CHSB (Catatan Hati Siswa Baru)

(EXO Fanfiction)

Author : parkodot

Cast : EXO's official pair (slight BTS)

Genre : Humor, Romance, School-Life

Length : 3 of 3

Desclimer : Para cast di sini resmi tercantum sebagai anak buah Bapak Lee Sooman yang terhormat. Dan Odot sengaja menyeret Chanyeol dari sana untuk dibungkus dan dibawa pulang. Alur cerita Odot dapat dari MOS yang odot jalanin sendiri kemarin. TAPI gak sepenuhnya sama ya! MASIH PARAH YANG INI KOK^^ Hehehe.

Summary : Tahun ajaran baru, Chanyeol, Kai, Chen, Zitao, Luhan, dan Lay masuk di SM Internationa High School. Awalnya baik – baik saja. Tetapi semua itu berubah saat 6 orang Tim OSIS bagian Ketertiban datang! Bagaimana suka dan duka menjalani Masa Orientasi Siswa di sana?

.

.

.

.

.

HAPPY READING! ^^

.

.

.

.

.

IF YOU DISLIKE YAOI, DONT READ THIS!

.

.

.

.

.

WARNING! TYPO JELEK ABAL GAK JELAS!

.

.

.

.

.

parkodot Presents..

.

.

Mereka kembali ke rumah Luhan pada pukul lima sore. Beberapa tangkai bunga gebra spiral tak lupa menemaninya. Bunganya bagus, warnanya putih dengan semu hijau atau kuning di tengahnya. Chanyeol sudah merencanakan, satu bunga di antaranya harus ia berikan pada Baekhyun! Apapun alasannya!

Luhan segera menggelar terpal di ruang tengah. Jangan diherankan, Luhan memang tidak punya karpet. Motivasi Luhan menggelar terpal ini selain untuk melindungi diri dari dinginnya lantai, juga bisa untuk lesehan. Membuat surat sambil tengkurap berlima sepertinya asyik.

"Demi apapun, gue kudu mulai dari mana ini weh?!" Kai komat – kamit bingung. Di hadapannya kini sudah ada dua bucket gebra spiral, dua batang coklat, dua lembar kertas A4, spidol warna – warni, dan juga—selfie-nya dengan pose telunjuk melebarkan lobang hidung.

"Eanjir selfie lu, Kai!" ucap Tao yang tidak sengaja melihat foto Kai. Pemuda bermarga Huang itu kemudian tertawa sampai guling – guling di atas terpal. "NGAHAHAH YAOWLO ITU SELFIE MUKA APA SELFIE UPIL? BAHAHAHAH"

"Biasa aje keles." respon Kai woles.

Memang sih, selfie kelima human di sini tidak normal semua. Di mulai dari Kai yang pose melebarkan hidung, Chen yang berhijab pake sarung, Luhan koprol, Tao—oh, sepertinya dia lumayan. Selfie di depan kaca kamar mandi mall.

Sementara Chanyeol, dua fotonya berbeda tempat, namun dengan pose yang sama.

Dua jari. Apa lagi?

Saat Chen bertanya kenapa Chanyeol selalu menggunakan dua jari, pemuda jangkung itu menjawab, "Gue dukung Jokowi broh! Salam dua jari!"

Gitu…

Hah, baiklah. Abaikan soal selfie – selfie mereka. Sekarang, biarkan mereka berlima berkutat dengan spidol warna – warni serta kertas A4. Tim OSIS tidak menyuruh mereka membuat surat cinta. Melainkan, kesan dan pesan selama MOS. Bagaimana pendapat mereka tentang MOS, anggota OSISnya, sekolahnya, dan lain – lain.


"—Dear Kris Sunbae,

Sebenarnya, aku nggak tau mau nulis apa. Tapi, aku nulis surat ini khusus dipersembahkan untukmu kok. Dibaca ya, sunbae? Jangan langsung dibakar—"

.

"—Umm, hey, Aphrodite!

Hehehe… sebenernya kamu ini acting apa gimana sih? Galak banget. Padahal cantik. Hehehe… Oh ya, surat ini buat kesan pesan MOS kan? Khusus kamu, aku bikin surat cinta ajadeh azeg—"

.

"—Sohee nuna KW, aku kayaknya ngefans nih sama kamu. Rela deh dimarahin tiap hari. Meskipun kamu galak, tapi aku keknya naksir deh. Bagaimana?—"

.

"—gak capek apa ya mbentak terus tiap hari? Padahal muka kamu kalem kaya gitu. Mirip pororo tau gak? Duh maap banget aku gak bisa bikin kesan pesan. Kalo bikin benih rasa cinta kita keknya bisa—"

.

"—sunbae dengan muka terdatar yang pernah kutemui… umm apa ya? Nggg kesan pesan? Dari aku dikit aja yah. Hmm, Sehun sunbae~ can I be your lover? eh—"


Mereka berangkat pagi – pagi. Dengan menjinjing 2 bucket bunga gebra spiral beserta surat dan cokelatnya. Penampilan masih cupu seperti kemaren. Rambut dibelah dua, dengan dasi kupu pink polkadot.

"Itu—bunga lu, mau dikasihin siapa, Yol?" tanya Kai saat mereka duduk di bangku masing – masing.

Chanyeol nyengir, "Ya biasa, Aphrodite-ku. Tapi satunya lagi gak tau mau gue kasihin ke siapa. Lu mau gak, Kai?"

Kai bergidik. Sahabatnya paling peak ini mulai lagi.

"Najis banget dah gue nerima bunga dari elu…"

"Ngahaha ya kagak lah. Gak sembarang orang loh bisa dapet bunga dari orang tampan kek gue. Mungkin Baekhyun sunbae orang yang beruntung tsaaahhh"

"Gue mau muntah. Tolong siapapun—"

Dan begitu seterusnya sampe kakak pembina datang.

.

.

Hari ini berjalan normal. Belum ada tanda – tanda akan datangnya Tim Ketertiban ke kelas. Belum ya, setidaknya.

"Hah… dari kemaren gini kek. Adem ayem, gak ada acara bentak – bentak." oceh Luhan. Saat ini, mereka sedang duduk bareng di aula sekolah karena ada penyuluhan tentang narkoba. Tempat mereka paling belakang. Mendengarkan penyuluhan apa gunanya coba?—begitulah pendapat mereka.

Chen menyandar di tembok, "Nafas gue lega bro."

"Tapi, tapi…." Tao menyahut. "Gimana kalo ntar itu Tim Ketertiban dateng sekarang?"

"Yaampun, sekarang masih penyuluhan. Masa iya itu tim mau ngebentak – bentak di sini? bisa – bisa itu bapak – bapak pemberi penyuluhan langsung tewas di tempat" ucap Chanyeol, lalu ia membenarkan posisi duduknya. "Sumpah sumpah, tapi bener dah. Mereka liar!"

"Iye. Macem induk macan yang baru lahiran. Rawr" sahut Chen. Ia menirukan semua gerak gerik macan. Mulai dari auman, muka, sampai goyang ala macan/?

"Tapi ya, by the way…" potong Kai. "Kalian ngerasa gak sih kalo itu cuman acting belaka?"

Seluruhnya terdiam, lalu memandang satu sama lain. Ada benarnya juga memang pernyataan Kai. "Bisa saja mereka bikin scenario sendiri, trus kakak – kakak pembina kita itu di suruh jadi peran protagonist. Sok kalem dan baik hati…"

"…dan Tim Ketertiban itu sebagai antagonisnya?" tebak Luhan.

"Betul!" Kai mengangkat jempolnya. "Terserah lu pada mau percaya gue ato kaga. Itutu, si wakil OSIS, Suho Sunbae, gak sengaja pernah gue lirik lagi senyumin Jimin Sunbae!"

"HAHHH?" Chanyeol terkejut alay. Berhubung ia belum sikat gigi waktu mandi pagi tadi, bau mulutnya menyebar ke mana – mana. Wajah Chen berubah jadi kisut, "Bau. Kampret."

Chanyeol nyengir.

"Eh, serius lu Kai?" Tao mendelik tidak percaya.

"Dua-rius! Gue liat pake mata telanjang! Gak gue bajuin!"

"Ape kata lu dah anjir mata dibajuin.."

Pembicaraan mereka pun berlangsung serius. Soal Kai yang tak sengaja melihat Suho senyumin Jimin itu memang benar adanya. Saat itu adalah saat di mana Suho meludahi para pembina kelas. Dan setelah itu, ia tersenyum.

Bukan senyum remeh. Tapi, senyum tulus.

Dan seorang Kim Jongin secara tidak sengaja mengetahui hal tersebut.

"Ah, iya kali! Itu cuman rekayasa!" timpal Luhan.

"Tapi, kalo itu cuman rekayasa, niat banget sih marah – marah pake bentak gitu?"—Tao berpendapat. Dan langsung di respon oleh Chen, "Lhamen, biasanya mereka balas dendam!"

"Betul!" Chanyeol mengacungkan jempolnya.

"Ho'oh. Mereka mungkin rela ngelakuin apapun demi balas dendam.."—Kai.

"Betul! Betul!"—Chanyeol

"Kita salah apa yaampun…. Salah gak salah, tetep disalahin. Sakitnya tuh—" Luhan menjeda kalimatnya. Lalu ia melebarkan kedua lubang hidungnya, "—DI SINIH!"

"Betul! Betul! Betul!"

"SEKALI LAGI LO NGOMONG BETUL GUE CIUM PAKE KAKI TUH MULUTTT!" Chen emosi. Yang langsung dibalas dengan cengiran lebar ala Chanyeol. Perdebatan mereka pun akhirnya terhenti. Karena sang MC memberitahukan bahwa—

"…baiklah, karena penyuluhan sudah selesai, kalian boleh istirahat. Kembali ke kelas masing – masing…."

Sesuai dengan arahan MC, merekapun bergegas untuk kembali ke kelas. Dikarenakan murid kelas sepuluh yang terlampau banyak (kurang lebih 250 siswa), koridor untuk menuju ke kelas menjadi sempit. Susah untuk berjalan cepat di tempat seperti itu. Sementara telinga Chanyeol, Kai, Chen, Luhan, dan Tao sudah berdengung tatkala mendengar teriakan Tim Ketertiban yang memendangi mereka dari lantai dua.

"JALAN GITU AJA LAMA!"—Suho

"LEMOT!"—Sehun

"CEPETAN WOY! PUNYA KAKI GAK SIH YAAMPUN!"—Kyungsoo

"SUDAH GAK USAH DIOMELIN TUH BOCAH BOCAH LEMOT! GAK ADA GUNANYA JUGA. KACANG!"—Baekhyun

'Anjir anjirrr! Itu sunbae gak tau apa kalo jalannya rame? MATA WOY MATAA!' ucap Kai. Tentu saja di dalam hati. Sungguh, ia ingin sekali menyumpal sepatu ke mulut sunbae – sunbaenya itu. Tidak peduli kalau misalnya mulut Kyungsoo—yang ia idam – idamkan—juga ikut disumpal.

Dan akhirnya perjalanan panas itu berakhir.

Alhamdulillah mereka sampai ke kelas dengan selamat sentausa. Tidak ada luka lecet atau lebam. Atau mungkin penyakit jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin. Kalau disingkat, suara sunbae Ketertiban itu membunuhmu!—itu kesimpulan seorang Park Chanyeol tentang suara sunbae – sunbae Ketertiban.

Ya gak gitu juga, sih.

Okelah, abaikan soal kesimpulan Chanyeol.

Saat ini, Jin, Vi dan Jimin sudah masuk ke kelas kembali. Senyum merekah selalu menghiasi mereka. Seolah tidak pernah takut akan omelan sunbae seperti yang kemarin. Dan faktor ini juga yang menyebabkan Kai curiga kalau ini hanyalah sandiwara belaka.

"Gimana tadi penyuluhannya?" tanya Vi. Seluruhnya menjawab 'bagus, sunbae!' atau 'kereenn!' sambil mengacungkan ibu jarinya. Terkecuali Chanyeol dan kawan – kawan. Mereka terlihat lemas, tidak bersemangat, lesu—5L banget lah pokoknya.

Badmood? Tentu saja.

Mereka sepertinya sudah mulai tidak waras.

"Oke, pada bawa bunganya kan?" tanya Jimin. Semuanya mengiyakan pertanyaan itu. Tentu saja membawa. Kalau tidak, bisa jadi mereka habis karena mendengar ocehan keras dari para sunbae ketertiban.

Jin kemudian melanjutkan, "Dua menit lagi istirahat. Dan bunga itu, yang kalian bawa, diserahkan saat istirahat juga. Mengerti?"

"MENGERTI SUNBAE~"

"Bagus."

Tingnongninggg~ Waktu istirahat pertama—Tingnongninggg~

Seluruh siswa kelas sepuluh itu segera beranjak dari tempatnya. Tangan mereka penuh dengan dua bucket bunga gebra spiral beserta cokelat dan surat dengan amplop berwarna. Perempuan berwarna emas, sementara laki – laki berwarna perak.

"Doh rame banget sih?" gerutu Tao. Saat ini mereka berlima sudah berada di depan pintu kelas. Pandangan mereka menelusuri tiap sudut dari lapangan ramai di depan. Tentu saja untuk mencari seseorang yang akan menerima bunga-surat-cokelat yang mereka bawa saat ini.

Dan pandangan mereka seketika berhenti tepat di suatu titik.

Tepatnya di tengah – tengah lapangan.

U-yeah, para sunbae ketertiban yang menjadi incaran mereka berada di sana. Lengkap.

"Akhirnya ketemu juga, Sohee Sunbae! Kalo dia senyum baca surat gue, gue doain makin cantik aje tuh sunbae! AMIN!"

"Aphrodite galak ada di depan mata, Chanyeol! SEMANGATT SEMANGAAATTT!"

"Pororo~ I'm cominggg!"

"…audzubillahiminassyaitonirrojim~ Kris Sunbae syaiton terimalah bungaku—eh GAK GAK"

"YO YO AKU SIAP AKU SIAP! SEHUN SUNBAE KALO GAK SENYUM GUE CIPOK PAKE BAKIAK MESJID YO YO YO!"

Begitulah do'a mereka dalam hati sebelum akhirnya melangkahkan kaki menuju sang sunbae killer tersebut. Sebenarnya kaki Luhan agak bergemetar. Tapi, dia tampak yang paling bersemangat diantara empat teman lainnya. Ia melangkah dengan bersorak 'YO! YO! YO!' dalam hati.

Dan sampailah mereka tepat di hadapan sunbae Ketertiban. Mereka segera mengarah pada tujuan masing – masing. Chanyeol ke Baekhyun, Kai ke Kyungsoo, Tao ke Kris, Luhan ke Sehun, dan yang terakhir—Chen ke Xiumin. Sedetik kemudian, mereka tersenyum bangga. Mungkin dikarenakan tidak ada yang berani memberikan bunga ke sunbae – sunbae tersebut, bunga mereka—Tim Ketertiban—tampak sedikit. Chen tersenyum licik dalam hati—kacian deh lu~

"Ehm, maaf, bunga ini untuk sunbae~" begitulah kalimat yang mereka ucapkan sembari memberikan bunga. Sama, namun beda tujuan. Mereka sudah siap – siap untuk mendapat semprotan marah, protes karna norak, atau apalah. Tapi—asal kalian tahu, persiapan mereka sia – sia.

Karena tanggapan mereka sama, "Gomawo~". Lalu tersenyum.

Sekali lagi,

Tersenyum.

Ter-se-nyum.

Tim Ketertiban itu TERSENYUM!

Bukan paksaan. Chanyeol bisa melihat langsung dari raut muka Baekhyun saat mendongak dan menerima bunga miliknya. Demi hidung pesek Kai, wooaah, Baekhyun benar – benar cantik saat tersenyum!

Sama halnya dengan Sehun dan Kris. Pemilik muka terdingin di antara yang lainnya. Juga bisa tersenyum saat menerima bunga dari Luhan dan Tao. Rasanya jantung Luhan sudah ingin mendesak keluar dari sarang! Begitupun dengan Tao.

Kyungsoo manis kalau tersenyum. Menggemaskan pula!—begitu pendapat Kai. Ia sudah susah payah menahan tangannya agar tidak mencubit pipi sunbae – nya. Xiumin juga seperti itu. Pipinya yang sudah mirip baozi malah semakin mengembang ke atas saat tersenyum.

Rasanya plong! Lega! Bebas!

Mereka berlima kembali ke kelas dengan wajah yang sumringah. Tiap orang pasti akan berbunga – bunga kalau karyanya yang sudah susah payah dibuat diterima dan dihargai, bukan?

Chanyeol, Kai, Chen, Tao, dan Luhan kembali ke tempat duduk masing – masing.

"Sudah dikasihin semua bunganya?" tanya Jimin. "Seneng gak?"

Semuanya berseru senang. Apalagi untuk Chanyeol dan keempat kawan – kawannya. Mereka seolah mendapat hadiah special dari orang ter-killer se-antah berantah itu. Mungkin dramanya sudah selesai kali. Hahahah!—batin Kai kemudian.

Namun sayang, kebahagiaan itu lenyap seketika.

BRAK!

Lagi – lagi pintu di dobrak. Kali ini tidak pakai tangan. Tapi pakai kaki. Yah, siapa lagi kalau bukan kaki jenjang kepunyaan sang ketua OSIS, Wu Yi Fan?

"APA KETAWA – KETAWA?!" bentak Kris tiba – tiba. Ia lalu masuk kelas dengan angkuh. Jas OSIS ia sampirkan begitu saja di pundaknya. Kedua tangan ia masukkan ke dalam saku celana. Sementara lima anggota yang lain menyusul dibelakang. Beserta seorang bermasker hitam aneh yang ikut masuk membawa kamera.

Sebenarnya, Chanyeol CS lebih penasaran dengan si perekam. Lagi dimarahin, kok malah direkam?

Tim ketertiban lagi – lagi menggunakan ekspresi dingin menakutkan.

"ABIS LIAT SULE YA KETAWA? CENGENGESAN!" lanjut Baekhyun kemudian. Ia berjalan pelan menyusuri tiap celah kelas. Matanya menyorot tajam satu – persatu siswa yang ia lihat. Chanyeol terperangah. Bukan—bukan tatapan tajam seperti ini yang ia lihat tadi saat menyerahkan bunga.

Tadi Baekhyun manis, begitupun dengan yang lainnya. Tapi—baru saja dua puluh menit berlalu…

"SUNBAE PEMBINA, KELUAR!" Sehun berkoar.

Dapat terlihat raut muka takut dari sisi Jin, Vi, dan Jimin. Mereka hanya bisa menunduk, menuruti apa yang diperintah oleh Tim Ketertiban. Apa daya, mereka juga masih menduduki posisi di bawah Tim Ketertiban yang semuanya kelas XII tersebut. Ketiga pembina tersebut keluar diikuti oleh 3 orang Tim Ketertiban—Sehun, Kris, dan Suho.

Dan sekarang, tinggalah 3 orang Tim Ketertiban dan 32 murid baru SM Senior High School.

"Berdiri, Kalian—" perintah Xiumin. Kali ini tiada bentakan. Seluruh siswa lekas berdiri dari tempat duduknya. "—nyanyikan yel – yel!"

Mendengar hal tersebut, Kai langsung maju ke depan. Telinganya sudah terlalu panas mendengar Kyungsoo mengoloknya dengan lembek. Pemuda berkulit tan itu lalu menegapkan tubuhnya. Bersiap untuk memimpin yel – yel. "Oke, teman – teman! Nyanyikan yel – yel! Satu, dua, tiga!"

Prok prok prok prok

"KAMI DARI, SEPULUH CE~"

Prokprokprok!

"KELAS KAMI, PALING OKE~"

Prokprokprok!

"KAMI YANG PALING KECE, TENTUNYA PASTI RAME—KARNA KAMI, BLAISE PASCAL!"

Prokprokprok!

Baekhyun bertepuk tangan sakratis, "Woah bagus~ Paling 'oke' ya?"

Hening. Tidak ada yang berani menyahut. Mengerti hal tersebut, Sehun menggedikkan bahunya cuek. "Yakin sudah yang paling 'OKE'? iya?" tanya Xiumin kemudian.

"KECE? OKE? CIH! KELAS BEGINIAN GAK COCOK DIBILANG GITU! BANDEL SEMUA!" itu Kyungsoo sambil berkacak pinggang. Ia lalu berjalan ke depan papan tulis. "DISURUH BELI BERAPA SIH BUNGA GEBRA SPIRALNYA?"

Suasana mendadak mencekam kembali. Mereka hanya bisa menunduk di tengah kesunyian. Tidak ada yang punya nyali besar untuk melawan Tim Ketertiban tersebut. Meskipun seorang gentleman, mereka tetap saja adek kelas. Magnae, paling muda.

"DISURUH BELI BERAPA WOY? JAWABB!"

"D—dua tangkai, Sunba—"

"KALO UDAH NGERTI DUA TANGKAI KENAPA BELINYA 2 BUCKET?" Xiumin emosi. Ia lalu mengambil sebucket bunga yang ada di meja guru kelas ini. Itu punya Soojung, yang ia berikan pada Jin sunbae. "DUA BUCKET GINIAN SIAPA YANG NYURUH?"

'Hahanjer mending banyak keles ketimbang kurang. Sialan. Salah mulu gue!' Chen mulai membatin dongkol. Tangannya mengepal sampai buku – buku jarinya memutih. Rahangnya menggertak kesal.

"LAPOR ORANG TUA, OSIS DI-SA-LAH-KAN!" Kyungsoo berceloteh di depan kelas. "SATU BUCKET BERAPA HARGANYA?"

Seorang siswa yg duduk paling depan menjawab, "—sepuluh ribu won!"

"GAK NGERTI MAHAL? SEBUCKET BUNGA INI KALO DIBAGI SATU ANAK SATU TANGKAI JADI BANYAK!" tambah Baekhyun. Ia tetap berkeliling sambil melipat tangannya di dada. Sementara 32 orang siswa itu hanya diam sambil menundukkan kepala. Satu diantaranya sudah ingin menangis—Tao.

"Coba kalian renungkan," Kyungsoo, kali ini berbicara lebih pelan. "Kalian gak kasian sama orang tua kalian? Dan juga tiga kakak pembina kalian itu?"

Tidak ada yang berani menjawab.

Kyungsoo menghela nafas, "Orang tua kalian udah ngeluarin uang banyak buat beli ini. Padahal, sebucket bunga kalo di bagi satu anak satu tangkai bisa jadi banyak."

"Dan kalian tahu, kenapa kakak pembina kalian disuruh keluar?" kali ini Xiumin angkat bicara. "Kalo kalian salah, yang dimarahin itu KAKAK PEMBINA tau gak? Kalian gak kasian sama mereka?"

"Kalian itu sama – sama EGOIS!" ucap Baekhyun sambil menekankan kata egois. Chanyeol sebenarnya sudah gondok setengah mati. Ia tidak salah, hanya selalu dicari kesalahannya. Tim Ketertiban ini benar – benar terlewat teliti.

"GAK USAH PAKE DIBELA!"

"MEREKA GAK SALAH, SUNBAE! LEBIH BAIK BELI BANYAK KETIMBANG KURANG!"

"WEH, NGAJAK BERANTEM LU?"

"APA? GUE GAK TAKUT!"

Bugh! Bugh!

"DENGERIN NOH! DI LUAR, TIM PEMBINA MATI – MATIAN BELAIN KALIAN! GAK KASIAN APA?" suara Kyungsoo seketika mendengungkan telinga. Luhan bergidik mendengarkan perdebatan di luar. Seperti ada suara pukulan di sana. A—apa benar mereka membela kelas ini sampai adu fisik?—batin Luhan bergetar takut.

Suara seperti saling adu pukul yang berasal dari luar kelas itu dapat terdengar dari dala kelas. Teriakan Vi, Jin, dan Jimin yang terus – terusan mebela kelas juga terdengar nyaring. Luhan dan Tao sudah hampir menangis. Dan sayangnya—mereka tidak sadar bahwa salah seorang Tim Ketertiban tengah tersenyum licik.

Xiumin berjalan lunglai kemudian duduk bersimpuh di depan papan tulis. Ia mengacak rambutnya kasar sambil berkata, "Capek tau gak ngatur kalian? Susahnya minta ampun!"

"Tujuan kita seperti ini untuk melatih kalian agar menjadi penerus SM International High School yang unggul, terampil, dan berprestasi. Entah itu dalam akademik, non-akademik, maupun sikap!" Baekhyun berceloteh panjang. "Bukan untuk marahin kalian. Bukan…"

'Omdo. Bukan untuk dimarahin apaan? Tiap hari bikin ketekan mulu' Chen membatin sewot.

"Sekarang, tundukkan kepala kalian, letakkan di atas meja.." pinta Kyungsoo. "Pejamkan mata kalian, renungkan…."

Seluruh siswa menurut. Mereka segera meletakkan kepala di atas meja, memejamkan mata, dan merenungkan. Hanya satu siswa yang membangkang, Kim Jongin. Ya, bocah itu kelewat dongkol. Ia hanya menunduk sambil melipat tangannya di atas meja.

Mengetahui hal tersebut, Tim Ketertiban tentu tak mau diam.

"Saat – saat seperti ini juga ada yang gak mau merenung?" ucap Xiumin. Matanya melirik ke arah Kai.

"NUNDUK WOY! MERENUNG! NGERTI MERENUNG GAK?" itu Kyungsoo. Ia sengaja tidak langsung berteriak di depan Kai karena memang peraturannya seperti itu.

Brak!

3 Tim Ketertiban lain, akhirnya masuk ke dalam kelas. Mereka menarik Vi. Jin, dan JImin yang sudah acak – acakan tak karuan. Kris, Sehun, dan Suho akhirnya meletakkan mereka bertiga di depan kelas. Kris menyeringai, "LIHAT NIH, KAKAK PEMBINA KALIAN!"

"MATI – MATIAN BELAIN APA YANG SEHARUSNYA GAK PANTES DIBELA!" Suho menambahkan. Sambil mengacak – acak kasar rambut Jimin yang sudah tak berbentuk.

Seluruh siswa yang awalnya menunduk, kini mengarah pada pemandangan menyedihkan di depan mereka. Dapat terlihat, bahkan terpampang jelas, kakak pembina mereka tampak begitu berantakan. Luhan sempat heran, 'tadi perasaan ada yang pukul – pukulan deh. Kok gaada yang babak belur? Cuman berantakan?'

"Kakak Pembina sama apa yang dibina gaada bedanya." ucap Sehun. Ia lalu mengambil penghapus papan tulis yang sudah hitam karena digunakan untuk menghapus spidol di papan tulis. Ia menyeringai sekilas. Sebelum apa yang dipegangnya, diusapkan secara langsung ke wajah Vi, Jin, dan Jimin. "Lihat nih, keren kan?"

'sunbae mabok!'—Chanyeol

"MEREKA RELA DIGINIIN DEMI SIAPA?" Kris mengambil spidol, lalu mencoret muka para kakak pembina menggunakan spidol tersebut. "DEMI KALIAN! NGERTI GAK?"

Tao menangis.

Amarahnya memuncak, ubun – ubunnya panas. Dalam pikiran polos Tao adalah, dirinya yang salah; yang gak pernah benar; males; pembangkang; dan blablabla.

Lain halnya dengan Luhan. Ia juga menangis, menyadari bahwa ia juga dalam pihak yang salah. Kepalanya sudah tidak berani mendongak, telinganya ia tutup rapat – rapat. Seolah tidak sanggup lagi mendengarkan bentakan keras dari Tim Ketertiban.

Chen, Chanyeol, dan Kai. Ketiganya sama – sama tidak bisa menangis. Mereka terlanjur larut dalam emosi. Pundaknya naik turun, pandangan mereka menatap marah pada pemandangan di depan. Marah. Benar – benar marah.

"MAAF, SUNBAE!" Kai tiba – tiba mengeluarkan suara. "KITA SALAH!"

"BARU NYADAR KALAU SALAH?" Sehun membalas dengan bentakan. Koordinator OSIS ini kemudian meyeringai lebar, "BARU NGAKU SALAH KALO PEMBINA KALIAN DISIKSA GINI? NGOMONG DARI DULU!"

'Kamprett! Kaga gitu!' dongkol Kai dalam hati.

Adu mulut dengan Tim Ketertiban memang sia – sia.

Tapi, satu lagi yang membuat mereka dongkol.

Siapa lagi kalau bukan si masker yang daritadi mondar – mandir merekam hal ini terjadi. Chanyeol malu setengah mati. Bagaimana bisa kejadian ini sempet direkam? Padahal suasananya nyaris mencekik seluruh siswa yang ada di dalamnya.

"SELURUH TIM KETERTIBAN, MAJU KE DEPAN!" perintah Suho.

Baekhyun, Xiumin, dan Kyungsoo yang awalnya berkeliling, segera berdiri di depan kelas bersama anggota OSIS yang lain. Tiga pembina—yang wajahnya begitu hitam karena penghapus papan tulis dan spidol—sama sekali tidak berkutik. Masih saja berdiri di tengah – tengah Tim Ketertiban.

Dan merekapun akhirnya berkumpul. Berdiri berjajar seperti layaknya perkenalan seperti lusa lalu. Bedanya, Tim Pembina juga berdiri di tengah tengah Tim Ketertiban.

Banyak terdengar isakan siswa yang menangis—termasuk Tao dan Luhan.

Hanya Kai, Chen, dan Chanyeol yang tidak bisa menangis.

"HARUSNYA KALIAN ITU MINTA MAAF SAMA KAKAK PEMBINA KALIAN!"—Xiumin.

"Kakak Pembinanya disiksa, baru mau minta maaf! EGOIS!"—Sehun

"Perlu kesadarannya, untuk kalian.." Suho mengucapkan nada tersebut dengan nada pelan. "Berpikir cerdas. Jangan sembarangan!"

"Terakhir dari kami—" Kyungsoo lalu memandang seluruh anggota OSISI, lalu ia berbisik, "—satu, dua, tiga!—

"SELAMAT DATANG DI SM INTERNATIONAL HIGH SCHOOL, GUYS!"

Seluruh siswa mendongak.

Kaget, melotot, heran, nangis—

Yaampun.

Apa – apaan?

"HUAAAAAAAAA HUAAAAA HIKS HIKSSS HUEEEEE"

Suasana kelas mendadak pecah. Ada yang nangis, emosi, banting meja, dan lain – lain. OSIS yang ada di depan kelas tertawa lepas. Mereka tersenyum lagi. Chanyeol sebenarnya ngerasa adem kalo liat Baekhyun itu senyum. Tapi—tapi….. dia udah ngerasa dibohongin. Sakitnya tuh—

"SATU LAGI!" suara Kyungsoo mengheningkan kelas. Ia lalu menarik si juru kamera bermasker yang berdiri nyantai menyandar di dinding, untuk ikut berdiri di depan kelas. Awalnya ia tidak mau, tapi ia dipaksa Kyungsoo.

'diliat dari gelagatnya, kok gue pernah liat ya tu orang?' batin Chen. Matanya selalu mengikuti si juru kamera sejak tadi.

"Kalian kenal juru kamera ini?" tanya Kyungsoo. Matanya lalu melirik ke arah Chanyeol CS di belakang. Jelas saja mereka tidak tahu.

Dan pandangan mereka melotot lebar saat masker si kameramen di buka.

"TADAAHHH!"

Krik.

Chanyeol membuang muka.

Kai tahan napas.

Chen pengen kentut.

Lupakan sejenak Tao dan Luhan karena mereka masih menangis.

"DIALAH ZHANG YIXING! TEMEN SEKELAS KALIAN! YANG KEMARIN PINGSANN!" Kyungsoo mengenalkan Yixing dengan nada yang ceria. "DAN DIA PACAR RESMINYA WAKIL KETUA OSIS KITA, KIM JOONMYUN!"

Yixing menunduk sembari menyapa, "Anyeonghaseyo, kalian! Hehehe…."

Semburat merah di pipi mereka—Yixing dan Suho—nampak jelas terlihat.

Dan sekarang. Chanyeol, Kai, dan Chen pengen boker di tempat.

Jadi selama ini…

"HUEEEEEEEE! GAMAU! GAMAU! JAUH JAUH DARI TAO!" pekikan tangis Tao terdengar nyaring. Ia masih saja nangis kosel – kosel karena kesal. Ia juga tidak terima sudah dibohongin. Sebagai ketua OSIS, Kris lah yang mencoba menenangkan Tao.

"Ini Cuma acting, Tao.. sudahlah….." ucap Kris pelan. Tangannya lalu mengangkat, menuju ke pundak Tao. Tetapi, hal tersebut sia – sia karena tangan Tao lebih duluan menepis tangan Kris. "DON'T TOUCH ME! HUEEEEE!"

"T—tapi kan…."

Tao terus saja menangis, sampai mukanya ia tutup dengan kedua telapak tangannya. rapat – rapat.

Kris mengehela napas lelah. Hingga kemudian, segelintir ide meluncur di otaknya. Si Ketos ini lalu berdeham, 'EKHEM!'

"HIKS! APA LO? GAK USAH SOK COOL DEH EHAM EHEM HUEEE HIKS HIKS"

"Berhenti nangis gak?"

"GAMAOO! HUEEEE"

"Berhenti nangis atau—"

"ATAU AP—"

"—cium?"

"WHAAATTT? NOOOO!"

Ya Tuhan.

Seluruh anggota OSIS yang berdiri di depan nyaris terpingkal. Yixing saja sampai memukul bahu Suho kencang karena tidak bisa menahan tawanya. Sebenarnya sakit. Tapi, apasih yang Suho gak lakuin demi pacarnya? EA.

Beralih ke Luhan. Siswa cantik sekaligus tampan itu masih saja menangis. Ia masih menyembunyikan waahnya di dalam kedua telapak tangannya.

"Hiks…"

"Sudahlah. Jangan menangis.."

Sayup – sayup Luhan mendengar suara familiar. Suara agak cempreng tapi bass. Suara sunbaenya. Sunbae paling ditakuti. Suara Oh Sehun.

"Hey!"

"…." Luhan tak menyahut.

"Aku minta maaf."

"…." Masih tak ada sahutan.

Sehun menyerah. Ia lalu mengambil sebuah kertas kecil berbentuk persegi panjang. Lalu memberikannya kepada Luhan. Kupon Bubble Tea.

"Datanglah ke tempat biasanya kau membeli bubble tea jam 4 sore. Aku traktir deh. Anggap saja sebagai ucapan minta maaf."

"…." Luhan mengernyit. Berpikir keras.

Tempat biasanya beli bubble tea? Darimana Sehun sunbae tahu?

Sebuah rahasia bagi seorang Oh Sehun.

Seorang sunbae bermuka dingin dan cuek, paling ditakuti nomor dua setelah Kris ini, tertarik dengan hoobaenya—Xi Luhan.

"Baiklah—ekhem! Bentar." Baekhyun angkat bicara. "Saya akan meluruskan. Jadi ya, ini semua hanya acting belaka. Semua ini memang ada skenarionya. Jangan di ambil hati okey?"

"Kalau udah keambil hati gimana, Baekhyun sunbae?" tanya Chanyeol.

"Buang aja…"

"Ngg… gak bisa."

Baekhyun mengernyit, "Kok gak bisa?"

Perasaannya mulai tidak enak.

"Ya jelas gak bisa lah.. Yang keambil hatiku kan Baekhyun sunbaenya~ Udah nancep di sini nih—" tangan Chanyeol mengarah tepat di jantungnya. Baekhyun nganga. "So, gak bisa di buang seenaknya. Mending be mine saja, Baekhyun sunbae~ hehehe"

Baekhyun masih nganga. Berpikir keras. Mencoba mencerna apa yang telah diucapkan adek kelas tinggi dengan gigi rapi bersih di hadapannya kini. Dia bilang apa? Be mine? Jadi ceritanya Baekhyun—

"WHAAATTT?"

"CIYEEE CIYEEE CIYEE"

"IHIIIIRR~~~"

"SUIT SUITTTT!"

"EAAAKKK!"

"ENAK DEWE!"

"TERIMA! TERIMA! TERIMA!"

"PEJE PEJE PEJEEE!"

"CIOM! CIOM! CIOM! CI—"

Oops.

Oke, lupakan sorakan terakhir. Karena itu sorakannya odot.

Back to topic! Setelah mendengar sorakan seantero kelas tadi, Chanyeol langsung beranjak dari tempat duduknya. Pria jangkung itu berniat untuk menghampiri Baekhyun yang tengah tersipu di depan kelas. Chanyeol lekas berlutut di depan Baekhyun, memasang muka memohon yang entah kenapa terlihat tampan di mata sabit cantik kepunyaannya.

Oh, nampaknya Baekhyun juga mulai menyukai Chanyeol!

"Baekhyun sunbae, maaf kalau lancang, gak sopan sama kakak kelas atau gimana," jeda sejenak, "ini jujur. Dari hati yang paling terdalam, gue cuman mau ngungkapin kalau gue jatuh cinta sama sunbae.."

Chanyeol menatapnya lekat. Dan pipi Baekhyun semakin merona.

"Love in the first sight. Rasanya tuh—"

Tangan besar Chanyeol mengangkat tangan kanan Baekhyun, lalu menciumnya dalam.

"Saranghae, Baekhyun sunbae. Will you be mine?"

Baekhyun masih saja menunduk malu. Jantungnya berdetak tidak karuan. Dalam hati sebenarnya ia setengah mengumpat, 'Adek kelas sialan! Kampret! Gue ditembak! Yawlah! OMG! Kenapa harus Chanyeol? Aduh dia ganteng! Tiang listrik! Asdfghjl—gue kudu apa?!'

Emosi penjuru kelas semakin memuncak. Banyak yang berteriak untuk Baekhyun agar menerima Chanyeol. Tapi, coba lihat di sisi lain! Di sana ada si ketua kelas Kim Jongin, yang terlihat semakin negro karena ia emosi. Ia berharap Baekhyun menolak Chanyeol! Karena—yeah, kalian ingat perjanjiannya?


Flashback:

"Gue punya ide bagus woyy!" ucap Chanyeol kemudian. "Tapi ini harus jadi rahasia antara kita berdua saja, Baby…"

"NAJES!" Kai membuang muka. "Ide apaan emang?"

"Gini—

Lu kan naksir sama Kyungsoo sunbae, sementara gue crush banget sama Baekhyun sunbae itu kan? Nah, ayo kita taruhan! Siapa yang bisa macarin target kita duluan, dia yang menang!"

Chanyeol langsung membisikkan seluruh idenya pada Kai. Pemuda berkulit tan ini mengerutkan dahinya. Merasa tidak yakin dengan apa yang direncanakan Chanyeol. Ide pria jangkung itu terlalu gila.

"Gimana?" tanya Chanyeol.

"Lu gak waras ye?" Kai membuat gerakan seolah – olah akan mencekik Chanyeol. Si empunya malah tertawa. "Kita belom kenal woyy"

"Ngahahah woles bro." Chanyeol melepas tangan Jongin yang mencekik lehernya. "Kan lumayan, kalo lu menang, gue bakal jadi pembantu seorang Kim Jongin selama satu bulan!"

"Tapi kan—"

"Sssttt" Chanyeol langsung menempatkan telunjuknya di bibir Kai. Sungguh, tolong siapkan kantong muntah untuk Kim Jongin sekarang. "Jangan sentiment dulu. Kita kan tanding. Ntar kalo gue yang menang, lu bakal jadi pembantu gue selama sebulan penuh!"

Dan Kai akhirnya menyerah dengan menyetujui ide gila Chanyeol tersebut.

Flashback off.


Kagak!

Kagak boleh!

Najis banget gue harus jadi babunya Chanyeol?

Masa gue harus nembak Kyungsoo sunbae juga?

Anjer gue belom ada persiapan! Mana belum sempet kenalan lagi!

Weteefff! Bekyun sunbae jangan mau ditembak Cenyolll!

kampreeettaahsmadjabdkadbjAKnsbd!

Kai terus komat kamit gak jelas. Keringat dingin mulai meluncur dari pelipisnya. Tentu saja ia tidak mau jadi pembantu Chanyeol selama sebulan. Dan—yeah, tapi ini sudah skakmat. Ia kalah cepat. Sialan!

Dan Baekhyun mulai berani menatap Chanyeol. Ia mengambil nafas dalam, lalu tersenyum. Senyuman cantik nan imut sekaligus yang selalu membuat Chanyeol klepek – klepek. Eyesmile-nya jelas terlihat. Hingga akhirnya—

PLAK!

"….."

"…"

Kriikk kriikk kriikk

Hening.

Waktu seolah dihentikan oleh time controller.

Semuanya berhenti, kaget, melotot, gak percaya.

Hanya Jongin yang ngakak.

"Nahlo mampus ditampar doi WAHAHAHAH!" itulah raungan Jongin dalam hati.

Ditampar.

Iya ditampar. Chanyeol ditampar Baekhyun.

Dua tuyul yang lewat cuman bisa ngikut melotot sambil bilang 'WAKWAWWW'

"Dasar gak sopan." dengus Baekhyun. Wajahnya garang lagi. "Inget, gue ini di sini berada dua tingkat di atas elu ya! Seenaknya aja main nembak orang. Lu kira gue sunbae murahan yang mau aje ditembak hoobaenya?"

Chanyeol cuman diem. Dia bergeming. Nyesek. Sakiit banget.

Satu kalimat terakhir sebelum Baekhyun beranjak dari kelas Chanyeol, "Malu – maluin dasar!"

BRAK!

Baekhyun menutup pintu—tepatnya membanting pintu—sampai menghasilkan debuman yang amat keras. Ia tidak peduli kalau nantinya pintu itu hancur, engselnya rusak, atau gagangnya patah. Yang Baekhyun pedulikan saat ini adalah debaran jantungnya.

Debaran jantung.

Tidak ada yang tahu kalau Baekhyun daritadi berusaha menahan jantungnya agar tidak keluar dari tempatnya. Mulai saat Chanyeol tunduk, menyatakan perasaan padanya, dan—saat melihat wajah Chanyeol berharap agar ia mau menerima….

Dan berakhir dengan melihat wajah Chanyeol yang kecewa.

Sekertaris OSIS itu lekas mengunci diri di toilet sekolah. Menangis, menyesali apa yang telah ia perbuat barusan. Pada seorang Park Chanyeol, seorang hoobae yang menarik perhatian Baekhyun akhir – akhir ini.

Hanya Tuhan dan dirinya sendiri yang tahu tentang perasaannya.


"Gimana lu? Berhasil?"

"Menurut lu?"

"Kagak. Hahaha"

"Nah itu tau."

"Diapain aje sama Kyungsoo sunbae?"

"Kaga diapa – apain sih. Gak sampe ditampar kek elu. Dia cuman diemin, trus plototin gue. Sumpeh dah serem."

"Kita jones dulu kali ye. Tapi gue sih yakin, suatu hari nanti, Baekhyun pasti nerima gue."

"Sama. Gue juga yakin kalo Kyungsoo hyung bakal mau sama gue hehe…"

"Jadi kita berdua fix jomblo nih?"

"Iye."

"Berarti kita jodoh, Ngin. Ohmygawd. Pacaran yok! Mumumu~"

"IYESIH JONES TAPI YA KAGAK GITU JUGA KELES. ANJER ENYAH LU DARI KEHIDUPAN GUE CENYOL HYUNGG!"

Memang ada beberapa yang gembira. Ada yang nyesek. Dan sialnya Chanyeol dan Jongin yang dapet gak enaknya. Suho dan Lay udah lama pacaran sembunyi – sembunyi, Kris dan Tao mulai akur, Sehun dan Luhan udah gak canggung lagi, bahkan Chen sukses nembak Xiumin dan Alhamdulillah diterima.

Dan percakapan duo jones (Chanyeol dan Jongin) berakhir.

.

.

.

.

.

.

C.H.S.B.

(Catatan Hati Siswa Baru)

=END