What the—
Story by Datgurll
Infires by Eggnoid from Webtoon
.
.
.
Selamat membaca!
Chapter 2
.
.
.
Taehyung menghela nafasnya, mendorong troli menggunakan satu tangan, tangan lainnya ia gunakan untuk mengambil beberapa bahan makanan yang di butuhkan. Supermarket tidak terlalu ramai pagi ini, jadi kesempatan itu ia gunakan untuk bebas berekspresi.
Pikirannya teringat kejadian setengah jam yang lalu, dimana Jungkook merengek minta ikut ke supermarket bersamanya. Taehyung sudah membujuk pemuda itu agar tidak ikut, tapi tetap saja hasilnya sia-sia.
Alhasil, Taehyung menggunakan rencana cadangan; buru-buru meninggalkan Jungkook dan mengunci pintu dari luar.
Jungkook tentu saja menangis, ia memukul-mukul pintu depan dari dalam dengan keras, berharap bisa ikut dengan Taehyung. Tidak tega sebenarnya, tapi Taehyung rasa jika belanja ia lakukan sendiri akan jauh lebih cepat.
Pandangan Taehyung teralih pada rak makanan-makanan ringan. "Beliin untuk Jungkook tidak ya? Tapi dia belum bisa sikat gigi sendiri, pasti aku yang repot nanti" Gumamnya.
Pikiran dan hatinya terus berperang, tanpa ia sadari seseorang sudah berada di belakangnya dengan tatapan enggan.
"Minggir atau aku akan melindasmu dengan troli"
Jahat sekali, Taehyung buru-buru menoleh ke belakang untuk menemukan siapa orang yang telah berkata jahat padanya—matanya melebar begitu menemukan sosok Min Yoongi yang berdiri di belakangnya.
Tidak terjadi apa-apa setelah itu.
"Hey" Yoongi mendengus. "Sudah aku bilang minggir atau aku akan melindasmu sekarang juga" Ujarnya penuh penekanan.
Dari semua supermarket yang ada di kota Seoul, kenapa Yoongi harus bertemu Taehyung di supermarket yang ini? Oh, Tuhan memang senang sekali mempermainkannya.
Taehyung tidak memberikan respon apa-apa dan itu membuat Yoongi jengah.
"Aku berikan waktu sepuluh detik"
"No!" Taehyung meringis. "Aku hanya terkejut karena bertemu denganmu hyung, bukankah kebetulan sekali? Biasanya kau paling malas kalau di suruh belanja"
Yoongi menghela nafas. "Sebenarnya kebetulan ini tidak ada untungnya sama sekali bagiku. Lagipula, aku kesini karena ibuku yang menyuruh, kau tau seperti apa nenek lampir itu jika sudah memerintah" Jelasnya, terdengar nada tak suka.
Taehyung tertawa kecil. "Sejak kapan Yoongi hyung bisa ketakutan hanya karena omelan ibu?" Ledeknya.
"Shut up" Yoongi memberi tatapan tajamnya. "Sekarang minggir, aku tidak mau menghabiskan waktu berhargaku hanya untuk meladeni orang autis berbicara"
"Jahat sekali" Taehyung memajukan bibirnya. "Bagaimana mau punya kekasih kalau kau galak begitu hyung? Kalaupun ada, pasti dia sudah ketakutan akibat omonganmu yang begitu tajam dan menusuk"
"Jaga bicaramu, aku tak segan-segan menjadikanmu daging mentah segar yang di jual pada semua supermarket"
Setelah berkata seperti itu, Yoongi langsung mendorong trolinya melewati Taehyung. Hubungan pertemanan mereka memang bisa di bilang aneh, terkadang lebih manis dari sepasang kekasih namun terkadang lebih sadis daripada kasus pembunuhan.
Taehyung terdiam beberapa saat, mengira-ngira pertanyaan apa yang harus ia lontarkan kepada Yoongi seputar Jungkook.
Ah!
"Yoongi hyung~"
Tidak ada jawaban. Taehyung mengikuti kemana Yoongi mendorong trolinya.
"Min Yoongi hyung"
Sama. Tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Yoongi.
Taehyung mulai jengah. "Heh, Yoongi"
Kemudian Yoongi memberhentikan langkahnya. Taehyung tersenyum senang, akhirnya ia bisa juga mendapatkan perhatian dari Yoongi (meskipun dengan cara yang terlalu esktrim).
"Kim Taehyung, kau itu senang menolong bukan?" Tanya Yoongi, menoleh dan memperlihatkan wajah datarnya. "Aku selalu berharap hari-hariku akan damai, tapi kenapa kau dengan mudah menghancurkannya? Dan lagi, jika kau memanggilku tanpa sebutan hyung, aku akan memenggal kepalamu. Jadi tolong, jangan ganggu aku"
Huh. Min Yoongi memang berbakat menjadi seorang psikopat handal.
Taehyung memajukan bibirnya lagi. "Aku hanya mau bertanya hyung, apa itu—"
"Bertanya apa?!" Bentak Yoongi tidak sabaran.
"Umm—" Taehyung menggaruk tengkuknya gugup. "Menurutmu, susu apa yang cocok untuk anak ayam yang baru menetas beberapa hari, hyung?"
Pertanyaan itu terdengar sangat, sangat, sangat, tidak masuk akal di telinga Yoongi.
"Kau gila" Pemuda itu mendorong trolinya menjauhi Taehyung.
Taehyung buru-buru menyusul langkah Yoongi, mendorong troli miliknya yang sudah setengah penuh dengan barang-barang belanjaan. Apa ada yang salah dengan pertanyaannya? Ia hanya bingung mau membelikan susu apa untuk Jungkook!
"Hyungg~" Taehyung memandang wajah Yoongi dengan tatapan merajuk. "Kau kan punya adik laki-laki di rumah, masa kau tidak tau susu apa yang dia minum?"
"Hell—" Yoongi menaruh sekaleng kornet ke dalam trolinya. "Kau pikir adikku itu anak ayam? Jangan bertingkah yang aneh-aneh. Memangnya kau mau memberikan itu untuk siapa?"
Bzt. Taehyung langsung terdiam.
"Eumm—" Dia menggigit bibir bawahnya. "Untuk.. anak ayam?"
"Lucu sekali, Kim" Yoongi memutar bola matanya. "Kau pikir kita berteman sudah berapa lama? Katakan yang sebenarnya saja!"
Haduh, dia harus jawab apa sekarang? Keponakan? Mana mungkin, Yoongi tidak akan percaya begitu saja karena pemuda itu tau kalau Taehyung tidak mempunyai siapa-siapa lagi selain kakak kandungnya.
Taehyung menggigit bibir bawahnya, otak jenius itu kembali bekerja, mencoba mencari alasan yang bagus dan terpenting masuk akal.
"Oh!" Taehyung menepuk keningnya tiba-tiba. "Aku lupa menutup pintu lemari pendinginku hyung! Pasti dapurku sudah menjadi kutub utara sekarang! Aku pergi dulu ya hyung! Sampai jumpa lain kali!"
Secepat kilat (lebih cepat daripada kekuatan teleportasi KAI di video MAMA), Taehyung berlari mendorong trolinya, meninggalkan sosok Yoongi yang masih setia menunggu jawabannya disana.
Pandangan Yoongi terus mengikuti kemana Taehyung pergi. "Hey! Taehyung! Kau belum menjawab pertanyaanku!" Katanya sedikit keras. Pemuda itu memandang sosok Taehyung yang berhenti sejenak untuk mengambil satu kotak susu bubuk, setelah itu kembali berlari dan menghilang dari pandangannya.
Yoongi punya macam-macam julukan untuk Taehyung; idiot, autis, tidak waras, alien tersesat di bumi, terong-terongan, dan masih banyak lagi.
"Dia berbohong" Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Yoongi. Persahabatan mereka yang sudah terjalin lama memang berdampak baik, Yoongi sangat tau kapan Taehyung jujur dan kapan ia berbohong.
Caranya mengetahuinya? Mudah sekali. Kim Taehyung tidak pernah menatap mata lawan bicaranya ketika ia sedang berbohong.
.
.
.
.
Taehyung berjalan dengan gerakan lamban, belanjaannya yang sedikit berat itu sukses membuat sosok Taehyung jauh dua kali lebih malas berjalan daripada biasanya. Jarak antara rumah dan supermarket itu lumayan jauh, ia juga tidak punya kendaraan.
Kira-kira apa yang di lakukan Jungkook? Apa anak itu masih menangis?
Taehyung berusaha membuang jauh-jauh perasaan bersalahnya. Jungkook itu bukan anak kecil lagi (walaupun sifat dan kelakuannya lebih parah dari anak berumur lima tahun), jadi tidak selalu harus di manjakan.
Ketika melewati rumah tetangganya, seorang wanita tua yang telah menjadi tetangga selama bertahun-tahun tersenyum dengan ramah.
"Taehyung-ah" Panggilnya pelan.
Otomatis Taehyung menoleh. "Oh, apa kabar bibi? Sepertinya kau makin sehat saja setiap hari, aktivitasmu banyak sekali. Jangan sampai sakit, bibi!"
Well, itu hanya basa-basi saja. Taehyung tidak terlalu akrab dengan para tetangganya, karena ia juga tidak tau harus mengobrol apa dengan seorang nenek-nenek. Bukannya ia tidak pandai berbicara, tapi apa yang kau akan bicarakan dengan seorang nenek tua? Mobil Lamborghini keluaran terbaru?
Wanita tua itu tersenyum. "Kau bisa lihat aku sedang menyiram tanaman dan aku sehat-sehat saja. Ngomong-ngomong, aku mau berterima kasih banyak kepadamu"
"Untuk apa?" Tanya Taehyung, alisnya terangkat satu.
"Karena teriakanmu setiap pagi—" Wanita tua itu terbatuk sebentar. "Berkat teriakanmu setiap pagi, aku dan anakku jadi bisa bangun lebih awal dari biasanya. Aku mau berterima kasih padamu, kau telah membantu banyak"
Astaga, yang benar saja?
Taehyung tersenyum lebar, terpaksa. "Err, ya? Sama-sama, aku senang bisa membantu. Kalau begitu aku pulang dulu, sampai jumpa lagi bibi!"
Setelah itu, Taehyung langsung berlari menuju pagar rumahnya. Pemuda yang menjadikan senyum sebagai hobi itu merogoh saku celananya dengan susah payah untuk menemukan kunci rumah.
"Jungkook! Aku sudah kembali!" Teriak Taehyung begitu sudah berhasil membuka pintu depan, ia menggunakan kaki kanannya untuk menutup pintu.
Sesaat tidak terdengar apapun, Taehyung mengira kalau Jungkook sedang ngambek padanya. Well, dia juga salah sih, meninggalkan Jungkook dengan cara seperti itu, siapa yang tidak marah? Apalagi sampai mengunci pintu dari luar.
"Jungkook?" Taehyung melangkahkan kakinya menuju ruang tengah, barangkali Jungkook tertidur disana.
Namun, yang ia lihat adalah sosok Jungkook yang sibuk menggambar di atas sebuah kertas, krayon-krayon dengan warna macam-macam bertebaran dimana-mana. Pemuda itu tertawa sendiri melihat hasil gambarnya.
Pemandangan itu tidak bisa membuat Taehyung menahan senyumnya. Jungkook terlihat seperti anak kecil yang sedang hobi menggambar, asyik dengan dunianya sendiri.
"Jungkook" Panggil Taehyung sambil berjalan mendekat.
Jungkook menoleh, ia tersenyum lebar saat mendapati Taehyung sudah kembali. Pemuda itu melempar krayon yang di pegangnya kemudian langsung menabrak Taehyung tanpa aba-aba. Alhasil, bokong Taehyung mendarat di lantai yang keras dan belanjaannya berserakan dimana-mana.
"Mama!" Teriak Jungkook, terdengar sangat gembira.
"Ya!" Taehyung menggertak, ia mengelus bokongnya. "Sudah aku bilang berapa kali jangan tiba-tiba memelukku seperti itu! Kau hampir membuat bokongku hilang!"
"Mama lama" Jungkook memajukan bibirnya. "Jungkook sendirian" Lanjutnya lagi.
Taehyung langsung tertawa kecil. "Apanya yang lama? Aku sudah berusaha secepat mungkin, aku bahkan membelikan susu untukmu! Apa kau suka itu? Sikat gigimu juga sudah aku belikan, kau harus mulai rajin sikat gigi sekarang!"
Itu hanya karena Jungkook belum mengerti apa itu arti dari kesepian.
Jungkook mengangguk cepat. "Terima kasih, mama!"
Taehyung tersenyum manis. "Kau sudah pandai bicara ya? Aku senang sekali melihat pertumbuhanmu secepat ini. Benar-benar ajaib, apa ini semacam latihan sebelum aku menjadi seorang ayah sungguhan?"
"Hung?" Jungkook tidak mengerti, ia hanya memiringkan kepalanya sedikit dan menatap Taehyung dengan wajah kelewat polosnya.
Mygawd, Taehyung benar-benar merasa senang sekarang. Dia telah berhasil mengajari Jungkook dengan benar! Pemuda itu tumbuh dengan sangat baik pula! Huh, Taehyung merasa seperti seorang ibu yang bangga pada anaknya.
"Mama?"
"Tunggu saja disini" Taehyung merapikan barang belanjaannya yang berhamburan. "Aku harus meletakkan semua ini ke dapur, nanti akan aku buatkan makanan spesial untukmu. Kau mau makan apa—"
Tidak. Dia lupa lagi.
"—… Jungkook, lupakan saja pertanyaanku! Aku ke dapur dulu ya!"
Secepat angin tornado, Taehyung langsung berlari menuju dapur, meninggalkan Jungkook yang sedang berpikir akan pertanyaannya (lagi).
.
.
.
.
"Hei, itu curang namanya!" Taehyung memajukan bibirnya kesal. "Kau sudah melempar dadunya satu kali, jadi sekarang giliranku!" Tambahnya, terdengar dengan jelas perasaan kesal dari cara berbicaranya.
Yeah, kali ini Taehyung dan Jungkook sedang bermain monopoli bersama. Kejadian ini begitu langka, yaitu dimana Taehyung lah yang pertama kali mengajak Jungkook bermain, dengan alasan dirinya bosan tidak melakukan pekerjaan apapun.
Tapi ekspetasi selalu berbeda dengan kenyataan, Jungkook yang tidak pandai bermain monopoli (dan beberapa hal lainnya) sukses membuat Taehyung darah tinggi dalam sekejap.
"Dua kali" Begitulah yang Jungkook hanya bisa ucapkan, tidak mau memberikan dadunya.
"Mwo?" Taehyung melebarkan matanya. "Mana bisa begitu? Kemarikan dadunya! Sekarang giliran aku yang melempar dadu, Jungkook!" Tangannya terulur untuk mengambil dadu yang ada di genggaman Jungkook.
Alhasil, mereka memperebutkan sebuah dadu kecil sekarang. Jungkook yang keras kepala dan Taehyung yang pemaksa, entah sampai kapan keributan itu akan berlangsung.
Jika di lihat dengan sangat baik, Taehyung justru terlihat seperti orang jahat yang ingin merampas permen dari Jungkook, padahal keduanya sama-sama dewasa (walaupun Taehyung tidak tau berapa usia Jungkook sekarang ini).
"Baiklah!" Taehyung menyerah, ia memutar balikkan posisi duduknya membelakangi Jungkook. "Main saja sendiri! Aku tidak mau bermain dengan orang yang suka berbuat curang!" Katanya, seperti menyindir Jungkook.
Kenyataannya, ia memang sedang menyindir Jungkook.
"Mama" Jungkook memajukan bibirnya. "Main!" Ajaknya sambil tersenyum lebar.
Taehyung melirik sekilas sebelum akhirnya membuang muka lagi. "Tidak mau! Main saja sendiri! Aku sudah lelah, mau tidur saja!"
Meski begitu, Taehyung tetap duduk disana tanpa melakukan pergerakan apapun.
Jungkook memajukan bibirnya, tapi ia juga tidak mau melepas dadu yang ada di kepalan tangannya. Pemuda itu hanya berpikir kalau Taehyung sedang marah besar, tanpa memikirkan mengapa Taehyung bisa sampai marah padanya.
"Mama~" Jungkook menggeser posisinya menjadi di belakang Taehyung. "Main?" Ajaknya lagi, dengan wajah merajuk kali ini.
Tidak. Jangan sampai Taehyung luluh akibat wajah itu. Kesabarannya hampir habis karena selalu menuruti kemauan Jungkook, sekali-kali anak ayam itu harus di beri pelajaran.
Taehyung tetap pada pendiriannya, tidak mau menatap Jungkook sedikitpun.
"Mama!" Kali ini suara Jungkook agak sedikit meninggi. "Main"
"Oh?" Taehyung menoleh. "Apa kau baru saja memerintahku? Memangnya siapa dirimu bisa memerintahku? Seorang Kim Taehyung yang tidak pernah sekalipun menurut pada perintah orang lain?" Balasnya, seperti menantang.
Entah sampai kapan hal tersebut akan berakhir.
Jungkook juga tidak mau kalah, dia melempar dadu itu ke sembarang arah kemudian memandang Taehyung dengan tatapan tajamnya (dan serius, justru itu terlihat menggemaskan sekali).
Taehyung mengalihkan pandangannya, tidak terpikir sama sekali olehnya bahwa Jungkook akan ikut membalas tatapannya seperti itu; tajam dan menusuk. Detak jantungnya langsung berubah tidak menentu, ia juga merasa kalau pipinya memanas.
"Y-ya!" Suara Taehyung sedikit meninggi. "Apa yang kau lakukan, huh? Anak ayam? Cepat hentikan pandanganmu! Kau terlihat semakin jelek!" Ujarnya, tanpa mau menatap mata lawan bicaranya.
Raut wajah serius Jungkook langsung berubah menjadi senyum lebar dalam beberapa detik. "Main~" Uhm, dia telah berhasil meluluhkan Taehyung.
Taehyung mendengus. "Curang! Kau memberikan aku tatapan seperti itu, tentu saja aku akan kalah!" Pemuda itu mengambil dadu yang ada di lantai. "Berjanjilah kau tidak akan curang lagi! Atau aku akan meninggalkanmu tidur!" Ancamnya.
Jungkook mengangguk dengan cepat, kembali ke posisi semula.
Dan mereka mulai bermain bersama lagi. Setelah hampir satu setengah jam berlalu, akhirnya kemenangan berada di tangan Taehyung (tentu saja, pemuda itu sudah memprediksinya sebelum mereka mulai bermain).
"Aku menang!" Taehyung tertawa, ia tidak bisa menahan tawanya melihat wajah cemberut Jungkook, begitu menyebalkan dan menggemaskan di saat bersamaan.
Jungkook semakin memajukan bibirnya. "Hukuman!"
Taehyung menutup mulutnya menggunakan satu telapak tangan akibat tertawa. "Lho? Kenapa aku yang harus kena hukuman? Kau yang kalah, anak ayam! Bukan aku, jadi kau yang harus kena hukuman!" Balasnya, tak berhenti tertawa.
"Tidak!" Jungkook membuang muka, melipat kedua tangannya di dada.
"Lucu sekali, Jungkook!" Taehyung merapikan kertas dan segala pernak-pernik monopoli dengan asal. "Aku tidak akan menghukummu, tenang saja. Lebih baik sekarang kita tidur, oke? Besok aku akan mengajakmu main"
Jungkook tidak menjawab, ia hanya memandang punggung Taehyung yang mulai berjalan menjauhinya. Perlahan wajah itu berubah sedih, seperti enggan waktu bermain mereka berakhir sampai disini.
Setelah meletakkan kardus monopoli di rak lemari, Taehyung menoleh. "Eoh? Kau belum mau tidur? Apa mau tidur sendiri?" Tanyanya, memasang raut wajah bingung.
Hening hingga beberapa detik. Kemudian, secepat kilat, terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa, membuat Taehyung melebarkan matanya dengan sempurna.
Jam delapan malam, lima belas menit, dua puluh detik, nafas Taehyung seperti berhenti mendadak. Tubuhnya terasa melayang di udara, ia bahkan dapat melihat langit-langit rumahnya yang sebagian di sarangi oleh laba-laba (ingatkan dia harus membersihkan itu semua).
Jungkook menggendongnya—tidak, mengangkat tubuhnya. Lebih tepatnya, mengangkat tubuhnya seperti seorang pengantin wanita.
Apa-apaan ini?!
Apa Jungkook sedang dalam masa trainee untuk menjadi seorang pembunuh bayaran?! Well, dalam artian membunuh semua orang akibat segala tindakannya yang suka membuat terkejut.
"Jungkook!" Taehyung memekik. "Apa yang kau lakukan? Cepat turunkan aku!" Ujarnya, memerintah dan tegas.
"Hukuman!" Jungkook tetap keras kepala, tidak mau menurunkan Taehyung dan justru semakin mencengkram jari-jarinya di lengan Taehyung.
Hukuman?
WHAT?! Taehyung buru-buru melepaskan dirinya secara paksa, ia tidak perduli ketika bokongnya mendarat dengan sempurna di atas lantai yang dingin. Bukannya ia mesum atau apa, tapi mencerna kata hukuman dengan teliti itu terdengar ambigu.
Kemudian ia memberikan tatapan tajam untuk Jungkook. "Jangan pernah lakukan itu lagi!" Ancamnya galak.
Jungkook menoleh ke bawah, dimana Taehyung masih setia duduk di lantai dingin sambil meringis dan mengelus bokongnya. "Hukuman?" Ulangnya lagi, memberikan tatapan polosnya.
"Hukuman apa?!" Taehyung beranjak dari posisinya kemudian berjalan menuju lantai atas, kamar tidurnya. "Kau mau tidur atau tidak?! Aku akan mematikan lampu!" Katanya, membiarkan tangannya mengelus-elus bokongnya.
Mungkin tidak lama lagi Taehyung akan terkena penyakit jantung, dan satu-satunya orang yang akan membunuhnya secara perlahan adalah Jungkook. Anak ayam itu benar-benar, senang sekali membuat wajah Taehyung memerah dan jantung berdetak tak karuan.
Jungkook melebarkan matanya, ia buru-buru menyusul langkah Taehyung sebelum pemuda itu mematikan lampu ruang tengah.
"Mama!"
"Jangan panggil aku mama, kau membuat bokongku sakit!"
"Hu—"
"Tidak ada hukuman apapun, Jungkook. Berhenti bicara atau aku akan menyumpal mulutmu dengan kaos kaki! Pokoknya jangan bicara apapun, anak ayam! Mengerti?!"
"Hu'um~"
"Bagus, dan tolong jangan lepas bajumu lagi saat tidur! Kau bisa membuat jantungku meledak dalam hitungan detik!"
Seperti itulah obrolan mereka sebelum sampai di depan pintu kamar. Taehyung yang terus bicara dan Jungkook yang terus mengangguk, entah dirinya mengerti atau tidak dengan semua omongan Taehyung.
Jungkook tidak salah, kok. Sebelum permainan berlangsung, Taehyung dengan berapi-api berkata seperti ini; Pokoknya yang kalah harus menggendong yang menang sampai ke kamar! Kau setuju?!
Nah, siapa yang salah dan yang benar disini?
.
.
.
.
"Mama?"
Taehyung menoleh, alisnya hampir menyatu begitu melihat seorang anak laki-laki (berusia sekitar lima tahun) membawa es krim vanilla di tangan kirinya, menatap Taehyung dengan tatapan polos ditambah kebingungan.
"Eh?" Taehyung menoleh ke belakang sejenak, memandang anak itu lagi kemudian. "Apa kau baru saja memanggilku?" Tanyanya, menunjuk dirinya sendiri menggunakan telunjuk.
Anak kecil itu semakin terlihat kebingungan. "Mama?" Ulangnya lagi, dengan ekspresi yang sama.
Apa sih maksud anak kecil ini?! Kenapa dia memanggil dirinya dengan sebutan mama?! Oh, tiba-tiba ia teringat akan sosok Jungkook!
Ngomong-ngomong, kemana makhluk aneh itu sekarang?
"Hei, kau lihat Jungkook?" Tanya Taehyung pada anak kecil itu. Well, dia tau kalau dirinya itu terlalu bodoh, bertanya pada anak kecil yang bahkan dirinya tidak mengenalnya dengan baik.
Dimana ini? Ruangan ini terlihat familiar untuknya—oh, dia ingat, ini adalah kamar tidur kedua orang tuanya. Kenapa dirinya bisa ada disini? Dan kenapa juga anak kecil yang tidak ia kenal bisa masuk ke dalam rumahnya?
Benar-benar membingungkan. Taehyung beranjak dari posisinya (ia sedang duduk di atas ranjang tempat ibu dan ayahnya saling berbagi ranjang), mengedarkan pandangannya, meneliti apa saja yang menurutnya ganjil.
Memang tidak ada yang berbeda dari ruangan ini, tapi Taehyung berani sumpah kalau letak barang-barang di sini semuanya berubah, tidak lagi sama seperti terakhir kali ia melihatnya. Apa ia baru saja mengadakan bersih-bersih dengan Jungkook?
"Mama~"
Taehyung menoleh, menunduk dan menemukan anak kecil itu menarik-narik celana tidurnya. "Oh? Dimana mamamu? Apa Jungkook membawamu kesini? Apa jangan-jangan aku mabuk dan menculikmu kesini?"
Bodoh. Satu kata untuk Kim Taehyung.
Anak kecil itu tak menjawab, tapi dia memandang tepat ke arah pintu, tidak melakukan pergerakan apapun. Hal itu membuat Taehyung semakin kebingungan, ia mengikuti kemana tatapan sang anak kecil itu mengarah.
Di pintu, sosok Jungkook berdiri, bersandar di daun pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya. Makhluk yang sering memanggilnya mama itu menggunakan kemeja biru muda serta celana hitam, memakai dasi yang matching dengan kemejanya, menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa ia mengerti.
Wah, sejak kapan Jungkook mempunyai selera berpakaian yang bagus? Dia terlihat seperti model hot dan juga tampan. Taehyung malas mengakuinya sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi? Ia tidak mau di sebut munafik.
"Jungkook?" Panggil Taehyung pelan. "Apa yang kau lakukan? Dan siapa anak kecil ini? Kenapa dia bisa ada di rumah kita?" Tanyanya, tidak memberi jeda sedikitpun pada pertanyaannya.
Suasana hening sejenak, bukannya mendapat jawaban, justru Jungkook mulai melangkahkan kakinya, mendekat ke arahnya dengan tatapan yang sama, tidak di mengerti. Oh, hei! Bahkan Jungkook mengenakan sepasang anting-anting bulat berwarna hitam! Sejak kapan?
Anak kecil itu berlari ke arah Jungkook, membiarkan dirinya di bawa ke dalam gendongan Jungkook. Mereka berdua memandang Taehyung, tatapan yang sama sekali tidak bisa Taehyung artikan.
"Jungkook? Kenapa kau diam saja?! Yak! Jawab aku anak—"
"Kau ini kenapa, Tae?"
Mendadak, jantung Taehyung berdetak begitu cepat dari biasanya. Kedua matanya membulat dan mulutnya menganga, apa ia tidak salah dengar barusan? Apa Jungkook baru saja berbicara padanya? Apa ada orang lain disana yang berbicara dan berusaha menyadarkannya?!
Oh, ini terlalu membingungkan. Taehyung masih tetap dalam posisinya, seperti menunggu hal apa yang akan terjadi selanjutnya.
Jungkook mendekat ke arah Taehyung, mengelus rambut hitam anak kecil itu. "Kenapa wajahmu seperti itu? Kenapa kau berbicara seperti itu padanya?"
"M-maksudmu?"
"Astaga, kau lucu sekali" Jungkook tertawa kecil, terlihat begitu tampan dan mempesona dalam waktu bersamaan. "Dia itu anak kita, apa kau lupa? Baru kemarin ia berumur lima tahun! Jangan bilang kau sedang mengigau sekarang?"
Apa tadi katanya? Anak?
"Papa, mama kenapa?" Anak kecil itu mendongak dan memandang Jungkook dengan tatapan bingung, seperti tidak mengerti dengan ekspresi Taehyung.
Taehyung mengerjapkan matanya, berusaha mencerna apa yang terjadi dan apa maksud dari perkataan Jungkook. Okay, mari mulai perlahan-lahan—Jungkook sudah bisa berbicara dengan lancar sekarang, dan apa kalimat terakhirnya tadi?!
ANAK KITA?! Maksudnya, ANAK MEREKA?!
"ANAK KITA?!" Taehyung tidak bisa menahan lengkingan suaranya, ia tidak perduli jika itu akan membangunkan tetangga-tetangganya.
Jungkook tersenyum. "Kau benar-benar lupa ya? Kita sudah menikah dan resmi memiliki anak, kau sendiri yang memintaku untuk mempunyai anak, bahkan kita sudah sepakat akan memiliki satu atau dua anak—"
"STOP!" Taehyung memotong kalimat Jungkook. "T-tapi, k-kau hanyalah anak ayam yang baru menetas?! Bagaimana bisa kau—"
Akhirnya, Taehyung merasa pandangannya berkunang-kunang. Pemuda itu membiarkan matanya tertutup dengan cepat, setelah itu ia tak merasakan apa-apa lagi, ia hanya mendengar teriakan dari Jungkook dan anak kecil itu sebelum benar-benar jatuh tak sadarkan diri.
Semoga ketika ia terbangun, dirinya sudah berada di surga.
.
.
.
.
.
"Mama~"
Taehyung meringis begitu merasakan tamparan cukup keras di kedua pipinya, perlahan matanya terbuka, dan yang pertama kali ia lihat adalah sosok Jungkook yang tepat berada di depan wajahnya, begitu dekat.
"HYAA!" Taehyung mendorong wajah Jungkook sejauh mungkin menggunakan telapak tangannya. "JANGAN DEKATI AKU! KAU! ANAK AYAM! KEMANA ANAK KECIL ITU?! KEMANA ANAK YANG KAU BILANG SEBAGAI ANAK KITA?!" Hardiknya, menunjuk-nunjuk wajah Jungkook dengan tatapan menuduh.
Jungkook diam, ia tidak mengerti perkataan Taehyung sepenuhnya. "Mama?" Justru ia mengulang perkataan yang sama, seperti yang biasa ia lakukan.
Taehyung mengedarkan pandangannya, ia ada di kamar tidurnya sendiri dan tidak ada yang berubah sedikitpun. Pemuda itu mencoba untuk menetralkan detak jantungnya, mengelus-elus dadanya lembut.
Jadi, yang tadi itu hanya mimpi?!
"Sial!" Rutuk Taehyung. "Kenapa aku bisa bermimpi seperti itu? Berapa lama aku tertidur? Ya ampun! Rasanya kepalaku benar-benar ingin pecah!" Desahnya frustasi.
Pemuda itu menoleh ke arah Jungkook, memandang anak ayam itu dengan tatapan takut-takut. Hal yang sedang ia pikirkan adalah, Jungkook tiba-tiba bisa berbicara dengan lancar, bukankah itu sebuah hal yang mengerikan?
Setelah beberapa menit memandang Jungkook dengan tatapan curiga, tidak ada pergerakan apapun dari Jungkook, hanya ada tatapan polos yang terpancar dari kedua matanya.
"Mama?"
Ah, benar juga. Taehyung baru saja mimpi hal menakjubkan barusan, tentu saja hal yang ia takutkan tidak akan terjadi. Buktinya, Jungkook masih berpakaian piyama yang terakhir ia pakaikan, bahkan masih memanggilnya dengan sebutan mama.
"Aku baru saja mimpi buruk, Jungkook" Taehyung menghela nafasnya, menyingkirkan poni yang hampir menutupi matanya. "Lebih baik aku mandi, kau mau mandi atau nanti saja?" Tanyanya pada Jungkook.
Kali ini ia tidak mempermasalahkan Jungkook yang terlalu lama berpikir untuk menjawab pertanyaannya, pemuda itu hanya duduk di tepi ranjang sambil memikirkan mimpi apa yang baru ia alami tadi.
"Mandi bersama?" Akhirnya Jungkook menjawab.
"Huh?" Taehyung menoleh. "Tapi bagaimana bisa aku mandi bersamamu? Kita ini sama-sama laki-laki, jadi mana bisa—"
Omongannya tidak di lanjutkan, Taehyung terpaku pada sosok Jungkook yang memandangnya dengan tatapan lugu sekaligus kebingungan. Sekali lagi, Taehyung menghela nafasnya agak panjang kali ini, ia memakai sandal rumahnya dan berjalan menuju kamar mandi yang kebetulan ada di kamarnya.
"Baiklah, kita akan mandi bersama" Taehyung mengambil dua buah handuk yang tergantung di balik pintu. "Cepat! Atau kau mandi sendiri!" Ujarnya dengan sedikit keras, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Jungkook.
Jungkook tersenyum lebar, ia menendang selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya, berlari menyusul Taehyung dengan langkah tergesa-gesa.
Taehyung membuka pintu kamar mandi. "Jangan berlari seperti itu, kau bisa terpeleset kapan saja" Ingatnya, namun hal itu di abaikan oleh Jungkook. "Pokoknya saat mandi, kita harus saling membelakangi, mengerti?! Aku akan membunuhmu jika sampai kau berani menoleh ke belakang!" Ancamnya galak.
"Sikat gigi?" Jungkook memiringkan kepalanya.
"Aku sudah meletakkannya di kamar mandi" Taehyung menjawab dengan tatapan malas, ia terlalu pusing akibat mimpinya itu. "Jangan gunakan pasta gigi terlalu banyak! Apalagi sampai memakannya! Kau mengerti?!" Ancamnya lagi.
Jungkook mengangguk dengan semangat, pemuda itu berlari mendahului Taehyung untuk duduk di tepi bathup. Namun sebelum itu, Jungkook tersenyum lebar kemudian dengan gerakan cepat melorotkan celana piyama panjangnya.
Taehyung yang melihat itu segera melebarkan matanya. "JUNGKOOK! SUDAH AKU BILANG JANGAN—KYAAA! TERONG!" Teriaknya, terdengar persis seperti seorang wanita yang telah menodai matanya sendiri.
Parahnya lagi, Jungkook malah membalikkan tubuhnya dan memandang Taehyung dengan tatapan bingung. "Mama?" Katanya pada Taehyung yang sudah menutupi kedua matanya dengan telapak tangannya sendiri.
"CEPAT PAKAI CELANAMU LAGI!" Taehyung memekik. "ANAK AYAM! KAU MENYEBALKAN!"
Kalau sudah begini, kehidupan Taehyung yang biasa-biasa saja akan berubah seratus delapan puluh derajat. Haruskah ia berterima kasih pada Jungkook? Tentu tidak, Taehyung terlalu gengsi untuk mengatakannya. Hehe.
Bersambung
A/N : Yeah! Seneng banget rasanya bisa ketemu kalian lagi di chapter dua! Kkk~ Semoga chapter ini gak mengecewakan kalian semua ya? Hehe /kasih Jungkook sebagai permintaan maaf/. Maaf kalau terlalu lama update, masalahnya cerita yang aku buat ini butuh dua sampai tiga hari di buatnya xD itu juga kalau lagi gak mentok atau lagi ga ada tugass /sedih/. Maaf juga kalau jalan ceritanya terkesan buru-buru, biar ga kacau aja gitu x.x
Terima kasih banyak buat kalian;
winachan62 (Jungkook mah suka gituu xD) | Sugahoney (Jangan di bayangkan yaa terongnya haha! Kinderjoy deh coba beli di supermarket wkwk) | cutebei (Jungkook di fanfic ini emang gemesin, tapi di dunia nyata... /dead/ wk. Soal itu masih di rahasiakan ya! :p) | Oh Deer Han (Mereka berdua emang gemesin! Jungkook walaupun kecil gitu bisa bikin mimisan mendadak lho haha) | SJMK95 (HUAA REVIEWNYA PANJANG SEKALIH, jadi bingung mau bales apa wkwk. Yap! Setuju, Jungkook makin kesini makin manly ajaa, badannya ituu alamakkkk. Taehyung malah makin unyuu, apalagi dengan gaya rambutnya yang kek gitu huaduhhhh /mimisan mendadak/) | bbihunminkook (Aku pikir kamu bilang diapet wkwk /dihajar/ xD Jangan nangis dong, mau emang liat wajah Jungkook yang sedih? hehe) | Jell-ssi (Yeahh, seneng dengernyaa! SENENG karna ada juga yang Uke!v shipper hehe xD nih sudah di lanjut ya!) | hyemi270 (Karena anak kucing sudah terlalu mainstream wkwk, thank youu babyyy! sudah di lanjut yaa!) | anoncikiciw (Jungkook memang begituu wkwk, makasihh, udah sembuh kok ini /hug/ wkwk masa iya Jimin? Apa karena aku lupa ya bilang kalau tukang roti itu bukan anak muda lagi? hehe xD udah di lanjut yaa) | utsukushii02 (Iya nih :( kalau Tae sakit kamu yang obatin ya? hehe xD) | RonaTan (Syukurlah kalau sukaaa, nih udah di lanjutt yaaa xD selamat menikmati) | rifkun (jangan di culik dong :( nanti Tae sama siapa? Hehe) | kim joungwook (Yak! kamu pervert ya?! Kasiann Jungkook masih polos wkwk xD) | Vookie (Wahh, selamat baca kalau gituu xD maaf kalau karakter-karakter disini tidak seperti yang kamu harapkan~~) | Clou3elf (Heii kalau Jungkook di bawa pulang nanti lanjutin ff ini gimana? -.- wkwk Tae emang calon emak-emak kan? /eh/) | kimjin9047 (Sekarang udah banyak kokkk ff KookV, gak terlalu banyak juga sih hehe xD) | HyeraSung (wkwk, kamu mau ajarin Kookie apa emangg? Haha. Yeahh ga bakal di ganti because i'm kookv trash too :p) | Ansleon (Wkwk polos gitu bisa bikin kamu mendadak mimisan lhoo :p ini udah di lanjut yaa^^) | cinnynese (AMINN! Semoga Jungkook bisa secepetnya ngelamar Tae yaa hehe /plak/ yoyy ketemu lagi sama #teambottomtaehyung xD Ah, aku juga suka baca Lookism! Nge-ship Jae yeol sama Seok pulaa wkwk xD) | Cakue-chan (Huaaa, seniorku revieww fanfic abal-abal ini :") /sok kenal/ Jungkook itu licik emang, wajahnya doang imut tapi jiwa semenya berapi-api :") Tae itu emang error, jadi jangan heran kalau tingkahnya aneh di ff ini /atau mungkin yang ngetik yang error kali ya-_-/ kakaknya tae masih di simpen dulu yaa/?/ Nihh sudah di lanjutt! makasih buat ripiu panjangnya xD) | Aprieelyan (Heyy! jangan fokus sama terongnyaa wkwk xD syukur deh kalau bisa bikin ketawa wkwk, jangan panggil thor :( udah kayak avengers ajaa, panggil Rahma aja yakk xD)
Huah, lelah juga ternyata :") tapi terharu sumpah, makasih juga buat yang favorite/follow fanfic ini /wink pt2/
Pokoknya review kalian the best lah! Aku jadi lebih semangat buat lanjutin cerita ini, review kalian berharga banget buat aku /nangis terhura/
Sudahlah, aku gak tau harus ngebahas apa lagi -_- tentang siapa kakak kandung Taehyung, itu masih di rahasiakan yaa kakak-kakak semuaa (karena sebenernya aku juga bingung sama kakaknya *lol bercanda denggg xD), pokoknya liat aja nantii, sekarang kita seneng-seneng dulu sama kisah antara Jungkook dan Taehyung xD
Sampai jumpaaaa di chapter selanjutnyaa! #TeamTerongJungkook
