Jum----pa kembali di fic Hani yang gak jelas ini,
Hani mau balas reviuw dulu ya... dan thanks banget buat mereka yang bersedia memberikan kesan dan pesan buat fic Hani,
Zheone Quin : Iya senpai, fic Hani emang terkesan gak jelas mulu ya tapi, ntar lama-lama akan jelas kok permasalahannya---ya iya lah senpai! secara Hani juga Big FC sejoli ntu Thanks ya.
Tsuichi Yukiko : Aa---h begitukah senpai? Okay akan Hani perbaiki. Thanks ya.
'Ruki-chan' pipy : Nggak lah senpai, Ichigo mana bisa benci sama Rukia. Tanpa Rukia, apalah arti hidup Ichigo*gak nyambung* thanks ya.
Sagara Ryuuki : Cihui...sedikit ada kemajuan ya senpai, ehm Yoruichi?! Hani emang susah nginget nama orang apalagi nama yang ribet-ribet *maaf ya om Tite* thanks ya.
Jiya Mukherjee : Ha...?! Ya ampun senpai, benarkah?!*Hani bingung sendiri malah?* thanks ya.
Have fun to chap 3
Em, cameo chara yang akan muncul kali ini dari Detective Conan by Aoyama Gosho
BLEACH
hak paten milik Tite Kubo
LOVE IN KISSES
By Haniya Kuchiki
Sudah tiga hari Ichigo, mencoba menemukan Rukia. Ichigo menyesal meninggalkan gadis itu sendirian di tengah malam. Namun hasilnya nihil, Rukia tidak ditemukannya.
Apakah gadis itu benar-benar pergi dari Kyonkey ataukah dia tewas karena bunuh diri. Pikirannya bergelayut tentang Rukia. Wajah Rukia sudah memutar-mutar di otaknya, menyita perhatiannya, menyita istirahat, menyita waktu makan dan tidurnya. Kemanakah perginya gadis yang sejak pertama kali bertemu telah mencuri hati Ichigo. Sebenarnya Ichigo sendiri bingung dengan perasaannya pada Rukia. Apakah cinta, perasaan simpati ataukah rasa bersalah dan ingin membalas budi.
"Rukia...!! Rukia!!" Ichigo terus memanggilnya sambil berlari-lari melewati gang dan perkebunan di sekitar. Orang-orang yang melihatnya hanya memberikan tatapan dan ucapan heran pada tingkah Ichigo. Keringat Ichigo sudah mengalir deras di bawah sinar matahari yang disembahnya, sudah sejak fajar tadi dia mencari Rukia di sudut Kyonkey yang berbeda dari pencariannya yang kemarin. Namun, tak ada. Rukia benar-benar menghilang. Menghilang dari pandangannya dan mungkin, tidak akan dapat bertemu lagi dengannya.
Rencana skak mat bagi Raja Kyonkey akan segera mereka laksanakan. Ichigo tidak akan memikirkan tentang Rukia dan akan melupakan gadis yang sejak kemarin menyita waktunya.
Sekarang Ichigo, Ishida, Sado dan seorang gadis . Kelompok mereka berjalan menuju benteng istana Kyonkey. Setelah beberapa meter mereka berjalan, seorang gadis berambut hijau panjang dengan dandanannya yang cantik mencegat Ichigo dan kawan-kawan. Keterkejutan sesaat muncul dan sejenak mereka saling berpandangan.
"Lady Nel...!" sorak gadis yang berdiri di samping Ichigo, berlari mendekati Nel dan memeluk Nel dengan erat. Raut muka yang tampak dari mereka adalah kebahagiaan karena menemukan satu lagi teman lama.
Nel melepaskan pelukan gadis yang memeluknya tadi. Kemudian mendekati Ichigo yang sedari tadi diam.
"Ichigo...bergabunglah dengan ku," ajak Nel.
Nel adalah teman satu kelompok pelatihan Ichigo dan kawan-kawan. Sebelum peperangan, Nel dipinang oleh Raja Orbanio, yaitu Aklamantha untuk dijadikan selirnya. Tiga bulan bersama Aklamantha sangatlah menyenangkan bagi Nel meskipun hanya dijadikan selir. Teman-temannya memanggil Nel tidak lagi dengan namanya, tapi dengan sebutan Lady Nel. Setelah kehancuran Aklamantha beserta Orbanio, Nel dibawa oleh Aizen. Karena kemampuannya, ia dijadikan tentara untuk kelompok hitam Aizen dan terpisah dari Ichigo dan kawan-kawan. Ichigo dan yang lain pun menganggap Nel sudah tewas dalam peperangan.
Sejenak sekelompok prajurit Kyonkey tersisa itu berpikir, kemudian mengikuti saran dari Nel untuk berkomplot dengan Aizen .
*******************
Ichigo dan yang lainnya menghadap Aizen, tidak ada harapan bagi mereka jika harus langsung berhadapan dengan Raja Kyonkey. Akhirnya dengan mengikuti ajakan Nel untuk bergabung dan menghancurkan Kyonkey bersama Aizen Sousuke, yang akan menjadi Tuannya nanti.
"Apa yang akan kalian abdikan padaku?" Aizen mulai meminta janji Ichigo dan kawan-kawan.
"Kemenangan," jawab Ichigo tegas.
"Baiklah. Untuk itu aku akan meminta bayaran mukanya...?!"
"Shuuutt..." sebuah belati meluncur tepat di pertengahan leher gadis yang sedari tadi menatap tajam Aizen, gadis yang berdiri diam di samping Ishida.
"Se...na...!!!" Teriak Ishida, Sado, dan Nel bersamaan.
Ishida memangku tubuh Sena, teman yang selalu menghibur mereka saat semuanya terasa hening. Leher Sena penuh dengan darah, seperti ayam yang disembelih urat nadi lehernya. Sena terkapar, tewas dengan mata terbelalak. Ishida geram, menyaksikan teman sejak kecilnya tewas di depan matanya dan dia tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya pasrah sembari menutup mata Sena agar tenang dengan kematiannya yang tiba-tiba.
"Se...se...na..." Ichigo tertatih melangkah mendekati tubuh gadis yang tak bernyawa itu. Nel hanya menggigit bibirnya. Sado hanya membelalakkan matanya pada Aizen.
Ichigo berlari secepatnya mendekati Aizen, namun saat ini pedangnya ditangkis oleh sosok Grimmjow yang tertawa meremehkannya.
"Apa kau mau temanmu yang lain mati di sini, Bocah?" Grimmjow menahan pedang besar yang dipegang Ichigo.
Ichigo memandang tajam Aizen yang hanya diam. Ichigo melunak, seakan ada yang mengendalikannya untuk berhenti menyerang. Ichigo tertunduk, mendekati mayat temannya dan menangis, menyesali kenapa mereka harus mengikuti saran Nel untuk datang mengantarkan nyawa.
"Dia itu tidak berguna untuk misi ini. Jadi, kalian harus siap untuk langkahku selanjutnya," kilah Aizen pada Ichigo dan yang lainnya.
Aizen pergi meninggalkan mereka yang terduduk lemas. Semuanya sudah terjadi dan Ichigo tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menyelesaikan misi, kemudian membalas Aizen.
*******************
Ulquiorra memandangi Rukia yang sedari tadi sibuk membenahi kuil. Kuil Lunatyse, kuil putih dengan patung Dewi Luna di tengah ruangan. Tidak tahu mengapa, Rukia merasa nyaman berada di kuil ini. Bahkan dirinya merasa tidak keberatan saat dipaksa Ulquiorra agar tetap tinggal di sini.
"Hei......Ulquiorra, berhenti tetap diam di sana. Cepat kemari! Bantu aku mengangkat altar ini!" Rukia mulai mengeraskan suaranya.
Ulquiorra hanya diam dan mendekatinya. Membantu Rukia mengangkat altar yang memang cukup berat jika diangkat sendirian oleh tubuh mungil Rukia.
"Dasar! Kau jangan mundur bodoh! Kau maju dan aku mundur!" bentak Rukia.
Rukia mulai kesal dengan tingkah Ulquiorra yang sedari tadi hanya diam dan mengikuti kata-katanya. Rukia mengehela nafas dan meniupkannya ke mata Ulqiorra.
"Hei, pria pendiam! Kau ini seperti zombi! Kenapa kau tidak membalas ejekanku sih?" ujar Rukia.
"Apa?" Ulquiorran balik bertanya dengan ekspresi muka datarnya
"Coba kau ejek aku sekarang!" seru Rukia sembari iseng menyentuh hidung Ulquiorra.
"Baiklah,,,aku akan mengejekmu. Gadis jelek, galak, sifatmu itu benar-benar buruk. Dengan tubuh rata, bicara sembarangan dan kasar, aku ragu kau ini laki-laki atau perempuan dengan segala prilaku anehmu itu!" Ulquiorra mengejek Rukia dengan begitu patuh dan menyakitkan.
Rukia terdiam sambil mengedipkan mata, kemudian memukul kepala Ulquiorra.
"Na, begitu akan lebih baik," Rukia tersenyum pahit.
"Dasar, gadis aneh!" ejek Ulquiorra.
"Apa kau bilang?!" Rukia mulai gerah dengan ejekan Ulquiorra.
"Rukia...!" panggil seorang pria tinggi berambut merah dengan tato di tubuhnya. Rukia yang sibuk dengan bersih-bersihnya menoleh ke sumber suara.
"Renji...?!"
Renji berlari mendekati Rukia, yang sibuk menata altar. Renji ingin memeluk tubuh mungil sahabatnya itu, tapi itu tidak akan dilakukannya. Dan Renji hanya menepuk pelan kepala Rukia. Tidak suka dengan perlakuan Renji, Rukia menepis tangan dan memukul dada Renji.
"Hai...Rukia," tegur pria berambut putih dengan mata hijaunya, menatap Renji dan Rukia yang sedari tadi tidak menghiraukan keberadaannya.
"Hitsugaya...!" semburat senyum senang menghampiri wajah manis Rukia, membuat Ulquiorra, Renji dan Hitsugaya sedikit tersenyum simpul dengan wajah yang memerah.
"Kenapa kalian bisa di sini?" Rukia mulai bertanya.
Mereka duduk bersama kecuali Ulquiorra yang duduk santai sambil membaca isyarat langit.
Renji dan Hitsugaya menjawab seadanya, Rukia tidak tahu apa-apa tentang keberadaannya di kuil ini, tentang pengkhianatan Aizen dan Yoruichi , tentang sesuatu yang direncanakan untuk penghancuran Kyonkey dan membunuh kakak tercintanya. Yoruichi hanya memberikan alasan untuk kebaikan kuil, supaya Rukia dapat tinggal dan menjaga kuil.
"Plak...," Rukia memukul Renji.
"Siapa yang akan menjaga kakakku, kalau kau di sini!" sergah Rukia.
"Sudah banyak yang menjaganya, Ukitake, Unohana, Kurotshuci, Kenpaci, Ikkaku, Kira, Hisagi, dan masih ada jutaan prajurit yang akan menjaganya!" jelas Renji tak mau kalah.
"Woi,,,Rukia. Berhentilah marah-marah, kami kemari hanya ingin bertemu denganmu," cegah Hitsugaya melerai perdebatan Renji dan Rukia yang mengganggu telinganya.
"Jadi, Hitsugaya ingin bertemu dengan ku?" tanya Rukia tiba-tiba yang memberikan desiran malu bagi Hitsugaya, hampir rahasianya akan terbuka.
"Bu-bukan aku! Tapi pria besar yang di depanmu itu selalu merengek-rengek untuk menemukanmu!" Hitsugaya mulai menghindar. Renji tidak ingin memperpanjang perdebatan dan hanya mencibir sifat gengsi Hitsugaya.
Malam semakin larut.
Hanya ada satu ruangan kamar di kuil itu, yang ditempati Rukia. Ulquiorra hanya duduk dan memejamkan matanya. Renji lelah dan tertidur di dekat altar. Sedangkan, Hitsugaya hanya berdiri menatap langit sembil berpikir menebak-nebak hal apa yang akan terjadi besok.
************
Raja Kyonkey, Byakuya Kuchiki. Duduk di kamarnya dengan meminum sebotol air yang memabukkan dan melupakan semua masalah yang memberatkan pikirannya.
'Rukia, bisakah kau kemari untuk menemaniku'. Byakuya mulai menumpahkan kerinduannya, berharap Rukia datang sekalipun hanya dalam mimpinya.
Tok...tok...
"Rajaku, bolehkah hamba masuk?" tanya seorang gadis di balik pintu kamar Rajanya.
Tak ada jawaban yang membalas ketukan pintu si gadis. Dengan berani, gadis itu memasuki ruangan rajanya tanpa izin, dirinya sudah memutuskan untuk mengabdikan diri pada Rajanya bukan pada Yoruichi.
Melihat keadaan Rajanya yang begitu buruk karena mabuk. Si gadis mulai memberanikan diri untuk membelai rambut Rajanya. Tiba-tiba Byakuya mulai mengigau menyebutkan nama gadis yang sudah lama dirindukannya.
"Rukia... apa itu kau?" terkejut dengan teguran Byakuya, gadis itu menarik tangannya.
Tapi, Byakuya menahannya dan menarik lengan si gadis. Byakuya benar-benar mabuk, gadis yang dilihat di depannya dengan mata menyipit, Byakuya mendekatkan wajahnya.
Kemudian, mencium bibir gadis yang merasa sedikit takut dan getir dengan ciuman paksa Byakuya. Si gadis hanya diam dan menerima ciuman itu dengan sedikit ketakutan, akhirnya rasa takut itu mengalahkan nikmat ciuman yang diberikan Rajanya. Dengan mengambil sebotol air segar, dia menyiram Rajanya. Byakuya yang membayangkan gadis itu adalah orang yang dirindukannya, mulai membuka mata dan kaget dengan apa yang dilihat dan dilakukannya.
"K-k-kau?! Soi fon!" bentak Byakuya dengan marah.
"Ra-ra-ja ku. Maafkan saya," Soi Fon takut dengan apa yang sudah terjadi. Soi Fon mundur menjauhi Byakuya.
"Berani sekali kau masuk ke kamarku tanpa izin?!" Byakuya mulai kesal.
Soi Fon hanya duduk terdiam. Ini benar-benar kesalahannya, berani mendekati Rajanya yang mabuk karena kesepian. Byakuya melunak karena Soi Fon yang hanya diam hendak menangis sambil menyentuh bibirnya yang basah karena ciuman.
"Sudahlah,,,ada perlu apa?" tanya Byakuya datar.
"Ini tentang Yoruichi...dan Rukia."
Ichigo berdiri dan hanya menatap tajam gadis yang ada di depannya. Tidak ada sejarah cinta yang terjalin antara mereka. Nel hanya melirik ke arah lain menghindari tatapan Ichigo. Ada sesuatu yang harus diselesaikan antara mereka.
Sesaat sebelumnya.
Ulquiorra, Renji, Hitsugaya dan Rukia ke kastil Aizen. Begitu besar kastil yang berada di bawah tanah. Siapa yang percaya, jika kastil itu dibangun tepat di bawah istana kerajaan Kyonkey. Tempat Byakuya berada.
Rukia benar-benar tidak tahu, bahwa selama ini dia hanya dimanfaatkan dan dijadikan alat untuk meraih apa yang diinginkan Aizen.
Dan saat Rukia berkeliling mengamati struktur keindahah kastil yang begitu mistik, dia langsung bersembunyi dan melihat Ichigo bersama seorang gadis cantik.
'I-i-chigo'. Ucap Rukia lirih
Ichigo memegang tangan kiri Nel dengan tangan kanannya dan mengucapkan sesuatu.
"Maafkan aku.......Lady," ucap Ichigo pelan dan memberikan tatapan sendu.
Sudah lama Nel menyimpan rasa cinta pada Ichigo, tapi laki-laki bermata coklat terang itu selalu menolak dengan pernyataan Nel. Tidak ada seorang pun yang dicintai pria itu, dia hanya menyayangi orang-orang disekitarnya yang selalu menemaninya. Ishida, Sado, Sena, Nel, Raja Aklamantha, dan rakyat Orbanio adalah masa lalu dan masa depan yang harus dilindunginya. Ya, setidaknya itulah pikiran dan janji Ichigo dulu. Semenjak dirinya bertemu seseorang yang mengubah pikiran dan janjinya.
Nel hanya menahan tangis yang hendak tumpah, dan menepis tangan Ichigo yang memegangnya dengan iba. Rukia yang melihat kejadian itu merasa kesal
"Oi...Ichigo!" Rukia berteriak, mengagetkan Ichigo yang jantungnya berdebar kencang saat menatap mata gadis yang ada di depannya.
"Ru...kia?!" ucap Ichigo.
Nel yang tak tahan untuk tidak menangis meninggalkan Ichigo bersama Rukia. Nel berlari ke sudut kastil berharap tidak ada yang melihatnya menangis.
"Woi...Nona! Tunggu?!" Rukia hendak mengejar, namun ditahan Ichigo.
"Jangan mengurusi urusan orang lain," Ichigo masih tertegun dengan keberadaan Rukia.
"Dasar, pria bodoh!" hardik Rukia dengan marah. Ichigo hanya diam, berusaha untuk stabil, memahami takdir yang sedang dijalaninya.
"Kau? Kau sudah membuat gadis itu menangis," Rukia memperjelas tindakannya.
Ichigo masih diam, menahan perasaannya untuk tidak memeluk gadis yang ada di hadapannya.
"Hey...dasar tuli?! Sana...kejar dia! Dan minta maaf padanya!" Rukia mulai memerintah, Ichigo masih tetap diam dengan memegangi pergelangan tangan Rukia.
"Aku sudah minta maaf padanya," Ichigo mulai bersuara.
Perlahan melepaskan pergelangan tangan Rukia. Dan pergi meninggalkan Rukia begitu saja.
Rukia sudah tidak sabar, dia melemparkan kerikil ke tubuh Ichigo. Ichigo hanya berjalan dengan lesu dan tak menggubris teriakan-teriakan Rukia.
Rukia menghela nafas panjang, pasrah dengan sikap Ichigo.
'Hah...dasar keras kepala!' batin Rukia.
"Mau kemana kau?" teriak Rukia
"Mencari udara segar!" jawab Ichigo.
"Apa disini tidak ada udara segar...dasar bodoh!" seru Rukia.
"Di sini ada dirimu, jadi terasa sangat sesak," balas Ichigo, dadanya benar-benar sesak untuk memahami sikap Rukia yang begitu tidak peduli dengan perasaan orang lain.
"Apa?!" Rukia benar-benar kesal dibuat Ichigo.
Nel berdiri menghadap dinding yang ada di depannya, dia memang gadis yang mampu membuat tongkat menjadi senjata tajam yang dapat menghabisi siapapun yang menghalanginya saat bertarung. Namun, pertarungan cintanya saat ini telah meruntuhkan pertahanan matanya untuk tidak menangis.
"Hiks...hiks..," Nel hanya menangis dan mengumpat Ichigo yang bodoh karena menolak cinta dari seorang gadis cantik sepertinya. Nel sempat berpikir setelah Sena dan gadis lainnya yang pernah ditolak Ichigo, dirinya berharap ada kesempatan baginya untuk cinta Ichigo. Sibuk meratapi nasibnya, Nel kaget dengan pria gagah yang tinggi dan hitam menyentuh pundaknya dengan lembut.
"Sado..." lirih Nel yang menyadari tangan hangat itu milik Sado. Pria yang sejak lama mencintainya, namun tak dipedulikan karena perasaannya pada Ichigo.
"Berhentilah berharap pada pria yang tidak pernah mencintaimu, Lady..." ucap Sado pelan.
"A-aku...hiks...hiks," Nel kembali membalikkan badannya dari tatapan Sado.
Kebaikan dan kehangatan Sado semakin membuat Nel menangis. Sado yang begitu tulus mencintainya. Sado mulai emosi dengan sikap bodoh Ladynya yang menangisi pria yang terus menolak cinta Ladynya itu. Sado menarik pundak Nel agar menoleh ke arahnya. Nel kaget karena saat berbalik Sado sudah menahan pundaknya dengan erat. Sado menatap Nel dengan tatapan yang menusuk jantungnya hingga seakan semuanya menjadi lemas.
"Pikirkanlah aku yang tulus mencintai mu,,,,Lady," ucap Sado, perlahan kemudian mencium bibir Nel sambil memeluknya.
Memeluk gadis yang dicintainya. Dada Nel yang menjadi bantalan bagi diri Sado benar-benar terasa hangat dan nyaman saat memeluknya. Nel menutup matanya, membiarkan pria tulus itu menciumi bibirnya. Hangatnya nafas dan pelukan erat Sado benar-benar memberikan penawar luka hatinya. Semakin lama, semakin nikmat ciuman yang mereka rasakan. Lalu datanglah seorang gadis yang mengacaukannya.
"Hwweeyy...nona...k-kau," Rukia terbata-bata meneruskan kata-katanya.
Dia malu sudah mengganggu kemesraan kedua orang itu. Gadis yang sedari tadi dicemaskannya karena menangis, sekarang sedang tersipu malu di depan pria yang berbeda dan terlihat semburat kebahagiaan dari tingkahnya. Rukia berlari meninggalkan mereka tanpa mengucapkan kata-kata maaf sudah mengganggu.
"Gadis... itu?" tanya Sado heran yang menatap Nel karena terus memandangi kepergian gadis mungil bermata indah itu. Gadis yang pernah dibawa Ichigo.
****************
Ichigo berjalan menyusuri jalan di luar kastil, meninggalkan kastil bawah tanah yang benar-benar membuatnya sesak bernafas. Sesekali pria itu memegangi lehernya yang sedikit pegal, dan menepuk dada bidangnya tempat jantung yang terus berdebar. Beberapa langkah melewati gang kecil yang buntu, Ichigo memergoki sepasang kekasih yang berciuman dengan mesra.
"Hey...kalian! Lakukan ciuman itu di rumah saja..." tegur Ichigo pada mereka yang kaget dengan suara keras pria berambut jingga itu.
"Maaf Tuan, apa kami mengganggu mu?" balas pria tampan yang berambut hitam.
"Ti-ti dak sih," Ichigo malu karena sudah mengganggu. Tapi hasratnya muncul, untuk menanyakan sesuatu.
Gadis itu mendekati kekasihnya dan mencubit pelan lengan kekasihnya.
"Sudahlah SHINICHI, dia benar. Sebaiknya kita pulang," ajak gadis itu.
"Iya, tidak perlu mencubit kan RAN. Dasar kau ini, gadis galak!"
"Kau mau aku cubit lagi hah?!" sergah Ran, kekasih Shinichi
.
Ichigo berpikir sejenak 'gadis galak' batinnya. Tiba-tiba Ichigo menghentikan langkah Sinichi.
"Tunggu,,,maaf boleh aku bicara denganmu?" pinta Ichigo.
"Tentu saja," balas Shinichi dengan tenang.
Ran menunggu kekasihnya yang sedang mengobrol dengan pria jabrik yang terlihat seram itu.
"Bagaimana kau bisa menaklukkan gadis galak?" Ichigo mulai bertanya.
"Dengan trik dan sedikit alibi," jelas Shinichi dengan sedikit serius dan memegangi dagunya.
"Sudah, tolong jelaskan dengan terperinci saja," Ichigo mulai memelas.
"Memang , kasus gadis galak sulit sekali untuk dipecahkan," Shinichi mulai menjelaskan.
"Hah?! Iya Tuan, tolong langsung saja!" pinta Ichigo dengan tersnyum kesal.
"Dengan ciuman...gadis galak yang bawel akan diam dan takluk dengan ciuman," ucapan Shinichi dengan sedikit berbisik pada Ichigo.
"Sudah ya kawan! Semoga berhasil dengan usahamu!" seru Shinichi yang mulai menjauh.
" Ya. Terima kasih dengan trik mu," balas Ichigo
"Apa sih yang kalian bicarakan?" tanya Ran pada kekasihnya.
"Em,,Cuma menjelaskan trik penyelesaian kasus pencurian hati" jawab Shinichi.
"Pencurian hati?!" sepasang kekasih itu berlalu, menjauhi Ichigo yang berpikir keras untuk mencerna trik dari orang asing yang tak dikenalnya itu.
*************
Kastil besar yang terlihat begitu sepi, Rukia benar-benar sudah melupakan perihal penting tentang Queen Diomand dan urusan Ichigo pada kakaknya. Dia hanya berharap menjalani kehidupannya dengan tenang dan kuat. Tidak ingin menggantungkan dirinya pada perlindungan orang lain. Di taman, dekat pepohon pinus Rukia menangkap sesosok pria yang tertidur pulas dengan menjadikan tangannya sebagai bantalan. Perlahan Rukia mendekatinya, keadaan nya sedikit temaram, hanya cahaya bintang dan sebagian bulan yang menerangi pria yang mungkin saja sedang bermimpi indah.
"Oh,,,ternyata si bodoh Ichigo," ucap Rukia dengan berbisik.
Perlahan Rukia mendekatinya, lalu berjongkok menatap wajah pria yang sedari tadi menutup matanya. Rukia mulai menjahilinya, mengibaskan tangannya dengan sedikit perlahan di depan wajah si pria. Rukia mengambil rumput, kemudian menyentuhkannya ke telinga si pria. Pria itu menggeliat karena merasa gatal. Rukia hanya tertawa kecil.
"Kau...seperti anak kecil saat tertidur," Rukia bergumam lirih.
Kemudian berdiri dan hendak meninggalkan pria itu. Tepat satu langkah ingin meninggalkannya, pria itu sudah terbangun dan menarik kaki Rukia. Gadis itu terkejut, menoleh ke arah pria yang menarik kakinya. Rukia terduduk karena sulit melepas genggaman kuat pria itu. Pria itu mendekati Rukia yang terdiam karena belenggu di kakinya. Semakin mendekat, semakin jelas wajah pria itu. Pria yang sedari tadi tidurnya sudah diganggu, bukanlah Ichigo.
"Siapa? Yang kau bilang seperti anak kecil...gadis manis," tanya pria yang terbangun itu.
"Hah...ma-ma-maaf Tuan. Saya kira Anda teman saya," ucap Rukia sedikit malu.
"Begitukah?!" pria itu semakin mendekatkan wajahnya pada Rukia.
Tanpa sadar Rukia melepas tinjunya, tepat di hidung pria itu. "Buukkk......."
"Sekali lagi, maafkan saya Tuan. Permisi!" Rukia lekas berlari kencang meninggalkan pria yang memegangi hidungnya karena sakit.
"Dasar...gadis itu?! Mata violetnya,,,benarkah gadis itu yang memiliki Queen Diomand?" pria itu berpikir sambil mengelus hidungnya yang sakit.
Rukia lelah berlari, dan langkahnya terhenti di depan telaga bawah tanah yang menakjubkan. Telaga itu, memantulkan cahaya bulan. Ada lubang besar yang menjadi ruang bagi cahaya bulan untuk masuk. Rukia terus memandangi bulan, tanpa sadar matanya yang violet itu mulai memutih.
Ichigo yang sejak tadi menemukan Rukia, hanya bersembunyi memandangi Rukia yang menikmati sinaran bulan. Ichigo aneh dengan sikap diamnya Rukia.
Rukia mulai membentangkan tangannya seakan ingin terbang. Ichigo kaget lalu berlari mendekati Rukia.
"Oi...Rukia...!!!" Ichigo memegang pinggang Rukia, menahan tubuh Rukia yang hendak terjatuh ke telaga dingin yang terlihat begitu dalam dan hitam.
"BRUKK..," mereka terjatuh ke tanah.
Ichigo mengatur nafasnya yang berkejaran, nafasnya semakin sesak saat dirinya menatap lebih dekat gadis galak yang selalu mengganggu pikirannya. Bola mata Rukia kembali normal, Ichigo tidak menyadari keanehan pada mata Rukia karena sibuk memandangi wajah gadis itu. Rukia tersadar, dan mendorong Ichigo.
"I-i-chigo, apa yang terjadi?" tanya Rukia heran.
"Kau itu,,,kalau mau bunuh diri jangan disini! Sebaiknya di jurang sana saja!" Ichigo memulai pertengkaran.
"Siapa yang mau bunuh diri...hah?!" tanya Rukia dengan kesal.
"Dasar gadis brengsek!!! Tidak punya hati!!" Ichigo semakin mempertajam ejekannya.
"Berani sekali...kau itu yang pria brengsek!" Rukia membalas dengan hati yang begitu panas.
Rukia memulai aksinya dengan tendangan, namun Ichigo dengan gesit menghindar.
Rukia menggenggam tangan kemudian memukul dagu Ichigo, namun Ichigo menahannya dan melemparkan Rukia. Rukia terduduk, semakin emosi dengan sikap Ichigo, Rukia melompat menendang punggung Ichigo. Ichigo sedikit goyah, namun pertahanannya tentu lebih kuat dibandingkan tendangan Rukia.
Ichigo sudah sekian lama menahan emosinya, gerakan gesit Rukia dikuncinya dengan mengangkat sedikit tubuh Rukia. Rukia benar-benar terdesak, Ichigo menatap tajam mata cantik milik Rukia. Kerah baju Ichigo ditarik Rukia, namun usahanya dicegah Ichigo, yang berusaha menyudutkan tubuhnya ke pilar kastil yang begitu besar.
"Kau bisa mengalahkanku dalam hal bertarung, dalam hal mengejek, tapi...tidak dalam hal berciuman, karena akulah yang akan menang...Ru-ki-a," bisik Ichigo sambil menyipitkan mata tajamnya yang mulai membuat Rukia merinding dan geli dengan nafas Ichigo.
"Dasar...kau...mphhh," Ichigo mulai menutup mulut bawel Rukia dengan ciumannya. Rukia kesal, tapi tak bisa melakukan apa-apa.
Ichigo melepaskan ciumannya dan sedikit mengehembuskan nafas di dekat hidung Rukia.
"Pria...bo...mphhh," Ichigo kembali mencium bibir mungil Rukia yang hendak menyumpahinya.
Rukia semakin kesal dengan sikap Ichigo, namun perlahan Rukia merasakan kenikmatan dalam ciuman hangat mereka. Ichigo tidak ingin melepaskan Rukia. Namun nafasnya berkata lain, ciuman mulai dilepaskan.
"I-ichi-...mmpphh," ucap Rukia pelan dengan memelas. Namun, bibirnya kembali tertahan dengan ciuman Ichigo. Kemudian, Ichigo melepaskan kembali ciumannya perlahan. Bibir mereka saling melengket satu sama lain, ciuman yang beraroma jeruk.
Rukia terbebas dari ciuman Ichigo, namun tubuhnya masih tertahan oleh Ichigo.
"Kau...benar-benar sudah gila...ampphhh," Ichigo kembali mencium Rukia, kali ini lidahnya berhasil masuk menyentuh lidah Rukia.
Tidak tahan lagi dengan kegilaan Ichigo yang sudah lama menciumi dirinya. Rukia menggigit lidah Ichigo yang masuk ke mulutnya.
"Aaawww... apa yang kau lakukan?" Ichigo melepas Rukia, memegangi bibir dan lidahnya yang sakit karena gigitan Rukia.
"Rasakan itu?! Kalau kau melakukannya lagi! Aku pasti akan menggigit lidahmu sampai putus! Kau mengerti, brengsek!" Rukia berlari meninggalkan Ichigo yang masih menahan sakit lidahnya. Namun, tersenyum penuh kemenangan.
*****************
Ishida duduk menunggu rencana apa yang akan dilakukan Aizen. Saat ini, dia hanya memandangi langit-langit kastil yang gelap meskipun saat itu hari sudah siang. Ishida memandangi teman-temannya yang berlatih serius. Ichigo dengan pedang besarnya, Sado dengan senapannya, Nel dengan tongkatnya, Grimmjow yang meninju-ninju pohon keras di depannya, Hitsugaya yang sibuk melatih pedangnya, Renji yang memutar-mutar gerakan pedangnya, lalu Shinji, Hyori, Stark , Hannible, dan prajurit inti lainnya.
Dia sendiri malas melatih keahlian memanahnya, dia sibuk memikirkan temannya yang mati tergeletak begitu saja di depannya. Lalu, matanya tertuju pada empat orang yang serius membicarakan sesuatu.
"Dimana gadis itu, Ulquiorra ?" tanya Aizen dengan nada baritonnya.
"Dia aman Tuan, nadinya sudah tertotok. Dia akan menikmati tidurnya," jawab Ulquiorra.
Pandangan Aizen tertuju pada Renji dan Hitsugaya.
"Kenapa kau membawa bocah-bocah itu, Yoruichi?" lanjut Aizen, bertanya pada Yoruichi.
"Tenang lah Aizen, mereka sudah terhipnotis," terang Yoruichi.
"Kau yang melakukannya?" Aizen kembali bertanya.
"Bukan. Mereka terhipnotis oleh perasaan mereka sendiri. Terjebak pada Sesuatu yang kapan saja bisa menghancurkan mereka," jelas Yoruichi.
"Ulquiorra, jelaskan padaku tentang Queen Diomand!" tanya pria yang terus mengerutkan dahinya sedari tadi
.
"Tentu, Tuan Kaien. Queen Diomand, permata berselaput giok yang hanya akan muncul saat pertengahan tahun Candela dan bulan purnama muncul. Queen Diomand, tersembunyi dalam tubuh gadis bermata violet itu. Gadis itu sebisa mungkin harus terhindar dari sinar bulan, untuk menghindari peningkatan aura. Semua yang menatap matanya saat muncul Queen Diomand dalam diri gadis itu, akan membawa semua orang di dunia untuk setia padanya. Violetnya menyimbolkan kesetiaan tak terbatas, dia mampu menaklukkan semuanya. Namun, hal ini berbahaya, karena dia akan menjadi seorang yang serakah dan angkuh hingga dunia tidak akan bertahan lama dan hancur," Jelas pendeta suci itu.
Yoruichi melanjutkan, "Dia, adik Hisana. Byakuya kemudian mengangkatnya menjadi adik, menyegel Rukia di dalam istana Kyonkey agar Queen Diomand dapat diredam. Oh ya pendeta suci... darimana Rukia mendapatkannya? Dan, apakah menurutmu ada sesuatu yang dapat mengehentikan Queen Diomand?"
Tanya Yuroichi, yang juga menjadi pertanyaan Aizen dan Kaien.
"Ya...ada sesuatu yang dapat mengehentikannya,"
Hwaaaw,,,akhirnya selesai chap 3
Ada tendens sampai di chap ini:
Jangan pernah mencoba trik yang dilakukan Ichigo pada Rukia......ok-------thanks
Terima kasih sudah sudi membaca cerita yang aneh ini.......^_^
Sangat ditunggu reviuwnya untuk melanjutkan kehidupan cerita ini......(^_^)
