Bleach punyanya Tite Kubo, saya Cuma pinjm karakternya aja kok, tapi ada juga adegan yang terinspirasi dari komik Yotsuba 0.0a.
Lama gak update, tulisan jadi kaku..er..dan mungkin akan ada banyak typo –w-..but, enjoy it!
AN ISLAND GIRL
Seragamnya basah kuyup, menampilkan lekuk tubuhnya yang kurus. Rambutnya basah. Ia pasti pulang dengan menerobos hujan. Aku meliriknya sekilas yang sedang mengambil baju ganti di lemari, lalu kembali terpaku pada komik yang sedang kubaca.
Sepulang sekolah tadi memang hujan. Untung saja aku membawa payung, dan gadis itu tidak.
"Boleh aku ikut, Ichigo?", tanyanya tadi.
"Tidak." Jawabku singkat lalu berjalan meninggalkannya. Jujur saja aku masih marah kepadanya karena kejadian hari minggu kemarin yang menggegerkan seisi rumah karena mengira dirinya hamil.
"Kau mau makan malam apa,Ichigo?" tanyanya.
"Terserah," jawabku tanpa mengalihkan pandangan. Yang penting aku tidak makan bersamamu atau pun makan makananmu.
Ia tak menjawab. Lalu aku mendengar suara langkah kakinya yang menjauh. "Jangan lupa lap jejak kakimu."
"Ya."
XOXOXO
Aku menatap gadis pulau di hadapanku dengan amarah tertahan. OK, lupakan masalah tentang keluargaku yang mengira ia hamil. Aku sudah –dengan susah payah- menjelaskan pada mereka hal memalukan yang sebenarnya telah terjadi. Clear! Masalah itu sudah selesai walaupun akhirnya Baka Oyaji menangis meraung-raung karena hal itu tidak terjadi, Yuzu yang kecewa, dan juga dengusan Karin. Aku tidak peduli.
Lupakan juga, rasa penasaran gadis bodoh itu tentang bagaimana perkembangbiakan manusia. Aku sudah 'menjelaskan' padanya kalau ia tidak hamil dan juga masalah tidur bersama. Walaupun aku tidak yakin ia mengerti, tapi aku yakin dia tidak akan berani menanyakan hal itu lagi pada siapapun.
Dan sekarang, dia sedang berdiri sambil mengernyitkan alis di depanku. "Ayolah, Ichigo."
"Sudah kubilang aku sedang tidak ingin makan bersamamu. Aku ingin makan di sini. SENDIRI!"
Kulihat bibirnya tertarik ke bawah, "aku kan sudah minta maaf! Lagi pula apa enaknya makan mie instan? Bukankah lebih enak masakan rumah? Ayo kita makan bersama!" rayunya seraya menarik lengan kiriku.
Aku berdecak kesal, "Sudah kubilang aku tidak mau!". Kutepis tangannya lalu mulai membuka penutup cup mie yang berada di depanku. Kepulan asap yang keluar ketika penutupnya dibuka menguarkan bau mie yang khas yang membuat perutku meronta meminta segera diisi.
"Sekarang keluarlah," kataku seraya mengambil sumpit. Kurasa moodku akan membaik jika aku tidak berada di dekatnya dan mengenyangkan perutku.
"Apa enaknya makan mie?" Sial! Ternyata gadis bodoh itu belum keluar dari kamarku. Sontak saja aku menatapnya dengan kesal, dan apa yang kulihat? Dia juga balas menatapku dengan kesal.
"Tentu saja mie enak. Hanya gadis bodoh dari pulau terpencil yang tidak tahu kalau mie itu enak," sindirku seraya memakan helai-helai makanan di hadapanku.
"Bohong! Mie tidak enak! Mie itu kotoran!"
"Uhuk! Uhuk!" hampir saja mie yang baru saja kumakan keluar dari hidung! Rukia sialan! Kutatap ia dengan tajam, "jangan mengatakan hal seperti itu di depan orang makan, bodoh!"
Bukannya minta maaf, yang kulihat dari matanya adalah tatapan menantang. Cih. Dia mulai berani rupanya. Aku mengacuhkannya dan mulai menyantap makanan di depanku.
"Kotoran! Kotoran! Kotoran!"
"HEY!" Ok, kesabaranku mulai habis! Aku mulai marah sekarang! "Keluar dari kamarku sekarang!"
Dia tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri dan tetap menatapku tajam, "Ichigo makan kotoran!" teriaknya.
Aku menggeretakkan gigiku. Dia benar-benar menantangku. Ok, aku tak akan kalah! Aku menatap mie ku dan mulai memakannya lagi, "Kotoran enak! Kotoran enak!"
"Mana ada kotoran enak!"
"Memangnya kau pernah makan kotoran?!" balasku. Kami saling menatap dengan kilat amarah yang berpendar pada manik mata masing-masing.
"Ichigo bodoh!" teriaknya seraya menghentakkan kaki meninggalkan kamarku.
Apa dia bilang?! Aku bodoh?
Kepalaku terasa panas, atau mungkin sudah berasap karena amarah. Benar-benar gadis sialan!
"Jangan pernah tidur lagi di kamarku!" bentakku seraya membanting pintu.
XOXOXO
"Ichigo.." Tok..Tok…Tok..
Aku yang sedang membaca buku sengaja tidak menjawab.
"Ichigo..buka pintunya. Aku mengantuk," kata suara dibalik pintu. Cih, apa peduliku? Segera kuletakkan buku yang kubaca, menutupi kepalaku dengan bantal dan mulai memejamkan mata.
"Apa kau sudah tidur, Ichigo?."
Aku tetap tidak memedulikan suara itu dan terus menyusup ke alam mimpi sampai suara gadis itu tak terdengar lagi.
XOXOXO
Aku tersentak dari tidurku ketika kudengar sebuah suara gaduh. Pupil mataku seketika menyesuaikan dengan cahaya sekitar, namun apa daya, mataku tak mau membuka seutuhnya karena rasa kantuk ini benar-benar membuatku harus mengalah.
Ketika sebuah teriakan terdengar, mataku seketika terbelalak. Itu suara Rukia !
Dengan tergesa-gesa aku segera keluar dari kamar, menuruni tangga dan mencari arah suara. "Ada apa, Yu…,"
Kata-kataku seketika terhenti ketika kulihat diantara remang kegelapan rumah, sosok itu….Rukia….
XOXOXO
NORMAL POV
"Apa kau sudah tidur, Ichigo?" Gadis berpiyama kotak-kotak kuning itu menguap. Ia benar-benar sudah mengantuk,namun ia tak bisa langsung tidur karena kamar yang biasa ia pakai sudah terkunci dari dalam oleh orang yang biasa sekamar dengannya.
"Ichigo, aku minta maaf karena membentakmu tadi," katanya dengan nada menyesal. Tidak ada balasan dari dalam.
"Ichi..Aku benar-benar minta maaf. Bisakah kau buka pintunya? Aku mengantuk," kata Rukia sambil kembali menguap. Tetap tak ada respon. Gadis itu pun menyerah. Ia benar-benar mengantuk dan pemuda di dalam sana tidak kunjung membukakan pintu karena mungkin ia memang sudah tertidur.
"Baiklah kalau kau sudah tidur, Ichi. Aku akan tidur di kamar Yuzu saja. Oyasumi," Rukia pun berjalan menuruni tangga menuju kamar kedua adik Ichigo.
Sesampainya ia di kamar si kembar, ia mengurungkan niat untuk tidur di sana. Kamar itu lebih kecil di banding kamar Ichigo, dengan dua tempat tidur yang menurutnya satu tempat tidur tidak akan nyaman untuk digunakan berdua. Apalagi ia juga tudak tega membangunkan Yuzu yang sudah tertidur pulas. Ia tidak punya keberanian, apalagi jika mengingat ia hanyalah orang luar yang menumpang di rumah itu, sungguh tidak pantas jika ia terus merepotkan keluarga itu.
Ia juga tahu bahwa perbuatannya tadi terhadap Ichigo sangat tidak baik. Memang seharusnya ia menurut dan tidak banyak menuntut apalagi memaksa. Tapi entah bagaimana tadi ia lepas kendali. Ia hanya ingin Ichigo memakan masakan yang ia buat sebagai permintaan maaf karena selalu merepotkan pemuda itu.
Sang violet yang mulai sayu itu menatap sekitarnya. Dalam remang kegelapan rumah yang hanya mendapat cahaya dari lampu pinggir jalan, matanya menangkap sebuah objek yang dapat menjadi tempat tidurnya malam ini, sebuah sofa di depan televisi.
XOXOXO
Klontang.
Suara itu membangunkan Rukia dari tidurnya. Ia terduduk dan merasakan kepalanya terasa berat dan tubuhnya yang mengigil. Ia menyentuh dahinya. Hangat. Ini hanya demam ringan.. Aku akan sembuh jika tidur kembali, gumamnya dalam hati.
Rukia baru saja akan kembali meringkuk ketika suara gaduh itu kembali terdengar dan membuat dirinya tersentak. ia menoleh, "Siapa?"
Hening.
Gadis itu berdiri dan mulai berjalan ke arah sumber suara..
"Siapa itu?" tanyanya sambil menelusuri lorong. Tak ada jawaban dari siapapun.
"Yuzu?" tanyanya lagi, namun tetap tak ada jawaban. Ia terus berjalan menuju dapur sambil matanya menyesuaikan diri dengan keremangan yang ada. Langkahnya tiba-tiba saja terhenti di depan ruang periksa ketika ia melihat sedikit keanehan di sana. Pintu ruang periksa terbuka.
Biasanya paman tidak pernah lupa mengunci pintu,pikirnya dan bukankah paman bilang hari ini ia akan menginap di rumah sakit? Apa beliau sudah pulang?. Ia pun berjalan perlahan ke ruangan itu. "Paman! Apa paman di sana?" Tidak ada jawaban.
Sesampanya ia di pintu ruangan itu, dengan minimnya pencahayaan, ia melihat dua sosok dewasa sedang mengacak-acak lemari. "Siapa di sana?"
Kedua sosok itu menoleh. Tampaknya mereka terkejut dengan kehadiran aba-aba, satu dari mereka berlari ke arah gadis itu dan mendorongnya ke tembok dengan keras.
"Argghh" Gadis pulau itu memekik, ketika sebuah tangan besar menahan bahunya di tembok dengan cengkeraman yang kuat.
"Cih. Ternyata hanya seorang gadis kecil," kata orang itu.
"S-siapa?" Tanya Rukia.
Pria yang mencengkeram kedua bahunya menyeringai, "Siapa? Apa kami harus bilang kalau kami pencuri baru kami mencuri, he?"
Sang Violet terbelalak lebar. Pencuri? Mereka akan mencuri uang paman? Tidak! Meraka tidak boleh mencuri apapun dari keluarga yang telah menolongnya. Ia tak akan membiarkannya.
"Arrrrghhh" Dengan cepat gadis itu berlari menuju tangga setelah menciptakan sebuah peluang untuk kabur dengan menendang perut Pria yang mencengeramnya itu.
"Hey!" Pria yang lain berlari mengejar Rukia.
"Ichigoo!" Sial. Suaranya terlalu kecil. Gadis pendek itu berlari menaiki anak tangga dengan tergesa, "Ichi-.." Baru saja gadis itu hendak berteriak lebih keras, ia merasa kerah bajunya ditarik dengan kasar dan mulutnya di bungkam.
"Kau tak akan bisa lari, gadis kecil," pria itu menyeringai, kemudian ia mendorong tubuh yang terus meronta di depannya menuju tempat semula.
"Hmmph.." Mereka tidak boleh menangkapku. Mereka tidak boleh mengambil apapun!
"Ikat dia," perintah pria yang berperawakan lebih pendek yang tadi Rukia pukul.
"Bai..Argghhh!" Dengan keras gadis berambut raven itu mengigit tangan pria yang membungkam mulutnya dan berusaha kembali berlari.
"Gadis sialan!" Si pria berperawakan kecil berlari mengejar Rukia, menarik piyamanya dengan cepat ke samping hingga gadis itu terjungkal dan tersentak ke tembok dengan keras. Rukia mengerang. Badannya yang kecil terasa remuk disentak dengan keras seperti itu, ditambah dengan rasa pening yang semakin menyerang kepalanya, ia tak bisa berkutik.
Sebelum sempat gadis itu bangkit, Si Pencuri mengunci kedua pergelangan tangan Rukia dengan tangan kirinya dan mengunci kedua kaki gadis itu dengan kakinya, sedangkan tangan kanannya mengeluarkan sebilah pisau yang ia todongkan di depan kulit tenggorokan gadis bermata violet itu.
"Sekarang kau tidak akan bisa berulah!" katanya sambil menyeringai tepat di depan wajah Rukia. "Sekali kau berteriak atau berontak, aku tak akan segan membunuhmu!" ancamnya, lalu pria itu menoleh ke belakang, "Lebih baik kau segera ambil apa yang bisa kita ambil dan segera pergi. Gadis ini biar aku yang urus," perintahnya kepada temannya yang masih mengibas-ibas tangan.
"Ok. Aku akan pergi ke ruang lain. Di sini hanya ada obat-obatan" jawabnya sambil meninggalkan mereka berdua.
Rukia masih berusaha berontak, tapi usahanya terasa sia-sia karena cengkraman pria itu pada tangannya semakin kuat, dan ia merasa kepalanya makin terasa berat serta keringat dingin yang mulai memenuhi tubuhnya. Pria itu menatap Gadis di depannya masih dengan seringai yang melekat pada bibirnya.
"Berapa umurmu, Gadis Kecil?" tanyanya sambil mendekatkan wajahnya sampai dahi mereka bersentuhan. Gadis itu memalingkan wajah karena mencium bau aneh yang menguar dari mulut pria di depannya.
"Dahimu panas. Kau demam,he?," seringainya makin melebar. "Bagaimana kalau aku menyembuhkan demammu, hmm?" Pria itu mulai mencium pipi kanan Rukia. "Lepaskan aku!" geram Gadis Pulau itu sambil kembali memberontak.
"Shhhh. Kalau kau terus memberontak, kau akan bertambah demam, dan apa kau lupa ini?" desis pria itu sambil menyentuhkan mata pisau yang ia pegang ke pipi gadis itu.
Iris violet itu memang lupa sesaat akan keberadaan pisau yang pencuri itu pegang. Kini ia benar-benar dipenuhi ketakutan. Ia tidak ingin disentuh pria itu. Ia ingin berontak, ia ingin berteriak, ia ingin berlari tetapi tidak bisa, tubuhnya terasa lemas. Namun di lain sisi ia tidak ingin mereka mencuri di rumah itu. Apa yang harus ia lakukan?
Pusing. Sakit. Ia merasa tubuhnya semakin tidak bisa diajak berkompromi dan kenapa udara disekitarnya juga terasa berat untuk dihirup?
"Shh, kau tidak perlu takut, hehe, kau hanya perlu menurut," Kata pria itu sambil kembali menciumi wajah Rukia.
"J-jangan…" Gadis itu kembali mencoba memberontak namun sesaat kemudian ada rasa perih dan sakit yang ia rasakan melintang pada pipi kirinya dan sesuatu mengalir di sana. Darah. "Arrggh"
"Diam! Atau akan kubuat kau merasakan yang lebih sakit!" Desis pria itu sambil terus menciumi kulit wajah Rukia dan mulai turun menuju leher.
"Ugh" Aku tidak mau! Aku tidak mau! Entah mengapa ia merasa ketakutan berlebih mulai menyergapnya. Ia tidak mau tubuhnya tersentuh oleh pria tak dikenal seperti tidak mau! Tubuhnya mulai bergetar dan kepalanya semakin terasa berat. Sesuatu yang panas ia rasakan keluar dari mata kanannya dan mengalir ke telinga.
"Hiks…"
Pria itu mendongak, "Sttt..", Ia kembali mendongak dan mendekatkan bibirnya untuk membungkam gadis di depannya. Rukia kembali memberontak dan memalingkan wajahnya.
"Berhenti memberontak!" Pisau yang ia pegang ia buang dan ia gunakan tangan kanannya yang bebas itu untuk mencengkram rahang gadis di depannya, sesaat kemudian ia meraup bibir gadis itu dan mengigitnya dengan keras.
Kedua Iris violet itu mengeluarkan air mata. Ia dapat merasakan rasa anyir darah di bibirnya. Sakit. Aku tidak mau! Aku tidak mau! Ichigo, Tolong!
"Ayah, apa itu kau?" sebuah suara terdengar dan membuat pria di depannya menjauhkan wajahnya dan menoleh ke belakang, "Cih, penganggu!"
Mata Rukia terbelalak lebar, Itu suara Yuzu! Tunggu! Dia tidak boleh ke sini!
"Tapi, ia pasti akan dibereskan olehnya, "Pria itu kembali menyeringai sambil menatap mata ungu Rukia.
Tidak! Dengan cepat Gadis berambut raven itu mendorong kepalanya hingga terbentur dengan keras dengan kepala pencuri di depannya.
Pria itu mengerang sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit dan otomatis cengkeramannya pada tangan dan kaki Rukia terlepas, dan Gadis itu memanfaatkan kesempatan yang ia buat untuk mendorong tubuh pria di depannya dan berlari.
Kepalanya terasa sakit, badannya terasa remuk, bibirnya terasa perih, dan pandangannya mulai kabur. Tapi ia tak peduli. Yuzu dalam bahaya. Ia tidak mau Yuzu terluka ataupun mengalami apa yang ia alami.
Dan Ia melihat dalam keremangan, leher Yuzu dicekik di udara oleh pria bertubuh lebih besar dari pria yang menyiksanya tadi berdiri di depan kamar Kurosaki Isshin. Tanpa pikir panjang, Rukia berlari dan menarik lengan yang mencekik gadis kecil yang telah ia anggap adik. Tapi pria itu menghempaskan tubuh kecilnya dengan sebelah tangan sampai ia terjembab jatuh. Tanpa pikir panjang, Gadis itu kembali bangkit dan entah apa yang telah merasukinya membuatnya berani untuk melakukan hal gila ini, ia mengigit lengan kanan pria itu dengan sekuat tenaga sampai ia kembali merasakan anyir darah di mulutnya.
"Argggggh!" Pria itu melepas cengkramannya pada leher Yuzu, lalu tangan kirinya menarik rambut Rukia dan menghempaskan tubuh mungil itu sampai membentur tembok dengan keras. Si Gadis pulau kembali mengerang kesakitan. Ia merasa benar-benar remuk dan tak sanggup lagi untuk berdiri tapi apapun yang akan terjadi nanti, ia tak boleh melibatkan Yuzu dalam bahaya, ia tidak akan membiarkan kedua pencuri itu berhasil mencuri di rumah itu.
Rukia menatap Si Pencuri yang masih mengerang sambil memegangi lengannya yang berdarah, lalu ke arah Yuzu yang jatuh terduduk sambil memegangi lehernya.
"Yuzu,l-larii," katanya. Yuzu tak bereaksi. Gadis kecil itu terlihat masih shock dengan kejadian yang baru dialaminya.
"Yuz-!" Belum sempat ia berteriak, ia merasa kerah bajunya di cengkeram dan ditarik sampai kakinya tak menyentuh lantai.
"Gadis sialan!"
BUKK.
Tubuh mungilnya kembali terlempar, membentur tembok dengan keras dan jatuh. Kali ini ia merasa sesuatu mengalir dari dahinya. Darah. Sakit. Sakit. Belum sempat ia bangkit, ia merasa rambutnya ditarik dengan kasar hingga kepalanya mendongak.
"Berani-beraninya kau!" desis Pria itu marah. Rukia kini tidak peduli pria itu akan melakukan apa padanya, ia mati pun ia rela. Pandangan matanya tertuju pada Yuzu yang menatapnya dengan nanar.
"Nee-chan?"
"Lari!"
"Ternyata kau sudah menangkapnya," suara lain kini terdengar. Rukia menoleh dan mendapati pria yang lebih pendek kini berjalan sempoyongan ke arahnya.
"YUZU, LARI!" gadis itu berteriak, membuat Yuzu tersentak dan berlari. Pencuri yang berperawakan kecil secara reflek berlari mengejarnya.
Plakk!
Kali ini Rukia merasakan pipinya panas. Darah kembali mengalir dari ujung bibirnya. Dan kini, Ia merasa dagunya dicengkram.
"Kau berani sekali,"ucap pria itu tepat di depan wajahnya. "Tapi itu akan segera berakhir." Ia mengeluarkan sebilah pisau lipat dari balik jaketnya, dan menodongkannya di depan wajah Rukia. "Saksi mata memang harus dibunuh."
"Nee-cchan?" sebuah suara membuat keduanya menoleh. Mata violet itu terbelalak melihat Yuzu dicekal dengan sebuah pisau ditodongkan di depan lehernya. Pria yang menangkap Yuzu tampak menyeringai lebar, "Skak Mat."
"J-jangan sakiti dia," kata Rukia lirih. Nada memohon terdengar jelas pada suaranya.
"Sekali kau melawan, gadis ini akan mati!" kata pria pendek itu sambil mencengkeram leher Yuzu lebih kuat membuat gadis kecil itu menampakkan ekspresi kesakitan.
"Lepaskan dia!" Sang violet berkilat marah. Mereka boleh menyakitinya, mereka boleh membunuhnya, tapi ia tak akan pernah mebiarkan kedua pencuri itu menyakiti Yuzu di depan matanya.
"Apa kau bilang?"
"Lepaskan dia!" Tubuh gadis itu kembali memberontak dan berusaha berlari ke arah Yuzu. Tetapi belum sempat ia berlari jauh, lengannya di tarik dengan kuat, tubuhnya didorong ke tembok dan ia merasakan ada sesuatu yang menusuk perutnya.
Ketika Gadis itu melihat ke bawah, ia melihat sebilah pisau masih menancap di perutnya. Ia merasa tubuhnya melemas melihat banyaknya darah yang keluar dari sana. Pandangan matanya perlahan menghilang.
"Kau memang merepotkan." Pria bertubuh besar itu menyeringai, "Dengan ini kau bisa diam." Katanya sambil menarik pisau miliknya.
Kedua mata amber Yuzu terbelalak lebar melihat tubuh Rukia merosot ke lantai dengan darah yang mengalir dari perutnya. Ia sudah akan berlari kalau saja cengkeraman di tubuhnya tak semakin mengencang.
"Nee-chan?" Tak ada jawaban. "Nee-" Tubuh itu tak merespon, tubuh itu tak bergerak. Rasa takut akan kematian menyergapnya. Kini kedua matanya mulai berair, "NEE-CHAN!"
Tubuh itu tetap tidak bergerak. Ia berusaha memberontak, ia ingin berlari menghampiri tubuh gadis pulau yang telah ia anggap kakak itu, tetapi yang ia dapat adalah cengkeraman pada tubuhnya yang makin terasa menyesakkan.
"Diam! Atau kau akan bernasib sama dengannya!" Ancam pria yang menodongkan pisau padanya. Kini mata kuyunya menatap partnernya, "Kau sudah mendapatkan barang-barang berharga di rumah ini?"
Pria yang bertubuh besar di depan mengangguk, sambil menepuk-nepuk jaketnya yang tebal "Lumayan. Televisi dan computer juga akan diambil?"
"Bol-"
"Ada apa, Yu-" Sebuah suara yang berat membuat meraka bertiga menoleh.
ICHIGO'S POV
Pemandangan pertama yang aku lihat dalam kegelapan adalah tubuh kecil itu terbaring di lantai, "Rukia?" Kenapa gadis itu berada di lantai? Dan kenapa ia tidak merespon panggilanku?
Saat aku akan berjalan menghampirinya, pandangan mataku tertuju pada Yuzu yang di todong sebilah pisau oleh seorang pria. Aku yakin melihat kedua mata adikku berair di tengah minimnya cahaya yang masuk ke retinaku.
"Nii-chan?" Aku dapat mendengar suara Yuzu yang bergetar. Aku yakin Adikku itu ketakutan. Pandanganku beralih pada Pria besar yang berdiri tak jauh dari tempat Rukia terbaring dan pada pria yang sedang mencengkeram Yuzu.
"Apa yang kalian lakukan?!" ucapku geram. Dari keadaan yang ada, aku yakin mereka adalah pencuri, tetapi apa yang dilakukan kedua pria itu sampai membuat Rukia terbaring di sana? Dan sekarang Yuzu dicekal.
Tanpa menunggu, Aku berjalan menghampiri Yuzu, namun langkahku terhenti ketika seorang pria bertubuh besar itu menghadangku.
"Kalau kau macam-macam, adikmu tak akan selamat!" Aku menggeram pelan. Jadi mereka mengancam? Cih, aku benci tindakan pengecut mereka yang menjadikan adikku sandera untuk menakutiku. Apa yang harus kulakukan sekarang? Tetap menyerang atau menurut?
Belum sempat aku memutuskan tindakan paling aman untuk melakukan perlawanan, sebuah suara pukulan terdengar dari arah Yuzu. Saat aku menoleh, kulihat pria yang mencengkramnya tersungkur dan terlihat Karin berdiri tak jauh dari sana sambil memegang tongkat bisbol.
Tak mau menyiakan kesempatan itu, aku melayangkan tinjuku ke wajah pria yang menghadangku. Ia jatuh terduduk. Ia menatap mataku tajam. Tangan kanannya terangkat untuk menyeka darah yang keluar dari ujung bibirnya lalu kembali berdiri.
"Apa yang kau lakukan pada mereka?" Aku kembali akan memukulnya, tetapi ia berhasil menangkis dan balik memojokkan tubuhku ke tembok.
Ia menyeringai, "Apa yang kulakukan? Kau bisa melihat sendiri gadis yang ada di sana sudah mati," Matanya mengarah ke tubuh Rukia yang tersungkur dua meter dari tempatku berdiri.
Mati katanya? Tidak mungkin! Rukia tidak mungkin mati!
"Kau tidak percaya ia sudah mati?" Mata pencuri itu menatapku tajam. "Apa ia terlihat masih hidup dengan tubuh tak bergerak itu?"
Pandangan mataku teralih melihat tubuh kecil itu. Aku tidak akan percaya ucapan pencuri itu! Rukia mati? Tidak mungkin!
"Rukia?"Aku memanggilnya dengan suara jawaban yang kudapat hanya diam.
Suaraku pasti kurang keras, "RUKIA!"
".." Kenapa kau tidak menjawab?
"Kau mendengarku kan, Pendek?" tetap tak ada respon.
"Sudah kubilang, ia sudah mati!"
"Ia tidak mati!" Aku berteriak sambil mencekeram kerah lehernya semakin kencang.
Aku kembali mengamati tubuh kecil itu. Ia tak tampak bergerak. Ia juga tidak merespon panggilanku tadi. Aku merasakan darahku mendingin, mengalirkan sebuah ketakutan yang menjalar keseluruh tubuhku. Rukia mati? Tidak mungkin! Ia masih bertengkar dengannya beberapa saat lalu, ia masih melihat senyumnya pagi tadi, ia masih melihat punggung kecilnya tadi sore, masih terngiang juga suaranya dari balik pintu kamar beberapa jam lalu, lalu kenapa sekarang ia diam?
"Ichi-nii!" Panggilan itu membuatku tersentak. Aku menoleh dan melihat
Yuzu dan Karin yang masih memegang tongkat baseball berdiri tak jauh dari pria yang telah dipukulnya.
"Kami sudah menelpon polisi, sebentar lagi akan kesini."
Belum sempat aku menjawab, pencuri yang kutangkap memberontak serta berhasil lolos dari cengkeramanku dan berlari kabur.
Setelah apa yang mereka lakukan, jangan harap aku akan membiarkannya kabur! Aku hampir-hampir saja berlari mengejarnya ketika suara Yuzu yang pecah berteriak memanggilku.
"Biarkan saja dia, Ichi-nii! Keadaan Rukia-nee lebih penting!" Kedua adikku sudah berada disamping tubuh Rukia.
Rukia. Dengan cepat aku berbalik dan terduduk di sebelah tubuhnya.
Mataku terbelalak lebar ketika aku membalik tubuh mungilnya. Yuzu mulai menangis sambil memegang tangan kiri Rukia sedangkan Karin mencengkeram lengan kaosku dengan tangan bergetar.
Darah segar membasahi baju yang ia pakai sampai berceceran di lantai. Dahinya juga mengeluarkan darah yang meninggalkan jejak di sepanjang sisi wajah sebelah kanan. Di pipi kirinya ada bekas luka melintang yang masih mengeluarkan darah. Bibir mungilnya tampak robek.
Kurasakan ketakutan yang tadi menyergapku kembali dan membuat tubuhku terasa kaku. Rukia mati?
Tapi pikiran itu langsung lenyap dari otakku ketika aku melihat Gadis itu masih bernafas walaupun pelan.
"Rukia?" Aku mengguncang tubuhnya pelan, berharap ia akan merespon.
Ia masih diam.
"Nii-chan!" Aku menoleh pada Yuzu yang memperlihatkan padaku jari-jari tangan Rukia yang balas menggenggam tangannya lemah.
Kau tidak mati dan tak akan kubiarkan kau mati. Aku segera mengangkat tubuh mungilnya dan berjalan tergesa. Aku harus segera membawanya ke rumah sakit.
"Karin, Yuzu! Segera telepon Oyaji dan beritahu apa yang terjadi." Kataku ketika Karin membukakan pintu depan untukku. Suara sirine polisi terdengar mendekat.
"Kami ikut ke rumah sakit!" Ucap Yuzu.
"Kalian tetap di sini dan tunggu Oyaji kembali. Polisi akan menemani kalian," jawabku. Tepat setelah itu dua buah mobil polisi berhenti di depan rumah.
"Antar aku ke rumah sakit terdekat!" Kataku ketika polisi-polisi itu keluar dari mobil mereka. Dan tanpa menunggu respon mereka aku hampir saja masuk ke kursi belakang salah satu mobil kal;au saja salah seorang polisi tidak menghalangi jalanku.
"Tunggu! Ada apa ini?" Tanya nya.
Aku tidak terlalu memperdulikannya dan berusaha menerobos masuk ke dalam mobil. "Bawa saja aku ke rumah sakit!"
"Tunggu! Kau tidak boleh seenaknya!" Ia kembali menghalangi.
"DIA HAMPIR MATI DAN AKU HARUS SEGERA MEMBAWANYA KE RUMAH SAKIT!" Aku menatapnya tajam. Bagaimana bisa mereka menyuruhku menunggu? Aku tidak akan mau menunggu dan melihat tubuh ringkih ini tak berhenti mengeluarkan darah?
"Bawa dia ke rumah sakit" perintah salah seorang yang lain yang aku yakini pangkatnya lebih tinggi ketika mendengar suara beratnya yang berwibawa.
"Siap" Polisi yang menghalangiku bergeser. Ia berjalan memutari mobil lalu masuk ke bangku kemudi.
"Nii-chan! Aku ikut!" Aku mendengar panggilan Yuzu ketika aku baru saja masuk ke mobil.
"Kalian tetap di sini." Pandanganku teralih pada seorang polisi yang masih berdiri di sana walaupun yang lain sudah masuk ke dalam rumah. "Tolong jaga mereka. Ayahku akan pulang sebentar lagi"
Mobil mulai melaju menjauhi rumah dan hal yang terakhir kudengar adalah suara teriakan kedua adikku yang memaksa ikut.
Aku menatap tubuh yang kudekap. Aku baru merasakan rasa panas di kulit lehernya yang menyentuh lenganku. Telapak tanganku yang lain menyentuh dahinya dan merasakan hawa panas yang sama dan tanpa sengaja menyentuh luka yang masih mengeluarkan darah di sana.
"Kau demam?" tanyaku lirih tanpa bisa menyembunyikan nada bergetar akibat rasa penyesalan yang muncul tiba-tiba. Apa kau demam karena kehujanan tadi? Dan aku membiarkanmu tidur di luar tanpa selimut? Apa yang sudah kulakukan? Entah kemana rasa benci yang selama ini kutunjukkan padanya, yang ada sekarang hanya kekhawatiran kalau ia akan mati.
Mataku beralih pada luka-luka yang ia dapat. Di dahi, bibir juga perutnya. Aku yakin luka perutnya akibat tusukan benda tajam, dan apa lagi yang mereka lakukan padamu?
"Apa saja yang mereka lakukan padamu, Rukia?" Aku berbisik di dekat telinganya. Mataku terasa panas. Apa yang sudah kulakukan? Apa yang mereka lakukan padamu?
"I-Ichii?" Aku mendongak dan melihat Iris violet itu terbuka sebagian.
"Aku di sini." Tangan kiriku menggenggam tangan mungilnya yang berlumur darah.
"M-maaf" Ucapnya lirih dengan nafas memburu, dan aku melihat kedua matanya basah.
"Kenapa minta maaf?" Aku menatap wajahnya yang terlihat kesakitan. Ia terlihat sangat kepayahan untuk bernafas dan kini matanya terpejam erat, membuat air mata jatuh dari kedua matanya.
"A-ak.."
"Shh. Tak usah bicara." Aku tak tega melihatnya kesusahan menghirup udara dan memaksakan diri untuk berbicara.
Apa rasanya sakit sekali? Aku memeluk tubuhnya, berharap rasa sakit yang ia rasakan akan berpindah ke dapat mendengarnya beberapa kali menggumam kesakitan, "Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit." Dan ia tak lagi menjawab.
XOXOXO
Im back! XD..ada yang kangen? Ada yang nunggu? *plak
Lama gak berkunjung ke ffn (ini smua karena setting internet hp rusak Dx) dan lama juga gak nulis di ffn( ini karena menjadi orang sibuk di kampus T.T), aku jadi agak kurang feel buat lanjutin ff ku, dan ide2nya pun aku agak lupa u.u...maaf ya kalo hasilnya gak memuaskan. Aku Cuma bisa update ketika libur kuliah, jadi mohon maklum kalau lama..*digebikin masa..
Sebenernya mau tetep 2 chap...tp entah kenapa pgn lkulanjutin ehhe
