Hiroshi dan Bunta mencari tempat duduk yang nyaman di taman itu. Setelah menemukannya, mereka pun duduk dibangku itu.

"Bunta, aku ingin berbicara mengenai Masaharu," ujar Hiroshi serius. Bunta memasang tampang cemberut.

"Aku tahu kau dekat sekali dengan Masaharu. Dan kau sering sekali pergi berdua dengannya. Tapi gak usah pamer-pamer ke aku segala dong, apa saja yang kau lakukan dengan Masaharu," ujar Bunta kesal.

"Bunta, aku bukan ingin berbicara mengenai hal itu,"

"Terus apa lagi?"

"Ini….mengenai penyakit yang diderita Masaharu," ujar Hiroshi tertunduk.

"Pe…Penyakit!" Bunta tampak kaget mendenganya. Hiroshi mengangguk pelan.

"Masaharu…menderita penyakit yang sangat parah," ujar Hiroshi pelan.

"A…Apa!"

"Sebenarnya Masaharu melarangku untuk memberitahumu. Tapi, aku tidak bisa melihatmu terus-terusan tidak mengetahui hal ini. Sebagai istrinya, kau harus mengetahui hal ini," jelas Hiroshi. Bunta terdiam mendengar penjelasan Hiroshi.

"Kenapa? Kenapa dia tidak mau memberitahuku?" Tanya Bunta sedih.

"Dia tidak ingin kau sedih. Masaharu tidak mau kau mencemaskannya. Apalagi…" Hiroshi tidak meneruskan kata-katanya.

"Apalagi? Apalagi apa, Hiroshi?" Tanya Bunta penasaran. Hiroshi tidak menjawab pertanyaan Bunta. Ia tidak berani memberitahu Bunta tentang hal itu.

"Hiroshi, jangan buat aku semakin penasaran! Ayo jawab! Apalagi, apa!" Bunta menggoncang-goncangkan tubuh Hiroshi.

"Saat aku dan Masaharu terakhir kontrol ke Dokter. Dokter itu bilang, penyakit Masaharu semakin hari akan semakin parah dan umurnya pun tidak akan lama lagi," Hiroshi cerita ke Bunta dengan suara yang hampir habis. Rasanya ia ingin sekarang juga menangis.

"BOHONG!" teriak Bunta. "Nggak! Nggak mungkin!"

"Bunta, tenanglah," Hiroshi mencoba menenangkan Bunta.

"Hiroshi, katakan padaku. Katakan kalau Masaharu pasti bisa sembuh. Ayo katakan!" Bunta mencengkram bahu Hiroshi. Hiroshi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Perlahan-lahan Bunta mulai mengeluarkan airmatanya.

"Kenapa ini bisa terjadi! Aku baru saja kehilangan anakku. Aku nggak mau kalau Masaharu juga ninggalin aku. Aku sayang sama dia! Aku nggak mau dia pergi!" Hiroshi mengelus-elus rambut Bunta.

"Bunta, kalau kau saja seperti ini. Bagaimana dengan Masaharu? Dia pasti sedih kalau dia tahu kau menangis hanya untuknya.," ujar Hiroshi lembut. "Dengan ini aku memohon padamu, Bunta. Buatlah Masaharu bahagia. Semangatkanlah hidupnya. Aku yakin hanya kau yang bisa melakukannya," mohon Hiroshi. Bunta mengangguk pelan.


Malam harinya, Bunta tidak bisa tidur. Ia masih kepikiran yang diceritakan Hiroshi tadi siang.

"Bunta?" panggil seseorang disampingnya. Bunta menengok ke arah orang yang memanggilnya.

"Hmm…Masaharu? Kamu kok belum tidur?"

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu," ujar Masaharu. "Kenapa kamu belum tidur?"

"Aku memang suka susah tidur, kok,"

"Bunta…"

"Ya?"

"Ada yang lagi kau pikirkan, ya?" Tanya Masaharu.

"Nggak ada, kok. Emang kenapa?"

"Aku merasa dari tadi kau sedang memikirkan sesuatu. Kalau ada masalah, katakan saja padaku," ujar Masaharu sambil mencium kening Bunta.

"Masaharu, maukah kau berjanji sesuatu kepadaku?" Tanya Bunta tiba-tiba.

"Apa?" Tanya Masaharu sambil mengelus-elus rambut istrinya.

"Berjanjilah kalau kau akan selalu disampingku. Berjanjilah kalau kau tidak akan pernah meninggalkanku," Masaharu kaget apa yang dikatakan Bunta.

"Kau mau kan berjanji seperti itu kepadaku?" Masaharu tidak menjawab pertanyaan Bunta. Tiba-tiba ia teringat tentang penyakit yang dideritanya.

"Masaharu? Kau mau, kan?" Tanya Bunta sekali lagi.

"Ya. Aku mau," ujar Masaharu tersenyum tipis.

"Janji ya," Bunta melingkarkan kelingkingnya ke kelingkingnya Masaharu.


Pagi harinya setelah Masaharu berangkat kerja, Bunta mulai membereskan kamarnya. Tetapi ia melihat ada seseorang yang tidak seperti biasanya. Ya, hari ini Jackal terlihat beda dari biasanya. Ia lebih sering terlihat murung hari ini.

"Jackal," panggil Bunta.

"Ya? Ada apa, Bunta?"

"Hari ini kau lebih sering terlihat murung. Apa ada masalah?" Tanya Bunta cemas.

"Nggak ada, kok. Aku baik-baik saja," ujar Jackal mencoba tersenyum.

"Jackal, aku sudah lama mengenalmu. Aku tahu ada yang tidak beres denganmu. Kalau ada masalah, tolong ceritakan saja padaku," Bunta memohon. Jackal berpikir sejenak. Akhirnya ia pun mau bercerita.

"Begini Bunta, sebenarnya tadi pagi aku mendapat telepon dari Saudaraku," Jackal memulai ceritanya.

"Terus?"

"Dan dia bilang padaku kalau ibuku sedang sakit," ujar Jackal sedih. "Aku tidak punya cukup uang untuk dikirimkan ke ibuku buat berobat. Makanya aku jadi bingung," Bunta sangat kasihan mendengar cerita Jackal.

"Tunggu sebentar ya," Bunta berlari ke kamarnya. Ia mengambil beberapa lembar uang di dompetnya.

"Nih," Bunta memberikan uang yang tadi ia ambil ke Jackal.

"Apa ini?"

"Ini uang untuk ibumu berobat,"

"Terima kasih atas uang pemberianmu ini. Tapi maaf, aku tidak bisa menerima uang pemberianmu," tolak Jackal sopan. "Aku yakin kalau tuan Masaharu mengetahui hal ini, dia pasti akan marah," ujar Jackal lagi.

"Nanti aku akan kasih tahu dia baik-baik. Walaupun begitu-begitu, sebenarnya dia baik kok. Makanya terimalah," mohon Bunta. Jackal ragu menerima uang pemberian Bunta. Tapi karena ia lebih memikirkan ibunya, ia pun akhirnya mau menerima uang itu.

"Makasih ya, Bunta,"

"Iya, sama-sama. Kalau ada masalah lagi, ceritakan saja padaku," ujar Bunta sambil tersenyum. Tanpa disadari mereka berdua, ternyata Akaya melihat mereka berdua sambil tersenyum ala devil.


"Masaharu, makan malam sudah siap," Bunta masuk ke kamarnya. Sang suami masih berganti pakaian.

"Iya, aku akan segera kesana,"

"Hari ini aku masak yakiniku kesukaan kamu loh. Kamu makan yang banyak ya," suruh Bunta. Masaharu hanya mengangguk. Selesai berganti pakaian, Masaharu langsung ditarik Bunta untuk segera ke ruang makan. Setelah semuanya sudah berkumpul di ruang makan, mereka pun mulai makan malam.

"Ma, ngomong-ngomong tadi aku lihat kak Bunta kasih uang banyak ke pelayan botak itu. Kayaknya sih buat mereka berdua senang-senang," ujar Akaya ditengah makannya. Bunta kaget mendengar omongan Akaya.

"Benarkah itu, Bunta?" Tanya Ibunda Seiichi penuh selidik.

"I…Iya," Bunta menunduk. "Tapi uang itu untuk…"

"Uang sebanyak itu pasti dari hasil kerja keras kak Masaharu. Mana mungkin sih kak Bunta punya uang sebanyak itu. Kasihan ya, kak Masaharu. Dia dimanfaatkan kak Bunta hanya untuk pelayan botak itu," Akaya memotong omongan Bunta dengan sengaja.

"Nggak! Itu nggak benar!" teriak Bunta. "Uang itu kuberikan ke Jackal karena ibunya sedang sakit. Uang itu untuk ibunya Jackal berobat," jelas Bunta.

"Sudahlah, kak Bunta. Kita semua tahu kok kalau kak Bunta pintar bohong. Nggak usah pura-pura sampai mau nangis segala lagi," Akaya makin memanas-manasi.

"Nggak! Aku nggak bohong!" teriak Bunta lagi, "Masaharu, kamu percaya kan sama yang aku katakan?" Masaharu masih terdiam. Ia tidak menjawab pertanyaan Bunta.

"Masaharu, kamu percaya kan?" Bunta menggoyang-goyangkan tubuh Masaharu. Tapi Masaharu tetap terdiam.

"Jackal!" teriak Sanada. Jackal yang tadi ada di dapur langsung berlari ke ruang makan.

"Ada apa, tuan?"

"Apa benar kau menerima uang dari Bunta?"

"Be…Benar tuan," Jackal sedikit gugup.

"Kalau begitu, mulai hari ini juga kau diberhentikan," ujar Sanada.

"Tunggu, Pa! Ini bukan salah Jackal. Ini salahku! Tolong jangan berhentikan Jackal," mohon Bunta.

"Hou, ternyata kau lebih membela pelayan ini, ya?" ujar Sanada. "Baiklah, Jackal tidak jadi kuberhentikan," Bunta dan Jackal bernapas lega. "Tapi sebagai gantinya, kau yang akan cerai dengan Masaharu," Bunta dan Jackal sangat kaget mendengar keputusan dari Sanada.

"Tuan, tolong jangan ceraikan Bunta dengan tuan Masaharu. Saya mengaku salah. Saya mau diberhentikan. Asal jangan ceraikan Bunta dengan tuan Masaharu. Bunta sangat menyayangi tuan Masaharu. Saya mohon, tuan!" tunduk Jackal.

"Baiklah. Kalau begitu besok pagi-pagi sekali juga kau harus pergi dari sini," ujar Sanada.

"Terima kasih, tuan!" Jackal menunduk dalam-dalam.


"Aku pulang," Masaharu masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat Bunta duduk terdiam di pinggir ranjang dengan pandangan kosong.

"Kenapa sih, Bunta? Masih pikirin pelayan itu?" Tanya Masaharu. Bunta segera berdiri dari duduknya. Dengan cepat ia menampar wajah suaminya.

"Kamu nggak punya perasaan!" teriak Bunta, "Kenapa kamu nggak membelaku kemarin? Hah!" Kedua tangan Bunta mencengkram kerah baju Masaharu, " Jackal tuh temanku dari kecil. Jelas dong kalau aku meminjamkan uang kepadanya," ujar Bunta dengan suara yang hampir menangis, "Aku benci sama kamu!" Bunta berlari keluar kamar. Ia membanting pintu kamarnya.

Seperti biasanya, Bunta menyiapkan sarapan untuk keluarganya pagi-pagi sekali.

"Bunta…" panggil seseorang. Bunta tidak menjawab panggilan itu. Ia tahu siapa yang memanggilnya. Masaharu lalu memeluk tubuh Bunta dari belakang. Dengan cepat Bunta melepaskan pelukan suaminya.

"Apa-apaan sih, kamu!" teriak Bunta. Masaharu jadi sangat sedih tentang perlakuan istrinya itu terhadapnya.

"Aduh, sakit!" tiba-tiba Masaharu memegangi perutnya. Bunta yang tadinya marah langsung mengkhawatirkannya.

"Masaharu, kamu kenapa?" ujar Bunta cemas.

"Hehehe… Bercanda kok," cengir Masaharu. Bunta langsung cemberut.

"Bunta, maafkan aku ya. Aku ngaku aku salah," Masaharu menyesali perbuatannya. Bunta masih terdiam.

"Aku cuma merasa sepertinya kamu lebih memilih Jackal dari pada aku. Makanya kemarin aku diam saja," ujar Masaharu pelan.

"Masaharu cemburu?"

"Nggak kok," Masaharu sedikit malu.

"Aku senang," ujar Bunta, " ternyata kamu sayang juga sama aku. Aku sudah maafin kamu kok," Bunta langsung memeluk tubuh suaminya.

"Bunta, sebenarnya aku punya sesuatu buat kamu,"

"Apa itu?"

"Ayo, ikut aku ke kamar," ajak Masaharu. Bunta dan Masaharu pun pergi ke kamar. Masaharu lalu mencari sesuatu dari dalam lemari. Ia pun lalu mengeluarkan kotak berwarna merah dan memberikannya ke Bunta.

"Ini buat aku?" Bunta menunjuk kotak yang diberikan Masaharu. Masaharu mengangguk.

"Boleh kubuka?" Tanya Bunta.

"Tentu saja," Dengan cepat Bunta membuka kotak berwarna merah itu. Ia melihat sebuah gaun berwarna merah di dalam kotak itu.

"Wah~ Gaun ini bagus banget," Bunta membentangkan gaun berwarna merah itu.

"Kamu suka?" Tanya Masaharu.

"Iya. Aku suka banget. Makasih ya, Masaharu," Bunta memeluk tubuh suaminya lagi dan mencium bibirnya.

"Bunta, maaf aku lupa memberitahumu. Malam ini, Syusuke, anak temannya Papa menikah. Kamu dandan yang cantik ya pakai gaun itu. Aku akan pulang cepat," suruh Masaharu.

"Iya. Aku akan dandan secantik mungkin untuk kamu," ujar Bunta semangat. Masaharu tersenyum mendengarnya. Ia lalu mencium bibir Bunta dengan lembut.


Karena belum ada pelayan pengganti Jackal, semua pekerjaan rumah untuk sementara waktu diserahkan ke Bunta. Kini Bunta sedang membereskan ruang tamu.

"Kak Bunta," panggil Akaya.

"Ya?"

"Aku minta parfumnya kak Masaharu dong. Tiba-tiba aja parfumku habis," ujar Akaya.

"Ya sudah, ambil saja di kamar," suruh Bunta. Akaya pun lalu masuk ke dalam kamar Bunta dan Masaharu. Ia lalu mengambil sebuah parfum di atas meja rias. Setelah mengambil parfum yang ia cari, ia pun hendak keluar kamar. Tetapi, ia melihat sesuatu di atas tempat tidur.

"Ng? Apa itu?" Akaya mendekati sebuah kotak berwarna merah di atas tempat tidur itu. Ia pun lalu melihat isi kotak itu. Tiba-tiba, terlintas ide jahat di pikiran Akaya.


Bunta melihat jam dinding yang ada di ruang tamu.

"Sudah jam 3 sore. Sebentar lagi Masaharu pasti pulang," pikir Bunta, "Aku mau dandan dulu, ah. Buat nanti ke pesta," Bunta lalu segera masuk ke kamarnya. Ia segera mengambil gaun yang diberikan suaminya. Tapi ia tidak melihat gaun tersebut.

"Loh, kok? Kayaknya tadi aku taruh di tempat tidur deh," Bunta mengingat-ingat. Ia mencari seisi kamarnya. Tapi ia tetap tidak menemukan gaunnya.

"Aneh, deh. Dimana sih, tuh gaun?" ujar Bunta bingung, "Oh iya, tadi kan Akaya masuk kesini. Dia pasti lihat gaunku," Bunta berlari keluar kamar mencari keberadaan Akaya.

"Akaya, dimana kamu!" teriak Bunta. Ia pun mencoba ke kamarnya Akaya. 'Tok Tok Tok,' diketuknya pintu kamar Akaya. Dengan cepat Akaya membuka pintu kamarnya.

"Ada apa?"

"Akaya, tadi kan kamu ke kamarku. Kamu lihat nggak, ada kotak warna merah di atas tempat tidur?" Tanya Bunta.

"Nggak tuh," ujar Akaya Bohong.

"Yang benar? Masa sih kamu nggak liat?" Bunta rada nggak percaya sama omongan Akaya.

"Kalau ku bilang nggak lihat ya nggak liat! Kok kamu nggak percaya gitu sih!" Akaya jadi sewot sendiri.

"Ma…Maaf deh. Aku permisi dulu," Bunta pergi dari kamarnya Akaya. Akaya tersenyum licik setelah Bunta pergi dari kamarnya.

30 menit kemudian…

"Loh, kok disini?" ujar Bunta bingung melihat kotak merah yang dicarinya itu ada di ruang tamu. Dibukanya kotak merah itu. Betapa terkejutnya Bunta melihat gaun di dalam kotak itu sudah robek-robek dan kotor penuh lumpur.

"Ke…Kenapa bisa begini?" Bunta membentangkan gaun merah dihadapannya itu.

"Aku pulang," Masaharu membuka pintu rumah, "Loh, Bunta ngapain disitu? Kamu belum siap-siap?" Tanya Masaharu. Masaharu pun langsung terkejut melihat Bunta sedang memegang gaun yang ia kasih itu sudah robek dan penuh lumpur.

"Ma…Masaharu? Maaf…Ini bukan aku yang melakukannya," ujar Bunta hampir menangis, "Percayalah, kumohon!"

"Kak Masaharu sudah pulang?" Akaya keluar dari kamarnya, "Kak Bunta jangan sampai begitu dong. Mentang-mentang nggak suka sama gaun yang dikasih kak Masaharu, nggak usah sampai dirusakin segala lagi," ujar Akaya tiba-tiba.

"Nggak! Ini bukan aku yang ngerusakin!" bentak Bunta ke Akaya, "Masaharu, ini bukan aku yang ngerusakin. Kamu percaya sama aku, kan?" Masaharu tertunduk sedih.

"Sudahlah, Bunta. Kamu nggak usah ikut pergi ke pesta. Biar aku pergi sama Mama, Papa, dan Akaya saja," Masaharu masuk ke dalam kamarnya.

"Tunggu, Masaharu! Masaharu!" Masaharu tidak mempedulikan panggilan Bunta lagi.


Bunta terus-terusan menangis di ruang tamu.

"Kenapa? Kenapa Masaharu tidak mau mempercayaiku?" ujar Bunta sedih.

"Bunta," panggil ibunda Seiichi. Dengan cepat Bunta menghapus air matanya.

"Iya, Ma,"

"Kita berangkat dulu, ya," pamit ibunda Seiichi. Mereka semua berjalan keluar rumah. Kecuali Masaharu. Ia masih berada di dalam rumah. Ia memperhatikan istrinya yang masih sedikit menangis di ruang tamu.

"Suatu saat..."

"Ng?" Bunta menengok ke arah sumber suara itu.

"Aku akan membelikan gaun yang lebih bagus lagi," ujar Masaharu.

"Masaharu? Apa kamu tadi mempercayaiku?" tanya Bunta. Masaharu mengangguk.

"Tentu saja. Aku percaya pada istriku. Aku tahu ini semua pasti ulah Akaya," Bunta sangat senang mengetahui suaminya telah mempercayainya.

"Bunta, maafkan aku. Sebenarnya aku ingin sekali mengajakmu ke pesta itu. Tapi, aku takut kalau Akaya akan mempermalukan kamu di pesta itu. Aku nggak mau itu terjadi. Makanya aku tidak mengajakmu ke pesta itu," ujar Masaharu.

"Nggak apa-apa. Aku akan tunggu kamu pulang disini,"

"Aku akan cepat pulang dan membawakanmu banyak makanan dari sana," janji Masaharu sambil memeluk erat tubuh istrinya.

"Kutunggu, ya," ujar Bunta sambil tersenyum.

"Masaharu, cepat! teriak Ibunda Seiichi dari luar rumah.

"Sudah ya, Bunta. Aku berangkat dulu," Masaharu melepaskan pelukannya.

"Iya. Hati-hati di jalan ya," Masaharu lalu pergi meninggalkan Bunta sendirian di rumah. Bunta menatap kepergian suaminya.

"Aku sangat senang Masaharu mau mempercayaiku. Tapi, kenapa aku merasa gelisah begini? Kenapa aku merasa pelukan Masaharu tadi adalah pelukan yang terakhir. Kenapa aku merasa tidak akan pernah melihatnya lagi?"


Dari tadi Bunta hanya menonton TV di ruang keluarga. Ia bolak-balik mengganti chanelnya. Ia bingung mau nonton apa. Dari tadi ia terus merasa gelisah. Bunta memperhatikan jam di dinding.

"Sudah jam 11 lewat 15 menit. Kenapa Masaharu belum pulang juga? Katanya dia mau pulang cepat," ujar Bunta pelan. Tiba-tiba terdengar bunyi telepon. Bunta segera berlari untuk mengangkatnya.

"Bunta? Ini Bunta, kan?"

"Iya, Ma. Ada apa?"

"Gawat, Bunta! Tadi saat pesta, Masaharu tiba-tiba saja pingsan. Saat dibawa ke Rumah Sakit, ternyata Masaharu memang sudah lama menderita penyakit parah. Sekarang dia lagi di ruang ICU. Bunta cepat ke Rumah Sakit, ya. Hallo, Bunta? Bunta?" Bunta menjatuhkan gagang teleponnya. Air matanya mengalir deras.

"Masaharu bohong!" teriak Bunta, "Katanya mau pulang cepat! Katanya mau bawain aku banyak makanan! Kamu kan sudah janji nggak akan ninggalin aku. Kamu kan janji akan selalu ada di sampingku. Tapi kenapa begini! Kenapa!" ujar Bunta terisak-isak. Bunta pun segera mengambil dompetnya di kamar dan pergi ke Rumah Sakit dengan Taksi.


"Kak Bunta kok lama banget sih sampainya?" omel Akaya. Seorang Dokter pun lalu keluar dari ruangan ICU. Akaya, Papa Sanada, dan Ibunda Seiichi menghampiri dokter itu. Tapi tiba-tiba, HP Papa Sanada berdering.

"Ma, aku angkat telepon dulu. Biar kamu aja yang ngomong sama dokter itu," ujar Papa Sanada lalu pergi agak menjauh dari tempat itu.

"Bagaimana dokter, keadaan anak saya?" tanya Ibunda Seiichi. Dokter Yanagi menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi pasien Masaharu sudah tidak bisa diselamatkan lagi," Ibunda Seiichi langsung menangis mendengar ucapan Dokter Yanagi. Akaya memeluk tubuh mamanya. Papa Sanada pun menghampiri mereka berdua.

"Pa, Masaharu meninggal," Ibunda Seiichi terisak-isak. Papa Sanada terdiam mendengar tangisan istrinya.

"Ma, Barusan aku mendapat telepon dari polisi," Papa Sanada mulai berbicara, "Mereka bilang, Taksi yang dinaiki Bunta mengalami kecelakaan. Supir Taksi dan Bunta meninggal dalam kecelakaan itu,"


Hari pemakaman Bunta dan Masaharu pun dilaksanakan pagi hari. Banyak orang yang datang dalam pemakaman itu. Makam Masaharu dan Bunta pun dibuat berdampingan. Masaharu telah menepati janjinya kepada Bunta. Ia akan selalu berada di samping Bunta. Mereka akan selalu bersama di alam sana.

~ THE END ~

Akhirnya kelar juga nih cerita~

Teman-teman, ini ceritaku yang terakhir di FFN. Semoga kalian suka ceritaku ini ya ^^

Oh iya, aku mau mengucapkan terima kasih kepada para pembaca yang setia membaca cerita-ceritaku ini. Aku juga berterima kasih kepada para senpai yang sudah review cerita-ceritaku. Maaf ya aku tidak membalas review dari kalian, karena aku tidak pintar membalas review seperti Aiko-chan. Terus terima kasih banyak juga kepada Frejahimitsu yang selalu mendukungku dan untuk Sayu-senpai yang mengajariku nge-post di FFN ini. Ya maklumin aja, author rada gaptek. Terima kasih banyak juga buat Kiriyama Renn dan Nakagauchi Masataka yang mau meminjamkan namanya untuk membuat akun ini. Walaupun sebenarnya kalian berdua juga gak tau sih. Aku hanya mau mengucapkan "TERIMA BANYAK SEMUANYA"

~ Salam manis, Kiriyama Masataka ^_^