A Taste of Your Love

Chapter 3

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Drama

Rated : T

Warning :

AU!, Typo(s), gaje

.

Present~

.

.

Gila. Anak itu sudah gila.

Ino mengumpat sejak tadi, memperkirakan sampai kapan dirinya dibuat tidak karuan seperti ini. Sepertinya Kiba suka sekali melihatnya kesulitan bernapas.

"Sudah ku bilang jangan macam-macam, aku tidak mau repot kalau ibumu memergoki kita." Ino menjauhkan diri.

Kiba yang sedari tadi mengusak-usakkan kepalanya di leher Ino hanya bisa merengek saat ia tak bisa merasakan apa-apa lagi.

"Kenapa sih? Memangnya ada yang salah?"

Tidak, memang tidak ada yang salah. Ino dan Kiba hanya menjalani hubungan asmara seperti anak muda kebanyakan.

"Ibumu tidak menelepon?" Ino mengalihkan pembicaraan.

"Tidak, tapi aku sudah berjanji akan menjaga toko nanti sore."

Ino mengangguk maklum.

"Kalau aku sudah pulang, aku akan menghubungimu."

"Tidak usah, mungkin aku sudah tidur."

Kiba merengut. Ia dengan sengaja menjauh dari Ino yang sama-sama sedang duduk di halte dengannya. Iya, mereka baru pergi ke suatu tempat lagi. Ah, masa-masa awal pacaran memang indah.

Ino berdecih. "Kenapa harus menjauh segala?"

Kiba gantian berdecih. "Kurasa kau tidak menyukaiku, makanya kau selalu saja ketus ketika aku pegang. Kenapa begitu dengan pacarmu sendiri?"

Astaga, sesaat Ino lupa kalau dia sedang bersama seorang bayi besar.

"Iya iya, baiklah. Aku minta maaf, sini mendekat lagi."

Kiba masih bergeming sambil menyilangkan lengannya.

"Ku hitung sampai tiga, kalau tidak ke sini aku berubah pikiran. 1.. 2.."

Kiba perlahan beringsut mendekat, semakin dekat dan berakhir mendekatkan wajahnya ke wajah Ino. Namun, Ino kembali menjauhkan wajah itu dengan jarinya.

"Banyak orang di sini."

Kiba langsung berbisik di telinga Ino. "Kenapa tidak bilang kalau kau lebih suka tempat yang sepi?"

Satu tamparan Kiba dapatkan di pipi kanannya.

.

.

.

Ino sedang menata bukunya agar kembali masuk ke dalam tas selempang miliknya. Kelas baru saja berakhir, dan Ino berniat langsung pulang saja karena sudah sore. Namun, sepertinya Tenten tidak memiliki pemikiran yang sama dengannya. Teman yang unik, menurut Ino.

"Kita nonton, yuk. Ku dengar ada film baru yang sedang populer, anak-anak di kelas sudah menonton semua."

"Benarkah? Boleh, aku juga sedang tidak ada kerjaan."

Tenten tersenyum sumringah.

Mereka berdua berjalan bersama keluar kelas, bahkan rencananya memang akan berjalan sampai ke bioskop. Dekat kok. Sesekali mereka membicarakan tempat makan mana yang belum pernah mereka kunjungi selama satu tahun bersekolah di sini.

"Ino,"

Ino yang saat itu sedang asyik-asyiknya tertawa langsung menoleh, mencari sumber suara yang memanggil namanya. Kiba? Ah, sedang menjaga toko?

Ino sampai tidak sadar jika ia melewati toko kelontong milik keluarga Kiba.

"Mau kemana?"

Kiba bertanya lagi, sementara Ino hanya tersenyum kikuk. Pasalnya ada ibu Kiba yang kini tengah memperhatikan mereka berdua. Kalau Ino menjawab, berarti ia mengakui sudah mengenal Kiba, dan Ino sangat yakin itu bukan pilihan yang bagus saat ini.

"Se-selamat sore," Menyapa ibu Kiba adalah pilihan terbaik dibenak Ino.

Ibu Kiba ikut mengangguk canggung, melihat keadaan yang seperti itu membuat Kiba dengan senang hati memperkenalkan Ino pada ibunya. Si tetangga depan rumah.

"Ah, yang tinggal di depan rumah? Oh, selamat sore. Mau kemana?" Ibunya tersenyum ramah sekali.

Oh, Ino belum bercerita ya? Memang, ibu Kiba ini suka sekali beramah-tamah apabila dengan orang asing. Berbanding terbalik dengan kesehariannya di rumah sendiri. Andai ibu itu sadar siapa dirinya dimata anaknya, mungkin ia tak akan sudi beramah-tamah dengan Ino.

Tenten yang merasa diabaikan hanya ikut menyimak perbincangan singkat itu sambil sesekali berbalas pesan dengan teman-temannya.

"Ah, saya mau jalan-jalan dengan teman. Kalau begitu, saya permisi dulu." Ino menunduk sopan pada si ibu yang sedang menakar beras itu.

Ino juga tak lupa menatap penuh rasa bersalah pada Kiba yang ia abaikan, tapi sejujurnya Kiba tak mempermasalahkan hal itu sama sekali. Justru ada hal lain yang ditakutkan Kiba saat ini.

"Kenal dengan perempuan itu?" Ibunya bertanya masih sambil melayani pembeli.

"Ya, be-beberapa kali lihat di halte. Aku pernah menyapa." Kiba mengusap tengkuknya.

"Dia anak kuliahan, panggil yang sopan. Kak Ino, begitu."

Kiba diam-diam tersenyum, ternyata ibunya tidak menyadari apapun.

.

.

.

Sementara itu di tempat lain…

"Itu tadi ibunya?" Tenten berusaha menyamankan diri di kuris penonton.

"Iya,"

"Sepertinya dia ramah."

"Ku rasa juga begitu, tapi entahlah kalau tiba-tiba tahu aku memacari anaknya yang masih dibawah umur." Seketika keduanya tertawa.

"Ya, kurasa tidak ada salahnya pacaran dengan anak sma. Lagipula kita baru semester tiga. Dia kelas berapa? Tiga? Kalau begitu hanya selisih dua tahun, masih wajarlah."

Ino tersenyum kikuk. "Sebenarnya selisih tiga tahun. Dia kelas dua sekarang."

Tenten ber 'hah' ria, hampir saja tersedak popcorn.

"Husst, jangan keras-keras. Nanti semua orang melihat kita."

Tenten berusaha mengembalikan kewarasannya. "Jadi maksudmu, dia belum hampir lulus? Astaga."

Ino mengendikkan bahu. "Memang apa bedanya dua atau tiga tahun? Toh tidak terlalu jauh dari umurku."

"Bukan itu yang ku maksud, Ino. Dia bahkan belum kelas tiga, artinya masih lama agar bisa sama-sama jadi anak kuliahan."

"Kenapa memangnya?" Ino kini berbisik setelah mendapat pelototan tajam dari penonton lain.

"Dia tidak akan cepat-cepat menikahimu, itu intinya." Tenten tertawa ketika Ino menjejalkan popcorn ke mulutnya.

"Dasar, kukira kau bisa satu kali saja bicara serius." Ino lanjut menonton film yang sempat ia anggurkan beberapa menit demi pembicaraan tak bermutu milik Tenten.

"Lagipula siapa yang mau menikah sekarang?" Ino mengendikkan bahu atas pertanyaannya sendiri.

.

.

.

Malam yang dingin, disertai rasa kantuk yang menjalar. Ino baru saja akan terpejam setelah berlembar-lembar tugas ia rampungkan, namun niatnya itu gagal ketika ada sebuah voice note berdurasi 1 menit masuk ke aplikasi pesan miliknya.

*) When there's other people around

You never wanna kiss me

You tell me it's too late to hang out

And you say you miss me

And I love you from the start

So, it breaks my heart

When you say I'm just a friend to you

Cause friends don't do the things we do

Everybody knows you love me too

Dasar anak gila. Ino jadi terkikik sendiri ketika mendengarnya. Ia berhenti mendengarkan suara dari ponsel ketika ada suara asli yang lamat-lamat ia dengar dari luar jendela. Benar, kamar mereka sama-sama ada di lantai dua.

Ino membuka jendelanya. Ada Kiba yang tengah duduk di kursi. Pemuda itu kemudian memunculkan sebuah papan tulis mini yang bertuliskan:

'Selamat malam, cantik.'

Ada alasan kenapa Kiba bertindak seperti ini. Ia tak mungkin menelepon Ino karena akan menimbulkan kecurigaan ibunya yang galak itu. Jadi, alternatif komunikasi mereka adalah bicara lewat tulisan. Ya, itupun karena Kiba memaksa selalu ingin melihat wajah Ino tiap hari, padahal kalau anak itu tidak banyak merengek, cukup berkirim pesan saja sudah beres.

Ino mengambil papan tulisnya juga.

'Selamat malam, anak nakal.'

Kiba membelalak membaca tulisan Ino.

'Kenapa kau memanggilku anak nakal?'

'Kenapa anak sekolah sepertimu belum tidur, padahal sudah larut?' Ino mengendikkan bahu setelahnya, kemudian mulai menulis lagi.

'Aku baru tahu kau bisa main gitar.'

'Kenapa? Kau ingin aku memainkannya?'

'Ya, tapi tidak di sini.'

'Di mana?'

'Aku ingin ke pantai lagi, kalau bisa malam.'

'Orang tua sepertimu memang menyenangkan kalau diajak memikirkan yang macam-macam.'

Ino melotot tajam. 'Bicara yang benar, kau masih dibawah umur.'

Kiba hampir kelepasan tertawa di seberang sana. 'Aku tidak bicara, aku hanya menulis.'

"Ehmm!"

Sebuah deheman keras dari arah rumah tetangga menghancurkan obrolan malam Ino dan Kiba. Mereka berdua langsung lari masuk ke dalam kamar masing-masing, bahkan tak lupa menutup rapat tirai jendela.

Ino yang paling kaget di sini, ia tidak tahu kalau sedari tadi ada yang memperhatikan mereka.

Dering telepon berbunyi, membuat jantung Ino hampir keluar dari tempatnya.

"Ino, bagaimana ini?" Kiba berbisik di seberang telepon.

"Apa? Kenapa?" Ino tak kalah berbisik.

"Orang itu…"

TBC

.

A/N : *) Penggalan lagu milik Meghan Trainor – Just A Friend to You. Saya ngefans banget sama beliau. Suaranya adem banget didengernya, gak ngerti lagi. :(

Baru tiga chapter, ide saya tiba-tiba mentok. Aduh. Semoga cerita ini masih layak dibaca. Jangan kuciwa karena ceritanya mulai ngawur, kuciwa saja karena saya yang nulis ngelantur. :(

Selamat membaca ya, kawan-kawanku. Terima kasih sudah mampir, terima kasih juga sudah menyempatkan diri mereview.

.

.

Lin Xiao Li : Aku juga ndak suka berondong, eh tapi kalau dideketin duluan ya gas aja. :( /ditampol/ semoga rasa penasaranmu terbayar ya nantinya, aku bakal berusaha keras membuat cerita yang baik dan benar. ehe.

xoxo : Yang manis yang nulis dong, ehe. :( /biarin biar seneng/ btw, iya aku emang tukang typo. Ketauan deh nama asli Kiba di orificnya. u,u

Jeanne : Aku juga suka suka sukaaaa banget udah direview, hatiku meleleh karenanya. :')

Oda : Aku juga suka kok sama doi, tapi sayang ga dinotis. :(

.

.

I'll be back soon~

Hang in there, guys.