Hallo, everyone! Ada yang nungguin FF ini? Nggak ada? Okay, that's fine XD. Chapter 2 udah saya selesaikan dengan secepat mungkin. Well, ini bakal jadi terkahir kali saya update kilat ya, soalnya beberapa hari kedepan, saya udah mulai beraktivitas seperti biasa. Harap lebih sabar untuk kedepannya, ya :) Yaudahlah, ini saya persembahkan untuk semua, happy reading, everyone~
THIS STORY BELONGS TO SLEEPLESSBEAUTY9.
DO NOT RE-UPLOAD THE TRANSLATION.
The EXOtic Dancer
Chapter 2: Gin and Tequila
"Jadi, bagaimana menurutmu?" sang penari menggambar lingkaran tak beraturan di dada Chanyeol.
"Ingin bersenang-senang bersamaku?"
Chanyeol meletakkan tangannya disekitar pinggang ramping sang penari "You know I do."
Sang penari tersenyum sangat manis kepada Chanyeol, yang membuat perutnya berputar-putar tanpa alasan yang jelas, lalu sang penari turun dari pangkuannya. Ia melemparkan ciuman selamat tinggal pada penontonnya dan mengatakan bahwa waktunya sudah habis. Terdengar seruan kekecewaan dari kerumunan itu saat sang penari mengumpulkan uangnya dan menyelipkan ke dalam celananya. Dia lalu menggenggam tangan Chanyeol dan membimbingnya menuju back stage. Sebuah tanda berlabel Champagne Room berkilau dengan lapisan cat berwarna emas.
Mungkin Kris benar. Pikir Chanyeol. Mungkin aku memang membutuhkan ini.
Chanyeol terpukau dengan kecantikan sang penari saat ia menuntunnya menuju tempat yang lebih sempit, pencahayaannya lebih terang dibanding dengan di dance floor. Mata berhias eye liner itu tak berhenti menatap Chanyeol seakan ia sedang menelanjangi Chanyeol dengan matanya. Kumpulan dollar kusut dan basah mengintip di balik celana kulit ketat sang penari, membingkai pinggang rampingnya. Dia sedikit lebih pendek darinya, tapi Chanyeol tidak masalah dengan itu. Ia suka pria-nya lebih pendek darinya. Jemari mereka saling bertaut. Ia bisa merasakan jika tangannya mulai berkeringat.
Sang penari benar-benar seksi, dan Chanyeol tak bisa melakukan apapun selain lebih bernafsu.
Terdapat beberapa pintu kayu berwarna merah dengan berbagai macam nomer terpahat disana. Desahan dan suara-suara seksual terdengar lirih ditengah dentuman musik yang dimainkan. Sang penari berhenti didepan sebuah pintu dengan nomor 48 terpahat disana. Ia membuka pintunya dan menyuruh Chanyeol masuk ke sebuah ruangan dengan pencahayaan yang remang-remang. Terdapat sebuah kursi kulit berwarna putih, sebuah tiang tarian, dan sebuah meja kecil di dalam ruangan yang cukup kecil itu.
Sang penari mendorong Chanyeol menduduki kursi kulit. "Kau ada uangnya, baby?"
Kepercayaan diri yang ia punya barusan tiba-tiba meluntur. Chanyeol menatap sang penari beberapa saat sebelum menepuk-nepuk celana jeans-nya. Ia menyentuh saku belakangnya, dan mengeluarkan kumpulan uang kertas $20 yang Kris berikan padanya. Beberapa lembar uang jatuh ke lantai saat ia menunjukan uangnya kepada sang penari dengan wajah polos.
Mata sang penari berkilau di hadapan uang. Ia tersenyum, meletakkan jarinya yang ramping di sekitar bibirnya sendiri. "Kau pasti menginginkan lebih dari sekedar tarian dengan uang sebanyak itu."
Chanyeol menatap uang di tangannya dan sang penari secara bergantian sebelum rona merah menjalari pipinya. "Uh, aku-"
Sang penari terkikik "Kau lucu." Ia mendudukkan dirinya diatas pangkuan Chanyeol, jarinya yang ramping dan cantik membelai rambut Chanyeol yang bergelombang. "Aku Baekhyun."
"Ch-Chanyeol" Ia tergagap, menatap lurus pada mata berhias eye liner-nya. Dammit, he's fucking hot.
"Chanyeol." Baekhyun bicara dengan sangat menggoda, lalu menggigit bibir bawahnya. "Aku budakmu malam ini, katakan padaku apa yang kau inginkan."
-The EXOtic Dancer-
"What a sexy ass," Kris bersiul pada bartender yang berada di belakang counter ketika ia duduk di salah satu kursi.
Sang bartender mengalihkan perhatiannya kepada pemilik suara yang familiar. Bola matanya yang hitam berkilau seperti kembang api di langit malam ketika ia menatap pria blonde tersebut. "Hey, baby." Ia mengambil gelas yang berada diatas kepalanya. Punggungnya terlihat saat kausnya ikut terangkat ke atas. "Kau ingin Gin dan Tonic-mu seperti biasa?"
Si pria blonde menganggukkan kepalanya dan melihat Tao membungkukkan badannya untuk mengambil alkohol yang tersembunyi di bawah bar. Kausnya terjatuh mengikuti gerak tubuhnya, memamerkan dadanya yang berisi. "Kapan aku bisa mengajakmu bersenang-senang?" Ia menyeringai.
Tao meletakkan gelas di atas meja bar dan menjilat lidahnya sambil membuat minuman untuk Kris. "Mungkin, setelah jam kerjaku usai.."
"Kenapa kau harus menggodaku sih?" Ia menatap Tao yang meletakkan potongan lemon di sisi gelas. Kris mengambil minumannya dan menempelkan di bibirnya dan berkata, "I just want to fuck you." lalu menyeruput minumannya.
Tao tersenyum main-main dan mendekat pada Kris, tangannya bersantai diatas meja bar. "Apa enaknya jika aku memberikan apa yang kau inginkan secepat itu?"
Kris menyeringai dan mengembalikan gelasnya ke atas meja, matanya bertemu dengan tatapan main-main Tao "Karena aku tahu, kau ingin aku mempermainkan pantat besar milikmu."
Tao mengejek dan menempatkan satu jarinya diatas bibir Kris. "Baby, untuk mendapatkanku, kau harus mengikuti aturanku malam ini."
Ia mengerutkan alisnya. "Oh, yeah? Dan apa aturan itu?"
Sang bartender mendorong tubuhnya lebih dekat dan berbisik di telinga Kris. "Jika kau berkelakuan baik hingga jam kerjaku usai setelah pukul 2, akan kuberikan apa yang selama ini kau tunggu."
Kris menggigit bibirnya ketika ia merasa nafas Tao yang hangat di sekitar telinganya. "You little slut. I'm going to fuck you until you can't walk."
Tao tersenyum dan kembali melayani tamu-tamu yang lain, menggoda Kris dengan caranya menggerakkan badan. Kris menatapnya seperti seekor hewan buas mengikuti mangsanya, menunggu kesempatan yang tepat untuk menerkam.
-The EXOtic Dancer-
Sehun menempelkan rokok di bibirnya saat orang lain menyalakan untuknya di dalam ruangan privat dance. Ia menutup matanya, menghirup asap marijuana kedalam paru-parunya, mendiamkannya sebentar, lalu menghembuskan sisanya ke udara. Matanya membuka dengan perlahan, kembali sadar dari kenikmatan yang diraihnya.
"Kemana pelacur itu?" Seorang pria berteriak.
"Aku ingin pantat-nya malam ini." Pria lain berteriak.
Sehun menatap remeh pada sekumpulan pria paruh baya yang tidak bisa bersabar di dalam ruangan. Ia menyombongkan dirinya, ia pikir mereka semua terlihat menggelikan lalu ia tertawa sendiri, mengejek. Sorry guys, jika ada yang memiliki Luhan malam ini, itu adalah aku.
Lampu di ruangan itu mulai meremang dan musik pun dimainkan. Kerumunan orang-orang itu bersorak dan bertepuk tangan ketika sang penari muncul dari balik tirai merah dan memamerkan kepiawaiannya di tiang tarian.
Sehun bersiul saat ia melihat sang penari menaikkan kausnya, menunjukkan six-pack abs-nya. Ia menghirup lagi rokoknya, tanpa mengalihkan pandangannya dari hal eksotis yang dilihatnya, Luhan. Sehun merasa tubuhnya memanas ketika ia menatap Luhan. Seorang pria berwajah malaikat yang tahu bagaimana cara untuk bergerak dan memuaskan penontonnya. Uang berhamburan di udara dan menari-nari di sana.
Luhan menaiki tiang tarian, otot lengannya menegang ketika ia melakukannya. Ia meletakkan kakinya di tiang tarian dan memutar-mutar beberapa kali sebelum ia menyentuh dirinya sendiri dari atas ke bawah. Rambut coklat terangnya menjuntai dan beberapa tetes keringat jatuh ke lantai. Mata ber-eye liner-nya menatap tajam para penonton, menelan semua energi penuh gairah yang mereka berikan untuknya. Ia tersenyum senang ketika melihat seseorang yang familiar sedang duduk di kursi penonton ketika lagu yang dimainkan hampir selesai.
Lagu yang baru mulai berputar dan Luhan memutuskan untuk pelan-pelan menuruni tiang tariannya. Ia mulai menuruni panggung dan berjalan menuju seseorang yang berwajah familiar itu. Nafasnya terengah-engah, ia mulai duduk di pangkuan Sehun, mengistirahatkan kepalanya pada bahu lebar Sehun. Tangannya bergerak ke belakang dan menggerakkan jari-jarinya membelai leher belakang Sehun, memandang pria blonde itu secara seduktif. "Kau datang lagi."
"Tentu saja," Sehun mendesah saat ia merasakan pantat Luhan bergesekan intens dengan celana jeans ketatnya. "Kau tahu aku selalu merindukan penampilanmu."
Luhan tersenyum dan melengkungkan punggungnya sambil memutar pinggulnya. Para penonton menjadi semakin liar. Ia memutar badannya yang lebih kecil di pangkuan Sehun, jadi mereka berdua berhadapan sekarang. "Kau ingin private dance lagi di Champagne Room milikku, kan?"
"Jika kau mengijinkanku, suara-suara yang kau buat membuatku lupa daratan." tatapan mata Sehun berubah menjadi penuh nafsu.
Luhan meneruskan kegiatannya sambil menyeringai kepada Sehun. Ia berpegangan pada kerah leher baju Sehun, mendekatkan wajah Sehun ke wajahnya sendiri. "Kau tahu aku senang menyenangkanmu. Biarkan aku membuatmu gila."
-The EXOtic Dancer-
Kyungsoo baru sadar jika tubuhnya sudah menempel di dinding, tangannya dipegang diatas kepalanya dan dagunya diangkat agar bertemu dengan tatapan menggoda sang penculik.
"Kau takkan bisa lari dariku." Pria berambut cokelat gelap dengan bibir plump itu menampilkan senyuman yang bisa melelehkan ribuan hati "Aku tidak mengerti kenapa kau terus mencoba lari dariku." Sau tangannya yang bebas menyentuh kulit pucat dan halus Kyungsoo. "Kau tahu aku hanya akan menangkapmu kapanpun aku mau."
Wajah Kyungsoo memerah dan memalingkan pandangannya. "J-Jongin, please…" ia mencoba melepaskan tangannya.
"Please what?" Jongin mendekat ke telinganya. "Aku tidak akan tahu mau-mu jika kau tidak mengatakannya padaku." Ia berbisik di telinganya dan menuntut, "Katakan padaku apa yang kau mau."
Mata Kyungsoo tertutup karena kata-kata Jongin terasa seperti mengaliri seluruh tubuhnya. Ia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi segalanya hanya sampai di kerongkongannya dan ia merasa kelu.
Jongin menatap wajah penurut Kyungsoo. "Kau terlihat sangat polos." Ia menempatkan salah satu kakinya diantara kaki Kyungsoo, membuat pria yang lebih kecil menggeram. Ia memperkuat pegangannya disekitar pergelangan tangan Kyungsoo lalu tangannya yang lain membelai pinggangnya. "Aku harus merubahmu. Kau akan jadi mainan baruku."
Kyungsoo merasa tubuhnya meleleh oleh sentuhan Jongin. Akhirnya ia menyerah, menjilat bibirnya sendiri dan berbisik, "Use me as your toy all night long."
-The EXOtic Dancer-
Caranya menari membuatku bernafsu. Bagaimana keringat itu mengalir di dadanya membuatku lebih menginginkannya. Ia benar-benar menggoda…
Chanyeol merasa dirinya become hard ketika melihat Baekhyun menari di hadapannya. Caranya menggerakkan tubuh membuatnya terpana. Jemari yang ramping tapi kuat itu menggoda tubuhnya sendiri membuat Chanyeol menginginkan jemari indah itu di tubuhnya. Cara Baekhyun menjilat bibirnya membuat Chanyeol menginginkan bibir itu menempel di miliknya. Api di matanya memanas dan membakar tubuhnya dengan segala kerakusan yang dimilikinya.
Sejalan dengan lagu yang berakhir dan lagu yang lain dimulai, Baekhyun melepas kausnya dan menyingkirkan kaus itu tanpa peduli lagi.
Mata Chanyeol memangsa kulit seputih susu milik Baekhyun. Ia merasa keinginan untuk menyentuh sang penari meningkat, tapi itu tidak dilakukannya, ia malah mencengkeram kursi kulit itu.
Baekhyun menyeringai setelah ia memutuskan untuk menyudahi tariannya. Ia berjalan ke arah meja di samping kursi yang di duduki Chanyeol dan membuka sebotol Tequila. "Mind if I have a shot?"
"Tentu saja tidak, silahkan saja." Ucap Chanyeol, matanya tak lepas dari sang penari.
Baekhyun meletakkan botol itu ke bibirnya sembarangan, mendongakkan kepalanya, dan membiarkan cairan itu memasuki tubuhnya. Beberapa tetes cairan itu melewati bibirnya dan menuruni lehernya.
Chanyeol memiliki keinginan kuat untuk menjilat cairan itu.
Baekhyun menelan cairan itu, melepaskan desahan lega. Dia menatap pembelinya masih duduk di kursi kulit tersebut. Ia memutar lidahnya di bibir botol. "Kau juga mau?" Ia bertanya.
Chanyeol hanya bisa mengangguk.
Sang penari meletakkan botol itu ke bibirnya lagi, meneguk isinya. Ia menempatkan botol itu kembali ke tempatnya. Ia mendekat ke arah kursi, naik ke pangkuan Chanyeol, mereka berhadap-hadapan, menempatkan tangannya di pipi Chanyeol, dan menempelkan bibir mereka.
Chanyeol merasakan Tequila itu memenuhi mulutnya. Ia menelannya dengan cepat dan meletakkan tangannya di pinggang Baekhyun, memegang pantatnya dengan kuat.
Baekhyun mendesah ketika ia merasakan tangan Chanyeol pada tubuhnya. Ia membuka bibirnya dan menatap Chanyeol lapar. "Apa yang kau inginkan, Chanyeol?" ia bertanya dengan bibir yang masih menempel di bibir Chanyeol.
"Aku sangat menginginkanmu." Ia kembali menempelkan bibirnya di bibir Baekhyun dan meletakkan tangan besarnya di punggung Baekhyun. "I want to fuck you so bad." Ia memohon di sela-sela ciumannya.
Baekhyun membuka mulutnya, membutuhkan udara. Chanyeol mengambil kesempatan ini untuk memasukkan lidahnya kedalam mulut Baekhyun, mengeksplor setiap inchi. Baekhyun menyudahi ciumannya sambil mengisap bibir bawah Chanyeol. "You can have me any way you want."
To Be Continue
So, what do you think guys? Makin penasaran? Haha XD Just let me know your opinion about this fiction, okay?
Read the original story:
story/view/601910/1/the-exotic-dancer-romance-smut-exo-hunhan-taoris-baekyeol-kaisoo
Once again, thanks to sleeplessbeauty9 who gave me a permission to translate this awesome fiction.
See ya in the next chapter and don't forget to be a good reader, guys. A good reader, always leave their sign!
Byee~~
