.
.
.
Part 3
" hari itu, aku tidak tahu apakah guru bahasa inggris sedang mengalami krisis moneter atau karena masa menstruasinya kacau. Wajahnya bahkan lebih busuk dari kotoran dan memancarkan hawa membunuh yang lebih tajam dari biasanya". Pagi itu, dari arah luar sebuah ruang kelas, terdengar seseorang yang menghentak – hentakan kakinya dan berjalan sangat cepat. Taehyung saat ini nampak mencari sebuah benda di dalam tasnya, alisnya saling beradu. Seorang guru memasuki ruang kelas mereka . Taehyung mendongak, " berdiri" perintahnya. Serentak semua murid di kelas itu berdiri "Duduk! Mari kita mulai pelajaran" perintah guru itu dingin. Para murid lalu duduk, sementara Taehyung malanjutkan pencariannya. Dia mencari di dalam laci mejanya. " awalnya kupikir jika suatu hari bisa mendapati seorang murid teladan seperti Taehyung berbuat kesalahan yang membuat malu dirinya dan kelas , merupakan hiburan utama bagiku.."
Dari arah depan, guru tersebut melihat Taehyung gusar, sibuk mencari sesuatu. "maksudku 'awalnya'..". Guru itu lantas, menundukkan kepalanya singkat, membuka sebuah buku pelajaran "Bagi murid yang tidak membawa buku pelajaran saya, harap berdiri!" perintah guru itu dingin. Taehyung semakin gusar sekaligus bimbang, ini kali pertamanya dia tidak membawa buku pelajaran. Saat hendak berdiri, dari arah depan sebuah tangan memberikan buku pelajaran Bahasa Inggris itu untuknya. Jung kook berdiri , guru bahasa inggris itu menghela nafas kasar. Tatapannya amat menjengkelkan. "Jeon Jung kook, awal semester sudah lewat 5 bulan yang lalu. Buku bahasa Inggris yang kita gunakan setiap pembelajaran pun kamu tidak membawanya . Niat sekolah atau tidak?!" Jung kook hanya tersenyum meremehkan, terkadang ia menggerakkan badannya mengusir rasa lelah akibat berdiri. Guru itu melihat Jung kook tersenyum, emosinya naik. "Kursi!"peritahnya tegas. Lalu Jung kook mengambil kursi yang biasanya ia duduki mengangkatnya keatas kepalanya dengan kedua tangannya. Senyum diwajahnya bahkan tak hilang begitu saja. " apa kamu sadar uang sekolah sangat mahal? Bahkan kamu terkesan kurang peduli akan hal ini!, tidak membawa buku pelajaran, untuk apa kamu datang ke sekolah? Datang hanya untuk makan saja ?" sambil tersenyum Jung kook membalas "makan tentu saja harus" akibatnya, beberapa teman sekelasnya tertawa. Sementara itu lawan bicara Jung kook nampak kesal " masih sempat untuk bercanda? Apa kamu tidak tahu malu?!" Jung kook hanya tersenyum menganggapi. " angkat tangamu lebih tinggi!" Jung kook mengangkat kursi itu lebih tinggi. "lebih tinggi lagi!"perintah guru itu. Taehyung yang melihat Jung kook diberi hukuman merasa iba dan kasihan, seharusnya dia yang ada diposisi itu bukan?
"apa kamu tidak sarapan?! Cepat keluar kelas dan lompat sepuluh putaran lalu kembali ke kelas" perintah guru itu final. Jung kook menurunkan sedikit kursi diatasnya lalu berjalan keluar "angkat!". Sontak, Jung kook mengangkat kursi yanga ada diatasnya tinggi – tinggi. Sementara diluar Jung kook menghabiskan waktu hukumannya. Di dalam kelas itu, Taehyung tampak serius mendengarkan dan mengulang ucapan gurunya. "..my in spite of the difficulties and frustrations of the moment" Taehyung membeo. "i still have dream" sebenarnya, mata Taehyung bukan menatap kalimat yang seharusnya ia baca namun pandangannya terkunci pada sebuah gambar dengan banyak coretan . " it's a dream deeply rooted in the American dream" Taehyung mengulang ucapan gurunya. "i have a dream.." Taehyung bungkam setalah membaca tulisan disamping gambar – coretan- yang ada dibuku itu. "that one day this nation will rise up" Taehyung tersenyum manis. 'Kim Taehyung kalau tidak sok diam sebetulnya sangat manis' disamping tulisan tersebut terdapat emoticon love dengan tinta warna merah. "and live up the true meaningof it's dream". Jung kook mengusap peluh didahinya, seragamnya kini sudah basah akibat keringat.
Sore itu, Taehyung sedang berada disebuah toko buku yang terkenal di Busan, dia nampak menimbang- nimbang mana pulpen yang harus ia beli saat ini. Sementara dari arah lain Minki sudah membawa setumpuk buku bahkan tumpukan buku tersebut sudah seringgi dagu Minki. "memikirkan apa ?" ucap Minki. Taehyung menoleh "kamu terlihat aneh hari ini" lanjutnya. Pandangan Taehyung kembali kearah deretan pulpen berwarna – warni didepannya. "tidak" balasnya singkat, mengambil dua buah pulpen berwarna biru dan pink.
.
.
.
Esoknya, saat Jung kook sedang memakan bekalnya di pembatas pagar koridor – karena letak kelas mereka di lantai dua- sambil menatap kearah bawah dimana banyak murid perempuan saling berjalan bebarengan. Jung kook memakan bekalnya dengan sangat lahap , bahkan tidak peduli dengan pengunguman dari kantor guru. Saat hendak memakan lauknya, dia mengecup lalu menjilat baru memasukkannya ke mulut, saat akan mengnyah nya. Dia terkejut, punggungnya terasa sakit sedikit, makanan itupun terlempar keluar . Jung kook membalikkan badannya , dibelakangnya Taehyung –yang merupakan pelaku- diam dan matanya mengerjap. "yak! Apa?" ucap Jung kook. Taehyung mundur sedikit, memberikan ruang untuk Jung kook. Dia mendongak menatap mata Jung kook " kemarin, terima kasih" anak rambut Taehyung bergerak pelan mengikuti angin. Jung kook mencoba membalikkan badanya ke posisi semula, dan memakan bekalnya " santai saja. Aku sudah biasa". Taehyung belum beranjak, dia nampak ragu "terima kasih" ucapnya lagi, sedikit menundukkan kepalanya . Jung kook membalik kan badannya "sebaiknya kamu membelikanku beberapa makanan, dari pada kamu ber-terima kasih, itu terdengar menggelikan" Taehyung mendongak diam. " Tapi boleh aku bertanya?" sambil memakan kembali bekalnya Jung kook membalas perkataan Taehyung "iya, apa?" . " mangapa kamu tidak pernah belajar?" Jung kook mengehentikan kunyahannya., menatap Taehyung "tentu saja belajar, tapi jika aku belajar lebih giat, kemampuanku akan meningkat hebat. Hingga aku sendiri pun takut. Kau harus berhati – hati jika aku belajar, aku pasti akan mengalahkanmu" balas Jung kook sambil tersenyum melanjutkan kembali acara makannya. Baru saja selesai berbicara, pundaknya serasa dilempar sebuah benda,rupanya itu adalah bola basket. Yoongi datang menghampiri mereka. "ayo main" tantangnya. Jung kook menutup bekalnya. Yoongi dan Jung kook beranjak pergi. Taehyung diam melihat kepergian Jung kook.
.
.
Saat Jung kook akan pulang menuju rumahnya, terlebih dahulu ia membersihkan jari – jari roda sepeda kesayangannya dengan kain berwarna kuning. Dari arah belakang Tae hyung yang melihat Jung kook sedang membersihkan sepedanya bergerak mendekat. "Jung kook!" panggilnya. Jung kook belum menghentikan kegiatannya. Merasa diabaikan, Taehyung membuka tas yang berada disisi kiri tubuhnya, 'srak' lalu tangan kananya menusukkan sebuah pulpen – dengan ujung yang tumpul- ke arah punggung Jung kook. Jung kook kaget, membalikkan badannya. Lalu melepaskan headset yang sebelumnya menggantung di telinganya, menyampirkan kepundak kanannya. "apa?" balas Jung kook. Taehyung segera membuka tas nya lagi. Jung kook menaruh kain diatas pedal sepedanya. Tangan Taehyung terulur memberikan beberapa kertas " Ini adalah soal ujian yang kubuat sendiri, kerjakan dirumah." Jung kook menerima kertas – kertas tersebut. " besok, bawalah ke sekolah. Aku akan mengoreksinya" lanjut Taehyung. Jung kook membuka setiap lembarnya, menyeringai "yang benar saja!" lalu melanjutkan membersihkan membuka tasnya kembali mengambil sebuah buku bersampul biru yang tampak kusam termakan waktu, di tepukkannya buku tersebut kepundak Jung kook. "dan buku soal matematika ini, kerjakan tiga soal yang telah kutandai dengan tinta berwarna merah, setidaknya kau bisa mendapatkan nilai 50 ujian depan" Jung kook membolak – balikkan buku milik Taehyung. "hanya 50?" dia menolehkan kepalanya kebelakang. Ditaruhnya buku dan kertas pemeberian Taehyung "aku tidak pernah mengatakan bahwa memperbaiki nilai merupakan hal yang mudah, selesai mengerjakan soal ini, aku akan memberimu soal yang lebih sukar dari ini" Jung kook menatap malas angka – angka yang tertulis dikertas tersebut. "memangnya aku pernah berhutang padamu?" mengalihkan perhatian dari kertas – kertas "kenapa aku harus mendengarkanmu?". Taehyung melirik ke kiri, membenarkan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin. "aku hanya tidak ingin memandang rendah kamu" Jung kook berdecak kesal "sialan!". "nilai bagus bisa membuat seseorang memandang rendah orang lain, teruskan saja kalau begitu aku tidak peduli" Taehyung kesal "Yang aku pandang rendah bukan orang yang memperoleh nilai jelek, yang aku pandang rendah adalah orang yang dengan sendirinya tidak mau belajar giat tetapi memandang rendah orang yang giat belajar" setelah mengatakannya Taehyung lalu berjalan menjauhi Jung kook. Jung kook memelankan gerakan tangannya, memikirkan ucapan Taehyung. Dirinya menoleh kebelakang, namun Taehyung sudah berjalan jauh darinya.
.
Saat ini Jung kook sedang menikmati makan malamnya di kamar, seperti biasa ia tidak menggunakan pakaian. Sehingga kita dapat melihat tetesan keringat yang turun di setiap jengkal kook melewati ibunya yang sedang merapikan baju- baju miliknya "aigoo! Jung kook! Pakai baju sana!" Jung kook hanya menikmati makannanya dan berjalan menjauhi ibunya "kau bisa kena flu.." lanjut ibunya "mana mungkin? Guruku Bruce Lee! Aku tidak mungkin terserang flu" tukas Jungkook. " telan dulu baru berbicara" saran ibunya. Jung kook menghentikan langkahnya, kini dia sampai di meja belajarnya, melihat kearah soal dan buku yang tadi siang diberikan oleh Taehyung.
annyeonggg!^^
mian jarang update sekali update pendek - pendek ini gara-gara US *jambak rambut* hehe..
maaf, mungkin habis serangkaian ujian aku bisa update panjang - panjaaaanngg hwhehe.. makasih review, fav sama follow.
reviewnya ditunggguuu : itung2 kenalan gt, hehehe
