Chapter 3

Mata mereka berdua bertemu dijarak yang hanya terpisah beberapa inchi, tak sampai 5. Tatapan Chanyeol, dengan ketajaman yang mampu menusuk bahkan ke tulang-tulang rusuk Baekhyun, membuat si pemuda submisif merendah akibat dominasi yang begitu pekat.

Ini tidak menakutinya, Baekhyun bersumpah. Hanya saja perkataan Chanyeol terdengar tak memiliki relasi apapun dengan hal yang Baekhyun kira selama ini. Ia pikir Chanyeol membencinya, melihatnya sebagai jalang tak berguna yang merepotkan. Tapi Chanyeol mungkin berhak untuk itu, karena Baekhyun tak merasa memiliki hal bagus untuk dipandang. Tak ada yang pantas untuk disukai dari dirinya.

Lalu kenapa...

"Ch-Chanyeol... A-aku tidak mengerti apa maksu--..."

"Aku pun juga tak memahami ini. Semuanya diluar kuasaku, tak selaras dengan nalar yang selama ini aku agung-agungkan. Kau bahkan membuatku tak mampu lagi untuk menyangkal semuanya, Baekhyun. Sikap angkuh dan kasar milikku tak cukup kuat untuk menepis segala kehangatan yang kau tawarkan..."

Bola mata Baekhyun yang semula bergerak tak tenang kini terkunci pada iris pekat Chanyeol. Udara yang Baekhyun hirup telah tergantikan oleh deru nafas hangat pria itu, seolah menjadi satu dengan miliknya sendiri. Baekhyun sudah tak terbiasa dengan adanya debaran pada dadanya. Dan sekarang perasaan itu datang kembali, begitu mengganggu dan mendistraksi segalanya. Baekhyun tak punya daya untuk mengontrol ini semua disaat bersamaan.

"T-api... Ini..."

"Mommy..."

Perkataan Baekhyun yang tergagap lagi-lagi dipotong oleh suara yang lain. Lantas sang ibu menoleh kebelakang, mendapati makhluk mungil yang merupakan buah hatinya ada disana.

Jiwon, balita laki-laki itu berdiri diambang ruang tamu dengan satu tangan mengucek-ucek matanya yang masih tersisa kantuk.

"Jiwon sayang..."

Chanyeol melepaskan genggamannya, membuat Baekhyun memiliki kesempatan untuk berdiri kemudian menghampiri balitanya yang belum genap 2 tahun.

Didalam gendongan ibunya, Jiwon merebahkan kepala didada Baekhyun dan sedikit merengek khas balita yang baru bangun.

Pemuda cantik itu mengusap-usap punggung anaknya dengan lembut.

"Kenapa sayang? Anak mommy haus, hm?"

Baekhyun merasakan Jiwon menggeleng-geleng.

Tak lama, dengan suara cadelnya bayi itu menjawab, "Papa... aca Papa..."

Telunjuk mungil Jiwon mengarah pada sosok Park Chanyeol yang masih duduk diam ditempatnya. Lantas Baekhyun berbalik untuk menoleh, ekspresi sedikit terkejut tak dapat ia sembunyikan.

"Jiwonnie... I-itu bukan Papa. Dia Kak Chan--..."

"Tidak apa. Jiwon sudah memanggilku Papa sejak hari pertama dia melihatku."

Chanyeol menyela sambil memandang Baekhyun, tak banyak berekspresi. Namun ketika dia berjalan menghampiri dan menatap Jiwon, air mukanya berubah ramah dan menyenangkan.

"Papa!"

Jiwon berjingkat-jingkat dalam gendongan Baekhyun, membuat si ibu sedikit kewalahan. Jiwon dengan jelas menawarkan tubuhnya untuk segera digendong oleh Chanyeol.

"Berikan dia padaku."

Jika semalam Park Chanyeol adalah sosok yang bahkan takut untuk menyentuhkan ujung jarinya pada seorang bayi, entah kenapa di detik ini kenyataan itu telah berubah sebaliknya. Chanyeol menyambut tubuh mungil Jiwon dan menggendongnya seolah ini hal biasa.

"Merindukan Papa?"

"Um! Yindu..."

Lalu Jiwon terkekeh setelah Chanyeol pura-pura mencubit kecil pipi gembul si balita.

Baekhyun memandang mereka dengan jari jemari yang saling meremat satu sama lain. Untuk alasan tertentu ia merasa cemas. Tentu saja, ia bingung kenapa Jiwon seberani itu memanggil orang asing dengan sebutan Papa. Bahkan ketika Jiwon masih sangat bayi, ia hanya mampu mengucapkan kata itu beberapa kali pada Ayah kandungnya sewaktu dia masih hidup.

"Kau mau pergi makan es krim?"

"Esklim?"

"Iya, es krim. Jiwonnie suka es krim, kan?"

"Wonnie syuka!"

Balita itu mengangkat kedua tangannya dengan bahagia. Sementara Baekhyun berusaha mengucapkan sesuatu untuk menolak tawaran itu.

"T-tapi... Ini akan merepotkanmu, Chanyeol."

"Gantilah pakaian. Kita akan pergi dan tidak ada penolakan."

Entah bagaimana, Baekhyun tak memiliki jiwa untuk membantah dan lanjut melakukan hal sesuai perintah Chanyeol.

Tapi saat dirinya berada dikamar dan mengeluarkan sepotong jeans, ia masih tak dapat berhenti memikirkan perkataan Chanyeol sebelumnya.

Sesuatu tentang jatuh cinta dan kalimat-kalimat rumit lain yang membuat hatinya bimbang...

e)(o

Menaiki lift dari basement parkir, Baekhyun akhirnya menyadari bahwa mereka sedang ada di pusat perbelanjaan ketika cahaya terang dari setiap deretan etalase toko menyambut mereka. Hampir di setiap pilar gedung yang mereka lewati, ada banyak sekali LED yang menayangkan sebuah logo komersial bertuliskan "PARK TRADE CENTER MALL"

"Whoa... Papa! Becal dan yamai..."

Jiwon yang berada digendongan Chanyeol nampak mengedarkan pandangannya kesana-kemari, hampir setiap objek yang ditangkap oleh matanya terlihat seakan begitu menakjubkan.

"Wonnie suka? Wonnie mau kita bermain?"

"Main!"

"Ayo, tanya mommy dulu. Apa kita boleh pergi bermain?"

Chanyeol memposisikan Jiwon agar menghadap pada ibunya.

"Mommy... Wonnie mau main... Boyeh?"

Baekhyun membasahi sekilas bibirnya karena ragu-ragu. Chanyeol telah melakukan hal seolah dia benar-benar Ayahnya Wonnie. Dan itu membuat hati Baekhyun mengalami konflik.

Apa seorang anak kuliahan tidak merasa terbeban dengan balita orang lain berada dalam gendongannya? Bahkan membawanya jalan serta bermain ke tempat umum.

"Mommy tidak bisa melarang. Kalian bisa pergi bermain."

"Kenapa kami yang harus pergi? Ayo, kita bertiga akan main sama-sama."

Dengan satu tangan yang menggendong Jiwon dan satu tangan lagi meraih tangan cantik Baekhyun untuk digenggam, Chanyeol berjalan cepat menuju pusat Arcade khusus anak-anak yang berada 5 blok dari sana.

Baekhyun sempat terkejut namun ia tak mempunyai waktu untuk benar-benar mengekspresikan perasaan itu. Tangan Chanyeol yang besar dan kokoh, terasa begitu hangat dan nyaman saat menggenggamnya. Orang-orang melihat ke arah mereka seakan ini adalah potongan adegan dalam sebuah drama tv murahan. Kenapa mereka begitu tertarik? Baekhyun tidak mengerti. Diantaranya bahkan ada yang berbisik-bisik setelah cukup lama memperhatikan mereka.

Baekhyun tahu bahwa laki-laki sempurna seperti Chanyeol terlihat tidak pantas jika berpegangan tangan dengan pemuda Carrier biasa seperti dirinya. Mungkin pemandangan ini terlihat sangat mengganggu bagi orang-orang. Baekhyun tak bisa melakukan hal apapun selain menunduk. Ia benar-benar merasa tidak pantas.

"Ayo, kita naik wahana kereta. Kau mau, Wonnie?"

"Um! Wonnie mau!"

Dan mereka sampai pada sebuah arena khusus yang luas dimana ada banyak benda-benda replika seperti dalam stasiun kereta sungguhan. Pohon-pohon imitasi berjejer di setiap sudut, ada rambu-rambunya, juga kereta mini yang terparkir diatas rel.

"Papa akan mengemudi keretanya, jadi Wonnie duduk dibelakang bersama Mommy."

"Hore!!!"

Baekhyun sedikit melongo saat Chanyeol bilang dia akan mengemudikan keretanya. Tapi ia tetap sigap saat menerima Jiwon dari gendongan Chanyeol. Bagaimana bisa? Ini kan pusat perbelanjaan, bahkan wahana seperti ini sudah ada 'masinisnya' sendiri.

"Hei kau, turun. Biar aku yang membawanya."

Seseorang dengan seragam itu nampak terlalu terkejut hingga terlonjak. Namun tak butuh banyak waktu untuknya segera berdiri, membungkuk hormat sejenak, kemudian meninggalkan tempat duduknya sesuai perintah Chanyeol.

Baekhyun semakin tidak mengerti kenapa 'masinis' itu tampak begitu penurut.

"Naiklah. Kereta akan segera berangkat!"

Chanyeol tak pernah sesumringah ini ketika berada di Arcade anak-anak bahkan sambil duduk diatas kereta replika. Ia sama sekali tidak pernah melakukannya, karena itu akan tampak terlalu bodoh. Tapi hari ini, dia tidak tahu kenapa rasanya begitu alami duduk diatas sana, membawa seorang anak dan ibunya untuk berkeliling.

Anak yang memanggilnya Papa, serta ibunya yang selalu membuat jantung Chanyeol berdegup tidak normal.

Baekhyun mendekat dan duduk di kursi tepat dibelakang 'masinis'. Jiwon yang ada di pangkuannya tak bisa berhenti bejingkat-jingkat gembira. Chanyeol terkekeh sebelum menyalakan kereta itu dan bunyilah suara lagu anak-anak sebagai pengiringnya.

"Kau siap jagoan?"

"Jayan!"

Ini pertama kalinya bagi Chanyeol menggerakkan benda semacam ini. Untungnya tombol-tombol diatas sana memberikan informasi yang sangat mendasar dan mereka hanya perlu melaju mengikuti rel. Ini bukan persoalan besar.

"Whoa... Hihihi... Mommy kica naik keyeta."

Jiwon mendongak lucu kearah ibunya sambil tertawa khas anak kecil. Baekhyun tak dapat mencegah senyum bahagianya melihat buah hatinya senang dengan hal ini; sesuatu yang tengah dilakukan Chanyeol untuk mereka.

Lagi-lagi semua orang melihat seolah mereka adalah sebuah tontonan. Diluar pagar arena, bahkan ada sekelompok gadis-gadis yang mengeluarkan handphone mereka dan mengarahkan kamera seperti sedang merekam.

Baekhyun tahu yang Chanyeol lakukan agak aneh, tapi kenapa semua orang sepertinya sangat tertarik dengan apapun yang mereka bertiga perbuat?

Pertanyaan dikepala Baekhyun tak sengaja terjawab oleh suara dua orang wanita yang masih sanggup ia dengar walau agak samar.

"Itu Park Chanyeol, kan? Dia pewaris tunggal Park, yang juga pemilik Mall ini! Apa yang dia lakukan bersama seorang Carrier dan balita? Apa itu anaknya?"

"Bukannya Chanyeol itu masih sangat muda, iya kan? Mana mungkin dia sudah punya anak. Entah siapa pemuda Carrier itu. Aku pikir dia seorang janda penggoda."

Tubuh Baekhyun seketika mengejang pasca wanita yang terakhir menutup kalimatnya. Keringat dingin pun lolos dari pori-porinya, dan tangannya jadi sedikit gemetaran. Baekhyun refleks saja memeluk Jiwon dengan sangat erat, merasa terhakimi oleh puluhan pasang mata yang sedang melihat mereka saat ini.

Begitu kereta berhenti, Chanyeol menoleh kebelakang. Kedua alisnya menyatu ketika menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh dari gelagat Baekhyun.

"Kau kenapa? Kenapa wajahmu tiba-tiba pucat sekali? Apa kau sakit?"

Chanyeol dengan naluri ingin menempelkan punggung tangannya pada kening Baekhyun, namun dengan sigap ibu satu anak itu mencoba menghindarinya.

Chanyeol semakin yakin bahwa ada yang salah dengan ini.

"Katakan padaku, Baekhyun."

Si pemuda Carrier mencoba untuk sedikit lebih tenang sebelum berucap sesuatu. "K-kau... Kau pewaris tunggal Park, benar? Dan tempat ini adalah milikmu. Kenapa kau membawa kami kesini?"

Baekhyun berusaha mengontrol nadanya yang tersendat-sendat akibat rasa perih diujung tenggorokannya; ia tersiksa karena berusaha menahan tangis.

Chanyeol membolakan matanya beberapa detik, tidak menyangka bahwa Baekhyun akan tahu soal ini. Hal ini memaksa Chanyeol untuk bicara jujur pada akhirnya.

"Ya, kau benar. Mall ini milikku. Tapi persetan. Apa kau merasa keberatan dengan itu?"

Chanyeol tak bermaksud bicara dengan intonasi yang begitu menekan. Namun itu adalah refleksnya karena terlalu takut kalau Baekhyun membenci kenyataan itu.

"Chanyeol, bagaimana bisa kau melakukan semua ini? Ini tempatmu. Semua orang-orang yang memiliki relasi serta tahu tentang dirimu berkumpul disini. Sedangkan aku? Aku hanya lacur yang akan dipandang sebagai janda yang tengah menggodamu..."

Baekhyun sendiri tidak sadar bahwa setitik kecil air matanya sudah menetes dengan lancang.

Chanyeol menggeleng, amarah sudah merangkak sampai ke ubun-ubunnya.

"Tidak seperti itu, Baek. Tolong jangan pernah kau dengarkan perkataan mereka."

"Tapi-..."

"Mommy cenapa menangich?"

Jiwon, dengan bibir mungilnya yang bergetar, menatap ibunya dengan wajah yang siap menangis. Ia seolah bisa merasakan kesedihan yang sama dengan sang ibu.

Baekhyun dengan cekatan segera menghapus jejak-jejak air matanya yang bodoh.

"Mommy tidak apa-apa, sayang. Mari kita pulang."

"Baekhyun! Kau mau kemana?" Chanyeol dengan sigap berlari mendahului dan menghadang jalannya Baekhyun.

"Maaf, Park Chanyeol. Kami harus segera pergi. Terimakasih banyak untuk hari ini. Sudah cukup, aku tidak ingin merepotkanmu lagi."

Setelah membungkuk sejenak, Baekhyun mencari celah untuk melanjutkan langkahnya namun Chanyeol berhasil menahannya kembali.

Kali ini dengan melingkupi tubuhnya didalam sebuah pelukan hangat.

"Jangan marah... Aku minta maaf."

Mata Baekhyun yang masih berlinang kini membola, tak percaya bahwa Chanyeol akan melakukan ini. Didepan semua orang.

Jiwon yang ada ditengah-tengah pelukan mereka tampak berhenti dari rengekannya karena sudah merasa aman.

"Chanyeol... Lepaskan. Semua orang melihat ke arah kita..."

Baekhyun bicara dengan takut-takut. Kecemasan akan adanya mata-mata yang menghakimi membuatnya merasa begitu terkucilkan. Tapi ia tak dapat memungkiri, disaat yang sama pelukan Chanyeol terasa seperti perisai yang ingin melindunginya.

"Aku akan melepaskannya jika kau berjanji untuk pergi dari sini bersamaku. Kita keluar dari neraka ini sama-sama. Jangan marah, Baekhyun. Aku tidak tahu jika kau merasa tak nyaman berada disini..."

Perkataan lembut Chanyeol membuat sisi ketakutan Baekhyun melunak, dan kehangatan itu membuatnya sedikit menjadi lebih tenang. Baekhyun sudah tak punya alasan untuk menolak lagi.

"Baiklah... Aku tidak marah padamu, Chanyeol."

Mengabaikan puluhan pasang mata yang melihat mereka, Chanyeol mengeratkan pelukannya dan tersenyum lebar. Ia berjanji tidak akan melakukan hal ceroboh lagi.

Ia hanya ingin membahagiakan sepasang ibu dan anak ini, sekaligus melindungi mereka disaat yang bersamaan.

Chanyeol sama sekali tak berpikir jika salah satu penangkap gambar disana berniat untuk mengirimkan potret-potret ini ke sebuah media surat kabar lokal keesokan harinya.

e)(o

Mereka memasuki salah toko yang khusus menjajakan berbagai jenis es krim. Tapi suasana didalam sudah seperti sebuah cafe bagi Baekhyun. Orang-orang duduk saling berhadapan, menikmati eskrim mereka sambil mengobrol dan tertawa senang. Tempat ini terasa jauh lebih 'ramah' dibanding pusat perbelanjaan tadi.

Chanyeol mengajak mereka ke sebuah sudut yang renggang dari pengunjung lain. Disana ada sebuah sofa panjang dengan meja didepannya.

"Ayo, kita duduk."

Chanyeol membiarkan Baekhyun masuk lebih dulu dan duduk didekat jendela, dan si pria kemudian menyusul untuk duduk tepat disampingnya.

"Jiwonnie, kau mau eskrim apa?"

Chanyeol membuka menu yang sudah ada diatas meja namun matanya hanya fokus pada si balita.

"Stobeyi... Mommy Jiwonnie suca stobeyi..."

"Kalian berdua suka stroberi?"

"U-um! Stobeyi!"

Baekhyun terkekeh melihat bayi dipangkuannya menepuk-nepuk pipi karena senang. Begitupula dengan Chanyeol.

"Aih... Lihat, anak kalian manis sekali..."

Seorang waitress sudah berdiri disamping meja mereka sambil memeluk nota yang ia pegang. Chanyeol dan Baekhyun kompak menoleh ke arah yang sama.

"Ya, uri Jiwonnie memang sangat manis." Chanyeol bergumam bangga, sedangkan Baekhyun hanya bisa tersenyum kikuk. Orang-orang mengira bahwa Chanyeol merupakan ayah dari anaknya.

"Kalian sepertinya pasangan muda. Sungguh membuat orang iri."

"S-sebenarnya--..."

"Ngomong-ngomong, kalian mau pesan apa?"

Baekhyun tak sempat menyangkal karena si waitress yang ramah terlanjur menodong mereka dengan pertanyaan soal pesanan.

"2 mangkuk eskrim storberi dan 1 eskrim pistachio. Oh, jangan lupa churros cinnamon sebagai pendampingnya."

Chanyeol menjawab tanpa ragu-ragu.

"Baiklah, pesanan kalian akan segera siap. Aku permisi dulu. Bye bye Jiwonnie..."

"Bye-bye..."

Balita itu melambai-lambai pada sang waitress yang berlalu pergi menuju counter pesanan.

"Chanyeol, mereka sudah salah menduga soal kita."

Baekhyun tiba-tiba membuka pembicaraan. Chanyeol menatapnya dengan senyum yang sulit untuk dijelaskan.

"Jangan salahkan mereka. Siapapun tentu akan berpikir demikian jika melihat kita. Mungkin kita hanya terlalu serasi."

Perkataan Chanyeol sukses membuat semu merah dipipi Baekhyun semakin terlihat jelas dan mencolok. Chanyeol tak dapat berhenti mengagumi kecantikan alami yang terpancar dari sosok carrier yang ada disampingnya.

"Pesanan datang."

Waitress itu kembali dengan 3 cup medium eskrim dan sepiring churros bertabur gula dan kayu manis.

"Selamat menikmati."

Setelah mengucapkan terima kasih dan waitress meninggalkan mereka, Chanyeol bersiap ingin menyuapi Jiwon dengan eskrim stroberinya.

"Aaaa..."

Chanyeol memberi aba-aba, dan si balita membuka mulutnya dengan senang hati.

"Hihihi..."

Dengan mulut penuh eskrim Jiwon bertepuk-tepuk tangan dan tertawa. Baekhyun tak dapat berhenti memandangi bayi dipangkuannya sambil tersenyum, sesekali jemari cantiknya membersihkan sisa-sisa eskrim dimulut Jiwon dengan tissue.

"Baekhyun, aku tidak pernah merasa sebahagia ini didalam hidupku."

Chanyeol tiba-tiba buka suara, membuat perhatian Baekhyun segera teralihkan. Ia memandang Chanyeol yang saat itu tak membalas tatapan matanya. Pria itu hanya terus memandangi Jiwon dengan tatapan yang lembut.

"Aku menemukan sesuatu yang tak dapat kutemukan ditempat lain saat bersama kalian. Disini aku merasa hangat dan diterima apa adanya. Aku seperti memiliki tanggung jawab untuk melindungi sesuatu yang paling berharga bagi diriku..."

Tatapan Chanyeol akhirnya beralih untuk mengunci telaga bening Baekhyun.

"Kau melihatku bukan karena uang, atau paras, atau bahkan statusku. Ini masih terlalu dini, aku tahu. Tapi kau benar-benar membuatku yakin bahwa kau adalah orang yang tepat, Byun Baekhyun..."

Untuk kesekian kalinya Chanyeol membuat Baekhyun tak dapat berkutik dan kehilangan kata-kata. Perubahan sikap Chanyeol dibanding kemarin sedikit membingungkan bagi Baekhyun. Apa yang terjadi? Baekhyun tidak ingin naif dan pura-pura bodoh, ia tahu bahwa Chanyeol mungkin benar-benar menyukainya.

Tapi kenapa...

Dan bagaimana bisa...

"Chanyeol, kau mungkin hanya kebingungan saat ini. Aku tahu kau masih muda. Terkadang laki-laki diusiamu sering terkecoh dan keliru dalam menafsirkan perasaan mereka sendiri. Jadi--..."

"Aku tidak bodoh, Byun Baekhyun."

Chanyeol dengan sigap memotong sebelum Baekhyun benar-benar menganggap bahwa ia sudah salah paham dengan perasaannya.

"Aku tahu ini terlalu cepat. Maka dari itu, tunda dulu pembicaraan kita sampai disini. Aku hanya ingin kau menerimaku disaat aku ingin bertemu denganmu dan Jiwon lagi. Aku harap kalian tidak keberatan, itu saja."

Satu tangan Baekhyun yang berada diatas meja entah bagaimana sudah berada dalam genggaman hangat Chanyeol sekarang. Ibu jari pria itu mengelus-elus lembut punggung tangan Baekhyun.

Selanjutnya, hanya sepasang mata mereka yang saling berbicara.

e)(o

Esoknya, Baekhyun menghentikan aktifitas mencuci pakaian pagi itu ketika bel dipintu depan flatnya ditekan dengan terburu-buru.

Dengan rasa penasaran yang masih melekat, Baekhyun membuka pintunya dan mendapati sosok pria berkulit Tan berdiri didepan.

"Baekhyun,"

"Jongin?"

Mereka menyahut satu sama lain, dan Baekhyun sedikit terkejut melihat kedatangan pria itu sepagi ini.

Sebuah koran terangkat dalam genggamannya. Wajahnya tampak tidak terlalu ramah.

"Baekhyun, kau dalam masalah besar."

e)(o

Jari jemari lentik itu saling meremat kuat diatas pahanya, reaksi alami tiap kali Baekhyun merasa takut dan cemas disaat yang bersamaan. Kai duduk dihadapannya, terlihat tenang namun ada ketajaman yang menusuk dibalik tatapannya itu.

"Baekhyun, aku tidak tahu apa yang kau dan Chanyeol lakukan kemarin. Tapi kecerobohan kalian tentu akan berakibat buruk, terutama bagimu."

"A-aku minta maaf... Aku sama sekali tidak tahu..." Baekhyun hampir menangis, membuat Jongin mengerang frustasi.

Ia tidak ingin melihat pemuda cantik itu meneteskan air matanya lagi.

"Chanyeol memang bodoh. Dia benar-benar butuh diberi pelajaran!"

Jongin menggertak dan Baekhyun seketika mendongakkan kepalanya sedikit panik.

"Tolong jangan salahkan dia... Ini semua salahku. Seharusnya aku tidak mengikuti perkataanya untuk pergi kemarin. Kumohon, kalian jangan bertengkar lagi..."

Disaat seperti ini, Jongin tidak percaya jika Baekhyun ternyata lebih memikirkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri.

Pemuda Carrier ini begitu rapuh... Tapi tidak ada satupun orang yang bisa melindunginya dari kekejaman dunia. Jongin akan membenci dirinya sendiri jika sampai ada hal buruk terjadi dan menyakiti Baekhyun setelah ini.

"Mungkin kita bisa mencari solusinya. Maksudku, aku bisa menyuruh mereka berhenti mencetak berita bodoh ini di koran-koran. Aku akan berusaha."

Baekhyun sedikit tidak mengerti, meskipun perkataan Jongin terdengar begitu jelas dan meyakinkan.

"Kau tidak perlu khawatir. Hanya saja, lebih berhati-hatilah mulai dari sekarang. Aku tidak ingin kalau kau yang terluka, Byun Baekhyun."

Jongin bangkit dari duduknya dan hendak pergi, namun dengan cepat Baekhyun menahan dengan kedua tangan yang menggenggam pergelangan kiri si pria yang lebih tinggi.

"A-aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan. Tapi Jongin, terimakasih... Terimakasih karena kau sudah mau menolongku."

Baekhyun tertunduk, ia menyesal karena harus merepotkan orang lain lagi didalam masalahnya. Ia tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan mereka.

Diluar ekspektasinya, Jongin justru tersenyum kecil. Tangan kanannya bergerak mengusap pucuk kepala Baekhyun.

Lagi-lagi, seorang anak kuliah melakukan itu padanya. Seolah Baekhyun adalah gadis SMA yang butuh dimanja dan cengeng.

"Tidak masalah. Asal kau tidak pernah menangis lagi, itu sudah cukup bagiku."

Baekhyun mengangkat kepalanya untuk menatap Jongin dengan matanya yang sendu. Kenapa ada begitu banyak orang baik yang tiba-tiba datang kedalam kehidupannya.

Pertama Sehun, lalu Chanyeol, kemudian Jongin... Mereka bertiga adalah sahabat. Dan ketiganya memperlakukan Baekhyun seperti dandelion yang takut pada angin.

"Terimakasih..."

Hanya itu yang mampu Baekhyun ucapkan untuk kesekian kalinya.

e)(o

"Kau sudah lihat gambar headline yang kukirimkan padamu tadi?"

Dengan satu earphone yang melekat di telinganya, Jongin berbicara pada Sehun melalui sambungan telepon. Kedua tangannya menggenggam setir dan mencoba fokus dalam mengemudi.

"Ya. Itu dari koran milik Ayahmu. Bagaimana ini bisa terjadi?"

"Seseorang sudah menjual foto-foto itu pada editor kami dan meminta untuk dibuatkan sebuah artikel. Untung saja pegawai dibagian jurnalistik menghubungiku terlebih dulu karena ini menyangkut soal Chanyeol. Mereka sempat mencetak beberapa namun aku menyuruh untuk menunda pengedarannya. Aku harus melakukan sesuatu agar berita ini tidak pernah tersebar sampai kapanpun. Apa mereka gila? Beraninya menyebut Baekhyun janda penggoda di sub judul artikel itu."

Jongin mengeratkan pegangannya pada setir, emosinya sedikit bermain saat ini.

Sehun menghela nafas diseberang sana.

"Aku tidak tahu bagaimana kau akan melakukannya. Ini bukan hal yang mudah sekalipun perusahaan surat kabar itu merupakan milik keluargamu. Setiap hari ada berita yang harus dimuat didalam sana. Semoga kau tidak diprotes besar-besar oleh karyawanmu sendiri."

"Aku akan memecahkan kepala mereka jika berani melawanku. Ini memang terdengar egois, tapi semua kulakukan hanya demi Baekhyun."

Sehun menghentikan gerakannya yang hendak membuka lemari es, terdiam untuk beberapa detik.

Jadi ini semua karena Baekhyun? Jongin...Dia memperlakukan Baekhyun sampai seposesif itu?

Sehun akhirnya benar-benar sadar bahwa persahabatan diantara mereka mungkin terancam karena perasaan yang mereka miliki terhadap Byun Baekhyun.

Sehun adalah orang pertama yang tahu jika mereka bertiga ternyata mengincar pemuda Carrier yang sama.

Akan ada persaingan diantara mereka.

Tapi Sehun tidak sekanak-kanakan itu. Dia bukan Chanyeol yang langsung datang menghajar temannya karena cemburu buta seperti kejadian kemarin.

"Baiklah. Semoga berhasil, kawan. Kabari aku jika kau butuh bantuan."

e)(o

Baekhyun bergegas memakai stocking hitam tipis menerawang malam itu karena waktu yang ia miliki sudah tidak banyak. Sekarang pukul 10, dan ia harus segera sampai di klub sekitar setengah 11. Ada Luhan dan Kyungsoo diruang TV yang sedang mengobrol dan menikmati camilan. Mereka bertugas menunggu Jiwon yang sudah tertidur dikamar sampai Baekhyun pulang nanti pukul 4 dini hari.

"Aku berangkat ya. Tolong jaga Jiwon untukku. Aku harus buru-buru."

Baekhyun memasang mantel coklatnya dengan gelagapan karena tergesa-gesa. Luhan dan Kyungsoo kompak berdiri untuk mengantar Baekhyun sampai kedepan pintu.

"Kau pakai kostum apa malam ini Baekhyunee?"

Tanya Kyungsoo karena ia tidak sempat melihat dan pakaian itu keburu tertutup oleh mantel.

"Hanya seragam kantor wanita biasa. Bosku menyuruh mengenakan itu malam ini."

Luhan dan Kyungsoo menatap Baekhyun dengan perasaan tak tega. Mereka sedih karena Baekhyun harus menjalani profesi seperti itu demi menghidupi buah hatinya. Namun disaat yang sama, mereka telah melihat Baekhyun melakukan ini beberapa tahun yang lalu dan seharusnya mereka sudah terbiasa. Tapi tetap saja ini berat, bahkan Baekhyun sendiri tidak menginginkan hal ini. Keadaanlah yang memaksa Baekhyun untuk melakukannya.

Seandainya mereka punya kemampuan lebih untuk membantu, Baekhyun tidak harus menjalani kehidupan seperti ini lagi. Harusnya setelah Baekhyun menikah 2 tahun lalu, kehidupannya akan berubah. Dia berhenti melacur dan hidup normal mengurus suami serta anaknya. Tapi takdir berkata lain. Woobin, suami Baekhyun itu meninggal akibat sakit kronis yang dideritanya.

Sejak saat itu Baekhyun memilih untuk kembali menjalani profesinya yang dulu agar bisa menyambung hidup bersama buah hatinya. Ia sudah tidak mau menerima bantuan dan merepotkan orang lain sekalipun itu dari Luhan maupun Kyungsoo.

"Aku akan pulang tepat waktu. Ada Japchae di kulkas, kalian bisa menghangatkannya nanti jika kalian lapar. Aku pergi dulu."

"Hati-hati, Baekhyunee..."

Begitu si pemuda Carrier menghilang diujung tangga, Luhan dan Kyungsoo kompak membuang nafas lesu sambil menutup pintu.

"Kenapa Tuhan sepertinya senang sekali mempermainkan kehidupan Baekhyun? Dia bahkan hanya sempat merasakan bahagia sebentar saja saat bersama Woobin. Setelahnya, Baekhyun harus kembali menjalani hari-hari yang kejam seperti masa mudanya dulu. Aku kasihan sekali padanya, Kyungsoo..."

Pemuda cantik bermata doe itu juga tak bisa berbuat banyak selain menatap lantai dengan pandangan menerawang. Baekhyun adalah sahabatnya sejak kecil. Ia juga tahu persis bagaimana dunia selalu memperlakukan Baekhyun dengan tidak adil selama hidupnya.

"Kuharap seseorang akan datang ke kehidupan Baekhyun dan menggantikan sosok Woobin. Orang yang akan mencintainya dan melindungi Baekhyun serta Jiwon, memberi mereka rumah dan kehidupan yang layak. Baekhyun pantas mendapatkan itu... Dia berhak untuk hidup bahagia..."

Kyungsoo tahu, Tuhan bisa saja mencatat doanya malam ini dan berbaik hati untuk mengabulkan semuanya, walau sekali ini saja...

e)(o

"Akhirnya kau sampai, Baekhyunee."

Seorang wanita dengan pakaian ala perawat datang mendekati Baekhyun yang baru saja membuka loker dan hendak meletakkan tas serta mantelnya didalam sana.

Tentu saja kau akan menemukan hampir seluruh wanita dan pemuda cantik disini memakai kostum yang berbeda-beda, sesuai dengan "profesi" yang mereka pilih malam itu. Ini adalah klub yang menjajakan servis seksual dan memenuhi kebutuhan fantasi dari masing-masing pelanggannya.

Gadis bernama Hani itu melanjutkan pembicaraannya, "Baekhyunee, kau disuruh bos untuk menemani rombongan di meja 3 itu minum. Katanya sementara sampai pelangganmu yang menelpon kemarin datang."

"Baiklah, aku akan segera kesana."

Baekhyun tersenyum singkat sambil menutup pintu lokernya. Hani masih belum beranjak pergi. Gadis manja itu malah sibuk mengayun-ayunkan tangan Baekhyun sejak tadi. Bibirnya mengerucut.

"Kau tahu kan Baek, yang membookingmu kemarin itu si Presdir Choi. Aku harap dia tidak macam-macam lagi padamu, Baekhyunee. Kenapa dia sangat terobsesi padamu? Aku jadi takut... Bos kita memang gila karena tidak memblokir dia dari daftar tamu."

Ada nada khawatir yang kentara dari ucapan Hani, dan Baekhyun tak bisa melakukan apapun selain tersenyum mencoba menenangkan wanita itu. Terlepas dari dirinya sendiri yang sedang dalam posisi tidak menguntungkan itu.

"Aku tidak apa-apa. Aku bisa menjaga diriku, Hani. Kurasa dia sudah tidak berani lagi menguntitku sampai ke apartemen. Semua akan baik-baik saja."

"Semoga begitu, Baekhyunee. Ya sudah, aku juga ada pelanggan sebentar lagi. Selamat bekerja uri Mommy. Bye-bye..."

"Bye, Hani..."

Begitu Hani telah menghilang dari pandangannya, Baekhyun menyandarkan tubuh pada loker dibelakangnya dengan lemas. Ia menghela nafas panjang, tentu saja perkataan Hani barusan sedikit membebaninya. Ia takut pelanggannya yang gila itu akan berbuat macam-macam lagi.

"Kuharap tidak ada hal buruk terjadi setelah ini. Tuhan, lindungilah aku dan anakku..."

Baekhyun memejamkan matanya dengan kepala menghadap ke langit-langit. Semoga Tuhan masih sudi mendengarkan doa dari seorang pelacur seperti dirinya.

e)(o

Baekhyun duduk diantara para pria berjas yang tertawa-tawa untuk hal yang Baekhyun tidak tahu dimana letak menghiburnya. Tapi ini pekerjaannya, Baekhyun harus ikut tersenyum dan tertawa bersama mereka. Seseorang yang tengah meneguk minumannya disebelah kanan Baekhyun diam-diam sibuk memperkerjakan tangannya untuk membelai dan meremat tiap lekukan ditubuh Baekhyun. Sementara pria disamping kirinya merangkul pundak sempit si pemuda cantik sambil sesekali melirik kearahnya dengan bernafsu.

"Kau kosong malam ini, cantik?"

Bisik pria itu tiba-tiba. Bau alkohol sedikit menguar dari nafasnya.

"Maaf, Tuan. Aku sudah punya pelanggan yang menungguku nanti pukul 1."

"Ck, sayang sekali. Kalau saja aku tahu ada penghibur secantik dirimu ditempat ini, sudah dari dulu aku akan mampir kesini untuk menemuimu."

Goda si lelaki dengan gelagat yang ingin menyesap leher Baekhyun dengan segera.

Baekhyun harus pasrah tiap kali ada pelanggan yang ingin menyentuhnya, dibagian manapun itu. Karena sudah menjadi aturan di klub untuk melayani mereka yang telah masuk dan membayar di tempat ini.

Tapi suara yang memanggil nama Baekhyun dari arah counter mengacaukan acara senang-senang lelaki hidung belang itu.

"Baekhyun! Kau harus siap-siap. Sebentar lagi pelangganmu datang."

Teriak Heechul, manager dari tempatnya bekerja ini.

"Permisi, Tuan-tuan. Aku harus segera undur diri."

Ada desahan kecewa dari mulut setiap pria yang ada disana. Namun sempat-sempatnya mereka meremat bokong Baekhyun yang terbalut rok hitam ketat ketika si pemuda cantik berjalan meninggalkan meja.

"Jangan takut, Baekhyunee. Aku sudah membuat perjanjiannya dengan Presdir Choi sebelum menyewamu kemarin. Dia tidak akan menguntitmu lagi diluar klub."

Seolah menjawab kegelisahan Baekhyun, Heechul meyakinkan sambil meletakkan tangan di bahu si pemuda Carrier.

"Terimakasih, Hee-nim. Kau memang yang terbaik."

Baekhyun senang bukan main, dan Heechul membalas dengan senyum serta kedua jempol yang mengacung kearah Baekhyun.

Baekhyun berjalan menuju toilet untuk mengecek make up-nya, kalau-kalau ada yang perlu ia poles ulang. Namun di lorong yang sepi itu, tiba-tiba Baekhyun merasakan seseorang menarik lengannya dari belakang hingga Baekhyun berbalik dengan tersentak.

Kepala Baekhyun hampir menabrak dada orang itu. Dia sangat tinggi dan tubuhnya berotot. Baekhyun mendongak untuk melihat sosok yang masih menggenggam (lebih tepatnya mencengkram) pergelangan tangannya saat ini.

"C-Chanyeol?"

Mata Baekhyun membola, tidak percaya melihat kehadiran Chanyeol yang begitu tiba-tiba ditempat ini.

Bagaimana bisa?

"Chanyeol apa yang kau lakukan ditempat seperti ini?"

"Seharusnya aku yang berkata seperti itu. Kenapa kau senang sekali menjajakan tubuhmu kemana-mana, huh?"

Hati Baekhyun sedikit tersayat mendengarnya. Lagi-lagi, sosok Park Chanyeol yang bermulut kejam itu telah kembali.

"Maafkan aku, Chanyeol-ssi. Tapi ini bukan urusanmu. Tolong lepaska--..."

"Ikut aku pulang."

"T-tapi--..."

"AKU BILANG IKUT AKU PULANG DAN JANGAN MEMBANTAH!"

Chanyeol membentak dengan final. Baekhyun sama sekali tidak mengerti, apa yang ada didalam pikiran laki-laki ini sebenarnya. Kenapa dia selalu marah-marah? Kenapa dia menatap Baekhyun dengan mata penuh kebencian itu?

Dan mengapa Chanyeol berbicara soal jatuh cinta padanya kemarin?

Chanyeol seperti memiliki dua kepribadian dimata Baekhyun. Kemarin dia bisa bersikap sangat lembut dan tersenyum ramah pada Baekhyun. Namun hari ini, sikap kasarnya itu telah kembali dan membuat Baekhyun takut.

"Ayo, Baekhyun."

Chanyeol menarik tangan ringkih itu untuk berjalan bersamanya tapi Baekhyun menolak lagi.

Chanyeol membatu merasakan tangan Baekhyun tiba-tiba lolos dari pegangan eratnya.

Pria itu berbalik, menatap Baekhyun dengan kilatan penuh amarah diwajahnya.

Tapi yang dilihat Chanyeol sekarang adalah sosok Baekhyun bersama air matanya yang entah sejak kapan sudah mengalir, pilu tergambar diparasnya yang amat cantik.

Pemandangan itu lagi-lagi memukul Chanyeol tepat didepan muka. Dadanya terasa nyeri.

Kembali, ia membuat Byun Baekhyun menangis.

"Kau tidak mengerti, Park Chanyeol..."

Baekhyun menatap lelaki depannya dengan wajah terluka. Saat Chanyeol berusaha mendekatinya, Baekhyun mengambil langkah mundur.

"Katakan apa yang tidak aku mengerti, Byun Baekhyun? Kau melacurkan dirimu setiap malam. Cepat katakan apa yang tidak aku mengerti tentang itu!!!"

Bruk!

Baekhyun terhimpit pada dinding dibelakangnya, dan Chanyeol mengukung tubuhnya bersama kedua tangan Baekhyun yang sudah terpenjara disamping kepala.

Nafas mereka beradu dengan alunan yang cepat dan tidak teratur.

Tangis Baekhyun semakin menjadi, namun sama sekali tak ada suara isakkan yang keluar dari bibirnya. Hanya air mata dan kebisuan. Hatinya benar-benar hancur. Serendah itukah dirinya dimata Chanyeol?

Baekhyun tahu dirinya memang seorang pelacur, menjajakan diri untuk disetubuhi demi lembaran-lembaran Won. Tapi tidakkah Chanyeol mengerti sedikit keadaannya? Mengerti sedikit bagaimana perasaannya... Sebagai seorang Carrier yang tidak pernah bersekolah, sebagai seorang ibu dari balita laki-laki yang sangat ia cintai...

"Menjadi seperti ini bukanlah keinginanku, Park Chanyeol... Aku tidak punya pilihan. Pemuda Carrier bodoh yang tidak bersekolah sepertiku tidak akan pernah memiliki pilihan. Masa kecilku amat berat. Aku tinggal di panti asuhan dan tidak punya keluarga. Dari kecil aku sudah berusaha untuk menghidupi diriku sendiri. Dan Jiwon... Aku tidak ingin anakku mengalami hal yang sama seperti yang aku alami dulu. Dia sudah tidak punya ayah bahkan sejak ia masih sangat kecil. Aku ingin mengumpulkan banyak uang agar anakku bisa bersekolah, bisa menikmati hidup yang layak dan punya masa depan yang baik. Tidak seperti ibunya..."

Bibir Baekhyun bergetar hebat, begitu pula dengan tangannya yang masih berada dalam cengkeraman Chanyeol. Kepedihan itu tampak begitu nyata. Chanyeol merasa terbunuh setalah mendengar semua ini dari mulut kecil Byun Baekhyun.

Kenapa Byun Baekhyun harus menjalani semua kesulitan itu sendirian?

Chanyeol tidak tahu bahwa rasanya akan semenyakitkan ini. Ia tidak tahu bahwa pria dominan sepertinya akan merasa begitu lemah jika berhadapan dengan sosok bernama Byun Baekhyun. Chanyeol tidak tahu bagaimana air matanya sendiri bisa mengalir untuk rasa sakit yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya...

"Berhenti, Byun Baekhyun... Kenapa rasanya semenyakitkan ini... Kenapa mencintaimu terasa begitu menyakitkan..."

Chanyeol tidak bisa mengatakan maaf.

Ia benci melihat Byun Baekhyun yang keras kepala. Ia benci karena Byun Baekhyun tak pernah mau membagi kesusahannya dengan orang lain. Ia benci karena Byun Baekhyun tidak pernah mau mendengarkan kata-katanya.

Dan ia benci karena Byun Baekhyun tidak pernah bisa percaya pada perasaan yang ia miliki..

"Berhentilah dari pekerjaan bodoh ini, Byun Baekhyun. Aku akan melakukan apapun untukmu. Apapun... Asal kau berhenti menyiksaku karena harus melihatmu menderita dan disetubuhi oleh orang lain seperti ini..."

"Tidak ada yang bisa dilakukan, Park Chanyeol. Kita bukanlah siapa-siapa. Tidak ada sesuatu diantara kita yang mengharuskanmu untuk bertanggung jawab atas hidupku dan juga anakku. Dan kau Park Chanyeol... Kau pewaris tunggal Park. Ada baiknya kau menjauh dariku mulai sekarang. Ini semua demi kebaikanmu. Orang sepertiku tidak akan pernah pantas berada didekatmu. Dunia kita jauh berbeda, Park Chanyeol... Jangan mengotori tanganmu untuk membantu orang seperti diriku..."

Chanyeol tidak percaya ini.

Apa yang Baekhyun katakan? Kotor?

Demi Tuhan.

Chanyeol merasakan sel-sel aliran darahnya mulai memanas. Rahang tegasnya mengeras, serta otot-otot tubuhnya mengalami kontraksi akibat jutaan emosi yang tertahan.

Baekhyun telah benar-benar meragukan perasaan cinta yang Chanyeol miliki...

"Apa kau bilang? Kotor? Kau bilang bahwa membantumu akan membuatku menjadi kotor? Kalau begitu baiklah, Byun Baekhyun. Kita benar-benar lakukan semuanya dengan cara yang kotor. Kau ingin uang, kan? Bagaimana jika kau menerima uang dariku, dan sebagai gantinya..."

Chanyeol menelan ludah kasar hingga jakunnya bergerak intens. Tatapan tajamnya seperti ingin menyayat Byun Baekhyun hingga menjadi irisan-irisan kecil.

Pemuda Carrier itu menatapnya balik dengan ketakutan yang amat nyata. Nafasnya terengah-engah karena Park Chanyeol mencuri seluruh udara yang ingin Baekhyun hirup dijarak sedekat ini.

Hidung mereka bersentuhan satu sama lain.

"...Berikan tubuhmu untukku, seperti seorang jalang yang penurut dan digilai oleh para lelaki."

e)(o

To be continued

A/N: Sorry updatenya tengah malam. Drama baru akan dimulai, sis. Terimakasih atas respon menakjubkan dari kalian semua yang menyukai Fanfic ini :) Jujur ini bener-bener diluar ekspektasiku. Saranghae my uwu reader

Fav, Follow, dan Review akan sangat-sangat aku tunggu ya, sayangku. Support dari kalian yang bikin aku semangat untuk nulis :)