya, tiap-tiap dari lensa pengamat itu pun berkeliling, menyelidik dan berjaga agar tak menemukan luapan air ataupun payung yang berlubang; yang jelas tak mampu memberi perlindungan atas rintik sang awan.
Dan tak lama kemudian, laporan dari patroli singkat mereka pun datang, membuat sang pemandu terdiam.
Hm, semuanya masih sama…
Ya. Ia masih ada di sana: di dalam ruangan tempat ia akan menghabiskan beberapa malam dengan menggerutu—di sebuah kamar penginapan yang dindingnya tak dilapisi madu.
Di situ.
Menatap kawan-kawan yang akan melayaninya dengan hati penuh.
Tepat di situ.
Dirinya pun mendongak, mendapati silinder penampung cahaya tengah menempel pada atap ruangan; tanpa bulu merpati atau kumpulan ranting sebagai pakaian, ditambah kecantikan yang belum ia tunjukkan. Jelas bahwa bidadari penerang itu masih tertidur. Dengan begitu, masih ada waktu bagi perabot lainnya untuk bermain selagi pandangan kaum pencipta kabur.
Beralih ke sudut ruangan, sebuah meja kecil nampak ditempati oleh komponen biotik yang tertidur dalam wadah tanah liat, membuatnya mampu memusikalisasikan puisi perjalanannya dalam tempo yang terbilang lambat.
Sejujurnya, sang gadis menganggap bahwa kehadiran sang penyejuk tidaklah tepat. Tak selamanya ia akan memasok ruangan dengan udara yang segar. Sebagai contoh, ketika objek botani itu tertidur seperti sekarang, ia akan meniru cara makhluk hidup lain bernapas. Dan melihat jumlah hidungnya yang seakan tak terbatas, Nami tak bisa memandang perebutan oksigen dalam ruangan tersebut sebagai persaingan yang sehat.
Sementara itu, di tempat lainnya, terlihat bahwa rumah busana masih menutup pintu; terlalu lemas untuk menguap apalagi menganga lebar. Dan sebenarnya, sebagai pemiliknya yang baru, Nami tahu bahwa ia memiliki kunci berdawai sepuluh yang berhak penuh atas lemari itu. Walau, menurutnya, masih terlalu pagi untuk membuat sekumpulan pakaian yang berebutan tempat dalam ransel miliknya berpindah ke sana. Ditambah lagi, sengat peri tidur sudah berkali-kali menusuk dan menjatuhkan lelah pada raga, memberikan satu alasan bagus untuk menunda.
Nami pun memutuskan untuk kembali berkonsentrasi pada apa yang mampu pencetak petanya singgahi.
Dan terapit oleh lemari pakaian dan kasur yang tengah didiaminya, berdirilah meja kecil dengan sepasang laci yang simetris; di mana atap apartemen dua lantai tersebut nampak kesulitan menahan sebuah roda yang terus menggubris.
Roda yang terus berputar di tempat, membentuk pola yang begitu statis.
Pertanda bahwa masa terus bergerak, sehingga setiap orang dituntut untuk berjalan dalam rotasi satu arah; menyaksikan detik-detik yang berlalu bersama angin yang terus-menerus berubah.
Dengan lihai, penglihatan sang gadis mencoba menyaingi kecepatan atraksi buram tersebut. Hingga akhirnya, rahasia kecil yang mereka coba sembunyikan dapat terungkap.
Jam sebelas malam…
Kembali kedua tangan mengepal dan menyikut sepasang diagram biru; yang kemudian beralih pada nampan yang diam di sebelah sang bingkai waktu.
Makanan?
Apa pemilik penginapan ini… erm, siapa namanya? Oh, Ruby… Apa ia sengaja menaruh makanan ini di sini?
Pelan-pelan ditelitinya hidangan yang tersaji. Dan yang ia dapati adalah sepiring nasi rebung dan segelas air, lengkap dengan sendok dan garpu di pinggir. Benar-benar cocok dengan suasana musim semi.
Tanpa ragu, Nami pun menyendok nasi rebung tersebut dan melahapnya.
Dan kesan pertama yang mengguncang lidah adalah…
Dingin.
Nasi rebung itu begitu dingin.
Sebenarnya, sudah berapa lama sejak Ruby menaruh makanan ini di sini?
Tentunya sudah lama sekali—sebuah jawaban pasti di mana setiap orang juga dapat mengambil kesimpulan sehati.
Tetapi, ada banyak hal yang masih menari dalam benak sang gadis.
Mengenai perasaan menggebu yang dialaminya sekarang: sebuah sensasi yang meloncat dalam rongga pengecap; yang membuat dirinya terus menatap—terlupa akan kedip dan hirup yang mendekap.
Sesuatu… yang sulit untuk diungkap.
Dan kembali menggali sang pasir pemuas dengan sekop mengkilat, Nami seakan tersihir dalam gemerlap afeksi yang terus menjerat.
Seorang kritikus makanan yang handal—Nami pernah melihat salah seorang dari mereka di sebuah kota kecil: seorang pria berambut pirang dengan topi pesulap dan kostum yang meniru spektrum ketujuh, tak lupa postur tubuhnya yang sedikit menyerupai telur. Benar. Mereka yang biasa dipanggil gourmet tentunya mampu mendeskripsikan rasa dari kreasi alam yang dikunyahnya sekarang; di mana kemungkinan besar, kalimat-kalimat seperti 'rebung ini dipotong dengan teknik yang hebat' atau 'nasinya dimasak dalam suhu yang sempurna' akan segera berlalu-lalang.
Ya. Seandainya saja ia memiliki ilmu kuliner yang lebih, Nami tentu sudah dapat menghadapi sajian di hadapannya dengan ekspresi tenang.
Sayangnya, ia tak memilikinya.
Tetapi, ada satu hal yang ia yakini; yaitu bahwa nasi bambu ini terasa begitu nikmat, beserta serpihan nostalgia yang entah mengapa dapat terlepas dari lubang pelumat.
Serpihan manis penyejuk yang muncul tiba-tiba—
…membuatnya teringat.
Teringat akan tangis yang menghujan, peluk pasif yang menelan, serta kecupan selamat jalan.
Teringat akan suasana yang begitu hangat.
Teringat akan apa yang sudah dilupakannya sejak lama.
Dan, tahukah kalian apa yang dirasakan sang pemudi berambut merah itu sekarang?
Ya. Sedikit kekesalan, segelintir kekecewaan, dan segala perasaan lain yang tersirat lewat rautnya yang kini menjelma menuju hilang.
Perlu kalian ketahui, bahwa meski di lubuk hatinya yang terdalam masih ada celah kecil yang mengatakan bahwa ia merindukan masa-masa penuh kebahagiaan tersebut, ia sudah berjanji untuk tak membiarkan kenangan bergaung lagi.
Dan kini, ketika ia sudah terlupa akan janji tersebut, ia kembali teringat—tepat setelah janji tersebut terlanggar.
Ironis?
Sebenarnya tidak juga.
Bagi Nami, seorang pengelana yang sudah biasa menginjak dan menyakiti, terikat oleh masa lalu bukanlah hal yang akan ia hampiri.
Ia seakan tahu letak setiap lubang pada jalan panjang yang akan dilaluinya, baik yang terlihat ataupun yang tertutup oleh tirai bunga dan hijau penyama. Oleh karena itu, terperosok dan jatuh ke bawah adalah sebagian hal yang dapat senantiasa dihindarinya.
Karena itulah, meski kilasan memori sempat terpercik sesaat, cukup dengan sebuah kedipan, mereka dapat segera pergi ke sudut pengarat. Dari sana, biarlah sang waktu yang menciptakan kurungan bertamu penat; agar tiap-tiap dari binar semu tersebut dapat mengakhiri hidup lewat aksi melompat.
Ketahuilah, bahwa sejak awal, yang akan ditatapnya hanyalah tempat yang tengah ia pijak.
Dan tidak ada satu hal pun yang dapat mengubah kenyataan itu, setidaknya sampai sekarang.
Hm?
Terbawa dalam melodi pembungkus fokus, Nami segera menatap ke arah piring yang sedang digenggamnya.
Kosong.
Hmm… Sepertinya, seluruh bagian dari cikal-bakal penguat itu sudah dihabiskan olehnya. Cukup mengherankan, memang—Nami sendiri heran karena rasanya ia baru menyendok beberapa kali saja, sampai akhirnya dikejutkan oleh fakta bahwa tak ada lagi nasi bambu yang tersisa.
Tetapi, dirinya memutuskan untuk segera membuang kebingungan dalam hening dan beralih meraih kumpulan embun yang menyatu di cawan bening.
Kemudian, ia pun terdiam.
Tak disangka, santapan lezat yang baru saja ia nikmati membuatnya tak mengantuk lagi. Nampaknya, inilah saat yang tepat untuk mencari aktivitas yang akan membuat waktu terisi.
.
.
.
"Hm, sepertinya sudah."
Sambil menggumam, Nami merentangkan kedua lengannya ke depan guna mengusir rasa pegal di persendian; disusul oleh penujuan pandang pada piring, gelas, sendok, dan garpu di depannya—semua perlengkapan makan yang baru saja ia cuci.
Rasa lega bercampur dengan bangga pun sekejap mengerumuni tubuh sang remaja.
Setelah sekian lama, akhirnya ia dapat merasakannya lagi: perasaan yang hanya bisa kaurasakan begitu menatap hasil yang kauraih dari sebuah jerih payah.
Perasaan… yang begitu menggembirakan.
Dan dalam hal ini, yang dimaksud dengan 'jerih payah' adalah peralatan makan yang telah ia jadikan bersih kembali. Erm, mungkin tidak benar-benar bersih karena masih ada beberapa noda yang menyelip dan bersembunyi; tetapi, mengingat ini kali pertama ia melakukannya, tentu hasil yang telah dicapainya dapat dibilang sangat memuaskan.
Nami pun menatap keempat komponen tersebut dalam diam.
Aneh…
Ya. Rasanya, ada sesuatu yang janggal. Sesuatu yang sepantasnya tak tertiup ke dalam harian dan tanggal. Sesuatu yang seharusnya berada pada posisi netral. Sesuatu… yang mampu mengalahkan pemikirannya yang tunggal.
Pertanyaannya, apakah 'sesuatu' itu?
Latar tempat ia tertelan? Bukan. Perlengkapan makan yang kurang bersih? Andai dirinya menyadari. …Apakah ada racun yang diselipkan dalam hidangan yang ia santap tadi? Tidak mungkin!
Bukan, rasanya sang pelaku tidak pernah sekali pun menghampiri; yang berarti, ia berasal dari dalam diri gadis itu sendiri.
Dan Nami pun sadar akan sang sosok misteri.
Benar. Ini pertama kalinya ia merasa ingin mengerjakan sesuatu sendiri.
Semua orang yang telah mendengar kisah pengembaraan sang pemudi, jikalau ada, tentu tahu bahwa dirinya telah menjejakkan kaki di berbagai macam kota dan desa—di mana di setiap persinggahan tersebut, ia secara tidak langsung dituntut untuk mengunjungi penginapan upaya mencari tempat untuk beristirahat sambil menutup mata.
Penginapan yang pernah dikunjunginya pun beragam; dari sarang para pemabuk, bilik kecil terkutuk, sampai hotel bintang lima yang terkesan sibuk.
Dan tak pernah sekali pun dalam masa singgahnya, ia disambut oleh istilah 'melayani diri sendiri'.
Tidak pernah.
Sampai akhirnya, pada suatu periode yang belum lama berlalu, rekor itu tak dapat berlanjut lagi, hingga terbuanglah semua penghargaan yang ia miliki; yang hanya dapat diperoleh kembali dengan mengeraskan hati, paling tidak sampai umurnya bertambah puluhan kali.
Sekali lagi, terbesit pemikiran bahwa nasi bambu yang ia lahap telah dicampur dengan sesuatu. Mungkin semacam… bubuk magis?
Ah, sudahlah… Bukan waktunya untuk berpikir tidak logis.
Maka, dirinya pun memutuskan untuk memusnahkan kehadirannya dari ruangan tersebut. Tak lupa, ia menutup lampu dapur yang otoriter terhadap rekan-rekannya, hingga ekspresi tenang dapat terlukis di wajah mereka.
Namun, tepat ketika ia bermaksud menaiki jembatan langit, sebuah ide kacau memaksanya masuk kembali ke lubang parit.
Tok.
"Ruby?"
Untuk kesekian kalinya, Nami tak tahu apa yang merasukinya sepanjang hari ini.
Lagi-lagi, ia melakukan sesuatu di luar paradenya yang senyap: pesta kecil yang tak pernah keluar maupun menyelinap. Tadi mencuci perlengkapan makan dan sekarang… ini. Rasa-rasanya, ia seperti telah tersulap oleh bayangannya sendiri: makhluk hitam yang selalu hilang dalam jurang penimbul simpati.
Haaah…
Sebenarnya, apa yang membuat dirinya berdiri tepat di depan pintu kamar Ruby sekarang?
Bukan! Alasannya mengetuk gerbang penyalam itu bukanlah untuk meminta tambahan makanan dari sang koki berbakat. Lagipula, seenak apapun hidangan yang mampu diciptakan olehnya, Nami akan menolak, mengingat rongga pencernanya kini sudah dipenuhi sekat. Dan jika ruang tersebut memesan bahan untuk dilumat pun, sang pemudi pasti akan bereaksi sama.
Tidak mungkin ia akan mengajukan permintaan yang menurutnya merepotkan.
Ia tahu bahwa mendaki gunung itu sulit; bahkan bagi melodi-melodi lembut yang hendak mencapai puncak, setelah berkemas dari gudang musik tempat sanak saudara mereka menunggu penuh harap. Dan kala nada-nada merdu itu hendak meluncur menuju ujung gua bersama perahu kecil, remaja pengelana itu akan melawan; menjadikan para pendaki malang tersebut terguling, tersapa oleh pemandangan yang tidak asing, hingga akhirnya sampai di desa tempat mereka memulai ekspedisi yang berakhir dengan tenggorokan kering.
Haaah…
Dirinya merasa sedikit bersalah kepada mereka; yang mimpinya sudah ia hancurkan tepat saat mereka hanya tinggal melangkah sedikit lagi untuk mencapai kebahagiaan abadi.
Tetapi, sekali lagi, ia adalah seorang Nami!
Tak ada alasan baginya untuk merasa bersalah atau disalahkan!
Ada pun, setidaknya, ia tak akan terpuruk hanya karena masalah seperti itu—yang, seperti biasa, akan dengan mudah ia kibaskan.
Walau kini, salah satu perasaan yang jarang terlonjak tengah menggebu-gebu dalam hatinya.
Bagian dari dirinya—yang selalu berusaha untuk ia abaikan—berpikir, mungkin, ia bisa mampir untuk mengucapkan 'terima kasih' atas hidangan yang wanita itu ukir; di mana menyerahkan uang untuk membayar sewa kamar yang hampir ia lupakan menjadi salah satu tujuan yang dipaksanya menduduki posisi pertama.
Dan tenggelam dalam ilusi selama beberapa sesi, Nami kembali mengarahkan cermin-cermin samudra miliknya pada pintu kayu yang hanya terdiam dan menabur tanda tanya.
Gadis berambut merah tersebut menanggapinya dengan alis mengerut, kemudian memutuskan untuk kembali mengetuk.
Tok tok.
"Ruby? Apa kau di dalam?"
Tidak ada jawaban.
Lelah menunggu, sang remaja pun menghapus gembok pengunci dan mendorong sang pintu perlahan, mencoba untuk tak membuat bingkai tanah tergesek maupun menenggak derit yang mengerikan.
Dan sekedar mengingatkan, hari sudah nyaris menggugurkan diri; berganti gilir bersama angin yang melintasi, sehingga semakin dekatlah kesempatan untuk menyaksikan padi yang menguning sambil bernyanyi.
Karena itu, besar kemungkinan bahwa Ruby tengah berpetualang di negeri penyejuk; salah satu dugaan Nami sebagai penyebab hampanya ruang tersebut.
Namun, dugaannya itu salah.
"Ti… Tidak ada siapa-siapa…"
Nami menggumam, melayangkan keterkejutan begitu mendapati Ruby tak ada di dalam ruangan.
Dalam gelap, terlihat bahwa sang kotak peristirahatan tak menampung siapa pun, melainkan rapi berselimut. Dan untuk memastikan dengan lebih baik, sang pengelana pun menyalakan lampu, sehingga kedua matanya tak lagi perlu melihat dalam ragu.
Walau, hasil yang didapat… tak berbeda dari sebelumnya.
Apa Ruby sedang pergi?
Tanpa diterima ataupun dianggap sebagai tamu oleh bilik tersebut, Nami melangkah masuk sambil menembakkan pandangan ke setiap sudut ruangan.
Hmm, ternyata kamar Ruby tak seperti yang kukira, sekumpulan frasa direbusnya dalam batin. Kamarnya bahkan lebih kecil dari kamar yang kusewa… Bukankah biasanya pemilik penginapan memiliki kamar yang lebih besar?
Apa ia bodoh?
Beberapa detik dihabiskan Nami dalam diam, hanya gerakan teropong yang diperbolehkan. Pelan namun pasti, pasangan penegak hukum tersebut menjelajah, agar terungkaplah identitas para penghuni kamar sang pemilik penginapan.
Hasilnya: tak banyak yang membedakan mereka dari para penghuni ruangan yang ia sewa.
Walau, beberapa perbedaan dapat ia temukan begitu melihat dengan teliti.
Hal pertama disampaikan sang balok penidur melalui petunjuk pasti. Ya. Ukuran tubuhnya yang sedikit menggembung ke samping jelas menimbulkan riuh dalam bayang sang observator. Selain itu, sepasang bantal tengah bersanding di ujung kasur, menambah pembuktian bahwa Ruby tak sepenuhnya menyamakan dekor.
Sang pemudi mencerna potret janggal tersebut dengan cermat.
Dua bantal… Apakah itu berarti ada dua orang yang tidur di kamar ini? Jika salah satunya Ruby, siapa orang lainnya?
Dan sekejap, otaknya memproyeksikan seorang bocah.
Rock… Tentu saja, Nami mendeklarasikan keputusannya dalam lingkup pribadi. Sampai, ombak keyakinan surut ketika terang tak lagi berlari, sehingga amandemen terpaksa menjadi langkah berani.
Tapi, bukankah Ruby pernah berkata bahwa ruangan Rock ada di lantai dua? Hmm…
Ia terdiam lagi. Namun, tak lama kemudian, balkon semedi kembali bereaksi. Yang berbeda, kali ini, adalah perkataan pangeran berambut pirang itu yang memancar jernih.
"Aku berjanji pada Ayah."
Ya. Perkataan Rock tentang ayahnya: sang kepala keluarga.
Hm. Tentu saja.
Dengan begitu, usailah permainan teka-teki ini dengan Nami sebagai pemenangnya. Sungguh beruntung dirinya, karena sempat mendengar dialog pecah antarkeluarga tersebut dari kejauhan. Memang, tak pantas baginya untuk bangga. Namun, ia tetap tersenyum kecil karena dapat melanjutkan ke misteri selanjutnya.
Gadis pintar itu pun segera beralih meninggalkan narasumber pertama. Dan jauh menuju barat, telah berjejer pihak-pihak kurang beruntung pemilik mulut yang, tentunya, akan dibuka secara paksa.
Mendapat giliran awal adalah tanaman hias dan kotak penyimpan kostum; keduanya merupakan kembaran dari para pelayan—atau mungkin 'pengganggu', bila melihat dari sudut pandang Nami—yang ada di kamarnya.
Bukan yang ini, pikir Nami.
Dapat terbayang betapa leganya kedua instrumen tersebut ketika mengetahui bahwa mereka terbebas dari interogasi. Sehingga, mereka pun memutuskan untuk merayakannya dalam hati.
Di lain pihak, mereka juga berharap agar sang gadis segera pergi tanpa menyentuh salah satu teman mereka yang tertanam di potongan barat dan utara; supaya tragedi tak mengirimnya ke posisi sang kasur yang kini terpuruk tanpa siraman surya.
Namun, bagaimana caranya remaja dingin itu dapat mendengar notasi-notasi yang mereka kirimkan?
Sebanyak apa pun debu studi yang berarak dalam panel pengetahuan, dalam sejarah hidupnya, ia tak pernah mampu mengartikan apa yang diperkatakan oleh benda-benda rakitan manusia tersebut.
Jangankan mengartikan, mendengar pun tak pernah!
Karena itulah, dirinya terus melaju; menumbuhkan empat segi pada objek yang berada di latar investigasi terakhir.
Dan yang ia dapatkan adalah…
…Meja yang sama.
Nami mendekap partikel udara yang kokoh bersamaan dengan menihilnya gerak mata. Selang beberapa waktu, ia pun membuang harta alam tersebut sambil menekuk wajah.
Nampaknya, apa yang ia cari tak ada di sini.
Tidak ada satu petunjuk pun yang mengantarkannya pada jawaban atas keberadaan Ruby.
Inikah jalan buntu?
Pikiran pemudi itu melayang, berteriak senang, lalu melesat mengejar awan yang tertelan oleh putaran dunia antara gelap dan terang: tempat yang menjadi saksi munculnya perdamaian dan perang.
Dan hal yang tak terduga terjadi.
Karena, untaian rumit tersebut menabrak atap ruangan dan kembali ke dalam pangkuan sang remaja dalam keadaan yang utuh; belum tercecer sama sekali oleh gejolak-gejolak riuh.
Tidak. Masih ada sesuatu…
Ya. Hampir saja ia melepas pecahan misteri terakhir.
Masih ada satu tempat! Satu tempat lagi! Tempat di mana pandangannya tengah menyisir: laci meja yang masih mencoba untuk membuatnya terusir.
Tanpa ragu, ia segera menarik kotak misteri itu, dan…
"…Ini…"
Petunjuk terakhir pun muncul.
Dengan kelima penjalin tangan miliknya, Nami mengeluarkan sekumpulan kertas dengan tumpahan cat berbeda dari sana; yang, jika diperhatikan, nampak tidak rela. Laci kecil itu memang sangat bersih. Wajar saja tak satu pun dari mereka berniat melarikan diri.
Meja Ruby sangat bersih… Pasti ia membersihkannya tiap hari, sang pemudi menyimpulkan, kemudian menatap kanvas-kanvas tipis yang berada dalam genggamannya.
Surat?
Teropong gadis itu mengekspansi sesaat, menyelami alfabet-alfabet yang berlaku dengan taat. Hanya perlu menunggu waktu sampai kedua lensanya memecah—sebuah akibat dari munculnya sekumpulan benda; yang jelas merupakan kunci utama untuk menyelesaikan penyelidikan personalnya.
Usai dengan lembar pertama, ia pun beralih pada pemimpin nomor urut genap; terus, terus, dan terus berlanjut. Dapat dibilang, waktu yang dipergunakannya untuk membaca tulisan-tulisan tangan tersebut memang cukup lama.
Dan lama pula ia membatu, selagi tolak ukurnya menjaring jawaban yang transparan bagai kabut.
Hingga tak lama kemudian, gelombang yang ia pancarkan berubah yakin: sebuah gelombang yang ajaib; yang muncul setelah berulang kali terurai, menyambung, dan terpilin.
Kini, dirinya sudah tahu di mana keberadaan seseorang yang perlu ia cari.
Karena itulah, sang detektif tanpa profesi itu pun segera memulangkan para saksi ke rumah mereka.
Walau, begitu sosok-sosok yang sangat membantunya tersebut hendak mengecup lantai kayu tercinta sebagai ungkapan rindu, tanpa sengaja, Nami menangkap suatu hal lainnya.
Suatu hal… yang membuatnya terperangah.
.
.
.
Langit sudah betul-betul kosong saat itu, bahkan bintang-bintang ragu untuk menebar harum. Mungkinkah fenomena ini terjadi karena atap yang tertutup arang itu telah kehilangan permata-permatanya yang berkilau layak jarum?
Tidak mempedulikan semua itu, Nami menempuh langkah pertamanya menuju perjalanan untuk mencari rasa letih yang tidak pernah pergi. Dan selalu, serbuk-serbuk manis tersebut tersangkut di udara, berusaha menaklukkan suasana yang setajam duri cemara untuk kesekian kalinya.
Melihat skenario itu, sang remaja tak menyusupkan pergerakan apa pun ke wajah; pertanda… bahwa ia sudah terbiasa.
Dan ia pun melangkah…
Melangkah dan melangkah; menarik napas, membuangnya, lalu kembali melangkah.
Bola pengedip menatap lurus ke depan; tidak membelok ke kiri ataupun kanan—apalagi meninggikan atau merendahkan kedudukan.
Penikmat musik tidak berlabuh, masih diam dan menunggu.
Detik-detik, degup jantung, dan ketidakhadiran senyum. Tiga hal itulah yang dapat kaulihat dari sang pelamun. Dan semua itu tiba-tiba saja terhenti… ketika seporsi lagu mengalun.
Sebuah lagu yang menyanyikan lagu; dengan instrumen dan vokal tunggal yang merdu.
Ya! Lagu itu!
Lagu kebanggaan yang tercipta tanpa tonggak ilmu.
Yang, dengan ajaib, berhasil meruntuhkan sosok yang dipenuhi oleh ilmu.
Sosok itu.
Remaja yang tengah mendengarkan gubahan pelumat ragu; di mana estetikanya mulai bertumbuh, juga menancapkan ribuan akar pada sayap kupu-kupu—agar mereka dapat senantiasa merekatkan diri tanpa rasa malu, seandainya terungkap bahwa mereka juga menikmati keping-keping manis itu.
Keping-keping manis yang hidup juga syahdu.
…Musik?
Mencoba membeli jawaban, Nami gagal membuat kesepakatan dengan angin yang hanya tertawa sambil menuai pandang dari bulan.
Mungkinkah ini balasan dari apa yang selalu ia lakukan?
Ah, sungguh malang makhluk-makhluk itu! Mereka kehilangan keberanian untuk berdesis setiap kali bertemu dengan sang pemudi!
Padahal, mereka sudah mencoba berselancar di sela-sela benang-benang merahnya yang tipis. Namun, tak ada satu pun jaring bertelapak yang berusaha menangkap ataupun menggubris. Yang ada… hanyalah laku yang lebih sepi dari gerimis.
Haaah…
Mungkin, pendapat beberapa orang memang benar. Lebih baik menduduki lantai dan terinjak bersamanya dibanding duduk di kursi yang bisu; yang membuatmu terabaikan sepanjang waktu.
Erm, bagaimanapun, orang yang telah menyakiti hati angin tersebut tidak gemetar oleh pembalasan dendam yang baru saja—atau mungkin, sudah sering—dialaminya.
Ia masih tetap menembus sosok-sosok yang menatapnya dengan garang, hingga terhenti kala dirinya memasuki mutiara kerang: tempat yang begitu berkilau dan dipenuhi dengan alunan musik yang tak pernah hilang.
Aku ingin terbang, melintasi padang-padang, yang takkan berujung jurang, hingga aku dapat… kembali pulang…
Syair-syair tersebut mengalun dengan cepat dan menguasai fokus sang remaja. Juga, entah disadari atau tidak, kedua matanya sekejap menyala; menerangi malam yang gelap layaknya kunang-kunang.
Nami mendengarkan lagu itu dalam diam, sementara matanya menyorot sang pemain tajam. Namun, sepertinya dirinya terlambat. Kini, tidak lagi terlihat pergerakan pada bibir sang musisi; hanya ada gerakan jari yang membuat kecapi dalam genggamannya bernyanyi.
Terhipnotis, pemudi itu tak menutup pintu pendengarannya sama sekali. Walau, ia memang sengaja memejamkan mata, agar yang bertamu ke kubah pelukisnya hanyalah prajurit bunyi.
Tanpa mempedulikan fakta bahwa yang dapat ia lihat hanyalah warna-warna gelap, lagi-lagi, Nami melakukan apa yang jarang dilakukannya: melebarkan dengung dalam kotak penerjemah, sehingga nada-nada yang bergaung dapat lebih jelas terdengar.
Dan ia pun menikmatinya.
Begitu saja.
Sampai, sebuah kejutan datang ketika musik tersebut tiba-tiba saja berhenti, tergantikan oleh kalimat yang menusuk diri.
"Nona, kau ingin ikut menyanyi?"
.
.
.
'Halo!' salam dari daratan.
Andai putihnya pasir tak memisahkan.
'Halo!' dari puing-puing yang terpecah.
Andai tak hidupi kata jelajah.
'Halo!' kupanggil dirimu dalam kedipan.
Jutaan kata, jutaan pesan.
'Halo!' inilah kehidupan.
Tanpa gema yang mampu kudapatkan.
Mungkinkah… akan?
Author's notes:
Daftar kata sulit:
1) Kecapi: sejenis alat petik -yang dimainkan Gustafa- yang menyerupai gitar, hanya saja lehernya bengkok dan badannya berbentuk bulat atau segitiga.
2) Komponen biotik: makhluk hidup; manusia, hewan, dan tumbuhan.
3) Tempo: berhubungan dengan ritme atau kecepatan lagu.
4) Botani: ilmu atau cabang biologi yang mempelajari tentang tanaman.
5) Simetris: memiliki bentuk yang sama; hal-hal yang dapat dilipat menjadi dua bagian dengan bentuk yang persis, contohnya huruf A, I, U, dan O.
6) Afeksi: perasaan tertarik atau cinta.
7) Spektrum: istilah yang digunakan untuk menggambarkan warna pelangi pada ilmu tentang cahaya.
8) Otoriter: memiliki sifat mendominasi atau memerintah.
9) Observator: pengamat.
10) Amandemen: pembaharuan; perbaikan.
11) Interogasi: penyidikan; mengarah pada pembicaraan antara seseorang yang berwenang dengan tersangka atau pelaku kejahatan.
12) Investigasi: penyelidikan.
13) Ekspansi: perluasan.
14) Estetika: kepekaan terhadap seni dan keindahan.
Halo, semuanya! Makasih karena udah baca fic ini! Mohon maaf karena gue selalu lama ngeupdatenya. ^_^; Ada beberapa bagian cerita yang gue tulis pas di sekolah berhubung kesibukan di sekolah… Jadi, kemungkinan besar, gue cuma bisa lanjutin nulis kalau senggang di rumah atau di sekolah ada jam pelajaran kosong. ^_^; Ugh… Sepertinya bakal lama, jadi gue minta maaf atas ini. Terima kasih untuk pengertiannya! -digilas-
Dialognya dikit banget. -_- Erm, chapter ini bener-bener kurang dialog dan kebanyakan deskripsi. Soalnya, Nami lagi sendiri, sih… Sendiri pun, Nami bukan tipe yang ngomong sama objek di sekitarnya kayak gue. -ditendang- Eh? Apa dia suka ngomong sama objek? -_- Lagi-lagi kebingungan utama gue di karakterisasi… Huff… Help? -plak-
Lalu, pas beberapa bulan lalu, gue coba ngelihat-lihat dikit walkthrough aWL dan terperanjatlah diriku ketika mengetahui bahwa usia Nami dua puluh delapan! O_o Eeeh? Gue kira Nami itu sekitar delapan belas atau sembilan belas! …Awet muda? -plak- Dan, terjadilah peristiwa di mana daku terperanjat kembali ketika nyadar kalau gue ngetik Nami dengan sebutan 'remaja' dan 'pemudi'. -_- Ugh… Masalahnya, gue nggak bisa ganti kata-kata itu… Jadi, mungkin, erm… gimana kalau kita anggap Nami dan Gustafa pas di cerita ini masih lebih muda? Jadinya pre-game! Atau sekalian AU! Hohoho~ -digampar- Maaf atas ketidakbertanggungjawaban gue. -_-
Dan gue juga lagi nggak mood dan nggak ada inspirasi untuk 'pelesetan'. Mungkin nggak akan gue buat lagi… Tapi, kalau misalnya ada ide, bukan tidak mungkin gue memasukkan pelesetan lagi. Heh. :) Sekali lagi, gue mohon maaf.
Makasih banyak buat semua yang udah membaca fic ini. Thanks buat apresiasinya! ^_^ Semoga gue bisa terus mengupdate! Jangan timpuk gue karena Gustafanya cuma muncul begitu doang! -nggak ditimpuk, ditimbun sekalian- Thanks juga untuk livina-senpai [Livin'A-Chain] karena lewat fic senpai yang keren banget, gue belajar cara menyelipkan deskripsi tanpa harus menjadikannya bagian dari kalimat! Thank youuu~
Juga thanks untuk pendapat vein [Ruise Vein Cort] tentang bagian akhir. Erm, seperti biasa, itu puisi penutup. Jadi, nggak ada hubungan sama plot ceritanya. XD Heh. Maaf membingungkan. Memang salah gue sendiri banyak pakai italic yang membingungkan. ^_^; Tapi, untuk memperjelas aja, heh, gue bakal pakai italic untuk dialog dalam hati, kata yang pakai bahasa asing, puisi, dan syair -yang puisi juga ujung-ujungnya- yang dinyanyikan dalam cerita. :3 Semoga dengan begini bisa lebih jelas.
Maaf atas segala kekurangan yang membungkus cerita ini. Komentar para pembaca sekalian sangat diharapkan dan ditunggu -heheh- untuk perkembangan gue yang penuh kekurangan ini dan bahan edit mendatang! :) edited. thanks for the comments.
