Hahaha, perasaan ya ini adalah fanficku yang updatenya paling cepet. Kenapa banyak banget yang nangih buah update kilat? Tapi akhirnya, ku update kilat! Aku pengen fanfic ini cepet beres sebelum aku sibuk lagi, makanya, hehehehe...
Terima kasih banyak untuk reviewnya di chapter kemarin. Nggak nyangka, masih banyak yang berkenan untuk review. Aku seneng ngeliat fanficku bisa dinikmati oleh semua orang ^^
Nah, untuk chapter kali ini, kita pindah fokus ke kembaran kedua, Taufan!
Selamat menikmati
Chapter 2: Fake (palsu)
Hubungan saudara kandung memang ada kalanya sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ada saudara kandung yang memang akrab, ada pula yang tidak akrab bahkan bisa bermusuhan. Tapi, dari semua saudara kandung yang paling kompleks untuk dijelaskan mungkin adalah saudara kembar.
Terutama kembar identik.
Kembar identik bisa dibilang sebuah 'anomali', karena sel bakal buah bayi bukannya terus berkembang sendiri malah membelah diri. Karena itulah, didapatkan DNA yang sama pada anak kembar identik. Dengan kata lain, secara biologis, sebenarnya kembar identik adalah orang yang sama.
Setelah membelah diri itu, maka sang bayi kembar akan melewati sembilan bulan di dalam kandungan bersama.
Dan ketika lahir ke dunia, hubungan yang telah terjalin itu tidak mudah untuk dihapus sepenuhnya. Jika ada yang mengatakan kalau seorang ibu memiliki ikatan batin dengan anak kandungnya, maka anak kembar memiliki ikatan batin lebih kuat. Sampai ada yang bilang kalau anak kembar bisa dididik untuk jadi mata-mata karena bisa dilatih untuk melakukan telepati, meski kebenarannya masih dipertanyakan.
Tapi kadang, hubungan batin ini rasanya jadi agak mengesalkan.
"Aduh!"
Gempa berhenti mengetik di laptopnya. Kenapa tiba-tiba lengannya sakit tanpa alasan? Jangan-jangan...
"GYAAA! KAK HALIIII! AMPUUUN!"
Sang kembaran termuda hanya mendesah di kamarnya. Ada apa lagi dengan kedua kakak kembarannya? Ia tidak mengerti. Ia sudah sangat terbiasa dengan situasi ini, sehingga membuatnya malas untuk menghentikan keduanya.
Namun, karena rintihan kesakitan yang berasal dari kakak keduanya tidak kunjung berhenti, akhirnya Gempa keluar dari kamar dan menuju dimana suara tersebut berasal.
Ia hanya termenung di ruang tengah, melihat kedua kakaknya...
Entah bagaimana ia menjelaskan, yang jelas ia sering sekali melihat pemandangan seperti ini di berita atau di film action. Taufan terbaring di lantai dengan wajah menghadap ke bawah, sedangkan kedua lengannya dikunci ke belakang oleh Gempa, persis seperti polisi yang sedang melumpuhkan penjahat.
"Lepasin! Sakit, Kak Hali!" seru Taufan, entah kenapa seperti penjahat yang tengah mencoba melarikan diri.
"Nggak!" seru Halilintar, menekan kepala adiknya yang jahil itu ke lantai, agar ia berhenti memberontak. Seperti polisi, seandainya saja Halilintar punya borgol dan memborgol saudara kembar kedua itu, maka akan lebih klimaks lagi.
Seandainya Gempa sama jahilnya dengan Taufan, ia pasti sudah merekam pemandangan ini dan kemudian mempostingnya ke internet.
Tapi, ia adalah adik baik hati yang paling waras dari seluruh kembarannya, jadi daripada mengambil handphonenya, ia memilih untuk melerai kedua saudaranya.
"Sudah hentikan, Halilintar! Taufan!" omel Gempa, inilah alasan kenapa ia masih belum mau memanggil mereka dengan 'kakak' secar a permanen.
Halilintar menatapnya dengan wajah masam sementara Taufan memandangnya dengan tatapan lega. Kembaran yang pertama memilih untuk tidak protes, hanya perlu sekali pandang untuk melihat kalau Halilintar kelihatannya sedang lelah. Sementara Taufan segera berdiri dengan wajah jahil yang tampak tak menyesal.
"Huh, menyebalkan, lebih baik aku tidur di kamar," gerutu Halilintar, ia segera berbalik menuju lantai ke dua, melangkah dengan penuh amarah.
Gempa menggelengkan kepala, melihat Taufan memijit lengannya yang barusan dikunci oleh Halilintar.
"Kamu ngapain lagi sih?" tanya Gempa heran dengan kakak keduanya yang tampaknya tak pernah kehabisan ide jahil.
"Ah tadi kan aku habis selesai bikin PR gambar, tadinya mau bersihin sisa cat air tapi terus ngeliat Kak Hali tidur di sofa...," Taufan memeletkan lidahnya dan menggaruk belakang kepalanya.
Meski tidak diteruskan, Gempa bisa membayangkan apa yang terjadi selanjutnya. Dasar kakaknya yang satu ini, sifat jahilnya memang sudah kronis stadium 4.
"Heran aku, nggak capek gini terus tiap hari?" tanya Gempa, membereskan sisa-sisa cat air yang berserakan di lantai. Untung hanya cat air, jadi mudah dibersihkan.
"Hehehe... habis reaksinya Kak Hali lucu sih."
Meski saudara kembar, yang seharusnya punya DNA yang sama, Gempa tidak bisa paham pola pikir Taufan sama sekali.
Sadar kalau adiknya mulai meragukan kewarasannya, Taufan kembali menjelaskan. "Habisnya kan dia nggak ada ekspresinya, aku nggak tahan liatnya...," tambahnya.
Iya sih, ekspresi Halilintar itu minim sekali. Tersenyum saja, belum tentu seminggu sekali. Gempa juga tidak tahu kenapa kakaknya yang satu itu bisa begitu, namun ia telah terbiasa dengan wajah serius dan menyeramkan itu sejak kecil jadi ia tak begitu merisaukannya.
"Tapi sakit kan? Kau ini aneh-aneh saja," keluh Gempa. Jika ia tidak kenal kakak keduanya dengan baik, ia mungkin akan menyangka kalau Taufan itu masochist. Tapi, tentu saja tidak begitu...
Itu hanya caranya menunjukkan rasa sayang, sedikit twisted memang. Tapi, begitulah Taufan. Toh, tak jarang Gempa juga dikerjai olehnya, meski Halilintar tetap jadi primadona.
"Hehehe, Kak Hali nggak pernah serius melukaiku, kecuali waktu sparring saja," kata Taufan, bergidik sedikit saat mengingat pengalaman kelam itu.
Gempa hanya tersenyum tipis mendengarnya.
IoI
Hidup harus dibawa santai dan biarkan mengalir seperti air yang mengalir. Itulah prinsip Taufan, ia tidak suka meributkan hal kecil dan sangat suka bersenang-senang. Itulah artinya hidup.
Karena itu, jika bertemu dengan sebuah masalah, reaksi pertamanya adalah tidak mempedulikannya.
"Hari ini pelajaran pertama apa sih?" tanya Taufan pada teman sekelesanya, gadis keturunan Cina berkacamata, Ying.
"Bahasa Melayu," jawab Ying singkat.
Taufan merogoh kolong mejanya, dimana semua buku pelajarannya tersimpan.
"Kau ini tidak pernah bawa buku ke sekolah ya?" Ying memandangnya dengan heran.
"Ngapain? Kalau ada PR kan tinggal pinjam buku ke Gempa, sama aja kok," jawab Taufan sambil tersenyum lebar. Sebenarnya Gempa juga agak kesal dengan sikapnya itu, namun sudah menyerah untuk mengomelinya sejak lama. Lagipula, Halilintar juga sama kok dengannya. Hampir semua bukunya hanya bersarang di loker meja di sekolah, tidak pernah sampai di rumah.
Taufan membongkar buku-buku di loker mejanya, karena sulit untuk melihat ke dalam, ia hanya bisa mengeluarkannya satu persatu. Ia kemudian berhenti saat melihat ada kertas dilipat. Saat membukanya, kertas itu berisi potongan-potongan huruf dari koran atau majalah yang disusun menjadi kalimat:
'Enyah kau dari sekolah ini!'
Taufan hanya memandangnya dengan wajah datar.
Surat kaleng ini lagi...
Ini sudah kelima kalinya ia dapat surat kaleng, ia sudah tidak terkejut lagi. Daripada merasa terganggu, ia malah merasa kagum dengan usaha sang penulis surat. Bikin surat kaleng dari klipping surat kabar begini kan susah dan butuh waktu, kenapa tidak diketik di komputer lalu di print saja? Kan sama-sama tidak akan ketahuan siapa yang menulisnya. Aneh-aneh saja.
"Kenapa Taufan?" tanya Ying, membuat Taufan sadar dari lamunannya.
"Ah enggak, cuma lagi bingung nyari bukuku dimana... hm... oh ini dia," jawab Taufan, tersenyum puas setelah menemukan buku yang ia cari. Ying hanya menggelengkan kepalanya melihat meja temannya itu kini penuh buku pelajaran hingga tidak kelihatan lagi permukaan mejanya.
Setelah wajah Ying berpaling darinya, senyum Taufan sedikit turun. Ia hanya mengepalkan surat kaleng itu sampai sekecil mungkin dan melemparkannya ke tempat sampah.
"Yes, masuk!" serunya ketika surat itu masuk dengan mulus ke tempat sampah, sikapnya hanya membuat Ying memutar matanya.
IoI
Sikap Taufan memang sedikit seenaknya, namun berbeda dengan Halilintar yang cenderung di hindari atau Gempa yang cenderung dipuja, Taufan yang menyenangkan dan supel, memiliki banyak kawan tapi juga punya musuh yang tidak suka dengan sikapnya.
Ia akui, kadang ia suka kelepasan dalam bercanda dan bicara, namun ia tidak pernah bermaksud serius dengan semua itu. Karena itu, musuhnya sedikit. Tidak seperti Halilintar.
Tapi mungkin...
"Eh? Tasku kemana ya?"
Taufan terkejut melihat tasnya tak ada setelah selesai pelajaran olahraga.
"Eh? Mana mungkin hilang...," gumam Ying di sebelahnya. Sang siswa bertopi itu segera menuju mejanya dan memandang dengan bingung karena tidak menemukan tasnya.
Masa' iya ada yang mencuri tasnya? Apalagi di dalam sekolah seperti ini, tidak masuk akal... kalau yang dicuri dompet atau handphone sih, lebih masuk akal. Untuk apa mencuri sampai ke tas-tasnya segala?
Taufan terkejut saat ia melirik ke tempat sampah, ia menemukan tasnya terbenam di sana.
"Ih, jahat banget!" seru Ying. Seisi kelas jadi gaduh sementara Taufan mengambil tasnya dari tempat sampah dengan perasaan campur aduk. Untung tempat sampahnya hanya berisi sampah kertas dan botol minuman, jadi tidak bau ataupun kotor. Tapi, tetap saja...
"Ah biasa, paling ada yang iseng sama aku," kata Taufan, berusaha mencerahkan suasana.
"Kamu nggak marah? Yakin nggak apa-apa?" tanya temannya yang lain. Taufan hanya menggeleng sambil menyugingkan senyum.
"Yah, slow aja sih... aku nggak marah," katanya.
Namun dalam hatinya ia sedikit bingung. Sudah berkali-kali ia dapat surat kaleng dengan kalimat teror beberapa hari ini, sekarang tasnya dibuang ke tempat sampah...
Ia... sedang kena bully ya?
IoI
Dibandingkan dengan Halilintar, Taufan jauh lebih sabar dan tidak terlalu mudah tersinggung, memang tidak lebih baik dari Gempa sih. Tapi, saudara kembar kedua Boboiboy itu, tidak suka untuk memusingkan sesuatu.
Hanya saja, ia tidak bisa berhenti memikirkan akan surat kaleng dan 'candaan' yang kerap ia terima akhir-akhir ini. Dilihat dari bagaimana dedikasi penulis surat kaleng itu, terus mengirimnya surat dengan kata-kata teror menggunakan klipping surat kabar, Taufan tahu kalau sang penulis serius.
Tapi, ia tidak mengerti kenapa. Ia juga tidak bisa memikirkan siapa yang begitu dendam padanya.
"Taufan... kamu baik-baik saja?"
Taufan terkejut dan menatap Gempa yang terlihat khawatir. Bahkan Halilintar terlihat menatapnya dengan serius.
Oh gawat, ia malah melamun saat sedang makan! Bodohnya dia, bisa-bisanya galau hanya karena masalah sepele seperti ini!
"Ah nggak kok, cuma lagi mikir trik baru skateboard," kilahnya dengan mulus, tak lupa menyugingkan senyum cerah.
Gempa tampak tak percaya, namun ia hanya diam dan melanjutkan makan. Sementara Halilintar terus menatapnya selama beberapa saat sebelum mendengus dan makan kembali.
Sang saudara kembar kedua sedikit merasa bersalah karena membuat saudara-saudaranya khawatir. Tapi, ia tidak mau merepotkan mereka berdua. Gempa semakin sibuk karena persiapan Pentas Seni semakin dekat (meski OSIS sekarang tak begitu membebaninya, ia tetap punya tanggung jawab sebagai Ketua OSIS). Sedangkan kompetisi karate Halilintar akan diadakan dua minggu lagi.
Kedua saudaranya sangat sibuk, bahkan Halilintar selalu berlatih setiap hari. Taufan merasa ini bukan masalah besar dan masih bisa ia atasi sendiri.
"Terima kasih makanannya, enak sekali lho," puji Taufan pada adiknya. Gempa hanya menyugingkan senyum namun termenung saat Taufan beranjak dari meja makan.
"Lho? Kamu nggak nambah?" tanyanya. Sang kakak kedua baru sadar kalau ia makan lebih sedikit dari biasanya.
"Ah, nggak, aku udah kenyang," tolak Taufan dengan halus. Sebenarnya ia tidak terlalu nafsu untuk makan sekarang, tapi ia tidak bisa mengatakannya.
Gempa hanya diam menatapnya dan Halilintar tidak berkomentar. Taufan segera berbalik dan naik ke lantai dua.
Ia hanya berharap bully yang ia alami akan cepat berlalu.
IoI
"Ini parah sekali, kau harus lapor guru!"
Taufan tidak mendengarkan Ying, matanya hanya terpaku pada 'ukiran' yang ada di pinggir mejanya.
'Pergi dari sekolah ini, brengsek! Kau ini memuakkan!'
Baretan itu dibuat dengan benda tajam, mungkin seperti cutter dan diukir di pinggir meja. Ukurannya tidak terlalu besar dan tidak terlalu dalam juga, dilihat dari jauh pun tak nampak. Tapi tetap saja, ini hampir tidak bisa dihilangkan.
"Sudahlah, cuma perlu ditutup pakai selotip warna coklat juga beres kok," kata Taufan, menenangkan Ying.
"Iya sih tapi kan-"
"Ying, sudahlah."
Temannya itu terdiam melihat Taufan berwajah serius. Sesuatu yang langka, karena Taufan selalu kelihatan ceria.
"Jangan meributkan masalah sepele seperti ini dan jangan cerita ke orang lain, nanti hanya akan membuat heboh saja," kata Taufan dengan lirih.
Taufan bisa melihat kalau temannya itu terlihat ingin protes, namun ia tidak mengatakan apa-apa. Pemuda bertopi miring itu tidak suka membuat kacau suasana karena hal seperti ini. Dia juga tak ingin Halilintar atau Gempa mendengar soal ini.
"Baiklah," Ying tampaknya menyerah karena Taufan terlihat begitu serius.
Pemuda itu mengangguk, bersyukur karena temannya yang cerewet itu bersedia menuruti perkataannya.
IoI
Sebagai saudara kembar, saat saudaranya mengalami masalah atau sakit, dalam taraf tertentu Gempa bisa merasakannya. Ia tahu, akhir-akhir ini Taufan agak aneh, sepertinya sedang mengalami masalah namun tidak mau cerita.
Yah, bukan berarti mereka memang sering curhat satu sama lain. Semenjak masuk SMP, mereka punya teman yang berbeda dan kesibukan masing-masing. Saat ada masalah pun, tidak selalu diceritakan. Gempa berharap masalah apapun yang dialami kakak keduanya, masalah itu akan cepat selesai.
"Ah, Taufan."
Gempa melihat kakaknya sedang bermain skateboard bersama teman-teman seklubnya di lapangan. Kakaknya itu yang paling jago bermain skateboard, namun menolak jadi ketua klub karena itu terlalu merepotkan.
"Ah, kakakmu memang hebat main skateboard ya," komentar Yaya di sebelahnya. Mereka baru saja selesai berdiskusi dengan guru mengenai anggaran untuk Pentas Seni.
"Yah... memang...," Gempa merasa bangga kakaknya dipuji seperti itu.
Taufan meluncur dengan apik, lalu bersiap melakukan ollie. Semacam teknik skateboard, melompati sesuatu bersama dengan skateboardnya. Itu teknik paling dasar, begitu yang dulu pernah dijelaskan Taufan pada Gempa.
Namun di luar dugaan, saat melayang dan hendak mendarat di atas skateboard, keseimbangan Taufan kacau dan kakaknya terjatuh. Gempa membelalak dan dengan insting, ia segera menghampiri saudara kembarnya dengan panik.
"Taufan!"
Kakak keduanya itu tampak terkejut saat dihampiri. Ia tersenyum malu. "Ehehe, aku jatuh, tadi meleng sih," katanya kemudian berdiri. Gempa memperhatikan lengan kakaknya yang tergores, namun selebihnya tak nampak ada luka permanen.
"Hati-hati, kalau main skateboard jangan meleng dong," omel anggota skateboard lain. Taufan hanya tertawa lepas saja. Namun, Gempa memandangnya dengan khawatir.
Tidak mungkin rasanya Taufan gagal melakukan trik skateboard sederhana seperti itu. Taufan yang ia kenal bisa melakukan flip (memutarkan skateboard) di udara, meluncur menuruni pagar tangga, bahkan melakukan salto di udara sebelum mendarat di atas skateboard. Keseimbangannya sangat luarbiasa, hingga pernah diejek Halilintar kalau Taufan itu seperti kucing yang selalu mendarat di atas kakinya.
"Kamu benar-benar baik-baik saja?" tanya Gempa, tak mampu menyembunyikan rasa khawatirnya. Taufan menatapnya dan tersenyum, senyum yang agak ganjil namun mungkin hanya Gempa yang menyadarinya.
"Ya, aku baik-baik saja," katanya.
Sang adik hanya bisa menutup mulutnya. Ia tidak bisa memaksa bila Taufan tidak ingin bicara. Gempa kemudian berbalik dan berlalu, di kejauhan ia bertemu mata dengan sang kakak tertua, Halilintar, yang tampaknya juga baru saja melihat insiden kecil tadi.
Mereka berdua bertemu pandang dan sepakat akan satu hal.
Ada yang aneh dengan Taufan.
IoI
"Aduh!"
"Kenapa Taufan?"
Taufan dengan cepat menggeleng, ia merasa tak nyaman melihat Ying dan teman-temannya yang lain di kelas kelihatan khawatir dengannya.
"Ah tidak, aku ketusuk paku di kolong meja nih," katanya, menunjukkan jarinya yang berdarah.
"Ya ampun, cepet ke UKS!" seru salah satu temannya. Taufan hanya menggeleng dan memilih untuk menghisap darah di jarinya.
"Ah cuma luka kecil, nggak apa-apa," katanya.
Semua temannya terlihat khawatir, namun Taufan menyugingkan senyumnya dan semuanya akhirnya beralih ke hal lain.
Lepas dari pandangan semua orang, Taufan dengan hati-hati menarik keluar buku di kolong mejanya. Ia terkejut saat melihat sebuah silet di rekatkan di ujung buku tersebut.
Ia kembali menghisap jarinya yang masih terasa perih.
Ia sangat berharap semua bully ini akan berhenti namun semakin lama justru semakin parah saja. Ia ingin sekali menghentikan ini, namun tidak tahu caranya. Tak ada jejak siapa yang melakukannya dan ia tidak ingin merepotkan orang lain.
Apa yang harus ia lakukan?
IoI
"Senyumanmu memuakkan."
Taufan berhenti tersenyum dan terkejut, Halilintar hanya memandangnya dengan lurus. Mereka sedang bercengkrama sambil menonton televisi, menikmati waktu luang yang jarang mereka nikmati bersama akhir-akhir ini.
Taufan tengah bercerita akan sesuatu yang konyol, namun Halilintar sama sekali tidak tertawa. Ia tidak tahan melihat senyuman adiknya yang satu itu. Senyuman itu ganjil, ada sesuatu yang aneh yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Gempa memandang Halilintar dengan khawatir namun ia tahu, kekhawatiran itu lebih ditujukan untuk Taufan.
"Kak Hali jahat...," Taufan cemberut, namun matanya berkata lain.
Halilintar bisa merasakannya, Taufan terluka karena perkataan. Sesuatu yang sangat langka, karena si kembar tertua tahu betul kalau adiknya itu biasanya muka tembok.
"Halilintar, itu agak keterlaluan...," tegur Gempa, namun ia juga terlihat agak bingung dengan keadaan Taufan.
Halilintar hanya diam, tidak tahu apa yang salah dan kenapa ia harus minta maaf. Yang ia katakan adalah kenyataan, dan tidak seperti Taufan yang pandai mengelak kenyataan, Halilintar ingin ia menatapnya langsung.
"Uuuhh, aku lapar, Gempa, bikinin sesuatu dong," Taufan mengelakkan pembicaraan.
Adik termuda terlihat sedikit bimbang, namun ia terlihat pasrah dan menurut. "Akan kubuatkan roti keju susu, sebentar ya," katanya.
"Yei! Aku kejunya yang banyak ya!" seru Taufan girang. Halilintar tidak mengatakan apapun saat Gempa menatapnya, sang adik kemudian hanya mendesah dan berjalan menuju dapur.
Ioi
"Dia tidak mau cerita."
Gempa menatap kakaknya dengan lurus. Halilintar berbaring di tempat tidurnya, di telinganya terpasang earphone yang mengalunkan musik untuk menenangkan amarahnya. Sementara Gempa duduk di kursi, tampak kebingungan.
"Mungkin sebaiknya besok kutanyakan ke teman sekelasnya atau klub skateboard...," gumam Gempa.
Halilintar hanya mendengus dan menatap langit-langit. Semua saudara kembar Boboiboy memiliki satu persamaan. Mereka sulit berterus terang saat menghadapi masalah. Baik dirinya, Gempa maupun Taufan, lebih senang memendamnya sendirian. Ia paham betul akan hal itu.
Tapi, bila masalah itu sudah membuat Taufan kehilangan skill bermain skateboardnya, maka itu bukan lagi masalah kecil. Halilintar mengerti kalau Taufan berusaha menutupinya, entah karena apa.
Namun, usahanya sia-sia saja karena baik Gempa maupun dirinya tidak ada yang tertipu.
"Kira-kira ada apa ya? Jarang Taufan bersikap begini...," kata Gempa, kelihatan murung. Halilintar menatapnya dan mendengus.
"Entahlah...," kata Gempa, tak bisa memperbaiki suasana hati adiknya. Karena ia sendiri pun, belum bisa menyingkirkan rasa khawatir yang menyelimutinya.
IoI
Taufan tahu saat bercanda ia bisa agak keterlaluan, namun ia tahu batasan-batasan yang tak boleh dilewati.
Ia bertanya-tanya, apa yang sudah ia lakukan sampai membuat seseorang sebegitu dendam padanya?
Ia mulai kesulitan menutupinya dari semua orang, ia benci melihat orang memandangnya dengan khawatir. Tapi, pada saat yang sama ia tahu dirinya tidak baik-baik saja. Ia biasanya cuek saja dengan pandangan orang, dibenci bukan sesuatu yang baru baginya. Tapi baru kali ini ada yang menterornya seperti ini. Jika disuruh memilih, Taufan bahkan lebih memilih untuk diserang langsung daripada tidak langsung begini.
Ia harus melakukan sesuatu.
Taufan mendesah, ah sudah, untuk sekarang berhenti berpikir soal masalah ini dulu. Ia harus cepat-cepat kembali ke kelas, dasar sial, kenapa kamar mandi di lantai dua pakai rusak segala? Ia kan jadi harus ke kamar mandi di lantai empat.
Sang pemuda bertopi bergegas menuruni tangga, namun jantungnya seakan berhenti saat merasakan tubuhnya didorong ke depan.
Dan matanya hanya membelalak saat ia jatuh dari tangga.
IoI
"Ada yang jatuh dari tangga!"
Gempa terkejut, kelas menjadi gaduh dan gurunya mencoba menenangkan murid-murid yang ribut. Namun, sang Ketua OSIS hanya merasakan tiba-tiba dadanya menjadi berat. Tidak mungkin... kan?
Salah seorang siswi kembali ke kelas, sepertinya baru dari kamar mandi tadi.
"Pak Guru, ada yang jatuh dari tangga di lantai empat," katanya panik.
"Siapa?" tanya gurunya dengan wajah khawatir.
"Taufan."
Mata Gempa membelalak, dan yang ia sadari selanjutnya, ia sudah berlari dari kelas, tak mempedulikan sahutan guru di belakangnya.
IoI
"Kak Taufan!"
Taufan menoleh, melihat Gempa membuka pintu UKS dan masuk dengan wajah sangat panik dan cemas. Jarang sekali, Taufan melihat adiknya begitu... lepas kendali.
"Dia baik-baik saja, kakinya hanya terkilir saja," dokter UKS segera menenangkan saudaranya itu. Napas Gempa yang tadinya cepat perlahan-lahan melambat dan normal kembali, ia berbalik menatap Taufan dengan pandangan sangat cemas.
Taufan sendiri mengaku, keadaannya tidak bisa dibilang bagus. Kakinya kanannya dibalut, sekujur tubuhnya terdapat luka lecet dan seragamnya kotor. Tapi setidaknya, ia masih hidup dan utuh.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Gempa, lebih tenang namun masih tampak khawatir.
"Yah, selain kaki ini, aku masih utuh kok," katanya dengan nada bercanda. Namun, Gempa justru terlihat semakin sedih. Taufan, untuk pertama kalinya, tidak tahu harus berkata apa untuk mencerahkan suasana.
Pintu UKS kembali di buka dan Taufan terkejut melihat Halilintar pun datang.
Kakaknya yang satu itu hampir tak pernah datang menjenguk meski Taufan terluka dan di bawa ke UKS. Taufan memang langganan tetap UKS, karena bermain skateboard ia kadang jatuh, atau cedera saat bermain olahraga lain.
Tapi, Halilintar tak pernah menjenguknya sebelumnya. Entah cuek atau tidak peduli, tapi Taufan berpikir mungkin karena Halilintar yakin, ia akan baik-baik saja.
Namun, keadaannya sekarang berbeda. Taufan tak tahu harus senang atau sedih mendapatkan perhatian seperti ini dari kakak tertuanya.
Dokter baru saja mau menjelaskan apa yang terjadi pada Taufan, namun Halilintar mengacuhkan dan berjalan menuju tempat tidur di mana Taufan berada.
Matanya mendelik namun tidak mengatakan apa-apa. Taufan tak tahu apa yang kakaknya pikirkan.
"Sepertinya... percuma meminta kalian kembali ke kelas masing-masing... saya ada rapat dengan kepala sekolah, kalian tidak apa-apa kan saya tinggal dulu?" tanya dokter UKS, sepertinya paham bagaimana hubungan saudara kembar, jadi tak berusaha mengusir dua saudara kembar dari UKS.
"Iya dok, tidak apa-apa," jawab Gempa dengan sopan. Sang dokter segera berlalu, tanda kalau keadaan Taufan memang tidak berbahaya tapi sepertinya hal itu tetap tidak menenangkan hati kedua saudaranya.
"Kenapa bisa?" tanya Halilintar singkat, akhirnya bicara.
Taufan diam, tidak tahu harus mengatakan apa. Ia tidak yakin, apakah yang ia rasakan itu sungguhan? Ia merasa ada seseorang yang mendorongnya tapi ia tidak melihat siapa.
Ia tidak tahu, ada orang yang begitu dendam pada dirinya sampai seperti ini...
IoI
Melihat Taufan diam, itu sudah cukup untuk Gempa.
Ia memang tidak jenius seperti Yaya, namun ia cukup pandai di angkatannya. Taufan, bila terluka karena kesalahannya sendiri, biasanya hanya akan tertawa dan menggoda saudara-saudaranya yang tampak khawatir.
Tapi kini, kakak keduanya itu hanya diam dan terlihat murung, tanda kalau Taufan bukan jatuh karena kesalahannya sendiri.
Kalau begitu... orang lain?
Tapi, keadaan sekolah sedang sepi, semuanya sedang ada pelajaran. Bagaimana bisa Taufan jatuh dari tangga yang kosong? Kalau sedang ramai, bisa saja ia bertabrakan dengan orang lain dan semacamnya, tapi...
...
Kecuali, dia di dorong...?
Tidak mungkin, mana mungkin ada yang tega melakukan itu...
Gempa merasa ragu, ia melihat Taufan yang untuk kali ini, tidak berusaha untuk ceria, ia terlihat murung dan kebingungan. Sementara Halilintar semakin lama, matanya semakin tajam.
Sang adik merasa ia harus melakukan sesuatu, ia tidak bisa menunggu Taufan bicara, jadi ia segera berlari ke luar UKS.
Yang harus ia lakukan sekarang adalah bertanya pada teman-teman sekelas Taufan!
IoI
Halilintar hanya melirik Gempa yang segera menghilang dari UKS. Ia kemudian menatap Taufan yang diam seribu bahasa.
"Kau mau memainkan permainan ini? Akan kutunggu sampai besok sekalipun," kata Halilintar, yang jelas, menunggu adiknya itu bicara padanya.
Taufan menatapnya, tak ada lagi raut ceria, hanya ada kebingungan, sedih dan kepasrahan.
Sementara Halilintar hanya diam, ia sebenarnya bisa mulai menebak apa yang tengah terjadi, kenapa Taufan bisa sampai jatuh dari tangga, mungkin hipotesanya tak jauh berbeda dengan Gempa. Makanya ia mengerti kenapa adiknya langsung lari ke luar UKS seperti itu.
Tapi, ia ingin mendengarnya langsung dari mulut adik keduanya.
Sebenarnya, apa yang sedang terjadi.
IoI
Gempa bersyukur saat melihat kelas Taufan sedang kosong tak ada guru, sepertinya memang gurunya sedang absen dan mereka diberi tugas, dan tentunya dilarang menjenguk Taufan sekarang karena sedang jam pelajaran.
Sang Ketua OSIS segera membuka pintu kelas dan melirik siapa yang harus ia tanya. Ia bersyukur saat melihat Ying, teman sekelasnya dulu di kelas 1.
"Ying, bisa minta waktunya sebentar?" tanya Gempa. Seisi kelas menatapnya dan mereka terlihat bingung, mungkin karena mereka mengira Gempa seharusnya ada di UKS bersama kakak kembarnya.
"Oh tentu saja," jawab Ying, segera menghampirinya. Gempa segera menariknya ke lorong kelas yang sepi, gadis Cina itu tampak kebingungan namun diam saja.
"Kau tahu sesuatu tentang Taufan akhir-akhir ini? Ia sepertinya sedang ada masalah...," tanya Gempa langsung ke inti permasalahan.
Ying terlihat terkejut, kemudian khawatir. Ia tampak ragu, kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri, seperti mencari-cari sesuatu.
"Sebenarnya, Taufan sudah memintaku untuk tidak mengatakan hal ini tapi... aku rasa, ada yang sedang menteror Taufan."
...teror?
Melihat Gempa yang tampak bingung, Ying kembali bicara. "Aku lihat, Taufan selalu mendapat surat setiap hari. Aku tidak tahu isinya, tapi kurasa bukan sesuatu yang bagus. Lalu pernah ada yang membuang tasnya ke tempat sampah, dan ada juga yang membaret mejanya dengan kata-kata mengerikan...," lanjut Ying.
Gempa mengernyitkan dahi, namun semakin lama wajahnya semakin memucat. Kini ia mulai paham kenapa Taufan bersikap aneh belakangan ini...
"Kata-kata apa?" tanya Gempa.
Ying tampak sedih. "Kalau tidak salah... 'Pergi dari sekolah ini, brengsek! Kau ini memuakkan!' semacam itu...," katanya dengan suara pelan.
Mata Gempa membelalak. Ia mulai mengerti, ia mulai paham... tapi, tidak mungkin. Ia tidak ingin mempercayai apa yang ia simpulkan, tapi...
Gempa menutup matanya dan membukanya kembali, kini sorot matanya penuh kemarahan, membuat Ying sedikit takut.
"Katakan Ying, saat Taufan ijin ke toilet, apa ada orang yang keluar kelas setelah dia?"
IoI
Kelas II B adalah kelas dimana Taufan berada. Meski bukan peraturan tertulis, sepertinya memang anak kembar tidak pernah disatukan dalam kelas yang sama. Mungkin, itu dilakukan agar anak kembar tersebut tidak terganggu konsentrasi belajarnya. Maka dari itu, Gempa, Halilintar dan Taufan tidak pernah sekelas sejak SD.
Kelas II B merasa bersyukur karena dari ketiga kembar Boboiboy, yang masuk ke kelas mereka adalah Taufan. Pemuda itu sangat menyenangkan, lucu dan jahil, sehingga selalu membuat suasana kelas menjadi ceria.
Tapi, sepertinya hari ini membuktikan bahwa Taufan tidak selalu membawa keceriaan. Mereka sudah khawatir saat mendengar Taufan jatuh dari tangga namun guru melarang mereka untuk menjenguk sekarang karena sedang jam pelajaran.
Namun, kemudian datang Gempa yang tampak sangat serius dan panik, menarik Ying keluar kelas. Dan kini, ia kembali dengan wajah yang lebih menyeramkan dari sebelumnya. Membuat mereka akhirnya ingat, meski Ketua OSIS ini dikenal ramah dan sopan, tapi ia masih bersaudara dengan Halilintar.
"Aku ingin bertanya di sini, karena aku tidak punya banyak waktu, maka aku akan langsung ke inti permasalahan. Siapa di sini yang membully Taufan?"
Itu adalah sebuah pertanyaan yang sangat mengagetkan, namun ia mengatakannya dengan wajah serius dan mungkin juga, menahan marah.
Seluruh kelas hanya berbisik satu sama lain, tidak ada yang berani mengaku.
"Aku sudah curiga dengan seseorang. Tapi, aku ingin ia mengakuinya sendiri. Kumohon, cepatlah! Sebelum Halilintar datang ke sini dan mengamuk!" serunya lagi dengan lantang.
Seluruh kelas terperanjat.
"Kenapa kau menuduh kami? Bisa saja kan dari kelas lain?" seru seseorang dari kelas II B, tidak terima mereka dituduh begitu saja tanpa alasan.
Gempa menggeretakkan giginya namun kemudian mengambil napas. "Aku sudah dengar dari Ying, memang benar kemungkinan kelas lain bisa melakukan ini pada Taufan. Tapi, kejadian hari ini mengkonfirmasi kalau orang itu berasal dari kelas ini. Taufan jatuh didorong oleh seseorang dari tangga ketika ia pergi ke kamar mandi di sela-sela jam pelajaran. Itu mustahil dilakukan orang dari kelas lain. Mana mungkin ia tahu Taufan akan ke kamar mandi pada jam pelajaran? Tidak mungkin juga ia terus-terusan menunggu di luar. Karena itu, ia pasti keluar sesudah Taufan keluar dari kelas," jelas Gempa dengan wajah mulai kesal.
Seisi kelas mulai paham dengan apa yang dijelaskan sang Ketua OSIS. Itu benar, tapi itu artinya...
Mereka menatap seseorang yang keluar kelas sesudah Taufan. Seorang anak yang duduk di bangku paling belakang dan memakai kacamata tebal. Gempa mengikuti pandangan itu dan mendecak, mirip Halilintar. Ia juga sudah diberi tahu Ying tadi, namun ia masih menunggu anak itu mengaku sendiri.
"Hei, tidak mungkin kamu kan, Harun?" seru salah seorang anak di kelas tersebut.
Siswa tersebut hanya diam dan terus menatap ke meja, kacamatanya yang tebal membuat ekspresi wajahnya tidak terlihat.
"Aku tidak ingin menuduh. Aku juga tak punya bukti kuat. Tapi, aku ingin ada yang mengaku, sebelum Halilintar datang ke sini dan mengamuk. Percayalah, masih lebih baik kuseret ke ruang guru dibanding harus menghadapi kakakku yang sedang meledak," ancam Gempa.
Semuanya hanya diam. Cuma orang bodoh saja yang tidak mengerti betapa mengerikannya Halilintar. Siswa itu sudah bermasalah sejak kelas 1. Selalu ribut dengan kakak kelas atau bahkan tidak sopan terhadap guru. Belum lagi ia adalah juara dalam kompetisi karate.
Gempa menanti dan seisi kelas mulai panik. Jujur saja, sang kembaran paling muda merasa sama paniknya. Sesungguhnya, ia marah, sangat marah. Ia ingin sekali menyeret orang yang sudah melukai kakaknya, yang sudah membuatnya menderita beberapa hari ini, kemudian menghajarnya lalu membawanya ke ruang guru. Tapi, ia tidak punya bukti, meski ia punya teori yang kuat.
Dan lagi, meski sangat marah, ia tahu Halilintar akan lebih marah lagi. Kalau sampai kakaknya tahu soal apa yang menimpa Taufan belakangan ini, kelas ini bisa hancur berantakan!
"Ayolah mengaku! Aku tak mau kakakku terkena skors atau dikeluarkan dari sekolah karena mengamuk di kelas ini!" seru Gempa mulai kehilangan kesabaran.
Sementara sang tersangka utama, Harun, hanya gemetaran di tempat duduknya. Gempa memandangnya dengan rasa benci. Ia tahu, mana ada maling yang mau mengaku begitu saja. Tapi, masalahnya...
"Greeek!"
Pintu geser kelas dibuka dan semuanya terkejut. Apalagi saat melihat Halilintar sudah berdiri di sana dengan aura membunuh yang membuat semua orang di kelas tersebut mendadak merasa sesak napas.
"Ternyata memang benar dari kelas ini...," gumamnya dengan nada rendah.
"Halilintar-" Gempa langsung melompat ke depan kakaknya, sebelum kembaran tertua itu menerjang ke dalam kelas.
"SIAPA YANG SUDAH MENDORONG TAUFAN DARI TANGGA, AYO NGAKU!" serunya dengan penuh amarah, meski bahunya ditahan oleh Gempa, namun jelas kalau sang kakak sudah hilang kontrol atas kemarahannya.
Seluruh kelas bergidik ketakutan.
"Tenang-" Gempa tak mampu menyelesaikan kata-katanya karena Halilintar kemudian berbalik padanya dengan wajah penuh amarah.
"Tenang katamu!? Mana bisa aku tenang saat ada orang yang mau membunuh adikku di sekolah ini!" serunya.
Gempa hanya terdiam. Halilintar mendorongnya ke samping.
"Aku terkenal sebagai biang onar. Heck, aku bahkan dibilang berbakat jadi pembunuh. Tapi asal kau tahu, ada orang yang lebih busuk dariku di kelas ini! Ia MENUSUK dari belakang, MENDORONG adikku dari tangga. Untung Taufan cuma terkilir kakinya, tapi kalau ia jatuh dan lehernya PATAH bagaimana!?" teriak Halilintar di depan kelas.
Gempa hanya ikut terdiam, memikirkan apa yang dikatakan kakaknya. Itu benar, manusia mudah sekali mati. Asalkan tahu caranya, tak perlu repot-repot mencekik orang atau meracuni orang tersebut. Halilintar yang selama ini belajar karate pasti lebih mengerti titik-titik yang tepat untuk membunuh orang.
Karena itu dia sangat marah.
Kalau Taufan jatuh dan lehernya patah bagaimana?
Gempa tidak bisa membayangkan, ia tidak mau membayangkannya. Ia pun merasakan amarahnya mulai naik kembali, ia sadar kalau apa yang terjadi pada Taufan bukan hanya sekedar bully atau teror. Ini hampir seperti percobaan pembunuhan!
"AYO MENGAKU! Kalau tidak mengaku! Kubantai kalian satu persatu! Aku ingin lihat, apa orang busuk itu peduli pada kalian semua dan bersembunyi di balik orang lain yang tidak berdosa!" seru Halilintar lagi.
Seisi kelas mulai panik, namun tahu mereka tak bisa kemana-mana. Kalau mencoba untuk kabur, justru akan membuat Halilintar semakin marah.
Ying yang sedari tadi ada di depan kelas, satu-satunya orang yang tidak dicurigai, merasa panik dan menoleh pada Gempa. Namun, di luar dugaan, Ketua OSIS tersebut hanya diam dengan wajah yang sangat mengerikan. Ia seperti memandang seisi kelas dengan wajah tanpa ekspresi, atau malah penuh dendam, dan sepertinya tak ada niat untuk menghentikan kakak tertuanya.
Setelah menanti beberapa detik, Halilintar menendang salah satu meja dan para siswa siswi memekik ketakutan, berhamburan ke sudut kelas.
"Dasar pengecut! Asal tahu ya, setidaknya ini semua karena salah seorang dari kalian, bukan salahku...," kata Halilintar, menghampiri mereka langkah demi langkah dan menggeretakkan buku-buku jarinya.
"DIA YANG SALAH!"
Seisi kelas terdiam, mendengar Harun, tersangka utama akhirnya bicara.
"Orang itu... orang itu selalu mengerjaiku setiap hari. Ia selalu mengejekku, mengerjaiku dan seisi kelas akan menertawakanku, aku capek!" serunya lagi.
Seisi kelas terlihat gusar namun Halilintar dan Gempa hanya diam.
"Candaan dia sama sekali tak lucu bagiku. Aku sakit hati! Ia sering menyembunyikan kacamataku jadi aku tidak bisa melihat apa-apa! Kemudian saat aku jatuh tersandung ia justru tertawa, tak ada yang menolongku! Belum lagi 'candaan' dia yang lain!"
"Ah... ternyata begitu..."
Semuanya terkejut melihat Taufan sudah muncul di kelas. Entah sejak kapan. Tubuhnya masih kotor dan beberapa masih dibalut plester dan kaki kanannya masih dibalut dengan perban dan diangkat dari lantai. Dari tampangnya yan penuh peluh, kelihatan kalau ia berusaha mengejar Halilintar ke kelas ini meski kakinya dalam keadaan begitu.
"Aku tidak tahu Harun... maaf, seharusnya kau bilang kalau kau tidak suka aku melakukan itu, aku sungguh tidak tahu...," kata Taufan dengan wajah bersalah.
Di setiap kelas memang pasti ada objek penderita. Orang yang selalu diledek, dikerjai dan dijadikan badut kelas. Mungkin tidak ada yang sadar, kalau itu sebenarnya termasuk salah satu bentuk dari bully. Tidak ada masalah memang kalau objek penderita itu tidak mempermasalahkannya, namun akan lain kalau sebenarnya tidak begitu.
"BUAK!"
Taufan terkejut saat sebuah kepalan tangan meninju pipinya dan membuatnya jatuh. Matanya membelalak menatap kakaknya menatapnya dengan pandangan yang sangat marah.
"DASAR BEGO! Kau ini kalau bercanda memang suka keterlaluan! Kau harus tahu, bercandaanmu nggak selalu lucu!" omelnya, membuat Taufan semakin merasa bersalah. Halilintar menarik kerahnya, mengangkatnya dari lantai dan membuat Taufan merasa sesak karena sulit bernapas.
"Jangan melakukan hal ini seperti ini lagi, bodoh!" katanya, menghempaskan Taufan ke lantai. Kembaran kedua itu hanya mampu diam tak berkutik, ini pertama kalinya ia benar-benar dilukai Halilintar. Kalau ia tidak sedang diperhatikan teman-teman sekelas, mungkin ia sudah menangis.
Ini pertama kalinya Halilintar benar-benar memarahinya, biasanya tidak pernah seperti ini. Separah apapun Taufan mengerjai kakaknya, ia tidak pernah benar-benar dilukai seperti ini. Sekarang, ia ditonjok di depan kelas, membuatnya merasa sangat sedih.
Gempa hendak melerai mereka berdua, namun terkejut saat Halilintar berbalik dan menghampiri sang pelaku.
"Jujur sekarang aku mau sekali melemparmu keluar jendela, BRENGSEK!" serunya. Gempa buru-buru menghampirinya, menarik satu lengan Halilintar agar kakaknya tidak semakin hilang kendali.
"Adikku memang bego. Tapi setidaknya, aku tahu dia tidak pernah berniat mencelakaimu! Tidak sepertimu! Kau mau membunuh adikku hanya untuk alasan seperti itu!?" Seru Halilintar lagi. Gempa menarik lengan kakaknya makin jauh, karena terlihat kalau kakaknya itu ingin sekali melumat orang yang sudah mencelakai Taufan.
Taufan hanya terkejut sedikit. Mengelus pipinya yang masih bengkak.
"...awalnya aku cuma ingin lihat reaksi dia... aku ingin dia merasakan hal yang sama... tapi, ia tidak pernah bereaksi sama sekali... entah kenapa, aku...," gumam Harun dipenuhi rasa bersalah, matanya tak mampu bertemu dengan orang lain.
Halilintar mendecak kesal dan kembali menendang meja. Gempa hanya diam dan terus menahan kakaknya.
"JANGAN KAU ULANGI LAGI, KALAU ADIKKU SAMPAI MATI, KUKEJAR KAU SAMPAI KE NERAKA! MENGERTI!?" teriak Halilintar.
Sang pelaku hanya gemetaran dan akhirnya menangis, namun ia mengangguk.
Gempa mendesah lega. Namun, hawa membunuh dari Halilintar sama sekali belum surut. Sedangkan Taufan, terpaku mendengar kata-kata Halilintar.
"Kak Halilintar, sudahlah...," gumam Gempa pelan pada kakaknya. Memanggilnya 'kakak' agar Halilintar sadar dan mau mendengarkannya.
Sang kakak menarik lengannya yang sedari tadi ditahan oleh Gempa. Dan dengan kesal ia berbalik kemudian pergi keluar kelas.
Seisi kelas akhirnya bisa bernapas dengan normal kembali. Sementara sang pelaku hanya menangis di tempatnya.
Gempa mendesah menghampirinya dan kemudian, mengejutkan semua orang, memukulnya pipinya dengan sekuat tenaga hingga Harun terpental ke tanah.
"Bruk!"
"Ini untuk Taufan. Halilintar tidak bisa melakukannya, karena aku tahu sekali ia meninjumu, ia akan membantaimu sampai puas. Kau harus berterima kasih padanya nanti, karena sudah mampu menahan amarahnya sampai seperti itu. Sekarang, kau tak dapat belas kasihan dariku. Persetan semua dengan alasanmu, tapi apa yang kau lakukan pada Taufan itu sudah tindakan kriminal, akan kulaporkan kau ke guru," kata Gempa dengan nada dingin.
Ia menarik kerah baju Harun, agar orang itu mau berdiri. Saat ia ingin menggiringnya. Taufan sudah berdiri dan menatapnya dengan wajah serius.
"Biarkan saja dia. Sekarang kita harus kejar Kak Hali, sebelum dia bertindak bodoh," kata Taufan dengan lirih. Gempa terdiam, baru sadar kalau kakaknya itu pergi keluar kelas dengan amarah yang belum tersalurkan sepenuhnya. Bisa-bisa ia membantai orang tidak bersalah.
"Ukh.. sial! Baiklah, Ying! Kuserahkan dia padamu!" kata Gempa, mendorong Harun dengan kasar kepada siswi tersebut.
"Oh, ung... baiklah," kata Ying terkejut.
Gempa segera mengalungkan lengan Taufan ke pundaknya untuk membantu kakaknya itu berjalan. Mereka punya tugas untuk menemukan dan menenangkan sang kakak tertua sekarang.
IoI
"Ketua OSIS memukul orang..."
Gempa hanya diam, mendengarkan gumaman Taufan yang sedang ia papah. Sang adik hanya memandang dengan kecut ke arah lain.
"Aku tidak puas karena Halilintar cuma mengomelinya saja," katanya. Taufan tertawa hambar.
"Kau ini, kalau meledak lebih mengerikan dari Kak Hali, kau tahu?" godanya. Dalam hati Gempa sedikit bersyukur melihat kakak keduanya sudah mulai kembali normal. Setidaknya, senyumnya tidak lagi palsu seperti beberapa hari belakangan ini.
"Itu belum seberapa," timpal Gempa dengan senyuman. Taufan tertawa lebih keras.
"Yah aku tahu," katanya. Berharap bahwa hari dimana Gempa benar-benar meledak tak akan tiba, meski memang ia ingin melihatnya, pasti akan sangat menarik.
Mereka berdua melanjutkan pencarian mencari kakak tertuanya. Keduanya sudah tidak peduli dengan jam pelajaran, keributan dan apapun, yang ada dipikiran mereka sekarang hanya menemukan kakak keduanya yang sedang di ambang batas kemarahan.
IoI
"Kak Halilintar!"
Halilintar menoleh, menatap kedua adiknya, yang satu dipapah oleh yang lain, menghampirinya. Ia sadar kalau Gempa memanggilnya kakak, mungkin untuk menenangkannya, meski itu hanya berpengaruh sedikit.
Gempa bersyukur menemukan kakaknya itu di halaman belakang sekolah yang sepi dan tak ada siapapun. Kakaknya hanya sedang melampiaskan kemarahannya pada tembok pagar yang tak berdosa.
Kembaran tertua tersebut hanya mendesah keras dan mengacak-acak rambutnya, membuat topinya jadi tak tentu arah.
"Sekolah ini benar-benar mengesalkan!" katanya, kembali menendang tembok pagar yang ditakutkan Gempa, mungkin akan runtuh sebentar lagi.
"Pertama Gempa, sekarang, Taufan! Ini sebenarnya sekolah atau apa sih!?" serunya lagi dengan penuh amarah.
Gempa tidak tahu harus mengatakan apa untuk menenangkan kakak tertuanya. Ia juga masih merasa marah, jujur saja, ia belum puas setidaknya sampai Harun diadili oleh para guru. Ia sangat berharap orang itu dikeluarkan dari sekolah, meski yang memulai awalnya adalah Taufan, tapi tetap saja yang ia perbuat sudah jauh dari 'lucu'.
"Sudahlah Kak Hali... aku masih hidup kan?"
Halilintar berbalik, mendelik pada Taufan yang tersenyum padanya. Pipinya lebam dan kakinya terkilir, tapi lebih dari itu ia masih bisa tersenyum dan bicara padanya.
Gempa terkejut, melihat bagaimana hanya dengan kalimat itu bisa membuat Halilintar menurunkan amarahnya.
"Dasar bodoh...," gumam Halilintar, akhirnya berhenti menganiaya pagar sekolah. Ia berbalik dan menghampiri kedua adiknya.
"Hehehe, Kak Hali ternyata sayang banget sama aku ya... kalau aku kenapa-kenapa, Kak Hali sedih?" goda Taufan dengan senyum lebar, namun kemudian mengaduh sakit karena pipinya bengkak.
"Nggak lucu tahu, bego!" omel Halilintar. Gempa hanya mendesah lega, setidaknya keduanya sudah kembali ke rutinitas biasa.
"Adikku kan ada dua!" tambah kakak tertuanya, menatap ke samping dengan kesal.
Taufan dan Gempa sedikit termenung mendengarkan ucapan kakak mereka. Halilintar masih terlihat frustasi, namun Gempa hanya tersenyum sambil menarik napas lega.
"Sudahlah kak, kita semua baik-baik saja kan?" katanya sambil tersenyum.
Halilintar hanya memutar matanya dan cemberut. "Seharusnya kau cerita soal ini dari dulu, Taufan! Pake rahasia-rahasiaan aja!" omel Halilintar lagi, namun kini nada suaranya tidak setinggi sebelumnya.
"Iya maaf...," kata Taufan sedikit bersalah. "Kak Hali sendiri juga, hampir nggak pernah cerita apa-apa ke kami tuh," timpalnya, tidak mau kalah.
Halilintar hanya diam, namun jelas kalau ia merasa kesal. Gempa mendesah, tidak ingin pertikaian tidak penting kembali terjadi di saat seperti ini.
"Sudahlah... begini saja, kita buat janji, memang sulit untuk berubah, tapi setidaknya mari kita berjanji untuk mencoba berubah. Mulai saat ini, aku akan mencoba, kalau aku punya masalah, akan kuusahakan untuk menceritakannya pada kalian berdua," kata Gempa, seperti biasa, menjadi yang paling bijak di antara ketiganya.
"Ok, aku juga berjanji!" kata Taufan, lebih ceria. Puas dengan janji yang diajukan adiknya, setidaknya tidak tampak begitu berat untuk dilaksanakan.
"...ya aku juga...," gumam Halilintar, terdengar berat. Tapi, ia masih setuju.
Gempa menarik napas lega dan tersenyum lebar. Akhirnya, setelah terpecah-pecah sejak masuk SMP, mereka mulai kembali akrab lagi. Memang tidak bisa dibandingkan dengan dulu, tapi setidaknya...
Kakak tertua mereka berbalik dan berjalan menuju lapangan.
"Kak Hali mau ngapain?" Taufan bingung karena kakaknya tidak berjalan kembali ke kelas.
"Mau lari," katanya singkat dan kemudian lari meninggalkan mereka berdua.
Gempa dan Taufan hanya memandang kepergiaannya dengan perasaan sedikit kasihan. Mereka harus menemukan cara agar Halilintar bisa menyalurkan amarahnya lebih baik. Kasihan ia harus selalu lari setiap selesai mengamuk. Apalagi kalau lari di lapangan sekolah, ia pasti terlihat seperti sedang dihukum oleh guru.
Halilintar memang butuh anger management.
"Ayo kembali ke UKS, pipimu harus dikompres," kata Gempa, memapah kembali kakaknya. Taufan cemberut memandangnya.
"Kok cuma Kak Hali doang yang dipanggil kakak? Aku?" katanya dengan nada merajuk. Gempa hanya tertawa pelan.
"Iya deh, Kak Taufan. Tuh, puas?" katanya. Taufan terlihat tidak puas namun kemudian tersenyum jahil.
"Ah, nanti pas pulang minta gendong Kak Hali ah...," katanya kemudian tertawa kecil. Gempa hanya menurunkan satu alisnya.
"Sudahlah, Kak Halilintar masih meledak-ledak gitu jangan digodain mulu. Lagi sakit juga," omel Gempa, merasa agak kasihan untuk kakak tertua mereka yang terus jadi objek candaan Taufan.
"Nggak apa-apa, biarin aja. Cuma minta gendong kok. Kan kalau jalannya kayak gini susah, apalagi sampe rumah," bela Taufan, menggoyangkan sedikit kakinya yang terkilir. Gempa memikirkannya sejenak, memang sih sulit untuk berjalan dipapah seperti ini apalagi jarak rumah mereka dengan sekolah cukup jauh.
"Kan bisa naik kendaraan umum-"
"Pokoknya aku mau digendong Kak Hali! Lihat nanti!" potong Taufan dengan semangat. Gempa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ayo taruhan sama aku! Kalau Kak Hali mau gendong aku, bikinin aku cake keju ya!"
Gempa hanya terkejut, tidak tega harus menjadikan kakak tertuanya objek taruhan. Namun melihat Taufan yang tampaknya tak mau menerima kata 'tidak', Gempa hanya mengulum senyum. Ia lega melihat kakaknya sudah kembali ceria dan kembali ke sifatnya yang jahil, meski entah itu harus disyukuri atau tidak.
"Kalau Kak Halilintar tidak mau, Kak Taufan harus cuci piring seminggu," katanya. Yah, setidaknya yang dipertaruhkan bukan uang, jadi tidak masalah.
"Ok, tapi kalau udah sembuh ya!" kata Taufan lagi. Gempa hanya mengangguk.
Selama ini memang ia tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungan Taufan dan Halilintar. Meski ia mencoba menuliskannya dengan ribuan kata, ia rasa ia tak akan pernah menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan hubungan aneh mereka ini.
Tapi, setidaknya ia tahu, mereka sayang pada satu sama lain, hanya saja, mereka menunjukkannya dengan cara yang berbeda. Setidaknya itu yang Gempa simpulkan hari ini, meski ia masih agak meragukan kesimpulannya itu. Yah, hubungan mereka memang aneh sih.
End of chapter 2
Kurang brotherly love? Nanti di bonus chapter
Awalnya aku pengen bikin Halilintar nonjok orang yang udah ngebully Taufan. Tapi, kalau dipikir, dia nggak bakal puas hanya dengan satu pukulan, makanya mendingan nggak usah. Lagian, ini masih ada hubungannya dengan chapter 3, kalau dia bikin gara-gara (lagi) di sini, bisa makin runyam nanti.
Dan Gempa, akhirnya juga gak terlalu meledak (segitu belum?) iya belum. Itu buat chapter 3, dikasus Halilintar. Nantikan aja, gimana si adik paling kecil itu, kalau biasanya kalem, meledaknya kayak apa. Diluar dugaan lho.
Oh ya, bonus chapter! Kalau kalian pengen, review ya! Bonus chapter akan memuat potongan kisah di chapter yang gak dimuat di chapter ini. Isinya tuh, bagaimana Taufan meski gak mau cerita ke saudara-saudaranya, tapi masih meminta untuk di'hibur' (hints: di sini bakal ada adegan brotherly love yang kemungkinan bikin author sendiri meleleh), kemudian bagaimana akhir pertaruhan Gempa dan Taufan juga.
Hehehe... kalau dapet review banyak, bakal kutulis, kalau gak, ya gak usah *dilempar tomat busuk
Oh ya, ada yang pengen karakter-karakter lain untuk muncul dan si kembar berinteraksi dengan mereka, kayak Fang, Yaya, Ying dan Gopal. Aduh, mereka cuma jadi figuran di sini. Jadi, fanfic ini cuma fokus ke ketiga kembaran Boboiboy aja, ok?
Yosh, review! Review! Dan kalian akan mendapatkan bonus chapter 2!
