Chapter 3

Naruto membuka matanya dengan perlahan. Sinar matahari yang masuk melalui celah tirai kamar Sasuke suskes membuatnya terbangun. Direnggangkannya otot-ototnya yang kaku, Naruto baru sadar sekarang ia dalam posisi diujung ranjang Sasuke. Yup! Diujungnya! Bahkan jika Naruto bergeser sedikit bisa dipastikan ia akan jatuh mencium lantai.

Narutopun bangun dan merapihkan selimut Sasuke. Ia tersenyum melihat Sasuke yang sedang tertidur sambil memeluk gulingnya. Naruto hendak membangunkan Sasuke, namun ia mengurungkan niatnya. Toh, melihat wajah Sasuke yang kelelahan ia jadi tak tega. Narutopun turun kelantai bawah. Ia mendengar suara gaduh dari arah dapur. Sedikit waspada ia pun menuruni tangga.

"ah, rupanya kau sudah bangun" sapa seorang pria yang sedang memanggang roti di dapur. Pria ini mirip dengan Sasuke hanya saja wajahnya terlihat lebih tua dan berwiba.

"selamat pagi" sapa Naruto. Ia pun menghampiri pria itu dan membantunya menyiapkan makanan.

"kau pasti teman Sasuke kan? Ahh aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku UchihaItachi, aku kakak Sasuke" pria itu tersenyum hangat ke arah Naruto.

"namaku UzumakiNaruto" balas Naruto sambil tersenyum. Suasana pun hening sejenak. Itachi maupun Naruto sibuk dengan kerjaan masing masing.

"baru kali ini aku melihat Sasuke membawa temannya kerumah, bahkan sampai menginap disini" kata Itachi membuka suara. "—ayahku bilang padaku kalau kau akan tinggal disini untuk sementara waktu. Apa itu benar?" lanjut Itachi. Naruto hanya mengangguk. "terimakasih sudah menolong adikku. Aku tak tahu bahwa adikku begitu populer sampai sampai ada seorang stalker yang menerornya. Padahal setahu ku ia sangat buruk dalam hal bersosialisasi. Bahkan Sasuke termasuk tipe orang yang jarang berinteraksi dengan orang lain." Kata Itachi. Glup! Naruto menelan salivanya. Astaga apa kakaknya Sasuke curiga dengan alasan konyol yang Naruto berikan saat itu? Padahal ayah Sasuke langsung percaya.

"ahh aku tahu jika adikku itu tampan. Tapi aku tidak rela jika ia memiliki segerombolan fans disekolahnya. Rasanya hatiku ini tidak sudi untuk melihatnya" kata Itachi sambil menghembuskan nafanya. Naruto terkekeh, ia baru tau kalau Sasuke memiliki kakak yang begitu brotherconflic.

"Naruto" panggil Itachi. Naruto pun menghentikan kegiatannya mengoleskan selai pada roti.

"kuharap kau akan selalu menjadi seorang teman untuk Sasuke. Kau tahu, seperti yang aku bilang Sasuke sangat buruk dalam bersosialisasi. Ia tak pernah memiliki teman sejak kecil. Ia selalu mengurung diri. Aku sangat khawatir melihatnya seperti itu, apalagi sifat ayahku yang terlalu keras padanya. Aku takut jika jiwanya tertekan." Ucap Itachi lirih. Naruto terdiam.

"saat aku melihat kau tidur dikamar Sasuke aku sempat berpikir kau mungkin orang yang dekat dengan Sasuke. Kau tahu, baru kali ini aku lihat ada orang yang satu ranjang dengan Sasuke. Padahal ia selalu marah jika ada orang yang tidur di ranjangnya. Bahkan aku yang berstatus kakak kandungnya dilarang olehnya. Hmm.. sepertinya aku menemukan hal menarik diantara kalian.." Itachi melirik Naruto sambil bersmirk ria.

"eh? A.. anu.. Itachi-san itu.." Naruto tiba tiba jadi salah tingkah, entah kenapa kini telinganya terasa panas.

"NII-SAN! BERHENTI BICARA YANG TIDAK TIDAK!" dengan panik Sasuke berlari menuruni tangga.

BUGH! Ia melepar tas dan blazer sekolah milik Naruto. "cepat berangkat! Kau mau kita dihukum oleh kurenai sensei jika kita terlambat kesekolah?" kata Sasuke. Naruto hanya membuka mulutnya lebar-lebar.

"ta—tapi aku belum mencuci muka dan gosok gigi— gyaa! Jangan tarik kerah bajuku" Naruto histeris melihat kebrutalan Sasuke. "tidak usah cuci muka, mau cuci muka atau tidak mukamu tidak akan berubah menjadi tampan dobe! Ini! Makan cepat!" Sasuke menyumpal mulut Naruto dengan roti.

"err.. Sasuke kau jangan terlalu kasar dengan uhuk! Pacarmu itu" goda Itachi.

"dia bukan pacarku!"

BRAK! Sasuke pun membanting pintu dengan kasar. Itachi hanya terkekeh melihat tingkah laku adik semata wayangnya itu. Apalagi saat ia melihat rona merah dipipi Sasuke, rasanya ia ingin mengambil handphone dan memfoto wajah Sasuke yang sedang bersemu merah itu lalu memasangnya sebagai wallpaper handphonenya.

"padahal sejak kecil kau jarang sekali menunjukan ekspresi diwajahmu. Kau terlalu dingin dan kaku Sasuke." Guman Itachi. Ia jadi teringat masa masa saat Sasuke kecil. Sebenarnya dulu Sasukemerupakan tipe orang yang periang dan hangat pada orang lain, namun karena penyakitnya itu mereka semua menjauhi Sasuke.

Flashback..

"SASUKE?! ADA DIMANA KAU?! SASUKE?!" Fugaku berteriak kalang kabut mencari Sasuke. Dengan takut Sasuke membuka pintu kamar Fugaku dengan perlahan.

"ke—kenapa ayah memanggi—"

PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat pada pipi kanan Sasuke. Sasuke tersungkur dan memegangi pipinya yang berdenyut sakit.

"apa yang kau lakukan dikamarku?!" Tanya Fugaku. Sasuke diam, ia harus mencari alasan yang tepat agar ayahnya mau percaya padanya. "a—anu, tadi sasu habis membersihkan kamar ayah hik!"

BUGH! !Fugaku menendang perut Sasuke hingga punggungnya menabrak dinding.

"kau pikir aku bisa dibohongi oleh mu?! Hah! Dasar bodoh, kau tak akan pernah bisa berbohong! Sindrom terkutukmulah yang membuatmu tidak berbohong! Sekarang katakan padaku kenapa kau masuk kekamarku?!" Tanya Fugaku lagi sambil menatap Sasuke dengan tatapan menusuk. Tubuh Sasuke bergetar hebat, ia takut pada ayahnya yang pemarah ini.

Sasuke menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Takut takut kalau sindromnya akan kambuh lagi.

"ASTAGA?! KENAPA PINTU LEMARIKU TERBUKA?! APA YANG KAU AMBIL DARI SANA ANAK SIALAN?!" Fugaku menarik kerah baju Sasuke dan mengangkat tubuh Sasuke keatas. Sasuke menatap Fugaku seakan meminta tolong untuk menghentikan siksaannya.

"ayo katakan! Kau punya mulutkan?! Jawab pertanyaan ku sialan!" Sasuke hanya menutup mulutnya.

"JAWAB PERTANYAAN AYAH SASUKE!" Fugaku makin marah, urat lehernya bahkan menonjol keluar seakan amarahnya kini telah berada dipuncaknya.

"a—aku hanya ingin melihat foto ibu yang ada di do—dompet ayah hik!" jawab Sasuke diiringin dengan cegukannya. Fugaku semakin marah ia melempar Sasuke dan menatap bengis kearahnya.

"aku tak pernah mengajarkan kebohongan padamu. Kau sampah Uchiha, kau merepotkan, menjijikan, aku kecewa padamu" ucap Fugaku. Ia pun meninggalkan Sasuke yang sedang mengatur nafasnya. Tanpa sadar air mata Sasuke menetes, ia tahu kalau dirinya adalah sampah Uchiha yang tidak berguna. Ia tahu dirinya hanya bisa merepotkan keluarganya. Namun biarkan ia melakukan ini, biarkan Sasuke mengambil uang Fugaku.

Ia tahu ini dosa, tapi Sasuke tak punya pilihan lain. Ia kesepian dan ia butuh teman.

.

.

"ini eskrimnya" Sasuke memberikan banyak eskrim kepada 3 teman barunya.

"waaahh terima kasih Sasuke, dengan begini kau boleh bermain dengan kami!" ucap anak berbadan gempal. Sasuke tersenyum senang. Ia mengambil uang Fugaku untuk membelikan teman temannya itu beberapa snack dan eskrim. Kata mereka, Sasuke harus memberikan mereka jajanan atau uang,baru mereka akan bermain dengan Sasuke. Sasuke anak yang polos, jadi tak heran jika ia selalu dimanfaatkan temannya.

"ayo kita main bola" ajak Sasuke semangat.

"nanti saja Sasuke, cuaca sedang panas dan kami belum menghabiskan makanan kami" ucap salah seorang temannya itu. Sasuke hanya mengangguk. Ia pun duduk disamping temannya.

"Sasuke bisakah kau duduk dibawah, kursi ini terlalu sempit dank kau malah duduk disampingku"

"ah, maafkan aku" ucap Sasuke, ia pun duduk dibawah lebih tepatnya di tanah yang kotor. Ia melihat temannya makan dengan lahap. Sebenarnya Sasuke juga mau eskrim tapi ia mengurungkan niatnya.

Cukup lama Sasuke menunggu sampai akhirnya teman-temannya mengajaknya bermain sepak bola. Sasuke mengikuti teman-temannya itu kelapangan. Sungguh, ia sangat senang, sejak dulu ia ingin bermain sepak bola namun teman-teman dikelasnya selalu menjauhinya. Ia bertemu dengan teman barunya itu 2 hari yang lalu. Mereka bertemu ditoko eskrim dekat sekolah. Sasukelah yang mentraktir mereka makan eskrim.

"Sasuke tendang bolanya kearah sini" perintah temannya. Sasuke mengangguk. Saat hendak menendang bola, Sasukemalah terjatuh. Ini sudah ke 10 kalinyaSasuke terjatuh saat menendang bola.

"astaga kau ini bodoh sekali! Menendang saja tidak bisa!" marah si gendut. Sasuke hanya menunduk. "maaf, ini pertama kalinya aku bermain sepak bola. Aku belum terbiasa" ucap Sasuke.

"yasudah sekarang kau ganti posisi. Pergi ke gawang dan jadilah kiper disana" perintah temannya. Sasuke mengangguk. Sebenarnya ia tidak mau tapi mungkin saja saat menjadi kiper Sasuke bisa memainkannya dengan baik.

"Yutta! tendang bolanya ke gawang!"

"baiklah!" Yutta –nama salah satu temannya- menendang bola kearah Sasuke. Sasuke sudah siap dengan kuda-kudanya. Namun bola itu malah mengenai kepalanya. Sasuke terjatuh dan memegangi kepalanya yang sedikit pening.

"dasar bodoh begitu saja tidak bisa" ejek Yutta

"ma—maaf" ucap Sasuke.

Begitu seterusnya. Mereka terus mengerjai Sasuke sampai-sampai Sasuke kini tak kuat lagi berdiri. Hari sudah sore, teman teman Sasuke sudah pulang dengan meninggalkan Sasuke sendirian. Sasuke harus bangun namun kedua kakinya tidak kuat menopang tubuhnya. Alhasil ia hanya bisa merebahkan tubuhnya di tanah yang kotor.

Sasuke memandang langit senja yang begitu indah. Diangkatnya tangan kanannya seakan ia ingin menggapai langit. Sasuke tersenyum, hari ini dia sangat bahagia. Akhirnya ia bisa bermain sepak bola. Bahkan saking bahagianya ia sampai melupakan luka yang ada di lutut dan kepalanya.

"oii bocah! Pulanglah! Hari sudah sore dan sebentar lagi malam akan tiba, nanti orang tuamu khawatir" teriak seorang kakek dari arah jauh. Sasuke kenal orang itu, dia adalah pedagang tembikar yang ada di dekat stasiun.

"iya kek, aku akan pulang" teriak Sasuke. Ahh Sasuke ingat, jika dia pulang apa yang akan di lakukan ayahnya? Bisa bisa ayahnya akan memukulinya dengan rotan lagi. Sasuke takut, saat dipukul dengan rotan rasanya begitu menyakitkan. Sasuke takut untuk pulang.

"Sasuke? Apa yang kau lakukan disini?" sebuah suara lembut membuyarkan lamunan Sasuke. Sasuke kenal suara ini.

"nii-san!" ucap Sasuke girang. Ia mencoba berdiri untuk memeluk kakak tersayangnya itu. Namun tiba-tiba ia merintih, lututnya begitu sakit. "astaga? Kenapa lututmu berdarah Sasuke?" Tanya Itachi sambil memeriksa kaki Sasuke.

"aku bermain sepak bola dengan temanku dan aku terjatuh" ucap Sasuke sambil tersenyum lebar. "lalu, dimana teman-teman mu?" Tanya Itachi lagi.

"mereka sudah pulang" balas Sasuke lagi. Itachi terdiam, apa teman Sasuke tidak tahu kalau Sasuke sedang terluka? Kenapa mereka tidak menolong Sasuke? Apa benar mereka teman Sasuke?

"kau yakin mereka temanmu?" Tanya Itachi sambil mengobati lutut Sasuke dengan plester yang ada dikantongnya. Beruntunglah Itachi karena sebelum bertemu dengan Sasuke ia sempat membeli beberapa plester luka.

Sasuke mengangguk kecang. Ia menatap mata Itachi. "mereka temanku. Merekalah yang mengajakku main sepak bola. Mereka orang yang baik" katanya. Baik? Hah?! Kalau mereka orang yang baik seharusnya mereka menolong Sasuke, bukan meninggalkannya.

"yasudah ayo kita pulang, naiklah kepunggungku" kata Itachi. Sasuke mengangguk. Selama dijalan mereka hanya terdiam tak bicara.

"nii-san.." ucap Sasuke lirih. Itachi berdehem.

"aku takut pada ayah" lanjutnya.

"memang kenapa? Ayah tidak jahat, ia hanya terlalu tegas. Kau tahu kan ayah itu orang yang terlalu serius dan tegas. Jadi jika ia menyakitimu kau jangan masukan dalam hati" kata Itachi namun Sasuke hanya terdiam. Ia memeluk leher Itachi dengan erat.

"a—aku mencuri uang ayah" ucap Sasuke lirih. Itachi menghentikan langkahnya. Mereka lagi-lagi terdiam.

"kenapa kau mencuri uang ayah?" Tanya Itachi pelan. Ia harus berbicara lembut pada Sasuke agar Sasuke mau jujur padanya. Yaa walau pada akhirnya Itachi sudah tahu Sasuke berbohong atau tidak karena Sasuke mengidap sindrom pinnochio.

"a—aku membelikan teman-temanku eskrim. Me—mereka bilang padaku kalau mereka akan bermain denganku jika aku membelikan mereka eskrim. Uang jajanku habis maka dari itu aku mencuri uang ayah" kata Sasuke dengan suara serak. Itachi tahu Sasuke sedang menangis. Ia juga tahu kalau kini Sasuke merasa bersalah. Adiknya tidak akan mungkin melakukan hal seperti itu jika ia tidak terpaksa.

"apa ayah tahu kau mengambil uangnya?" Tanya Itachi. Sasuke mengangguk kecil. Itachi menghela nafas, sepertinya ia akan berdebat dengan sang ayah. Ia harus meminta ayahnya untuk memaafkan Sasuke.

"nii-san aku minta maaf.. a—aku minta maaf" ucap Sasuke.

"kau memang bersalah tapi kali ini aku maafkan. Aku akan membantu mu meminta maaf pada ayah. Tapi lain kali jangan mencuri" kata Itachi. "—dan lagi jangan temui teman-temanmu itu.. mereka hanya memanfaatkan mu Sasuke. Mereka bukan tem— aakkhh! Kenapa kau menjewerku?!" kata Itachi kesal. Ia menoleh ke belakang. Kini Sasuke sedang menjulurkan lidahnya. "mereka temanku! terserah nii-san mau bilang apa yang penting mereka tetap temanku! hanya mereka yang mau bermain dengan ku! Aku ini kesepian nii-san! Aku butuh teman! Saat bertemu dengan mereka aku benar benar bersyukur pada Tuhan. Akhirnya Tuhan mengabulkan doa ku. Tolong biarkan aku berteman dengan mereka" kata Sasuke. Itachi hanya menghela nafas panjang.

"terserah kau sajalah" ucap Itachi. Sasuke tersenyum, ia semakin erat memeluk leher Itachi.

"terima kasih nii-san, kau memang kakak yang hebat" bisik Sasuke.

.

.

.

Entah sudah berapa minggu Sasuke berteman dengan 'temannya' itu. Sebenarnya Itachi sangat khawatir. Terlebih lagi ia melihat Sasuke diperbudak teman temannya. Itachi marah, ingin sekali ia memukul teman-teman Sasuke itu namun Sasuke selalu mencegahnya. Sasuke bilang kalau ia senang bermain dengan temannya itu walau mereka sering bertindak kasar.

Saat melihat adiknya yang begitu senang bermain –walau ia selalu di manfaatkan— membuat hati Itachi sakit. Ini memang salahnya, andai saja ia bisa meluangkan waktu untuk Sasuke. Namun kini ia harus meraih cita-citanya. Ia ingin menjadi polisi, karena itu ia jarang pulang kerumah lantaran ia harus tinggal di camp militer.

"nii-san! Aku pergi dulu ya" pamit Sasuke.

"kau mau kemana?" Tanya Itachi.

"ke museum. Yutta dan teman temannya mengajaku kesana sekalian mengisi liburan" kata Sasuke. "biar nii-san antar" tawar Itachi, namun Sasuke menggeleng.

"kami akan berangkat bersama. Yutta bilang kami akan berkumpul ditaman kota" ucap Sasuke. Itachi terdiam, entah kenapa ada perasaan aneh yang menyelimuti dirinya.

"tapi Sasuke, langit sedang mendung nanti kau—"

"aku sudah membawa payung. Ahh aku sudah terlambat, nii-san aku berangkat yaaa dahh" kata Sasuke, ia meninggalkan Itachi yang menatapnya khawatir.

.

.

.

Jam menunjukan pukul 4 sore dan Sasuke belum pulang. Sasuke bilang pada Itachi kalau ia akan pulang jam 4 namun sampai saat ini Sasuke belum pulang. Itachi melihat kearah jendela. Awan semakin gelap dan hujan sudah turun sejak 4 jam yang lalu.

"deras sekali" guman Itachi. Ia menggigit bibir bawahnya. Hatinya benar benar tidak tenang. Ia benar benar khawatir dengan Sasuke. "tenanglah Itachi, mungkin Sasuke sedang berteduh di toko" Itachi mencoba berpikir positif.

"Sasuke kau kan kaya, bisakah kau minta uang pada ayahmu untuk membeli takoyaki?"

"Sasuke, tolong belikan kami air mineral. Kau teman kami kan?"

"Sasuke, jika kau ingin menjadi teman kami kau harus membelikan kami makanan!"

BRAK! Itachi membanting meja yang ada di depannya. Entah kenapa perkataan teman-teman Sasuke terngiang dikepalanya. Itachi harus menemukan Sasuke.

Ia mengambil kunci mobilnya dan membuka pintu garasi. Saat hendak masuk kedalam mobilnya, Itachi melihat sebuah payung berwarna biru dengan motif telapak kaki anjing. Itachi tahu payung itu. Itu payung milik adiknya, Sasuke. Dengan cepat ia memakai jas hujan dan menghampiri Sasuke.

"Sasuke!" teriak Itachi. Orang yang ada dibawah payung itu menoleh. Tubuh Itachi seketika menegang. Itu bukan adiknya, tapi itu adalah Yutta. Dengan amarah yang memuncak Itachi menghampiri Yutta. Yutta dan teman-temannya hendak berlari namun tangan mereka ditahan oleh Itachi.

"maafkan kami maafkan kami" ucap Yutta dan 2 temannya dengan ketakutan.

"dimana Sasuke?! Kenapa payung Sasuke ada padamu?!" Tanya Itachi marah. Mereka bertiga terdiam.

"Sa—Sasuke ada di taman" lirih mereka. Itachi mematap mereka tidak percaya.

"ta—tapi kenapa? Kenapa kalian meninggalkan Sasuke? Bukankah kalian ingin pergi bersama ke museum?" Tanya Itachi. Merekabertiga terdiam.

"kami tidak mau bermain dengan Sasuke lagi!" tiba tiba Yutta berteriak dengan lancang. "—apa kakak tau?! Kami malu berteman dengan orang aneh seperti Sasuke! Dia itu aneh dan semua orang membencinya! Tapi ia selalu mengikuti kami kemanapun kami pergi. Itu membuat kami bertiga kesal! Kami selalu memperbudaknya, memanfaatkannya, dan meyakitinya agar ia membenci kami, namun ia hanya tersenyum dan bilang kalau ia senang bermain dengan kami. Maka dari itu kami memberinya pelajaran agar ia tak mau berteman dengan kami lagi!" ucap Yutta, mengeluarkan semua curahan hatinya.

Itachi terdiam, hatinya begitu sakit mendengar penjelasan teman Sasuke. Sebegitu bencinya mereka pada Sasuke hanya karena penyakitnya?

"berikan payung itu padaku. Itu milik Sasuke kan?" ucap Itachi. Dengan ragu Yutta memberikan payung itu pada Itachi. "kalian tahu, Sasuke berkata bahwa ia beruntung bertemu dengan kalian. Sasuke selalu bercerita tetang kalian, dan ia selalu bersyukur bisa berteman dengan kalian. Bahkan semalam ia tak bisa tidur karena ia begitu menantikan pergi bertamasya bersama kalian. Namun ternyata kalian hanya bisa menyakiti hati kecil Sasuke. Mulai sakarang aku akan melarang Sasuke untuk bertemu dengan kalian lagi. Kalian tidak perlu repot repot memperbudaknya lagi. Aku akan bicara pada Sasuke. Sekarang pergilah, aku akan menjemput Sasuke." Kata Itachi, ia pun berlari menjemput Sasuke.

Taman kota begitu sepi, ia takut ada orang jahat yang akan melukai Sasuke.

"Sasuke!" teriak Itachi.

"nii-san?!" teriak Sasuke. Hati Itachi mencelos saat melihat tubuh Sasuke yang basah kuyup. Ia duduk di bangku taman sambil memeluk tubuhnya yang kedinginan.

"kenapa nii-san ada disini?" Tanya Sasuke.

"kenapa kau tidak berteduh Sasuke?" Tanya Itachi. Sasuke menggeleng. "nanti kalau aku berteduh, Yutta akan kesulitan mencariku. Yutta bilang ia akan menjemput Shinobu dan Hiro dirumah maka dari itu ia meminjam payung— loh? Itukan payungku? Kenapa ada pada nii-san? Ahh apa nii-san bertemu denga Yu—"

"lalu bagaimana dengan museumnya? Kau tidak jadi pergi?" kata Itachi memotong pembicaraan Sasuke. "aku tak tahu, sejak jam 11 Yutta tidak datang kesini, padahal ia bilang kalau ia akan datang kesini setelah menjemput Hiro dan Shinobu. Maka dari itu aku menunggunya disini" ucap Sasuke. Dengan spontan Itachi memeluk tubuh Sasuke. Sasuke hanya kebingungan melihat tingkah sang kakak.

"Mulai besok jangan bertemu dengan mereka lagi"

"Tapi nii-san.. mereka-"

"Cukup Sasuke, mereka bukan orang baik. Tadi aku bertemu dengan mereka. Mereka sengaja meninggalkanmu sendirian di taman karena mereka membencimu. Mereka bilang kau aneh dan itu membuat mereka malu. Maka dari itu mereka tak ingin berteman dengan mu Sasuke" ucap Itachi panjang lebar. Sasuke hanya terdiam, hatinya begitu sakit mendengar penjelasan sang kakak. Ternyata memang tak ada seorangpun yang ingin berteman dengan Sasuke. Segigih apapun Sasuke, tetap saja tak ada yang mau berteman dengannya.

'Sasuke,kau tak butuh batas antara dirimu dan teman-temanmu. Kau bisa hidup sendiri. Ayah yakin kau pasti bisa'

Kata-kata sang ayah kini terngiang-ngiang dikepalanya. Benar kata ayahnya, Sasuke tak butuh teman. Tanpa seorang teman pun Sasuke tak akan mati. Kali ini ia menyerah, ia tak akan mencari teman lagi. Ia akan menutup dirinya.

Dan sejak saat itulah sifat Sasuke berubah 180 derajat.

Flasback off

"Itachi-san? Itachi-san?" tegur seseorang.

"ahh! Maafkan aku, aku melamun. Ada apa Konan?" Tanya Itachi pada salah satu bawahannya.

"ada seseorang yang mencarimu" kata Konan

"suruh dia masuk" perintah Itachi. Konan pun mengangguk dan me

nyuruh orang itu untuk masuk. "apa aku mengganggu mu Itachi-san?" Tanya orang itu.

"aahh! Orochimaru-san, maaf sudah membuatmu menunggu. Nahh nahh silahkan duduk" kata Itachi. Orochimarupun duduk. "jadi, bagaimana dengan pekerjaannya?" Tanya Orochimaru. Itachi tersenyum ramah.

"yaahh mulai sekarang kau akan bekerja membersihkan ruanganku. Entah sudah berapa bulan ruanganku tidak dibersihkan. Aku jadi tak nyaman saat kerja jika ruangan ku kotor" keluh Itachi. Orochimaru hanya tersenyum kecil.

"baiklah aku akan membersihkan ruanganmu Itachi-san" katanya.

Itachi tersenyum. "terimakasih Orochimaru-san kau sangat membantu"

.

.

.

Bel pulang sekolah berbunyi. Semua muridpun memasukan buku-buku mereka ke dalam tas. Setelah sensei pamit, mereka pun satu persatu keluar kelas termasuk Sasuke. Saat berjalan dikoridor semua murid menatap Sasuke sinis. Ahh mungkin berita tetang 'ada anak kelas satu yang sangat dingin dan kejam' telah menyebar luas di sekolah. Sudah pasti Sasuke tahu siapa penyebabnya. Kalau bukan Deidara siapa lagi?

"Sasuke-chan~" tiba tiba dengan seenak jidat Naruto merangkul pundak Sasuke dengan mesra sampai-sampai semua murid yang menatap Sasuke kini kebingungan.

"lepaskan tanganmu dobe!" perintah Sasuke sinis. Namun bukannya melepaskan rangkulannya, Naruto malah makin erat merangkulnya membuat Sasuke semakin menatap horor kearah Naruto.

"ne ne.. Sasuke, bagaimana kalau kita pergi ke kedai es krim. Aku yang traktir" ajak Naruto. Hm? Es krim? Sasuke jadi teringat sesuatu.

"tidak mau. Kau makan saja sendiri, aku sibuk. Hik!" buru-buru Sasuke menutup mulutnya.

"hehehe.. kau tak bisa bohong padaku Sasuke" goda Naruto. Sasuke hanya menatap sinis dan menginjak sepatu Naruto dengan keras. Naruto hanya bisa merintih kesakitan saat Sasuke menginjak sepatunya. Hah! Masa bodo, siapa suruh Naruto membuatnya kesal.

"Sasuke tung— akkhh!" tiba tiba Naruto terlihat kesakitan. Ia menutup telinganya dengan kuat. Matanya berkunang-kunang lantaran kepalanya yang terasa sangat pening. Rasanya seperti ribuan jarum yang tiba-tiba menusuk kepala Naruto. Bisa saja Naruto terjatuh kalau saja Sasuke tak membantunya.

"ka—kau tidak apa-apa? Apa aku terlalu keras menginjaknya?" Tanya Sasuke khawatir. Naruto menggeleng lemah. Ia masih menutup telinganya dengan tangannya.

"bi—bisakah kita pergi ketempat yang sepi? Su—suara suara ini mengangguku" pinta Naruto. Sasuke mengangguk, ia tahu apa 'suara' yang maksud Naruto. Dengan perlahan Sasuke memapah Naruto ke bukit belakang sekolah. Tempat ini jauh dari keramaian, Sasuke harap 'suara' itu tak sampai kesini.

"minumlah" tawar Sasuke, memberikan sebotol air minum pada Naruto. Naruto mengambilnya dan meminum air itu. "sudah merasa baikan?" Tanya Sasuke. Naruto mengangguk pelan.

"terima kasih Sasuke" kata Naruto.

"hng.." balas Sasuke seadanya. Naruto bangkit dari duduknya dan membersihkan celananya yang sedikit kotor.

"ayo kita pulang" ajak Naruto.

"kau yakin? Maksudku apa telingamu baik baik saja?" Tanya Sasuke khawatir. Ia sadar kalau telinga Naruto sakit karena Sasuke. Ya, karena Sasuke yang telah merusak earphone milik Naruto. Padahal earphone itu sangat berharga bagi Naruto.

"yeahh. Kurasa telingaku akan baik baik saja. Saat kau menginjak kakiku konsentrasiku langsung buyar. Dan tepat saat itulah suara-suara itu masuk ketelingaku" ucap Naruto. Sasuke menundukan wajahnya.

"maaf" katanya. Naruto hanya tersenyum lebar. "sejak kapan Sasuke yang dingin dan angkuh bisa meminta maaf seperti ini? Ya ampun Tuhan.. aku benar benar terkejut!" goda Naruto. Sasuke hanya menatapnya datar, membuat bulu kuduk Naruto merinding.

Dijalan Sasuke memilih untuk berjalan dibelakang Naruto. Ia sedang memikirkan sesuatu.

"sepertinya aku harus membelikannya earphone baru" guman Sasuke tak mau Naruto tahu, ya anggaplah kalau ini surprise untuk Naruto. Tunggu? Surprise? Bukan bukan! Maksud Sasuke bukan seperti itu. Ia hanya ingin ganti rugi! Ia tak mau Naruto tahu karena ia malu memberikan hadiah untuk Naruto. Sasuke terlalu –uhuk— gengsi. Saat pulang nanti ia akan menaruh earphone itu diam-diam tanpa sepengetahuan Naruto. Bukankah itu ide bagus?

Tapi jika seperti ini ia tak akan bisa pergi membelinya. Sasuke harus mencari alasan agar Naruto pulang sendiri. Tapi, Sasuke kan tidak bisa berbohong?! Astaga memikirkannya saja sudah membuat kepala Sasuke pusing tujuh keliling.

Naruto yang ada didepan Sasuke hanya tersenyum. Naruto terkekeh geli ketika ia mendengar suara hati Sasuke. Sebegitu gengsinyakah Sasuke pada Naruto sampai-sampai ia ingin membeli hadiah secara diam-diam. Rasanya Naruto ingin tertawa terpingkal-pingkal, namun ia menahannya. Ia tak mau menerima bogem mentah dari Sasuke.

Naruto memicingkan matanya saat melihat sesuatu yang tak asing. Seseorang yang telah menghancurkan hidupnya dan membunuh orang-orang yang ia cintai. Disana, tepat diminimarket tersebut Naruto melihat Orochimaru keluar sambil menenteng kantong belanjaan. Orochimaru terlihat buru-buru sekali.

"mau kemana dia?" guman Naruto.

"apa? Kau bicara apa?" Tanya Sasuke.

"ahh! Eum— bukan apa-apa. Sasuke! Kau pulanglah sendiri aku ada urusan disekolah. Dahh!" kata Naruto, berlari meninggalkan Sasuke. Ia terus berlari mengikuti tempat yang di tuju Orochimaru.

Merasa mendapatkan kesempatan emas, buru-buru Sasuke berlari ke salah satu toko CD ditengah kota. Iapun masuk ke toko tersebut dan mulai mencari earphone untuk Naruto. Matanya tertuju pada sebuah earphone dark blue dengan motif petir. Sasukepun mengambil earphone itu dan membayarnya ke salah satu kasir.

Setelah membayar, Sasukepun keluar dari toko tersebut. "tinggal minta bantuan nii-san untuk memberikan earphone ini pada Naruto. Dan selesai! Aku tak punya utang lagi pada Naruto" guman Sasuke.

Saat berjalan, tanpa Sasuke sadari ia melewati sebuah gedung pertelevisian tempat sang ayah bekerja. Sasuke bahkan bisa melihat sebuah poster promosi dengan ukuran besar yang menampilkan foto sang ayah dan acara berita yang sedang di tersenyum melihat foto sang ayah. Ayahnya begitu berwiba dan tegas. Pantas saja pihak perusahaan itu begitu menganggumi ayahnya sampai-sampai sang ayah dijadikan icon program berita tersebut. Melihat ayahnya yang begitu menganggumkan entah kenapa Sasuke jadi ingin seperti ayahnya. Menjadi penyiar berita atau reporter memang cita-cita Sasuke. Sejak dulu ia ingin mencoba untuk terjun ke dunia news and casting. Namun sang ayah selalu menertawakannya dan menyuruhnya untuk melupakan cita-citanya itu.

"Sasuke? Kau Sasuke kan? Fugaku-san! Lihat anakmu ada disini" ucap seorang pria berbandan gendut. Tidak! Ini buruk! Sasuke harus pergi dari sini.

"err.. anu maaf Akimichi-san, aku harus pergi" ucap Sasuke pada teman kantor ayahnya.

"ehhh? Kenapa? Kau takut bertemu dengan ayahmu? Ayolah kau tidak perlu takut Sasuke-kun" ucap pria berambut pirang sambil merangkul Sasuke. "ta—tapi Yamanaka-san, aku—" ucap Sasuke gelagapan. Jangan sampai ayahnya tau kalau Sasuke ada di sini. Bisa-bisa ayahnya makin membencinya.

"ahh bagaimana kalau kita makan makan dulu. Sasuke-kun kau mau ikut?" Tanya pria berbadan besar itu.

"ma—maaf ta—tapi aku sedang sibuk, hik!" wajah Sasuke memucat. Kenapa ia berbohong? Kenapa harus kata-kata itu yang keluar dari mulut Sasuke? Pria yang bernama Akimichi Chouza dan Yamanaka Inoichi itu terdiam.

"ahh Fugaku! Kenapa kau lama sekali?! Lihat! Pinnochio kecil mu ini sudah menunggumu!" ucap Chouza sambil merangkul Sasuke. Wajah Sasuke makin memucat, dilihatnya wajah sang ayah yang kini tepat berada di depannya. Wajah Fugaku begitu datar, sorot matanya begitu menusuk dan sangat dingin. Sasuke hanya menggigit bibirnya kuat-kuat.

"sepertinya Pinnochio kecilmu ini rindu padamu, Fugaku-san" ucap Inoichi sambil terkekeh kecil. Ya Tuhan, kenapa 2 orang dewasa yang ada disamping Sasuke ini malah memperkeruh suasana?

"kalian pergi saja duluan. Aku akan menyusul" ucap Fugaku datar. Bahkan suaranya saja mampu membuat kaki Sasuke bergetar lemas.

"baiklah kami pergi dulu, sampai nanti pinnochio-kun" ucap mereka berdua. Sasuke hanya terdiam. Ia menundukan wajahnya, tak berani menatap wajah sang ayah.

"angkat wajahmu!" perintah Fugaku dingin. Dengan perlahan Sasuke menatap wajah sang ayah. "apa yang kau lakukan disini? Sudah berapa kali ku bilang jangan pernah tunjukan wajahmu itu di tempat kerjaku!" ucap Fugaku sinis. Sasuke hanya terdiam. Bibirnya bergetar menahan takut.

"maaf ayah.." lirihnya.

"apa kau tahu! Kau sudah mempermalukan ku di depan teman teman ku?! Kenapa kau harus menunjukan penyakit sialan itu dihadapan mereka?!" Fugaku mengepal tangannya dengan kuat. Menahan amarah yng memuncak dikepalanya.

"a—aku tidak sengaja. Ma—maafkan aku" lirih Sasuke. Fugaku hanya menghela nafasnya kasar.

"ahh, Fugaku-san. Jam 8 malam nanti kita akan on air. Kau jangan telat ya, nanti malam kau akan mewawancarai politikus terkenal. Kuharap kau bisa membuat acara debatnya semakin panas" ucap salah seorang staff acara tersebut.

"baik. Aku akan melakukannya dengan sungguh sungguh. Terima kasih pak produser" Fugaku menundukan badannya. Orang itu tersenyum lalu pergi meninggalkan Sasuke dan Fugaku.

"pulanglah, aku masih harus berkerja" ucap Fugaku. Sasuke hanya terdiam, ia menahan lengan Fugaku. Meminta Fugaku agar tak meninggalkannya. "sial! Apa yang ka—"

"aku ingin menjadi ayah. Aku— aku ingin menjadi seorang reporter dan presenter seperti ayah. Aku ingin menjadi pembawa acara berita dan menjadi pewawancara politikus terkenal seperti ayah. Aku—"

"hahahahaha!" Fugaku tertawa keras sambil memegangi perutnya yang sakit. Ia menatap anak bungsunya itu dengan tatapan mengejek. "kau ingin menjadi reporter sepertiku? Hah?! Kau gila?! Mana ada pihak televisi yang mau menerima orang dengan penyakit aneh sepertimu Sasuke? Kau sadarkan kalau kau punya sindrom dimana kau tidak bisa berbohong?!" ucap Fugaku. Sasuke hanya diam mematung. Ia meneguk salivanya, membuang rasa gugup dan memandang wajah ayahnya dengan percaya diri.

"tidak.. aku percaya kalau sindrom ini sangat berguna bagi seorang reporter. Bukankah seorang reporter seharusnya menyampaikan kebenaran? Berita yang disampaikan oleh seorang reporter yang memiliki sindrom sepertiku akan membangun rasa percaya pada para penonton yang menonton berita. Mereka pasti percaya bahwa berita yang aku sampaikan murni dan bukan sebuah kebohongan belaka" kata Sasuke yakin. Fugaku terkekeh kecil.

"seorang reporter yang tidak bisa berbohong dan hanya mengatakan kebenaran? Kau benar benar naïf Sasuke. Dunia jurnalistik tidak semudah yang kau kira. Seorang reporter berita harus merangkai berita agar rating acaranya naik! Kau bahkan harus berbohong agar kau bisa mendapatkan rating yang tinggi! Apa kau sanggup melakukan itu hah?!" kali ini kata kata Fugaku benar-benar menusuk Sasuke. Sasuke bahkan tak dapat membalas perkataan Fugaku.

Fugaku mengambil 2 buah kartu didalam saku jasnya. Ia menunjukan kedua kartu itu pada Sasuke. "ini adalah kartu dari 2 buah restoran yang berbeda. Sekarang,anggaplah kau dan aku adalah seorang reporter berita yang sedang meliput 'pelanggaran restoran yang mengijinkan pengunjungnya merokok didalam restoran'. 2 restoran ini telah di laporkan dan sekarang kita akan meliput restoran tersebut. Kita akan menyusup ke dalam restoran tersebut dan membuktikan bahwa rerstoran tersebut benar-benar melanggar aturan. Kau pilihlah salah satu kartu ini" ucap Fugaku. Sasukepun mengangguk dan mengambil salah satu kartu yang ada tangan Fugaku.

"disini kita berperan sebagai reporter, kau tahu kan tugas reporter? Mengungkapkan berita dan merangkainya agar masyarakat dapat mengetahuinya. Baiklah biar aku yang pertama—."

Fugaku mengambil handphonenya, menekan nomor disalah satu kartu yang tidak dipilih Sasuke.

"selamat datang direstoran Fantasia. bisa saya tulis pesanan anda" terdengar suara wanita diseberang sana.

"aku ingin memesan meja untuk 4 orang, besok jam 1 siang. Dan 4 orang tersebut adalah perokok. Apakah aku bisa memesannya?" Tanya Fugaku. Ia menatap Sasuke.

Cukup lama wanita itu terdiam sampai akhirnya ia menjawab. "baiklah, anda boleh memesan." Fugaku tersenyum.

"baiklah, terimakasih" ia menutup sambungan teleponnya. Fugaku menatap Sasuke dan tersenyum sinis. "bagaimana? Apa kau bisa berbohong seperti itu?" Tanya Fugaku. Sasuke hanya terdiam. "ambil handphonemu dan ketik nomor yang ada dikartu mu. Lakukan seperti yang tadi aku lakukan" perintah Fugaku. Namun Sasuke masih terdiam.

"kenapa? Tidak bisa? Tentu saja karena kau tidak bisa berbohong! Seorang reporter harus bisa berbohong demi mendapatkan sebuah berita. Maka dari itu kau tak akan pernah bisa menjadi reporter Sasuke" kata Fugaku.

"pergilah.. aku masih ada urusan" Fugakupun meninggalkan Sasuke sendirian. Kedua kaki Sasuke lemas, ia bahkan terjatuh disana. Semua orang bahkan melihatnya bingung. Bibir Sasuke bergetar. Ia tak tahu jika cita-citanya bisa serumit itu. Kata-kata Fugaku benar-benar berhasil menusuknya. Tanpa sadar air mata Sasuke sudah jatuh satu persatu. Membasahi pipi Sasuke yang memerah. Kini Sasuke menangis dalam diam.

.

.

.

Naruto terus mengikuti Orochimaru. Dan pada akhirnya Orochimaru pun tiba disebuah gereja tua. Naruto bersembunyi dibelakang pohon besar. Berusaha agar Orochimaru tak melihatnya. Naruto melihat Orochimaru berbicara dengan seorang pendeta. Naruto tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Yang ia tahu, Orochimaru begitu ramah pada pendeta tersebut. Setelah berbicara dengan pendeta, Orochimaru dengan ramah membantu para biarawati membawa panci-panci besar yang berisi makanan.

Orochimaru menatap panci-panci itu pada sebuah meja panjang. Setelah dirasa rapi, ia pun memanggil para biarawati. Biarawati-biarawati itu datang sambil menuntun para manula, gelandangan dan para anak kecil yang hidup dijalanan. Orochimaru membagikan makanan kepada orang-orang yang kekurangan tersebut. Dengan ramah ia menyapa orang-orang tersebut. Menuangkan supmiso dan beberapa potong daging pada piring mereka.

Bahkan saat ada gelandangan yang mengambil jatah ubi manisnya lebih dari satu, Orochimaru tak marah pada orang itu. Ia hanya tersenyum ramah, mengambil sebuah kantong plastik dan memberikan banya ubi manis pada gelandangan yang sudah berumur itu. Saat ini Orochimaru benar-benar berbeda dengan apa yang dipikirkan Naruto.

"apa sebenarnya yang ia rencanakan?" guman Naruto. Sejak dulu ia memang tidak tahu jalan pikiran Orochimaru. Orochimaru itu adalah penjahat yang cerdik, maka dari itu Naruto begitu kesulitan untuk menangkapnya.

"siapa disana?" Tanya Orochimaru. Naruto terdiam, ia harus pergi dari sini. Dengan secepat kilat. Naruto pergi meninggalkan gereja tua itu.

"besok aku akan datang kesini, akan kucari tahu apa yang sedang direncanakan Orochimaru kali ini" tekad Naruto. Kali ini ia harus bergerak, ia tak boleh tinggal diam. Demi melindungi Sasuke dan orang-orang yang penting baginya, Naruto harus menangkap dan menjembloskan Orochimaru ke penjara. Naruto yakin, ia pasti bisa.

Sebelum pulang kerumah, Naruto menyempatkan diri untuk membeli cat rambut dan sebuah sonflens di salah satu toko. Ia akan menyamar, dan membongkar semua kedok Orochimaru selama ini. Setelah membeli perlengkapan yang ia butuhkan, Naruto melangkahkan kakinya menuju rumah Sasuke. Besok ia akan meminta tolong pada Sasuke, semoga saja Sasuke akan menolongnya dengan senang hati.

"ahh.. apa Sasuke sudah pulang? aku penasaran earphone macam apa yang ia beli. Hehehehe.."Naruto tersenyum lebar. Saat dijalan, Naruto memicingkan matanya. Ia melihat seseorang yang begitu ia kenali sedang duduk di sebuah bangku taman.

"itu Sasuke, kenapa ia ada disini? Kenapa ia tidak pulang?" guman Naruto. Entah sejak kapan, terlintaslah ide jahil untuk mengagetkan Sasuke. Naruto mulai mengendap-endap mendekati Sasuke.

NGING! Tiba tiba Naruto terdiam. Matanya menatap Sasuke dengan sendu. Mungkin lebih baik Naruto meninggalkan Sasuke sendirian disini. Sasuke butuh waktu sendiri. Dengan perlahan Naruto meninggalkan Sasuke, berusaha agar Sasuke tak menyadari keberadaanya.

"Sasuke.. apa yang terjadi antara kau dengan ayahmu?" guman Naruto. Ia tak sengaja mendengar suara hati Sasuke. Naruto menoleh kebelakang. Dilihatnya Sasuke yang sedang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Menyembunyikan wajahnya agar orang lain tak melihat kesedihannya. Ingin rasanya Naruto duduk disamping Sasuke, memeluknya dan menenangkannya agar hati Sasuke tak sakit lagi. Namun ia sadar, Naruto bukanlah siapa-siapa. Ia hanyalah orang asing yang tiba-tiba muncul di kehidupan Sasuke.

.

.

.

Sasuke menghirup nafasnya dalam-dalam. Setelah dirasa sudah baikan, ia pun berdiri dan berjalan pulang kearah rumahnya. Entah sudah berapa jam Sasuke terdiam di taman, yang jelas kini hari sudah malam. Sasuke masih mengingat jelas perkataan sang ayah. Ia tak menyangka jika dunia jurnalistik itu berbeda dengan yang ia harapkan. Terlebih lagi sang ayah malah menyuruh Sasuke membuang jauh-jauh cita-citanya itu. Apa Sasuke harus menyerah? Tapi sejak dulu cita citanya adalah menjadi seorang reporter. Sasuke benar-benar mengutuk sindrom yang di idapnya. Kenapa diantara milyaran manusia yang hidup di dunia ini, hanya Sasuke yang mengidap sindrom ini?

Langkah kaki Sasuke terhenti saat melihat Naruto yang terduduk sambil menyenderkan bahunya di depan gerbang rumah Sasuke. Mata Naruto terpejam, sepertinya ia sedang tertidur. Ah, Sasuke lupa jika kunci pintu gerbang rumahnya ada pada dirinya. Hari ini ayah dan kakaknya tidak pulang maka dari itu pintu gerbang masih terkunci. Dan lebih sialnya, Naruto tak memiliki kunci duplikat. Sasuke lupa memberikannya pada Naruto.

"Naruto? Naruto? Ayo bangun, jangan tidur disini" ucap Sasuke sambil menggoyangkan tubuh Naruto. Naruto membuka matanya dengan perlahan. "ahh.. Sasuke, okaeri" kata Naruto. "hng.." balas Sasuke seadanya. Narutopun bangkit dari duduknya, ia membersihkan pakaiannya yang sedikit kotor karena debu.

"ayo masuk" ajak Sasuke. Naruto mengangguk.

"Sasuke.. tadi aku bertemu dengan Orochimaru" ucap Naruto.

"lalu?"

"dia.. dia bekerja sebagai relawan disebuah gereja tua dipinggir kota" kata Naruto lagi. Sasuke terdiam.

"tapi.. bagaimana bisa? Maksudku, dia bahkan mempunyai hati iblis dan berniat membunuh siapa saja yang menghalanagi jalannya. Kenapa? Kenapa ia bisa bekerja sebagai relawan disana?" Tanya Sasuke tak percaya. Naruto menggeleng.

"aku benar-benar tak tahu apa yang ada dipikiran Orochimaru. Dia.. begitu misterius" ucapnya. Mereka berdua sama-sama terdiam.

"maka dari itu, Sasuke kuharap kau mau menolong ku. Akan akan menyamar menjadi relawan disana. Akan ku cari tahu apa yang sedang Orochimaru rencanakan. Aku minta tolong padamu, buat penampilanku berbeda agar Orochimaru tak menyadari bahwa aku adalah Uzumaki Naruto. Aku berjanji.. aku berjanji akan menangkap Orochimaru dan melindungimu dari ancamannya, Sasuke" ucap Naruto sambil menatap mata Sasuke. Tatapan penuh dengan tekad yang membara. Tatapan yang membuat Sasuke yakin kalau Naruto akan menangkap orang yang telah mengancam nyawanya.

Sasuke mengangguk pelan. "besok hari libur, setelah sarapan aku akan memotong rambutmu. Jadi kau tunggu dihalaman belakang" kata Sasuke. Naruto mengangguk paham.

"ini!" Sasuke memberikan sebuah kotak coklat yang cukup besar.

"kurasa kau akan membutuhkan ini" ucap Sasuke. Tanpa Naruto buka pun ia sudah tahu apa yang diberikan Sasuke.

"terima kasih" ucap Naruto. Tadinya, ia pikir Sasuke akan diam-diam menaruh earphone ini, tapi ternyata tidak.

..

..

..

Haripun berganti. Kini mentari telah muncul dari persembunyiannya. Udara sejuk, dan nyanyian burung yang merdu kini menghiasi suasana bumi yang indah ini.

"Sasuke! Naruto! Bisa aku minta tolong pada kali—" ucap Itachi terhenti saat melihatNaruto dan adiknya kini sedang bertengkar kecil.

"jangan pendek-pendek! Kau tahu kan rambutku sangat berharga!" protes Naruto.

"bawel! Cepat singkirkan tanganmu atau kugunting tangamu!" ucap Sasuke sinis.

"gyaaa! Sasuke! Kau terlalu pendek memotongnya!"

"argghh! Jangan banyak bergerak dobe! Kutusuk matamu dengan gunting baru tahu rasa kau!"

"aaarrghhh! Rambut indahku!"

Itachi terkekeh kecil. Ia senang melihat adiknya kini bisa bercengkrama dengan teman sebayanya. Sosok adiknya yang dulu begitu pendiam dan dingin kini telah berubah menjadi pemuda yang galak dan sedikit –uhuk- tsundere mungkin? Itachi lebih suka sosok Sasuke yang sekarang. Kini Sasuke lebih suka berekspresi, berbanding terbalik saat dia kecil dulu.

"Naruto, terima kasih kau telah mengubah adik kecil ku. Kupercayakan Sasuke padamu" guman Itachi sebelum meninggalkan mereka berdua.

.

.

"bagaimana?" Tanya Sasuke saat melihat Naruto yang sedang bercermin.

"aku tampan" ucap Naruto percaya diri. Sasuke hanya memutar bola matanya malas.

"nah sekarang cepat pakai softlens itu, aku akan menutup tanda dipipimu itu dengan bedak dan foundation" ucap Sasuke. Naruto mengangguk, ia pun memasang sonflens pada kedua matanya. Sedangkan Sasuke mulai mengoleskan foundation dan bedak, berusaha menutupi tanda di pipi Naruto.

"nah, selesai!" ucap mereka berdua kompak.

"Sasuke! Apa kau melihat naru—" Itachi terdiam saat melihat sosok asing yang berada dikamar adiknya itu.

"ahh Naruto. Dia—"

"Naruto sedang kencan dengan temannya." Ucap Naruto, memotong pembicaraan Sasuke. Sasukehanya menghela nafasnya.

"ka—kau siapa? Se—sedang apa kau dikamar adikku?!" Tanya Itachi menyelidik. Naruto tersenyum. Sepertinya Itachi benar-benar tak mengenalinya.

"namaku Hyuga Menma, aku teman Sasuke" ucap Naruto sambil mengulurkan tangannya. Tak lupa Naruto merubah suaranya agar Itachi benar-benar tak mengenali Naruto.

"a—aku Uchiha Itachi. Ka—kakak Sasuke. Ahh sepertinya aku harus pergi. Sa—Sasuke! Jangan lupa jaga rumah!" ucap Itachi dan Sasukepun mengangguk.

"lihat! Bahkan kakakmu tidak mengenaliku hahahaha!" Naruto tertawa kencang. Sasuke hanya memutar kedua bola matanya malas.

"pakai ini saat kau bertemu Orochimaru. Ku harap ia tak sadar jika kau memakai softlens" kata Sasuke, ia memberikan sebuah kacamata pada Naruto. Lusa, ia akan bertemu dengan Orochimaru. Naruto akan membongkar semua kedok Orochimaru. Naruto yakin, ia pasti bisa.

"tunggu aku Orochimaru" ucap Naruto dalam hati.

.

.

.

.

Keesokan harinya setelah pulang sekolah, Narutopun datang ke gereja tempat Orochimaru bekerja. Ia meminta izin pendeta gereja tersebut untuk bekerja sebagai relawan ditempat ini. Pendeta tersebutpun menyetujuinya. Naruto mengangguk lega.

"Orochimaru-san" ucap pendeta tersebut lembut.

"iya, ada yang bisa saya bantu pak pendeta?" Tanya Orochimaru ramah. Pendeta itu tersenyum, ia menepuk pelan bahu Naruto.

"mulai sekarang anak ini akan membantu mu disini. Ia mengajukan diri untuk menjadi relawan digereja ini" ucap pendeta tersebut. Orochimaru menatap Naruto dari ujung kaki samapi ujung kepala. Naruto berusaha bersikap normal agar Orochimaru tak mencurigainya.

"namaku HyugaMenma. Senang berkerja sama denganmu Orochimaru-san" kata Naruto sambil mengulurkan tangannya. Orochimaru tersenyum dan membalas uluran tangan Naruto.

"namaku Orochimaru. Senang berkenalan dengan mu" katanya ramah.

Setelah selesai berkenalan mereka pun mulai bekerja, tak lupa Naruto terus mengamati tingkah laku Orochimaru. Tak terasa sudah 2 jam mereka bekerja.

"Menma-kun, bisakah kau membantu Orochimaru-san di dapur. Ia sedang memotong lobak untuk makanan besok" ucap pendeta itu. Naruto mengangguk. Ini kesempatan yang bagus untuk menanyakan rencana Orochimaru.

Narutopun masuk kedapur dan berdiri disamping Orochimaru yang sedang memotong lobak.

"mari kubantu" ucap Naruto ramah. Orochimaru tersenyum.

"terima kasih Menma-kun"

Mereka berdua pun terdiam. Orochimaru sibuk memotong lobak sedangkan Naruto sibuk memasukan potongan lobak itu pada baskom berisi air.

"hari ini benar-benar sibuk ya, kamarin orang yang datang tidak terlalu ramai. Untung hari ini kau datang Menma-kun. Aku jadi terbantu" kata Orochimaru.

"sudah berapa lama Orochimaru-san bekerja disini?" Tanya Naruto basa basi.

"sebulan yang lalu" balas Orochimaru.

"jadi anda sudah menjadi relawan disini selama sebulan?" Tanya Naruto lagi.

"ya" balas Orochimaru. Tiba-tiba Orochimaru terdiam, ia menatap wajah Naruto dengan lekat. "apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Orochimaru. Naruto terdiam, apa Orochimaru mulai curiga padanya? Tenang.. Naruto harus tenang..

"tidak. Ini pertama kalinya kita bertemu" jawab Naruto santai. Orochimaru terkekeh pelan.

'atau mungkin aku salah orang? Entah kenapa ekspresi wajahnya sama dengan orang itu'

"hahaha.. maaf, tapi aku merasa seperti pernah melihatmu sebelumnya Menma-kun" kata Orochimaru. Naruto hanya tersenyum tipis.

"Orochimaru-san" panggil Naruto. Orochimaru menoleh pada Naruto. Naruto tersenyum kecil, ia harus memancing Orochimaru dengan pertanyaannya agar Naruto dapat mendengar suara hati Orochimaru. Dengan begini Naruto akan tau rencana apa yang akan dibuat Orochimaru nanti.

"apa kau seorang mantan narapidana?" tanyanya. Orochimaru terdiam, ia menghentikan kegiatan memotong lobaknya.

'dari mana dia tahu? Apa pak pendeta yang memberitahunya?'

Naruto lagi-lagi tersenyum saat mendengar suara hati milik Orochimaru. Sepertinya Orochimaru sudah terpancing.

"apa pak pendeta yang memberitahukannya padamu?" Tanya Orochimaru. Naruto mengangguk kecil.

'sial! Kenapa pak tua itu membocorkan identitasku?! Brengsek!'

"atas kasus apa sampai-sampai anda masuk penjara Orochimaru-san? Ah— maaf jika aku lancang, aku hanya—"

"aku dituduh membunuh orang, yaa.. saat itu aku hanya ingin menolong korban yang terjebak di dalam mobil saat kecelakaan. Namun semua mengira akulah yang membunuh korban. Aku hanya rakyat kecil yang tak punya jaminan perlindungan apapun. Bahkan pengacara yang sukarela menolongku tak dapat membebaskanku dari tuduhan" Orochimaru tersenyum tanpa dosa. Naruto sekuat tenaga menahan amarahnya. Berakting seakan-akan dia tak bersalah, Orochimaru memang seorang iblis.

"ahh benarkah? Aku turut menyesal menanyakan hal itu" ucap Naruto.

'Sial, untuk apa bocah itu menanyakan hal tersebut?'

Naruto mengepalkan tangannya menahan amarah. "kau bilang untuk apa? Tentu saja untuk memancing mu agar kau mau membocorkan semua rencanamu" ucap Naruto dalam hati.

"lalu setelah kau bebas apa yang akan kau lakukan?" Tanya Naruto.

"aku, akan membersihkan nama baik ku. Dan akan ku tunjukan kalau aku bukan orang jahat" ucapnya.

"kau yakin? Apa kau tidak akan balas dendam pada orang yang telah menjebloskan mu kepenjara?"

Orochimarudiam membisu. Ditatapnya mata Naruto dengan tatapan yang sulit di artikan. Orochimaru lagi-lagi tersenyum. Namu kali ini senyumannya begitu menakutkan. Bahkan Naruto sampai meneguk salivanya karena gugup.

"sekarang aku yakin, kita pasti pernah bertemu di suatu tempat" ucapnya. Naruto memucat, apa Orochimaru sudah tau penyamarannya. Orochimaru mengambil pisaunya dan tersenyum tipis pada Naruto. Naruto dengan perlahan mundur kebelakang. Dia harus pergi dari sini.

"O—Orochimaru-san? Kau—"

"ahh kalian ternyata masih disini. Nahh Menma-kun sebaiknya kau pulang. hari sudah gelap, nanti kau— heii! Menma-kun!" panggil pendeta itu pada Naruto. Namun Naruto sudah berlari menjauh. Meninggalkan pendeta itu dan Orochimaru.

"dia kenapa?" Tanya pendeta itu. Orochimaru hanya mengangkat bahunya tak mengerti.

'padahal aku hanya bercanda. Kenapa ia lari?' ucapnya dalam hati.

"ahh ini tas dan blazer sekolah milik Menma-kun. Orochimaru-san, bisakah kau mengantarkan ini padanya?" Tanya pak pendeta. Orochimaru mengambil blazer sekolah milik Naruto.

"SMA Konoha? Ahh aku tahu tempat ini. Baiklah besok aku akan kesana" kata Orochimaru. Pendeta itu tersenyum dan berterima kasih pada Orochimaru.

..

..

..

Keesokan harinya. Setelah bekerja di kantor Itachi, Orochimaru pun datang ke SMA Konoha. Ia ingin mengembalikan tas dan blazer milik Menma. Orochimaru sadar ini semua karena dirinya yang menjahili Menma sampai-sampai Menma lari ketakutan.

Orochimaru masuk ke sekolah itu, diapun melihat segerombolan siswa yang sedang bermain sepak bola dilapangan.

"ahh boleh aku bertanya sesuatu" Tanya Orochimaru pada seorang siswa yang sedang lewat.

"apa kau kenal dengan Hyuga Menma, kemarin ia meninggalkan tas dan blazernya di tempat kerjanya" kata Orochimaru. Orang itu berpikir sejenak, kemudian ia menggeleng.

"setahuku tidak ada orang yang bernama Hyuga Menma disini" kata orang itu. Orochimaru mengerutkan kedua alisnya. Apa mungkin dia salah sekolah? Tapi ia yakin jika logo di blazer Menma adalah logo SMA Konoha.

"ahh.. itu, orang yang sedang bermain sepak bola. Siswa yang rambutnya hitam yang sedang berlari menuju gawang" kata Orochimaru sambil menunjuk Menma.

"ohh itu bukan Menma, paman. Namanya Uzumaki Naruto. Sebenarnya rambutnya berwarna pirang entah kenapa kemarin ia mewarnai rambutnya menjadi hitam" kata orang itu. Orochimaru terdiam, ia tersenyum kecil. Kenapa ia begitu bodoh sampai-sampai ia tak menyadari jika Menma itu adalah Naruto.

"ahahahaha.. bodohnya aku" Orochimaru tertawa kecang.

"err.. paman kau takapa?"

"ya ya aku tidak apa-apa.. bisakah kau berikan ini pada Naruto-kun. Bilang padanya jika Orochimaru yang telah mengantarkannya" kata Orochimaru. Orang itu mengangguk. Dia berlari kearah Naruto dan memberikan tas serta blazer pada Naruto. Orochimaru tersenyum saat Naruto melihat kearahnya. Wajah Naruto menegang seketika, Orochimaru bisa menebak kalau kini Naruto telah ketakutan karena rahasianya telah terbongkar.

"menyamar menjadi orang lain agar kau bisa memata mataiku. Ternyata kau cerdik juga bocah"

.

.

.

.

Bel pulang sekolah telah berbunyi. Semua muridpun pulang dengan gembira, kecuali Naruto. Sejak tadi ia melamun. Bagaimana bisa ia seceroboh itu? Andai saja saat itu Naruto tidak meninggalkan blazernya disana. Pasti Orochimaru tidak akan sadar kalau Naruto menyamar menjadi Menma. Padahal tinggal sedikit lagi Naruto mengetahui rencana busuk Orochimaru.

Drttt..Drttt.. tiba-tiba handphone Naruto bergetar.

"halo?"

"haii bocah, lama tak bertemu. Ahh atau harus ku panggil Menma-kun?"

"Orochimaru" balas Naruto sinis. Ia mengepalkan tangannya hingga kuku jarinya memutih.

"ya ya ini aku. Kuharap kau tidak akan melupakanku"

"mau apa kau?" Tanya Naruto

"aku ingin bicara padamu, ku tunggu kau di café dekat sekolahmu"

Tut! Sambungan telepon terputus. Dengan tergesa-gesa, Narutoberlari seperti orang kesetanan. Bahkan ia menghiraukan Sasuke yang hendak mengajaknya pulang bersama.

.

.

Naruto membuka pintu café itu. Ia melihat sekeliling, mencari sosok Orochimaru.

Iapun melihat Orochimaru yang duduk didekat jendela. Ia sedang memakan burgernya dengan lahap. Dengan tampang dingin dan datar, Naruto menghampiri Orochimaru dan duduk dihadapannya. Orochimaru yang menyadari kedatangan Naruto hanya tersenyum. Iapun memberikan 1 burgernya pada Naruto. Menyuruh Naruto memakan burger itu.

'kau datang juga bocah'

"apa tujuanmu menyuruhku datang kesini?" Tanya Naruto. Orochimaru hanya tersenyum tipis. Ia mengambil soda miliknya dan meminumnya.

'hanya ingin menyapa mu. Ahaha.. aku lengah. Aku benar-benar tidak sadar jika kau menyamar untuk memata-matai ku. Kau memang setan kecil bocah!'

"bicara lah menggunakan mulutmu!" bentak Naruto. Semua orang yang ada dicafe itu terdiam. Mereka menatap bingung kearah Naruto.

'kemampuan mu untuk membaca pikiran ternyata tidak berubah. Ahh untung aku tidak bertindak bodoh kemarin. Jika saja aku gegabah mungkin saja kau akan tahu rencana ku'

"berapa kali ku bilang bicaralah menggunakan mulutmu. Jangan berpikir!" bentak Naruto, namun lagi-lagi Orochimaru menghiraukannya.

'kenapa? Kenapa kau jadi terlihat ketakutan seperti itu?'

"ponsel itu. Itu perbuatan mu kan? Kau yang meneror Sasuke, iya kan? Kenapa kau lakukan pada orang yang tidak bersalah seperti Sasuke?" kata Naruto. Semua pengunjung dicafe tersebut terheran-heran dengan Naruto yang bicara sendiri sejak tadi.

'ahh apa kau ketakutan hanya karena hal itu? Aku bahkan belum memulainya.'

"kenapa kau melakukan hal ini?" Tanya Naruto.

'tentu saja karena aku ingin balas dendam padamu. Sebenarnya 10 tahun yang lalu sasarannya bukan kau, tapi ayahmu. Karena ulah mu dan orang yang bernama Izuna lah yang telah menghancurkan rencanaku. Kalian berdua memang bocah tak tahu diuntung. Maka dari itu aku harus memusnakan salah satu dari kalian. Dan Izunalah yang terpilih.'

"brengsek, jadi dugaan ku benar kalau kau yang melakukannya" Naruto mengepalkan kedua tangannya. Ingin rasanya ia memukul wajah brengsek yang ada di depannya itu.

'tanpa ku beri tahupun kau sudah tahu jawabannya. Mulai sekarang aku akan balas dendam padamu, tapi bukan kau lah targetnya. Melainkan orang yang dekat denganmu. Ahh kurasa sekarang kau sudah punya teman baru? Namanya Sasuke, iya kan?'

"jangan berani mendekati Sasuke!" bentak Naruto lagi. Namun kali ini lebih kencang. Orochimaru hanya diam sambil memasang senyuman kebanggaannya itu. Sepertinya kali ini rencananya berhasil.

'aku akan tetap membunuh Sasuke!'

"BRENGSEK KAU!"

BRUG! Dengan kalap, Naruto meninju wajah Orochimaru dengan kencang. Para pengunjungpun berteriak ketakukan. Naruto menarik kerah baju Orochimaru, memukul wajahnya hingga mulut dan hidungnya mengeluarkan darah. Meja cafepun patah akibat amukan Naruto.

Orochimaru hanya diam, ia tak membalas pukulan Naruto walau Naruto menghajarnya berkali-kali.

'aku menang bocah! Aku menang!'

"BRENGSEK KAU!" Naruto mencekik leher Orochimaru.

"To—tolong! Tolong aku! Aku tidak bisa bernafas aakkhh!"

Ketika hendak memukul Orochimaru lagi, tiba-tiba sekumpulan polisi datang ke cafe itu. Mereka mengikat tangan Naruto kebelakang, memborgolnya agar Naruto tak bisa bergerak.

"kenapa kalian memborgolku? Dialah yang seharusnya kalian ikat! Dialah yang bersalah!" teriak Naruto. Namun polisi-polisi itu tak mengubrisnya.

"anda tidak apa-apa tuan?" Tanya polisi itu pada Orochimaru. Orochimaru hanya mengangguk pelan.

"aku— tidak apa-apa" katanya sambil memegang lehernya yang begitu sakit.

"Uzumaki Naruto, kau kami bawa ke kantor polisi" ucap polisi itu. Naruto hanya diam, ia hanya bisa menggertakan giginya kesal. Bodoh! Kenapa ia malah terbawa emosi? Sekarang ia malah terlihat seperti penjahat disini.

"sial.." guman Naruto.

.

.

.

.

Sasuke diam sambil menatap jam yang menempel di dinding rumahnya. Ia bingung dengan sikap Naruto tadi. Kenapa sikapnya jadi aneh? Apa ini karena Orochimaru?

Kring.. kring.. tiba-tiba telpon rumah Sasuke berdering.

"halo? Dengan kediam uchiha" ucap Sasuke.

"Sasuke, bisakah kau ke kantorku sekarang?"

"nii-san? Ada apa? Apa yang terjadi?"

"Naruto.. ia terlibat pertengkaran dengan orang lain"

Sasuke terdiam. Astaga, apa yang dilakukan si bodoh itu?

"baik aku akan kesana" ucap Sasuke. Ia menutup sambungan teleponnya.

.

.

Setelah sampai di kantor Itachi, Sasuke buru-buru masuk kedalam. Disana ia melihat Naruto yang sedang terduduk sambil menundukan wajahnya. Kedua tangannya diborgol.

"Yahiko-san? Apa yang sedang terjadi?" Tanya Sasuke pada seorang polisi yang sedang mengotak-atik berkas di komputernya. Sasuke kenal orang itu. Dia adalah Yahiko, teman kerja kakaknya.

"ahh Sasuke-kun, apa benar dia temanmu?" Tanyanya sambil melirik Naruto. Sasuke mengangguk pelan.

"sepertinya temanmu terlibat pertengkaran dengan seseorang. Dia memukuli orang itu tanpa sebab hingga si korban babak belur" ucap Yahiko.

"tapi? Bagaimana bisa? Maksudku Naruto bukanlah tipe orang yang suka berkelahi" ucap Sasuke membela Naruto. Yahiko hanya mengangkat bahunya tak tahu menahu.

"perkelahian mereka terekam oleh CCTV. Disini terlihat jika Naruto lah yang memulai pertengkaran. Bahkan saksi mengatakan jika Naruto berbicara sendiri dan membentak korban" ucap Yahiko. Sasuke hanya menghela nafas.

"lalu bagaimana dengan korbannya?" Tanya Sasuke.

"dia pergi setelah mengatakan tidak ingin menunutut apapun. Dia baru saja bebas dari penjara baru-baru ini jadi kurasa ia tidak mau terlibat masalah lagi" ucap Yahiko sambil menyeruput kopi panasnya. "—Naruto-kun bisa saja dibebaskan. Namun tidak ada seseorang yang bertanggung jawab untuknya. Ia tidak memiliki orang tua atau kerabat apapun maka dari itu Itachi-san memyuruhmu untuk menjemputnya" kata Yahiko. Sasuke melirik Naruto yang sejak tadi hanya diam.

"Yahiko-san apa kau tahu siapa nama korban itu?" Tanya Sasuke. Ia masih penasaran kenapa Naruto bertindak kasar seperti itu.

"namanya Orochimaru. Dia dulu seorang narapidana namun ia telah bebas sebulan yang lalu" ucap Yahiko santai. Wajah Sasuke memucat. Orochimaru? Jadi tadi Naruto bertengkar dengan Orochimaru?

"bisa kau tunjukan rekaman CCTV itu?" pinta Sasuke. Yahiko pun mengangguk dan menunjukan rekaman CCTV itu. Dengan serius Sasuke melihat rekaman CCTV itu. Memang benar yang dikatakan Yahiko, Narutolah yang memulai pertengkaran dengan Orochimaru. Sasuke mengerutkan alisnya saat melihat sesuatu yang ganjil.

"Yahiko-san apa Naruto mengatakan alasan ia memukul Orochimaru?" Tanya Sasuke.

"aku tidak tahu. Sejak tadi aku terus menanyainya namun ia hanya diam. Sepertinya ia punya dendam pada Orochimaru. Jika dilihat dari rekaman tersebut, Naruto terlihat sangat marah."

"pasti ada alasannya mengapa Naruto memukul Orochimaru" kata Sasuke. Yahiko mengerutkan alisnya. Iapun melihat rekaman tersebut.

"tapi Sasuke-kun, Orochimaru tidak mengatakan sepatah kata apapun. Tapi Naruto malah memukulnya. Nagato-san ada ditempat kejadian saat itu. Dia bilang kalau Orochimaru tidak bicara apapun sejak bertemu dengan Naruto. Disana hanya Naruto yang berbicara sendiri." Ucap Yahiko panjang lebar.

"ini.. disini.. apa yang Naruto katakan?" kata Sasuke sambil menunjuk layar computer itu.

"ohh dia terus mengatakan agar Orochimaru bicara dengan mulutnya dan jangan berpikir" balas Yahiko. Sasuke menghela nafas, kini ia tahu apa alasan Naruto memukul Orochimaru. Naruto benar benar bodoh! Bisa-bisanya ia terpancing oleh Orochimaru.

"aku akan membawa Naruto pulang. Terima kasih Yahiko-san" kata Sasuke. Yahiko tersenyum, ia pun membuka borgol yang ada di tangan Naruto.

"hati-hati, lain kali jangan bertengkar lagi yaa"

..

..

..

Naruto dan Sasuke hanya terdiam. Mereka enggan membuka suara. Naruto berjalan dibelakang Sasuke, menundukan wajahnya enggan menatap Sasuke.

"kenapa kau terpancing olehnya?" Tanya Sasuke. Naruto hanya diam.

"kau tahu, kerena tindakanmu sekarang orang-orang menganggapmu sebagai penjahat. Kurasa Orochimaru kini tersenyum karena ia merasa menang" ucap Sasuke lagi. Namun lagi-lagi Naruto terdiam. Ia mengangkat wajahnya. Menatap punggung kecil Sasuke yang berjalan di depannya. Mata Naruto terlihat kosong.

Flasback…

'aku akan tetap membunuh Sasuke!'

"BRENGSEK!" Naruto langsung meninju wajah Orochimaru dengan keras.

"setelah membunuh Izuna, sekarang kau akan membunuh Sasuke? Kau tahu betapa berharganya mereka bagiku! Jika Izuna tidak ada disana maka aku akan mati 10 tahun yang lalu! Itu sebabnya aku berpikir bahwa hidupku adalah miliknya. Aku akan melindunginya! Aku akan mengabdikan hidupku untuk melindunginya. Tapi kau malah dengan mudah membunuhnya! Membunuh orang yang telah menyelamatkan hidupku! Apa kau tahu, aku begitu tertekan! Rasanya aku ingin mati saat melihat Izuna sudah terkujur kaku! Dan sekarang kau ingin membunuh Sasuke?! Jangan berani macam-macam denganku Orochimaru! Kini aku berbeda dengan yang dulu. Aku yang akan membunuhmu!" Naruto mencekik leher Orochimaru. Namun Orochimaru hanya tertawa mengejek. Amarah Naruto makin memuncak.

'kau ingin membunuhku? Coba saja..'

"aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!" ucap Naruto kalap.

"To—tolong! Tolong aku! Aku tidak bisa bernafas aakkhh!"

Flashback off..

"oii Naruto, bisa kau percepat jalan mu? Aku ingin— Na—Naruto?" Sasuke membulatkan matanya saat Naruto memeluk tubuhnya dari belakang.

"Naruto apa yang—"

"jangan pergi Sasuke.." lirihnya. Sasuke hanya terdiam. Ia membiarkan Naruto memeluk tubuhnya. Ia bahkan bisa merasakan tangan Naruto yang bergetar.

"apa yang kau bicarakan dengan Orochimaru?" Tanya Sasuke. Naruto menggigit bibir bawahnya.

"tentang masa lalu ku" ucapnya lirih.

"Sasuke, mau kuceritakan alasan mengapa aku ingin membunuh Orochimaru?" Tanya Naruto. Sasuke diam sejenak. Masa lalu? Apa mungkin ini ada kaitannya dengan orang yang bernama Izuna itu?

"baiklah.." balas Sasuke.

.

.

.

TBC

a/n: HOLAAAAA~ YUHHUUU SPADA~ akhirnya saya bisa update FF ini juga wkwkwk.. udah lama saya hiatus gegara banyak ujian ini dan itu. Btw, ini ff terpanjang yang saya ketik ahahaha anggaplah ini hadiah buat kalian. Kan ceritanya saya ulang tahun. Ucapin selamat dong! *siapin barbel*. Saya sebisa mungkin membuat ff ini berbeda dengan dramanya, namun mungkin ada beberapa scene yang sama di dramanya. Jadi jangan kecewa ya :'D. terus kalo ada typo atau apapun dimaklumi saja ya, saya sudah ngedit. Mungkin karena terlalu banyak jadi ada beberapa yang terlewat wkwkwk

yaudah, tunggu kelanjutan ff saya yang lain yaaa.. semoga saya gak mager ngetiknya. Wkwkwk..

salam cinta dari saya :*