bTitle/b :: The Next Naruto Lucifer.

Disclaimer :: Seluruh unsur unsur anime di fic ini bukan punya saya.

Pairing :: ?

Warning :: Acak acakan, mainstream, Bahasa ngawur, cerita gaje, Beberapa jutsu buatan sendiri, Typo berterbangan, OOC.

A/N :: OverPoweredNaru!, DivineDividingNaru!, BoostedGearNaru, AbsolutePowerOfDestructionNaru!, LuciferNaru!, AliveMinatoKushina!, GrayNaru!, ShinobiUniverse!, SmartNaru!

Summary :: Naruto Lucifer,salah satu anggora teroris Khaos Brigade sekaligus member dari tim anti teroris yang baru baru ini di bentuk dari aliansi iblis, Da-Tenshi, Tenshi, Yokai, para mitiologi dari keseluruhan pillar dunia sekaligus pemilik kekuatan leluhurnya yaitu Absolute Power Of Dentruction atau Kekuatan penghancur mutlak,Tapi ia harus mengorbankan dirinya untuk menyegel binatang kiamat, Trihexa666 yang di bangkitkan oleh orang orang bodoh menginginkan kehancuran dunia, tapi,Tuhan (anime) memang maha adil dan merinkernasikan bersama patnernya di Naruto yang lain.

bGAK SUKA JANGAN BACA/b

Start.

Matahari pagi mulai menampakan dirinya di langit langit desa dengan julukan desa daun tersembunyi ini, seluruh warga maupun shinobi mulai melakukan aktifitas pagi mereka seperti ibu ibu berbelanja di pasar, membuka toko toko kebutuhan sehari hari, para shinobi sudah melakukan pekerjaan mereka sampai ada yang masih terlelap di dunia mimpi mereka.

Di sebuah apartemen kecil terdapat satu anak manusia masih terlelap di dunianya sendiri tak memperdulikan matahari sudah melakukan tugasnya.

Mengeser sedikit tubuhnya mencari posisinya senyaman mungkin untuk menghindari sinar matahari melewati jendela yang di tutupi gorden namun sama sekali tak bisa menghentikan laju sinar matahari mengganggu mata.

Sudah cukup menghindari sengatan cahaya matahari, ia mulai membuka mata hitam legam untuk memulai aktifitas paginya, memposisikan dirinya duduk di sandaran ranjang, ia mulai mengumpulkan sisa sisa kesadaran yang ada.

"Hoaaamm cahaya matahari penggangu" anak bernama Naruto ini menguap sambil menyalahkan matahari menggangu aktifitas pagi nya. "Ohayou Draig, Albion!, bagaimana malam kalian?" tanya Naruto pada ke dua patnernya.

["Malam cukup yang cukup baik"] balas Draig di alam bawah sadar Naruto. ["Hmm desa yang tidak buruk"] lanjut Albion menilai Konoha.

"Baguslah kukira kalian akan bosan di desa terkutuk ini!" balas Naruto menanggapi pendapat Albion. ["Jadi!, apa kau akan mulai melatih stamina mu mulai sekarang?"] Naruto mengangguk untuk menjawab pertanyaan dari Draig.

"Hmm mungkin iya, lagipula aku tak akan menunda nunda latihan walau seharipun" balas Naruto kemudian turun dari ranjang lalu mengambil handuk untuk rutinitas paginya. ["Baguslah, lebih cepat lebih baik!"] Naruto sedikit tersenyum lalu berjalan ke arah kamar mandi.

"Ugh buruk sekali, apakah 'Naruto' tidak pernah membersihkan kamar mandinya" guman Naruto menutup hidungnya akibat bau tak sedap berasal dari kamar mandi kumuh di apartemen 'Naruto'.

Bayangkan saja, noda kotor mengecap di dinding dinding kamar mandi, air terbilang sangat kotor bahkan closetpun tak luput dari noda kotoran mulai membusuk, huh buruk sekali.

Menghembuskan nafas pelan, ia mulai berjalan menjauh membatalkan niat untuk menyegarkan badannya, sebenarnya ia bisa saja merenovasi seluruh apartemen menjadi lebih baik, tapi bisa heboh seluruh warga Konoha melihat perbaikan dalam satu malam.

Srriing!

Tenggelam menggunakan lingakaran sihirnya, beberapa detik kemudian sebuah lingkaran hologram raja iblis muncul beberapa meter dari sebuah sungai cukup luas tanpa pembatas apapun.

"Huuhhh setidaknya masih ada air tanpa kotoran apapun" guman Naruto.

Melepas semua pakaiannya dari jaket, kaos, celana, sepatu sampai hanya menyisahkan celana boxer belang belang, ia melangkah ke arah tepian sungai untuk membersihkan tubuhnya.

Byuurr!

"Masih asri tanpa polusi apapun, tidak seperti duniaku sebelumnya, udara sudah tidak menyehatkan lagi, suara bising kendaraan menganggu kenyamanan" guman Naruto.

15 menit berlalu Naruto masih berendam di dalam sungai, jika manusia biasa mungkin sudah menggigil kedinginan tapi ia bukanlah manusia tapi iblis setengah naga dengan daya tahan tubuh berkali kali lipat dari manusia.

Merasa sudah cukup, ia mulai melangkahkan kakinya menepi sungai untuk memungut semua pakaiannya.

"Ok sekarang hanya tinggal mencari training ground untuk memulai latihanku" guman Naruto setelah memakai pakaiannya.

-Training Ground-

Sesampai di padang rumput dengan luas 100 meter persegi, Naruto mulai melepas jaket dan kaosnya untuk memulai latihan pertamannya. Berjalan berlahan lahan ia mulai melakukan pemanasan dengan meregangkan otot otot leher, tangan sampai kaki untuk mengurangi cidera saat berlatih.

Memposisikan posisi push-up, ia mulai menghitung satu persatu gerakan menurun-keatas dan seterusnya.

"45,...46,...47,...48,...49,...50,...Hah hah sial, hanya dengan push-up 50X tubuhku sudah selelah ini hah aku harus membiasakanya!" guman Naruto dengan posisi terlentang akibat sedikit rasa lelah setelah push-up 50X.

"Akan ku coba sampai seberapa aku bisa menggunakan [Power Of Destruction]!" dengan itu Naruto mengalirkan sedikit demi sedikit Demonic penghancur di telapak tangannya lalu mulai membentuk bola energi 2X lebih besar dari bola Golf kemuadian melemparnya kearah batu di depanya.

"Kuso, sulit sekali menstabilkan dalam ukuran ini" ucap Naruto mulai frustasi melihat [Power Of Destruction] miliknya tidak stabil. Padahal dulu, jika ia ingin, ia bisa saja menghancurkan satu kota dengan satu serangan tanpa kesulitan apapun, tapi sekarang, hanya menghancurkan batu di depanya saja sulitnya minta ampun.

"Hey Draig, Albion, adakah saran untuk latihan pertama ini" ucap Naruto meminta saran pada Draig dan Albion lewat kontak batinya.["Akan lebih baiknya kau melatih ketahanan tubuhmu dulu Naruto, kau bahkan belum bisa mengeluarkan [Power Of Destruction"] balas Albion menjawab permintaan saran dari Naruto.

"Haahh bukankah sudah aku lakukan dari tadi!" Naruto membalas dengan nada malas.["Bukankah dari tadi kau hanya melakukan push-up saja tak melakukan apapun"] Naruto tersenyum garing mendengar ucapan Draig membenarkan fakta yang ada dari ucapan Naruto sebelumnya.

["Mulai sekarang, kami yang akan ambil alih latihanmu Naruto, jangan membantah apapun perintah dari kami saat latihan!"] Naruto mengerutkan sebelah alisnya tak mengerti dengan ucapan Albion yang tiba tiba. "Mengambil alih?, apa maksudmu Albion" tanya Naruto.

["Maksud Albion begini Aibo!, kami akan melatihmu mulai sekarang, segala apa yang kami perintah dalam latihan sebaiknya kau jangan membantah, mulai dari latihan kecil sampai latihan berat pun kau jangan membantah perintah kami"]

"Haahh baiklah baiklah, sekarang apa yang akan ku lakukan?" tanya Naruto menyetujui usulan dari kedua patnernya itu.["Lari keliling Training Ground 10X, Push-up 200X jangan berhenti"]

"APAAA?, kalian mau membunuhku yaa?, kalian tahu sendirikan stamina tubuh baruku ini sangat lemah" Naruto sedikit jengkel dengan perintah dari Draig menyuruhnya latihan seberat itu, ayolah, bahkan ia untuk Push-up 50X saja sudah susah payah, apalagi ini di tambah menjadi 200X plus memutari Training Ground 10X dengan luas 100 Meter persegi sedikit lebih besar dari lapangan Football pada umumnya, patnernya benar benar gila.

Mungkin jika ketahanan tubuh 'Naruto' sama seperti setamina tubuh lamanya, latihan seperti ini ia anggap sebagai latihan anak kecil baru belajar olah raga, 200X Push-up, dan keliling Training Ground 10X ia bisa menyelesaikan kurang dari 10 menit tanpa kelelahan sedikitpun.

Ingin sekali ia menendang bokong mereka melampiaskas kekesalannya, ia berpikir apakah patner sebelumnya di siksa sebegitu mengerikannya dalam latihan awal mereka mempelajari kekuatan Draig dan Albion!, mereka berdua benar benar ingin mencari inang baru dengan membunuh patner sebelumnya dengan cara sekeji ini.

["Bukankah sudah kami bilang, kau jangan mengeluh dalam latihan yang kami terapkan padamu, ini juga untuk kebaikanmu juga dalam menguasai kekuatan sejati kami"] Suara Draig memasuki gendang telinga Naruto walaupun sebenarnya berbicara lewat batin mereka.

"Baiklah akan ku lakukan tapi setidaknya berikan alasan yang sedikit lebih jelas dari alasan sebelumnya!" ucap Naruto meminta penjelasan lebih lanjut. ["Jika kau melakukan latihan melebihi apa yang kau bisa atau dengan kata lain melebihi kapasitas kau latihan biasa maka akan lebih cepat pula kau berkembang dari biasanya, kau mengerti?"] Naruto menganggukan kepalanya mengerti penjelasan dari Draig.

["Tunggu apa lagi?, cepat lakukan sana!"]

Tanpa basa basi lagi, Naruto mulai melakukan Push-up walaupun sedikit kesulitan karena faktor kelelahan akibat push-up sebelumnya.

30 menit kemudian…..

Bruuuk!

"Hah...,hah...,hah..., kau bersungguh sungguh ingin menyiksaku b*jingan" guman Naruto setelah menyelesaikan apa yang Draig perintahkan dengan keringat bercucuran di mana mana bahkan celana panjangnya sudah basah kuyup karena keringatnya itu.

["Ada apa denganmu patner?, kau baru menyelesaikan latihan kecil dari kami!"].

Traakk!

Perempatan muncul di dahi Naruto setelah mendengar ucapan Albion tanpa dosa sedikit pun, bahkan terkesan mengejek bila di cermati baik baik. "Ada apa katamu?, KALIAN BARU SAJA MENYIKSAKU DENGAN METODE LATIHAN KALIAN, KALIAN MASIH BILANG ADA APA!, kenapa Kami-sama memberikan patner seperti kalian sih".

Kedua naga surgawi itu tersenyum garing di dalam mindcape mendengar teriakan nista dari Naruto. ["Ahaha bukankah kau sendiri Yang menginginkan menjadi lebih kuat"] ucap Albion sedikit tertawa grogi.

"Tapi bukan berarti begini juga kan?"

["Ma ma lebih baik kau istirahatkan tubuhmu dulu, setelah itu mulai kembali latihan yang kau jalanani"] ucap Draig mengalihkan pembicaraan.

Tanpa di perintah dua kali, Naruto mencari tempat istirahat untuk sementara ia mengisi tenaganya kembali.

-Time Skip-

Sudah seharian penuh ia melakukan latihan, mulai dari push-up puluhan kali, keliling Training Ground, sampai menaiki bukit tanpa alat pengaman apapun dan dari itu semua ia harus rela tubuhnya lecet sana sini akibat terjatuh dari tebing, dimulai ketinggian 5 meter bahkan sampai 15 meter ia terjatuh. Naruto bisa saja menggunakan sayap iblisnya, tapi Albion dan Draig melarang menggunakannya dengan alasan agar terbiasa hidup di tengah hutan seperti ini.

Walaupun ia terluka berbagai variasi, dari luka lebam sampai melintang di sekujur tubuhnya, tapi bisa Naruto sembuhkan dalam beberapa menit dengan bantuan [Demonic Power] yang ia miliki, walau kapasitas hanya medium class devil tapi cukuplah untuk sekedar menyembuhkan luka.

Lingkarang sihir teleportasi tercipta di apartemen milik bocah bermarga Uzumaki atau sekarang menjadi Lucifer menandakan pulangnya Naruto setelah latihan pertamanya.

Bisa di lihat pakaian sudah sangat kotor sana sini bahkan sampai robek akibat mendaki bukit. Merebahkan tubuhnya, ia sedikit mengucapkan mantra sihir untuk memperbarui pakaian sudah tidak layak pakai.

"Haahh akhirnya bisa lepas dari neraka dunia itu" guman Naruto setelah memperbaiki pakaiannya.

["Jangan senang dulu Aibo!, masih ada hari esok untuk latihanmu khukhukhu"] Naruto sedikit merinding mendengar tawa jahat Draig seperti suara lonceng kematiannya.

["Yaa benar seperti yang di ucapkan Draig, aku sudah tidak sabar melihat raut wajah tersiksanya dirimu"] timpal Albion.

"Bren*sek, sebenarnya kalian patnerku bukan sih?" umpat Naruto sudah mulai kesal dengan sikap kedua patnernya seperti ibu hamil, apapun harus ia turuti walau sesulit apapun.

Sebenarnya ia masih sedikit dongol kepada Draig dan Albion karena latihan seperti neraka itu, bayangkan saja, setelah melakukan push-up 200X di tambah keliling Training Ground 10X ia tidak diberikan waktu istirahat yang cukup untuk sekedar menghilangkan penat, ia harus mengelilingi Training Ground sekali lagi sampai batas maksimal. Yang sabar Naruto.

["Bisa di bilang kita agen ganda"]

["Aku setuju dengan jawaban Albion"]

"Agen ganda dengkul mu!, bagiku kalian seperti musuhku!".

["Hahaha benarkah?"].

"Haahh berdebat dengan kalian aku tidak mungkin akan menang, kalian main kroyokan".

["Hohoho apakah ada penghargaan untuk kami setelah menang darimu?"] Naruto menutup link komunikasinya dengan Draig dan Albion, tanpa sadar ia tersenyum tipis, ada perasaan hangat pada hatinya setelah berdebat dengan patnernya. 'Apakah ini yang di namakan keluarga?, walaupun aku baru berpatner dengan kalian namun seperti sudah mengenal kalian sejak lama, akan ku jaga keluarga ini' batin Naruto, dengan itu belahan mata Naruto mulai menutup menandakan ia akan segera ke alam mimpinya.

.

Kesokan harinya...,

Di sebuah jalan pusat desa Konohagakure, terdapat anak berusia 9 tahun dengan rambut pirang kemerahan acak acakan menggunakan jaket hitam berkerah tanpa lengan di biarkan terbuka dan di padukan dengan kaos putih polos lengan panjang jangan lupakan celana 3/4 warna hitam membuatnya nampak keren.

Tatapan jijik, merendahkan, kagum Naruto dapatkan dari tatapan para warga yang melihatnya, jijik dan merendahkan di berikan oleh warga yang mengetahui asal usul Naruto sebagai aib keluarga Hokage, sedangkan sebagian anak perempuan sedikit blusing karena kagum akan penampilan Naruto yang terbilang handsome..., tampan..., penuh kharisma ia tunjukan pagi ini.

Dari raut wajah, Naruto sama sekali tidak memperdulikan pandangan warga padanya. Untuk apa mengurusi urusan tidak penting seperti meladeni mereka?, akan sangat sia sia jika ia melakukannya!, itulah yang ia pikirkan saat ini.

Ia hanya berjalan dengan sangat santai dengan memasukan kedua tangan pada saku saku celanannya, tujuannya saat ini adalah Academy Ninja, sebenarnya ia sangat malas dalam urusan urusan menurutnya sangat membosankan, seperti sekolah. Naruto lebih baik bertarung dengan buronan rank S dari pada duduk mendengarkan guru mengajar di sekolah, tapi apa mau dikata..., inilah kehidupan barunya sekarang.

Jam pelajaran seharusnya sudah di mulai sejak tadi, namun apa pedulinya?, ia bahkan tidak serius sama sekali masuk Academy!, ia tidak peduli dengan hukuman dari senseinya atau apapun itu berhubungan dengan sekolahnya, persetanan dengan semua itu!, lulus atau tidak!, sama sekali tidak berpengaruh apapun padanya.

Jika ia mau..., ia bisa saja menggunakan sihir teleportasi dari tadi tanpa harus bersusah payah berjalan kaki menuju Academy, tapi ia ingin melihat reaksi warga desa padanya secara langsung, bukan hanya itu saja, bisa jadi seluruh Academy bisa pingsan karena keterkejutan mereka, orang yang di anggap aib dapat melakukan teleportasi yang tidak seharusnya murid Academy bisa melakukannya, sungguh sangat lucu.

Haahh..., mengembuskan nafas dengan kasar, Naruto mengeluarkan kedua tangannya berjalan memasuki area Academy, nampak seluruh murid murid calon kunoichi dan shinobi Konoha sudah tak terlihat di halaman Academy menandakan sudah mulainya jam pelajaran.

Tap!

Tap!

Suara tapakan dari kedua kaki Naruto yang di lapisi sepatu sport putih menggema di koridor Academy yang sudah sangat sepi saat itu.

"Hooaammm...," Naruto menguap sebelum membuka pintu ruang kelasnya. Bagaimana bisa dia tahu dimana ruang kelasnya?..., tentu saja dari ingatan 'Naruto' sebelumnya, bahkan dari hal hal terkecilpun tak luput ia dapatkan dari memori 'Naruto'.

Kriket!

Semua murid menengok kearah sumber suara pintu yang di buka oleh Naruto sebelumnya. "Gomen sensei!..., saya sedikit terlambat!" seorang guru dengan luka melintang di bagian hidung menatap Naruto lalu mengangguk memberikan ijin untuk Naruto masuk. Iruka juga sedikit heran dengan penampilan baru Naruto bahkan mata blue saphrie menenangkan miliknya menjadi hitam pekat.

"Tidak seperti biasanya Naruto kau sedikit terlambat?...," seketika Naruto menatap sang guru karena pertanyaan tertuju padanya. "Tidak ada Iruka sensei..., aku hanya sedikit terlambat bangun pagi tadi".

"Jangan kau ulangi lain kali Naruto!" Naruto mengangguk menanggapi peringatan dari guru bernama Iruka itu.

Iruka, atau lebih tepatnya Iruka Umino adalah salah satu orang yang peduli dengan keadaan 'Naruto' tanpa memandang siapa itu 'Naruto', Iruka dan 'Naruto' memiliki masa lalu yang hampir sama, sama sama merasakan namanya kesepian. Orang tua Iruka adalah salah satu shinobi yang gugur saat insiden 9 tahun yang lalu, lebih tepatnya adalah insiden mengamuknya Kyuubi di desa Konoha. Masa kecil Iruka di penuhi akan rasa kesepian, kurangnya kasih sayang, tak jarang ia melakukan hal hal konyol hanya untuk menarik perhatian orang di sekitarnya, begitu pula dengan 'Naruto' bahkan bisa di bilang lebih parah dari apa yang Iruka derita saat kecil. Dan Iruka jugalah orang pertama yang memandang 'Naruto' sebagai warga Konoha bukan aib Konoha.

"Baiklah anak anak kita lanjutkan saja pelajaran tadi!"

Tanpa menghiraukan teriakan dari Iruka, Naruto menempati tempat duduk sebelah kiri barisan kedua dekat jendela langsung tersajikan pemandangan halaman Academy langsung lewat jendela di dekatnya.

Di depannya duduk seorang anak dengan gaya rambut pantat ayam menggunakan kaos berkerah dengan lambang kipas di belakang kaosnya sedang menatap halaman Academy telihat raut wajah bosan dari wajah anak bernama Uchiha Sasuke ini, entah apa yang dia pikirkan.

Naruto juga tidak duduk sendirian, ia di dampingi oleh anak menggunaka style rambut mirip buah nanas yang di ketahui bernama Nara Shikamaru sedang tertidur pulas tidak memperhatikan sensei mereka menjelaskan sana sini berhubungan dengan dunia ninja.

Disamping kanan bocah gempal A.K.A Akimichi Choji sedang menikmati makanan ringannya tanpa memperdulikan sekelilingnya sedang melakukan apa!, bahkan terkesan sangat santai dalam melakukan pelajaran. Sama halnya dengan Choji, di kursi barisan tiga lebih tepatnya duduk di belakang Naruto, Shikamaru, dan Choji terdapat anak dengan pakaian tertutup menggunakan kacamata hitam sedang bermain main dengan serangganya entah ia dapat dari mana?, Aburame Shino, nama anak tersebut, anak dari kepala Clan sekaligus pewaris Clan selanjutnya dari Clan Aburame.

Di samping Shino ada seorang anak dengan tato di pipinya sedang melakukan sesuatu dengan anjing peliharanya, Inuzuka Kiba, mereka berempatlah, Shikamaru, Choji, Kiba dan Shino teman yang sangat peduli dengan 'Naruto:, menerima apa adanya tidak memandang siapa itu 'Naruto',bahkan orang tua merekalah yang membiayai kehidupannya setelah 'Naruto' di usir dari keluarga Hokage beberapa bulan yang lalu, sikap ramah, dan murah senyumlah yang membuat mereka berperilaku baik dengan Naruto.

Bukan hanya mereka saja di kelas ini. Namikaze Menma, memasang wajah bosannya, Yamanaka Ino, menatap Sasuke dan Menma penuh nafsu seperti akan memakan mereka begitu pula dengan anak di sampinya atau Haruno Sakura, Hyuga Hinata, sedang fokus memandang menma bahkan tidak jarang pipinya bersemu merah entah apa yang dia pikirkan.

Pelajaran terus berlangsung sampai beberapa jam Iruka menjelaskan asal usul dunia ninja, teknik teknik dasar shinobi, dan lain sebagainya. Bagi Naruto, semua yang di ajarkan Iruka tentang teknik ninja dari Taijutsu sampai Fuinjutsu yang terbilang sangat rumit saat membuat shiki adalah hal mudah untuk dilakukanya. Taijutsu, ia tidak perlu berlatih kembali, Naruto memiliki reflek yang sangat bagus dalam melakukan pertarungan tangan kosong maupun menggunakan senjata sejenis pedang dan benda tajam lainnya.

Naruto mengerti tentang Fuinjutsu atau lebih jelasnya adalah teknik penyegel, Fuinjutsu sangat berguna jika mereka sudah sangat mahir dalam menggunakan Fuinjutsu, baik itu untuk Fuin penyimpanan, Gravity Seal, menyegel pergerakan lawan bahkan ada yang bisa menyegel makhluk hidup jika pengguna Fuinjutsu sudah mencapai level 8 dengan gelar master Fuinjutsu.

Fuinjutsu adalah ciri khas shinobi dari Clan Uzumaki tinggal di desa Uzushiogakure yang sekarang sudah sangat lanka shinobi memilki darah Uzumaki murni sejak penyerangan dari aliansi Kumo, Iwa dan Kiri karena takut akan kemampuan yang mereka miliki.

Bahkan Clan Uzumaki lah salah satu dari Clan besar pendiri desa Konohagakure sejak Senju ber aliansi dengan Clan Uzumaki dari dulu. Uzumaki juga terkenal dengan cakra yang sangat besar namun sangat sulit untuk di kontrol dengan sempurna sebab itulah banyak orang menyebut jika shinobi dari Clan Uzumaki sebagai Bijuu versi manusia.

Berbicara tentang Bijuu, Bijuu adalah sebutan untuk monster berekor tersebar di seluruh Element National. Sebenarnya Bijuu bukanlah makhluk hidup yang memiliki nyawa atau semacamnya dengan kata lain mereka adalah makhluk imortal, tidak bisa mati walau harus di bunuh sekalipun itu akan sangat percuma di lakukan.

Bijuu terbentuk dari sekumpulan cakra yang di pecah dari monster terkuat memiliki 10 ekor menjadi 9 bagiaan yang di sebut dengan Bijuu, kekuatan Bijuu bisa di bilang sangatlah besar, bahkan ada beberapa Bijuu memiliki kebencian karena ulah manusia sendiri yang memiliki ambisi menjadi terkuat di antara orang terkuat lainnya Sebab itulah sering terjadinya penyerangan yang di lakukan oleh Bijuu itu sendiri.

Kekuatan Bijuu bisa di ukur dengan seberapa banyak jumlah ekornya, di antara lain ada, Ichibi ekor satu, Nibi ekor dua, Sanbi ekor tiga, Yonbi ekor empat, Gobi ekor lima, Rokubi ekor enam, Sichibi atau Nanabi ekor tujuh, Hachibi ekor delapan dan terakhir Bijuu terkuat dari kedelapan Bijuu lannya adalah Kyuubi ekor sembilan.

Waktu istirahat pun tiba dengan keluarnya semua murid Academy untuk sekedar bermain selepas melakukan pelajaran yang cukup melelahkan. Terutama tokoh utama kita.

"Hoy Naruto..., " Naruto menengok kearah empat sahabatnya itu karena merasa namanya di panggil oleh seseorang. "Ada apa Kiba...,?" Tanya Naruto kemudian.

"Penampilanmu sedikit berubah" balas Kiba sekaligus bertanya soal penampilan Naruto yang tiba tiba berubah.
"Hooaam..., dari tadi aku juga ingin bertanya seperti itu tapi kau tahu sendiri kan jika saat Iruka sensei marah akan sangat merepotkan" Shikamaru terbangun dari tidurnya.

"Hm tidak tau..., bangun bangun rambut dan mataku sudah seperti ini" tentu saja Naruto berbohong, tidak mungkin kan jika dia bilang 'aku bukan Uzumaki Naruto', akan sangat merepotkan Nantinya.

"Benarkah?, aku tidak pernah melihat kejadian seperti ini sebelumnya!" Kiba memastikan kebenarannya, lagi pula benar yang di ucapkan Kiba, mana mungkin ada orang dalam sekejap bisa merubah fisik mereka.

"Bahkan.., krauk.., sifatnya.., krauk.., pun berubah" memang benar yang di ucapkan oleh Choji, sifat onar dan suka membuat masalah untuk mencari perhatian dari penduduk desa namun ia malah di anggap sebagai anak nakal tidak di ajarkan sopan santun oleh orang tuanya padahal mereka tahu sendiri jika orang tua Naruto tidak menganggapnya ada. Sekarang ia bukanlah Uzumaki Naruto tapi Naruto Lucifer sebagai orang yang akan bangkit bukan lagi aib Konoha atau semacamnya.

Naruto hanya mendengkus mendengar penuturan dari teman temannya yang menurutnya sangat detail dalam menilai perubahan ini.

Shino yang sedari tadi diam juga mengangguk dengan ucapan Choji barusan. "Pakaianpun luput dari perubahanmu Naruto?... pakaian orange menyakitkan mata sudah tidak melekat di tubuhmu dan apa apan pakaian anehmu itu Naruto!" Shino bertanya panjang lebar.

"Darimana kau mendapatkan pakaian itu Naruto?" lanjut Kiba bertanya. "Rahasia" balas Naruto singkat.

"Cihh... sejak kapan kau main rahasia rahasiaan Naruto?... lagipula aku tidak pernah melihat pakaian seperti itu di toko manapun!" Kiba tampak kesal dengan jawaban dari Naruto sebelumnya.

"Apakah kalian sudah selesai menilai penampilanku?... lebih baik kita keluar saja" Naruto mulai bangkit dari tempat duduknya dan di ikuti oleh keempat sahabatnya.

-Change Place-

Ia menapakan kakinya di atap Academy lalu di ikuti dengan Kiba, Shikamaru, Choji, dan Shino, mereka mulai membaringkan diri mulai melakukan hobi mereka. Memandang awan adalah salah satu kegiatan mereka ber lima sejak dulu saat pertama kali mereka berteman seperti ini.

Entah itu mengobrol atau berbagi cerita kehidupan mereka. Seperti selayaknya saudara, makan, bermain melakukan apapun itu bersama sama tidak peduli siapa itu Naruto.

"Hei Naruto..." ucap Kiba mengawali pembicaraan. "Kau belum menjawab... kenapa sikapmu aneh sekali hari ini...!" lanjutnya kemudian.

"Aneh bagaimana...?" Naruto menatap kiba di sampingnya. "Biasanya kau paling berisik di antara kita... bahkan kau tidak seperti biasanya datang terlambat masuk Academy dan tidak membuat keributan di kelas...!".

"Apa ada yang salah dengan itu...?" Naruto bertanya balik. "Tidak tidak, aku hanya heran saja!" Kiba menjawab apa adanya.

"Sebenarnya apa yang kau rencanakan Naruto...?" seketika Naruto menggalihkan pandangannya kepada Shikamaru yang memberikan pertanyaan untuknya. "Tidak ada Shikamaru...".

"Hanya saja aku sudah mulai lelah untuk berusaha menarik perhatian dari orang tuaku... aku sudah lepas tangan masalah ini... jika aku masih saja berharap seperti itu... aku tidak akan bergerak maju".

"Baguslah... aku kira kau akan terus berharap dan berharap, aku suka dengan perubahanmu ini!".

Naruto sedikit tersenyum mendengar balasan dari Shikamaru yang mendukung alasan buatannya. Jujur saja, ia sedikit bersyukur masih ada orang yang mau peduli dengannya walau hanya bisa di hitung dengan jari saja.

Nara Shikamaru, Inuzuka Kiba, Aburame Shino, Akimchi Choji, Iruka Umino, pedagang ramen Teuchi, Ayame dan beberapa kepala Clan desa Konoha, mereka adalah orang yang selalu ada untuk Naruto sejak empat tahun yang lalu. Cih ramalan mengubah dunia menjadi lebih baik...! itulah ramalan konyol seorang petapa dari gunung tempat tinggal para dewa.

Mungkin jika tidak ada mereka, bisa saja kebencian akan datang dengan sendirinya di hati kecil Naruto, bahkan bisa saja menjadi madara ke 2 karena kebenciannya tersebut. Terkadang ia bimbang tinggal di desa ini, apakah ia harus menghianati tempat kelahirannya?, tapi ingatan orang yang berharga baginya terus teriang di pikirannya itu.

"Lalu!... apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"

Shino bertanya dengan nada seperti biasanya, walau sedari tadi Shino terkesan tidak peduli tapi ia juga menyimak pembicaraan teman teman nya. Dari seluruh teman seangkatannya... Shino adalah salah satu anak cukup pendiam selain Uchiha Sasuke dengan image Uchihanya yang sok cool menggunakan kata andalannya 'hn' atau 'hm' setiap ia bicara pada lawan bicaranya.

"Entahlah...!"

Seluruh teman Naruto menaikan alisnya bingung dengan tanggapan Naruto tergolong sangat singkat. Temanya tahu dengan jawab 'entahlah...' meluncur dari mulut Naruto... namun yang mereka bingungkan adalah apa yang akan Naruto lakukan selanjutnya?. Mereka sangat mengerti dengan keadaan yang di alami bocah kuning ini... apa Naruto bisa menjadi seorang shinobi dengan keadaan yang sekarang ini...?

Energi spiritual yang di sebut cakra lah yang sedang di permasalahkan oleh teman teman Naruto... mereka tahu impian bodoh teman yang satu ini... menjadi Hokage untuk di akui oleh seluruh penduduk termasuk orang tuanya... bagaimana temannya bisa mewujudkanya?.

Harus mereka akui jika kecerdasan Naruto memang jauh di atas rata rata bahkan melebihi otak dari Clan Nara. Jika Naruto menunjukan kecerdasanya di Academy dengan membuang sifat konyolnya sejak dulu... ia bisa di kandidatkan sebagai murid Academy tercedas melebihi Nara Shikamaru dan Uchiha Sasuke.

Bahkan Nara Shikaku mengakui itu, ia pernah beberapa kali di kalahkan oleh bocah dulu bermarga Namikaze ini dengan permainan papan shogi saat itu. Shikamaru juga menganggapnya sebagai rival dalam bidang strategi karena sekor bermain shogi antara Naruto dan Shikamaru masih lebih tinggi Naruto.

Namun kecerdasan saja tidak cukup untuk meraih impiannya... butuh lebih dari itu untuk menggapainya, mungkin jika titik cakra Naruto normal, ia bisa dengan mudah menjadi shinobi hebat dengan kecerdasan yang ia punya.

Tapi tidak masalah dengan sedikitnya cakra... ia sudah mendapatkan kekuatan lebih dari cukup untuk membungkam mulut mereka suatu saat nanti. Yaa itu bersifat absolute, itu harus terjadi.

Sekarang memang ia masih lemah, namun dalam beberapa tahun dalam memoles kekuatannya... ia akan dengan sangat mudah meraih impian sebelumnya bahkan melebihi itu semua.

Namun... Naruto sudah membuang impian bodoh itu dan melakukan kegiatan lebih berguna lagi dari pada ia terus berteriak 'AKU AKAN MENJADI HOKAGE DI MASA DEPAN' setiap harinya tapi tidak melakukan apapun selain membual, membual dan membual. Itu pasti.

"Kau tau kan kau memiliki sedikit cakra...? apa kau akan berlatih untuk menjadi shinobi untuk kedepannya?"

ucap Shikamaru sedikit serius. Kapasitas cakra Naruto memang tidak seberapa, mungkin ia hanya bisa melakukan satu kali jutsu rank B lalu habis tidak tersisa lagi untuk melakukan pertarungan selanjutnya.

"Heh... apa kau pikir bertarung hanya menggunakan cakra saja...?, bahkan salah satu Jounin elite Konoha hanya menggunakan Taijutsu dalam bertarung di luar sana...!, kapasitas cakra kecil tidak akan menghambatku untuk menjadi shinobi yang hebat"

'Apalagi aku memiliki Draig dan Albion'

Maito Guy, Jounin elite Konoha... bertarung hanya mengandalkan tangan kosong tanpa menggunakan jutsu apapun dalam pertarungan. Sama seperti kasus yang di alami Naruto... cakra yang sangat sedikit membuatnya sangat kesulitan menggunakan Ninjutsu berelemen walau hanya untuk rank C yang notabenya menggunakan cakra terbilang cukup sedikit.

"Sekarang... apa yang akan kau rencanakan untuk kedepannya...?"

Seketika Naruto menatap Kiba sedang mengharapkan jawaban yang pasti dari mulut sahabatnya ini... Kiba tau jika Naruto sangat sulit untuk berbohong... apalagi pada teman terdekatnya... pasti jawaban yang keluar dari mulutnya akan berefek pada masa depannya.

Setiap langkah yang akan di lakukanya sudah terpikirkan baik baik... Seakan bahwa dia sudah melihat masa yang akan datang... bahkan teman temannya ragu jika Naruto itu manusia.

Kecerdasan ulimited yang Naruto punya sudah cukup untuk mengelabuhi para Anbu saat ia melakukan kejahilan kejahilan di dalam desa... ia punya 1001 cara dalam mengatasi masalah apapun... tapi sangat di sayangkan, orang tuanya tidak menyadari itu, mereka hanya memikirkan kekuatan, kekuatan dan kekuatan tidak ada yang lain dalam benak mereka.

"Untuk sekarang belum terpikirkan...?!"

Naruto membalas dengan apa yang ada di otaknya... Untuk apa ia memikirkan serius serius...?, ia hanya menjalankan kehidupannya sebagai Uzumaki Naruto tidak lebih tidak kurang.

-Time Skip-

Jam pulang Academypun datang... para murid murid sudah membubarkan diri beberapa menit yang lalu entah langsung pulang ke rumah mereka masing ataupun bermain selayaknya anak anak pada umumnya begitupula dengan Naruto yang berjalan dengan para sahabatnya itu.

"Hey apakah kalian mau berkunjung kerumahku hari ini...?, ibuku akan memasak banyak untuk merayakan ulang tahunya hari ini... ibu menyuruhku untuk mengundang kalian" Ucap Choji memecah suasana yang canggung siang itu.

"Benarkah...?, sudah lama tidak mengadakan makan makan seperti ini...!" balas Kiba kemudian. "Hooaamm... ibu Choji hampir setiap tahun melakukan acara seperti ini, kami dari keluarga Yamanaka dan Nara selalu merayakan bersama karena kedekatan antar ketua Clan dan itu sangat merepotkan...!"

Shikamaru membalas dengan nada malas menanggapi ucapan dari Kiba sebelumnya. Memang yang apa di ucapkan Shikamaru sangatlah benar... kedekatan antara kepala Clan Yamanaka, Nara dan Akimichi layaknya saudara karena terbentuknya tim InoShikaCho membuat mereka seperti itu.

"Aku rasa tidak buruk untuk makan di rumah Choji sebentar...!" Shino memberi usulan tersebut.

"Bagaimana menurutmu Naruto?" lanjut Shino bertanya.

"Gomen... hari ini aku ada sedikit urusan yang tidak bisa di abaikan begitu saja... jadi sekali lagi aku minta maaf tidak datang kerumahmu Choji... aku titip salam untuk ibumu...!" balas Naruto.

"Memang... urusan apa sampai sebegitu pentingnya...?" Shikamaru mengeritkan alisnya bingung dengan alasan dari Naruto sebelumnya.

"Ahh maaf sebaiknya kalian tidak perlu tau"

"Apa kau tidak percaya dengan kami?" ucap Kiba kemudian. "Bukan begitu tapi... ah sudahlah aku harus pergi Ja ne...!" setelah mengucapkan beberapa kata, Naruto mulai berlari meninggakan teman temannya yang masih terbengong dengan kepergian Naruto.

'Aneh'

Mungkin itulah yang ada di benak mereka ber empat.

-Change Place-

Membuka pintu apartemennya... Naruto mulai menaiki ranjang yang sudah ia renovasi sejauh ini... bukan hanya ranjang saja yang Naruto perbaiki... hampir seluruh isinya sudah ia ganti sedemikian rupa menggunakan ilmu sihirnya... ranjang yang dulunya hanya kayu dengan kasur reot... sekarang sudah Naruto sulap menjadi lebih mewah dan ilegan dengan gaya eropa jepang tahun 2000-an, kamar mandi sempit sudah menjadi kamar mandi hotel bintang 4... dan perabotan perabotan lainnya.

Naruto juga memasang Kekai dua lapis berguna agar ia mengetahui siapa saja yang memasuki kawasan apartemennya untuk lapisan pertama... lapisan kedua digunakan untuk mengelabuhi orang saat berkunjung, misalnya jika teman teman Naruto memasuki apartemennya... maka secara otomatis ruangan yang sudah di renovasi Naruto akan tampak seperti sebelum Naruto memperbaikinya... tapi tidak dengan Naruto yang notabenya pemasang kekai itu sendiri.

Jadi dia tidak usah repot repot menjelaskan semuanya tentang perubahan apartemenya. Lagipula setiap jurus memiliki kelemahan... begitupula dengan Kekai yang satu ini... Naruto harus selalu mensuplay energi sihir setiap 3 hari sekali untuk mempertahankan kedua Kekai ini. Naruto juga membutuhkan lumayan banyak energi sihir dalam penyalurannya, namun Naruto sudah mengatasi itu semua dengan menggabungkan sihir dan energi iblis agar lebih dari cukup untuk mengisinya.

Kekai ini juga termasuk Kekai rank tinggi karena dapat menyembunyika sebuah pulau kecil namun membutuhkan banyak orang untuk mempertahankan Kekainya. Cukup berguna bukan...? untuk bersembunyi dari kejaran musuh atau sekedar menyembunyikan markas entah itu organisasi atau semacamnya tapi... kemampuan ini tidak akan mempan bagi pengguna Senjutsu tingkat tinggi karena sensor yang di miliki mereka.

Merebahkan tubuh kecilnya untuk menyamankannya setelah melakukan hal menurutnya sangat mendokuasai itu. "Hahh akhirnya terbebas dari penyakit membosankan ini".

["Hari yang cukup menyenangkan bukan?"].

Suara berat memasuki gendang telinga Naruto mendapatkan sapaan dari patnernya bernama Draig itu. "Kheh jika di izinkan... sudah aku hanguskan sekolah itu biar tidak ada lagi kegiatan membosankan ini tidak terjadi lagi" Naruto mengeluh sebal.

["Hohoho pahlawan Great war II takut dengan sekolah, sungguh lucu...!"]

Albion juga sama halnya dengan Draig membuat Naruto kehilangan moodnya untuk hari ini. "Bisakah kalian berdua tidak mengganguku yang sedang bad mood ini...?" Naruto memelas kepada Draig dan Albion.

["Tidak...! lagi pula kau adalah hiburan baru untuk kami... mana mungkin melepaskannya begitu saja!"].

Ok!... sekarang ia sudah mulai kesal dengan tingkah laku patnernya, jika saja, jika saja patnernya bisa keluar dari tubuhnya... ia berjanji akan membungkam mulut mereka dengan kolor dan semvak berjamur miliknya untuk melampiaskan kekesalannya.

"Haah sudahlah aku tidak mau berdebat dengan kalian lagi... aku benar benar tidak ingin kembali ke tempat terkutuk itu lagi"

["Aree... 'Naruto' juga melakukan sekolah setiap harinya dan secara otomatis juga kau harus melakukannya"

"Tapi ini sungguh membosankan kau tahu Draig"

["Sudahlah lagi pula apa salahnya kau sekolah?!... sekali sekali kau harus lebih santai lagi... di kehidupan sebelumnya kau bahkan tidak ada waktu untuk bersantai santai seperti ini"].

"Mungkin kau ada benarnya Draig...!"

["Tentu Aibo"]

["Tapi jujur... kau sangat pandai dalam melakukan tugasmu sebagai 'Naruto' sampai sampai mereka tidak curiga sedikitpun padamu kecuali tentang penampilanmu"] ucap Albion.

"Khehh... tentu saja..."

Pembicaraan pembicaraan terus berlanjut antara Draig, Albion dan Naruto entah itu pengalaman pengalaman bertarung sampai hal hal absurd lainnya pun tidak luput dari pembicaraan ini.

.

.

.

-TBC-

Fyyuuuh *ngelap kringat* akhirnya selesai juga untuk chap 3... jujur saja, ini adalah chap terpanjang yang pernah aku buat untuk fic ini... chap tiga adalah awal dari kehidupan Naruto di dunia shinobi ini... banyak adegan yang sangat bertele tele saya tulis karena saya bingung mau nulis apa lagi thehehe otak saya memang sebegitu kapasitasnya...

mungkin saat masa masa latihan Naruto akan saya skip beberapa tahu kedepan biar cepat masuk adegan action nya... saya akan memfokuskan adegan action sama halnya dengan genre utama fic ini yaitu adventure... masalah untuk romance akan saya tulis jika waktunya tepat untuk adega romance.

Ada yang bertanya seberapa besar kekuatan Draig dan Albion jika di ukur dengan Bijuu... aku rasa kedua naga surgawi ini akan saya batasin sampai Kukou ekor tujuh biar gak terlalu overpower nantinya.

Jika reader-san sudah baca fic milik Si Hitam-senpai pasti sudah dong baca adegan di mana Gaara vs Isse mode Belance Breaker saat di romania... saya ambil dari situ saat mengukur kekuatan Draig. Isse berhasil di kalahkan oleh Gaara hanya dengan sebagian cakra Shukaku saja... Mungkin Draig dan Albion setara dengan Kukou tidak lah buruk karena sama sama melengkapi... hm kurasa hanya ini untuk chap 3 ini... gomen jika ada kesalahan dalam menulis bagaimanapun juga saya manusia tempatnya buat kesalahan...

See you next...