Waktu Tidur

Minho memindahkan barang-barang dalam pelukannya ke atas meja kaca di depan televisi; komputer jinjing, tetikus, dokumen-dokumen, dan segelas kopi. Di sisi lain ruangan, Taemin meletakkan tangan di atas kenop pintu untuk diputar, namun urung ketika sudut matanya menangkap sosok jangkung yang sedang bersiap untuk duduk di karpet. Ia memilih memutar badan.

"Kupikir sudah waktunya untuk tidur?" ujarnya, kedua tangan terpilin di depan dada.

Menyadari bahwa Taemin tidak sedang bermonolog—seperti apa yang biasa dilakukan pemuda itu kala dikonsumsi frustasi—Minho meliriknya sekilas sebelum kembali memaku pandangan pada layar menyala.

"Besok ada rapat dan aku harus menyiapkan satu presentasi." Melayangkan senyum manis, Minho sengaja memutar badan menghadap ke belakang. "Tidur saja duluan, ya?"

"Tidur duluan? Bagaimana bisa? Nanti aku peluk siapa?" Taemin memprotes. Minho biasanya paham bahwa Taemin sulit memejamkan mata dalam keadaan dingin. Bisa-bisanya sekarang disuruh tidur duluan, tentu Taemin kesulitan mencernanya dengan benar.

Tetapi, Minho tampaknya tak mengkhawatirkan apapun. "Kita punya dua guling, Tae. Kau boleh pakai dua-duanya jika mau." Pemuda berhati es itu bahkan mengatakannya tanpa repot-repot mengalihkan perhatian.

Taemin berdecak. "Tapi guling tak bisa memelukku balik, Minho." balasnya, sedikit merengek. Minho membalik dokumen khidmat. "Kau sungguhan tidak ingin tidur? Ini sudah pukul sepuluh, loh."

Kini, Minho menggerakkan tetikus. Suara tuk tuk yang repetitif kemudian menyusul dari papan ketik. Menjawab pertanyaan barusan dengan 'tidak' yang teramat jelas.

"Baik! Masuk angin saja sana di atas karpet dingin!" Lalu, bunyi pintu yang dibanting.

Sebetulnya, membuat Taemin sebal adalah hal terakhir yang selalu ingin dilakukan Minho. Membiarkan pemuda ringkih itu tidur sendirian apalagi, setelah bertahun-tahun membagi kehangatannya di atas ranjang yang sama. Tetapi, presentasi ini sangatlah penting dan ia tidak mungkin begadang hanya demi membujuk Taemin hingga membuatnya memiliki kantung mata saat rapat besok. Tidak, mempertaruhkan penampilannya saat sedang cari muka di depan bos adalah hal yang sangat ia hindari.

Ceklek!

Suara pintu kamar dibuka. Minho cepat-cepat menoleh, hanya untuk menemukan kekasihnya yang sudah muncul dalam kacamata dan poni yang dikuncir. Sebuah buku dipeluknya dengan sebelah tangan. Melangkah terhentak-hentak, pemuda itu mengambil posisi duduk tepat di sebelah Minho. Bahkan secara sengaja memepetkan lengan hingga bersentuhan. Minho menatapnya skeptis.

"Kupikir kau tidur?"

Taemin balas menatapnya tak kalah skeptis. Kacamatanya sampai melorot dari pangkal. "Setelah ingat besok ada kuis aljabar? Mana mungkin!" tukasnya.

Minho mengangkat satu sudut bibir, mendorong kacamata yang melorot kembali ke posisi awal, sebelum kembali bolak-balik berkutat pada dokumen dan layar. "Bagus sekali. Belajar yang rajin, Lee Taemin."

Meski begitu, sudut mata Minho masih dapat menangkap cibiran oleh sang kekasih. Minho mengacak rambutnya gemas.

Tanpa ada yang menyadari, larut malam telah diambil alih sepenuhnya oleh nada detik jam di dinding. Ujung jari yang beradu dengan papan ketik, goresan grafit di kertas, atau lembar yang dibalik cepat hanya menimpali malu-malu. Tidak ada bincang, pun tidak ada yang memiliki niat tuk mengeluarkan suara.

Minho meraih gagang gelas dan menyeruput kopinya yang mulai dingin. Ia meringis. Bukan pada rasa pahit yang dikecap papila, tapi pada cairan kental hitam yang berpotensi menodai dokumen dalam pangkuannya kala Taemin menubrukkan punggung, menyandar pada lengannya demi pose membaca yang lebih nyaman seperti seekor panda yang malas. Bedanya, Taemin tidak gemuk. Namun, sama imutnya pula hingga tak tega untuk diomeli, Minho memilih mengembalikan gelas ke tatakan tanpa embel-embel protes.

Salindia demi salindia dikerjakan dengan teliti tanpa celah. Layar di depannya dipenuhi warna hijau daun yang dipilih secara sengaja demi menghindari efek sakit mata, beberapa ornamen penyedot perhatian didekorasi sedemikian rupa pada posisi-posisi yang tepat, hingga jenis tulisan yang digunakan telah mengalami proses pertimbangan yang matang. Minho siap menunjukkan betapa dirinya sungguh bekerja keras demi presentasi besok.

Hanya tinggal satu-dua salindia lagi sebagai penutup, saat Minho merasakan bahunya memberat oleh kepala yang dijatuhkan di atas sana. Minho menoleh, hidungnya serta-merta menabrak tumpukan rambut halus yang menguarkan wangi sampo. Taemin kiranya sudah teler hanya dengan membaca buku cetak aljabar selama beberapa menit.

Tersenyum sayang, Minho melarikan jemari demi menyingkap helai rambut yang menutupi wajah malaikat itu ke balik telinga. Dengkuran halus terdengar menjadi lebih jelas. Minho tak mungkin mengabaikannya dengan sengaja menjadi pengganti ranjang dadakan. Ia meilirik waktu pada sudut kanan bawah layar dan berkonklusi bahwa ini memang sudah sampai pada waktu tidur mereka yang terlambat. Mau bagaimana lagi, salindia-salindia penutup akhirnya diselesaikan secara cepat, dokumen-dokumen ditutup, komputer jinjing juga ikut dilipat. Sisa kopi dalam gelas sedang dihabiskan, sementara sosok di sebelahnya meringkuk kedinginan. Minho tak mengambil lebih banyak waktu lagi untuk segera meraup badan lelap itu dan mengantarkannya ke ranjang yang telah menunggu untuk menyalurkan kehangatan. Melepaskan kacamata dan kunciran di rambut, menyampirkan selimut, Minho kemudian ikut berbaring dan memeluk.

Meski kekasihnya telah tersesat entah di alam mimpi yang mana, namun Minho masih menepuk-nepukkan telapak tangan ke perutnya pelan. Tahu bahwa perlakuan kecil itu selalu mampu membuatnya merasa lebih tenang akibat terjaga. Minho memutuskan untuk melakukannya lebih lama lagi, selama para ibu yang sedang menina-bobokan bayi. Sampai pandangan matanya yang menjelajah tanpa sengaja bermuara pada meja belajar Taemin. Mempertajam fokus pada jadwal pelajaran yang ditempel pada salah satu bagian dinding. Minho mendengus geli, mendapati mata pelajaran matematika terjadwal di tiga hari ke depan dan bukan besok. Ia menoleh cepat pada mata yang masih terpejam di sebelahnya.

"Dasar setan kecil!" umpatnya.

Serangan ciuman serta-merta diluncurkan secara acak dan cepat di wajah, sebelum pelukan paling erat menyusul kemudian. Minho mendaratkan dagu di puncak kepala setan kecilnya dan ikut memejamkan mata. Sementara Taemin, Taemin tentu saja juga memejamkan mata, bersama seulas senyum puas atas kemenangannya malam ini yang gagal untuk ditahan.