"Beri aku blacker blood seperti ayahku!"

"Kau masih muda, Keruno!"

"Lakukan saja, dasar tua bangka!"

"Argh! Ba-uhuk… baiklah…"

.

.

Akan kukejar kemanapun kau pergi, ayah…

.

.

.


Darkest Blood

By Kuromi no Sora (abis ganti penname, cihuy)

Naruto bukan milikku.

A SasuxSakuxOC's fic.

AU/OOC/Original Character: Keruno Hatake (Uchiha)/DLDR!/miss TYPO(s)

Chapter III


.

.

.

"Kerunooo! Argh! Dasar anak baru tidak tahu diri!" Ino Tanami mengehentakkan kakinya kesal saat mendapati karyawan baru yang memiliki wajah tampan itu pergi begitu saja dari toko yang seharusnya mereka jaga berdua.

Iris aquamarine-nya tiba-tiba saja menemukan sesuatu yang tergeletak tak berdaya di lantai. Kerutan alis yang semula samar itu, kini tercetak jelas di wajah cantiknya. Diraihnya benda putih kecil itu sambil membenahi letak poni pirang panjangnya.

"Ini…" ia bergumam tak jelas mengamati benda aneh berwarna putih yang ia rasa tak asing. Setelah beberapa detik mengamati benda tersebut, alisnya pun terangkat. Tidak mungkin kalau ini sepatu mungil yang tadi, 'kan? Kenapa jadi tak berbentuk begini?

Drrrt… Drrrt… Drrrt…

Tangan lentik karyawati pirang itu merogoh saku celananya.

From: Keruno

Toko harus segera ditutup. Bos menelponku barusan, katanya hari ini kita diliburkan. Maaf aku pulang duluan saking senangnya. Selamat beres-beres SENDIRIAN, ya, Ino-chaaan~

Hue? Cowok sialan! Batin Ino kesal.

"Jadi, dia pulang duluan meninggalkan cewek secantik aku membereskan dan menutup toko ini sendirian?" gadis pirang itu mengerucutkan bibir sambil memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celana.

Baru saja kakinya akan melangkah masuk untuk meraih selambu, namun langkahnya terhenti ketika angin kencang secara tiba-tiba berhembus. Ia mengerutkan alis seraya mendongak menatap langit.

Ino baru sadar kalau kawasan ini ditutupi awan gelap. Awan itu sepertinya bergerak ke arah Keruno pergi, namun Ino tak menyadarinya. Entah kenapa ia merasakan firasat buruk melihat pergerakan awan yang tak wajar itu. Dengan segera, ia melangkahkan kaki masuk untuk menutup toserbanya dan bergegas pulang.

.

==00==00==00==

.

"Sasuke-kuuuun!" pipi tirus Sasuke terus saja ditarik oleh Sakura Senju yang sedang menekuk wajah karena kesal. Sasuke tak menghiraukan dan terus melangkah dengan cepat sambil tetap menggendong gadis kecil dalam pelukkannya.

Iris hijau cemerlang Sakua kecil terpaut pada sebuah toko bercat merah muda di seberang jalan. Senyum tergores manis di wajah imutnya.

"Itu es kliiim!" serunya, tapi Sasuke masih tak menghiarukan. "Es kliiim!"

Dari kejauhan, sepasang mata beriris hijau viridian itu memerhatikan wajah mungil Sakura yang sedang menjulurkan tangan kecilnya ke arah seberang jalan. Gadis kecil itu terlihat seperti akan menangis karena tidak dituruti.

Keruno mempercepat langkahnya, mengikuti sang ayah yang berada belasan meter di depannya. Dalam hati ia meragu, apakah benar itu ayah dan ibunya. Tapi kilasan suara-suara dari masalalunya berputar begitu melihat sepasang obsidian itu.

Melihat punggung terbalut sweater hitam di depan sana, membuat Keruno ingin segera menggapai punggung itu. Rasa kerinduan, amarah dan kekecewaan berkecamuk dalam dadanya.

Ayah… Keruno melirih dalam hati.

Deg. Langkah Sasuke terhenti seketika. Kebisingan pinggir jalan raya dan suara rengekan Sakura mendadak hilang tergantikan sebuah suara yang menggema. Bagai melempar dirinya dalam sebuah lorong gelap tiada berujung.

Ayah…

Ayah…

—yah…

—yah…

Ragu-ragu, kepala berambut raven itu menoleh pelan. Keruno belum menghentikan langkahnya ketika ayahnya berbalik menatapnya.

Langkah Keruno di belakang sana pun terhenti, menatap ayahnya. Viridian dan obsidian kembali bertemu.

Bisa saja, Keruno menyamai langkah sang ayah. Namun pemuda berambut hitam kebiruan dengan selembar kain biru gelap di dahinya itu memelankan langkah.

Kau bukan anakku…

Kau bukan anakku…

Bukan…

Bukan…

—kan…

—kan…

Suara berat itu menggema di kepala Keruno. Iris viridiannya menatap nanar sang ayah—yang sudah memunggunginya kembali—dan tangan mungil Sakura yang merengek meminta ice cream. Hatinya berdenyut sakit. Sangat sakit.

Sebegitukah ia tidak diinginkan?

.

==0==00==00==

.

Langit malam, lampu-lampu kota. Terlihat begitu indah dari balkon lantai tujuh ini. Sepasang kaki-kaki kecil menjulur kebawah, terselip diantara jeruji pagar balkon. Kedua tangan mungilnya pun menggenggam jeruji-jeruji tersebut. Bersenandung dengan gumaman suara kecilnya yang terdengar begitu menggemaskan.

Tak lama kemudian, ia dapat merasakan tangan-tangan besar meraih kedua ketiaknya dari belakang. "Apa yang kau lakukan disitu, Sakura?"

"Eh?" viridian menangkap wajah Sasuke yang sedang mengerutkan alis.

"Jangan duduk disitu, berbahaya. Kalau jatuh, bagaimana?" tersirat nada khawatir sekaligus marah. Bibir tipis nan mungil Sakura mengerucut kecil. Agaknya ia masih kesal, karena tadi sore Sasuke tidak membelikannya es krim.

"Bialin. Aku sebal, Sasuke-kun tidak membelikanku es klim!" seru Sakura menumpuk kedua tangannya di depan dada. Melihat wajah lucu yang sedang ngambek itu, perlahan kerutan alis Sasuke memudar, digan sntikan sebuah tarikan pada salah satu sudut bibirnya. Sasuke mengeratkan gendongannya, dan mengecup pipi tembam Sakura kecil, lalu membawanya masuk ke dalam kamar.

"Tidurlah." Kata Sasuke ketika sudah selesai menyelimuti tubuh Sakura dengan selimut tebal. Tangan mungil Sakura menyentuh permukaan kulit pucat Sasuke.

Dan satu kecupan lembut di dahi lebar namun kecilnya, Sakura pun tenggelam dalam ketidaksadaran. Sasuke tersenyum. Mengecup bibir kecil itu sambil mematikan lampu meja di samping ranjang.

Lalu menghilang bersama hembusan angin malam…

.

==00==00==00==

.

Gadis kecil berumur empat tahun dengan rambur merah mudanya sedang terlelap begitu damai. Tangan-tangan mungilnya menggenggam selimut dan menariknya agar lebih melindungi tubuhnya dari udara yang dingin.

Secara tiba-tiba matanya terbuka. Menampilkan sepasang viridian cemerlang yang terlihat sama sekali belum mengantuk. Tubuh mungilnya perlahan bangkit untuk terduduk. Melihat sekitar, tak ada pria dewasa berkulit dingin yang beberapa hari ini menemaninya.

Hanya desau angin yang masuk dari pintu kaca balkon yang terbuka lebih lebar karena dorongan angin yang menyapanya. Dari sini, Sakura dapat melihat betapa indahnya cahaya bulan purnama, dipadukan temaram lampu-lampu dari gedung lain yang belum redup. Berkelap-kelip… betapa ia begitu menyukai pemandangan malam hari seperti itu.

Sesuatu yang aneh ia rasakan. Perasaan seperti sakit sekaligus bahagia, Sakura tidak tahu itu apa. Ia hanya gadis kecil yang tidak mengerti kenapa dirinya bisa berada di sini. Terpisah dari keluarganya—yang telah tiada. Rasa sakitnya kian terasa, ia baru ingat bahwa dirinya kehilangan segalanya semenjak dibawa bersama pria berkulit dingin yang mengaku bernama Sasuke Uchiha.

Mendadak hanya ada satu orang dalam hidupnya, dan orang itu adalah Sasuke.

Sakura merasa… kesepian… pemandangan malam yang berhiaskan lampu-lampu kota dan jalanan itu seakan mengobatinya.

Ia suka berada di malam hari.

Iris hijau cemerlangnya perlahan berkeser secara tak sengaja ke salah satu sudut ruangan dekat jendela. Alisnya terangkat, begitu melihat seorang pemuda bertubuh jangkung tiba-tiba saja sudah berada di situ. Sejak kapan?

Ruangan minim cahaya itu dibantu dengan sinar rembulan yang masuk melalui pintu kaca balkon.

Pemuda berambut hitam kebiruan dengan gaya melawan grafitasi berdiri di pojok kamar tersebut. Kulitnya pucat, iris hijau viridian-nya menatap datar sosok gadis kecil yang sedang balik menatapnya dengan polos—dengan sorot penuh keingin tahuan. Agaknya sang pemuda sedikit heran, anak kecil ini tak takut sama sekali dengan kehadirannya yang secara tiba-tiba.

"Nii-chan siapa?"

Gadis itu turun dari ranjangnya, menghampiri sosok pemuda tampan dan jangkung di sudut sana. Senyum tergores di wajah Sakura, tangan mungil dan hangatnya meraih tangan besar dan dingin pemuda itu. "Nii-chan, main denganku, ya."

Viridian Keruno menatap datar gadis kecil di depannya dengan sedikit merunduk. Gadis itu terlihat memainkan gelang-gelang hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Iris hijau Keruno perlahan berubah merah. Senyuman miring tertarik dari sudut bibir kirinya.

Ternyata terlalu mudah…

"Nii-chan, main denganku ya?" Sakura kini mengangkat kepala merah mudanya, setelah puas memainkan gelang-gelang hitam di tangan Keruno tadi.

Dan kedua viridian yang sama cemerlangnya itu bertemu… waktu seakan berhenti berputar… Keruno terbuai, merasakan tubuhnya seolah meringan dan tersedot iris viridian di hadapannya. Gadis mungil itu masih menatapnya polos.

Tiba-tiba saja, ia merasa sekitarnya memutih. Sangat putih bersinar hingga membuatnya sedikit kesilauan. Yang bisa ia lihat hanya gadis kecil yang masih menatapnya perlahan berubah wujud menjadi seorang remaja cantik dengan warna rambut dan iris mata yang masih sama.

.

.

"Keruno-kun…"

Remaja cantik itu tertawa. Tertawa memanggil namanya. Keruno dapat melihat dengan jelas. Sepasang viridian bersih cantik memantulkan sosoknya.

Keruno merasakan adanya dentuman hebat dalam dirinya. Ia memang bukan manusia lagi, ia yakin jantungnya sudah tidak berfungsi. Tapi ia bisa merasakan dengan pasti. Adanya debaran-debaran yang begitu membahagiakan. Membahagiakan batinnya yang sudah lama terpuruk dalam kubangan kesedihan dan kekecewaan.

.

.

"Keruno-kun." kedua pipi remaja cantik itu memerah menatapmu, Keruno. Helaian merah muda indahnya menjuntai di samping wajahnya yang tertunduk malu.

"Aku menyukaimu…"

Dan kalimat itu menggema di kepala Keruno.

Aku menyukaimu…

—menyukaimu…

—nyukaimu…

—kaimu…

—mu…

.

.

.

Keruno tertarik kembali dalam dunia nyata, sepasang viridian yang masih sama itu tetap menatapnya dengan polos. Sakura kecil masih mendongak, menarik telapak tangan besar Keruno dan tanpa sadar… Keruno telah Sakura seret hingga keduanya terimpa cahaya rembulan. Dan detik itu juga, Keruno teringat apa tujuannya kemari…

.

.

Bunuh.

Tidak.

Bunuh!

Jangan.

Bunuh sekarang juga, buat pengorbanan Sasuke sia-sia!

Jangan gadis mungil ini…

SEKARANG!

.

.

"DIAAAM!" Keruno mencengkram rambut hitam kebiruannya erat-erat dengan kedua tangannya. Kepalanya mendadak sakit, bagai ditempa beton keras ribuan kali… tiada henti…

Ini tujuan utamamu.

Buat Sasuke Uchiha menyesal telah menelantarkanmu.

Diam.

Bunuh sekarang juga.

Hentikan.

Lakukan sekarang, Keruno!

Tidak.

Sekarang, Keruno!

Cukup!

SEKARANG!

.

.

"DIAAAAAAAAAAM!" Keruno menjambak rambutnya makin keras dengan tubuh yang mulai bergetar. Adanya perasaan galau karena bimbang tiba-tiba menderanya, tanpa pernah ia duga sebelumnya. Bayangan remaja cantik dengan rambut merah muda itu masih melekat di kepalanya. Mengingat sinar teduh di iris hijau remaja itu membuat Keruno sakit. Rasanya begitu sakit hingga ia tak berani menggapainya. Apa lagi… membunuhnya.

"Nii-chan."

Keruno mengangkat kepalanya, ia baru sadar bahwa dirinya sedari tadi sudah terduduk dilantai dengan kedua kaki tertekuk dan kedua tangan menjambak kepala yang ia benamkan di antara kedua lututnya.

Ia dapat melihat Sakura kecil sedang menatapnya dengan sorot kebingungan.

"Nii-chan sakit? Nii-chan kenapa?" kedua telapak mungil itu menempel di kedua pipi Keruno yang masih mengerutkan alis. Keruno menatap gadis mungil itu dengan tatapan terluka. Kedua tangannya masih melekat pada rambutnya sendiri, namun telah mengendur karena tangan-tangan mungil dan hangat Sakura memainkan pipinya.

"Nii-chan jawab aku…" ucap Sakura gemas dengan menggoyang-goyangan kedua pipi Keruno. Pemuda berkulit dingin itu masih terdiam. Kerutan alisnya perlahan memudar merasakan betapa hangatnya telapak mungil itu. Tatapan Keruno pun berubah datar.

"NII-CHAAAN!" pekik Sakura kali ini sambil menarik-narik kedua pipi tirus Keruno, dan itu membuat kedua sudut bibir Keruno sedikit terangkat. "Nii-chan!"

Keruno tersenyum lebar dengan mata menyipit.

"Hmm…!" tanpa aba-aba Keruno menerjang tubuh mungil itu hingga keduanya terlempar di atas ranjang.

BRAK!

Pekikan tawa Sakura terdengar.

Keruno terkejut setengah mati atas perbuatan diluar kendalinya. Sakura mungil berada di bawahnya meski ia menyanggah berat tubuhnya dengan kedua sikunya. Tapi yang membuatnya kaget adalah ia baru saja membuat ranjang itu rubuh. Untunglah Sakura tidak apa-apa.

"Hihihi…" gadis mungil dalam dekapannya itu tertawa menggemaskan. "Lagi… Nii-chan, lagi…" pintanya sambil menepuk-nepuk kedua pipi Keruno.

"Lagi?" Keruno membeo tak mengerti. Sakura mengangguk antusias.

"Iya, telbang, telus jatuh di atas kasul! Lagi…! Lagi…!"

Keruno kembali mengulas senyum dengan mata yang menyipit. Rasanya sudah lama sekali ia tidak tersenyum selebar dan selepas ini. Membuat beban di hatinya sedikit terangkat.

Namun tiba-tiba senyumannya memudar ketika mendengar suara lembut remaja cantik dalam ilusinya tadi, kembali terdengar.

.

"Keruno-kun…"

.

"Keruno-kun!"

.

"Keruno-kun?"

.

"Keruno-kun no BAKA!"

.

"Nii-chan?" Sakura kecil itu mengeluarkan suara yang berbeda. "Nii-chan?" dan sekarang berubah seperti semula, cempreng. Kedua iris viridian gadis mungil itu kembali menyakiti hati Keruno. Tatapan polosnya. Keruno tak sanggup lagi.

Pemuda tampan itu pun bangkit dan segera berjalan secepat cahaya menuju pintu balkon lantai tujuh ini, lalu melompati pagar jeruji di sana, dan hilang dalam penglihatan Sakura kecil yang tertegun menatap kepergiannya.

Gadis kecil itu hanya bangkit untuk duduk di atas ranjang rusaknya. Tidak kaget. Tidak takut. Hanya senyum tipis tergores, lalu kembali merebahkan tubuh mungilnya dan segera menarik selimut. Kemudian terlelap hanya dalam hitungan beberapa puluh detik.

Dan saat itu juga sosok yang lain muncul dari balik pintu kamar. Sasuke Uchiha menatap ranjang rusak di dalam kamar dengan kerutan alis yang tercetak jelas. Segera saja ia masuk dan melepas jaketnya. Menaruh beberapa kantung belanjaan di lantai dan segera menghampiri ranjangnya yang telah rubuh itu.

Diperhatikannya dengan seksama keadaan Sakura. Gadis mungil itu terlelap seolah tak terganggu sedikit pun. Hidung mancung Sasuke mengendus kasar sekitar tubuh Sakura. Kerutan alis pun semakin jelas. Rahangnya mengeras…

.

==00==00==00==

.

-14 TAHUN KEMUDIAN-

Move to Suna.

.

==00==00==00==

.

Seorang gadis berambut merah muda itu berjalan dengan membawa beberapa map di pelukannya. Tubuh kurusnya terbalut dress cokelat kalem dilapisi cardigan merah, kaki mungilnya dibungkus flat shoes hitam. Sangat biasa, memang. Itulah dia. Namun paras cantiknya juga rambutnya yang menjuntai indah sepunggung mampu menjerat lelaki mana saja yang melihatnya, apalagi gadis itu murah senyum.

Setiap orang yang ia kenal berpapasan dengannya selalu ia lempari dengan senyuman manis dan sapaan menyenangkan. Sakura Senju. Mahasiswi angkatan baru itu cepat terkenal karena kepribadiannya yang unik. Ceria, terkadang galak, terkadang lembut, peduli terhadap teman, dan akan luar biasa marah jika temannya disakiti. Gadis itu juga terkenal dengan sifat naifnya.

Semua menyukainya. Semua mengidolakannya. Hampir semua lelaki normal di Universitas Suna menginginkan dekat dengannya, syukur-syukur bisa menjadi kekasihnya. Tapi satu penghalang juga saingan terberat bagi mereka yang ingin mendapatkan hati Sakura. Yakni, Keruno Hatake.

"Keruno Hatake?" Sakura terkikik pelan, "Tidak. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya, sungguh." Ucap Sakura kemudian melanjutkan langkah bersama seorang temannya yang berambut cokelat.

"Ayolah mengaku saja. Satu kampus sudah mengetahui hubunganmu dengan ketua senat itu." desak temannya lagi.

Sakura mengikik pelan. "Matsuri, itu tidak mungkin. Dia itu pervert sejati."

Matsuri memutar irisnya dengan malas. "Kau kebanyakan mengelak. Dan lagi, setahuku dia cuma pervert dengan kau."

Sakura mendesah mengurangi tawanya dengan helaan napas panjang. "Aku heran, kenapa banyak sekali yang mengira begitu?"

"Karena memang kau dekat dengannya. Kau satu-satunya cewek yang dekat dengannya. Sa-tu-sa-tu-nya!"

"Kau cemburu?"

"Tentu. Dia itu cowok tertampan yang diincar banyak cewek. Sedangkan kau cewek tercantik yang diincar banyak cowok. Dunia ini tak adil." Matsuri menggerutu dibuat-buat, dan itu membuat Sakura semakin tertawa saja.

"Siapa yang mengincarku memangnya?"

"Banyak."

"Mana?"

Matsuri menghela napas, berpura-pura menatap malas. "Jangan belagak bodoh deh. Kau kan tahu, tak ada yang berani mendekatimu, karena kau sudah terlebeli oleh ketua senat kita. Ketua senat yang merupakan ketua eskul karate. Juara umum, cowok jenius, pion sciene club. Ahh, perfect banget sih. Kau bodoh kalau nggak memacarinya!"

Guratan kemerahan terlihat di wajah Sakura, dan itu membuat Matsuri semangat menggodanya. "Bahkan reaksi wajahmu gak bisa bohong, kau suka padanya."

"Ih. Apaan sih. Sudah ah, aku gak mau membahas soal ini." Elak gadis berambut merah jambu dengan menundukan kepala, menatap lantai.

"KERUNO-SAAAAAAAAAN!" teriakan melengking itu memekakan telinga Sakura dan memaksanya mengangkat wajah.

"KERUNO-SAN! KAU DICARIIN SAKURA!"

Sakura reflek menutupi wajahnya dengan tumpukan map yang ia bawa. Orang-orang sekitar pun seudah menoleh ke arahnya karena teriakan super Matsuri.

"Matsuri! Apa-apaan kau?" protes Sakura menyikut lengan temannya yang satu itu.

"Ihihi, aku duluan ya, Saku-nyan." Matsuri tersenyum jahil dan mencubit pipi Sakura sebelum akhirnya pergi dari situ. "Jaaa…!"

Sementara Sakura menggerutu memegangi pipinya dan menatap garang ke arah dimasa Matsuri pergi, seorang pemuda berambut hitam kebiruan dengan iris hijau cemerlang mendekatinya. Kedua tangan pemuda itu tenggelam dalam saku jaket hitamnya. Kain berwarna biru dongker polos bertengger di dahinya—ikat kepala.

"Konichiwa. Sakura-chaaan." Sapa Keruno membungkuk. Bukan, bukan membungkuk sopan, tapi membungkuk menyejajarkan tinggi Sakura—dengan kata lain, mengejek.

Sakura mengerucutkan bibir, sebenarnya berpura-pura sebal sambil berharap Keruno lupa apa yang diteriakkin Matsuri tadi.

"Kenapa mencariku?"

Dan ternyata gagal. Keruno ingat. Sementara teman-teman kampus mereka mulai berbisik-bisik, kembali bergosip tentang hubungan di antara keduanya. Ada yang berdecak kagum, ada pula yang bergumam tak suka.

"Aku gak mencarimu, jangan geer." Gadis bermata viridian itu masih berpura-pura kesal, menutupi rona wajahnya. Dan Keruno tahu itu.

Keruno tersenyum dan menatap Sakura jahil. "Sudah gak ada jam kuliah lagi kan?"

Sakura menggeleng. Keruno kembali tersenyum, senyum yang lebih misterius dan jenaka. Tanpa aba-aba, tangan dingin pemuda itu menarik mungil nan hangat Sakura. "Ikut aku."

"Eh?"

.

==00==00==00==

.

Hamparan rumput berhiaskan beberapa bunga dandelion terlihat bergerak anggun karena belaian angin musim panas di siang hari ini. Langit mendung, sepenuhnya tertutup awan gelap. Cahaya matahari benar-benar tak sampai pada tanah. Sama sekali.

Gadis itu duduk di atas rumput begitu saja, tanpa alas. Keruno tersenyum karenanya, ia bangga telah menyukai gadis sederhana dan tak manja, seperti Sakura Senju. "Yah, setiap ke sini selalu mendung!" gerutu Sakura dibuat-buat. Tangannya mulai menggapai beberapa bunga dandelion. Sementara Keruno duduk di sebelahnya.

Keruno tak mengeluarkan sepatah kata pun, ia lebih memilih menyaksikan pemandangannya saat ini. Objek terindah dalam hidupnya yang bahkan membuatnya terlupa akan derita dan luka masa lalunya. Seakan menguap begitu saja bersama tergoresnya senyuman di wajah perempuan cantik di sebelahya.

Desau angin bermain-main pada helaian merah muda itu, membantu sang gadis meniup serbuk dandelion yang terlepas dari tangkainya. Setitik kesenangan perlahan mengembang di hati Sakura, ketika melihat serbuk-serbuk itu terbawa angin. Rasanya, ia ingin seperti itu. Terbang, melayang, terbawa angin, dan mendarat di manapun yang tak ia duga.

"Keruno-kun..." Sakura sontak memerah sendiri, ketika ia menoleh, Keruno memang sedang memerhatikannya. Bahkan dari jarak sedekat ini, Keruno malah makin tampan. Hidung mancungnya, pipi tirus dan rahang kokoh, kedua mata yang nyaris sama persis dengannya. Menawan.

"Apa?" tanya Keruno ketika tak kunjung mendapatkan kelanjutan dari perkataan Sakura. Sakura membuang mukanya, mengalihkan pandangan pada rumput-rumput yang bergoyang. Bahkan ia jadi lupa seketika apa yang ingin dikatakannya ketika gugup seperti ini.

Kenapa aku jadi aneh begini? Batin Sakura memainkan rumput-rumput di dekat kakinya.

"Sakura-chan." suara baritone itu terdengar berbeda. Tidak sejenaka biasanya, terdengar lebih dalam dan menarik. Sakura menoleh, dan detik itu juga jantungnya terpacu, mengapa angin yang menerpa wajah Keruno membuatnya terlihat semakin tampan. Rona hangat tak terelakan di wajah Sakura, Keruno tersenyum tipis melihat hasil perbuatannya. Hanya memanggil, bagaimana kalau ia mengatakan ini...

"Apa kau menyukaiku?"

Blush.

Sakura menunduk, sengaja mengerutkan alis, menunjukkan ekspresi bahwa ia sedang marah. Dan itu gagal, di mata Keruno.

"A-apa yang kau bicarakan!"

Pemuda tampan di sebelah Sakura tak menjawab, ia hanya menyelipkan lidah di antara belahan bibirnya sekilas dengan ekspresi berfikir, merebahkan diri, menatap awan gelap.

"Hm." hanya gumaman itu yang Sakura dengar. Membuatnya kecewa. Sakura bukanlah gadis bodoh, dari gerak-gerik Keruno, Sakura tahu bahwa pemuda itu pun menyukainya. Hanya saja, kenapa tak kunjung dikatakan?

Lama terdiam. Tak ada kata-kata lagi yang terucap dari keduanya. Keruno masih memerhatikan punggung kecil Sakura yang masih terduduk.

Sementara Sakura beberapa kali menghela napas, mencabuti rumput-rumput tak berdosa. Sesal terasa, kalau saja tadi ia menjawab pertanyaan Keruno dengan benar, mungkin selanjutanya akan berjalan sesuai dengan keinginannya. Tapi bagaimana bisa menjawab dengan benar, kalau Keruno memandanginya seperti tadi?

Sentuhan jari keruno terasa di punggungnya, Sakura menoleh. Keruno memberi isyarat padanya agar dirinya ikut merebahkan diri, menaruh kepala di perut Keruno. Dan Sakura menurut. Sebelah tangan Keruno menjadi alas kepalanya, sebelahnya lagi mengelus helaian merah muda Sakura.

"Mungkin begini lebih baik." gumam Keruno, masih menatap langit dengan sebelah tangan bertengger di kepala Sakura.

"Hm?" Sakura ikut bergumam, sesungguhnya ia sedang memejamkan mata, menikmati elusan tangan besar... meski dingin. Juga menikmati desau angin yang masih setia membelai tubuh dan wajahnya. Sungguh menyejukkan.

"Aku menyukaimu."

Sakura mengerutkan alis samar, meski hatinya berlonjak girang. Tidak, mungkin saja ia salah dengar. Ia ingin memastikan hal tersebut. Gadis berambut merah muda itu pun bangkit dan menatap Keruno langsung. Sebelah tangan Sakura menumpu berat badannya yang menoleh ke arah Keruno.

"Apa?"

Kedua viridian itu bertemu. Wajah Keruno memang tak berekspresi apa-apa. Tapi pandangan matanya... seolah benar-benar mencintai.

"Aku menyukaimu." ulang Keruno bangkit dan langsung menarik Sakura dalam pangkuannya. Keruno duduk bersila, semenara Sakura di atasnya tapi menghadap kesebelah kiri. Pekikan terkejut gadis itu pun terdengar, jantungnya makin berdegup kencang saja. "Aku menyukaimu, Sakura Senju."

Blush.

Senyuman mengejek pun tergores di wajah Keruno, ia bangga telah membuat gadis yang disukainya merona hebat. "Jawan aku, Sakura, apa kau menyukaiku?"

Terlihat sekali kegugupan dalam pergerakan Sakura, gadis itu bergerak kikuk. Berlama-lama dalam pangkuan Keruno Hatake bisa membuatnya pingsan, tapi rasanya sayang juga kalau dilewatkan. "Keruno-kun..."

"Ya,"

Sakura menarik napas dalam-dalam lalu mengumpulkan semua keberanian untuk menatap wajah pemuda itu. Senyum malu pun tak tertahankan. Rasanya ia ingin tertawa meledak, entah karena apa. Yang jelas, ia tidak tahan. Dengan wajah merona hebat dan senyum malu-malu, Sakura pun berkata...

"Aku menyukaimu..."

Aku menyukaimu…

—menyukaimu…

—nyukaimu…

—kaimu…

—mu…

.

.

de ja vu.

.

.

Keruno tersenyum, senyum yang berbeda. Segera saja ia melingkarkan kedua tangannya, mengurung tubuh mungil itu erat-erat seakan tak ingin kehilangan.

"Ke-runo-kun. Uhuk. pelan...pelan..." ups, Keruno kembali tersenyum, rupanya ia telah lepas kendali. Dilonggarkannya dekapan itu dan terlepas, menatap lekat-lekat paras cantik kekasih barunya.

Kedua viridian bertemu.

"Aku yakin kau jodohku." kata Keruno dengan nada penuh percaya diri. Rona merah semakin bertambah di wajah Sakura. "Karena kita memiliki warna mata yang sama..."

Sakura mengangguk. "Itulah kenapa aku begitu suka warna hijau."

.

==00==00==00==

.

Hari sudah malam.

Sakura tersenyum membawa kantong kertas berlebel, memasukki apartemennya. Hatinya berbunga-bunga. Untuk pertama kalinya, ia memiliki seorang kekasih. Tampan, tenar, juara hampir semua bidang, mencintainya dan dicintainya. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan yang ia rasakan lagi setelah ini, itu menurutnya.

"Dari mana saja kau?"

Sakura terlonjak kaget hingga menjatuhkan kantong yang ia bawa. Seorang pria berambut emo dengan wajah pucat dan celana panjang serta kemeja hitam sedang melipat tangan di depan dada. Menatap tajam kedatangan Sakura.

"S-sasuke-ji"

"Panggil aku Sasuke-kun!"

"Sas-suke-kun." Sakura tertunduk, tak berani bergerak, bahkan memunguti kantung tadi pun tak berani. Ini adalah salah satu dalam hidupnya yang membuatnya setengah depresi.

Sasuke Uchiha. Pria tampan yang selalu terlihat dua puluh empat tahun itu terus meneror Sakura dengan berbagai pertanyaan, jika Sakura sudah sampai rumah. Sakura tak pernah mengerti, mengapa pria itu begitu bersikap protektif padanya. Sasuke adalah seorang pria yang Sakura kenal sebagai pengasuhnya. Sudah seharusnya ia memanggil Sasuke dengan sebutan paman. Tapi Sasuke selalu marah jika ia melakukan itu.

"Apa ini?" Sasuke membuang seluruh isi kantong tadi di atas lantai. Mata Sakura membulat, segera saja ia selamatkan sebuah kotak Music Angel berwarna hijau toska itu. Sasuke memicing, gaun, sepatu, kardigan, kaus, semua yang keluar dari kantong tadi berwarna hijau. Termasuk benda yang sakura pegang.

"Sejak kapan kau menyukai warna hijau?" hardik Sasuke mencengkram kedua lengan Sakura erat, dan itu membuat sang gadis berjengit antara takut, kaget, dan sakit. "Jawab aku!"

Sakura bergidik takut, masih tertunduk. "Sesejak"

"TATAP AKU!" bentak Sasuke. Takut-takut, Sakura mengangkat wajahnya. Iris viridiannya bertemu langsung dengan obsidian Sasuke. Sakura mengangkat alisnya tinggi-tinggi, ketika obsidian di hapadannya berubah menjadi merah—crimsons. Sakura bukan gadis yang bodoh, ia sangat tahu siapa yang di hadapinya.

Seorang half-vampire. Beberapa tahun terakhir, Sakura sudah mencari tahu kejanggalan-kejanggalan yang ada pada pria itu. Dunia internet memberitahu segalanya. Karena itu, ia bersedia menyembunyikan keberadaan Sasuke. Pria itu selalu memeluknya kala ia terlelap, ia tahu itu. Pria itu selalu mendatanginya setiap hari. Bersikap penuh rasa sayang. Namun belakangan, Sasuke berubah drastis. Sejak hati Sakura dimiliki oleh Keruno Hatake. Sejak awal Sakura memang tidak memiliki perasaan apapun pada Sasuke, setidaknya itu yang Sakura tahu.

Cahaya crimson itu menembus viridian milik Sakura. Sasuke menatap tajam, dan dari sanalah ia terjun untuk mengetahui segalanya.

.

.

"Apa kau menyukaiku?"

.

.

"Aku menyukaimu..."

.

.

"Keruno-kun. Aku menyukaimu."

.

.

"Kita jodoh, warna mata kita sama."

.

.

"Aku suka hijau."

.

.

"Sakura..."

cups...

.

.

Sasuke kembali ke dunia nyata. Menatap gadis dalam cengkramannya dengan penuh amarah. Satu tangannya merebut kotak Music Angel di tangan Sakura lalu menghancurkannya dalam sekali cengkram. "Jangan!" teriak Sakura namun sudah terlambat, ia hanya dapat melinangkan air matanya. Menyesali pemberian kekasihnya, Keruno.

Emosi menguasai diri Sasuke Uchiha sepenuhnya. Dengan kasar, ia menggeret Sakura ke kamar. Membanting tubuh mungil itu di atas ranjang.

Kau menghianatiku. Batin Sasuke getir.

Sakura merasakan matanya panas, ia menyadari sesuatu yang menyakitkan dalam pandangannya. Sakura dapat melihat dengan jelas iris merah itu menatapnya penuh kebencian, amarah, terluka, kecewa, juga tatapan... mencintai...

.

.

.

.

.

.


To be continue...


Next chapter RATE NAIK M!

Sebenernya ngga berniat bikin lime/lemon, tapi Kuromi harus ceritain gimana Sasuke ngelampiasin rasa sakit hatinya. Meski dengan cara yang salah. *siapin ranjang baru, bakal rusak lagi kayanyah* xDD

Thanks for all readers, makasih banget atas review and dukungannya ^^ girang banget aku dapet respon banya.

REPIU?

jangan lupa login, biar bisa aku bales :* #kiss