"Masuklah," tukas laki-laki berambut merah itu datar. Deidara menaikkan alis, mengira kalau ia tengah berhalusinasi.
"Eh..?"
"Masuklah, bocah," ulang Sasori tak sabar. Deidara terduduk lemah.
"Memangnya didalam muat untuk dua orang, un?"
Amerta
Genre : Friendship/Humor
Rate : T
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: Setting canon, OOC (mungkin), hints friendship antar kriminal yang agak aneh. Mungkin akan terselip sedikit humor tersirat.
VI.
.
Ketika Deidara pulang dari sebuah misi tunggal ke sebuah pondok di tengah hutan tempat mereka bermalam—hidungnya mencium bau sup yang tengah dimasak.
"Hmm.." pemuda berambut pirang itu mendadak merasa lapar. Ia segera berjalan masuk tanpa mengetuk lebih dahulu, dan melangkah ke dapur.
Seorang lelaki berambut merah tengah berdiri di depan sebuah tungku.
"Tadaima," kata Deidara memberi salam. Ia menoleh.
"Uhm..okaeri, bocah," balasnya pendek, dan ia kembali berpaling ke tungki di hadapannya. Pemuda berambut pirang itu tersenyum tanpa sadar. Ia masih belum terbiasa dengan wujud sebenarnya dari seniornya itu. Tapi..jujur, ia lebih menyukai sang Danna dalam wujud yang seperti ini.
"Kau membuat apa, un?" tanyanya sembari mengintip dari bahu sang partner.
"Sup daging."
"Daging apa, un?"
Sasori meneruskan mengaduk. "Kelinci. Masih segar," ia menyendok sedikit cairan dari sup itu, menyentuhnya dengan jarinya, dan mematikan api.
"Tolong ambilkan mangkuk di rak," gumamnya pada Deidara. Pemuda berambut pirang itu segera bergegas mengambil dua mangkuk.
Sasori mengangkat alis.
"Satu saja, bocah," perintahnya pelan. Deidara terdiam. Tapi sejurus kemudian, ia menaruh mangkuk yang satunya lagi tanpa mengatakan apa-apa. Pemuda berambut pirang itu menyerahkan mangkuk di tangannya, dan sang partner mengisinya hingga penuh. Deidara membawa mangkuk itu ke meja. Ia mengambil sendok.
"Kau tidak makan, un?" tanyanya pada sang Danna yang tengah membagi-bagi sisa sup di tungku ke dalam bungkusan-bungkusan kecil.
"Mm, tidak," ia meneruskan pekerjaannya. Deidara mengernyitkan kening bingung. Sejak lima hari mereka sebagai partner, ia belum pernah melihat lelaki berambut merah itu makan.
'Mungkin ia makan didalam Hiruko-nya, un..' pikir pemuda berambut pirang itu, dan segera menyuap suapan pertamanya.
Sup itu hangat, sedikit berminyak, kental, dan..enak.
"Hei, ini enak sekali, un!" puji Deidara riang. "Kau membuat resepnya sendiri?"
"Tidak, dari Nenekku." balasnya pendek.
"Wow..kalau begini, seharusnya Danna membuka warung ramen saja, un! Akasuna no Ramen," usul pemuda berambut pirang itu bersemangat.
Sasori menaikkan alis. "Kusiram kuah panas kau, bocah!"
VII.
.
"Hei bocah, jika kau terus terbang di atas sana di tengah padang pasir begini, kau bisa dehidrasi."
Deidara mengabaikan pernyataan tadi. "Disini lebih cepat, Danna."
Sang partner mengernyitkan keningnya. 'Dasar keras kepala..'
"Tunggu lima menit lagi, kau pasti akan merasa lemas." Sasori mewanti-wanti dengan nada tajam.
Dan benar saja. Tak sampai lima menit, burung putih dari tanah liat itu terbang rendah, dan mendarat di depan Sasori.
Seorang pemuda berambut pirang tampak terduduk sempoyongan di atasnya.
"Sasori no Danna..aku tak kuat lagi, un.." gumamnya susah payah. Peluh bercucuran dari keningnya, mukanya memerah.
Sang partner tak mengatakan apa-apa. Diambilnya sebotol air dari dalam Hiruko-nya, dan disodorkannya ke arah pemuda itu. Deidara segera meminumnya hingga habis.
"Ah..segar, un. Terima kasih," gumam pemuda berambut pirang itu sembari memejamkan mata. "Tapi..aku tak kuat berjalan lagi, un.." bisik Deidara serak. Sasori menghampiri pemuda itu, dan kemudian membuka engsel di bagian punggung Hiruko-nya.
"Masuklah," tukas laki-laki berambut merah itu datar. Deidara menaikkan alis, mengira kalau ia tengah berhalusinasi.
"Eh..?"
"Masuklah, bocah," ulang Sasori tak sabar. Deidara terduduk lemah.
"Memangnya didalam muat untuk dua orang, un?"
Laki-laki berambut merah itu menahan keinginan untuk menyeret bocah itu kedalam. "Muat untuk dua orang seukuran kita, bocah," jelasnya pendek. Pemuda berambut pirang itu menurut.
Ia memanjat naik kedalam boneka mekanis itu, dan mendarat di sebuah permukaan empuk.
"Ada karpetnya, un?" gumamnya senang. Sasori menaikkan alis, dan segera menutup engsel itu.
"Ya."
"Disini sejuk, un.." Deidara memejamkan mata, ekspresinya senang. "Pantas saja kau betah disini," ia menyandarkan punggungnya di sisi dalam boneka itu.
Sasori mengatupkan bibirnya, berkonsentrasi mengendalikan gerak boneka mekanis itu. "Duduk disitu dan diamlah." Ia terdiam sejenak. "Omong-omong.."
"—AW!"
"..Hati-hati dengan dinding rongga ini, bocah. Aku menyimpan persediaan senbon di dalamnya."
.
.
Bersambung..
.
Notes: Selamat melaksanakan ibadah puasa, untuk yang menjalankannya. :D
Terima kasih kepada Arum Junnie, Kujyou SasoDei, NaNo Kid, kazusa kirihika, akbar123, dan bromery yang sudah mereview chapter kemarin. ^^
.
Oh ya, aku sedang mengadakan polling kecil-kecilan disini. Untuk info lebih lengkapnya, bisa dilihat di profil, ya. :3
.
Bagi yang ingin me-request dialog untuk dimasukkan ke dalam salah satu drabble, silakan beritahu di review, oke? :P
Terima kasih sudah membaca. Komentar, jika berkenan? :)
