Prev chap

Sehun hanya menatap datar, dan sekarang apalagi yang wanita ini inginkan, sudah lelah dirinya digores dan diturunkan harga dirinya didepan jongin dan keluarga jongin.

"i-I'm pregnant, and this is jongin's baby"

Chap 2!

Bagai runtuh dunia sehun, dunia berputar melambat,

"jangan bohong" sehun bosan, bosan dengan scenario busuk wanita didepannya.

"ak-aku tidak berbohong, kamu harus percaya, j-jongin melakukannya saat mabuk, a-aku.." ia menangis, membuat sehun terpaksa membawa wanita itu masuk, seburuk-buruk dirinya kepada wanita itu, ia masih memperlakukan layaknya wanita, membawanya ke sofa ruang tv,

"aku takut, sehun. J-jongin.." ia memeluk sehun lagi, menghamburkan sejuta kesedihannya.

Dengan bodohnya sehun luluh dengan kesedihan itu, "kamu tak apa?" ia mengelus lembut punggung wanita itu, "ti-tidak, sehun aku harus pergi, aku harus mati, aku tidak pantas" wanita itu merosot jatuh, tubuhnya beringsut meringkuk dalam pelukan dirinya, terduduk dilantai, mencakar kuat lengan mulusnya.

Suara bel menginterupsi, sehun akhirnya memutuskan untuk membuka terlebih dahulu, "sebentar, aku akan kembali"

"sehun! Where's hylla?!" jongin masuk secara paksa dengan wajah panik,

"d-dia di dal—"

"jongin!" hylla muncul dengan genangan airmata, bajunya agak sedikit berbeda dari apa yang tadi sehun lihat,

"s-sehun, he f-force me—" hylla melemas, jongin memeluknya, memeluknya dengan erat, sehun sungguh tidak tahu apa yang terjadi disini, bukannya hylla tadi?

"sehun, apa yang kamu perbuat dengan hylla?" jongin memadam merah.

"a-apa? Aku tidak melaku—"

"he force me to g-get laid" hylla menutup wajahnya, menangis sendu dalam pelukan erat jongin, yang seharusnya diperuntukkan oleh sehun.

"w-what? no jongin, it wa'snt like that, it's—"

"sehun! Apa yang kamu lakukan?!" jongin marah, auranya memanas, meraih kerah sehun, memojokkan lelaki pucat itu.

.

. Lost stars

By kaorie jung

Pair: KaiHun /KaixSehun

Don't like don't read, babe

.

.

"sumpah jongi—" sehun bingunhg, ia tidak mengerti, dalam hatinya ia ingin rasanya menangis, apa salahnya, ya tuhan?

"berhenti bersumpah! Makhluk hina sepertimu tidak pantas bersumpah. You're definitely son of the bitch, enyah kau!" jongin mendorong sehun pada dinding apartemen, mengalirkan energy listrik negate yang menyengat dari punggung sehun hingga seluruh tubuhnya, tidak, bahkan hatinya, ia dapat mendengar runtuh perlahannya hati yang ia jaga, menjadi potongan kecil tak berguna.

"kamu gila, sehun. We're done!" jongin memejamkan matanya, berbalik dan menggenggam jemari hylla, membawa wanita bermata hijau itu menjauh dari sehun yang terduduk sepi, see? bahkan jongin tak ingin mendengar sepatah katapun alasan dari mulutnya, apakah dirinya sehina itu?

Tidak, sehun terlalu kuat untuk menangis, apalah arti benteng yang ia tegakkan ketika kelemahannya menghancurkan benda padat itu?

Ia hancur, kata-kata jongin meruntuhkan segala benteng kuat yang terbangun kokoh.

"First, you think the worst is a broken heart, what's gonna kill you is the second part, and the third is when your world splits down the middle. And fourth, you're gonna think that you fixed yourself. Fifth, you see them out with someone else
And the sixth is when you admit you may have fucked up a little" –six degrees of separation

24 hari setelah kejadian menyeramkan itu, the real nightmare has come, disinilah sehun, menghadiri sebuah upacara suci yang terlibat di altar, antara kim jongin dan hyllaria choi. Ia bukan seorang pria lemah, ia kuat, menghadiri acara yang hanya berdurasi 2 jam takkan membuatnya berhenti bernafas, bahkan rasa kebasnya terasa begitu ssang pastur menyuruh groom and bride saling mengecup, menyebar cinta mereka pada para hadirin yang hadir, sehun melihat pancaran mata hylla yang memberi sarat kemenangan, menatapnya penuh benci dan keegoisan, memberikan aliran negative, berusaha menohok hatinya.

.

.

Sehun pulang dengan jiwa yang kosong, menjalankan aktivitasnya sungguh melelahkan, bahkan ketika dirinya hanya harus mengkoreksi CV itu terasa sangat melelahkan, chanyeol dan sepupunya, luhan, sudah menyarankannya untuk mengambil cuti sementara waktu, karena psikis dan fisiknya terlihat sangat menyedihkan.

Sehun jarang makan, sehun tidak peduli dengan hidupnya, sehun yang dingin dan minim ekspresi, sehun yang tidak peduli dengan apapun yang ada didepannya, bahkan jika faktanya malam ini ia berdiri didepan balkonnya, terduduk pada batasan pagar, seakan ia akan melompat tanpa terduga.

"sehunnie!" saat sebuah suara menginterupsi dirinya, terngiang suara jongin, dan ia menoleh mendapati sebuah kenyataan tidak menyenangkan, ya, tidak ada jongin, disana pria bersurai pink meneriaki namanya dari pintu balkon.

"kamu sedang apa? Don't dare you" baekhyun mendekat, memberi wajah sesedih mungkin, ia sedih, oh, jelas saja, sahabatnya sangat mengenaskan semenjak di tinggal pria brengsek yang sayangnya adalah temannya juga.

"tidak, baekkie. Aku hanya duduk, melihat indahnya rasi bintang" sehun tersenyum lemah.

"tch, sejak kapan kamu mengagumi rasi bintang, memangnya diriny chen si kutu buku?" baekhyun melengos sebal.

"baek, apa kabar jongin?" sehun bermain dengan jemari kakinya yang menggantung bebas.

"turun dari sana, kau membuatku ingin menangis" tiba-tiba chanyeol muncul diantara pintu balkon, membawa sebuah kantung belanja.

"hai yeol!" baekhyun menyapa.

"hai, baekkie. Sehun, turun"

"tch, arraseo, daddy" sehun beranjak turun, memberi tatapan super malas pada pria super sok perhatian di depannya, ia dan baekhyun sama saja, menganggapnya anak kecil.

.

.

Setelah pertemuan ketiga, seoul. 2014.

Hai, sehun. Apa yang sedang kamu lakukan?

-kim jongin

Sial, pria hitam itu mendapatkan nomer ponselnya dari mana sih, pikirnya.

Aku sibuk

Sehun menekan tombol send, melempar payah ponselnya, ia terlalu malas, tidak ada hal-hal baru yang dapat membuat semangatnya kembali mengebu, ayahnya sakit, ia tidak mungkin bercerita perihal masalah kantor pada ayahnya.

Dan pria hitam itu, jongin, menganggunya setelah pertemuan ketiga mereka, kemarin, ia mendapatkan kiriman kotak bento dari pria bernama jongin, yang dititipkan melalui resepsionis, dan hari ini kim jongin-kim jongin itu mengiriminya pesan singkat, yang ntah dari mana mendapat nomer ponselnya.

"haah, lelahnya"

"sehunnie~" suara nyaring yang membuat kupingnya tuli seketika memenuhi ruangan kantornya, sial si pria rambut legam dan manis ini bisa-bisanya mengganggunya.

"apa baekkie?"

"apa yang kamu lakukan? Kamu tidak makan siang? Ayo kita makan bersama, aku membawakan bekal untuk yeollie dan untukmu, ini masakanku sendiri, aku membuatnya penuh cinta. Kamu mau mencobanya kan?"

Oh ya, mungkin baekhyun bisa menjadi penganti rapper boyband exo yang sudah hengkang karena berbicara cepat dalam satu tarikan nafas.

"ya baiklah" dan jawaban super singkat yang baekhyun terima, yang membuat pria kecil itu mengerut sebal, dan dihadiahi pecahan tawa jahil dan sehun.

"tidak lucu!"

"baiklah, baiklah, baekkie, dimana chanyeol hyung, ayo kita makan bersama" sehun bangun dari kursinya, mendekat kearah baekhyun.

"eh wait! Tadi temanku bernama kim jongin menanyakan nomer ponselmu, katanya ada urusan mendadak, aku heran, kalian bisa kenal?" baekhyun membuat pertayaan serta pengetahuan tentang jongin dan nomer ponselnya bertambah.

Dasar byun baekhyun.

"dia tidak jelas, sudah ayo" sehun merangkul baekhyun, mengalihkan pembicaraan yang bisa saja sewaktu-waktu semakin intens dan menjurus.

"sehunnie! Beritahu aku" baekhyun merajuk, bersedekap dengan tangannya, mogok berjalan.

"look, siapa yang sedan ganjen atau siapa yang menggoda kekasihku" chanyeol muncul dari arah kamar mandi, memergoki kedua pria yang masih dalam posisi bakehyun yang merajuk.

"chanyeol! Sehun kenal dengan jongin tapi tidak mau memberi tahu aku" mengadu, cih, pikir sehun.

"hyung ajari anakmu ini untuk kurangi mengurusi urusan orang" sehun menyentil pelan jidat baekhyun.

"aku kekasih chanyeol! Bukan anaknya, dasar perjaka abadi" baekhyun menjulurkan lidahnya, memberi ejekan paling handal.

"dasar anak monyet"

"sudahlah kalian membuat kepalaku pecah sebentar lagi" chanyeol melerai dua manusia yang sedari tadi tidak bisa diam itu.

.

.

Lagi, sehun berdecih malas pada pesan-pesan singkat jongin yang menyeramkan dan super mengganggu, pria itu mengajaknya bertemu malam ini, katanya ada hal yang sangat penting yang ingin dibicarakan pria tan tersebut.

"buang-buang waktu" gumamnya, namun dirinya sedang merapihkan kemeja polo dan blazer polos, juga celana jeansnya, mengambil kunci dan bergegas ke tempat tujuan.

Ntah apa yang membawanya mengikuti degupan jantungnya. Dirinya pun bingung dengan tubuhnya yang menolak logika, menyaratkan untuk tidak pergi tapi raganya justru berakhir pada sebuah restoran prancis L'Espoir dengan pria senyum bodoh berbalut baju semi resmi dengan celana jeans warna gelap dan dasi tergantung pada leher tannya.

"so, what's that?" wajah datar sehun menjadi titik fokus jongin saat ini, lihatlah wajah Adonis sehun, porsinya sudah tercetak jelas, jongin mengaguminya, mengagumi wajah stoic pria yang dingin itu.

Jongin tidak tahu apa yang membuatnya tertarik dengan sehun, yang dingin dan minim ekspresi itu, ia hanya merasa bahwa, sehun pasti tidak seperti ini, seharusnya?

Ntahlah feelingnya berucap demikian.

"aku kemari tidak menunggumu untuk mengagumi wajah tampanku, kim jongin"

Dan arogan. Sehun tampak begitu arogan dan susah digapai, jongin menyukai hal itu. jongin tidak seorang biseks, namun, ini pertama kalinya mendapati pria yang sungguh menarik perhatiannya.

"ah? Jadi kamu kerja sebagai apa?" jongin menopangkan dagunys, berharap mendapat sambutan antusias dari sehun, apa daya, hanya tatapan heran yang jongin terima.

"aku ingin tahu, sehun"

"HRD"

"woah, aku sebagai personalia" jongin tersenyum pekat.

"apa hal penting yang kamu mau katakan?" sial, ia malas sekali menatap wajah idiot jongin yang super ramah.

"jadi, apa kita bisa bertemu lagi lain kesempatan, seperti hari jumat malam minggu depan misalnya?" ia melirik dan tersenyum ramah pada pelayan yang datang membawakan clapassade dan escargot.

"oh god" sehun mengeluh.

"tentu saja, ya tuhan, kamu mau?" pria itu tersenyum lagi.

"sesukamu" dan jongin anggap bahwa itu tanda positif untuk mereka bisa mengenal lebih dekat, sementara sehun masih menerka, apakah yang barusan ia katakan adalah benar, dan bagaimana mungkin kata itu slip out dari mulutnya yang super arogan ini.

"itu pertanda baik, bukan? Berikan alamatmu dan aku akan menjemput jam 7 malam"

Mungkin ini awalnya, ntahlah sehun merasa ini adalah awal dari suatu cerita panjang yang akan ia mulai, apapun itu hubungannya dengan jongin, tapi sangat erat, dan dekat. Tiba-tiba dirinya menjadi seperti ini, wajah jongin yang tersenyum membuatnya sedikit merona, ya sedikit, hingga hanya berani menatap pada clapassade yang tersaji pada piring putih didepannya.

.

.

.

"what? kim jongin ask you for a date?" baekhyun bertepuk girang ketika sehun bercerita bahwa pria tan semalam mengajaknya bertemu lagi jumat depan, dan ya, seperti yang kalian tahu, baekhyun mengartikan dalam hal lain.

"aku bilang bertemu bukan kencan, dasar berlebihan" sehun mengkerut, menyembunyikan ronanya ketika baekhyun berkata demikian.

"no, no sehunnie, dia mengajakmu bertemu dan menjemputmu, aww so cute" baekhyun heboh sendiri, menangkupkan kedua tangannya di pipi,

"it's cute, isn't it, yeollie? Uri sehun grow up already" baekhyun menguncang tubuh chanyeol yang sedan menyuap kimbab ke mulutnya, membuat gulungan nasi itu berjatuhan.

"ya tuhan, baekkie, aku sedang makan" sabar chanyeol.

Memang, ketiganya sedang berkumpul untuk makan siang di ruang chanyeol yang notabenenya adalah manajer pada perusahan yang di CEOkan oleh luhan, sepupu sehun.

Yah, walaupun luhan lebih banyak menghabiskan waktunya di amerika, dan justru menyerahkan segala tanggung jawabnya pada chanyeol, yang memang bersaudara dengan luhan, begitu rumitkah silsilah keluarga ini?

"memang kalian kenal dimana?" chanyeol menginterupsi.

"di amerika"

"ceritakan aku, sehun, ceritakan" baekhyun antusias,dan sehun menceritkan awal permulaan mereka, dengan lagu dan lokasi, dan sifat jongin yang sepertinya sangat antusias mengenai perihal mereka bertemu.

.

.

"You call me a stranger, you say I'm a danger, but all these thoughts are leaving you tonight
I'm broke and abandoned. You are an angel
Making all my dreams come true tonight" -stranger

Sepertinya dunia sudah gila jika berpihak pada jongin, karena hari ini hari jumat, sial, kenapa waktu begitu cepat berlalu. Sehun termenung didepan cermin, melihat pantulan dirinya yang begitu tampan menurutnya, dengan kemeja kotak-kotak dan celana jeans, surai coklatnya ia sampirkan kebelakang.

Fr:jongin

To: sehun

Hai sehun, aku akan sampai pada apartemenmu 30 menit lagi, jalanan seoul sangat padat, sepertinya mereka sangat senang kau akan keluar dari rumah hehe.

Oh tuhan, ingin rasanya sehun meneriaki jongin yang selera humornya sama dongkolnya dengan kubangan gali di pusat kota.

Dan sehun juga tak henti-hentinya menatap banyanganya pada cermin, tersenyum dan memegang detak jantungnya yang semakin menggila ntah karena apa.

Oh tenangkan dirimu, bukan apa-apa, hanya jalan biasa.

Dan dirinya hampir terlonjak saat ponselnya bergetar menandakan sebuah telfon masuk.

"halo sehun, aku sudah dibawah apartemenmu"

"a-ah, baiklah aku kebawah"

Sehun keluar dari apartemennya, memastikan segalanya cukup baik dan turun menggunakan lift, melihat mobil silver yang terparkir pada lobby apartemen.

"hai" jongin menyapa,

"hai"

"kau terlihat baik hari ini" jongin tertawa gemas.

"ah, terima kasih, kau pun" senyum sehun mengengembang sedikit, ia tidak sedingin itu sebenarnya.

"hey, buanosera?" jongin menyerahkan selembar kertas pada sehun.

"kau sangat tahu diriku?" sehun tertawa, jongin memesankan sebuah restoran Italy, dimana dirinya sangat suka makanan itali, dan kali ni menjadi lebih menyenangkan karena sehun lebih terbuka, lebih banyak bicara, mengeluarkan sisi dirinya yang biasa ia tunjukan pada sahabat dekat dan kerabatnya, sehun yang sebenarnya memiliki sisi manja, bukan sehun yang arogan dan dingin. Dirinya pun tak mengerti bagaimana dengan luwesnya ia menunjukan sisi tersebut pada jongin.

"kamu lebih menyenangkan jika seperti ini tahu" jongin tersenyum menyesap chamomile teanya.

"ah? Begitukah? Aku hanya harus mencoba beradaptasi, kau tahu" sehun mengedikkan bahunya, kemudian tertawa, suara tawa yang bak dentingan bel.

sehun baru tahu, begini kah rasanya dekat dengan orang-orang di luar sini. Sesungguhnya, sehun bukan orang yang suka bergaul, masa sekolahnya pun dihabiskan hanya memiliki beberapa teman, luhan yang sebagai sunbae dan sepupunya, chanyeol saudara luhan, minho, sooyoung, dan nunna lainnya, juga baekhyun, chen, kyungsoo, dan teman-temannya di amerika semasa ia kuliah.

Tak terasa begitu lama sehun dan jongin menghabiskan pertemuan mereka, bahkan jongin sudah mengantarkannya kedepan apartemen lagi, persis seperti saat jongin menjemputnya tadi.

"ah, terima kasih jongin"

"anytime, mungkin kita bisa menghabiskan banyak waktu bersama kapan-kapan" canda jongin.

"datanglah ke kantorku, kamu bisa bertemu juga dengan si berisik baekhyun" sehun menimpali candaannya.

"tidak buruk, sampai jumpa, sehun"

"bye! See ya" dan itu seperti mantra seakan mereka akan bertemu lagi, harus?

Sehun berjalan dengan semangat, ntahlah, menghabiskan malam dengan jongin menyenangkan? Sangat menyenangkan.

Tbc

Haloo! Maaf kan kao yang sibuk jadi gabsai update ff terbengkalai begitu saja huhu. Terimakasih bagi yang mau sabar-sabar /emg ada yang nungguin/

Wuff you semua yang udah support ff ini!

See ya next chap

xx