Atmosfer dalam minimarket itu seketika memberat. Baekhyun masih bergeming pada tempatnya, begitu pula dengan Sehun. Netra keduanya beradu satu sama lain, namun tetap waspada pada setiap pergerakan mencurigakan yang dibuat lawan. Sementara di seberang sana, Chanyeol yang masih terhubung dengan nomor Baekhyun, mengerutkan dahinya bingung karena kekasihnya yang tiba-tiba terdiam.
"Baek? Halo? Kau masih disana?" Suara berat Chanyeol menggema di antara keheningan itu. Dan Sehun mendengarnya.
"Ya." Baekhyun menjeda ucapannya. "Akan kuhubungi lagi nanti." Lalu menutup sambungan telepon itu.
"Jadi, namamu 'Baek', huh?" Sehun menyeringai. Diperhatikannya Baekhyun dari atas sampai bawah, lalu mendengus pelan saat tatapannya berpusat pada kaki kanan pria mungil di hadapannya. Dalam hati, Sehun bertaruh kaki kanan Baekhyun sedang tidak baik-baik saja. Hell, ia tentu masih ingat betul kejadian kemarin. Sedikitnya ia merasa takjub melihat bagaimana pria mungil itu masih bisa berdiri setelah loncat dari lantai tiga.
Sehun kemudian melirik sekelilingnya. Minimarket itu tampak sepi, hanya ada dirinya, Baekhyun, dan seorang penjaga kasir yang tampak asyik dengan ponselnya. Tak aneh—sebenarnya, mengingat waktu telah lewat tengah malam. Dan menyadari tak ada satupun kendaraan yang diparkir di sekitar minimarket, Sehun yakin Baekhyun datang sendiri kemari.
Namun daripada memanfaatkan keadaan untuk menyerang si mungil, pria albino itu justru merasa malas. Apalagi tatapan tajam lawannya itu hanya membuatnya merasa geli. Entah bagaimana, di matanya, ekspresi Baekhyun saat ini justru terlihat lucu. Padahal ia masih ingat beberapa menit yang lalu, pria mungil itu sedang membicarakannya dengan seseorang. Tapi alih-alih, Sehun justru berjalan melewatinya dengan raut tak minat.
Meski begitu, ini tak membuat Baekhyun lengah. Ia malah semakin curiga. Walaubagaimanapun, pria bersurai ebony di hadapannya adalah Oh Sehun—si pembunuh bayaran ternama yang menjadi buronan interpol. Ia tak boleh membiarkannya kabur begitu saja, tidak setelah kejadian kemarin. Jadi dengan perlahan, Baekhyun sisipkan jemari lentiknya ke balik jaket kulitnya, hendak mengambil pistol Glock-17 miliknya.
"Sebaiknya kau simpan pistolmu, Baek. Karena jika kau nekat, aku akan mematahkan kaki kananmu." Namun suara Sehun lebih cepat menghentikan niatan itu. Di balik tubuhnya yang memunggungi Baekhyun, ekor matanya terarah tepat ke manik si mungil. "Aku akan membiarkanmu untuk sekarang, jadi jangan mengambil tindakan bodoh." Kemudian berjalan mengitari rak makanan, berjalan menuju rak kopi.
Baekhyun tak membantahnya.
.
.
.
###
Azova10 and Sayaka Dini
presents
RAVEN
Chapter 2 – Strange Data
Main Casts: Oh Sehun, Byun Baekhyun, Park Chanyeol
Support Casts : Choi Seunghyun, Do Kyungsoo, Kim Jongdae, Kim Minseok
Genre : Romance, Crime/Action
Rate : M
Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy
FF INI TIDAK BERMAKSUD MENYINGGUNG UNSUR SARA ATAU SIAPAPUN
###
.
.
.
Sehun tampak menghubungi seseorang di antara kegiatannya mengayuh sepeda. Ia baru saja keluar dari minimarket, kini ia dalam perjalanan menuju apartemen Kyungsoo. Beruntung jalanan sedang lengang, jadi itu memudahkannya untuk mengebut tanpa harus khawatir akan kendaraan besar yang menghalangi jalannya.
"Kau sudah selesai belanja?" Suara Kyungsoo menjawab panggilan Sehun di detik kelima.
"Carikan aku informasi."
Kyungsoo mengerutkan dahinya mendengar perintah Sehun. Tapi ia tahu ini bukan saatnya untuk bertanya lebih lanjut. Ia mengerti saat sepupunya memintanya mencarikan informasi, maka ia harus melaksanakannya detik itu juga. Maka, iapun segera duduk di kursi depan layar komputer yang masih menyala, lalu menekan layar ponselnya menjadi mode speaker.
"Informasi apa?"
"Anggota interpol yang menangani kasus Raven. Aku ingin kau cari tahu sebanyak mungkin informasi tentang mereka, juga sejauh apa mereka menangani kasus tersebut." tandas Sehun.
"Sedang kucari." Kyungsoo mempercepat gerakan jemarinya di atas keyboard, tanpa mengalihkan mata besarnya dari layar komputer yang sedang sibuk mencari informasi bersangkutan. "Boleh aku tanya kenapa kau tiba-tiba tertarik pada interpol? Yang terakhir kali kuingat, saat kau masuk ke dalam daftar buronan mereka, kau malah terlihat tidak peduli." tanyanya selagi meretas.
"Penasaran saja." Sehun menjawab sekenanya. Ingatannya tiba-tiba memutar balik pertemuannya dengan Baekhyun di minimarket tadi, juga percakapan si mungil dengan seseorang mengenai dirinya yang dicurigai sebagai Raven. "Kau sudah mendapatkan informasinya?"
"Sudah, tapi.." Kyungsoo mengerutkan dahinya. Wajahnya kemudian mendekat ke layar komputer yang baru saja memberinya data interpol yang baru ia retas, membacanya dengan saksama. "Aku menemukan data aneh disini."
Sehun ikut mengerutkan dahinya. "Data apa?" tanyanya penasaran.
"Entahlah, aku tak begitu yakin, tapi aku akan cari tahu."
"Baiklah. Sebentar lagi aku sampai." Sehun memutuskan sambungan telepon, lalu mengayuh sepedanya lebih cepat.
.
.
Sepulangnya dari minimarket, Baekhyun meletakkan plastik belanjaannya di meja Jongdae. Pria mungil itu tak mengatakan apapun, bahkan saat Jongdae mengucapkan terima kasih padanya. Tatapannya terlihat kosong, tampak jelas bahwa ia sedang melamun. Jongdae tak bertanya apa-apa, ia pikir mungkin saja hoobae-nya itu hanya sedang mengantuk. Namun tidak dengan Chanyeol. Pria tinggi itu tahu ada sesuatu yang menganggu pikiran kekasih mungilnya.
"Baek?" Chanyeol menepuk bahu Baekhyun, membuat si mungil tersentak. "Kau baik-baik saja?"
"Hah?"
"Kau melamun sedari tadi, ada apa?"
Baekhyun tak langsung menjawab. Ia tahu dari intonasi juga cara Chanyeol menatapnya, pria tinggi itu sedang mengkhawatirkannya. Baekhyun tak mau membuatnya lebih khawatir karena pertemuannya dengan Sehun tadi di minimarket.
"Tidak ada apa-apa." Baekhyun memutuskan untuk berbohong. Senyuman simpul tersemat di bibir tipisnya. "Aku hanya agak mengantuk, Yeol."
"Benarkah?" Chanyeol agak tak yakin. Meski Baekhyun mengangguk mantap menjawab pertanyaannya, ia tetap saja menunjukkan raut khawatirnya. "Mau kuantar pulang?"
"Eyy~ dia hanya mengantuk, bukan anemia, Park Chanyeol!" Minseok yang sedari tadi melihat tingkah pasangan kekasih itu, pun tak tahan untuk menginterupsi. Pria pecinta bakpao itu mencak-mencak melewati mereka tanpa memedulikan tatapan kesal yang lebih tinggi. "Sial, ini bahkan bukan malam Minggu, kenapa kalian bermesraan di depan kami sih?" dengusnya.
"Ada yang salah kalau aku mengkhawatirkan kekasihku? Ini sebabnya kau belum punya kekasih, Hyung!" balas Chanyeol, yang—sialnya—Minseok tanggapi seperti angin lalu.
"Aku baik-baik saja—sungguh." ucap Baekhyun. Ia tersenyum sekali lagi untuk meyakinkan pria tinggi di hadapannya. "Lagipula, kita punya tugas malam ini'kan?"
Chanyeol mendesah pelan. Well, sepertinya ia tak punya pilihan lain. "Baiklah. Tapi jangan sampai memaksakan diri, oke?"
Baekhyun tersenyum lebar, lalu membuat postur memberi hormat. "Aye, aye, captain!"
"Aigoo~" Chanyeol mengacak surai Baekhyun dengan gemas. "Kalau bukan di tempat kerja, sudah kucium habis-habisan kau."
"A–apa kau bilang?"
"Tidak ada. Ayo!" seru Chanyeol seraya menggenggam tangan Baekhyun untuk bergabung bersama Minseok dan Jongdae. Tak dipedulikannya pipi si mungil yang merona karena godaannya barusan.
.
.
Kim Minseok baru saja kembali ke meja kerjanya dengan segelas kopi. Pria berkacamata itu duduk di depan layar komputer yang telah menyala sejak tadi. Ada notifikasi merah yang berkedip-kedip di sudut kanan bawah pada layarnya. Mata Minseok memicing curiga dengan keaktifan alarm aplikasi keamanan yang ia pasang di komputernya. Dengan cepat, ia mengeceknya. Kedua matanya melebar detik berikutnya.
"Yak! Yak! YAK!" Dia berteriak heboh. Tak peduli siapa, dia hanya ingin seluruh perhatian semua anggota interpol yang berada di ruangan penyelidikan itu terpusat padanya. "Gawat! Seseorang sedang mencoba meretas dan menyalin data kita!" Sambil menginformasikan apa yang terjadi, tangan Minseok bergerak cepat mengendalikan mouse dan keyboard komputer. Bertarung dengan seseorang entah siapa yang sudah berani bermain-main dengan jaringan komputer milik interpol. "BAEKHYUN! BANTU AKU CEPAT!" jeritnya panik.
Di antara mereka berlima yang bertugas untuk menyelidiki kasus Raven, Minseok dan Baekhyun lah yang paling handal dalam urusan teknologi informatika. Baekhyun berlari menuju komputernya di meja yang berbeda dari Minseok. Ia segera membantu sunbae-nya itu untuk menghalangi jalan si cracker yang ingin mencuri data mereka.
"Baekhyun, tambahkan perlindungan pada data kita yang masih tersisa. Biarkan aku yang menangani bocah bangsat ini." Minseok menyeringai. Ia tidak tahu berapa umur si cracker, tapi ia akan menganggapnya sebagai bocah tak tahu diri yang sudah berani bermain-main dengan jaringan interpol.
"Sedang kulakukan." Tangan Baekhyun bergerak cepat. Meski tatapannya fokus pada layar komputer, ia bisa melihat dari ekor matanya Chanyeol sedang berjalan ke arahnya, alih-alih bergabung dengan Jongdae dan Seunghyun yang menghampiri meja Minseok. "Bisa ambilkan aku air putih?" pinta Baekhyun sebelum Chanyeol sampai ke mejanya. "Aku tiba-tiba haus."
Chanyeol tersenyum geli. "Baiklah." Iapun berbelok menuju counter minuman.
.
.
Sementara di tempat lain, Kyungsoo yang duduk di depan tiga layar komputer yang berjejer melengkung seperti bulan sabit di mejanya, sedang menyedot segelas kopi dengan santai.
"Cih, curang. Menghadapiku dengan dua orang." Jari-jari mungilnya bergerak dengan cepat di atas keyboard. "Wajar sih, mereka akan kalah jika menghadapiku satu-satu." Senyuman Kyungsoo berubah menjadi senyuman mengerikan.
.
.
"Aku sudah selesai menambahkan pertahanan data kita," ucap Baekhyun dengan menaikkan sedikit suaranya agar Minseok yang berada di meja lain mendengarnya. "Kau alihkan saja dia, Hyung. Aku akan mencoba melacak IP-nya."
"Call!" seru Minseok balik dengan tatapan membara pada layar komputer.
.
.
Senyuman—setan—Kyungsoo tak juga menghilang dengan aura membara, seolah ia akan masuk dalam layar komputer di hadapannya. Ia suka hal seperti ini, bertarung dengan sesama peretas membuatnya bisa membuktikan seberapa pintar dirinya.
SYUT!
Tapi tiba-tiba saja layar komputer menggelap. Mata Kyungsoo melebar. Semua perangkat komputernya mati. Ia menoleh dengan raut garang pada satu-satunya orang yang sudah pasti adalah sumber dari matinya komputer-komputernya itu.
"SEHUN!" jeritnya. "Kenapa kau memutuskan kabelnya?!"
Sang pelaku, pria putih berkulit pucat itu berjalan menuju lemari es di sisi ruangan lain dengan sekantung plastik belanjaan. "Jangan membuatku repot untuk kembali mencari tempat persembunyian baru untukmu," tandasnya. "Kau tidak ingat, terakhir kali saat kau terlalu bersemangat melakukan hal itu, mereka berhasil melacak keberadaanmu?" tuding Sehun. "Sudah kubilang'kan, jika mereka sudah menyadari aksi retasmu, segeralah menghilang. Apalagi yang kau hadapi saat ini adalah jaringan interpol."
"Jangan mencoba mengguruiku. Aku masih lebih tua darimu satu tahun, Bocah," ketus Kyungsoo tak terima. Ia berjalan menghampiri Sehun, sekedar untuk merampas batang coklat yang baru saja diambil Sehun dari plastik. "Ah, ya. Kita mendapatkan 'pesanan' lagi," infonya. "Tapi aku belum mengiyakannya."
"Kenapa tidak?"
"Kau sendiri yang bilang. Kau sedang dicurigai para interpol sebagai Raven. Tidakkah itu berarti pencarianmu menjadi prioritas mereka saat ini?"
Sehun berdecak remeh. "Kenapa kau mengawatirkan mereka? Selama ini aku bisa lolos dari mereka, kenapa yang ini tidak?" ucapnya enteng. "Sudahlah, terima saja 'pesanan' itu. Rezeki tidak boleh ditolak," Sehun mengedipkan matanya.
Kyungsoo balas menatapnya malas. "Baiklah," ujarnya. "Kita punya waktu seminggu untuk menyusun rencana sebelum bertindak."
###
Sebuah gedung pengadilan tinggi diblokade oleh pasukan bersenjata. Semua orang yang hendak keluar diperiksa. Sehun yang berada di lantai sebelas melihat kondisi menegangkan di bawah sana dari kaca jendela gedung. Ia mengumpat. "Mengapa mereka mengerahkan begitu banyak orang? Apa aku teroris negara?" sindirnya. Baru saja semenit lalu ia berhasil membunuh targetnya yang adalah seorang pengacara. Namun saat ia hendak melarikan diri, tempatnya berada telah dikepung.
"Aku sudah memperingatkanmu, bukan?" Suara Kyungsoo dengan intonasi-sok-pintarnya terdengar dari ponsel di sisi wajah Sehun. "Mereka akan lebih ganas menangkapmu karena kau sudah dicurigai sebagai Raven."
Sehun berdecak kesal. "Yak! Jika aku tertangkap, maka ini semua adalah salah rencana 'baik' yang telah kau susun selama seminggu itu!"
"Kau mau kuberi tahu jalan keluarnya atau tidak?" ancam Kyungsoo.
"Tentu saja aku mau! Dimana jalan keluarnya?"
"Seluruh gedung dikepung. Kau tak bisa menyamar keluar lewat pintu depan karena sketsa wajahmu telah disebar. Lift telah dijaga ketat oleh beberapa anggota interpol, begitu pula dengan tangga darurat umum. Jadi, jawaban atas pertanyaanmu adalah.." Kyungsoo sengaja menjeda sebentar untuk menambah kesan dramatis pada Sehun yang menunggu kelanjutan nasibnya. "Tidak ada jalan keluar untukmu."
"Yak!" Sehun mendesis. "Berhenti main-main!"
Kyungsoo terkekeh geli. "Kecuali tangga yang biasa digunakan staf di sisi barat gedung. Pintunya terkunci, tapi aku yakin kau bisa membukanya, iya'kan?"
Sehun tak membalas. Ia langsung mematikan ponsel dan menyimpannya di balik jubah jaksa yang ia kenakan. Dengan aksesoris kacamata persegi, kumis tipis palsu di bawah hidung, lengkap dengan model rambut pria berumur tiga puluhan serta tas persegi hitam yang ia tenteng. Oh Sehun berjalan penuh wibawa layaknya seorang jaksa di sepanjang lobi. Ia menuju ke arah barat, sesuai petunjuk Kyungsoo. Hingga menemukan pintu yang bertuliskan 'Only Staff'.
Tidak butuh waktu lebih dari sepuluh detik, Sehun berhasil membuka kunci pintu menggunakan kawat yang selalu ia bawa dibalik lengan bajunya. Mengecek tak ada seorangpun dari kedua arah lobi, Sehun segera menyelinap masuk melalui pintu itu. Ia melepas jubah jaksa, melemparnya di lantai bersama tas hitam, dan kacamatanya. Dengan langkah terburu, Sehun menuruni tangga, sempat meringis sakit saat ia menarik plester yang menempelkan kumis palsu di bawah hidungnya.
"Berhenti disana!"
Langkah Sehun mengerem secara otomatis. Ia mengerang dengan suara laknat yang terdengar dari arah belakangnya, tepat dari arah pintu darurat staf lantai delapan yang baru saja ia lewati.
"Ini interpol!" seru suara itu melanjutkan. "Jangan bergerak jika aku tidak memintamu, atau aku terpaksa menembakmu!" gertaknya.
Tanpa berbalik, Sehun berucap. "Aku hanya staf disini–"
"Tak ada staf yang berlari setengah melompat di tangga seperti sedang dikejar kematian. Lagipula, jika kau memang terburu-buru, kau bisa menggunakan lift bukan?" sindirnya. "Sekarang angkat kedua tanganmu, dan berbaliklah secara perlahan."
Sehun tak punya pilihan lain saat ini, selain menurutinya. Tapi ia kemudian melongo tatkala mendapati sosok yang tak asing di matanya. Itu Baekhyun.
"Sudah kuduga," Baekhyun tersenyum puas sambil terus menodongkan pistolnya.
"Kau lagi?" tudingnya. Kedua tangannya terkulai ke bawah dengan santai. "Apa ini lelucon? Apa seluruh interpol mempunyai wajah sepertimu? Kenapa aku harus bertemu denganmu tiga kali berturut-turut?"
"Diam!" Baekhyun menggertak. "Kali ini aku tidak akan membiarkanmu lolos seperti waktu itu."
Mata Sehun melirik ke arah kaki Baekhyun. Ia tersenyum mengejek. "Kau bisa sombong setelah kakimu sembuh rupanya." Selagi ia menarik perhatian Baekhyun dengan omongannya, tangan Sehun diam-diam merambat ke sabuk belakang celananya, berniat mengambil pistol Beretta 92 miliknya. "Haruskah aku mengatakan selamat? Ah, atau kita bisa makan bersama untuk merayakan–"
DOR!
Suara tembakan terdengar nyaring saat timah peluru yang ditembakkan Baekhyun mengenai pagar seng tangga darurat di belakang Sehun, tepat setelah timah itu berhasil menyambar tangan kanan Sehun yang hendak mengambil pistolnya. Mengakibatkan goresan sobekan di lengan jaket yang ia gunakan, juga menciptakan luka goresan darah di kulit tangannya dari sambaran peluru tersebut.
"Suara tembakan barusan akan mengundang yang lain. Jadi, sebaiknya kau cepat serahkan dirimu sebelum kau terluka parah."
"Aw~ apa sekarang kau sedang mengkhawatirkanku? Aku tersentuh," Kentara ada nada dibuat-buat dalam suaranya, mengejek Baekhyun. "Baiklah, aku akan mengikuti saranmu." Ia mengulurkan kedua tangannya. "Ini. Tahan aku."
Baekhyun memicing curiga. Ini terlalu mencurigakan baginya. Apa semudah itu untuk bisa menangkap sang buronan pembunuh bayaran—Oh Sehun? Tapi ia juga tidak bisa menyia-nyiakan waktu dan kesempatan ini. Dengan menangkap Oh Sehun, ia bisa membanggakan hal besar ini pada kekasihnya sendiri—Chanyeol.
Pria yang lebih pendek itu mulai mendekat. Dengan tatapan waspada dan tangan kiri yang memegang pistol, tangan Baekhyun mengambil borgol di kantung celananya. "Berbalik, dan letakkan tanganmu di belakang punggung." pintanya sambil menuruni tujuh anak tangga untuk mendekati Sehun.
Sehun melakukan perintahnya. Diam-diam, ia menghitung dengan baik tiap langkah yang diambil Baekhyun dari belakangnya. Tepat setelah hitungan keenam, Sehun berbalik dengan cepat, mengayunkan lengannya, memukul tangan Baekhyun yang memegang pistol dengan telak. Pistol Glock-17 itu terjatuh sedikit memantul menuruni tiga anak tangga. Tanpa memberikan kesempatan untuk bergerak melawan, Sehun dengan kemampuan bela dirinya menendang betis Baekhyun, lalu menginjak belakang mata kakinya hingga terdengar bunyi 'krek' dari tulang pergelangan telapak kaki sang interpol mungil itu.
"Akh!" Selagi Baekhyun terjatuh bersimpuh, Sehun mengambil kesempatan memutar kedua tangan Baekhyun ke balik punggungnya, menguncinya dari belakang.
Sehun membungkuk di belakang Baekhyun, dengan posisi seperti memeluk yang lebih mungil dari balik punggungnya. Ia berbisik di balik leher Baekhyun. "Sedikit informasi untukmu, Baek," Nadanya terdengar main-main, seolah ia sedang menikmati keadaan ini. "Sebelumnya, aku sudah mencari informasi tentang anggota interpol yang menangani kasus Raven. Untuk sedikit berjaga-jaga jika aku tiba-tiba berhadapan dengan mereka. Dan apa kau tahu? Apa yang kutemukan tentangmu?"
Baekhyun mendesis. Ia sudah berusaha untuk memberontak, tapi tangannya dikunci dengan kuat dari belakang, sementara kakinya kembali terkilir karena ulah pembunuh bayaran itu.
"Kelemahanmu," Sehun sengaja mengucapkan dengan penuh penekanan. "Yaitu kau tidak terlalu ahli dalam pertarungan jarak dekat." Sehun tersenyum puas.
"Kau brengsek–" Baekhyun menoleh ke belakang. Tanpa sengaja ujung hidungnya bersentuhan dengan milik Sehun. Senyuman Sehun menghilang. Keduanya terpaku dengan posisi intens yang tak terduga.
Namun itu tak berlangsung lama.
Suara derap langkah dari lobi di balik pintu membuat Sehun segera tersadar, begitu pula dengan Baekhyun yang langsung menolehkan kepalanya lagi ke depan. Sehun melepaskan kuncian di tangan Baekhyun. Dengan cepat pria bersurai ebony itu melompat turun, berlari menuruni tangga. Tak lupa ia memungut pistol Glock-17 milik Baekhyun, kemudian pergi menghilang tanpa mengucapkan apapun lagi.
.
.
Kyungsoo melempar tujuh lembar kertas di atas meja. Menyentakkan Sehun yang sedang melepas lelahnya di atas sofa setelah dikejar-kejar interpol dua jam yang lalu. Pria albino itu mengerjap, menatap heran pada si pelaku yang tak lain adalah sepupunya sendiri.
"Apa ini?"
Seringaian Kyungsoo terbentuk. Dengan tatapan kemenangan, ia berucap, "Aku berhasil meretas data mereka," ucapnya bangga. "Aku mengambil kesempatan saat mereka lengah karena tadi sibuk mengejarmu."
"Apa?" Sehun menatap Kyungsoo tak percaya. "Aku hampir saja tertangkap dan kau malah mengambil kesempatan dalam hal itu?"
Kyungsoo berdecak, sedikit memukul kepala Sehun karena kesal. "Kau pikir ini untuk siapa? Ini untukmu juga, bodoh!"
Mengusap kepalanya sebentar, Sehun mengambil lembaran kertas tersebut. "Jadi, apa ini?"
"Hasil data aneh yang kutemukan di jaringan penyimpanan mereka." Kyungsoo membiarkan Sehun membacanya sebentar sebelum kembali melanjutkan ucapannya, "Kau sudah lihat, bukan? Ada data palsu mengenai salah satu riwayat anggota interpol. Dan orang itu, termasuk dalam anggota yang menangani kasus Raven."
"Jadi?" Sehun bertanya, terlalu malas menyimpulkan sementara matanya terus membaca sekilas perlembar kertas di tangannya.
Kyungsoo menghela nafas melihat kemalasan sepupunya itu dalam membaca informasi yang ia berikan dengan detail. "Aku tidak tahu pasti apa maksudnya, tapi ini jelas mencurigakan. Tidakkah kau berpikir untuk apa memalsukan data riwayatnya agar bisa masuk interpol? Jelas orang itu sedang menyembunyikan sesuatu."
"Lalu, apa hubungannya ini dengan Raven?"
"Tentu saja ada!" jerit Kyungsoo, merasa gemas sendiri dengan jalan pikiran Sehun yang tak pernah nyambung dengannya. "Karena anggota interpol itu berusaha menghambat kinerja partner-nya sendiri dalam menyelidiki kasus Raven dengan cara mencoba menutupi fakta lain. Itulah mengapa kau yang dituduh sebagai Raven! Bodoh!"
Sehun tersentak. "Jadi maksudmu..anggota interpol ini sedang membantu menutupi kejahatan Raven? Itu sebabnya ia sangat gesit dan sulit ditangkap?"
Kyungsoo mengangguk. "Jika dia bukan partner Raven, maka kemungkinan lainnya adalah.." Mata Kyungsoo menatap Sehun serius. "Dialah sosok Raven itu sendiri."
"Siapa namanya?" tanya Sehun kemudian setelah tak menemukan nama asli anggota interpol yang mereka bicarakan dalam lembaran kertas itu. Hanya tercantum kode nama untuk setiap anggota interpolnya dalam data rincian biodata tersebut. "Siapa nama orang itu?" tanyanya ulang, penasaran pada sosok yang telah membuat hidupnya semakin sulit karena dituduh sebagai Raven.
Kyungsoo menggaruk belakang lehernya. "Maaf, aku tak sempat menyelidiki bagian itu. Mereka dengan cepat kembali menemukanku saat tengah meretas."
Sehun menatapnya marah. "YAK!"
"Baiklah, baiklah, akan kuselidiki lagi. Tapi sebelumnya.." Kyungsoo menggantungkan ucapannya, membuat yang lebih tinggi memicing curiga. "Belikan aku chicken set dan pizza ya~"
Sehun menatap datar pria bermata besar itu. Ia benar-benar tak paham selera makan sepupunya yang melebihi kapasitas tubuhnya sendiri.
.
.
Jongdae, Minseok, dan Seunghyun menatap objek di hadapan mereka dengan saksama. Ada perbedaan pada masing-masing raut muka mereka, tapi masih dalam artian yang sama. Dan itu sudah berlangsung selama sepuluh detik. Sementara objek yang dipandang—Baekhyun, hanya bisa menggigit bibir bawahnya, gelisah menunggu respon semua partner-nya (terutama Seunghyun) mengenai kaki kanannya yang baru saja diperban. Sesekali pria mungil itu mainkan jemarinya sekedar untuk mengusir kegugupan.
"Bagian yang terkilir agak membengkak. Dokter bilang Baekhyun harus istirahat total setidaknya sehari." jelas Chanyeol yang berdiri di samping Baekhyun.
Tak ada sahutan untuk sesaat. Baekhyun semakin gelisah.
"Um..sebenarnya aku baik-baik saja, aku bisa–"
"Kau diam saja, Baek." tandas Chanyeol tanpa menatap kekasihnya, yang kemudian dibalas oleh si mungil dengan bibir mengerucut sebal. Minseok dan Jongdae hanya terkekeh pelan melihat tingkah posesif si jangkung yang sedang kumat. "Tolong berikan Baekhyun izin untuk tidak masuk sehari saja, Sunbae." pintanya pada Seunghyun yang masih terdiam. Chanyeol tidak tahu bahwa saat ini, di balik punggungnya, Baekhyun secara diam-diam memberikan kode agar Seunghyun tak mengiyakan permintaan itu.
"Baiklah." Tapi ternyata malah jawaban itu yang keluar. Seunghyun yang menyadari kekecewaan Baekhyun, langsung menatap pria mungil itu. "Untuk kali ini, kau turuti saja keinginan Chanyeol. Kau tidak lihat ia sangat mengkhawatirkanmu, hm?"
Jongdae tertawa nista. "Eyy, Sunbae. Daripada disebut 'mengkhawatirkan', Chanyeol justru lebih terlihat marah karena ia tak'kan mendapat 'jatah' dari kekasihnya~" godanya, kemudian ber-high-five dengan Minseok.
"J–jatah?" Baekhyun yang paham kemana arah pembicaraan Jongdae, pun terbata. Pipinya mulai menampilkan rona menggemaskan.
"Tenanglah, Yeol." Minseok menepuk pundak Chanyeol, seolah tengah memberikan semangat padanya. "Kau akan mendapatkannya lagi saat kaki Baekhyun sudah sembuh. Semua akan indah pada saatnya kok."
Chanyeol memberikan tatapan datar pada Minseok dan Jongdae. Sial. Kenapa tiba-tiba pembicaraan mereka jadi berbelok ke arah 'jatah'? Dasar orang-orang kurang malam Minggu—batin Chanyeol. Namun belum sempat ia membalas ucapan Minseok dan Jongdae, Baekhyun lebih dulu berteriak.
"K–KAMI BELUM PERNAH MELAKUKANNYA!"
Kemudian hening.
Semuanya menatap kaget ke arah Baekhyun. Dua di antara mereka—Jongdae dan Minseok—bahkan melotot di waktu bersamaan.
"KALIAN APA?!" tanya Jongdae tak kalah nyaring dari suara Baekhyun barusan. Jiwa Drama King-nya seketika muncul.
"Sungguh? Demi apa? Dan kenapa?" Minseok ikut penasaran. Namun Chanyeol dan Baekhyun urung menjawab. Si mungil Byun bahkan tak sanggup menatap mata mereka, hanya terdiam sambil berusaha menyembunyikan wajahnya yang terasa panas.
"Hey, hey, sudahlah." Seunghyun menengahi. "Chanyeol, sebaiknya kau antarkan Baekhyun pulang sekarang." titahnya kemudian.
Chanyeol mengangguk paham. Iapun segera memapah Baekhyun keluar ruangan sebelum pertanyaan Minseok dan Jongdae menghalangi mereka.
.
.
Selama perjalanan ke apartemen Baekhyun, tak ada topik pembicaraan di antara Baekhyun dan Chanyeol. Si jangkung terlalu fokus pada jalanan Seoul yang beberapa menit lalu disiram air hujan, sementara si mungil sibuk menyesali kejadian memalukan di kantor pusat tadi. Kalau dipikir-pikir lagi, ini seperti ia baru saja membuka aib sendiri. Astaga, kenapa ia sampai melakukan hal sebodoh itu? Padahal Minseok dan Jongdae sudah sering menggoda mereka.
"Maaf.." Suara Baekhyun tiba-tiba memecah keheningan.
Chanyeol meliriknya sekilas, lalu bertanya, "Kenapa minta maaf?"
Baekhyun menggigit bibir bawahnya sesaat, menatap tautan jemarinya di pangkuannya. "Aku keceplosan tadi.." Ia mencicit. "Aku malah mengatakan hal yang tidak perlu. Seharusnya aku tidak pernah menanggapi godaan mereka.."
Di luar dugaan, Chanyeol malah tertawa mendengar penyesalan Baekhyun. Entah kenapa, kekasihnya itu terlihat seperti seorang bocah SD yang baru saja mengaku pada Ibu-nya bahwa ia mencuri kue.
"Hey, tidak apa. Aku mengerti kok. Lagipula, itu memang benar'kan? Jadi, kenapa kau harus minta maaf segala?"
Baekhyun menundukkan kepalanya. Ia semakin dibuat tidak enak hati. Pria bermata sipit itu tahu betul bahwa mereka belum pernah sekalipun berhubungan badan, padahal mereka sudah menjalin kasih selama sebulan lebih. Pernah ada waktu saat dulu mereka nyaris melakukannya, tapi si mungil dengan cepat menghentikan aksi kekasih jangkungnya itu, mengatakan bahwa ia belum siap. Well, mereka memang tidak pernah membahasnya lagi setelah itu, tapi tidak ada yang tahu apa yang ada dalam pikiran Chanyeol, bukan?
"Hey." Chanyeol memanggil Baekhyun yang terdiam. Ia tersenyum lembut ketika pria mungil itu meliriknya. "Tidak apa, tidak perlu dijadikan beban, Baek. Aku malah tak ingin melakukannya jika kau masih belum siap. Aku tak keberatan untuk menunggu, kau tahu?"
"Sungguh?"
Chanyeol mengangguk mantap. "Aku rela bermain solo selagi menunggumu~" godanya. Dan itu berhasil membuat wajah Baekhyun memanas sampai ke telinga.
"B–berhenti mengatakan hal ambigu, bodoh!" serunya seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia salah besar jika berpikir cara itu efektif untuk menyembunyikan ronanya, karena kekasihnya sudah lebih dulu menyadarinya. Ha.
"Aigoo~ berhentilah menjadi menggemaskan, Baek. Atau aku akan memarkirkan mobilku sekarang juga, lalu menghabisi bibirmu."
"Aish, berhenti menggodaku, Park Chanyeol!"
Tawa menggelegar Chanyeol memenuhi mobil selanjutnya. Ia acak surai dirty blonde si mungil dengan gemas, sebelum kembali fokus pada acara menyetirnya. Air mukanya tiba-tiba menjadi serius.
"Lain kali, jika kau bertemu Oh Sehun, segera panggil bantuan, oke? Tadi itu adalah terakhir kalinya aku membiarkanmu melawannya sendirian." ucap Chanyeol yang lebih terdengar seperti perintah mutlak. Baekhyun menurut dengan menganggukkan kepalanya. Chanyeol-pun tersenyum puas. "Anak pintar."
"Kau akan kembali ke kantor pusat nanti?" Baekhyun mengubah topik pembicaraan.
"Ya. Aku tak bisa membiarkan yang lainnya bekerja di saat Raven berhasil meloloskan diri lagi. Kau tahu penjahat itu seperti tak pernah tidur, bukan?"
Baekhyun menghela napas panjang. "Padahal aku juga ingin bekerja."
"Kau bisa bekerja lagi lusa, Baek. Pokoknya kau dilarang pergi kemana-mana sampai besok, kau paham?"
Baekhyun meniup poninya kesal, tapi tetap mengangguk sebagai jawaban. Walaubagaimanapun, ia ingin cepat sembuh, dan segera kembali bekerja. Lagipula, berdiam diri bukanlah keahliannya.
###
Sehun menguap lebar-lebar begitu keluar dari ruang TV. Diregangkannya tubuhnya yang agak pegal karena tidur di sofa, lalu menggaruk surai ebony-nya yang sudah berantakan. Semalam Sehun menginap di apartemen Kyungsoo. Sepupunya itu bilang akan begadang untuk mencari tahu nama asli si anggota interpol yang mencurigakan itu, dan segala tetek bengek yang sekiranya penting. Sehun tak tahu apakah Kyungsoo berhasil membobol keamanan jaringan interpol lagi atau tidak. Terakhir kali yang ia ingat sebelum tertidur adalah janji sepupunya yang akan berhati-hati agar alamat IP-nya tidak terlacak. Well, berharap saja pria mungil itu menepati janjinya kali ini.
"Kyungsoo-ya?" Suara parau khas orang baru tidur keluar dari celah bibir Sehun. Ia mengambil segelas air untuk diminum terlebih dahulu, sebelum berjalan menuju ruang kerja sepupunya. "Yak, kau sudah–"
Baru saja Sehun hendak bertanya, tapi apa yang ia saksikan saat ini membuatnya menganga. Disana, Kyungsoo sedang berkutat dengan keyboard dan layar komputer yang menayangkan berbagai data—entah apa, dalam posisi duduk yang sama dengan semalam. Sehun melirik jam dinding yang menempel di ruangan itu. Pukul tujuh lewat empat puluh lima menit. Pikirnya, apa pria mungil itu tak tidur sejak semalam?
"Yak." Sehun memanggil seraya menghampiri Kyungsoo yang sepertinya tak memedulikan kehadirannya. Pria albino itu tak bisa lebih terkejut lagi saat melihat ekspresi mengerikan yang tercetak di paras yang lebih pendek. Tatapan membara dari kedua bola matanya yang besar, kantung mata yang tebal, dan seringaian yang lebar. Ugh, Sehun tak'kan bertanya apa yang terjadi padanya. Kyungsoo sudah pasti begadang setelah menghabiskan chicken set dan pizza-nya.
"Kau menemukan sesuatu?" Daripada memedulikan penampilan Kyungsoo, Sehun lebih penasaran dengan perkembangan yang dilakukan pria mungil itu. Sepertinya ia berhasil membobol keamanan jaringan interpol.
"Sebentar lagi."
"IP-mu tidak terlacak'kan?"
"Tenang saja."
Sehun tak banyak komentar setelahnya. Ia berpikir untuk membersihkan bekas makanan Kyungsoo selagi menunggu pria mungil itu selesai meretas. Sebagai informasi, Kyungsoo adalah tipe yang akan lupa segalanya jika sedang meretas. Bahkan jika ruang kerjanya dipenuhi bau tak sedap, ia akan tetap fokus pada gerakan jemarinya di atas keyboard tanpa mengalihkan seincipun tatapannya dari layar komputer. Well, selama alamat IP-nya tak terlacak, Sehun tak'kan mengganggu keasyikan Kyungsoo.
.
.
Di waktu yang sama, di kantor pusat interpol, Minseok tampak sama sibuknya dengan Kyungsoo, melakukan hal yang sama pula di depan layar komputernya. Sesekali ia berdecak kesal kala cara yang ia gunakan untuk menghalau cracker itu gagal. Alhasil, beberapa bulir keringat kembali menuruni pelipisnya.
"Sialan, siapa sebenarnya bocah ini?" umpatnya kesal. Ini sudah berlangsung selama berjam-jam, tapi cracker itu tak jua menyerah. Matanya mulai lelah, Demi Tuhan. Dan sialnya, tak ada yang bisa dimintai tolong, karena semua anggota interpol yang ahli dalam bidang ini sedang sama-sama sibuk. Ditambah dengan absennya Baekhyun, membuat Minseok kelabakan untuk melacak alamat IP-nya. Cracker itu terus menerus menyerangnya, bahkan tak sekali dua kali ia mengirim virus untuk mengalihkan perhatiannya. Pikirnya, cracker itu pasti mengincar data penting interpol lagi.
"Aish, lama-lama aku bisa kalah–"
SYUT!
Layar komputer Minseok tiba-tiba menghitam.
"Ada apa ini?" tanya Jongdae yang sedari tadi berdiri di samping Minseok. Tapi pria yang lebih tua hanya terdiam. "Hyung, cepat lakukan sesuatu!" serunya mulai panik.
Tanpa menjawab, Minseok kembali menggerakkan seluruh jemari tangannya di atas keyboard, berusaha mengembalikan keadaan komputernya seperti semula. Tapi nihil. Sampai pada detik kedua puluh ia mencoba, pergerakan jemarinya langsung terhenti kala layar datar komputernya dipenuhi puluhan huruf kecil yang membentuk huruf D besar.
Itu berarti satu hal—sistem keamanannya telah berhasil dibobol si cracker.
.
.
"Dapat."
Sehun mengernyit kala suara Kyungsoo yang lirih mengalihkan perhatiannya. Ia menoleh pada pria mungil itu, jemarinya sudah tak lagi bermain di atas keyboard.
"Kau sudah selesai?" tanya Sehun, kembali menghampiri Kyungsoo. Pria mungil itu menjawab dengan memberikan beberapa lembar kertas padanya. Ia bangkit dari duduknya setelah mematikan komputer-komputer itu, meregangkan tubuhnya yang kaku terlebih dahulu, lalu berjalan keluar dari sana.
"Aku ingin sushi saat aku bangun." seru Kyungsoo sebelum menghilang di balik pintu. Sehun hanya berdehem menanggapinya. Tatapannya terlalu sibuk menilik lembaran demi lembaran yang sepupunya berikan tadi. Namun di antara banyaknya data, ada satu yang menarik perhatian Sehun.
Nama asli anggota interpol itu.
"Harry Park?" Sehun perlahan menarik sebuah seringaian di sudut bibirnya. Bersamaan dengan itu, satu ide hebat hinggap dalam pikirannya. "Heh, menarik juga~"
Ide untuk melihat apakah Harry Park hanyalah partner Raven atau Raven itu sendiri.
.
.
Waktu baru saja berhenti di angka sepuluh saat seorang pria berjalan memasuki katedral Wonhyoro. Ia memilih bangku kedua dari belakang sebagai pijakan tubuhnya. Tak melakukan apapun, hanya menikmati suasana dalam katedral yang begitu tenang sambil melihat seluk beluk bangunan kuno itu. Tak banyak orang di dalam sana, karena ini bukan hari Minggu. Selain dirinya, ada dua pengunjung lainnya yang tampak sibuk memanjatkan doa, juga seorang pastor yang bicara dengan seorang anak kecil (mungkin itu anak dari salah satu pengunjung).
Itu adalah Pastor Ryu.
"Disini kau rupanya." Senyuman mengerikan tercetak jelas di bibir pria itu. Matanya terkunci sempurna pada sosok pria paruh baya itu. "Lama tidak bertemu, Pastor Ryu~"
Targetnya yang keempat.
TBC
A/N (Azova10): Ternyata Raven bukan Sehun, hahaha! Ada yang bisa menebak siapa sebenarnya Raven ini, dan apa motif pembunuhannya pada semua pastor? Ketika pendapat kalian di kolom review ya.
PS. Aya titip salam peluk cium buat kalian.
PSS. Crime twins apdet bareng Brida Wu dan lolipopsehun. Cek FF mereka juga~
SPECIAL THANKS:
chanbaekmama, zhangminseokkie, Yxxx1106, Andhani, mphi, Kareninna, itsathenazi, Hyurien92, riririi, Kenzoumukii, cfrlwin, heliophilia, Guest, ellaqomah CBHS, Incandescence7, Innocent Vee, kiyasita, Chanberlin, MiraKimLu, Ika. ohbyun, Michelle Jaqueline, baekin236, jonginims, exobbabe, chanbaekssi, SHINeexo, tippachu, socloverqua, kirafuchi, Kiki2231, baek92, adelianjjbyuniee, byun Baekhee, xocaramellox, yoyoyo man, Smrfbbhxx, myliveyou, LUDLUD, neniFanadicky, ussy, chanbaeksarang, Song Soo Hwa, ImHanra, RedCherry yeoliie
