Disclaimer seperti chapter sebelumnya. Namun tambahan char dari Grisaia series yang saya pinjam. Jadi, grisaia series juga bukan punya saya. Hanya pinjam seperti disclaimer sebelumnya.

Oh ya, pada saat baca chapter ini, menurutku kalian baca sambil dengarkan lagu fripside- White Force.

AA. kono chaputa—wo yomu toki, minna ongaku o kikinagara yomu hou ga ii to omoimasu.

Bab 2.1: Empat fraksi

Part 1: Emosi

"Pemuda-san kami serius loh, tolong jangan bercanda," ujar Azazel memasang posisi santai, duduk sambil bersender di sofa. Namun auranya yang menajam itu berbeda dengan posisi santainya. Walaupun dia tetap terlihat santai, namun dia tetaplah siaga. Begini-gini ia berhasil melewati perang akbar, great war.

"Aku memang manusia, tapi nanti kalian shock mendengarnya. Jadi, aku tidak bisa memberitahukan identitasku, ah bukan, identitas kami semua. Tetapi, kami selalu mengamati gerak-gerik kalian." Naruto yang masih memakai topeng menatap ketiga fraksi.

Shock? Tentu saja. Mereka shock mendengar perkataan pemuda di depannya. Bagaimana tidak shock? Di fraksi mereka ada mata-mata, yang padahal mereka bisa menemukan mata-mata yang entah dikirim dari fraksi siapa, dengan cara mencari aura yang berbeda. Namun, mereka tidak menerima laporan selama ini tentang mata-mata. Sirzech pun emosi dibuatnya, dia menggebrak meja di depannya, menatap tajam sosok Naruto tersebut.

"Apa tujuanmu memata-matain kami, pemuda-san?" Hilang sudah nada Santai yang selalu digunakan Sirzech jika bukan dalam pertemuan formal. Kini ia menggunakan nada datar penuh dengan ancaman yang secara tak langsung ditunjukkan kepada pemuda yang bernama Naruto itu. Naruto tahu bahwa ia secara tak langsung diancam oleh sosok pria tomat, itulah sebutan pria berambut merah itu oleh Naruto.

"Tujuan? Hanya satu, melindungi manusia dengan cara mencegah terjadinya perang yang secara tak langsung menyeret ras kami, Manusia. Sejauh ini aku tidak mendapat pergerakan mencurigakan dari fraksi Iblis dan Malaikat, tapi malaikat jatuh… sempat aku ingin membantai kalian semua karena salah satu dari kalian—Yang aku tidak sebutkan namanya—berniat ingin memulai perang kembali memanas. Namun, aku urungkan karna ada laporan yang masuk ke aku dari mata-mata di grigory, bahwa pemimpin mereka, yaitu kau

Naruto menunjuk Azazel, kemudian melanjutkan pembicaraan.

Yang tidak ingin memulai perang kembali. Setelah itu, salah satu asumsiku mengatakan bahwa salah satu dari kalian—malaikat jatuh—itu hanya tidak puas dengan hasil perang tersebut. Kenapa aku tahu tentang perang kalian, jawabannya rahasia."

Ekspresi Azazel mengeras mendengar kata pembantaian yang diucapkan oleh pemuda di depan mereka dengan entengnya. Rasnya serasa diremehkan, namun, kini ia sedikit lega karena mendengar pendapat pemuda itu.

"Ada lagi yang mau ditanyakan?" Tanya Naruto dengan nada tenang, padahal di dalam hatinya, ia bersorak karena sempat memainkan emosi lawan bicaranya, terutama Azazel. Walaupun tentang pembantaian satu ras tersebut tidaklah main-main.

"Apakah kalian bergerak sendiri?" Tanya Michael tetap dengan senyum tipisnya.

"Tentu saja tidak, kami beraliansi dengan bangsa Youkai dan bangsa Asgard. Tujuan kami yang lainnya adalah menjaga perdamaian, agar tidak terjadi perang yang memakan korban. Kami sudah pernah merasakan pahitnya perang. Tentu kalian sudah pernah merasakan pahitnya perang kan?"

Mereka terdiam mendengar perkataan Naruto. Namun di dalam hati mereka, mereka berteriak ya. Seketika mereka mengingat great war. Perang yang membuat mereka merasakan kehilangan yang begitu mendalam. Kehilangan sahabat, teman, rekan, pasangan, pemimpin mereka. Mereka seketika menunduk.

Naruto pun teringat dengan perang dunia shinobi keempat dan perang dunia shinobi kelima. Air mata menetes keluar dari mata berwarna biru lautnya. Dia mengingat bagaimana pengorbanan para shinobi demi melindunginya dan demi sebuah kata, "Perdamaian!". Dia masih mengingat tubuh kaku Neji yang melindunginya dari serangan musuh. Dia masih mengingat, ribuan orang yang mati mengenaskan ketika perang bergejolak. Tanah disekitar perang menjadi gersang, ledakan dimana-mana, pohon-pohon terbakar dan roboh satu per satu.

Sementara Toneri yang sudah melihat jalannya perang dunia shinobi pertama sampai keempat dari kejauhan. Emosi berkecamuk di hatinya, melihat betapa ganasnya para shinobi di dunia yang diciptakan oleh leluhur mereka, Hagoromo Ootsutsuki. Saling bunuh atas nama dendam, kehilangan orang yang dicintai, kehilangan tempat tinggal, kehilangan emosi, bahkan kehilangan kewarasan karena tidak tahan dengan tekanan mental yang dialaminya.

"Kau benar, pemuda-san," kata Michael dengan nada lirih, terlihat setetes air mata keluar dari mata Michael.

"Nah pemuda-san, kami mohon undur diri karna sekarang sudah larut malam." Sirzech berdiri dan kemudian menghilang dengan lingkaran sihir setelah mengatakan itu. Meninggalkan setetes air mata kesedihan. Kemudian, Azazel dan Michael mulai undur diri mengikuti Sirzech.

Hana melihat Naruto menundukkan wajahnya, kemudan dengan halus melepas topengnya, dan melihat Naruto menangis. Untuk pertama kalinya, dia melihat Naruto begitu sedih ketika membahas tentang perang. Berbagai emosi bisa ia rasakan, penyesalan, merasa kehilangan, amarah, keterpurukan dan semacamnya. Hana pun memeluk Naruto dan mengelus Naruto dengan lembut, seraya berkata, "Menangislah Naruto, keluarkan semua air matamu—untuk terakhir kalinya—Keluarkan semuanya. Kemudian, besok kau harus tersenyum kembali, merelakan kepergian para sahabat, rekan, dan orang yang kau sayangi. Relakan mereka Naruto. Kau itu kuat, kau pasti bisa melakukan itu." Naruto pun memangis kencang di pelukan Hana. Dia menuangkan segala kesedihan yang ia tahan selama ini. Setelah kematian istrinya di perang dunia shinobi kelima, lebih tepatnya pembantaian lima desa besar. Setelah itu, Naruto tertidur.

Keesokan harinya.

Hanabi yang bangun lebih awal dari semua penghuni villa ini. Dia berjalan ke dapur untuk memasakan sarapan pagi. Ketika melewati lobi, ia mendengar suara isak tangis yang berasal dari toilet yang tak jauh dari tempat ia berada. Samar-samar ia mendengar suara yang ia kenali. Issei, suara pemuda sang kaisar naga merah itu.

Buchou

Akeno-senpai

Asia

Akeno

Minna

Gomennasai

Aku gagal… aku gagal melindungi kalian… aku gagal melindungi kalian

Gomennasai… Gomennasai…

Aku memang lemah…

Karna aku… karna aku… kalian… pada mati karna melindungiku…

Kenapa… kenapa kalian… melindungiku… hiiks… kenapa kalian melindungiku

Hanabi yang perlahan-lahan berjalan menuju toilet, suara samar-samar tersebut kini semakin jelas. Suara lirih dengan nada pelan yang terdengar seperti penyesalan karena tidak bisa melindungi orang yang berharga baginya. Hanabi sangat tahu bagaimana rasanya penyesalan yang berakhir dengan kehilangan. Sakit, sangat sakit. Ia ingat betapa sedihnya ketika mendengar kematian Neji di medan perang dunia shinobi keempat. Orang yang ia kagumi, pulang hanya dengan nama saja, beserta tubuh kaku untuk dimakamkan secara layak. Ia butuh waktu seminggu lebih untuk bisa bangkit dari keterpurukan. Ia memang ikut perang, tapi tidak sampai akhir. Ia pingsan kehabisan chakra. Bukan hanya itu saja, setelah perang tersebut, ada aja orang yang memulai perang, hanya demi satu kata, dendam. Perang itu berakhir dengan hancurnya eksistensi manusia pengguna chakra. Perang itu mengambil keluarga kecilnya dari sisinya. Perang itu merenggut nyawa orang yang tak bersalah. Perang itu merengut perdamaian yang berhasil ia ciptakan bersama dengan kelima desa besar dan para bijuu.

Ia membuka, maksudnya mendobrak pintu tersebut, dengan ganasnya. Kemudian ia menyeret Issei keluar, kemudian ia tampar muka Issei yang shock karena ada orang, parahnya orang yang menyelamatkannya. Hanabi bisa melihat tatapan kehilangan, penyesalan, dan… dendam, yang terlihat di dalam matanya.

"Sadarlah bocah mesum! Menangis itu tidak ada gunanya!" teriak Hanabi kembali menampar Issei. Mata Issei masih tetap kosong. Nampak memikirkan sesuatu di dalam kesadarannya yang paling dalam.

"Sadar bocah mesum! Percuma kau sedih! Apa dengan bersedih dan mengurung diri akan mengembalikan semuanya, hah?! Aku tahu penderitaanmu, aku tahu rasa sakitmu, aku tahu bagaimana rasanya kehilangan! Namun, satu kali lagi aku Tanya, apa dengan menangis, kau bisa memutar waktu, jawab pertanyaanku, brengsek?!" bentak Hanabi disertai air mata yang mengalir deras yang keluar dari matanya.

"Aku juga sudah merasakan apa yang disebut kehilangan. Aku sudah merasakan apa yang kehilangan. Aku juga sudah merasakan rasa sakit seperti dirimu. Asal kau tahu, penderitaanmu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan diriku. Hiiks… apa kau tahu bagaimana rasanya anakmu mati di depan matamu karena ketidakberdayaan dirimu… hiiks… apa kau tahu bagaimana … hiks… rasanya melihat… hiiks… pasanganmu meninggal karena dirimu...hiiks… apa… kau tahu bangsat! Aku ingin menangis sepertimu, namun aku tidak bisa. Aku … hiiks mengikuti langkah … hiiks… pemimpinku—penderitaannya tidak ada apa-apanya bagimu, bahkan bagiku juga—untuk melindungi ras manusia, agar mereka tidak merasakan kehilangan, dendam. Kami, pasukan dibawah naungan nama ANBU, manusia yang mempunyai luka hati yang sama. Namun apa mereka seperti kau?! Tidak! Kami tidak menangis, mengurung diri sepertimu, walaupun kami ingin menangis, tapi kami tidak bisa!" Hanabi menghapus air matanya dengan kasar. Kemudian dia melanjutkan perkataannya, "Jika kami semua terus menyesali, meruntuki, terpuruk, siapa yang melindungi ras kita, manusia, HAH?! Siapa lagi kalau bukan kita?! Jikalau kita tidak melindungi ras kita—manusia— maka mereka akan merasakan apa yang kita rasakan. Tentu kau tidak ingin mereka merasakan tersebut, bukan? Penyesalan, amarah, dendam, rasa sakit, kehilangan, keterpurukan,dan kehancuran. Tentu kau sudah merasakannya, bukan? Sekarang, apa yang kau inginkan? Tetap meruntuki kelemahanmu atau menghancurkan segala musuh dan melindungi mereka dibalik layar? jawab aku, Issei!"

Teriak Hanabi dengan nada lirih. Sementara Issei tetap dengan pandangan kosongnya. Namun, jauh di dalam fikirannya, ia memikirkan ucapan Hanabi.

Apa yang harus aku lakukan?

Aku bingung

Siapapun… tolong beri aku jawaban!

Aku bingung…

Tolong… beri aku petunjuk, siapapun… tolong

Tiba-tiba sebuah cahaya menyilaukan muncul di depan Issei. Setelah cahaya itu menghilang, ada seorang perempuan berambut merah panjang, dengan sayap iblis di punggungnya, mempunyai lekukan tubuh yang menggoda, serta "Aset" yang besar. Dia transparan. Dia langsung memeluk Issei yang dilanda kebimbangan.

Terkejut…

Di depannya, terdapat sosok yang menyelamatkan hidupnya dan mengirimnya ke masa lalu. Sosok yang memberinya kehidupan kedua, sosok yang mencintai dirinya apa adanya, sosok yang menerimanya apa adanya. Dialah king di dalam hatinya. Rias Gremory namanya. Mulutnya terasa kaku ketika ingin mengucapkan satu kata. Air mata perlahan keluar dari pucuk matanya.

"Issei, ku mohon jangan sedih. Ini bukan Issei yang aku kenal. Jangan sia-siakan pengorbanan kami untuk menyelamatkanmu dari sang homunculus dan mengirimmu ke masa lalu dengan pengorbanan para pemimpin fraksi. Sirzech, Michael, Azazel, dan Naruto."

Issei mendengar nama yang tidak asing baginya. Naruto? Bukannya itu pemimpin pasukan yang Hanabi sebutkan, ANBU. Rias yang melihat ekspresi terkejut Issei yang sepertinya tahu sosok yang bernama Naruto itu.

"Kau memang belum kenal sama Naruto. Tetapi, selama ini Naruto selalu membantu kami di balik layar. ah bukan Naruto saja, tapi semua personil ANBU yang mencapai ribuan yang tersebar di segala penjuru dunia. Hanya dialah yang bisa melukai Homunculus tersebut, dengan senjutsu."

Ada yang aneh menurut Issei, bukannya yang bisa senjutsu bukan hanya Naruto.

"Bukannya yang memiliki kemampuan senjutsu bukan Naruto saja, Buchou?" Tanya Issei. Ekspresinya kini serius. Semua fikiran tentang Oppai kini ia buang. Ia harus berubah. Hanya ia yang satu-satunya tahu kelemahan sosok itu.

"Memang, tapi… para pengguna senjutsu dibantai, termasuk Koneko-chan."

Tubuh Issei menegang. Jadi… alasan tidak adanya Koneko pada saat penyerangan tersebut…

Tidak mungkin

Itulah satu kalimat yang bisa Issei keluarkan. Ketidakpercayaan bahwa Koneko mati. Rias tersenyum sedih. Mengingat kematian Koneko yang saat itu pulang bersamanya, dan dia diserang oleh sosok homunculus itu. Koneko mati karena melindunginya.

"Issei! Jangan terlalu terpuruk dalam kesedihan! Disana masih ada Rias yang lain, yang bisa kamu lindungi. Teruskan juga perjuangan kami melindungi dunia ini. Hanya kau, dan keturunan naga serta pengguna senjutsu, satu-satunya harapan untuk mengalahkan homunculus, sebelum kau dan para keturunan naga tersebut akan melawan kegelapan." Sosok Rias mulai memudar. Di belakangnya samar-samar ada sosok Kiba, Xenovia, Koneko, Iriana, Sirzech, Azazel, Michael, Raiser, Vali, Asia, akeno, saji, rossweis.

"Kau pasti bisa, Issei kun"

"Kau harus bisa, Anata!":

"Issei senpai, kau pasti bisa!"

"Issei, semangat!"

"Kaisar naga merah, sisanya ku serahkan padamu."

"Bocah keparat, tolong jaga dunia ini!"

"Ne issei kun. Janganlah terpuruk dalam kegelapan ya."

"Eh bocah, kau aja bisa mengalahkanku, tentunya kau pasti bisa mengalahkan musuh disana, bukan?"

"Issei-kun. Tetaplah semangat, apapun yang terjadi."

"Rivalku, kau adalah sang kaisar naga merah. Kau adalah musuh abadiku, kau adalah rivalku. Jadi, jangan kalah dengan siapapun. Kau hanya boleh kalah melawanku." Isse sweatdrop mendengar ucapan Vali yang kelewat sombong.

"Issei, kalahkan mereka!"

"Issei, kau pasti bisa."

"Kami semua mempercayakan keselamatan dunia padamu!"

Setelah mengucapkan kalimat terakhir tersebut semuanya menghilang. Issei pun kembali sadar. Dia melihat Hanabi menangis. Semua ini salahnya. Karna dialah, Hanabi harus membuka luka lama yang telah tertutup demi menyadarkannya, bahwa masih ada yang bisa ia lakukan. Issei pun memeluk Hanabi. Dia membisikkan satu kata di telinga Hanabi.

"Menangislah."

Hiiks hiiks hiiks.

Hanabi langsung menumpahkan semua air matanya yang ia tahan selama ini. Issei mengerti, selama ini Hanabi bersikap tegar karna tidak ada yang dijadikan sandaran untuk menangis. Sebelumnya Hanabi menjadi sandaran untuknya menangis. Kini ia yang memberikan sandaran untuk Hanabi menangis. Menumpahkan segala emosi yang terpendam diantara keduanya.

Setelah itu…

Beruntung bagi Issei dan Hanabi karena mereka bangun dua jam lebih. Kini mereka berdua menyiapkan sarapan karena jam sudah menunjukkan pukul 06:35. Issei yang menata peralatan makanan di ruang tamu. Sedangkan Hanabi yang memasak. Natsu yang setengah tidur pun mencium bau harum. Ia berjalan dengan lunglai menuju ke ruang makan. Setelah sampai di meja makan, ia kembali tertidur sambil mengigau tentang yang melihat itu sweatdrop sejenak. Tak lama kemudian, Naruto telah menampakkan batang hidungnya.

Naruto melihat Hanabi dan Issei yang akrab, bercanda satu sama lain sembari menata makanan yang baru selesai di masak Hanabi. Ide menggoda Hanabi pun terlintas di kepala Naruto. Hanabi yang mempunyai sensor yang setingkat dibawah Naruto pun tidak menyadari kehadiran Naruto karena saking asiknya berbincang dengan Issei. Naruto pun berdehem.

"Eh, sejak kapan Hanabi-chan bersikap lemah lembut seperti Hinata-hime, hm?" Tanya Naruto dengan nada menggoda. Hanabi melebarkan matanya, sempat wajahnya memerah, namun berubah menjadi datar lagi. Menatap tajam Naruto dengan mata Byakugannya yang sudah aktif. Sementara Issei yang mendengar ucapan Naruto memerah. Namun, dia berhasil meredamkannya dengan cepat.

"Ne, Naruto. Sejak kapan kau berubah menjadi seperti dulu?" Tanya Hanabi keheranan. Dia tahu sifat Naruto sebelumnya itu dingin, tidak peduli dengan orang lain. Tidak seperti sekarang ini. Sifatnya sekarang seperti dirinya yang dulu, dirinya yang saat itu masih ada Hinata—kakaknya—yang mendampingi dirinya sampai akhir hayatnya.

Naruto menghela nafas. Dia tahu Hanabi mengalihkan topic. Namun ia biarkan. Kemudian ekspresinya menjadi serius. "Hanabi cepat bangunkan yang lainnya, Issei kau bangunkan natsu. Setelah itu kita sarapan." Ujarnya dengan nada riang. Namun semua itu dibuat-buat semata. Dia memikirkan sebuah pesan singkat, dimana Azazel mendapat info bahwa Kokabiel menyerang Kuoh. Namun, ia tidak bisa mengurusnya. Jadi, Azazel meminta dirinya. Namun ia tidak bisa. Setelah ini dia harus kembali ke markas pusat.

Hanabi mengangguk pelan, sedangkan Issei berusaha membangunkan Natsu yang berakhir Issei menjadi gosong karena terkena api Natsu. Issei pun kesal, dengan kekuatan penuh, ia menghajar Natsu hingga menghantam dinding. Setelah itu Natsu pun bangun dan mereka berdua berkelahi, membuat Naruto geleng-geleng kepala jadinya.

'Homunculus kah?' batin Naruto menatap ke arah jendela, melihat keindahan langit di pagi hari. Dia juga memikirkan mimpi yang ia terima tadi malam. Tepatnya ketika tidur, dia berada di alam bawah sadarnya, tempat ia dulu bertemu dengan Kurama. Dia bertemu dengan dirinya di masa depan. Bahwa dunia mereka akan hancur lima puluh Sembilan tahun ke depan. Dunia hancur karena serangan Homunculus dalam jumlah gila-gilaan. Ia tidak bisa dikalahkan dengan semua serangan, kecuali serangan yang bercampur dengan Senjutsu, atau serangan yang bersatu dengan alam. Ditambah Trihexa berhasil dilepas oleh Sang Putra Bintang Fajar, Rizevim. Setelah mengatakan itu, sosok yang mirip dengan dirinya menghilang. Sebuah gerakan bibir yang dapat Naruto terjemahkan.

"Aku tidak akan pernah menyerah melindungi orang yang berarti bagiku, karena itulah jalan Ninjaku. Sayounara, diriku di masa lalu."

"…Ruto"

"Naruto!"

"Naruto kun!"

Mendengar suara teriakan sosok yang mencintai dirinya, Naruto tersentak kaget. Begitu dia sadar dari lamunannya, wajah yang menenangkan jiwanya itu begitu dekat dengan dirinya.

"Huwa… kau mengagetkanku, hana-hime."

Kemudian Naruto menatap sosok disekitarnya. Vali duduk di seberang dirinya. Di sebelah Vali ada Laxus yang masih mengenakan kaos dalam, di sebelah Laxus ada Toshiro yang mengambil nasi, di sebelah Toshiro ada Natsu yang bertengkar dengan Issei di sebelahnya, di sebelah Issei ada Yasaka yang masih mengantuk. Di sebelah dirinya ada Hana.

"Kamu kenapa melamun, Anata?"

Hana menatap khawatir Naruto. Dia terlihat begitu khawatir dengan keadaan Naruto yang tidak biasanya melamun. Dia berasumsi bahwa Naruto sedang memikirkan sesuatu yang rumit. Sedangkan Naruto hanya menjawab bahwa dirinya tidak apa-apa sambil tersenyum tipis. Namun, ada satu orang yang menyadari bahwa Naruto menyembunyikan sesuatu dari mereka.

'Kamu kenapa bohong Naruto, aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu. Issei pun begitu. Apa yang sebenarnya kalian fikirkan?' batin sosok itu menatap Naruto dan Issei bersamaan. Mata Lavendernya menatap Issei dan Naruto bergantian. Khawatir dengan beban fikiran mereka rasa khawatir itu dia tepis jauh-jauh ketika melihat tawa Naruto yang melihat Issei dan Natsu kelahi.

"Semuanya. Aku baru saja mendapat kabar dari Azazel bahwa Kokabiel akan menyerang kuoh academy. Tidak ada yang tahu kapan penyerangan itu dilakukan. Oleh karena itu, aku perintahkan kalian untuk memasuki kuoh academy sebagai pertukarang pelajar dari SMA kita ke Kuoh academy." Ekspresi mereka menjadi serius ketika mendengar perkataan Naruto. Namun Natsu mengeram frustasi, hanya dia yang tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik.

"Apa ada pertanyaan?"

Hanabi mengacungkan jari tengah disertai dengan wajah polos yang dibuat-buat. Naruto pun kesal dibuatnya. "Siapa yang kau kirim, bakayarou?"

"Tentu saja kalian" Naruto menunjuk Hanabi yang selaku menjadi pemimpin dragon team.

"Cuma Hanabi?" Tanya Natsu memiringkan kepalanya. Perempatan imajiner muncul di kepala Naruto.

" Tentu saja kalian Dragon Team!"

"Semuanya kecuali Laxus jadi siswa. Sedangkan Laxus menjadi guru. Paham?"

Semua anggota personil Dragon Team diam. Naruto tambah kesal karena tidak ada sahutan. Dengan intonasi suara yang sedikit dinaikkan, ia mengulang ucapannya.

"Kalian Paham?!"

"Paham Boss!"

"Ano…" Hana mengangkat tangannya.

"Apa Hana-hime?" Tanya Naruto yang tiba-tiba menjadi lembut. Berbicara dengan nada halus. Tatapannya melunak. Hanabi, Issei, Natsu, Laxus, Toshiro dan Vali menganga melihat perubahan sifat dan nada bicara Naruto.

"Tentu saja kita bulan madu dan buat anak untuk Yasaka!" seru Naruto dengan nada riang. Dia tahu apa yang ingin Hana tanyakan. Wajah Hana memerah. 'Bu-buat anak?!' batinnya tergagap. Dia pun membayangkan permainan yang akan disajikan oleh Naruto ketika bulan madu nanti. Sementara itu, Yasaka memiringkan kepalanya yang menambah kesan imut.

"Terus Yasaka ngapain, Tou-sama?"

Issei mengeluarkan darah dari hidungnya melihat keimutan Yasaka. Dia terkapar tak berdaya di kubangan darah. Senyuman mesum tercetak di wajahnya. Dengan tangan bergetar, ia megacungkan jempol ke arah Yasaka sembari berucap, "Pe-pemandangan yang menakjubkan Yasaka-chan."

"Tak ku sangka kau lolicon, Issei." Ujar Hanabi dengan nada lirih yang dibuat-buat.

"Hana, tadi itu bercanda. Kalau kau mau bulan madu, aku mau-mau saja. Tetapi, sebelum itu kita harus ke Kyoto dan menghentikan perang saudara yang akan pecah." Ujar Naruto dengan nada serius. Dia tidak ingin perang terjadi di dunia yang ia tinggali. "Tentu saja Yasaka ikut." Yasaka pun mengangguk dengan polosnya.

"Saa, misshion ga Hajime!"

Part 2: Kuoh Academy.

Keesokan Harinya.

Natsu, Vali, Issei, Hanabi dan Laxus berjalan menuju gerbang Kuoh academy. Mereka mengenakan pakaian sekolah Kuoh academy. Hanabi yang daritadi mengeluh karena bajunya terlalu ketat, terutama di bagian dadanya. Sedangkan Issei dan Natsu berkelahi di jalan. Vali hanya memasang wajah datar, namun ia dalam posisi siaga penuh. Sedangkan Laxus berusaha melerai Natsu dan Issei yang ingin saling menukar tinju.

"Bagaimana menurutmu tentang mereka, Akeno?" ujar sosok perempuan berambut merah yang berdiri agak jauh dari posisi Natsu dan kawan-kawan. Mereka berdiri di atas dahan pohon yang kuat dan tebal. Mereka mengamati sosok Natsu dan kawan-kawan.

"Hmm menarik. Aku merasakan aura naga di dalam tubuh mereka semua. Tapi aku terkejut Issei bisa berbaur dengan mereka. Namun, perempuan itu… auranya sangat berbahaya.' Ucap perempuan berambut hitam panjang yang diikat menjadi satu. Dia adalah Akeno. Tanpa mereka sadari, di belakang mereka ada dua sosok perempuan yang mengenakan seragam ANBU dengan topeng yang sama, bunga lavender. Mereka mengacungkan pedangnya ke leher Akeno dan Rias.

"Jangan sekalipun kalian berfikir menjadikan mereka budakmu, Iblis-chan."

Rias dan Akeno terdiam tak bergerak begitu merasakan benda asing yang dingin. Mereka terdiam juga mendengar suara perempuan namun agak serak karena terhalang topeng. Akeno dan Rias mengangkat kedua tangan mereka, pertanda menyerah. Namun, mereka benar-benar tidak menyerah segampang itu. Dengan cepat, mereka menendang sosok itu dengan tendangan memutar. Sebuah ledakan kecil pun terjadi, asap mengepul menutupi sosok itu. Ketika asap itu menghilang, sosok itu juga menghilang.

"Siapa mereka? Aku tidak merasakan kehadirannya." Rias dan Akeno shock. Ada yang bisa memasuki radar mereka tanpa disadari. Beruntung mereka tidak panic yang berakhir dengan kematian mereka. Mereka mengingat perkataan kakak siscon itu yang saat itu memberikan nasihat kepada mereka berdua.

"Janganlah panic ketika dalam keadaan terdesak. Apapun yang terjadi jangan panic, ok?"

"Sudahlah Akeno, lebih baik kita ke kelas. Sebentar lagi Jam pertama akan dimulai." Mereka pun menghilang dengan lingkaran sihir. Tanpa mereka sadari, Hanabi yang berjalan diantara para anggotanya pun menyeringai. Dia telah memberikan salam 'pembuka' kepada Rias dan Akeno.

Kembali ke Hanabi dan dragon Team

Bisik-bisik para siswi pun terjadi ketika mereka sudah sampai di gerbang.

"Ne, siapa pria-pria dan wanita itu?"

"Kenapa mereka bersama si mesum itu?"

"Mereka tampan-tampan semua. Dan ceweknya cantik."

"TERKUTUK KAU MAKHLUK TAMPAN SEDUNIA!" teriak para cowok di academy itu.

Mereka tidak menyahuti teriakan, bisikan, dan umpatan para siswi dan siswa. Mereka terus berjalan ke ruangan kepala sekolah dengan arahan dari Issei. Mereka berjalan sekitar tiga menit. Setelah itu, mereka mengetuk pintu lalu masuk. Issei pun membuka pembicaraan.

"Selamat pagi pak, saya mengantar murid pertukaran pelajar."

Seorang pria yang masih muda dengan rambut berwarna merah menatap sosok itu. Kemudian tersenyum tipis.

"Begitu kah? Selamat datang di kuoh academy!"

Hanabi dan lainnya hanya mengangguk saja. Mereka terlalu malas untuk berbicara. Terlebih lagi pak kepala sekolah ini terlihat licik. Mereka sudah malas menghadapi orang licik. Salah satu pillar ANBU saja liciknya tingkat tinggi. Bahkan ketua ANBU saja angkat tangan.

'Berbahaya, aura membuatku merinding." Batin Natsu ketakutan. Dia yang biasanya berisik dan asal ceplos, memilih berdiam. Apalagi Toshiro dan Vali yang dominan pendiam.

"Baiklah kalian akan saya tempatkan di kelas tiga. Laxus-san, kamu berada di kelas 3-A. Natsu-san, kau berada di kelas 3-B, Toshiro dan Vali, kalian berada di kelas 3-C. dan Hanabi kamu mengajar di kelas 2 dan 3. Sebaiknya kalian lebih baik ke kelas sekarang. Termasuk kamu, Hanabi-san. Nih seragam kalian." Mereka mengangguk, kecuali Laxus dan Hanabi yang melotot ketika mendengar perkataan pak kepala sekolah.

'Heh… kok aku jadi murid?' Batin Laxus.

'Kok aku jadi guru sih?' batin Hanabi.

Laxus pun melayangkan pertanyaan kepada pak kepala sekolah. "Ano, pak. Bukannya saya yang menjadi guru? Sebab saya sudah lulus sma, bahkan lulus kuliah."

"Eh benarkah?" Pak kepala sekolah langsung mengcheck dokumen berwarna merah. Kemudian dia baca dokumen itu. Kemudian dia menatap Laxus.

"Namun disini tertulis bahwa murid pertukaran pelajar adalah Laxus, Natsu, Toshiro dan Vali. Sedangkan Hanabi jadi guru."

Laxus dan Hanabi kembali melotot. Bagi Laxus, jadi murid itu merepotkan. Namun bagi Hanabi, jadi guru itu merepotkan. Hanya satu hal di fikiran mereka, ilusi. Hanabi pun meminta dokumen itu.

"Sudah kuduga."

Mendengar itu membuat pak kepala sekolah kebingungan. Laxus menatap tajam dokumen itu. Dia meruntuki satu nama yang pasti merupakan pelaku dari kesalahpahaman ini. Ia melihat Hanabi menutup matanya. Tangannya membentuk handseal. Kemudian berucap dengan sangat pelan.

"Kai"

Dokumen itu pun berubah. Muncul perempatan imajiner di kepala Hanabi. Begitupun dengan Laxus. Dalam hati, mereka mengumpat dengan kata-kata mutiara yang ditunjukkan kepada pemimpin mereka, Kiiro Senkou atau Naruto Uzumaki Namikaze. Ternyata dokumen itu dilapisi oleh ilusi tingkat rendah.

"Pak, sepertinya dokumen ini terdapat genjutsu atau ilusi. Beruntung saya dapat mematahkan ilusi tersebut. Silahkan bapak baca lagi dokumennya." Ujar Hanabi menyerahkan kepada bapak kepala sekolah itu.

"Bapak tahu ninja, bukan?"

"Tentu. Dulu, sekitar dua ribu terdapat lima desa ninja yang tersebar di Negara kita ini. Nama desa itu adalah Konoha, Iwa, Suna, Kumo dan Kirigakure. Itu kan yang kamu maksud?"

Hanabi terdiam. Dia terkejut mendengar bahwa dunianya dan dunia shinobi adalah satu dunia. Great war terjadi sekitar seratus tahun yang lalu. Namun awal perang dari great war yang ia ketahui terjadi sekitar seribu tahun yang lalu. Berarti, dunia shinobi tidaklah hancur. Para penduduk desa konoha berarti masih selamat. Hanabi bersyukur atas itu.

"Ah, bapak betul. Dulu, pada zaman itu, terdapat salah satu teknik yang dikuasai oleh ninja, yaitu genjutsu atau teknik ilusi. Nah, sebenarnya clan Hyuuga merupakan salah satu clan yang hidup pada zaman itu, tepatnya clan Hyuuga. Kami masih dilatih bela diri ninja, semata-mata demi melindungi diri." Jelas Hanabi membuat kepala sekolah shock.

"Bukan hanya itu, ada juga orang yang berasal dari clan Uzumaki, dia merupakan kepala sekolah kami." Tambah Hanabi membuat kepala sekolah tambah terkejut.

Kepala sekolah kini tidak heran, sebagian besar sekolah tempat murid yang berada di depannya yang merupakan murid pertukaran pelajar yang diajukan oleh kepala sekolah Yamato gakuen itu banyak menghasilkan pengusaha, pemimpin, tentara dan polisi dengan kwalitas yang terbaik. Bahkan ia masih ingat salah satu pengusaha yang dijadikan target oleh pembunuh bayaran, malah berhasil membekuk pembunuh tersebut dengan kedua tangannya sendiri. Katanya, semua ini berkat kepala sekolahnya yang selalu memberi nasihat kepada muridnya untuk selalu waspada terhadap sekitar.

"Ah begitu. Baiklah, nih seragammu Hanabi-san. Kau masuk ke kelas yang sebelumnya ku sebutkan untuk Laxus. Dan Laxus, kau mengajar di kelas 2-D." Laxus mengembalikan baju seragam yang sempat ia terima. Kemudian Hanabi menerima seragamnya. Setelah itu mereka pergi ke toilet—tentunya toiletnya dipisah, antara cewek dan cowok—untuk menggunakan seragam mereka. Lalu, mereka berjalan ke kelas mereka. Sedangkan Laxus, menuju ke lantai dua, dimana kelas 2D berada. Setelah mereka berada di kelas masing-masing, mereka memperkenalkan diri.

"Yo, namaku Vali. Murid pertukaran pelajar dari Yamato gakuen. Senang berkenalan dengan anda." Ujar Vali di depan kelas memperkenalkan diri. Dia merasakan aura naga merah atau Issei yang berada di kelasnya. Ia juga merasakan aura iblis dari perempuan berambut putih dengan tubuh lolinya, yang duduk di dua baris di belakang Issei. Namun disaat bersamaan ia juga merasakan energy yang mirip dengan sang leader ANBU, senjutsu.

'Ternyata Issei diawasi oleh iblis nekomata.' Batin Vali memandang seluruh murid di kelasnya.

"Baiklah, semuanya aku harap kalian mau berteman dengan Vali-san. Saa, Yuuji Kazami, tolong angkat tanganmu." Ujar sang guru perempuan yang mempunyai rambut berwarna hitam itu. Vali mengamati sosok yang bernama Yuuji itu. Ekspresinya terlihat kosong, bukan, tapi seperti mengendalikan emosinya. Tatapannya terdapat kesedihan yang mendalam. Namun, dari gerakan tubuhnya, dia sangatlah terlatih. Seperti agen atau tentara. Membuatnya menyeringai kecil. Dia pun berjalan menuju tempat duduk yang kosong di sebelah Yuuji Kazami.

"Senang berkenalan denganmu, Yuuji Kazami."

Sedangkan Yuuji hanya memandang Vali sebentar lalu memandang ke depan kelas.

Setelah perkenalan Vali, sosok pria dengan tubuh seperti anak kecil yang memiliki rambut berwarna putih.

"Perkenalkan. Toshiro Hitsugaya. Murid pertukaran pelajar dari Yamato gakuen. Mohon bantuannya." Setelah mengucapkan itu, Toshiro menundukkan sedikit badannya.

"Baik, kau duduk di belakang Koneko. Koneko, tolong angkat tanganmu." Perempuan yang tadi menatap Vali tersebut mengangkat tangannya. Toshiro mengangguk singkat. Dia berjalan menuju tempat duduknya. Kemudian dia menatap Koneko dan tersenyum tipis.

"Salam kenal, Nekomata." Bisik Toshiro dengan suara sangat pelan. Namun Koneko yang bisa mendengar bisikan Toshiro terdiam. Dia shock karena ada yang bisa mengetahui jati dirinya. Wajahnya memucat.

Pelajaran pun dimulai.

Sementara itu, Natsu dan Hanabi memperkenalkan diri, sama dengan Valid an Toshiro. Natsu sekelas dengan Kiba. Sedangkan Hanabi sekelas dengan Rias, Akeno, Sona dan Tsubaki. Hanabi meruntuki nasib buruknya. Seluruh murid di kelasnya mempunyai aura iblis. Berarti dia berada di sarangnya iblis.

'Sial, kenapa aku harus sekelas dengan mereka semua.' Umpat Hanabi dalam hati. Namun di luar, dia hanya tersenyum kecil. Menyembunyikan moodnya yang buruk karena nasib buruknya. Bahkan gurunya adalah iblis. What the hell, selanjutnya apa. Itulah teriakan batin Hanabi.

.

.

.

.

Kini jam menunjukkan pukul sebelas pagi. Pada jam sebelah, merupakan waktu istirahat para siswa Kuoh Academy. Para murid sebagian besar melesat menuju kantin untuk mengisi perut yang minta diisi. Sebagian ada yang berpacaran di taman belakang academy. Sebagian lagi melakukan hal untuk merefreshkan otak mereka.

Apa yang dilakukan oleh Hanabi dan lainnya?

Mereka sembunyi di atap sekolah. Mereka dikejar oleh klub Rias dan klub osis yang diketuai oleh Sona. Mereka berlari menghindari sergapan dari para anggota Rias dan Sona. Ketika berada di tempat sepi, mereka bertarung dengan para anggota Rias dan Sona. Mereka hanya menggunakan taijutsu khas ninja.

Diantara mereka, Hanabi yang paling apes. Dia harus menghadapi semua anggota Rias dan Sona, bahkan harus menghadapi Rias dan Sona beserta wakil mereka. Namun Hanabi berhasil kabur dengan Sunshin. Sedangkan Vali, Toshiro dan Issei harus dikejar Koneko. Sedangkan Laxus harus berurusan dengan anggota dari Raiser Phoenix yang merupakan tunangan Rias. Rupanya kelas yang diajar oleh Laxus merupakan anggota peerage Raiser. Bahkan di kelasnya ada Ravel yang merupakan adik Raiser. Bukannya belajar, kelas tempat Laxus mengajar harus menjadi medan perang. Dia terpaksa menggunakan Rairyuu moodo untuk menghindari dan melawan serangan yang dilancarkan oleh anggota Peerage Phoenix. Dia tidak bisa kabur karena terdapat kekkai yang menghalanginya. Walaupun kekkai itu tidak cukup untuk menghentikannya. Ketika kabur, dia menggunakan kemampuan dasar dari sacred gearnya. Black Hole. Dia menciptakan Black hole di atap dan di belakangnya. Dua black hole itu saling terhubung satu sama lain. Ketika dia memasuki black hole itu, dia muncul di black hole satunya, yaitu di atap. Kemudian dia langsung menghilangkan black hole tersebut.

Mereka langsung berkumpul di atap. Issei mengatur nafasnya yang ngos-ngosan karena staminanya belumlah kuat seperti anggota dragon team lainnya. Setelah nafasnya sudah teratur, Issei menatap Hanabi dan lainnya.

"Hanabi, sebenarnya aku mau bilang ini kemarin. Aku mau bergabung dengan squadmu. Aku putuskan akan melindungi buchou—walaupun dia tidak tahu aku, dengan kata lain melupakanku karena aku bukan dari masa ini—dari balik layar." ujar Issei dengan tatapan serius. Dia mengepalkan tangannya. Dia masih ingat kegagalannya. Mungkin dengan bergabung ANBU, dia bisa mengasah kemampuan bertarungnya, begitulah fikirannya.

"Aura suci."

Hanabi, Vali, Issei, Toshiro mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara, Laxus. Mereka menatap Laxus dengan pandangan meminta penjelasan. Sedangkan yang ditatap hanyalah menganggukkan kepalanya.

"Aku merasakan aura suci yang berasal dari gedung lama academy ini. Dua aura suci yang berasal dari manusia. Dua aura suci yang sedikit familiar bagiku yang berasal dari senjata." Kemudian ia menatap heran Issei yang terdiam. Badannya Nampak bergetar. Penyerangan kokabiel berlangsung satu minggu lagi

"Ada apa Issei?" Tanya Laxus.

"Aku tahu aura suci ini. Mereka adalah exorcise. Irina dan Xenovia." Mata Issei menatap gedung tua itu dengan tatapan sendu. Rindu. Satu kata itulah yang menggambarkan perasaan Issei. Tangannya mengepal tatkala mengingat memori lamanya, dimana kepala Irina terpisah dari tubuhnya. Sedangkan Xenovia tubuhnya terdapat banyak senjata yang tertancap di badannya.

'Aku akan melindungi kalian, Xenovia, Irina, Buchou dan Minna. Walaupun kalian tidak mengingatku, namun, aku tetap melindungi kalian."

Mereka pun memakan bento mereka masing-masing yang dibuat oleh Hanabi. Mereka makan dengan khidmat. Tanpa ada yang bicara sepatah katapun saat makan. Hanabi lah yang menanamkan tata karma di dalam squad ANBU. Dia berkali-kali mengoceh tentang tatakrama saat Naruto yang bicara sambil makan. Dia bahkan menatap tajam Naruto yang mengindahkan ocehannya dan terus mengajak anggota ANBU di dekatnya berbicara, tentu berakhir dengan hantaman Juuken ke perut Naruto.

Setelah mereka makan, bel istirahat berakhir pun berbunyi. Kini mereka kembali ke kelas masing-masing dengan berbagai ekspresi. Laxus dengan ekspresi datar. Hanabi dengan ekspresi datar. Toshiro dengan ekspresi santai. Natsu dengan senyuman lebar. Dan Vali dengan ekspresi datarnya.

.

.

.

.

Setelah jam per jam dilalui oleh Natsu dan yang lainnya, bel pertanda berakhirnya waktu belajar di sekolah berbunyi dengan merdunya. Raut wajah bahagia tercetak di sebagian besar siswa di sekolah ini. Salah satunya Natsu. Baginya, bel tersebut merupakan penyelamat dalam hidupnya.

"Hah akhirnya berakhir juga pelajaran hari ini," ujar Vali. Walaupun ia jenius di dalam pertarungan. Namun dia cukup bodoh di dalam mata pelajaran. Bukan karena memang bodoh, Cuma malas belajar aja. Baginya sekolah merupakan kegiatan yang membosankan.

"Setuju, Vali-san."

Yuuji Kazami yang mendengar ucapan Vali pun memberikan komentar disertai anggukan kecil. Dia menyetujui ucapan Vali. Dia pun bersyukur dengan berakhirnya jam belajar hari ini karena pelajaran terakhir membuatnya mengantuk, pelajaran geografi. Dia pun berdiri. Buku pelajaran sudah dia rapikan daritadi. Setelah itu dia pergi pulang ke rumahnya.

Vali melihat sosok Yuuji yang membuatnya penasaran. Dia sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Yuuji ketika jam pelajaran Geografi. Dia menangkap basah Yuuji yang mengetik sesuatu di android miliknya. Wajahnya Nampak sangat serius. Itu yang membuat Vali penasaran.

Lamunannya buyar tatkala Issei menepuk pundak Vali. Ia mengajak Vali pulang bersama ke Villa ANBU. Vali hanya mengangguk singkat. Kemudian mereka pulang bersama-sama. Ketika mereka berada di depan gerbang, rupanya Hanabi, Laxus, dan Natsu menunggu mereka bertiga.

Mereka bersama-sama pulang ke Villa. Salah satu motto ANBU adalah selalu bersama dalam suka dan duka. Mereka adalah salah satu pasukan ANBU yang berada di Negara Jepang. Seluruh pasukan ANBU berada di seluruh penjuru dunia. Naruto pun menegosiasikan tentang peresmian squad bentukannya kepada kaisar Jepang. Tinggal tanda tangan, maka ANBU resmi jadi salah satu pasukan militer Jepang.

Vali pun memutuskan untuk berpisah karena ia ingin pergi ke market untuk membeli bahan-bahan masakan. Dia mengingat pesan Naruto bahwa bahan masakan di dapur Villa sudah habis. Mengingat itu membuat Vali menghela nafas. Malah ia yang disuruh oleh Naruto. Bukannya apa, jarak Villa dan market sangatlah jauh, memakan waktu satu jam baginya untuk sampai di market tersebut. Setelah dia membeli bahan masakan untuk dapur villa. Dia mencari tempat yang sepi, kemudian memakai sayap mekaniknya untuk terbang ke villa mereka. Tanpa ia sadari, seseorang melihatnya menggunakan sayap mekanik untuk terbang.

Part 3: Dragon Slayer VS Jendral malaikat Jatuh.

Keesokan harinya.

Natsu mengeluh karna dia harus bangun pagi karena harus pergi ke sekolah. Selama perjalanan menuju Kuoh Academy. Dia ditinggal oleh anggota dragon team lainnya. Membuatnya kesal. Ketika dia melewati taman, hal janggal pun terjadi. Dia mendengar dentingan pedang yang saling beradu. Dari kejauhan, dia melihat dua orang perempuan bertarung melawan seorang malaikat jatuh yang memiliki lima pasang sayap Nampak pertarungan itu sebentar lagi berakhir. Perempuan berambut kuning itu tertusuk puluhan tombak cahaya karena melindungi temannya dari serangan da-tenshin itu. Natsu pun menghampiri perempuan berambut biru yang kini terlihat kelelahan. Sementara da tenshin tersebut tertawa mengejek perempuan berambut biru itu.

.

.

.

Xenovia POV

Kenapa… kenapa kau melindungiku, Irina.

"Hahaha, teman perempuanmu itu akhirnya mati juga. Dia sangat merepotkan, tahu!" ejek malaikat jatuh itu menyebut dirinya adalah Kokabiel, sang jendral malaikat jatuh. Aku menghiraukan ejekan malaikat jatuh sialan itu. Aku menangisi kepergian sahabatku. Aku meruntuki kebodohanku karena meremehkan musuhku hanya karena memiliki pedang yang dibuat dengan pecahan pedang excaliburn. Dia tanpa sadar bahwa kini dia melakukan salah satu dari tujuh dosa mematikan, yaitu kesombongan.

Kini aku hanya pasrah melihat tombak cahaya yang dibuat oleh Kokabiel sialan itu sangat banyak. Kalau dia hitung, jumlahnya lebih dari seratus. Melihat kesempatan hidupnya dibawah 1 persen, aku hanya menutup mata, menunggu ajal menjemputku.

Beberapa detik aku tidak merasakan rasa sakit, namun hanya merasakan hawa yang sangat panas. Suara laki-laki memasuki indera pendengarannya.

"Buka matamu, nona. Maaf aku telat."

Aku yang kini terduduk karena sudah tidak memiliki tenaga, hanya menatap tak percaya sosok manusia menghancurkan ratusan tombak cahaya hanya dengan pedang yang terbuat dari api. Dia kagum dengan sosok pemuda berambut pink di depannya. Di punggungnya terdapat sepasang sayap api yang sangat besar. Aku tahu bahwa manusia di depannya adalah manusia tulen. Namun dia memiliki energy sihir yang ia ketahui bernama Mana.

"kokabiel, akhirnya aku menemukanmu."

Aku melihat kilatan emosi yang terpancar di mata pemuda itu. Dendam, nampaknya pemuda ini mempunyai dendam dengan Kokabiel. Begitulah hasil analisis sementaraku. Sayap apinya berkorbar dengan ganasnya menandakan betapa marahnya pemuda itu.

"Sihir? Sihir dragon slayer? Ah lambang itu!" ujar Kokabiel yang nampaknya mengingat sesautu ketika melihat lambang yang terdapat di lengan pemuda itu. Kemudian senyum sombongnya tercetak di wajahnya. "Rupanya antek-antek Fairy tail masih hidup, mau berdansa bocah?" tawar Kokabiel yang membentuk pedang cahaya. Lima pasang sayapnya mulai Kokabiel kepakkan. Aku melihat Kokabiel terbang dengan lima pasang sayapnya. Begitupun dengan pemuda yang menyelamatkanku.

"Dengan senang hati, keparat. Perkenalkan namaku Natsu Dragneel, Dragon slayer!" Setelah mengucapkan itu, api yang menyelimuti tubuh pemuda itu berkorbar lebih ganas daripada sebelumnya. Dragon slayer? Siapa yang tidak kenal dengan title itu. Aku shock mendengar bahwa ada dragon slayer masih hidup di zaman ini.

"Dan aku akan menghancurkan tubuhmu, gagak sialan!" Setelah mengucapkan itu, pemuda yang menyebut dirinya Natsu menyemburkan api dengan intensitas gila. "Karyuu No Houkou!"

Aku hanya menganga melihat sihir tingkat tinggi yang dikeluarkan oleh sosok itu. Aku bisa merasakan betapa besarnya energy mana yang terkandung dalam teknik sihirnya itu. Setara dengan energy manaku. Seberapa besar energy mana yang dimiliki pemuda itu, batinku bertanya-tanya.

"Menarik! Betapa panasnya sihirmu, bocah! Aku sangsi api milik clan phoenix bisa menyaingi panasnya apimu!" teriak Kokabiel yang menggunakan sayapnya untuk menjadi perisai untuk dirinya. Dia merasakan betapa panasnya api yang dikeluarkan oleh pemuda itu.

Kau telah membunuh Jii-chan

Kau telah menghancurkan rumahku

Kau telah membunuh Lucyku

Kau telah membunuh Utami

Kau telah membunuh anggota Fairy tail lainnya

Kau pun bahkan membantai seluruh warga kami, magnolia

Kau tidak bisa ku maafkan!

Aku bisa merasakan kesedihan yang dimiliki oleh pemuda yang kini terbang di udara. Dilihat dari ucapannya, aku bisa merasakan bahwa ia sangat menyayangi guild fairy tail tersebut. Nama Lucy yang dia ucapkan pun aku yakin bahwa orang itu adalah istri Natsu, serta anaknya yang bernama Lucky. Jika aku menjadi dirinya, aku pasti akan melakukan hal yang sama dengannya. Dia kini seperti iblis dari clan Phoenix. Aku sangat mengenal ciri fisik Iblis Phoenix yang memiliki sayap seperti pemuda itu.

Pemuda yang bernama Natsu itu kini menyelimuti seluruh tubuhnya dengan energy yang sangat asing bagiku. Namun energy ini lebih besar daripada seluruh musuh yang pernah aku hadapi. Bahkan aku sangsi energy Kokabiel sebesar ini. Aku mau pingsan begitu energy tersebut meledak. Gelombang kejut membuatku dan tubuh tak bernyawa Irina terlempar beberapa meter.

"Dragon Force."

Kini aku hanya berharap bahwa aku bisa keluar dari pertarungan gila ini hidup-hidup. Kini tubuhku tidak bisa digerakkan. Aku hanya bisa pasrah ketika serangan nyasar mengenai tubuhku ini.

"Irina, aku akan menyusulmu sebentar lagi." Gumamku yang merasa nyawaku sebentar lagi dicabut oleh malaikat maut.

Xenovia POV off

Kini Natsu dalam mode dragon force. Tubuhnya mulai tumbuh sisik naga. Xenovia yang melihat perubahan Natsu terkejut. Dia berfikir, apa pemuda yang menyelamatkan dirinya akan berubah menjadi naga.

Seluruh tubuh Natsu diselimuti api berwarna keemasan yang membentuk burung Phoenix. Bentuknya seperti burung Phoenix. Tetapi ukurannnya besar, sebesar gedung 10 lantai. Natsu melesat dengan cepat ke Kokabiel. Sedangkan Kokabiel melesat menuju Natsu. Nampak seluruh tubuh Kokabiel dilapisi oleh cahaya, membentuk armor tipis yang menutupi seluruh tubuhnya.

"Matilah kau keparat!" teriak Natsu yang kini dikuasai oleh amarah.

Ledakan pun terjadi. Gelombang kejut menghancurkan sekitarnya. Asap tebal mengepul menghalangi pandangan Xenovia. Dia berharap pemuda itu selamat. Dirinya tidak mau orang lain menjadi korban karena ketidakberdayaannya. Sudah cukup Irina menjadi korban. Kini ia tidak mau orang lain menjadi korban menggantikan kematian yang seharusnya menghampiri dirinya. Ketika asap yang menghalangi pandangan Xenovia menghilang. Matanya melebar karena melihat tubuh pemuda itu terjatuh bebas karena ditarik oleh gravitasi. Sementara Kokabiel kini dalam kondisi mengenaskan. Tubuhnya terbakar, mata kanannya hancur, tangan kirinya lumpuh, beberapa tulang retak, seluruh pakaian kebanggaannya menjadi abu. Hanya celana panjang yang masih melekat di tubuh Kokabiel, itupun terkoyak-koyak. Xenovia bisa melihat nafas Kokabiel terengah-engah.

"Sialan, tak ku sangka damage serangan bocah ini sangat mengerikan."

Kokabiel berusaha mengatur nafasnya. Di fikirannya, ia harus membunuh bocah ini sebelum memanaskan great war kembali dengan cara membunuh adik Maoa. Dia yakin, mode yang digunakan oleh pemuda itu belumlah sempurna, namun ia akui damage serangannya mengerikan.

"Hahaha, sekuat apapun kau, tetap aku yang menang. Selamat tinggal pemuda, kau telah memberikan pemanasan yang sangat bagus sebelum great war meletus lagi."

Kokabiel membentuk tombak cahaya, berniat mengakhiri nyawa pemuda yang menghibur dirinya. Dilemparnya tombak cahaya itu.

Divide divide divide divide

Tiba-tiba pemuda berambut silver melesat cepat menuju arah tombak itu meluncur. Sepasang sayap mekanik kini bersinar terang karena menerima energy yang digunakan unuk membentuk tombak cahaya yang dibagi pemuda itu. Kokabiel geram karena muncul sosok yang tak ia duga sebelumnya. Sang hakuryuukou. Mengingat nama itu membuat Kokabiel sangat kesal.

"Hah, kau selalu saja membuat masalah, Natsu." Keluh Vali. Karena selama ini dirinya yang selalu tepat waktu tatkala sahabatnya ini mendapat masalah. Namun Vali tahu, ia mengerti perasaan Natsu. Ia menatap tajam tempat Kokabiel yang sebelumnya sosok Kokabiel masih berdiri sepoyongan disana. Kini sosok itu menghilang ketika dia mengalihkan pandangannya sejenak ke Natsu. Kemudian, dia melihat Xenovia yang mulai berdiri perlahan.

"Nona, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kokabiel menyerang kalian?" Tanya Vali. Kini dia harus mengorek informasi tentang Kokabiel. Dia dan teamnya kesulitan menemukan informasi tentang Kokabiel.

Vali mengamati sekitar taman yang sebelumnya dipenuhi oleh bunga dan air mancur yang berada di tengah taman dan dikelilingi bunga mawar merah. Kini taman tersebut hancur berantakan. Kobaran api yang terlihat membakar pohon di sekitar taman. Vali tidak mengerti tentang situasi yang dihadapi pemuda berambut pink tersebut. Dia merasakan pemuda itu dalam mode yang berbahaya, Dragon Force. Dia mengingat perkataan Laxus, bahwa kekuatan Dragon Force setara dengan naga asli. Mengingat itu membuat Vali geleng-geleng kepala.

Xenovia yang mendapat pertanyaan dari Vali pun menundukkan wajahnya. Ekspresinya kini menjadi sendu. Tatapannya penuh penyesalan dan kehilangan yang begitu dalam. Dia masih menyalahkan dirinya sendiri karena dirinya, Irina mati dan pemuda yang menyelamatkannya pingsan dan hampir dibunuh. Vali yang paham dengan kondisi Xenovia pun memutuskan untuk tidak memaksa Xenovia untuk bercerita. Dia tidak ingin memperparah luka batin yang kini diderita perempuan itu.

Vali menyentuh pundak Xenovia yang menggendong Irina. Dia juga memegang kaki Natsu. Kemudian, dia merapalkan handseal dengan singkat. Kemudian dia menghilang. Mereka menuju Villa dengan kecepatan cahaya. Mereka menggunakan teknik Sunshin untuk menggunakan kecepatan cahaya itu.

Dalam beberapa detik, mereka sampai di Villa itu. Xenovia menanyakan apakah ada tanah kosong yang bisa digunakan untuk menguburkan tubuh Irina. Kemudian Vali mengangguk dan mengantar Xenovia setelah menaruh tubuh Natsu di kamar Natsu di lantai dua. Setelah sampai di tanah kosong yang ternyata berada di samping Villa, Xenovia yang dibantu Vali menggali lubang kuburan untuk tempat peristirahatan terakhir Irina. Setelah itu, Xenovia menaruh tubuh Irina ke kuburan itu. Kemudian, kuburan itu ditimbun dengan tanah. Setelah menimbun, Xenovia menancapkan sebuah pedang kayu yang merupakan milik Irina. Bahkan di ganggang pedangnya terukir nama Irina. Kemudian Xenovia berdoa. Sedangkan Vali menatap kosong kuburan tempat peristirahatan terakhir Irina. Kejadian ini mirip dengan kisahnya. Tanpa sadar air mata menetes keluar dari mata Vali. Kedua tangannya mengepal. Dia juga dendam dengan sosok Kokabiel dan Rizevim. Merekalah yang menghancurkan keluarganya. Merekalah yang membuat ibunya bunuh diri karena tidak kuat dengan perlakuan yang dilakukan oleh Ibunya, membuat ibunya menjadi lebih rendah dari pelacur, yaitu menjadi budak se*s. Vali yang waktu kecil tidak mampu menyelamatkan keluarga kecilnya. Jikalau ia tahu kekuatan yang bersemayam di tubuhnya, ia yakin, bahwa dirinya bisa menyelamatkan Ibunya dari takdir yang kejam.

Tanpa Vali sadari, Xenovia melihat sisi lain Vali yang disembunyikan oleh Vali. Namun ia tidak bisa apa-apa. Dirinya saja belum bisa mengobati luka batin yang dia rasakan. Tentu saja, dia tidak bisa mengobati luka batin orang lain.

.

.

.

.

.

Kini jam menunjukkan pukul tiga sore. Toshiro, Laxus, Hanabi, Issei telah pulang dari Academy Kuoh. Mereka terkejut mendengar laporan Vali, terutama Issei yang mentalnya menjadi sangat drop karena lagi-lagi kehilangan sosok yang berharga baginya. Mereka juga sedih mendengar bahwa Natsu sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Mereka memang merasakan energy yang kelam dan… penuh penyesalan dan kehilangan. Namun, mereka tak menyangka, asal energy itu berasal dari Natsu. Mereka tidak menyangka bahwa Natsu yang selalu bertindak bodoh itu hanyalah 'topeng' belaka. Pandangan mereka mengarah kepada Laxus. Tatapan mereka menuntut penjelasan.

Di sisi lain, Laxus menatap tajam Vali. Dia mendekati Vali, kemudian menghajar kepala Vali. Dia sangat marah kepada Vali. Tubuhnya muncul petir-petir kecil yang menari-nari dengan liarnya, menunjukkan betapa marahnya Laxus. Hanabi yang berniat melerai perkelahian ini, namun Toshiro menghalangi sembari menggelengkan kepalanya

"Jangan, Hanabi. Laxus wajar menghajar Vali. Aku tahu efek samping pengguna Dragon Force. Efeknya lebih parah dari yang kau duga. Dan juga, disini kita belum mengetahui mana yang salah dan mana yang benar. Jika kau bertindak gegabah dengan melindungi salah satu mereka yang ternyata yang salah. Akan muncul keretakan dalam team. Dan itu sangat berbahaya."

Sementara itu, Vali menatap tajam sosok yang menghajar wajahnya. Dia tidak tahu alasan dia dihajar. Namun, Vali tahu bahwa sosok di depannya ini adalah dragon slayer seperti Natsu. "Apa maksudmu ini, Laxus?" Tanya Vali dengan wajah datar dan nadanya sangat dingin.

TBC

Yo minna, maaf saya potong bab 2 nya karena kepanjangan. Bisa2 bab 2 sampai 14k lebih. Hehehehe. Untuk balasan pertanyaan, setelah bab 2.2 ya. Terima kasih karna membaca cerita yang membosankan ini.

Untuk pertanyaan gin, kan identitas Naruto sebagai pemimpin ANBU belum terungkap. Kan menampakkan diri tidak apa-apa. Lagipula maksud bergerak di balik layar itu adalah melindungi Manusia dan perdamaian untuk kelangsungan hidup manusia dengan cara :v bahkan nanti Naruto akan muncul di Kuoh entah bab keberapa tapi dengan penampilan yang sangat berbeda. Liat aja deh nanti… Menampakka