"Maka, lihat aku sebentar." "Ada apa, Kid-kun?"

.

.

.

.

Soul duduk di bangkunya seperti biasa. Menghela napas panjang karena ia tak menemukan meisternya meski jam kelas sudah mulai. Ia yakin kalau Maka sedang bersama Kid melakukan sesuatu. Sebab ia tau Maka tidak pernah terlambat masuk kelas, apalagi setelah bel berbunyi.

Ia memperhatikan murid lain yang berhamburan masuk dan mengambil tempat duduk mereka. Liz dan Patty masuk kemudian duduk di tempat mereka di belakang Soul. Kemudian ia melihat Tsubaki masuk kelas bersamaan dengan Sid-sensei, membawa beberapa arsip dan buku, lalu meletakkannya di meja guru. Tipikal Tsubaki. Soul membatin. Ia menguap ketika Tsubaki berjalan ke arahnya.

"Selamat pagi, Soul-kun. Boleh aku duduk di sampingmu?" Gadis berambut pekat itu menyapanya sopan. Soul membalas sambil tersenyum setengah mengantuk, mengiyakan permintaannya. Tsubaki terkikik pelan. "Kau pasti begadang semalaman ya, Soul-kun." Soul membiarkan Tsubaki duduk di sampingnya, tempat duduk Maka.

"Yah. Aku terlalu asyik bersantai, lalu tanpa sadar tugasku menumpuk dan aku sangat beruntung juga karena Maka juga mengomeliku tanpa henti." Soul menguap lagi.

Tsubaki tertawa pelan. "Kau dan Black Star tidak jauh berbeda, haha jangan tersinggung. Kalian sahabat baik. Black Star membolos lagi hari ini. Dia belum menyelesaikan PR nya dan bilang akan berlatih di hutan saja hari ini" Gadis itu menghela napas pelan. Soul menyeringai geli mendengarnya. "Black Star tidak berubah. Kurasa dia memang pantas seperti itu saja hahah. Tapi pastinya itu berat untukmu ya, Tsubaki." Tsubaki tertawa kikuk. "Oh ya Soul-kun, dimana Maka-chan?"

Belum sempat Soul menjawab, Sid sensei yang berada di depan berkata dengan suara lantang. "Sebelumnya aku ingin memberi tahu. Kali ini, Maka Albarn sudah mendapat ijin tidak menghadiri kelas karena mendapat permintaan dari Shinigami-sama. Baik, sekarang aku akan mengabsen kalian, tidak ada ampun bagi murid yang terlambat!"

Soul mendesah pelan. Hari ini bakal membosankan, apalagi dengan tidak adanya Maka dan Black Star. Sepanjang materi kelas, Ia berusaha untuk tidak tertidur.

.

.

.

"Duduklah, Maka"

Maka terdiam. Lalu ia angkat bicara. "Kenapa kita ada di taman, Kid? Kau bilang akan mengajakku ke kantormu."

"Aku memang berniat begitu. Tapi aku ingat kalau ruanganku sudah simetris sempurna, Jadi aku tak ingin kedatangan kita merusak semuanya, maaf Maka. " Kid menjawab santai sambil duduk di bangku taman dekat lapangan Shibusen.

Maka menghela napas. "Dasar.. Apa boleh buat." Ia duduk di samping shinigami muda itu. "Syukurlah udaranya tidak terlalu dingin. Aku harap musim dingin nanti cuacanya tidak merepotkan." Maka bergumam pada dirinya sendiri. Kid memperhatikannya.

"Maka, langsung saja ya. Begini, aku tau kau sudah banyak berkembang dan dipromosikan menjadi meister bintang dua. Meski begitu, kau masih belum dapat ijin untuk mengajar. Apalagi, ayahmu pasti melarangnya. ..." Maka mendengarkan Kid berbicara sambil menggosokkan kedua tangannya, menunggunya menyelesaikan kalimat. Berusaha fokus dari udara yang mulai dingin meski hari sudah hampir siang.

"... Tapi sebagai shinigami dan sebagai sahabat baikmu, aku ingin memintamu secara khusus tanpa formalitas untuk mengajar seseorang."

"Apa?" Maka terkejut. "Kid, aku masih belum cukup umur untuk mengajar. Aku masih 18 tahun! Aku belum memenuhi syarat sebagai pengajar."

"Karena itulah aku bilang aku memintamu sebagai seorang teman, tidak perlu formalitas dan syarat, hanya sekedar belajar bersama setelah pulang sekolah. Lagipula, yang akan jadi muridmu adalah seorang teman sekelasmu yang penurut -tapi bodoh." Kid bergumam pada kata terakhir.

"Kau bilang apa?"

"Ehm, tak apa. Pokoknya, aku ingin kau berteman akrab dengannya, dan mengajarinya apa yang kau tau saja. Dua jam sehari. Aku yakin itu takkan menambah kesibukanmu, kalau diingat juga kau sangat suka belajar, benar? Aku akan menghadiahimu ijin akses ke perpustakaan bintang tiga, supaya kau tidak lagi menggunakan kartu Papa mu."

"Hmmmmm... Siapa anak ini?" Maka bertanya ragu. Tawaran hadiah kartu akses itu sedikit menggiurkan.

Kid menghela napas panjang. "Hiro."

"Apa?! Si bodoh itu.." Maka menepuk dahinya dan bersandar pasrah di bangku. Kid terdiam kikuk, lalu menjawab dengan nada sarkasme. "Yah paling tidak, kau dapat menghukumnya dengan Maka-chop mu kalau dia mulai keterlaluan."

"Sigh. Akan kupikirkan hal ini nanti setelah aku tahu apa problema si bodoh ini. Setelah itu, baru kuputuskan untuk membantu atau tidak." Maka menjawab sambil memperhatikan Shibusen yang sepi pada jam belajar. Kid memperhatikan gerak-gerik gadis itu. Mengamati tiap inci wajahnya.

"Maka, lihat aku sebentar." Maka menoleh, bingung dengan wajah sahabatnya yang mulai serius, meski ia sudah sering berwajah seperti itu. "Ada apa, Kid-kun?"

Yang ditanya hanya mendekatkan mukanya hingga hidung mereka hampir menempel. Maka mulai waspada dengan menggenggam erat buku yang sedari tadi dibawanya. "Maka.. aku baru tau kalau kau memakai perona bibir. Ada lipstik tipis yang keluar dari bibir." ujar Kid sambil mengelus sudut bawah bibir Maka. Membuat Maka tercengang dan melonggarkan genggaman erat pada bukunya.

"Dasar Kid-kun! Kau tak pernah berubah!" Maka membalas dengan meneriaki muka Kid. "Untung saja aku tak jadi memberimu Maka-chop ku." Ia mencubit pipi kanan Kid dengan gemas. Membuat Kid bingung dan panik. "Hei apa salahku? Aku kan hanya mengamati hal agar tau dia simetris atau tidak! Lagipula kau harus mencubitku di pipi satunya juga!" Maka tertawa. Ia tak kunjung mencubit pipi kiri Kid, membuat Kid nyaris menangis. Maka tergelak melihat tingkah sahabatnya itu. Hatinya menghangat di musim gugur yang dingin ini.

"Hei Maka, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke kota sebentar dan membeli kopi? Kau benar soal udara, disini makin dingin." Kid menawarkan tangannya pada Maka setelah ia berdiri melepaskan cubitan. Maka tersenyum melihat tingkah Kid, lalu menerima tangannya. "Kita naik Beelzebub saja yuk, Kid" Maka menggandengnya dengan suara ceria. Kid tersenyum. "Ide bagus. Pasti akan lebih berat, tapi menyenangkan juga nih." Maka mencubit pipi Kid. "Hei aku tidak berat!"

"Baik, baik. Maafkan aku." Lepas dari cubitan Maka, Kid mengeluarkan skateboard hitam andalannya dari jari. Maka mulai antusias saat Kid menaikinya, dan mengaktifkan sistem roket -tenaga pendorong -atau apalah itu. Maka berdiri di belakang Kid, memeluk tubuhnya dari belakang dan berpegangan erat agar tak jatuh. Lalu mereka berdua terbang menuju kafe di sudut jalan.