Naruto milik Masashi Kishimoto

Aku tidak mengambil keuntungan dari fic ini-kecuali kesenangan hati

WARNING: OOC untuk keperluan cerita. Typo yang mungkin akan readers temukan. School life.

Genre: Romance - Friendship (Aku kurang mengerti genre. Mohon bimbingannya)

.

.

.

.

Enjoy

.

.

.

.

Ingin rasanya aku menampar wajahku sendiri…

Atau mungkin menampar wajahnya yang sok serius dan sok tidak peduli.

Tidak memerhatikan kah dia bahwa kami terus menjadi teman satu kelompok? Dan uniknya, itu bukan kehendak kami sendiri.

Guru yang memilihnya.

Dari pelajaran bahasa inggris, kesenian, matematika, sosiologi, fisika dan lain-lain.

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARGH

Kenapa dia terus sih?

Lama-lama aku akan berpikir bahwa dia jodohku gara-gara satu kelompok terus!

Haaaaah.

Well, sekarang aku terjebak dalam suatu kelompok diskusi.

Anggotanya itu adalah aku, Ino, Tenten, Kiba dan Naruto. Kami ditugaskan untuk membuat tempat makan burung oleh guru kesenian. Aku bahkan tak tahu apa hubungan antara tempat makan burung dengan kesenian.

Ini kesenian.

Bukan keterampilan.

Kesenian.

Guru gila itu menyuruh kami membuat tempat makan burung.

Bayangkan…

Guru kesenian…

Cukup.

Aku menghela napas frustasi.

Kau tahu? Tanganku tidak terampil.

Aku tak bisa menggunting sesuatu dengan rapi. Aku tak bisa melipat sesuatu dengan baik.

Dan mereka malah memintaku untuk melakukan sesuatu yang lebih mustahil lagi.

Menggambar.

"Jangan aku! Aku tak bisa menggambar pola! Oh ayolah, Ino!"

Ino mengabaikan ucapanku. Ia bersikeras bahwa aku bisa melakukannya dengan baik. Tapi kenapa aku kebagian menggambar sih?

Aku mengentak-entakkan kakiku.

Dasar menyebalkan.

Aku kembali duduk setelah tadi mengejar-ngejar Ino, memintanya untuk ganti tugas denganku.

Menghela napas yang sangat luar biasa dalam.

Aku akan berusaha sekuat tenaga.

Aku akan berusaha.

Tapi apa yang harus aku gambar? Aku kan tidak tahu tempat makan burung itu bentuknya seperti apa. Aku juga tidak tahu apa yang dimaksud dengan menggambar pola.

Aku merasakan seseorang mengisi bangku di sebelahku.

Naruto.

Aku memberikan pandangan sinis.

"Apa?" ucapnya.

Aku mengangkat bahu.

Ia menarik kertas gambar yang Ino berikan padaku dan mengambil pulpen yang sedang kupegang.

"Sini, biar aku yang menggambar," ucapnya.

Aku hanya diam. Memerhatikan.

Dia mulai menggoreskan pulpen itu, menggambar pola tempat makan burung yang seharusnya sudah kukerjakan sejak tadi.

Gila…

Orang ini bisa melakukan apa saja!

Ia mengangkat sebelah alisnya. Menatapku.

"Kenapa?" tanya Naruto. Aku menggelengkan kepala dan tersenyum senang kepadanya.

"Kau mengerjakan tugasku, terima kasih! Kau tahu, tugas itu sangat merepotkan! Setidaknya untukku."

Ia mengangguk dan nyengir.

Gambarannya telah selesai. Ia bangkit dan memberikan kertas itu pada Ino.

Aku?

Aku di sini tertegun.

God… damn!

"Ayo kita ke lapangan bawah! Kita harus membuat video pembukaannya!" teriakku.

Kiba mengambil bola basket yang berada di ujung lapangan, ia menyerigai.

"Aku ingin di shoot saat sedang bermain basket," ucapnya.

"Aku juga mau!" kata Tenten.

"Bagaimana jika semuanya di shoot saat bermain basket saja? Ayo cepat. Aku ingin pulang," kataku.

Aku mengambil kamera yang ditinggalkan Kiba di pinggir lapangan dan berlari menyusul mereka.

Ino berkacak pinggang, berteriak-teriak menyuruh Kiba dan Tenten untuk berhenti berebut bola basket. Menyadari kehadiranku, Ino menoleh dan berkata, "lihat mereka! Begitu kekanakan! Kenapa salah satu diantara mereka tidak ada yang mau mengalah dan menunggu giliran? Merepotkan!"

Aku terkekeh.

Tenten memenangkan bola tersebut. Ia menjulurkan lidahnya, meledek Kiba.

Kiba mendengus dan menghampiri Naruto yang duduk di bawah pohon.

"Ayo, Tenten! Dribble atau masukan saja bola itu ke ring-nya!" teriak Ino.

Kamera siap di tanganku. Video sudah dinyalakan.

"Ya… Siap! Action!"

Yah… masing-masing orang melakukan hal yang sama.

Tidak sama juga sih… Ino hanya membawa bola itu bersamanya dan memperkenalkan diri pada kamera, Tenten tidak berhasil memasukkan bolanya, jadi ia hanya men-dribble dan melemparkannya pada Kiba. Kiba, dengan kerennya—percayalah bahwa aku tidak dipaksa olehnya menulis kata "keren"—memasukan bola itu ke dalam ring dan berteriak kegirangan lalu memberika bola basket itu pada Naruto.

Naruto—yang ternyata sejak tadi berada di sampingku—nyengir dan mulai men-dribble bola itu. Ia menuju ke ujung lapangan dan berlari sambil—lagi-lagi—men -dribble bola basketnya. Entah ia berniat pamer atau apa, tapi ia melakukan putaran di udara yang well… um… lumayan dan um… memasukkan bolanya ke ring.

Kiba bertepuk tangan, Ino dan Tenten berteriak "Keren" pada saat yang bersamaan.

Aku memutar bola mataku.

Naruto melempar bola basket itu padaku.

Aku menangkapnya dengan bagus.

Well, aku tidak begitu berbakat dalam bidang olahraga manapun. Aku hanya akan mencoba men-dribble seperti yang lain.

Aku berjalan ke tengah lapangan, panasnya matahari membuat keringatku bercucuran. Yah… semoga saja keringat ini keluar memang karena matahari.

Aku menghela napas.

Astaga… apakah men-dribble bola basket itu sesulit ini?

Tentu saja tidak.

Tubuhku otomatis berlari. Tanganku, tentu saja men-dribble bola. Apa lagi yang kau harapkan, eh?

Dan… tak perlu kujelaskan apa yang terjadi selanjutnya.

Atau harus?

Apakah aku harus menjelaskan bagaimana aku melempar bola basket itu ke ring dan yang dilakukan bola sialan itu bukannya masuk tapi malah memantul ke arahku—yang memang berdiri cukup dekat dengan tiang ring—lalu mengenai kepalaku?

Aku mengeluh pelan. Kudengar Kiba tertawa, Ino terkikik dan Naruto nyengir. Aku tak tahu Tenten ada di mana. Bukan urusanku juga dia ada di mana.

Aku mendengus.

Pusing.

Aku berjalan sempoyongan.

Aku berjalan sambil menatap kakiku.

Tubuhku hampir jatuh, sampai ada seseorang yang memegang lenganku.

"Awas jatuh. Nanti rokmu kotor."

Aku mendengus lagi.

Aku mendongak.

Naruto.


.

Pikiranku sedang dipenuhi dengan hal-hal tidak penting

Sungguh tidak penting.

Dan kenapa bisa-bisanya aku memikirkan dia?

Aku mengingat kembali perasaan yang mendatangiku saat aku melihat bola mata berwarna biru miliknya.

Rasanya wajahku memanas. Rasanya aku tak sanggup lagi bertemu dengannya.

Seperti… malu… mungkin? Tapi jika memang itu adalah rasa malu, berarti itu adalah rasa malu yang menyenangkan.

Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat.

Kenapa bisa-bisanya? Astaga…

Dia tidak tampan sama sekali! Gantengan juga Uchiha Sasuke daripada Naruto!

Tapi aku…

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaargh

Aku menjambak rambutku dengan frustasi.

Aku harus berhenti memikirkan si pirang itu sebelum aku mulai gila.

Aku menarik napas dalam-dalam.

Berhenti…

Berhenti…

Berhenti…

Astaga…

Senyumannya manis sekali.

Rrrrrrrrrrr….

Stop!

Aku mencoba memejamkan mataku. Berusaha menjemput mimpi.

Tapi si pirang itu tetap muncul juga.

Haaaaaaaaah, ya sudahlah. Siapa tahu dengan membayangkan dia, aku akan mimpi indah.


.

Hari ini hari apa?

Kemarin aku menonton Doraemon, jadi kemungkinan besar hari ini adalah Senin.

Aku mencari-cari handphone yang semalam kuletakkan di bawah bantal.

Sambil menyesuaikan mataku, aku membuka kunci handphone.

Jam 5.

Aku harus berangkat ke sekolah jam 06:30. Jadi, ini waktu yang tepat untuk bangun.

"Sakura! Ayo cepat turun! Ayahmu sudah menunggu!"

Aku berlarian menyusuri tangga, menyambar roti dan mengecup pelan pipi ibuku.

"Aku berangkat!"

Ayahku menunggu di dalam mobilnya. Aku masuk dan duduk di kursi depan. Memakan sarapanku.

Gara-gara si pirang sialan itu, aku menghabiskan satu jam di kamar mandi hanya untuk memikirkannya.

##

Jalanan begitu ramai. Mayoritas dipenuhi oleh anak-anak sekolah, entah yang diantar oleh orangtua mereka ataupun yang membawa kendaraan sendiri.

Aku menatap ke arah kiri. Menma-san sedang menyebrangkan murid-murid Konoha Gakuen.

Tak ada Naruto.

Memang kebiasaanku sekarang mencari-cari keberadaannya.

Ia membuatku tak sehat!

"Ada apa, Sakura? Apa salah satu dari mereka temanmu?" tanya Ayah.

Aku menatapnya dan menggeleng.

Pandanganku lurus ke depan.

Kini Ayah sedang bersiap-siap untuk putar balik ke arah Konoha Gakuen.

"Ck, lama sekali mobil itu," gerutu Ayah.

Aku memerhatikan mobil itu.

Warnanya Hijau tua. Sangat tua. Hijau kehitaman, jika boleh kubilang.

1131

Plat nomernya 1131…

Aku membelalak.

Naruto berada tepat di depanku!

Yah… bahkan sekarang aku hapal plat nomer mobilnya. Tapi bukan itu masalahnya sekarang!

Ia. Ada. Di. Depanku.

Mobilku berhenti tepat di belakangnya.

Kulihat ia turun dari mobil.

Aku segera mengecup pipi Ayah dan turun.

Mencoba stay cool, aku berjalan ke gerbang.

Ia masih di sana dan melihat ke arahku.

Nyengir.

Well… aku harus membalas cengirannya bukan? Lagipula, aku memang tak bisa menahan cengiranku.

Ia tetap bertahan dengan cengirannya.

Aku terkikik.

"Kenapa?"

Aku menggeleng.

Ia memutar bola matanya.

Aku terkikik lagi.

"Kenapa?" Ia bertanya dengan nada keheranan.

Aku menggeleng.

Kami berjalan ke tempat absen.

Jadi, sistem pengabsenan di sekolahku adalah dengan cara fingerprint.

Tempelkan jarimu pada sesuatu yang berwarna hijau—aku tak tahu namanya apa—di alat itu, lalu benda itu akan berkata "Thank You" jika datamu diterima dan jika tidak, benda itu akan berkata "Try Again".

Dasar teknologi.

Ia menempelkan jarinya di alat fingerprint di sebelahku. Bunyi "Try Again" terdengar.

Aku tertawa meledek.

"Ha! Seperti kau kurang beruntung," ledekku.

Aku menempelkan jariku pada alat di sebelahnya.

Bunyi yang sama terdengar.

Kali ini dia yang tertawa.

"Sepertinya di sini ada yang sedang kurang beruntung."

Aku mendengus.

Ia menempelkan jarinya lagi, lalu mesin itu berkata "Thank You"

Ia menoleh padaku.

Karena dilihat seperti itu, aku pun menempelkan jariku pada mesin fingerprint.

"Thank You"

Aku tersenyum puas.

Ia terkekeh.

"Ayo kita ke kelas," ajaknya.


Haruskah kuproklamasikan sekarang?

Baiklah…

Sepertinya aku jatuh cinta pada lelaki ini


A/N

It's getting boring, isn't it? Atau memang membosankan dari awal? XD

Well, sekali lagi terima kasih buat yang sudah membaca dan me-review!

Ishida: Aku ga bisa ngasih tau sekolah aku di sini XD Kalo memang sangat luar biasa penasaran, tanya lewat PM aja XD

Yah, silahkan menunggu chapter depan buat yang masih penasaran (Padahal ga ada yang bikin penasaran XD Yah, emang ga ada XD)

Let me know what u think about this fic by clicking the review button :D