It's me, again, and my annoyance level is MAX

Disclaimer : Naruto characters are still Kishimoto's? Yeah, right *mumble mumble*

Warning:

-Some weird family-relations

-Shoai or more hahahaha

Exams are coming... i'm digging my own grave... totally screwed -_-


Chapter 1 : One

"Naruto, kami ingin bicara denganmu.."

Pemuda ini baru saja pulang dari wawancara singkatnya di bar yang akan menjadi tempat kerjanya selama tinggal di Jepang saat Iruka dan Kakashi menyambutnya dengan sebuah permintaan yang cukup aneh bagi Naruto.

"Bicara?", Naruto agak ragu sesaat. Kakashi dan Iruka nampak serius dan Naruto yakin ia belum melakukan satupun kejahilan di sini. "Baiklah, tapi aku mau ganti baju dulu". Kakashi mengangguk sebelum Naruto meninggalkan dua pria itu di ruang makan lalu kembali dengan baju bersih yang dikenakannya.

"Jadi, hal penting apa yang membuat kalian memasang wajah seperti itu?". Naruto memang penasaran dan ia tidak bisa menahan rasa ingin tahunya itu. Terakhir kali ketika Iruka dan Kakashi memasang ekspresi seperti ini adalah saat Naruto terancam dikeluarkan dari sekolah karena terlibat perkelahian hebat dengan anak dari sekolah lain. Ia mendapatkan hadiah berupa satu benjolan dari Iruka, yang memerlukan 3 hari untuk sembuh.

"Ini tentang Ichi..". Iruka mengaduk tehnya dengan arah yang tidak beraturan, secara tidak langsung mengambarkan kegelisahannya.

"Ichi?"

"Ya, kamu tentu menyadari sikap yang ia tunjukkan padamu tergolong aneh.."

Ingin rasanya Naruto melompat dari tempat duduknya dan mengatakan 'IYA' sekencang-kencangnya. Namun ketika ia mendapati Ichi yang tiba-tiba melintas melewati pintu ruang makan, ia pun langsung mengurungkan niatnya itu. Tentu saja ia penasaran bukan main. Sikap Ichi tidak wajar dan itu mengganggunya. Bukan berarti ia tidak menyukai anak itu, namun lama-kelamaan, ia jadi kepikiran. Apa yang sudah ia lakukan sampai-sampai Ichi bersikap begitu dingin padanya. Ia dengan senang hati akan meminta maaf jika memang ia melakukan sesuatu yang mungkin menyinggung perasaan anak itu. Namun Ichi tidak pernah memberikan jawaban. Naruto sudah kehilangan kesempatan bertanya bahkan saat ia belum menanyakan pertanyaannya.

"Ada yang aneh dengan Ichi.."

Ya, Ichi memang aneh. Dan itu membuatku sakit kepala

"Eh? Tunggu…", Naruto langsung memotong pembicaraan ketika ia sadar akan keanehan dalam kalimat Kakashi. "Baru saja kau bilang ada yang aneh dengan Ichi?"

"Ya, ada sesuatu yang berubah dari anak itu..", Kakashi melanjutkan penjelasannya.

"Itu berarti.. Tidak biasanya Ichi bersikap seperti itu?". Naruto hampir terkejut pada dirinya sendiri yang dapat dengan cepat menyimpulkan situasi. Iruka pun tidak luput dari reaksi terkejut atas tindakan Naruto. Setahunya, Naruto adalah orang yang sangat suka bertindak sebelum berpikir.

"Bisa dibilang, pemikiranmu itu tepat Naruto..", Kakashi hanya bisa tertawa kecil.

Pemuda berambut pirang ini menyilangkan tangannya sambil menyenderkan tubuhnya ke kursi tempat ia duduk. "Kenapa?"

Iruka menarik nafas dalam-dalam. "Ichi bukan tipe anak pendendam, jika kau sempat mengira kalau ia menyimpan kebencian padamu, kamu salah besar….".

"Vice versa..", kali ini Kakashi membiarkan Icha Icha fantasynya beristirahat. Masalah ini kelihatannya cukup serius bagi mereka berdua. Naruto tidak bisa menebak kemana pembicaraan ini akan mengarah. Ia tidak mengenal Ichi, atau lebih tepatnya, ia tidak diberi kesempatan untuk mengenal anak itu dengan baik. Setiap saat Naruto ingin mengakrabkan diri dengan Ichi, penolakan adalah hal yang diterimanya. Awalnya Naruto mengira itu semua adalah salahnya, namun sepertinya tidak.

"Kebalikannya Naruto, kebalikannya..", Iruka berusaha menjelaskan tentang keanehan yang terjadi pada anak yang telah ia urus selama hampir satu tahun itu. Perlahan namun pernuh dengan keseriusan, kedua pria di depannya menjelaskan tentang Ichi secara panjang, lebar, dan jelas.

Ichi adalah anak yang terkenal paling ramah di sekolahnya. Nilainya selalu bagus, ia menjadi panutan bagi teman-temannya dan andalan bagi para gurunya. Bicaranya sopan dan tingkah lakunya lembut. Tutur katanya sopan dan menghormati setiap orang yang ia kenal maupun tidak dikenalnya. Ia mengerti mana yang benar dan mana yang salah walaupun usianya masih 6 tahun. Dapat dikatakan bahwa Ichi adalah anak yang cepat menjadi dewasa secara mental, walaupun anak ini masih memiliki sifat kekanak-kanakan sesuai dengan usianya sekarang. Sebelum Ichi berpindah di bawah asuhan Iruka, ia memang sudah dididik oleh keluarganya agar menjadi anak yang baik dan sempurna. Karena Ichi memang sudah memiliki sifat-sifat itu dari sananya, naturalisasi pun dapat berjalan dengan lancar dan Ichi sudah menjadi anak yang keluarga itu dambakan meski masih diusia yang sangat muda. Keluarga itu cukup dihormati dan tentunya Ichi butuh kemampuan seorang tuan muda agar ia bisa menjaga nama baik keluarganya itu. Ia biasa bertingkah laku baik kepada semua orang, namun itu hanyalah kemampuan yang didapatnya dari latihan kesopanan. Ia tidak pernah melakukan hal-hal itu sepenuh hati. Ichi adalah tipe anak yang sulit terbuka pada orang lain kecuali pada orang yang sudah lama ia kenal dan dekat dengannya. "Orang tuanya memang tidak pernah memaksanya melakukan semua itu. Mereka hanya mengusulkan dan Ichi langsung menyetujuinya. Jadi intinya, bisa dikatakan bahwa itu keputusan Ichi sendiri", Iruka menambahkan.

"Jadi tu alasannya..", Naruto menyentuhkan jari ke dagunya, entah mengapa ia juga terlihat sangat memikirkan tentang masalah Ichi.

"Maksudmu?"

"Beberapa hari yang lalu, ketika ia berangkat sekolah dengan mu-", Naruto berhenti sejenak saat salah satu tangannya menggaruk kepala yang dihiasi rambut berwarna keemasan itu perlahan. "—entah kenapa ia memasang ekpresi yang gembira dan dia bisa berbincang-bincang santai dengan temannya, Awalnya aku kira ia memang anak tipe stoic atau semacamnya.."

"Oh itu", Kakashi menganggukkan kepalanya sedikit ketika ia mengingat kejadian dimana Ichi mengacuhkan Naruto.

"Itulah inti permasalahnnya Naruto", Iruka menarik napas panjang sebelum menlanjutkan penjelasannya.

"Seperti yang tadi aku dan Kakashi jelaskan, Ichi adalah anak yang terprogram untuk bersikap baik pada siapapun. Orang asing maupun orang yang ia kenal… Tapi..", Iruka sempat bertukar pandangan dengan pria berambut silver yang duduk di sebelahnya sebelum ia mengutarakan opininya. "Ini pertama kalinya buatku dan Kakashi melihat Ichi bersikap seperti itu. Aneh memang". Kenyataan bahwa Naruto adalah satu-satunya orang yang dibedakan oleh Ichi membuat hatinya cukup sakit

"Memangnya apa salahku?", Naruto yang sudah kelelahan makin lemas mendengar pernyataan Iruka.

"Kami tidak tahu Naruto, itulah yang ingin kami tanyakan padamu", ungkap kakashi sambil menepuk-nepukkan Icha Icha Fantasy di sofa yang ia duduki. "Apa kamu ingat, kira-kira hal apa yang telah kamu lakukan dan itu membuat Ichi kesal?"

"Eh? Apa? Aku bahkan tidak bisa melakukan kontak dalam bentuk apapun dengannya. Bagaimana bisa aku melakukan sesuatu yang ia tidak suka kalau belum apa-apa aku sudah diacuhkan..."

Kakashi memiringkan kepalanya sedikit sambil memasang wajah merenungnya. "Kira-kira ada apa dengan anak itu.."

"Bukan apa-apa.."

Tiba-tiba sesosok anak kecil yang sudah terbalut rapi di bawah piyama berwarna biru langit muncul. Ketiga pria dewasa lainnya langsung menoleh kearah sumber suara. Rambutnya sedikit berantakan. Nampaknya ia secara tidak sengaja terbangun dari tidunya

"Ichi?", Iruka sontak terkejut bukan main. Naruto dan Kakashi hanya bisa diam.

"Susu.. apa kita kehabisan susu?", Tanya anak itu perlahan sambil mengusap-usap matanya yang masih terkantuk-kantuk. Pertanyaan dan gerakan yang dilakukan Ichi sempat membuat Naruto menganggap kalau Ichi adalah anak yang manis sekali.

"Hah?". Iruka yang masih berdebar-debar langsung menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan anak itu. "Ahh… susu ya… sepertinya kita memang kehabisan susu.". Iruka bangkit dan berjalan mendekati Ichi. Setelah mendapatkan kendali dari anak yang masih mengantuk itu, Iruka langsung menuntun Ichi ke dapur, meninggalkan Naruto dan Kakashi. Sesaat sebelum keduanya menghilang di balik pintu, Naruto melihat Ichi yang sedikit menoleh kearahnya dan memasang wajah sedih.

"…", Naruto terbelakak melihat ekpresi yang baru pertama kali anak itu tunjukkan padanya.

Sekarang apalagi salahku?

Pembicaraan mereka tidak membuahkan hasil pada akhirnya. Pemikiran mereka masih berputar-putar di tempat yang sama dan pertanyaan yang sama. Sejak Ichi tidak pernah mengatakan apapun tentang alasannya, mereka tidak bisa menebak penyebab berubahnya anak itu. Dan hanya kepada Naruto tentunya. Setahu Kakashi, Ichi tidak memiliki masalah di sekolah maupun di lingkungan bermainnya. Namun sejak kedatangan Naruto beberapa hari yang lalu, Ichi menunjukkan sikap yang tidak biasa kepada pemuda berambut pirang itu. Karena itulah Kakashi bertanya pada Naruto, karena kemungkinan besar alasan Ichi ada hubungannya dengan Naruto.

"Jarang Ichi membiarkan seseorang melihat wajahnya saat mau menangis seperti itu..", Kakashi yang tampaknya juga melihat ekspresi Ichi langsung membuka Icha Icha Fantasynya dan bersender ke sofa. Kakashi memang nampak sangat cuek terhadap sekitarnya, namun sebenarnya ia adalah orang yang paling perhatian dan peka terhadap berbagai masalah.

"Argh.. man.."

"Sebaiknya kita jangan memaksa anak itu untuk menjawab. Memang ia terlihat tenang, tapi anak itu sudah menanggung beban yang begitu berat untuk seorang anak seusianya. Mungkin banyak hal yang ia pendam sendiri. Pada akhirnya dialah yang paling mengerti tentang dirinya sendiri..". Ya, Naruto tidak bisa membantah pernyataan Kakashi. Walaupun itu adalah pilihannya sendiri, pada akhirnya efek samping dari pilihannya itu akan muncul juga.

Memang beda konteks, namun bayang-bayang masa kecilnya muncul sesaat dan berputar-putar dalam benak Naruto. Seorang anak kecil seharusnya menjadi anak kecil saja dan menikmati hidupnya selama masa kanak-kanak. Bermain, berteman, mempelajari hal-hal baru, bukannya memaksakan diri untuk menjadi orang dewasa. Baguslah jika anak seperti itu memiliki mental baja seperti Naruto dan Ichi. Masa lalu Naruto memang berat, dan itu membuatnya tumbuh menjadi orang yang kuat. Begitu juga dalam kasus Ichi. Pada dasarnya Ichi anak yang kuat, tapi sebuah kemungkinan selalu memiliki eksistensi di ruang lingkup manapun kata 'kemungkinan' itu disebutkan. Kita tidak tahu apa yang ada dalam benak anak itu selama ia tetap memilih untuk diam. Lalu bagaimana dengan anak-anak yang terpaksa menahan beban orang dewasa dalam usia dini, namun tidak memiliki mental sekuat mereka?

"Ya, kau benar Kakashi. Ia akan bicara kalau sudah waktunya. Ichi bukan anak bodoh..", Naruto menghela nafas sebelum ia bangkit dari tempat duduknya

"Lelah?", Kakashi sempat menghawatirkan kondisi pemuda yang nampak sangat lesu itu.

"Sangat..", Naruto hanya bisa tersenyum lebar. "Aku butuh istirahat. night Kakashi…", ucapnya sebelum ia naik ke lantai atas.

"Good night, Kitsune"

Meanwhile

Iruka membantu Ichi untuk memeriksa beberapa laci, kabinet-kabinet, dan kulkas di dapur untuk menemukan susu yang dipinta Ichi. Tampak satu pemandangan yang lumayan lucu ketika Ichi hendak memeriksa lemari yang terletak di atas. Iruka menawarkan bantuan dan ketika ia hendak menggendong anak itu, Ichi langsung mendorongnya. Sepertinya Ichi malu. Sangat diperlukan beberapa penjelasan sebelum anak itu setuju untuk digendong Iruka, agar ia dapat meraih kabinet yang ada di atas.

"Iruka-san...", Ichi memanggil nama Iruka dengan suara yang agak bergetar. Sepertinya anak itu masih mengantuk, namun ia memaksa matanya agar terbuka.

"Hm? Ada apa Ichi?"

Anak berambut hitam itu tertunduk dan diam, menghentikan petualangan pencarian kaleng susu untuk sesaat. Jelas ada aura kekhawatiran yang terpancar dari wajah Ichi.

"Ada apa dengan Naruto-san?"

Iruka tidak pernah menyangka kalau anak ini akan bertanya tentang Naruto. Iruka hanya tersenyum kepada anak itu.

"Naruto? Dia tidak apa-apa, hanya sekarang ia sedang melalui tahap pertumbuhan yang membuatnya sedikit agak sensitif.. ". Mereka berdua jelas sangat berbeda. Pembawaan Ichi yang sangat tenang dan kalem serta pembawaan Naruto yang ceria dan bersemangat. Namun siapa sangka baik Naruto ataupun Ichi banyak memiliki kesamaan. Iruka, orang yang bertanggung jawab atas mereka adalah orang yang paling mengetahui tentang hal ini.

Ichi yang agak tidak mengerti akan kata-kata Iruka hanya mengambil nafas panjang. "Sensitif?

"Ya..", Iruka menganggukkan kepalanya sedikit. Ichi sudah cukup mengerti bahwa ini bukanlah waktu yang tepat untuk bertanya lebih lanjut soal masalah ,yang sepengetahuannya melibatkan ia dan naruto, ketika wajah ayah angkatnya yang kelelahan terlihat. Iruka masih saja memaksakan dirinya untuk tersenyum. Entah ia adalah ayah yang bertanggung jawab atau hanya karena kelelahan, makanya ia tersenyum aneh seperti itu.

"Apa dia membenciku?"

Kali ini rasa lelah pria berambut coklat itu serasa hilang diterpa angin kencang. Kenapa Ichi bertanya seperti itu? Apa karena pembicaraan yang tidak sengaja terdengar olehnya? Awalnya Iruka tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak mungkin berbohong karena selain kesadarannya atas tingkat kepintaran Ichi, Ia juga pasti akan merasa bersalah sekali jika ia membiarkan dirinya berbohong pada Ichi.

"Uh… sebenarnya ia tidak membencimu Ichi. Malah dia yang berpikir kalau kamu membencinya.. Sebenarnya ada apa Ichi? Kau tahukan kalau kau bisa cerita apa saja padaku?"

Betul saja, senyuman hangat Iruka benar-benar menenangkan semua kegelisahan yang tampak di wajah Ichi. Dengan senyuman polosnya, Ichi hanya mengangguk sambil menggenggam lengan baju Iruka erat.


Sepasang bola mata yang masih tampak khawatir perlahan mengamati langit-langit kosong yang menaungi mereka. Naruto tidak bisa tidur. Ia sudah mencoba segala cara, dari menghitung domba-yang pada akhirnya membuat ia pusing karena ia selalu lupa akan jumlah domba yang sudah melompati pagar-, senam ringan sebelum tidur, sampai-sampai ia mencapai tahap ekstrim dan nekad membaca buku Icha Icha Series. Ia lelah, penasaran dan bingung. Kenapa anak sekecil ini, yang baru saja ia temui bisa membuatnya begitu, kerepotan..?

Suara berdecit kecil yang terdengar saat seseorang membuka pintu kamar Naruto mengalihkan perhatiannya sesaat. "Naruto?". Sosok pria dengan wajah senang tiba-tiba saja mucul dari balik pintu. Iruka masuk dan langsung duduk di pinggiran kasur yang Naruto tiduri. Pemuda berambut pirang itu langsung bangkit dan memposisikan dirinya di sebelah Iruka. Rasa gelisah yang gagal ia sembunyikan dengan mudah ditangkap oleh Iruka. Ia hanya bisa tertawa kecil melihat Naruto, membayangkan sedikit dari beribu reaksi yang dapat pemuda itu berikan saat ia mendengar berita yang akan Iruka sampaikan.

"Kamu masih kepikiran dengan Ichi?", Iruka menepuk pundak Naruto perlahan, yang hanya membuahkan ekpresi sedih dari Naruto. Pemuda itu mengangguk pelan sembari tersenyum sedih.

"Mungkin aku tidak tahu alasannya… tapi aku ingin tahu. Walaupun alasannya karena dia membenciku dan walaupun aku tidak tahu penyebab ketidak sukaannya padaku.. aku lebih memilih ia mengatakannya langsung…"

"Hahaha… Naruto.. Kau terdengar seperti seorang pria yang baru saja diputuskan oleh pacarnya tanpa alasan yang jelas..". Wajah Naruto sedikit memerah mendengar kometar Iruka. Ia hanya memalingkan wajahnya sebagai respon.

"Dia tidak membencimu Naruto..". Naruto yang sedikt banyak terkejut mendengar perkataan Iruka langsung memegang erat pundak pria itu. Wajahnya yang penasaran tampak lelah dan tidak sabar. Guncangan yang diberikan Naruto ke Iruka membuat pria itu sedikit panik. "Lalu? Lalu apa Iruka?"

"Te-tenang Naruto! Biarkan aku bicara dulu.."

Tarikan nafas pendek Naruto perlahan menggema di ruangan yang tidak terlalu besar itu. Setetes keringat dingin jatuh dari wajahnya yang panik. Sambil melepaskan pegangannya dari bahu Iruka, Naruto memandang lantai dengan tatapan kosong. Reaksinya terlalu berlebihan dengan masalah ini. Ia tidak kenal Ichi, namun kenapa ia bisa begitu terikat dengan hal ini?

"Ichi menyukaimu Naruto, sangat menyukaimu..". Satu kalimat yang diucapkan Iruka langsung mengguncang Naruto. Ia hanya terdiam di tempat tidurnya, tak bergerak sedikit pun.

"Ia bersikap begitu karena ia menyukaimu. Seperti yang kukatakan sebelumnya, ia sudah terprogram untuk bersikap ramah kepada semua orang. Ia tidak bisa ramah padamu karena ia malu.."

Malu? Kenapa ia harus malu?

"Mungkin bagimu ini adalah pertemuan pertama dengan Ichi, namun saat kau berangkat ke Amerika dulu, ia juga mengantar kepergianmu di bandara. Pasti kamu tidak menyadarinya.. waktu itu ia masih kecil sekali. Ia sudah menyukaimu sejak pertemuan pertama kalian itu. Ia bilang kau orang yang sangat spesial dan ia terus menunggumu sampai kau pulang dari Amerika. Namun sepulangnya kamu dari Amerika, tampaknya kau benar-benar lupa tentang Ichi ya? Jujur saja, aku juga baru tahu.. Karena saat itu yang merawat Ichi bukan aku..". Naruto kehabisan kata-kata saat pikirannya masih berusaha keras untuk mengingat keberangkatannya dulu. Ada banyak orang, teman-temannya, keluarganya, saudara-saudaranya. Dan seorang anak..

"Namikaze Ichi.."

Naruto luar biasa terkejut dengan nama keluarga yang Iruka pasangkan dengan nama Ichi. Kalau dipikir-pikir, Ichi memang memperkenalkan dirinya hanya dengan nama depannya, dan dilain pihak, Naruto tidak pernah menanyakan anak itu nama panjangnya. Keluarga besar Namikaze adalah keluarga dimana Minato, almarhum ayahnya dilahirkan. Keluarga itu terkenal dengan garis keturunan yang memiliki rambut pirang keemasan dan mata yang memiliki warna yang sama dengan langit, cerah dan menyegarkan. Dengan penampilan Ichi yang memiliki mata dan rambut berwarna hitam pekat, ia malah menyangka kalau Ichi berasal dari keluarga Uchiha.

"Kamu, sebagai pewaris garis darah keluarga Namikaze pasti tahu tentang ciri khas genetis keluargamu. Rambut pirang dan mata biru, sampai-sampai keluarga Namikaze di juluki sebagai Blonde Madness..". Mereka hanya tertawa kecil. Naruto yang tampak tertekan mulai menunjukkan kelegaan diwajahnya. Iruka merasa sedikit tenang.

"Kesalahan genetis yang terjadi pada kromosom Ichi membuat ia menjadi satu-satunya penerus keluarga yang berpenampilan 'berbeda' dari yang lain..", kali ini Iruka yang tertunduk, seakan kata-kata yang akan ia ucapkan itu sangat berat, membebaninya sampai kedalam hati.

"Lalu.. Ichi dititipkan oleh orang tuanya ke sebuah panti asuhan. Rencananya hanya untuk sementara dengan alasan karena mereka tidak mau kesalahan yang dimiliki Ichi mempermalukan keluarga mereka dan mereka akan menunggu Ichi menjadi anak yang 'pantas', setidaknya secara kelakuan. Karena itu.. mereka melatih Ichi di panti asuhan itu, agar ia bisa memiliki tata karma dan sikap yang baik. Dan untuk sisanya, mereka berencana untuk mengecat rambut anak itu menjadi pirang dan memasangkan softlens untuk warna matanya.". Rasa kesal Naruto menyulut dalam benaknya. Betapa tidak bertanggung jawabnya orang tua Ichi. Anak itu tidak pernah memutuskan bagaimana keadaannya saat dilahirkan. Itu bukan keinginannya untuk terlahir dengan kondisi yang berbeda. Itu bukan salahnya.

Genggaman tangannya semakin erat, Naruto marah, entah kenapa namun ia sangat marah.

"Minato-san yang juga merasakan akan ketidak adilan yang dialami Ichi juga pernah melakukan protes kepada kedua Orang tua dari anak ini. Namun karena mereka menganggap bahwa ini adalah urusan keluarga 'kecil' mereka, Minato-san tidak bisa seenaknya ikut campur. Ichi yang saat itu masih kecil menuruti semua perintah orang tuanya dengan baik, sampai suatu hari mereka memutuskan untuk menyerah atas kondisi Ichi karena Ibu Ichi sedang hamil anak kedua. Mereka meninggalkan anak itu di panti asuhan. Tidak ada lagi latihan sikap, tidak ada lagi sesi menjenguk keadaan Ichi. Intinya, Ichi sudah dibuang..". Iruka hanya menghela nafasnya. Cerita ini membuatnya sakit hati, namun Naruto harus tahu tentang kebenarannya.

"Minato-san meminta tolong Tsunade-hime untuk mengangkat Ichi menjadi anak dan Tsunade–hime menyetujuinya. Setelah itu ia dititipkan padaku. Anak ini bertingkah laku seperti robot, bergerak sesuai program dan perintah yang diajukan. Namun ternyata ia masih mengharapkan pertolongan dari seseorang yang ia kagumi. Ia tahu bahwa kamu adalah anak Minato-san, Naruto. Dan dimata Ichi kamu adalah pahlawan yang nyata. Ia banyak mendengar berita tentangmu, segala masalah yang kau hadapi, dan betapa kuatnya kamu dalam menjalani hidup. Kamu adalah idolanya, dari dulu.. sampai sekarang.."

Tawa sedih Iruka terdengar jelas di kamar Naruto yang sunyi. "Betapa terkejutnya aku saat kulihat koleksinya. Ia punya semua lagumu, majalah-majalah dimana pembicaraan tentangmu dimuat, dan yang paling penting…dia punya biographymu. Kalau tidak salah, itu buku yang kau buat hanya untuk iseng kan? Yang hanya diterbitkan sebanyak 15 eksemplar?". Naruto hanya meringkuk ditempatnya. Ia merasa senang, malu dan sedih di saat yang sama.

"Dan sekarang orang yang ia kagumi ada di hadapannya. Kamu tahu betapa senangnya ia saat berita kepulanganmu menyebar? Ia seorang Namikaze yang mengidolakanmu"

Ekspresi pahit yang tampak di wajah Naruto menunjukkan betapa sedihnya ia ketika mendengar penjelasan Iruka tentang kehidupan Ichi. Ia tahu betul seperti apa rasanya di asingkan, seperti apa rasanya tidak diakui. Bedanya, orang tua Naruto sangat sayang padanya meskipun mereka harus pergi untuk selamanya, namun di lain pihak, orang tua Ichi sama sekali tidak mengharapkan anak ini.

Naruto dengan perasaannya yang hampir bertebaran langsung beranjak dari tempat tidurnya dan berlari ke kamar anak yang selama ini selalu menolaknya. Figur seorang anak yang sedang duduk di kamar yang gelap dengan diterangi sinar bulan tertangkap mata Naruto, tepat ketika ia membuka pintu kamar Ichi. Anak itu sedang mengamati bulan, sendirian. Terlihat sebuah boneka yang familiar bersembunyi dibalik rangkulan Ichi. Itu adalah boneka rubah ekor Sembilan yang diberikan Tobi untuknya. Memang Naruto jarang menggunakan boneka itu karena umurnya yang memang sudah tidak terlalu tertarik dengan benda empuk itu. Ia hanya meninggalkan boneka lucu itu di kasurnya, dan ternyata disini lah ia mendapat teman baru. Tanpa basa-basi, Naruto langsung menghampiri Ichi dan memeluknya erat. Tidak ada penolakan. Tidak ada protes. Hanya mereka berdua di ruangan yang sunyi itu.

"Maaf"

Perlahan Ichi membenamkan wajahnya di pundak Naruto. Anggukan kecilnya membuat semua beban yang ada di pikiran pemuda pirang ini seperti hilang terhempas ombak besar. Dan semua kesalah pahaman yang terjadi di antara mereka telah sirna. Hari yang paling membingungkan bagi Naruto berakhir dengan senyuman dari Ichi, yang tentunya membuat Naruto senang.


"Pagi Ichi.."

Ucapan pagi yang datang dari orang yang paling ia sukai tentu membuat Ichi senang. Namun sepertinya butuh waktu untuk membuat Ichi terbiasa dengan sikap Naruto yang memang sangat bersahabat. Ichi hanya mengangguk pelan ketika pipinya dihiasi warna merah muda yang lucu. Tidak ada perbincangan panjang yang terjadi di antara mereka, namun suasananya entah mengapa terasa lebih hangat. Naruto pun mengantar anak itu sampai pintu depan sebelum ia berangkat ke sekolah.

"A-aku.. berangkat..". Kata-kata Ichi yang terbata-bata sudah cukup membuat pemuda berambut pirang itu senang.

Tak lama kemudian, sesosok pria yang ia kenal, muncul dari arah Ichi pergi. Rambutnya yang gelap dan matanya yang sama tajam seperti mata Ichi mengangetkan Naruto.

"Sasuke?"


Rada maksa ya? Hahaha, maaf, mau ujian sih jadi tingkah laku saya hampir mirip ababil -