Title : You're My Angel

Writer : Takigawa Aihara

Disclaimer :

- The Prince of Tennis punya Opah Konomi yang masih kuat lanjutin serial pangeran kesayangan saya /dor

- 'Wherever You Are' milik ONE OK ROCK sekeluarga.

- 'You're My Angel' milik saya selaku penulis.

Soundtrack : ONE OK ROCK – Wherever You Are

Note : Alpha pair. AU.

Warning : Death chara. Boy x Boy, Typo, Fluff, Slash, Lemon, PWP.

Maegami

Minna! Akhirnya selesai juga! Hueee~! FF terpanjang saya melampaui 12.000 words! Arigatou! Terima kasih untuk para OTP saya khususnya Papa Kane-Mama Ouji, yang sudah menyiksa saya selama 3 tahun ini dengan hint-hint anda yang gak pernah sampe kelar. Terima kasih, kalian cukup bikin saya gila membayangkan adegan pocky game saat nicofarre kemarin! *kubur diri*

Cerita yang saya selesaikan selama 5 hari ini, mempunyai kenangan tersendiri untuk saya. Dan akhirnya 2 cerita pun lahir dalam jangka waktu liburan sebulan saya. (biar kesannya produktif)

Akhir kata, terima kasih sudah mengikuti, selamat membaca,

DOUZO, OTANOSHIMI NI!

"Whatever you say..."

"Keputusan kapan memberitahukan pasien ada di tangan anda. Mengenai penjelasan, silahkan dilakukan, baik dari pihak keluarga maupun pihak rumah sakit. Namun yang pertama akan saya jelaskan mengenai penyakit ini adalah pihak keluarga,"

Sepulang kerja sore ini, tanpa sempat menemui Seiichi, Genichirou sudah harus menghadapi dokter bagian penyakit internal.

"Penyakit yang diderita Yukimura-san bukanlah Demam Berdarah, melainkan ITP,"

"ITP?" sudah dipastikam Genichirou takkan mengerti dengan apa yang dokter tersebut bicarakan karena pemahamannya hanya sebatas input angka dan pemasukan per kuartal bagi perusahaan.

"Idiopathic Thromobcytopenic Purpurae, penyakit darah, gangguan trombosit," dokter tersebut mulai memberikan penjelasan dasar.

Mendapati hal baru terlebih mengenai Seiichi, Genichirou pun mulai menegakkan posisi duduknya, untuk mendengar penjelasan lebih serius.

"Jika dalam tubuh manusia normal trombosit akan ber-regenerasi pada jangka waktu 10 hari, maka kasus ITP hanya sampai jangka waktu 2-3 hari bahkan hanya beberapa menit saja, dan untuk Yukimura-san,..." dokter tersebut merogoh berkas yang nampak terletak dalam laci penyimpanan, "... hanya 2 hari,"

Ada hentakkan kecil dalam dadanya. Menyebabkan ia sulit bernafas, namun dirinya memaksa untuk nampak bersikap tenang.

"... destruksi trombosit prematur ini, memperngaruhi jumlah trombosit normal dalam darah sehingga berkurang dari normalnya 150.000 / mm3,"

"Seiichi..."

"Yukimura-san saat ini hanya memiliki 100.000 / mm3, dan itu dapat menyebabkan pendarahan. Menurut keterangan yang tadi kami dapat, pendarahan ini sudah dimulai dengan munculnya mukosa pada kulit dan pendarahan pada gusi,"

"Bercak merah itu..."

"Ya... mukosa itu, merupakan gejala awal penurunan trombosit yang menyebabkan ITP. Jika trombositnya kurang dibawah saat ini, maka pendarahan internal yang akan menjadi gejala selanjutnya,"

"Adakah pengobatannya, sensei...?"

"Pasti ada. Saat ini kami tengah mengusahakan pengobatan steroid, mari kita lakukan untuk jangka 1 bulan ke depan. Jika evaluasi kami setelah 2 minggu menunjukkan peningkatan trombosit, maka pengobatan ini akan kami hentikan,"

"Tidak memerlukan jalur operasikah?"

"Jika dalam satu bulan tak menunjukkan peningkatan, maka kami akan melakukan operasi pengangkatan limpa. Tapi tentunya operasi tersebut akan sangat beresiko,"

"Mohon bantuannya, sensei,"

=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=

Pemandangan luar jendela nampak begitu cantik dengan rona jingganya. Matahari sudah bersiap terlelap karena tugas hari ini sudah selesai.

CLECK!

Fokusnya teralihkan dari pemandangan selatan Kanagawa ini, setelah bunyi suara pintu terbuka mengusik gendang telinganya. Genichirou tengah menutup pintu saat Seiichi menolehkan pandangannya pada asal suara.

"Gen-chan!" seru Seiichi girang.

Yang disapa terkekeh. Nampak raut kelelahan terlukis di wajahnya, namun senyum tersebut seolah lelah yang dirasa tak seberapa dengan perasaan dalam hatinya, "bagaimana hari pertama-mu di rumah sakit?"

"Bosan," jawab Seiichi cepat.

"Hee? Begitukah?" Genichirou langsung mengambil posisi duduk di samping pemilik rambut ikal tersebut.

"Para perawatnya mungkin ramah, Yagyuu-sensei pun baik kepadaku, tapi... rasanya tak nyaman kalau bukan rumah," curhat Seiichi.

Mendengarnya dengan setengah hati karena pikirannya masih mengawang dengan penjelasan sang dokter barusan, Genichirou hanya memberikan sesimpul senyum miliknya.

"Bagaimana denganmu hari ini?" gantian Seiichi yang menanyakan pekerjaannya di luar sana.

"Semakin mengganas saja," keluh Genichirou, "aku mungkin akan menjadi sibuk karena musim panas akan segera tiba, dan itu tandanya Kantou akan mengalami high-season," tersirat rasa bersalah pada pandangan yang kini menatap Seiichi.

"Pasti kau akan capek," komentarnya mengusap-usap pipi yang segaris dengan kantung hitam di bawah mata pria tersebut.

"Maafkan aku ya," menghentikan sapuan ujung jemari tersebut, Genichirou menggengam telapak mungil Seiichi.

"Untuk apa?"

"Untuk takkan selalu ada untukmu,"

Seiichi tertawa kecil. Terdengar serak di ujung kerongkongannya, "yang seharusnya mendapat perhatian lebih itu dirimu," iseng dipencetnya hidung Genichirou yang sedikit berminyak, "sesampainya di apartemen kau pasti tak mendapatkan makanan sehat seperti biasanya, karena kau akan lebih sering membeli di konbini," komentar Seiichi.

"Kenapa kau mengetahuinya?"

"Karena itu sifatmu. Walau Cuma masakan simpel, tapi cobalah mulai masak ya, karena tak baik jika terus menerus makan makanan instan," kedua tangan Seiichi terjulur untuk menepuk rahang kokoh laki-laki itu.

"Ya, akan kuingat. Kau... cepat sembuh ya, kasur dingin tanpamu,"

君を思う気持ち、

"The feelings when I think about you..."

"Kemungkinan trombosit menurun sangat kuat, karena Yukimura-san terlambat diperiksa,"

Menutup pintu apartemennya yang sepi, Genichirou tak lagi mampu melangkah ke dalam. Tubuhnya limbung bersandar pada daun pintu, hatinya berat, menyesakkan dada.

Kata-kata dokter tersebut masih terngiang di kepalanya. Masih belum mampu menceritakan semuanya kepada Seiichi, ia memilih menanggung semuanya sendirian sampai saat ini. Lebih sesak dari dinginnya Yokohama pada musim dingin, lebih berat menghadapi kerugian perusahaan karena inflasi bank dunia besar-besaran. Seperti sesorang hendak mencuri sesuatu yang berharga bagimu, namun kau tak bisa apa-apa untuk mencegahnya.

"Seiichi..."

Lirih suara memanggil nama tersebut. Memeluk lututnya erat, Genichirou merapal doa dalam hati. Berharap ini semua hanya mimpi, namun nampak tak mungkin, jika ketika bangun esok pagi ia mendapati kekasihnya itu membangunkannya dengan senyum dan aroma kopi robusta yang baru diseduh.

Merangkai prasangka negatif dalam pikirannya, ditambah berat beban pekerjaan hari ini serta keadaan hati yang tak menentu, akhirnya semua tertetes dalam sebulir airmata yang mengalir melewati kelopak, pipi dan hidungnya.

Tak ingat kapan terakhir kalinya ia menangis. Mungkin saat Genisamu—sang ayah, memukuli dirinya yang masih SD dengan rotan karena membolos latihan di pagi hari. Saat sang bunda pergi untuk selamanya pun, ia hanya bisa terpaku berdoa semoga yang dilihatnya kali ini hanyalah mimpi.

Namun doa itu tak pernah terkabul.

Dan kali ini Seiichi. Ia belum pergi, masih ada. Namun nampaknya akan sakit sekali jika untuk kedua kalinya Genichirou merasakan kehilangan. Merasa tak yakin akan bisa menahan tangis untuk yang kedua kalinya, ia berusaha untuk mempertahankan Seiichi di sisinya.

Jika ada kelemahan dalam dirinya, maka kelemahannya itu adalah Seiichi.

"I promise you forever right now,"

Jika di waktu-waktu semacam Tahun Baru saja ia rajin mengunjungi kuil, maka kali ini setiap pagi ia mengunjunginya barang memanjatkan doa. Dilemparkannya koin 100 yen ke arah tambang besar tersebut. Setelah menancap, ditepuk-tepukan kedua tangannya sebanyak 3 kali.

"Kami-sama... sembuhkanlah Seiichi, dan kembalikanlah ia ke sisi-ku lagi,"

=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=

"Gen-chan!"

Selalu ada sapa riang sang kekasih kala melihat dirinya berkunjung di pagi hari sebelum berangkat kerja. Sudah dua minggu ia dirawat di rumah sakit daerah. Dan hari ini adalah hari evaluasi dari pengobatan steroid yang dijalani Seiichi.

"Ohayou," sapanya dengan senyum membias khawatir yang kian hari kian merajai hatinya. Seiichi nampak semakin kurus dari hari ke hari. Pipinya semakin tirus dengan kantung mata yang menghitam. Pengobatan telah mengambil sebagian keindahan dirinya.

"Ohayou~ kau sudah sarapan?" tanya Seiichi seperti biasa. Senyumnya tertarik lemah oleh otot-otot di wajah. Tak mengembang indah seperti biasa.

Ia menggeleng, dan sebuah wajah cemberut sudah pasti didapatkannya kala melontarkan jawaban demikian, "karena aku ingin sarapan bersama denganmu," senyumnya sembari meletakkan sesuatu yang terbalut furoshiki di meja samping ranjang rumah sakit.

"Kau memasak?" tanya Seiichi antusias.

"Maa, begitulah..." bahunya terkedik, tak yakin dengan jawabannya sendiri.

"Ku cicip ya," dibukanya furoshiki yang membelit kotak yang ternyata bentou tersebut. Alih-alih demonstrasi masakan murahannya, Genichirou malah diam menikmati sosok Seiichi yang tertimpa cahaya pagi.

Ada goresan halus bagai lukisan.

"Ah! Gen-chan~!"

Tersadar dari fantasi-nya, Genichirou mengerjapkan pandangannya. Terlihat wajah Seiichi yang mengkerut masam. Nampak ada yang salah dengan masakan yang dibuatnya.

"Kenapa, Seiichi?" tanyanya yang juga merasa agak horror.

"Kau terlalu banyak menaruh garam," komplain Seiichi masih menahan rasa tak enak yang menjalar di lidahnya. Wajahnya masam, "kau kenapa?" sejenak tawa-nya menjadi renyah, "... melamun?"

Menyadari Seiichi mengajaknya bercanda, Genichirou hanya bisa menggeleng tertawa, "mungkin kemampuan memasakku sudah menurun,"

"Tapi, sepertinya enak jika dimakan dengan nasi. Jadi kadar ke-asinannya berkurang," ujar Seiichi mengangsurkan sesuap besar nasi ke hadapannya.

Refleks Genichirou menjauh, dan itu membuat Seiichi menampakkan raut kecewa.

"Ah, maaf, tapi... kau ini sakit. Tak usahlah pedulikan dirimu, seharusnya aku yang merawatmu," ralat Genichirou sembari mendekatkan kembali posisi duduknya.

"Jika hanya mengangkat sumpit dan mengangsurkan makanan, tak perlu tenaga sebesar mengangkut beban berkilo-kilo kok, Gen-chan," Seiichi masih memaksa Genichirou untuk melahap nasi di hadapannya.

Menurut, Genichirou memasukkannya ke dalam mulut. Ukh, benar saja. Asin. Mungkin tadi ia melamun, atau garamnya tumpah. Untung saja nasi ini dapat menyelamatkan rasa masakan yang renyah.

"Hari ini meeting?" tanya Seiichi sembari mencomot tempura yang tinggal tersisa satu dalam bentou.

"Ya, masih dua jam lagi," ujar Genichirou, "tempura!" refleks menyadari kalau itu tempura terakhir, Genichirou suskes menghentikan Seiichi untuk melahapnya utuh.

"Kau mau tempura ini?" tantang Seiichi dengan menggigit ujung daging udang yang terbalut tepung panir tersebut. Mengisyaratkan Genichirou untuk mengambilnya sendiri dari mulut kekasihnya itu.

"Seiichi," mendengus kesal, Genichirou pun akhirnya bangkit. Melahap hingga 3 kali gigitan, akhirnya ia memutus tempura sekaligus mengecup bibir Seiichi.

"Kau masih saja pemalu seperti gadis SMA, Gen-chan..."

僕らが出会った日は、二人にとって一番目の記念すべき日だね。

"Hari dimana kita bertemu, adalah hari yang paling bersejarah untuk kita,"

"Melihat hasil pemeriksaannya hari ini, untuk sejujurnya, Yukimura-san tak dapat disembuhkan, hanya diperpanjang usia hidupnya,"

Dari duduk tenang mendengarkan, entah mengapa Genichirou sontak bangkit menyebabkan ruangan yang hanya terisi 2 orang tersebut menjadi gaduh sejenak.

"Apa yang kau katakan?" tanyanya sedikit tenang, menyimpan emosi di ujung kerongkongan.

"Lebih baik kami mengatakan yang sebenarnya, untuk memberikan anda rencana ke depan selanjutnya," menekan nada pembicaraan dengan sedikit emosi—Yagyuu Hiroshi—dokter tersebut pun tak kalah sengit, "kami pun berusaha semaksimal mungkin, saya dokter, dan sudah menjadi kewajiban untuk menyelamatkan pasien,"

Genichirou menarik nafas dalam. Menenangkan diri dan kembali duduk.

"Maksud kami memberitakan hal semacam ini, agar anda lebih banyak meluangkan waktu pasien,"

Berjalan gontai selepas dari ruang divisi internal, Genichirou tak langsung masuk ke dalam ruang perawatan di mana Seiichi berbaring. Ia terduduk sejenak bersandar pada tembok putih. Lorong lantai 3 kali ini sepi. Entah kenapa. Namun itu tak dipedulikannya.

Tergenggam seberkas map yang berisikan hasil pemeriksaan Seiichi di tangannya. Semua fakta yang dibaca-nya hanya ingin membuatnya semakin berharap ini adalah mimpi, atau setidaknya orang yang menderita penyakit ini adalah dirinya.

Tertunduk mengurut kedua alisnya, Genichirou berusaha menenggelamkan diri pada dunia di bawah kelopak matanya...

そして今日という日は

'Lalu untuk hari yang disebut 'hari ini'..."

Tak tahan duduk, Seiichi beranjak turun dari ranjang yang setinggi 50 cm tersebut. Walau sekedar berjalan ke pintu yang berjarak 3 meter dari tempatnya berdiri sekarang, pergerakan kakinya tak secepat dulu. Mungkin persendiannya bermasalah.

Terkadang Seiichi bertanya kepada dirinya sendiri, sebenarnya apa yang tengah ia derita dalam tubuhnya? Jawaban Genichirou hanya sebatas penyakit kulit yang disebabkan sel darah merah. Namun seingat dirinya, tak ada penyakit kulit yang disebabkan sel darah merah dalam pelajaraan IPA sewaktu ia masih SMA.

Apakah sendi-nya sakit karena jarang dipakai berjalan? Mengapa ruam di lehernya meluas sampai ke bahu dan bahkan kini mulai mucul diantara kedua betisnya?

Genichirou hanya meminta ia banyak makan agar trombositnya maningkat. Ia sudah banyak makan. Tak pernah sekalipun ia menyisakan menu makanan yang disediakan rumah sakit walau rasanya sangat hambar dan yang ada malah membuat mual jika dipaksakan habis.

Ia capek berfikir dan hanya ingin cepat pulang. Kasihan Genichirou jika setiap pagi harus bangun lebih awal demi menyambangi dirinya. Terlebih nampaknya akuntan tersebut mulai kekurangan tidur kala ia mendapati sering melamun menatap jendela.

Pada akhinya, ia merasa jadi beban untuk Genichirou.

Menggenggam gagang pintu-nya erat Seiichi sedikit berusaha menambahkan gaya pada tarikan jari tangannya. Terbuka sedikit, langsung di dengarnya sebuah tarikan nafas yang bercampur dengan isak. Terdengar seperti orang yang menangis. Penasaran, diintipnya sedikit melalui celah yang terbuka.

Ada seorang laki-laki terduduk di depan ruangannya. Wajahnya tertutup dengan kertas besar seukuran map. Kaki-nya tertekuk sehingga posisi tubuhnya meringkuk—dan itu menyakitkan untuk dilihat baginya yang sedang menderita sakit persendian. Namun wajahnya tak asing baginya, gestur, dan figurnya seperti orang yang telah lama ia kenal.

Dan itu adalah Genichirou.

Mengapa ia menangis?

Seiichi tak menemukan jawabannya. Sampai ia berasumsi sendiri kertas yang digenggam pria tersebut adalah hasil pemeriksaannya—tercantum lambang rumah sakit di ujung kop suratnya. Itu berarti... ia yang membuat laki-laki itu bersedih.

Belum pernah selama 3 tahun bersama dengan penyandang putra bungsu Sanada tersebut, Seiichi melihat sosok nya mengeluarkan airmata. Pria yang dinilainya paling tegar terseut, kini menangis meski tak dihadapannya, namun ini...

"Gen-chan...?"

"Kami-sama, hidup itu apa? Mengapa Genichirou menangis?"

二人にとって二番目の記念すべき日だね。

"... Adalah hari kedua bersejarah untuk kita,"

"Adakah yang ingin kau titipkan untuk esok?" tanya Genichirou memastikan sebelum dirinya kembali ke apartemen. Seiichi hanya menggeleng pelan. Dirasanya kekasihnya ini sedikit aneh, sekembalinya ia dari ruang penyakit internal. Ia jadi lebih pendiam.

"Baiklah, kalau begitu... aku pulang,"

"Gen-chan,"

Belum sempat ia membalikkan tubuhnya ke arah pintu keluar, Seiichi memanggilnya, "bisakah aku meminta sesuatu kepadamu?"

Mendekatkan dirinya kembali, Genichirou merunduk untuk menyejajarkan diri dengan Seiichi, "apapun, Sei-chan,"

"Mulai besok..." jemarinya bermain resah. Berusaha memberanikan diri untuk mengatakan keinginannya, "... kumohon," lekat, ditatapnya pria tersebut, "... jangan mengunjungiku lagi, onegai,"

"Apa?"

Memastikan apa yang didengarnya, Genichirou menanyakannya kembali.

"Sudahlah Gen-chan. Perhatianmu cukup sampai di sini," ujar Seiichi tertunduk—tak punya hati untuk melihat sorot black-pearl yang terluka itu.

"Aku mengunjungi-mu untuk memastikan keadaanmu,"

"Sekarang sudah cukup Genichirou,"

"Barusan, dokter menyuruhku untuk lebih sering berada di sisi-mu," nadanya mulai naik seiring keras kepala yang mulai dihadapinya.

"Jadi karena perintah dokter, kau menemaniku selama ini?'

Merasa bukan orang yang tahan dengan pertengkaran lempar argumen, Genichirou hanya menghela nafas untuk menurunkan emosinya.

"Sebaiknya kita berpisah Gen-chan..."

Kepala yang mulai dingin tadi pun, kini mendadak panas kembali saat didengarnya pernyataan tersebut, "apa maksudmu Seiichi?"

"Aku butuh waktu sendiri," permintaan kali ini, dinyatakan dengan menatap lekat kedua bola mata pria tersebut, "kumohon, kau pasti mengerti,"

Tak lagi bisa mempertahankan argumennya, Genichirou menyerah mundur, "baiklah jika itu mau-mu. Tapi... jangan segan memberitahu-ku jika kau membutuhkan sesuatu," pesannya.

Dan tatapan nanar tersebut adalah hal yang terakhir dilihatnya sebelum Genichirou menghilang di balik pintu ruang perawatan.

"Genichirou..."

Sebenarnya 'ingin sendirian' adalah kebohongan belaka. Yang sebenarnya adalah, Ia hanya tak ingin Genichirou terus-menerus direpotkannya. Cara se-kasar ini bukan cara yang bagus, namun adalah cara terbaik untuknya membuat Genichirou memikirkan sejenak tentang dirinya.

"... kuharap aku tak lagi menjadi alasan dibalik tetes airmatamu,"

心から愛しい人・・・

"Dari hatiku, kau orang yang kusayangi,"

Kanagawa, Pertengahan Juli.

Musim baru segera tiba. Panas yang datang ke dataran Kantou ini pun segera di sambut dengan beberapa festival di sudut-sudut Perefektur Kanagawa. 3 hari, sudah 3 hari Genichirou tak datang kepadanya. Menjenguknya seperti biasa, dan menceritakannya hal-hal tentang dunia luar padanya yang terkungkung bosan dalam gedung sempit bernama rumah sakit ini.

Namun hal itu bukanlah hal yang pantas dikeluhkannya, karena dirinyalah yang meminta demikian. Betapa seorang Genichirou akan berbuat serius untuk apa yang disetujuinya—termasuk saat keluar rumah dan menetap bersamanya.

"Selamat sore, Yukimura-kun,"

Seorang perawat masuk ke dalam ruangannya, saat sore hampir memadamkan cahaya-nya, "... saatnya melakukan pemeriksaan terakhir hari ini," senyumnya ramah sembari mengecek kantung infus yang menggantung di sisi kanannya.

Sang pasien hanya bisa tersenyum sebagai balasan. Terlalu lemah untuk membicarakan berbagai macam hal dengan beban seberat darumadalam hatinya.

"Tak biasanya sendirian. Kemana pria yang selalu menjengukmu?" tanya wanita muda tersebut.

Hal yang sedang tak ingin diingatnya pun datang kembali dalam pikirannya.

"Aku sedang tak ingin bertemu dengannya," ujarnya lemah. Tangannya dibiarkan menggeletak begitu saja saat sang perawat sibuk mengecek tensi darahnya.

"Kenapa demikian? Orang sakit itu butuh perhatian dari keluarga loh,"

"Aku sudah terlalu sering menjadi beban untuknya," matanya menatap langit-langit putih yang selalu menjadi hal pertama yang dilihatnya kala membuka mata—bukan lagi sosok Genichirou yang tengah pulas di sisinya.

"Tapi, orang itu, masih perhatian kepadamu ya," selesai mengecek tensi darah, Seiichi harus rela tubuhnya digulingkan ke kanan dan ke kiri untuk memastikan sprei-nya tidak basah, karena dirinya sudah tak lagi kuat barang berjalan ke kamar mandi.

"Perhatian?"

Ulangnya kepada sang perawat.

"Itu," pandangan cantiknya mengarah pada vas bunga yang berdiri tegak di atas meja yang terletak di sisi ranjang yang ditiduri Seiichi, "...selalu ada bunga baru setiap paginya kan? Itu tanda ia masih memperhatikanmu,"

"Genichirou... kah?"

Mengapa baru sekarang ia menyadarinya bunga yang tersua berbeda di setiap paginya semenjak Genichirou tak lagi mengunjunginya? Betapa bodohnya ia.

"Saatnya pengecekan darah ya," perawat tersebut pun mengeluarkan sebuah jarum suntik, "tolong tangan kirinya," pintanya lembut.

"Ano, kangofu-san, sebentar..." Seiichi menhentikan sejenak rangkai pemeriksaan.

"Ada apa Yukimura-kun?"

"Chotto, aku merasa sedikit mual," ujarnya sembari memegani perut.

"Apa yang—"

Belum sempat perawat tersebut memeriksa keadaan dirinya, Seiichi terbatuk 3 kali sampai akhirnya darah keluar banyak dari kerongkongannya. Pandangan matanya menjadi dominan merah. Sprei merah, baju merah, lantai merah... bahkan tangannya...

"Apa aku akan mati, Kami-sama...?"

"YUKIMURA-KUN! YUKIMURA-KUN!"

心から愛せる人。

"Kau orang yang kucintai dengan hatiku,"

"Rumah Sakit Kannai, onegaishimasu,"

Menyetop sebuah taksi begitu keluar kantornya, Gennichirou segera menyebutkan tujuannya. Langsung ditinggalkannya seluruh pekerjaannya saat mendapat telepon dari rumah sakit yang memberitakan Seiichi pingsan setelah kehabisan darah. Sekuat-kuatnya tembok yang didirikannya sebagai keangkuhannya, akan runtuh kapanpun jika menyangkut urusan tentang Seiichi.

"Seiichi? Bagaimana keadaannya?"

Masih dengan nafas terengah, akhirnya Genichirou dapat meraih ruang ICU dimana Seiichi dipindah-rawat-kan, tepat saat Yagyuu—dokter yang bertugas akan sang kekasih—keluar dari ruang steril tersebut.

"Sekarang kondisinya stabil, biarkan ia beristirahat sejenak. Obat penenang kami berikan agar ia cukup istirahat," jelas dokter berkacamata tersebut.

"Cukup istirahat?" Genichirou tak mengerti sebagai mana bisa orang yang sudah di rawat full 24 jam masih kekurangan istirahat?

"Menurut pemeriksaan yang kami lakukan, pasien kekurangan waktu untuk istirahat. Kemungkinan ia sering terbangun di malam hari, ataukah terlalu berat memikirkan sesuatu. Maka itu, imun tubuhnya menurun drastis dan mengakibatkan kelelahan,"

"Lalu untuk pendarahannya?"

"Itu gejala awal dari trombosit yang kiran menurun. Sekarang trombositnya tak lebih dari 50.000/mm3,"

この僕の愛の真ん中には、

"Karena di dalam cintaku ini..."

Kedua kelopak matanya terbuka. Membias cahaya yang masuk ke dalam retina-nya, kesadarannya segera pulih. Menyadari masih ada nafas yang tersisa, Seiichi mendapati dirinya masih hidup. Lekat dalam ingatan yang segera menyergapnya ketika ia baru tersadar tentang kejadian tadi sore, pemandangan merah dengan suara sang perawat yang berangsur-angsur menghilang seiring kesadarannya.

Melihat sekelilingnya, ini bukanlah ruang perawatannya. Sedikit berbeda karena banyak alat-alat yang menghiasi setiap sudut ruangan ini. Infus, pengukur detak jantung, dan...

Seiichi memicingkan matanya. Seorang pria tengah tertidur di sisinya dalam posisi duduk. Tangannya menggenggam jemari kanannya. Nampak kusut dengan rambut yang acak-acakan.

"Seperti Gen-chan..."

Dan sosok itu memang Genichirou—dikenali dari wajahnya yang berpaling dari Seiichi.

"Gen-chan..."

Suaranya tak lagi terdengar. Yang terasa hanyalah gerak bibirnya yang memanggil pemuda tersebut. Jemarinya berusaha menyentuh pucuk kepala pemuda tersebut. Mengelusnya pelan dengan permintaan maaf dalam sentuhannya.

"Sei... ichi..." tergerak, Genichirou menggurau dalam tidurnya.

Seiichi hanya bisa menyerah pada setiap perhatian yang laki-laki tersebut berikan kepadanya.

"Maaf, selalu merepotkanmu..."

Dan serempak, terdengar bunyi letus kembang api di seberang langit. Festival musim panas sudah dimulai. Warna-warna cerah mulai menghiasi pekat malam. Ia hanya bisa menikmati mekar bunga api tersebut dari layar selebar jendela. Musim akan segera berganti...

Mungkin karena keadaan mulai riuh, Genichirou pun terbangun dari tidurnya. Mengerjap cepat, pemuda tersebut mengusap wajah dengan kedua tangannya. Tergerak, Seiichi menyentuh wajahnya. Dari menyingkirkan mimpi yang masih melekat dari tidurnya, perhatiannya teralih pada sang pemilik sentuhan. Dilihatnya Seiichi yang juga terbangun dengan senyuman ke arah dirinya. Tangannya berusaha menggapai ia yang malah mematung tak bergerak.

"Seiichi..." disambutnya jemari bercelah tersebut, "Seiichi..." dibisikkannya nama sang kekasih, "Seiichi..." ditempelkannya telapak hangat tersebut pada pipinya.

"Ku pikir aku akan kehilanganmu,"

Nampaknya ia tak lagi bisa membalas segala perkataanya. Sedari tadi hanya senyum dan pandangan teduh yang diberikan Seiichi kepadanya.

"Maafkan aku..." ucapnya menatap lekat amethyst kelabu tersebut.

Dan pemuda tersebut hanya bisa menggeleng pelan. Ujung matanya sembab. Basah dengan bekas jalur airmata yang menetes. Tak lagi bisa berkata-kata, Genichirou pun mengecup pelan jari-jari kurus tersebut. Dan lengan Seiichi terbasahi dnegan airmata yang menetes.

"Gen-chan... aku ingin pulang..."

Dari tersamarkan oleh airmata, Genichirou menyeka dengan ujung jemari-nya demi melihat gerak bibir Seiichi secara jelas.

"Pulang... kita pulang..." pinta Seiichi dalam gerak bibirnya.

いつも君がいるから。

"... selalu ada dirimu,"

"Hati-hati langkahmu,"

Memapah Seiichi pulang, sang kekasih kini sudah bisa banyak bergerak. Atas persetujuan pihak rumah sakit setelah 5 hari dirinya diinapkan di ICU, kini apartemen-nya tak lagi sepi. Dibukanya pintu kayu berwarna krem tersebut. Tercium bau khas dari lavender yang menjadi pewangi ruangan, dan musk yang menjadi fragrance Genichirou yang tersisa dalam sprei dan sofa.

"Rapi, apa kau membereskannya sebelum aku datang, Gen-chan?" goda Seiichi menginspeksi setiap sudut ruang apartemen mereka.

"Sebenarnya, mereka tetap sama semenjak kepergianmu ke rumah sakit," jelas Genichirou menutup pintu dibelakangnya. Ditahannya Seiichi pada bagian pinggang, agar pemuda tersebut tak memaksakan diri untuk berjalan sendirian tanpa ada dirinya yang menopang.

"Senang bisa kembali lagi,"

Ada lengkung bahagia di wajah sayu-nya. Seiichi sudah lebih banyak tersenyum kini.

"Jika itu adalah permintaannya, kabulkanlah. Usianya mungkin takkan lama lagi. Namun kebahagiaan mungkin dapat menyembuhkannya,"

Agaknya dokter itu memang benar walau kata-katanya nyelekit.

"Kau mau kemana?" tanya Genichirou saat Seiichi mengisyaratkan agar dirinya berjalan sendiri.

"Dapur, aku ingin sekali membuatkan makan siang untukmu. Kau pasti tak pernah makan secara teratur kan?" tawa Seiichi.

Sadar tak lagi bisa menghentikannya dengan kata-kata, Genichirou lantas mendekati pemuda tersebut. Mengangkat tubuhnya tanpa permisi, dibawanya Seiichi ke kamar tidur.

"Sudah kubilang, orang sakit diam saja," nasihat Genichirou yang malah mendapat berontak dari hime yang dipangkunya.

"Tapi aku tidak sakit, Gen-chan! Aku sudah sehat,"

Tiba di kasur, dibaringkannya tubuh tersebut. Seraut wajah kesal menggembungkan pipi terhadapnya. Yang jadi biang keladi hanya terkekeh, "kau lucu saat marah," dijepitnya hidung Seiichi dengan ibujari dan telunjuknya.

Namun tetap, kedua pipinya yang terbuntal tak kunjung mengempes.

Tak kehilangan akal, dibawanya seiichi dalam ciuman.

"Gen—"

"Diamlah... jangan kau kira aku tak juga kesal," lirihnya yang lalu kembali mencecap ranum bibir yang nampak kering tersebut.

Seiichi mendesah pelan, menyambut sentuhan yang lama tak dirasakannya.

Setelah puas dan jarak kembali mengisi diantara mereka, Genichirou tertawa kecil, "kau akan hidup selamanya," bisiknya pelan.

Dari kesal, Seiichi menjadi malu. Rona merah dipipinya merebak hingga ke daun telinga, "pasti rasanya tak enak,... berciuman dengan orang sakit," ujarnya lirih.

Mendengarnya Genichirou malah tertawa, "kau bilang sudah sehat,"

"Ah! Gen-chan! Berhenti bermain-main denganku!"

Menahan pukulan yang tak menentu arah tersebut, Genichirou semakin mengeratkan dekapannya.

"Hari ini pun aku semakin mencintaimu,"

"Wherever you are..."

Kanagawa, Akhir Juli.

Musim panas sudah tiba. Terbukti dari ramainya pantai dan sepinya sekolah. Musim liburan dimulai dengan meningkatnya pemasukan bagi sebagian perusahaan-perusahaan. Termasuk bank yang sedang Genichirou tangani. Pulang larut menjadi kegiatan rutinnya bulan ini karena pekerjaan semakin menggila. Terhitung sudah 3 hari semenjak kepulangan Seiichi dari rumah sakit.

Akhir pekan seperti ini adalah hal yang paling ditunggu-nya karena dengan begini ia lebih bisa menikmati waktu bersantainya. Pagi yang damai di apartemen nya saat ia membuka mata. Curtain telah tersibak dan angin sudah menari-nari dalam ruang kamarnya.

Merentangkan tangannya, Genichirou mengembalikan ke-elastisitasan otot-otonya yang sering kaki akibat keseringan duduk menaklukan deretan angka keuangan. Kasurnya pagi ini serasa luas.

Mendapati hal yang aneh, Ia bangkit. Dan tak ada Seiichi di sisinya. Panik, ia segera beranjak turun guna mencari kemana sosok tersebut menghilang. Ruang tengah, dapur, sampai ke pintu keluar, sosok berambut ikal tersebut tak ada dalam pantulan matanya.

Menyerah, ia kembali masuk untuk segera berpakaian guna mencari Seiichi. Hanya sekedar kemeja tipis yang akan membalut tubuhnya, Genichirou bersiap pergi keluar.

CLECK!

Disaat yang hampir bersamaan dirinya akan membuka pintu keluar, di saat itulah pintu terbuka dan nampak orang yang sedang dicarinya memasuki apartemen.

"Ah, ohayou, Gen-chan," sapanya tanpa dosa melihat laki-laki tersebut mematung dengan muka bodoh dan kemeja yang setengah terpasang di tubuhnya, "mau kemana sepagi ini? Mengapa pakaianmu seperti itu?" ujarnya mengomentasi penampilan sang kekasih sambil meletakkan sepatunya ke atas rak.

"Kau yang habis dari mana?!" panik, Genichirou malah berkesan mengomeli.

Yang diomeli hanya tertawa, "aku hanya pergi ke konbini, membeli gula dan sarapan pagi ini kok," tak mempedulikan Genichirou yang masih mematung di depan pintu, Seiichi melengos melewati sosok tersebut, "maaf, aku masih belum bisa memasak seperti dulu, tapi kali ini akan kuhangatkan makanannya kok,"

Segera setelah Seiichi menaruh belanjaan di atas meja, Genichirou menarik sosok tersebut ke dalam dekapannya.

"Gen-chan?!" jeritnya panik.

Genichirou sibuk mengusap-usap lengan luar Seiichi, "kau kelamaan di luar, badanmu menjadi dingin," ujarnya berusaha menaikkan suhu tubuh sang kekasih.

"Gen-chan? Kau bicara apa sih? Ini kan musim panas. Aku malah kepanasan kalau di dekap begini," pelan didorongnya tubuh laki-laki tersebut, "kau terlalu khawatiran deh,"

"Tapi Seiichi..."

"Hari ini kau mau sarapan apa? Mau kubuatkan omelette?" tak menghiraukan cemas yang terlukis di wajah Genichirou, Seiichi menjerang air untuk membuat kopi pagi.

"Seiichi..."

"Aku takkan kelelahan hanya untuk sekedar membuatkanmu kopi pagi, sayangku," diletakkannya ceret di atas kompor yang menyala. Melihat Genichirou tak bergerak sesenti pun dari tempatnya berdiri, Seiichi berinisiatif menghampiri.

"Tapi..."

"Kau pasti belum bersih-bersih. Sana, cuci muka-mu, aku akan membuatkan omelette sayur untukmu," lembut disingkirkan poni Genichirou yang mulai memanjang menutupi dahinya hingga ke alis.

Genichirou diam.

"Aku takkan pergi kemana pun Gen-chan. Jadi jangan khawatir," senyumnya mengecup rahang kokoh pria tersebut, "... khawatiran bisa membuat punggungmu sakit loh," menepuk pipinya pelan, Seiichi menarik wajah tersebut. Sedikit berjinjit pada ujung jari kakinya, ditanamkannya sebuah kecup di bibir Genichirou.

Merasa lebih tenang, Genichirou menghela nafas panjang.

"Baiklah, aku akan segera kembali," melengos kalah, tangannya menyambar handuk yang tergantung di kastop dekat lorong.

Memperhatikan cara jalan laki-laki tersebut, Seiichi hanya bisa mengulas senyum. Menggeleng-geleng kepada tingkah lakunya yang bisa jadi sangat manja kepada dirinya. Melanjutkan persiapannya, Seiichi mulai memecahkan beberapa telur untuk dijadikan omelete.

Namun sesaat, batuk tersebut kembali menyerang. Namun ini adalah efek samping yang dipikirkannya saat dirinya terkena angin dingin. Sembari mengocok telur, batuk tersebut kian parah. Menyerah, akhirnya Seiichi membekap mulutnya saat batuk terus menerus menyerang dirinya.

Ada darah yang tersisa pada punggung tangannya. Cukup banyak. Namun tak menghentikan Seiichi untuk membuat sarapan pagi. Namun batuknya semakin hebat, dan ia tak lagi mampu berdiri. Terjatuh, Seiichi tersungkur.

Genichirou mungkin takkan mendengarnya. Ini cukup. Jika sekarang adalah waktunya, maka ia tak perlu melihat Genichirou dengan wajah khawatirnya.

"Gen-chan..."

"I always make you smile,"

"Pertahankan denyut jantungnya!"

"Sensei, tekanan darahnya terus menurun,"

"Jaga kesadarannya!"

"Seiichi, berjuanglah! Kau belum boleh meninggalkanku!"

Seketika siang yang biasanya sunyi di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Kannai ini pun mendadak ramai dengan kedatangan seorang pasien. 4 orang berada disekeliling dirinya yang terbaring diatas usungan dipan yang diarahkan menuju IGD.

"Seiichi, ini aku, sadarlah!"

Dan ada satu orang yang begitu gigih mengembalikan kesadaran pasien berambut biru tersebut. Genichirou menggenggam erat tangan Seiichi—sang pasien—yang semakin melemah.

Perlahan kedua matanya terbuka. Hal yang pertama dilakukannya adalah mengulas senyum lemah, "Gen-chan...?" lirih suaranya hampir tak terdengar.

"Bertahalah, Seiichi!"

Dan pintu Instalasi Gawat Darurat pun sudah di depan mata. Genggaman tangan mereka terpaksa lepas, karena tak boleh ada yang memasuki ruangan jika tanpa kepentingan. Bahkan untuk keluarga pasien.

"Hei, jangan menangis Gen-chan..." ucapnya tak melepas pandangan dari laki-laki tersebut. Serak terdengar kental dari nada bicaranya, "... karena aku mencintaimu,"

"I'm always by your side,"

Adalah kata terakhir yang didengarnya dari Seiichi setelah pintu IGD tertutup di hadapan matanya. Lebih dari setengah jam ditunggunya sosok yang akan keluar dari ruangan tersebut. Memberikannya kabar baik, dan mengizinkannya bertemu dengan Seiichi.

Nelangsa yang perlahan menghilang, kini kembali menjangkiti hatinya. Nafasnya memberat dengan seribu harap yang diterbangkannya dengan lirih permohonan. Seiichi akan baik-baik saja.

Ia pasti akan kembali ke pangkuannya. Mencubit pipinya gemas sembari mengecup keningnya mesra. Seiichi akan membalas setiap salamnya ketika berangkat dan pulang kerja. Aroma masakan yang akan selalu dihirupnya kala bangun dan menyambangi dapur mungil mereka.

Seiichi akan tetap hidup untuknya...

"Maaf, ia sudah banyak kehilangan darah. Transfusi darah tak cukup cepat membantu pendarahan internal-nya dengan kesadaran yang semakin menurun. Yukimura-kun, sudah cukup berjuang,"

Genichirou berusaha mencari portal, jalan keluar untuknya dari mimpi ini. Lalu terbangun pada mimpi yang tenang di dalam kamarnya. Ini bohong. Diizinkan memasuki ruangan yang sudah menjadi sepi tersebut, Genichirou mendapati sesosok yang tengah terlelap. Lukisan yang indah. Wajahnya tak tertutup kain putih sebagaimana dokter tersebut mengatakan ia telah tiada.

"Kau hanya tertidur,Seiichi..." bisiknya pedih. Air mata menyumbat di kerongkongannya, "... lihatlah, kedua kelopak matamu begitu indah saat kau tertidur," namun kakinya tak lagi kuat menopang berat tubuh dan kenyataan dalam hati. Mengubur wajahnya dalam pelukan, Genichirou menangis pada sosok yang dicintainya tersebut.

Tak mampu melepasnya, walau sudah tak ada,

Tapi ku tetap merasa masih memilikinya,

Rasa kehilangan, hanya akan ada

Jika kau pernah merasa memilikinya...

Pernahkan kau mengira kalau ia kan sirna,

Walau kau tak percaya, dengan sepenuh jiwa.

Rasa kehilangan, hanya akan ada

Jika kau pernah merasa memilikinya...

Letto – Memiliki Kehilangan.

Kanagawa, November.

Musim hampir berganti dingin, dengan udara yang kian menusuk tulangnya. Pagi yang putih menggantung di langit, menungguinya berangkat kerja hari ini. Mengaduk kopinya pelan, Genichirou memandangi kelima surat yang kini ada di tangannya. Tagihan ponsel, tagihan apartement, pembayaran kartu kredit, surat kabar berlangganan, dan...

Kedua alisnya menyatu. Mengerut saat didapatinya sebuah tulisan yang tak lagi asing.

"Undangan Reuni Angkatan 57

SMA Swasta Rikkai Dai Fuzoku, Kanagawa."

Undangan reuni? Betapa nostalgia sekali untuknya. Genap 3 tahun sesuai perjanjian awal pelaksanaan reuni. Akan ada banyak kenangan yang tersimpan untuknya meski hanya menjalani kurang dari satu tahun di Rikkai.

Senyumnya mengembang seiring kenangan-kenangan yang terlintas di otaknya. Lapangan olahraga, ruang komite, atap sekolah, dan perpustakaan. Akan seperti apa jadinya selama 3 tahun ini, adalah hal yang terus dibayanginya. Ada kenangan tentang Seiichi terselip dalam ingatan tentang sekolah SMA-nya tersebut.

"Seandainya kau di sini..."

"Hai, giliran kelas A! Mari merapat! Ah! Renji! Kau seharusnya di belakang! Jackal!, kau jangan ngumpet di belakang barisan murid perempuan donk!"

Riuh yang tercipta saat acara reuni melakukan foto sesi di depan sekolah yang menjadi almamater mereka. Sehangat dan se-akrab dulu, mereka saling berangkulan dalam deretan atu kelas yang akan memenuhi lensa kamera dengan senyuman yang akan dikenang kelak.

"Hai, semuanya! Peace~!"

Sendirian disusurinya lekuk kelas yang pernah menjadi tempat belajarnya, di saat yang lain ingin sibuk bernostalgia dengan masa kelas satu mereka. Kelas 3-A kali ini sedikit berbeda. Mungkin papan tulis yang diganti ataukan hiasan dinding yang lebih ramai dari tahunnya.

Termanggu di koridor, masih terlukis jelas dirinya yang masih mengenakan seragam ber-jas hijau kebanggan Rikkai. Terlihat dalam kenangannya ia dan Seiichi yang melintasi lorong panjang sambil berbicara tentang banyak hal dalam waktu yang selalu singkat bagi mereka.

UKS menjadi tempat pertama dimana pemuda berambut ikal tersebut menyatakan perasaan padanya. Ciuman pertama yang dirasanya aneh, namun membuatnya berdebar-debar, menyunggingkan senyum malu yang dikulumnya kala mengenang ingatan tersebut.

Rak sepatu,... lapangan marathon,... taman belakang sekolah.

Mengulang adegan festival kembang api, ia terduduk menyandarkan diri pada tembok gedung sekolah dengan beralaskan rumput hijan di bawah kakinya. Senja semakin di ufuk, membawa bau dingin dan basah untuknya. Memejamkan mata, ia menyesap kesegaran daun yang lembab.

"Ku kira kau ikut menonton acara kokuhaku,"

Betapa kenangan begitu jahat terhadapnya. Bahkan masih terputar dengan baik suara Seiichi dalam pikirannya. Tak bisakah kerinduan menghentikan siksaan terhadap hatinya?

"... ternyata kau lebih memilih sendiri," lanjutnya.

Kedua matanya terbuka, ada sosok berambut biru berdiri arah jam-10 nya. Tersenyum dnegan kamera berlensa pendek yang menggantung di dadanya.

"Seiichi," dengan senyum disapanya pemuda tersebut.

"Kau baik-baik saja, Sanda-kun?" tanya pemuda tersebut khawatir. Ada segurat mimik cemas di wajahnya.

"Tidak, aku tidak baik-baik saja," dari menyelonjorkan kedua kakinya, ia bangkit berjongkok, "tidak tanpamu," senyumnya.

"I promise you forever right now,"

-fin

Atogami.

Hwaa! Dekita! Dekita! *cium-cium Geni*

Pada saat kata terakhir dalam story-line ini terketik, author langsung menjerit bahagia (sampe niat tumpengan), padahal sendirinya lagi mengetik di tempat umum sekaliber mall. Menyadari diri karena masih belum mau dianggap gila (belum mau loh ya) akhirnya author sinting ini malah kejet-kejet sendirian.

Berniat (gila) ingin membuat satu lagi cerita mirip, namun berpasangkan KaneOuji hohohoho *ditimpuk*

Terima kasih sudah membaca, mohon reviewnya.

Dedicated to:

Aoi-san

Sampai detik ini, terima kasih sudah mau membagi semuanya dengan seorang saya. Terima kasih slelalu memberikan inspirasi dan obrollan-obrollan yang pantas untuk dikenang. Terima kasih, untuk mengembalikan semangat menulis-ku. Chapter ini, khusus sebagai ucapan terima kasih untuk 1 tahun ini. Selanjutnya, mohon bantuannya...

Dengan cucuran airmata dan tangis lebay

-Aiko.