Naruto x High school DXD x Anime X Over

Genre: Romance, Drama, Slice of Life, Friendship, Harem, School life, Hurt/Comfort

Warning: Naruto pakai kacamata, terdapat karakter dari berbagai anime.

Fic Gaje, bikin mual dan sakit mata, gak suka jangan baca

Maaf kalau ada kemiripan dengan fic lainnya.

ORE NO MONOGATARI

OPENING: Long Shot Party ~ Distance (Thank You My Friend)

Chapter 3:

Hari ini, matahari terbit dari timur seperti biasanya di pagi hari.

"Uun ..."

Dibarengi dengan lenguhan pelan itu, aku membuka mataku secara perlahan. Pandangan mataku agak kabur saat itu, membuatku mengerjapkannya beberapa kali untuk membiasakan lensa mataku. Dan saat itulah, aku melihat langit-langit kamarku yang berwarna putih.

Aku kemudian menolehkan pandanganku sedikit kearah samping dimana aku bisa melihat bahwa jam saat ini masih menunjukkan pukul setengah enam bisa mendengar dari suara kicauan burung-burung di pagi hari. Ini adalah hal yang cukup jarang didengar oleh orang-orang yang tinggal di kota. Namun, itu tidak penting bagiku.

Aku kemudian mendudukkan diri di ranjang dan menghela nafas pendek sebelum kemudian aku memutuskan untuk membuka korden yang menutupi jendela kamarku dengan lembut. Disaat itu, cahaya matahari mulai masuk kedalam ruangan.

Dan untuk mengganti hawa didalam ruangan, aku pun membuka jendela.

Hawa dingin dipagi hari masuk kedalam sel-sel kulitku saat aku membuka jendela.

aku merasakan paru-paruku mulai mengembang saat menghirup nafas sebelum kemudian aku melepaskannya.

Ketika hangatnya cahaya matahari pagi menerpaku, ketika dinginnya udara pagi meniupku. Disaat itulah aku memulai kegiatan sehari-hariku.

Aku merapikan tempat tidur, mandi, menyiapkan sarapan, dan kemudian berangkat kesekolah. Karena aku tinggal sendirian dirumah ini, aku melakukan kegiatan rumah tangga itu seorang diri. Memang pada alawalnya aku sedikit kesulitan, namun lama kelamaan aku mulai terbiasa. Sekarang pun aku yakin kalau kemampuanku tidak kalah hebat dari seorang ibu rumah tangga.

Di tengah perjalanan, aku bisa melihat banyak orang yang berlalu-lalang di sekitarku. Namun diantara mereka semua, nampaknya rambut pirang dan juga tanda lahirku ini terlihat cukup mencolok. Namun untungnya tidak banyak dari mereka yang memperdulikan itu.

Setelah melalui perjalanan yang yang memakan waktu itu, kini akhirnya aku sudah berada didekat area sekolah. Dari jalanan tempatku beridiri saat ini aku bisa melihat sekolahku yang hanya tinggal berjalan sekitar 600 meter. Namun untuk sesaat aku menghentikan langkahku untuk mengecek sesuatu.

"Umm ... sebaiknya tidak ada buku yang tertinggal"

Namun sebelum aku sempat membuka tasku, seseorang menubrukku dari belakang

BRUK!

Aku pun langsung menoleh kearah belakangku. Namun disana, aku hanya melihat surai putih seorang yang tertunduk. Jika kulihat baik-baik, aku cukup mengenali postur tubuh gadis itu.

"Tomori!?"

Gumamku pelan saat aanak itu perlahan menaikkan pandangannya kearahku.

Namun-

"..."

"!?"

Bulu kudukku langsung berdiri saat dia memperlihatkan tatapan yang dingin dan menusuk seperti es padaku. Disaat situasi ini, aku merasaka kalau aku pasti akan diterkam begitu aku bergerak. Meski begitu, aku tetap memberanikan diri bertanya

Namun, ketika aku hendak memutar badanku menghadap kearahnya-

"Ada ap-"

BUAAKKK!

Dengan kecepatan yang luar biasa dia menyarangkan satu pukulan telak diwajahku sampai aku terjatuh.

Pukulannya keras, kuat, dan juga cepat seperti ahli beladiri saja. namun dalam pukulan itu, aku merasakan sesuatu yang lain.

Sedih, marah, dan juga kebencian, aku bisa merasakan semua itu didalam pukulannya.

Entah apa alasannya, namun untungnya tidak ada siapapun di jalan itu kecuali kami berdua sehingga tidak menarik perhatian banyak orang. Seakan tanpa dosa sedikitpun, dia berniat pergi meninggalkanku begitu saja.

Disaat itulah emosiku sedikit terpancing.

TAP!

Dan tanpa aku sadari, aku sudah bangkit dari keterpurukkan. Dan berteriak

"HOY, TUNGGU SEBENTAR!"

Tepat disaat itu, Tomori langsung menghentikan langkahnya dan menoleh kearahku. Memandangiku dengan tatapan yang tajam dan juga dingin.

"APA-APAAN ITU, KENAPA KAU TIBA-TIBA MEMUKULKU?"

"Memangnya kenapa?"

"TENTU SAJA SAKIT, BODOH!"

"Oh begitu, lalu apa ada hubungannya denganku?"

"TENTU SAJA ADA, BODOH! ... KENAPA KAU TIBA-TIBA MEMUKULKU, MEMANGNYA AKU INI PERNAH SALAH APA PADAMU?"

"Itu ..."

Disaat itu, Tomori tiba-tiba saja mengepalkan tangannya, dan kemudian memalingkan pandangannya dari Naruto sebelum kemudian melanjutkan ucapannya.

"... Itu, tidak ada hubungannya denganmu!"

"APA KATAMU!?"

Setelah itu, Tomori terdiam beberapa detik sebelum kemudian dia melangkah pergi meninggalkan aku dan bertingkah seolah tidak ada yang terjadi.

"O-OI, TUNGGU!"

Teriakku, namun itu percuma.

Karena Tomori malah tidak memperdulikannya sama sekali. Dilain sisi, aku masih kesal dibuatnya berniat untuk mengejar Tomori membalas. Namun setelah kupikir-pikir lagi, aku tidak mau membesar-besarkan masalah ini, jadi mungkin akan lebih baik untuk diam saja.

Aku hanya menatap datar punggung gadis bersurai putih itu sebentar.

"Sebenarnya, ... ada apa dengan gadis itu?" gumamku pelan.

Setelah terdiam beberapa saat, aku pun melanjutkan perjalananku menuju kesekolah. Namun sebelum masuk kekelas, mungkin ada baiknya jika aku pergi ke UKS dulu untuk mengobati lukaku ini.

NARUTO POV END

NORMAL POV

Lima menit lagi, bel masuk sekolah akan segera berbunyi, semua siswa dan siswi yang masih ada diluar kelas segera kembali kekelas mereka masing-masing. Namun meski begitu, Irina nampak santai-santai saja berjalan di lorong menuju kekelasnya.

GREK!

Dan tepat setelah ia membuka pintu masuk kelasnya, Irina kemudian mengucap salam dengan nada ceria.

"Ohayou!"

Beberapa ada yang menjawab, ada juga yang sibuk dengan dunianya sendiri. Setelah itu, ia kemudian berjalan menuju mejanya, dan melatakkan tasnya diatas meja sebelum kemudian mendudukkan dirinya dikursinya.

Selang beberapa detik kemudian, datanglah seorang teman dekatnya. Seorang gadis berambut pirang dengan iris mata berwarna biru yang indah. Poni yang yang panjang hampir menutupi separuh pandangannya. Gadis tersebut bernama Lefay Pendragon.

"Ohayou, Irina!"

"Ohayou, LeFay-chan!"

"Bagaimana kabarmu?"

"Um, aku sehat-sehat saja, kok!"

"Heeh, begitu toh, ..., aku harap kau tidak melupakan sesuatu, Irina"

"Tentu tidak, hari ini sebelum aku berangkat sekolah, aku sudah mengecek tentang pelajaran apa yang harus aku bawa hari ini, beberapa alat tulis dan juga kotak makan siangku"

"Hee, sokka ..., tapi yang aku tanyakan bukan soal itu, loh"

"Heh?"

Irina bergumam dengan suara pelan bersamaan dengan kedua alisnya yang sedikit terangkat ketika mendengar ucapan LeFay tersebut.

"... Kalau bukan soal itu, lalu apa yang kau tanyakan?"

"Haah, jadi kau itu benar-benar lupa tentang hal itu ya" Ucap LeFay sambil memijit alisnya.

Ia kemudian menjelaskan apa maksud ucapannya sambil menyilangkan kedua tangannya.

"Dua minggu yang lalu, kau ingat setelah pulang sekolah, kau mampir sebentar kerumahku, kan!?"

Irina hanya menganggukkan kepalanya.

"Saat itu, kau meminjam novel 'Zawsze in Love' volume terbaru yang baru saja di rilis. Dan bisa-bisanya kau melakukan hal itu tepat saat aku baru membaca separuh novel. Dan kau sudah berjanji untuk mengembalikannya dalam waktu satu minggu. Namun, hingga dua minggu berlalu, aku masih belum mendengar kabar apapun, jadi sekarang aku datang untuk menagih hutang"

"Uh...!"

Irina tersentak kaget ketika dia mengetahui bahwa dirinya ternyata masih punya hutang untuk mengembalikan novel yang sudah ia pinjam dari LeFay.

"Ehehehe, maaf, aku lupa soal itu" Irina tertawa hambar sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Jadi, apa kau membawanya sekarang?"

Saat mendengar pertanyaan itu, Irina dengan ragu-ragu menjawab.

"Ti-tidak, ... tapi aku janji, lain kali pasti akan aku kembalikan padamu"

"Haah"

LeFay menghela nafas panjang sambil memijit alisnya.

"Kau ini ..., aku tahu kalau kau ini cantik, tapi setidaknya obati dulu masalah pikunmu itu, kau ini ketua kelas ini ,tahu!"

"Ehehehe"

Irina malah cengengesan tidak jelas.

Selang beberapa detik kemudian, Irina mulai menyadari ada sesuatu yang kurang. Ia kemudian mencoba mengedarkan pandangannya keseluruh kelas. Dan benar saja, ia menemukan satu bangku siswa yang masih kosong di pojok kelas. Itu adalah tempat duduk seorang pemuda berambut pirang bernama Uzumaki Naruto.

"Nee, LeFay-chan!"

"Apa?"

"Apa kau tahu dimana Naruto?"

"Hmm...?"

LeFay kemudian mengangkat kedua alisnya saat itu dan melihat kearah bangku Naruto yang masih kosong.

"Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu"

"Hee ... begitu ya"

"Hum, biasanya sih, jam segini dua sudah datang. Tapi, sejak tadi pagi, aku belum melihatnya sama sekali!"

"..."

Sedetik kemudian, bel masuk pun berbunyi membuat para siswa segera kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.

Saat itu, Irina sedikit melirikkan pandangannya kearah bangku Naruto yang masih kosong. Ia masih ingat waktu yang dia gunakan untuk pulang bersama Naruto beberapa hari yang lalu. Entah mengapa bayangan kejadian itu masih melekat dengan erat di dalam otaknya. Padahal itu hanyalah hal yang biasa saja. Namanun entah mengapa dia berpikir kalau itu adalah suatu kejadian yang cukup berarti bagi dirinya.

Disaat ia memikirkan semua hal itu, pintu masuk kelas yang tadinya sudah ia tutup dibuka lagi oleh seseorang dari luar.

GREK!

Seorang pria paruh baya berambut putih. Namanya adalah Hatake Kakashi, dia adalah seorang guru yang mengajar tiga mapel sekaligus. Yaitu Bahasa Jepang, Matematika, dan juga Sejarah.

Guru serba bisa yang selalu memakai masker dimanapun ia berada. Dan ciri khasnya yang lain adalah poninya yang selalu menutupi mata kirinya. Entah apa yang dia sembunyikan di balik masker dan juga mata kirinya itu. satu lagi yang unik dari guru ini adalah, dia selalu telat lima belas menit setelah jam pelajaran dimulai.

Karena itulah, melihat Kakashi-sensei yang kali ini datang tepat waktu cukup membuat para murid terkejut.

"Berdiri!"

Kebetulan karena Irina adalah ketua kelas ini, ia memberikan instruksi pada teman-temannya untuk berdiri dan kemudian memberi hormat sebelum kemudian duduk.

"Ohayou, sensei!"

"Ohayou minna-san ..., ettoo, sebelum pelajaran di mulai, saya akan mengamsen kalin dulu"

Tepat saat Kakashi-sensei membuka buku absen kelas, pintu masuk kelas dibuka oleh seseorang dari luar.

GREK!

"Ohayou!" ucap orang itu dengan nada datar

Namun sedetik sebelum dia melangkah masuk, ia menaikkan kedua alisnya tepat ketika dia menatap Kakashi-sensei. Sepertinya dia terkejut melihat guru tukang telat itu sudah berada di kelas.

"Are? Kakashi-sensei? Kenapa aku ada disini?"

"Saat ini adalah jam pelajaranku, jadi sudah sewajarnya aku berada disini!"

"Heeh ,... aku terkejut karena kau bisa datang tepat waktu, ini sebuah rekor untuk Kkashi-sensei yang sellau terlambat"

"Bicara apa kau, ... dan lagi, kenapa kau baru datang sekarang, lalu apa yang terjadi dengan wajahmu itu, Naruto?" tanya Kakashi-sensei bertubi-tubi ketika melihat pipi kanan Naruto yang di plester.

"Se-sebenarnya, saat aku sedang berlari menuju kesekolah, aku tersadung batu dan wajahku menghantam tanah dengan sangat keras hingga akhirnya seperti ini!"

Kakashi-sensei sedikit menaikkan alisnya setelah mendengar hal tersebut. Alisnya hanya terangkat beberapa mili bahkan hampir tidak bisa di bedakan dengan ekspresi datar yang selalu ia tunjukkan.

Ia kemudian menolehkan pandangannya kearah Tomori. Gadis bersurai putih itu nampak memandang langit biru dari balik jendela kelas itu.

"Hft, begitu ya, aku mengerti"

"Ha?"

Naruto menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti dengan maksud gumaman dari Kakashi-sensei barusan. Ia pikir mungkin saja Kakashi-sensei mau memaafkannya. Namun-

"... tapi meski begitu, kau tetap harus mendapat hukuman karena telat di jam pelajaranku, Naruto!"

"Apa!?"

Naruto mengeluarkan teriakan tidak percaya ketika mendengar hal tersebut. Disaat yang bersamaan, hampir seisi kelas tertawa saat melihat reaksi Naruto tersebut, termasuk Irina.

"Tu-tunggu dulu, sensei! Kukira kau memaafkanku"

"Aku tidak ingat kalau aku bilang seperti itu padamu! ... sekarang, berdiri diluar kelas sampai jam pelajaranku selesai!" Titah Kakashi-sensei.

"Tidak adil, padahal kau sendiri juga sering terlambat" Ucap Naruto dengan nada jengkel.

"Jangan protes, atau kau mau kuberi hukuman membersihkan seluruh toilet disekolah ini?"

Kakashi-sensei memberikan ancanam dengan nada yang berbahaya membuat Naruto bergidik negeri. Melihat tatapan tajam dari sang guru, Naruto hanya bisa menggelengkan kepalanya dan berkata.

"Ti-tidak, berdiri didepan kelas ... masih lebih baik"

Dan pada akhirnya, Naruto menjadi bahwan tertawaan seisi kelasnya akibat kejadian itu dan harus menerima hukuman dari Kakashi-sensei untuk berdiri di luar kelas hingga jam pelajaan Kakashi-sensei usai.

SKIP TIME

Saat ini jam telah menunjukan bahwa sekarang adalah waktunya jam istirahat. Jelas semua murid pergi keluar untuk istirahat, beberapa ada yang pergi kekantin untuk membeli makanan, yang lainnya tetap dikelas dan makan bento mereka bersama-sama.

Hari ini Naruto lupa tidak membuat bekal makan siangnya sendiri, dan melihat uang saku yang dia dapatkan dari hasil kerjanya, ia pun memutuskan untuk menggunakan uanga itu untuk membeli makanan di kantin. Dan seperti yang diduga. Kantin menjadi sangat ramai, ketika jam istirahat.

"Uh ..."

Naruto bergumam ketika melihat banyaknya murid yang mengantri sambil merasakan perutnya yang mulai bergemuruh.

"Kalau seperti ini ... aku tidak yakin bisa makan sebelum jam istirahat selesai"

Tepat saat itu, perutnya kembali bergemuruh. *Gurururu*

Naruto kembali menghela nafas pendek sambil terus mencoba untuk menahan rasa laparnya. Perutnya terus mengeluarkan gemuruh yang aneh ketika ia mendengar seseorang tiba-tiba memanggil namanya.

"Yo, Naruto-kun!"

"...!?"

Naruto menaikkan kedua alisnya, ia kemudian mencoba untuk menoleh kearah orang yang memanggil namanya itu.

Dan tepat saat ia menoleh kekanan, dia melihat seorang pemuda berambut mangkok yang berjalan mendekat kearahnya sambil membawa dua roti yakisoba. Naruto mengenal sosok pemuda tersebut dengan baik.

"Lee...?"

Naruto mengeluarkan suara dengan nada pelan saat ia menyebut nama pemuda tersebut. Pemuda yang dikenal dengan semangatnya yang over itu berjalan mendekatinya dengan sebuah senyuman kecil yang hinggap di wajahnya karena senang bisa melihat temannya itu.

Lee kemudian berhenti selangkah didepan Naruto, menaikkan sedikit alisnya dan bertanya.

"Kenapa kau hanya diam saja? atau kau tidak punya uang untuk beli makanan?" Tanya Lee

"Yah, kalau uang sih aku ada, tapi ..."

Dengan ekspresi yang lesu, Naruto menengok kearah antrian yang panjang disana.

"... kalau antriannya seperti itu, aku tidak yakin perutku bisa bertahan!"

"Hmm?"

Lee menaikkan kedau alisnya ketika mendengarnya, dan kemudian menengok kearah yang sama.

Disana dia bisa melihat barisan antrian yang agak panjang. Melihat ramainya keadaan disana, Lee hanya bisa tertawa hambar. Disaat yang hampir sama, Naruto membuat wajah jengkel dan berkata.

"Lagi pula aku heran ... kenapa kantin disekolah kita bisa seramai ini?"

"Kalau itu sih wajar saja kan ..., sekolah kita merupakan salah satu SMA terbaik dan terluas dikota ini, jumlah dari keseluruhan murid yang ada disini sekitar tujuh ribu orang, jadi tidak usah heran kalau kantinyya akan seramai ini"

"Uh ..."

Naruto membuat wajah lesu setelah mendengar semua itu sabil menekan sedikit perutnya untuk menahan rasa laparnya yang sudah tidak tertahankan lagi.

"Kau kenapa, Naruto?"

"Un ... sepertinya, perutku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi!"

"Maksudmu ... kau lapar?"

"Y-Yah, bisa dibilang begitu"

"..."

Melihat keadaan Naruto, sepertinya tidak akan bisa bertahan didalam antrian itu. Dan karena dia membeli dua roti yakisoba, dia pnn kepikiran sesuatu.

"Kalau aku mau ..., kau bisa memakan satu roti yakisoba milikku!?" ucap Lee menawarkan roti yakisoba miliknya

"Ka-kau yakin?"

"Tenang saja, karena aku membeli dua ..., kau bisa memakan salah satunya!"

"Uo ..."

Naruto tanpa sengaja mengangkat suara ketika Lee memberikan satu roti yakisoba miliknya.

Dengan mata berbinar-binar, dia menerima roti yakisoba itu, membuka mulutnya lebar-lebar, sebelum kemudian membuat satu gigitan besar dan membuat bekas gigitan pada roti yakisoba tersebut. mengunyahnya selama beberapa detik sebelum kemudian menelanya melalui tenggorokan.

"Arigatou Lee, kau menyelamatkanku!"

"Tidak usah dipikirkan ..."

Sedetik kemudian, Naruto kembali membuat sebuah gigitan besar dan memasukan roti yakisoba itu kedalam mulutnya. Lee yang sudah menghabiskan separuh roti yakisoba miliknya melihat sebuah tempat duduk yang kosong dan mengajak Naruto untuk duduk di situ sebelum mereka memulai obrolan.

"Oh iya, Lee! Apa kau ikut kegiatan diluar jam pelajaran?"

"Eh! Kenapa kau menanyakan hal itu?"

"Yah, soalnya aku akhir-akhir ini jarang sekali melihatmu saat pulang sekolah!"

"Oh begitu ..."

Lee kembali menggigit roti yakisoba miliknya dan kemudian menelannya sebelum kemudian lanjut berbicara.

"... kau tahu, sejak aku ikut eksul kempo, anggota baru sering disuruh latihan setiap pulang sekolah atau setiap hari sabtu, jadi maaf kalau aku jarang ada waktu untukmu"

"Eh! ... kau ikut klub kempo? Tapi sejak kapan?"

"Um ... kira-kira sekitar satu bulan yang lalu"

"Heeh, aku baru tahu itu ..."

"Dulu kau juga ikut ekskul kempo saat SMP, kan? Kenapa kau tidak ikut klub kempo saja"

"Aku ingin cari sensasi baru"

"Oh begitu ... jadi, kau ikut klub apa?"

Disaat Lee menannyakan itu, kebetulan mulut Naruto masih mengunyah makanan. Ia menelannya lebih dulu sebelum kemudian berbicara.

"Itulah masalahnya!"

"Eh!? ... Apa maksudmu?"

"Sejauh ini belum ada klub yang menarik perhatianku!"

"Tapi ..., bagaimana dengan klub sepakbola, atau baseball, kudengar dua klub itu cukup terkenal di sekolah ini"

"Aku tidak terlalu tertarik" Ucap Naruto

"Kalau begitu, bagaimana dengan Klub K-on!?"

"K-on? Apa itu?"

"Umm ... kurasa itu semacam grub band disekolah ini"

"Aku tidak tertarik, selain itu aku juga tidak terlalu suka tampil didepan banyak orang"

"So-sokka ..."

Lee hanya bisa pasrah setelah mendengar alasan yang disebutkan itu. nampaknya memang belum ada satu pun klub yang cukup menarik perhatian seorang Uzumaki Naruto.

"Tapi, kenapa kau tanya soal itu?"

"Eh! Tidak apa-apa ... hanya ingin tahu saja!"

"Oh ..."

Setelah itu, obrolan mereka pun terus berlanjut diiringi canda dan tawa untuk beberapa saat sebelum kemudian mereka meutuskan untuk kembali kekelas masing-masing.

Dalam perjalanannya kembali menujut kekelasnya, Naruto bisa melihat masih banyak murid yang berkeliaran diluar kelas. Ada beberapa yang berjalan kearah yang berlawanan dengannya. Ada juga yang sekedar berkumpul bersama teman-temannya hanya untuk bersenda gurau di depan kelas. Kebisingan pun dapat terdengar dari berbagai arah, walau tidak separah waktu dikantin sebelumnya. Dengan banyaknya jumlah murid yang datang dari berbagai daerah kesekolah ini, wajar saja jika kantin sekolah yang luas itu menjadi sangat ramai seperti restoran yang tengah kebajiran pengunjung. Pihak sekolah hanya ingin memberikan fasilitas yang memadai untuk mereka yang tidak membawa bekal dari rumah.

Namun, segera setelah ia berbelok kekanan di pertigaan-

"Uh...?"

Naruto melihat keramaian didepan sebuah kelas.

Entah apa yang terjadi, namun sepertinya ada sesuatu yang menarik perhatian orang-orang sekitar hingga menutupi jalan.

Sedetik setelahnya, ia mendengar suara seseorang yang berasal dari kerumunan.

"Aku selalu menyukaimu sejak awal bertemu! Kumohon jadilah pacarku"

Walau tidak melihat. Hanya dengan kata-kata itu saja, sudah dapat di pastikan bahwa itu adalah seseorang yang sedang menembak seorang gadis.

Naruto berpikir kalau orang itu ternyata cukup berani juga menyatakan cinta di tengah banyak orang.

Dalam keadaan normal, hal pertama yang pasti akan dilakukan setiap orang sebelum menembak seorang gadis pastinya membawa mereka ketempat yang sepi sebelum menyatakan perasaan mereka.

Semenatra itu, ini malah menyatakan perasaannya di tempat yang banyak orangnya. Dan jelas hal ini bisa membuat sang gadis malu dan ragu-ragu untuk menyatakan perasaanya.

Namun yang terjadi selanjutnya di luar perkiraan.

"Hah? Jadi pacarmu" beo seseorang

Dalam sekejap, pandangan semua murid yang ada disitu langsung tertuju pada gadis blasteran yang sedang dilamar oleh pemuda tersebut.

"Huh, burung flamingo saja menari untuk bisa menarik pasangannya, tapi coba lihat usahamu ini..." ucapnya dengan nada sombong dan sarkastik

Itu membuat semua orang sweatdrop yang melihatnya.

"Jika cuma bicara, burung beo pun juga bisa. Tunjukan perasaanmu saat bertindak, aku tidak minta dijemput oleh mobil mewah atau pun disambut dengan karpet merah didepan sekolah, tapi kalau aku memanggilmu, siang ataupun malam, apa kau siap datang kapan saja? Apa kau siap membuang semuanya dan mengekor seperti domba?" ucapnya dengan nada mengintimidasi

"Huh, jadi, bagaimana? Sanggup tidak?" tanyanya dengan nada sarkastik

"A-arigatou-gozimasu-" ucap si pria yang kemudian langsung ambruk ditempat

Tak berapa lama kemudian, pemuda tersebut langsung dibawa ke ruang UKS oleh siswa-siswa lainnya.

Selang beberapa detik setelahnya, orang-orang pun mulai bubar kembali ke tempat mereka masing-masing.

Disaat itulah, Naruto akhirnya bisa melihat sosok gadis tersebut.

Tingginya mungkin sama dengan Naruto, mata bundarnya yang dilengkapi dengan bulu mata yang panjang dan juga iris biru shappire yang lebih cerah.

Rambut pirang panjang ala blasteran dengan sedikit warna pink pada bagian bawahnya.

Tubuh langsing bak seorang model menunjukkan kalau dia sering berolah raga.

Dengan angkuhnya, gadis itu membalikkan badanya berjalan menjauh dari tempat ia berdiri sebelumnya.

Naruto masih tetap berdiri di tempat yang sama, ia berpikir demikian seraya memembenarkan posisi kacamatanya.

'Entah kenapa, aku merasa kalau kesialan akan kembali menimpaku'batin Naruto

Beberapa detik kemudian, Naruto pun melanjutkan perjalanannya kembali kekelas.

Setibanya dikelas, Naruto disambut oleh sapaan dari beberapa orang teman satu kelasnya. Naruto tidak melakukan hal lain selain membalas sapaan mereka dan kemudian kembali ke tempat duduknya.

Selang beberapa detik setelah mendudukkan dirinya diatas kursinya, bel kemudian berbunyi menandakan jam istirahat makan siang kini telah berakhir. Dan, segera setelah Kakashi-sensei masuk ke kelas, dia melanjutkan kembali pelajarannya yang sebelumnya tertunda karena jam istirahat. Ketika ia sedang menerangkan tentang Sejarah berdirinya Jepang, semua murid memperhatikan dan menyimak setiap pelajaran yang diberikan Kakashi-sensei. Hampir tidak ada seorangpun yang bermalas-malasan atau tidur-tiduran termasuk Naruto.

Dan meski Kakashi-sensei itu orangnya sering terlambat, namun kecerdasaan otaknya itu harus diakui sangat mengagumkan. Yah, bisa dibilang dia itu jenius. Tidak heran jika banyak murid perempuan yang mengidolakannya. Selain itu, walau pun dia terlihat santai, namun ternyata Kakashi-sensei adalah orang yang sangat taat terhadap peraturan. Bahkan disaat jam pelajarannya pun, dia menetapkan peraturannya sendiri. contohnya seperti tidak boleh ada yang tidur, bermalas-malasan, dan juga mengobrol, jika ada yang melanggarnya. Ia tidak akan segan untuk menghukumnya.

Tak terasa waktu pelajaran habis, suara bel yang menandakan akhir dari seluruh jam pelajaran pun akhirnya berbunyi, dengan begini akhirnya seluruh murid bisa pulang kerumahnya masing-masing. Inilah saat yang paling ditunggu-tunggu oleh setiap siswa di sekolah

Setelah memberi salam kepada guru, para murid kemudian berjalan keluar dari kelas sambil membawa tas mereka masing-masing.

Matahari yang sebelumnya berada di atas kini telah bergeser kearah barat.

Disaat jam telah menunjukkan pukul empat sore, langitnya pun berubah menjadi sedikit oranye.

Naruto yang berada tidak jauh dari sekolahnya tiba-tiba saja di hentikan oleh seseorang.

"Tunggu sebentar!"

Suara seorang gadis yang memintanya untuk berhenti.

Naruto kemudian menoleh kearah gadis itu, disaat itulah ia melihat sosok gadis itu berdiri menghadap kearah dirinya. surai silver yang diikat model twintail, mata bulatnya yang dihiasi bulu mata panjang, dan juga tingga bdan yang tidak lebih tinggi dari Naruto.

Tidak salah lagi, itu adalah gadis yang sama dengan gadis yang memukulnya tadi pagi.

"Apa?"

Tanya Naruto dengan nada datar pada gadis

"Ada yang ingin aku tanyakan padamu"

Gadis itu pun juga berkata dengan nada yang sama datarnya. Naruto menghela nafas pendek saat menatap Tomori dan melanjutkan perkataannya.

"Memangnya apa yang ingin kau tanyakan?"

"Ini, soal tadi pagi ..."

Disaat itu Naruto kembali mengangkat sebelah alisnya, untuk sesaat Naruto mencoba menggali ingatannya.

Sebelum kemudian dia sadar dengan apa yang dimaksudkan.

Bersamaan dengan itu, Tomori kemudian mulai melontarkan pertanyaan.

"... Kenapa kau tidak memberitahukan hal yang sebenarnya pada Kakashi-sensei soal yang tadi pagi?"

Naruto melebarkan mata amethisnya, dan menggerakkan mulutnya seakan ingin mengatakan sesuatu. Namun, dia tidak mengatakan apapun. Seolah-olah ada sesuatu yang menyesakkannya, ia membuka dan menutup mulutnya beberapa kali, seolah dia tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat.

Pada saat ini, Tomori kembali melanjutkan perkataannya.

"Jangan-jangan, apa kau berpikir kalau aku akan merasa tertolong, membuatku berhutang padamu, dan mengharap perlindunganmu. Dan apa mungkin ini semua adalah cara agar kau bisa berteman denganku dan mengkhianatiku suatu hari nanti? Atau ini adalah salah satu cara busukmu untuk mendekatiku, menjadikanku pacarmu dan memperlakukanku seenaknya saja ... huh, maaf saja, aku tidak sudi, dan satu lagi..."

Belum sapa situ, Tomori kemudian melanjutkan perkataannya.

"... aku tidak butuh pertolongan dari orang bodoh sepertimu"

Pada poin ini, Naruto menggertakkan gignya dengan geram dan kemudian membalas ucapan Tomori.

"Terserah kau mau memanggilku bodoh atau apapun, tapi asal kau tahu saja ..."

Dengan nada yang geram, Naruto kembali melnjutkan perkataannya.

"Aku melakukannya bukan karena aku ingin melindungimu atau semacamnya. Aku melakukannya karena keinginanku sendiri"

Alis Tomori tidak sengaja berkedut saat itu jua, bertepatan dengan cahaya matahari yang sudah semakin menghilang. Angin tiba-tiba saja meniup kedua orang yang tengah berhadapan tersebut.

"Benar juga, barusan kau bilang tidak membutuhkan pertolongan dari orang sepertiku, kan?"

Ia perlahan mengangkat tangannya dan mengarahkan tinjunya kearah Tomori sambil melontarkan sebuah kata-kata.

"Akan kubuat kau menarik ucapanmu itu!"

Naruto memberikan tatapan yang sangat serius, dan bahkan tidak ada keraguan sedikitpun dari setiap ucapnnya.

ENDING: Kimi Monogatari ~ Little by Little

BERSAMBUNG...