Halo semua..!

Chapter terakhirnya datang. Semoga semuanya suka ya. Oh ya sebelumnya aku minta maaf banget karna kemarin ada typo yang seharusnya nama 'Yaya' malah jadi 'Hanna'. Sebenernya nama sebelumnya Hanna, nama Yaya versi bahasa Inggris. Soalnya disini Yaya-nya gak pake jilbab terus OOC banget. Tapi pas di pikir lagi, takutnya readers malah gak suka kalo namanya 'Hanna', jadi di ganti deh…

Maaf banget kalo readers jadi gak nyaman. Dan maaf juga karna publish lama…

Oke deh, jangan banyak cingcong..

Silahkan dibaca..!

.

.

.

Disclaimer : BoBoiBoy milik Animonsta Studio

Genre : Friendship – Romance – Hurt/Comfort

Pairing : Taufan – Yaya

Rate : T

Warning : OOC (banget) – typo(s) – Bahasa kurang baku – Author-nya masih belajar. Di Chapter ini terdapat umpatan-umpatan kasar. Mohon maaf sebelumnya kalau ada yang tidak suka.

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

.

Chapter sebelumnya…

"Dia siapa? Perasaan aku baru melihatnya,"

"Namanya Yaya Halilintar. Kemarin dia memang tidak sekolah karna kakeknya sakit. Makanya kamu tidak melihatnya saat kamu pertama masuk sekolah ini,"

"APA? KAU INGIN MASUK KLUB KARATE?"

"Justru aku masuk klub karate karena gadis itu,"

"Hai. Ayo sparring sama aku!"

"Kenapa kau selalu menggangguku?"

"Sebenarnya aku mendekatimu karna aku ingin berteman denganmu. Setiap hari aku selalu melihatmu sendiri, jadi ku pikir kau kesepian, makanya aku berusaha untuk menjadi temanmu. Setidaknya agar kamu tidak selalu sendirian. Maaf kalau sikapku mengganggumu. Aku janji, aku tidak akan melakukannya lagi."

"Kalau kau ingin menjadi temanku, tak apa."

"ITU ARTINYA KAU MAU MENJADI TEMANKU!"

.

.

.

CHAPTER 3 (CHAPTER TERAKHIR)

.

.

Semenjak kejadian sparring yang berujung Taufan diantar pulang oleh Yaya, mereka berteman. Meski awalnya sikap Yaya tetap dingin dan pendiam, namun Taufan sudah mulai terbiasa. Justru adanya Taufan membuat sikap Yaya menjadi lebih hangat.

Mereka selalu bersama ketika disekolah. Atau lebih tepatnya Taufan yang selalu berusaha untuk bersama dengannya. Setiap pagi ia selalu menyapa Yaya dengan nada cerianya meski hanya dibalas oleh gumaman tanpa arti atau tatapan malas olehnya. Ketika istirahat sebisa mungkin ia bersama Yaya, mulai dari mengajaknya ke kantin, atau lebih tepatnya memaksa. Menemaninya mengobrol dikelas meski Yaya yang hanya mendengarnya berbicara. Atau menemani gadis itu di taman belakang sekolah yang sudah seperti 'basecamp' mereka.

Semua siswa-siswi SMA Pulau Rintis bingung dibuatnya. Yaya yang selama ini selalu menghindar dari Taufan kini membiarkan ia mendekatinya. Bahkan ketika Taufan mengajaknya ke kantin, meski setengah hati namun ia tetap menerima ajakannya. Sungguh mengejutkan, karna Yaya jarang sekali ke kantin apalagi bersama seseorang. Dan juga kerap kali mereka melihat Yaya dan Taufan bersama. Mengobrol bersama meski hanya Taufan yang berbicara dan Yaya yang mendengarkan atau merespon singkat.

Ah, sepertinya Yaya lelah karna Taufan selalu mendekatinya sehingga ia membiarkannya. Begitu pikir mereka.

Meski cukup membingungkan dan mengejutkan, namun mereka tidak terlalu memperdulikannya. Tentu saja karna takut dengan gadis beraura dingin itu.

Fang, Gopal dan Amar Deep yang merupakan sahabat Taufan lebih bingung sekaligus terkejut akan kedekatan Taufan dengan Yaya. Apalagi saat Taufan mengajak Yaya untuk bergabung bersama mereka. Awalnya mereka takut untuk berbicara dengan Yaya, namun karna bantuan Taufan mereka sedikit berani untuk mengobrol dengan Yaya, meski Yaya lebih sering bersama Taufan dibandingkan bergabung dengan mereka.

Secara perlahan sikap Yaya mulai berubah pada Taufan. Ia mulai sedikit lebih terbuka. Ia mulai sering mengobrol lebih panjang dengan Taufan, bukan hanya gumaman tanpa arti atau respon pendek. Ia juga mulai merasa nyaman bersamanya. Taufan yang periang dan selalu ceria membuatnya senang. Terkadang ia juga tertawa kecil ketika mendengar lelucon Taufan. Sesuatu yang jarang dilihat semua orang. Jangankan tertawa, senyum pun hampir tidak pernah.

Meski ada satu sifat buruk Taufan. Ia sangat jahil. Kerap kali Yaya menjadi korban kejahilannya. Seperti menyembunyikan headphonenya, mengagetkan Yaya ketika ia sendiri, mencolekan ice cream kewajahnya dan masih banyak kejahilan Taufan yang lainnya. Meski akhirnya ia selalu mempraktekan jurus karatenya pada Taufan. Namun Taufan tidak pernah jera. Sepertinya ia sudah kebal dengan berbagai jurus karate mematikan milik Yaya. Tapi justru itu membuat mereka semakin dekat.

Saat ini mereka sedang berada di taman belakang sekolah. Yaya sedang mendengarkan musik melalui headphone yang tersambung pada smartphone yang tengah ia gunakan ditangannya. Sedangkan Taufan disampingnya sedang asyik dengan sebungkus kripik kentang dan minuman kalengnya. Karna Yaya tidak mau diajak ke kantin jadi ia terpaksa membawa makanannya kesini.

"Yaya!" Merasa dipanggil gadis itu pun menoleh pada pemuda disampingnya. Mendapat respon Taufan pun tersenyum. "Ehmm.. Aku mau tanya, kamu menyukai warna merah dan hitam ya?"

Terdiam sejenak. "Emangnya kenapa?" tanya Yaya tanpa menjawab pertanyaan Taufan. Wajahnya sedikit menunjukan keheranan walau tidak kentara karna cenderung datar.

"Tidak. Hanya bertanya saja. Soalnya jaket dan headphone kamu warna merah dan hitam, motor kamu juga, jadi mungkin ada sesuatu dibalik warna itu" jawab Taufan seraya menunjuk headphone dan jaket yang dipakai Yaya.

Yaya terdiam beberapa saat. Wajahnya berubah sendu, ia mengalihkan pandangannya kearah lain membuat Taufan merasa bersalah karna sepertinya telah membuatnya sedih. Taufan pun hendak mengalihkan pembicaraan namun Yaya tiba-tiba menoleh padanya dan menampilkan senyum tipis, namun terlihat miris.

Ia lalu menghembuskan hafasnya kasar. Kemudian melepas headphone dikepalanya yang sedari tadi memutarkan lagu-lagu dengan volume kecil. "Hitam dan Merah adalah dua warna yang menggambarkan hidupku." tuturnya sambil menatap headphone ditangannya.

"Maksudnya?" tanya Taufan yang tidak mengerti maksud perkataan Yaya.

"Sudahlah, lupakan saja," ucapnya seraya memakai headphone itu kembali namun kali ini ia memakaikan pada lehernya. "Kau sendiri, menyukai warna biru?" tanya Yaya seraya menunjuk jaket dan topi biru yang dikenakan Taufan.

"Eummh.. tidak juga. Aku menyukai semua warna. Tapi aku memang lebih menyukai warna biru. Lagipula jaket dan topi ini pemberian ibuku, jadi aku selalu memakainya," jawab Taufan sambil tersenyum dengan wajah riangnya.

"Lalu kenapa kau selalu memakai topi dengan gaya miring?" tanya Yaya kembali.

"Memang kenapa? Kan aku jadi terlihat lebih imut," ucapnya seraya meletakan ibu jari dan jari telunjuknya didagu sambil tersenyum dengan narsisnya.

"Terserah," balas Yaya seraya memutar matanya malas.

"Tapi aku cocok kan memakai topi seperti ini?" tanya Taufan yang masih dengan gaya narsisnya.

"Ya. Sangat cocok dengan orang yang juga memiliki otak miring sepertimu."

JLEB

Bagai ditusuk oleh pedang yang tajam ketika mendengar jawaban gadis didepannya itu. Ternyata selain mata yang tajam, gadis itu juga memiliki mulut yang tajam. Sungguh tega dia pada temannya ini dengan berkata seperti itu.

Taufan hanya mengerucutkan bibirnya kesal. Namun Yaya tidak memperdulikannya, ia kembali focus pada smartphone-nya. Mengabaikan Taufan yang masih kesal padanya. Tapi kemudian Taufan ingat sesuatu.

"Oh ya katanya setiap tahun baru sekolah kita mengadakan acara disekolah ya?" tanya Taufan yang sudah melupakan kekesalannya.

"Hmm." Yaya hanya menjawab singkat dengan gumaman tanpa arti seperti biasa.

"Kamu mau ikut acara itu tidak?" tanya Taufan kembali.

"Tidak," jawab Yaya tanpa mengalihkan pandangan pada smartphone-nya.

"Lho, kenapa? Pasti acaranya kan sangat menyenangkan."

"Tidak suka."

"Pasti ada alasannya kan kenapa kamu tidak suka?" tanya Taufan dengan wajah penasarannya.

"Ramai," jawab Yaya yang untuk kesekian kalinya dengan singkat.

"Kamu ini harus belajar untuk tidak pelit akan kosa kata. Tolong jawablah pernyaanku dengan lebih panjang," gerutu Taufan dengan wajah kesalnya.

Yaya pun menoleh padanya. "Aku tidak akan ikut acara itu karna aku tidak suka keramaian. Puas," tutur Yaya sedikit kesal lalu kembali fokus pada smartphone-nya.

"Tapi aku ingin ikut acara itu bersamamu. Kamu ikut ya? Please.." mohon Taufan seraya menempelkan kedua telapak tangannya dengan wajah memelasnya.

"Tidak mau," balas Yaya tegas tanpa memperdulikan Taufan.

"Oh ayolah. Demi temanmu yang tampan ini, masa kamu tega membiarkanku pergi ke acara itu sendiri," rajuk Taufan dengan wajah yang dibuat lebih memelas.

"Aku bilang tidak mau ya tidak mau. Kau ini mengerti bahasa manusia tidak sih," bentak Yaya seraya menatap tajam Taufan.

Namun seperti sudah kebal dengan bentakan dan pandangan tajam itu, Taufan kembali merajuk. "Please… sekali ini saja. Setelah ini aku tidak akan meminta apapun lagi padamu. Aku mohon. Aku sangat ingin menyambut tahun baru bersamamu. Please.." mohon Taufan, wajahnya sudah sangat memelas.

Yaya menghembuskan nafas kasar. "Baiklah," ucapnya dengan nada keraguan.

"Serius? Yey.. terimakasih Yaya. Kamu memang teman terbaik," ujar Taufan dengan sedikit berteriak. Ia menggerakan ibu jarinya ketika mengucapkan 'terbaik'. Lalu ia melompat-lompat dengan wajah gembira.

Yaya melihatnya tersenyum tipis. Namun kemudian wajahnya menampilkan keraguan. Entahlah sepertinya ia masih ragu dengan keputusannya. Tapi ia senang melihat Taufan gembira.

"Childish."

.

.

.

Acara tahun baru pun tiba. Acara itu diadakan diatap sekolah agar tidak mengotori halaman sekolah. Lagipula atap sekolah merupakan tempat yang strategis untuk menyalakan kembang api yang telah dipersiapkan.

Hampir semua siswa-siswi SMA Pulau Rintis ikut, karna acara ini memang sangat meriah. Mungkin yang tidak ikut, mereka yang menghabiskan tahun ini dengan keluarga, sahabat atau mungkin pacar mereka. Tetapi itu tak mengurangi kemeriahan acara ini.

Sebelum puncak acara ini dimulai yaitu tepat jam dua belas malam nanti atau dalam digital ditulis pukul 24:00. Acara ini diisi dengan berbagai pertunjukan dari siswa-siswi SMA Pulau Rintis. Mulai dari menari, menyanyi sambil memainkan alat music, stand up comedy sampai atraksi sulap dan lainnya. Semuanya sangat menikmatinya. Termasuk Yaya yang sedikit merasa senang dapat berbaur dengan teman-teman sekolahnya yang selama ini tidak pernah terjadi. Meski awalnya mereka menatap horror Yaya ketika dia datang bersama Taufan, tapi Taufan berkata bahwa Yaya ingin ikut acara ini sehingga semuanya berusaha untuk menerimanya.

Jam menujukan pukul 23:50. Itu artinya puncak acara sebentar lagi akan segera dimulai. Semuanya sibuk mempersiapkan. Semuanya gembira karna kemeriahan yang sebenarnya akan segera dimulai. Tapi tidak untuk Taufan, ia kebingungan mencari Yaya. Ia sempat terpisah dengan Yaya karna Fang mengajaknya untuk battle dance.

Ia bertanya pada teman-teman sekolahnya, namun tidak ada yang tau kemana perginya Yaya. Tapi Gopal berkata ia melihat Yaya turun dari atap. Taufan pun langsung turun dari atap tempat acara berlangsung. Ia mencari Yaya keliling sekolah. Sampai akhirnya ia menemukan gadis itu tengah duduk dibangku taman belakang sekolah sambil mendengarkan music melalui headphone yang tersambung dengan ipod-nya dan mengutak-atik smartphone ditangannya.

"Yaya!" panggil Taufan ketika berada dua langkah dari samping Yaya. Namun Yaya tidak bergeming, ia tetap focus pada smartphone-nya. "Yaya!" panggil Taufan kembali dengan meninggikan sedikit suaranya. Tapi tetap tidak ada perubahan. "YAYA!" panggil Taufan dengan nada tinggi, sudah kehilangan kesabarannya. Tapi gadis itu tetap tidak bergeming seolah tidak menyadari keberadaannya dan mendengar panggilannya.

Kesal karna Yaya tidak memperdulikannya, Taufan secara paksa mengambil headphone Yaya. Membuat gadis itu terlonjak dan langsung berdiri. Ia kemudian menatap tajam Taufan yang tengah memegang headphone.

"Kau? Sejak kapan kau disini? Lalu apa yang kau lakukan? Kembalikan headphone-ku," tutur Yaya seraya berusaha mengambil headphone-nya namun Taufan dengan cepat meninggikan benda itu membuat Yaya kesulitan untuk mengambilnya karna ia memang lebih pendek 17 cm dari pemuda itu.

"Sejak kapan? Sejak beberapa menit yang lalu. Dan aku sudah memanggilmu beberapa kali tapi kau tidak mendengarnya. Sebenarnya apa sih yang kau dengarkan sampai kau tidak menyadari keberadaanku,"tutur Taufan kesal. Ia lalu memakai headphone Yaya, namun beberapa detik kemudian ia langsung melepasnya lalu menggosok-gosokan telinganya menggunakan telapak tangannya. "Kamu ini gila ya? Kamu ingin merusak telingamu dengan mendengarkan lagu rock sekeras itu?" tanya Taufan dengan nada tinggi dan terkejut.

"Bukan urusanmu," jawab Yaya dengan nada dingin. "Kembalikan headphone-ku." Ia kemudian meraih headphone-nya di tangan Taufan, namun Taufan kembali meninggikan headphone itu.

"Tidak boleh. Kamu tidak boleh mendengarkan lagu-lagu ini. Mendingan sekarang kamu ikut aku, puncak acara akan segera dimulai dan kamu malah mendengarkan lagu tidak jelas disini," ujar Taufan sedikit kesal.

"Kau ini kenapa? Cepat kembalikan headphone-ku. Aku tidak mau ikut acara itu," bentak Yaya seraya berusaha mengambil headphone-nya.

"Kamu yang kenapa? Aku tidak akan mengembalikan headphone ini," balas Taufan berusaha menjauhkan headphone itu dari pemiliknya.

"Kembalikan…"

DUAARR…DUARRR…DUAAAARRR…

"AAARRHHH…"

Suara kembang api menggelegar disusul oleh suara teriakan seseorang. Sepertinya puncak acara telah dimulai. Tapi tunggu!

Suara teriakan?

Suara teriakan itu datang dari seorang gadis yang saat ini tengah menutup kedua telinganya dengan erat menggunakan telapak tangannya. Ia duduk dengan kaki menekuk kedua kakinya. Tubuhnya bergetar ketakutan.

Taufan mengerutkan keningnya. Ia bingung melihat Yaya yang tengah ketakutan, ia juga terkejut mendengar teriakan kencang Yaya. Ya, orang yang tadi berteriak adalah Yaya.

DUAARR…DUARRR…

"AARRHHH.. TIDAK…BERHENTI…hiks.."

Suara kembang api kembali terdengar. Yaya kembali berteriak dengan kencang. Tubuhnya semakin bergetar dan ia semakin erat menutup telingannya. Air mata mengalir dipipinya. Membuat Taufan terkejut karna baru kali ini melihat Yaya menangis.

"Yey… kita bermain kembang api di rumah."

"Hati-hati memainkannya ya."

"Sini, biar kakak saja yang menyalakannya."

"Tidak mau. Aku juga ingin menyalakannya."

"Ya sudah sini. Biar papah saja yang menyalakannya."

Berbagai suara melayang dipikiran Yaya, membuat ia semakin menutup telingannya. Ia terlihat sangat ketakutan. Air mata terus mengalir dari pipinya. Ia lalu memejamkan matanya erat.

"Yaya, kamu kenapa? Kenapa kamu menangis?" tanya Taufan panik sekaligus khawatir. Ia tidak tega dan cemas melihat Yaya. Ia memegang kedua pundak gadis itu, berharap ia akan menatapnya namun Yaya enggan membuka matanya.

DUAARRR…DUARR…

"AARRHHH…JANGANN… KU MOHON BERHENTI…"

"Siapa kalian? Dan mau apa kalian?"

"PAPAH…MAMAH…"

"ADEEKK…"

"Apa yang kalian lakukan pada keluargaku?"

"Jangan…Pergi… tolooongg…"

BRAK

"Hahahaha… Permainan selesai"

Kembali. Berbagai suara-suara mengiang ditelinga Yaya. Suara-suara yang tidak ingin ia dengar. Suara-suara yang membuat ia semakin ketakutan.

"Tolong berhenti.. ku mohon…hiks.." lirih Yaya dengan air mata yang telah banyak mengalir dari matanya.

"Berhenti?" Taufan kemudian melihat percikan kembang api yang masih dinyalakan dengan suara menggelegar lalu ia melihat kearah Yaya yang masih ketakutan. Beberapa saat kemudian ia menyadari satu hal. Kedua matanya membulat. "Ayo kita pergi dari sini," ajaknya seraya membantu Yaya untuk pergi dari tempat itu. Pergi ke tempat yang tidak ada kembang api.

.

.

.

Seluruh yang ada di dunia ini tidak ada yang sempurna, karna Kesempurnaan hanyalah milik-Nya. Termasuk manusia yang merupakan tempat salah dan dosa. Sehebat apapun, sekuat apapun, sepintar apapun, tetap saja manusia tidak bisa dikatakan sempurna. Karna ia pasti pernah melakukan kesalahan.

Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dibalik kekurangan seseorang pasti ada kelebihan. Begitupun sebaliknya, dibalik kelebihan seseorang pasti ada kekurangan. Terkadang orang yang kita anggap hebat justru memiliki kekurangan yang mengejutkan. Balik lagi, karna manusia memang tidak sempurna.

Taufan tidak pernah menyangka. Ternyata gadis yang selama ini ia anggap hebat dan kuat justru mempunyai ketakutan akan hal yang sepele. Gadis itu seperti seorang gadis biasa yang lemah. Hati Taufan mencelos begitu melihat gadis itu ketakutan bahkan ia juga menangis. Ketika ia tau penyebabnya, ia langsung bertekad untuk melindungi gadis itu. Maka dari itu ia langsung membawanya pergi.

Saat ini jam sudah menunjukan pukul dua pagi. Kemeriahan perayaan tahun baru sudah mulai selesai. Disebuah tempat yang sepi. Sangat sepi sehingga hanya terdengar suara-suara binatang malam dan hembusan angin. Terlihat sepasang remaja yang tengah duduk disebuah bangku panjang.

Sang pemuda menatap sang gadis disamping. Gadis yang kini tengah berhenti menangis. Gadis yang kini tengah menatap kedepan dengan pandangan kosong. Hening. Tidak ada pembicaraan apapun antara mereka. Beberapa saat kemudian, sang pemuda mulai jengah dengan suasana hening ini.

"Maaf ya. Aku benar-benar tidak tau, kalau kamu takut kembang api. Aku sungguh menyesal karna memaksamu untuk ikut acara ini. Aku sungguh minta maaf," tutur sang pemuda memulai pembicaraan.

Mereka berdua tak lain adalah Taufan dan Yaya. Ketika mengetahui apa yang membuat Yaya ketakutan, Taufan memutuskan untuk membawanya pergi ke tempat yang tidak ada kembang api. Cukup sulit menemukannya. Karna hampir disetiap tempat ada pesta kembang api. Hingga akhirnya meraka sampai disini, sebuah taman kecil yang jauh dari keramaian perayaan kembang api. Ia berusaha untuk menenangkan Yaya yang masih ketakutan, meski sulit namun usahanya berhasil. Tetapi setelah itu, Yaya terdiam dengan pandangannya yang kosong.

Perlahan Yaya menoleh kesampingnya, tepatnya menoleh kearah Taufan yang berada disampingnya. Manik hazel yang biasanya memandang tajam, sekarang memandang dengan sayu dan kelopak mata yang sedikit sembab. Wajah yang biasanya selalu datar dan beraura dingin, kini dipenuhi kesedihan dengan aura yang membuat orang yang melihatnya miris dan pilu.

Taufan tidak tega melihatnya seperti ini. Ia lebih baik melihat wajah datar dan pandangan tajamnya daripada wajah kesedihan dan pandangan sayunya. Ia kasihan melihatnya.

"Tidak, aku yang salah. Seharusnya dari awal aku sudah tau jika hal seperti ini akan terjadi. Aku terlalu bodoh dengan memaksakan diri." Yaya menundukan kepalanya. Ia memejamkan matanya erat seraya menggigit bibir bawahnya untuk menahan agar tidak ada lagi air mata yang keluar.

"Jangan menyalahkan dirimu seperti itu. Aku tidak tega melihat kamu seperti ini. Kamu gadis terhebat yang pernah aku temui," ujar Taufan berusaha menghibur Yaya.

Yaya mendongkak dan menoleh pada Taufan kemudian ia tersenyum tipis.

Taufan membalasnya dengan senyuman manisnya. "Eemmhh.. jika kamu tidak keberatan, kamu bisa tidak menceritakan kenapa kamu takut kembang api?" tanya Taufan dengan hati-hati.

Yaya terdiam. Senyumannya menghilang, tergantikan dengan wajah sendu-nya. Taufan panik dan merasa bersalah.

"Maaf… kalau aku membuatmu sedih, kalau kamu memang tidak mau menceritakannya, tidak apa-apa," ucap Taufan dengan wajah bersalahnya.

Yaya menggeleng. "Tidak. Mungkin ini saatnya aku berbagi kisah ini pada orang lain." Ia lalu tersenyum manis pada Taufan, sesuatu yang baru kali ini ia lakukan setelah kejadian itu. Kejadian dimana hidupnya berubah.

.

.

.

FLASHBACK ON

Disebuah rumah yang bisa dikatakan mewah terlihat sebuah keluarga yang tengah mengadakan sebuah pesta kecil di halaman belakang rumahnya. Keluarga yang terdiri dari sepasang suami-istri berusia tiga puluh tahunan serta satu anak perempuan berusia sembilan tahun dan satu anak laki-laki berusia lima tahun. Mereka terlihat bahagia.

Terlihat sang ibu yang tengah menyiapkan makanan dan minuman pada sebuah meja sedang, dibantu oleh sang ayah. Sedangkan kedua anak mereka tengah sibuk dengan berbagai kembang api. Kembang api? Ya, mereka memang sedang mengadakan pesta kembang api untuk menyambut tahun baru.

Mereka sengaja menyambutnya dirumah dengan mengadakan sebuah pesta kecil keluarga. Keadaan sangat sepi karna tetangga sekitar sedang pergi menyambut tahun baru di luar rumah. Mungkin hanya keluarga ini yang merayakan tahun baru dirumah.

"Yey… kita bermain kembang api di rumah," seru anak laki-laki itu riang.

"Iya, ini menyenangkan sekali," balas sang anak perempuan dengan tak kalah riang. Ia sangat cantik dengan gaun selutut berwarna merah muda serta hiasan bando yang juga berwarna merah muda di rambut lurus sebahunya.

"Hati-hati memainkannya ya," ujar sang ibu lembut. Dengan senyuman manisnya.

"Oke mah," balas keduanya serempak.

"Sini, biar kakak saja yang menyalakannya," ujar anak peremupan itu seraya merebut kembang api yang dipegang adiknya, namun sang adik dengan cepat menjauhkannya.

"Tidak mau. Adek juga ingin menyalakannya," balas sang adik yang menyembunyikan kembang api dibalik tubuhnya.

"Biar kakak saja. Kamu itu masih kecil, tidak boleh menyalakan kembang api," tutur sang kakak kesal.

"Tidak mau…"

"Eh kenapa bertengkar? Sesama saudara itu tidak boleh bertengkar," tutur sang ibu.

"Ya sudah sini. Biar Papah saja yang menyalakannya." Sang ayah menghampiri kedua anaknya lalu mengambil kembang api dan menyalakannya.

Kedua anaknya gembira melihat percikan kembang api di angkasa. Mereka takjub melihatnya. Namun tiba-tiba…

"Wah… Keluarga yang harmonis." Sebuah suara asing menghentikan kegembiraan mereka.

"Siapa kalian? Dan mau apa kalian?" tanya sang ayah yang terkejut ketika melihat tiga orang pria asing bertubuh tinggi besar tiba-tiba muncul dalam rumah.

"Siapa? Itu tidak penting. Oh dan kalian ingin tahu kami mau apa? Tentu saja kami ingin semua harta kalian. Jadi apakah kalian mau memberikannya?" tanya salah seorang pria, yang sepertinya pemimpin mereka. Kedua pria yang lain menimpali dengan tawa meremehkan.

"Jangan pernah berharap aku akan memberikannya perampok brengsek," umpat sang ayah. Sebisa mungkin ia melindungi istri dan anak-anaknya.

"Owh.. baiklah berarti kau memintaku untuk bertindak kasar." Pria itu menyeringai licik. "Kerjakan tugas kalian," perintah ia pada kedua anak buahnya.

"Baik Bos." Keduanya menjawab dengan serempak.

Mereka lalu menghampiri sang ayah. Mereka terlibat pertaruangn yang sengit, meski kalah jumlah namun sang ayah tampak menguasai pertarungan. Tetapi tanpa diduga seorang dari perampok secepat kilat langsung menusukan sebuah belati tepat di jantung sang ayah. Membuat sang ayah terkapar seketika dengan darah tercecer dari tubuhnya.

"PAPAHH…" teriak sang ibu begitu melihat suaminya dibunuh didepan matanya sendiri. "Brengsek.. kenapa kalian membunuh suamiku?" amarahnya dengan air mata yang telah membasahi wajahnya.

"Kenapa? Karna ia tidak mau memberikan hartanya padaku. Jadi itulah akibatnya," kata si pria dengan santainya.

"Bajiangan kau…" sang ibu pun menghampiri si pria dengan amarah, namun salah satu anak buah pria itu tiba-tiba mencekik lehernya membuat ia kesulitan bernafas. Sang ibu berusaha memberontak, namun tenaga orang itu jauh lebih besar darinya. Hingga beberapa saat kemudian tubuh sang ibu terkulai dan jatuh ke tanah dengan nyawa yang telah tiada.

"PAPAH…MAMAH…" teriak kedua anak mereka dengan histeris. Bagaimana tidak, mereka melihat dengan jelas bagaimana orangtua mereka dibunuh.

"Habisi mereka," perintah si pria kembali. Dan kedua anak buahnya menganguk. Mereka langsung menghampiri kedua anak itu yang berlari ketakutan. Namun sang adik tiba-tiba terjatuh. Ia tak sempat bangun, karna kedua pria itu berhasil menangkapnya. Salah satu dari mereka membawa sang adik yang terus meronta sekuat tenaganya, meskipun itu adalah usaha yang sia-sia karna tenaga orang itu pasti jauh lebih besar darinya.

"ADEEKK…" teriak sang kakak melihat adik satu-satunya tengah dibawa oleh perampok itu.

Orang itu melemparkan sang adik ke kolam renang dewasa dengan kasar. Sang adik yang tidak bisa berenang, bergerak terus menerus. Hingga akhirnya sang adik berhenti bergerak, tubuhnya melayang pada permukaan air, tanda bahwa tubuh itu sudah tidak bernyawa.

"Apa yang kalian lakukan pada keluargaku? Hiks..hiks.." lirih sang kakak melihat seluruh anggota keluarganya telah dibunuh didepan matanya.

"Tidak ada. Hanya mengirim mereka ke akhirat. Kau juga ingin ikut mereka bukan? Baiklah, om akan membantumu," tutur si pria yang kemudian mengejar sang kakak.

"Jangan…Pergi… tolooongg…" teriaknya ketakutan sambil berlari secepat yang ia bisa. Namun pria itu berlari jauh lebih cepat dari gadis kecil itu.

BRAK

Suara itu begitu kencang. Suara yang berasal dari benturan kepala pada tembok. Kepala si gadis kecil yang terpental akibat tendangan kesar dipunggungnya oleh si pria. Ia langsung tak sadarkan diri dengan darah mengalir dari kepalanya.

"Hahahaha… Permainan selesai." Tawa si pria yang diikuti oleh kedua anak buahnya. "Kalian, ambil semua barang berharga di rumah ini. Sekarang," perintahnya kembali, yang langsung dituruti oleh mereka berdua. Lalu si pria mengambil handphone di saku celananya kemudian menghubungi seseorang. "Tugas selesai."

FLASHBACK OFF

.

.

.

"Jadi, yang selamat cuma kamu?" tanya Taufan setelah Yaya selesai bercerita.

Yaya mengangguk. "Aku hanya mengalami gegar otak ringan. Saat ini aku sempat menahan menggunakan tanganku, jadi benturannya tidak terlalu keras. Hanya menyebabkan sedikit luka dan sedikit goncangan otak," jelas Yaya. Taufan hanya mengangguk mengerti.

"Lalu perampok itu bagaimana? Mereka sudah dilaporkan ke polisi?"

Yaya mengangguk. "Mereka di penjara seumur hidup. Dan mereka bukan perampok, mereka hanya orang suruhan dari orang yang membenci ayahku. Mereka di perintahkan untuk membunuh seluruh anggota keluarga ayahku dengan berpura-pura sebagai perampok, dan mereka semua sudah berhasil ditangkap" jelas Yaya.

Taufan mengangguk mengerti. "Jadi karna itu kamu takut kembang api," gumam Taufan lirih.

"Bukan kembang api yang membuatku takut, tapi kejadian itu yang membuatku takut. Aku tidak ingin mengingatnya, dan kembang api mengingatkanku pada kejadian itu," lirih Yaya seraya memejamkan matanya, barusaha agar ia tidak menangis.

"Maaf ya, seharusnya aku tidak memaksamu ikut acara itu," ucap Taufan merasa bersalah.

"Tidak apa. Justru sekarang aku merasa lebih lega bisa menceritakannya padamu. Selama ini aku selalu memendam cerita ini, bahkan kakek ku saja tidak tau cerita pembunuhan itu sebenarnya," tutur Yaya seraya tersenyum tipis.

"Apa kejadian itu ada hubungannya dengan sikap kamu yang anti-sosial?" tanya Taufan sambil menatap Yaya dengan tatapan keingintahuan.

"Ya, bisa dibilang begitu. Kamu ingat tentang warna hitam dan merah yang menggambarkan hidupku?" tanya Yaya memberi jeda pada Taufan untuk merespon. Taufan hanya memberi respon dengan anggukan kepalanya.

"Merah. Warna yang melambangkan keberanian. Aku harus menjadi orang yang berani. Aku tidak ingin ketakutan seperti dulu dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk melawan perampok brengsek itu. Makanya sejak saat itu aku bertekad untuk bisa beladiri, aku tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi. Aku ingin melawan mereka bukan berlari ketakutan seperti dulu." Yaya berhenti sesaat, sebelum ia kembali melanjutkan. "Warna hitam, menggambarkan hidupku yang gelap, suram, tidak berwarna. Hidupku yang hancur dan menyeramkan. Hidupku yang sepi, tidak bahagia seperti dulu. Tidak ada lagi orangtua dan adik, hanya kakek keluargaku satu-satunya." Yaya mengakhiri perkataannya dengan sebuah senyuman kecut.

"Masih ada aku. Aku akan selalu ada disamping kamu, kapanpun dan dimanapun. Karna kita teman, oh salah maksudku sahabat," ujar Taufan dengan senyuman manisnya.

"Terimakasih," balas Yaya singkat juga tersenyum.

"Sebenarnya aku berharap lebih dari sahabat, kekasih mungkin," gumam Taufan dengan suara pelan, namun sepertinya masih di dengar oleh Yaya.

"Apa katamu?" tanya Yaya seraya memicingkan matanya menatap tajam Taufan.

"Tidak. Tidak apa-apa," jawab Taufan dengan cengiran lebarnya. Yaya masih memicingkan matanya, ragu akan perkataan Taufan. Namun ia tidak terlalu memperdulikannya.

"Lihat deh, bulannya indah ya!" seru Taufan seraya menunjuk bulan yang bersinar terang dilangit.

Yaya mengikuti arah pandangan Taufan, ia tersenyum melihat bulan. Lalu ia berdiri dan melangkah maju. Ia menatap bulan dengan senyuman manis yang jarang ia perlihatkan.

"Kau menyukai bulan?" tanya Taufan yang menatap bulan dengan senyuman.

"Ya. Kata mamah, aku harus seperti bulan, meski sendiri tapi dia tetap setia menerangi gelapnya malam. Tapi aku malah terpuruk dan kehilangan semangat hidup ketika sendiri," tutur Yaya dengan murung.

Taufan bangkit dan berdiri disamping Yaya. Ia tersenyum menatap Yaya. "Kenapa kamu tidak menuruti perkataannya? Kembali bersinar," ujar Taufan menatap Yaya lembut.

"Entahlah… apa aku bisa? Aku cuma gadis menyeramkan yang dijauhi semua orang," ucap Yaya pesimis.

"Jangan pesimis. Aku yakin kamu bisa, karna kamu gadis hebat. Kamu harus buktikan pada semua orang kalau kamu bukan gadis menyeramkan yang harus dijauhi," tutur Taufan mantab seraya tersenyum.

Yaya tersenyum membalasnya. Lalu mereka kembali melihat bulan bersama.

Ambilkan bulan bu Ambilkan bulan bu

Yang selalu bersinar di langit

Yaya terlonjak mendengar Taufan bernyanyi. Ia langsung menoleh padanya. "Lagu itu…" lirih Yaya terhenti.

Taufan sedikit tersentak. "Eh… maaf, aku seperti anak kecil ya menyanyi lagu seperti itu? Hehe." Ia menggaruk pipinya yang tidak gatal sambil tersenyum malu. "Habisnya melihat bulan aku jadi ingat lagu kesukaanku waktu kecil. Hehehe, jadi malu aku," tutur Taufan dengan wajah malu.

Tiba-tiba Yaya memeluknya, membuat ia membatu seketika. Terdengar isakan tangis dibahunya, siapa lagi kalau bukan isakan tangis Yaya. Tapi kenapa gadis ini menangis. Taufan mulai panik dan cemas.

"K..Kamu kenapa? Kenapa nangis? Kembang api-nya kan sudah tidak ada, atau ada perkataanku yang salah? Aduh.. tolong jangan menangis, aku suka panik jika melihat perempuan menangis." Taufan benar-benar panik dibuatnya. Yaya tetap memeluknya erat dan menangis dibahunya.

"Tolong.. nyanyikan lagi lagu itu untukku, ku mohon.." pinta Yaya tanpa melepaskan pelukannya pada Taufan.

Eh, menyanyi? Lagu apa?

"Maksudmu lagu 'Ambilkan bulan bu'?" tanya Taufan tekejut sekaligus bingung. Ia kemudian merasakan Yaya mengangguk dibahunya. Meski ia tidak mengerti kenapa Yaya memintanya menyanyikan lagu itu, namun ia tetap menurutinnya. Ia balik memeluk Yaya dan mengelus lembut rambut Yaya yang tergerai.

Ambilkan bulan bu Ambilkan bulan bu

Yang selalu bersinar di langit

Di langit bulan benderang

Cahya-nya sampai ke bintang

Ambilkan bulan bu Ambilkan bulan bu

Yang selalu bersinar di malam gelap

(TASYA KAMILA)

.

.

.

Disini kembali ke Prolog. Jadi setahun kemudian. Kalo gak ngerti, kalian bisa baca prolognya dulu, baru baca ini…

.

.

.

Taufan sangat senang melihat Yaya telah berubah. Ia yang dulu dingin dan anti-sosial sekarang berbalik menjadi ramah dan memiliki banyak teman. Ia yang ditakuti banyak orang sekarang justru disukai banyak orang. Perubahan yang drastis bukan?

Setahun yang lalu, tahun baru yang berkesan bagi Taufan. Ia mengetahui kelemahan gadis itu dan bagaimana masa lalu suram yang mengubah hidupnya. Namun bersinar seperti bulan walau sendiri menjadikan gadis itu kembali menjadi gadis ramah dan ceria.

Taufan bahagia bisa menjadi sahabat terdekat Yaya. Tapi sekarang ia menyadari satu hal. Satu hal yang membuat ia ingin menjadikan Yaya lebih dari sahabat. Mungkin benar kata orang bahwa…

Persahabatan laki-laki dan perempuan tidak akan pernah terjalin baik, karna cepat atau lambat CINTA akan ada diantara mereka.

Awalnya Taufan menyangkal pernyataan itu, namun sekarang ia mempercayainya. Karna ia merasakan sendiri bagaimana kebenarannya. Dan sekarang ia ingin mengubah status persahabatan itu menjadi…

"Yaya, kamu mau gak jadi pacar aku?"

Seluruh orang di kelas terdiam. Menghentikan aktifitas-nya masing-masing. Semua pandangan tertuju pada Taufan dan Yaya. Suasana hening, semuanya masih terdiam berusaha mencerna perkataan lugas Taufan.

"APA?" Yaya yang pertama kali menyuarakan rasa terkejutnya. Ia menatap Taufan tak percaya sekaligus terkejut.

"Ciee…. Suit..suit…"

"Terima…terima…terima.."

Kelas yang awalnya damai menjadi ramai saat mereka berhasil mencerna perkataan Taufan. Suara siswa-siswi kelas XII 1 bersorak kata 'terima'. Taufan tersenyum manis pada gadis didepannya yang saat ini masih memasang wajah terkejut dengan pipi memerah. Tersipu malu sepertinya.

KRINGG…KRING…KRING…

Suara bel menghentikan aksi ramai itu disertai gerutuan kecewa. Taufan mendengus kesal. Ia merutuki bel yang berbunyi disaat yang tidak tepat. Namun…

"Aku mau." Seseorang berbisik ditelingannya. Ia tersenyum mendengarnya. Tanpa menoleh pun ia tau siapa yang berbisik. Dan kata 'sahabat' itu pun berubah.

.

.

.

TAMAT

.

.

.

Chapter terakhir selesai…

Akhirnya selesai juga fic ini. Maaf ya publish nya lama. Saya lagi bingung pilih-pilih kampus. Jadi gak sempet buat lanjutin fic ini…

Chapter ini kayaknya alur-nya terlalu cepat ya. Saya kurang bisa bikin alur lambat, maaf kalo ada yang gak suka. Maaf juga kalo ada yang kecewa sama alur ceritanya. Dan disini ada omake nya…

.

.

.

OMAKE

.

.

.

Suasana begitu sunyi, hanya terdengar bunyi hembusan angin. Langit semakin menggelap. Namun sinar rembulan sedikit mengurangi kegelapan. Rembulan yang bulat sempurna sungguh indah dipandang. Membuat seorang anak perempuan manis terkagum. Ia tengah menatap sang rembulan dengan pandangan takjub dan senyuman manis.

"Yaya! Kamu sedang apa? Kok belum tidur?" tegur seorang wanita paruh baya. Yang sepertinya merupakan ibu anak itu.

"Sedang melihat bulan mah, indah sekali. Yaya juga tidak bisa tidur," jawab anak itu seraya tersenyum menatap ibunya.

Sang ibu lalu menghampiri anaknya. Mereka saat ini sedang ada di taman rumah mereka. Sang ibu duduk disamping putrinya kemudian mengusap rambutnya dengan lembut. "Kamu besok kan sekolah, jadi harus tidur sekarang. Kalo tidak nanti besok bisa terlambat bangun," ujar sang ibu sambil tersenyum manis.

"Tapi bulannya indah mah," ucap gadis bernama Yaya tersebut sambil menatap bulan. Sepertinya ia enggan melewatkan pemandangan indah ini.

"Ya sudah kalau begitu." Sang ibu akhirnya pasrah akan keinginan sang anak. Sang anak tersenyum mendengarnya. "Kamu juga harus seperti bulan!" seru sang ibu tiba-tiba membuat Yaya menoleh kearahnya dengan pandangan heran.

"Maksud mamah?" tanya Yaya tidak mengerti.

"Walaupun bulan sendiri. Tapi dia tetap setia menyinari bumi saat malam. Kamu harus seperti bulan, ketika kamu sendiri kamu harus tetap bersinar," tutur sang ibu sambil tersenyum manis. Sang anak pun tersenyum manis pada ibunya.

"Iya. Aku akan seperti bulan. Tetap bersinar walau nanti aku sendiri." Sang anak tersenyum bangga setelah mengucapkan kalimat itu.

Sang ibu tersenyum lalu menarik sang anak dalam dekapan hangatnya. "Kamu mau tidak mamah nyanyikan tentang lagu bulan?" tanya sang ibu lembut. Sang anak mengangguk antusias seraya tersenyum lebar menatap sang ibu, lalu menyamankan dirinya dalam dekapan sang ibu.

Ambilkan bulan bu Ambilkan bulan bu

Yang selalu bersinar di langit

Di langit bulan benderang

Cahya-nya sampai ke bintang

Ambilkan bulan bu Ambilkan bulan bu

Yang selalu bersinar di malam gelap

Sang anak pun tertidur dalam dekapan sang ibu. Sang ibu tersenyum melihat wajah damai anaknya. Lalu ia mengecup keningnya kemudian membawanya kedalam rumah.

.

.

.

Beneran selesai…

Makasih untuk semuanya yang udah review, fav sama follow. Makasih yang udah ngasih kritik dan saran. Pokok-nya terimakasih banyak yang sudah mendukung fic ini. Saya benar-benar senang...

Saatnya balas review…

Luna : hehe… iya. Makasih sudah review

Meltavi011003 : iya gak papa. Salam kenal juga. Makasih.. iya cuma tiga chapter. Untuk gaya bahasa, emang aku kurang bisa bahasa semi-formal kayak gini. Aku biasa bikin cerpen pake 'loe – gue' hehe. Untuk alur emang sengaja cepet, aku juga kurang bisa alur lambat. Maaf kalo kamu kurang suka. Makasih semangatnya dan dukungannya. Makasih juga udah nyempetin review

Fancy Candy : wah… aku pikir malah banyak yang gak suka Yaya kayak gitu. Maaf ya gak bisa update kilat. Salam kenal juga Candy. Jangan panggil Karisma, panggil Anna aja. Karisma cuma nama yang aku ambil dari Bisma Karisma SMASH idola aku. Hehe… Makasih udah review

Annisa Arliyani Wijayanti : hehe iya.. tapi sekarang mereka temenan. Emang aku ngambil dari sifat Halilintar, bedanya ini cewek. Silahkan tebak sendiri yang mengejutkan apa. Udah dilanjut. Makasih udah review

blackcorrals : gak usah jingkrak-jingkrak nanti jatoh lagi. Hehe… aku baru sadar lho pas baca review kamu kalo Yaya emang agak tsundere. Hehe… iya maaf banget, aku kurang teliti. Emang awalnya 'Hanna' nama Yaya versi bahasa Inggris, tapi karna takut banyak yang gak suka aku ganti jadi Yaya aja. Gak papa kok, aku malah seneng kalo ada kritik saran, jadi bisa aku perbaiki. Makasih semangat-nya. Dan makasih juga udah review

guest1 : iya ini Tau-Ya. Ini udah dilanjut. Makasih udah review

tasha : ini udah dilanjut. Makasih udah review

guest2 : makasih udah di bilang oke. Nama awalnya 'Hanna' tapi aku ganti pake 'Yaya'. Maaf bikin kamu bingung. Makasih udah review

Nurul2001 : iya… ini chapter terakhir. Ini sudah dilanjut. Makasih udah review

Hanna Yoora : ini udah dilanjut. Kita paling Cuma beda setahun, aku baru 17 jalan, panggil Anna aja gak papa. Wahh.. aku seneng banget fic ini jadi favorite kamu.. kamu bisa liat reaksi-nya diatas..hehe.. makasih semangatnya. Salam manis juga.. makasih udah review

Christy LP : masa sih? Tau-Ya itu pair favorite aku setelah Hali-Yaya. Salam kenal juga Christy. Maaf gak bisa update kilat. Makasih udah review

Kansa : iya, disini Yaya-nya OOC banget. Udah dilanjut, makasih udah review

Kim Song Yun : iya Taufan berhasil jadi temen Yaya. Silahkan tebak yang mana yang mengejutkan. Sebenernya ak terlalu mengejutkan juga sih. Maaf gak bisa cepet. Tapi ini udah di lanjut, salam kenal juga Kim. Kamu cowok atau cewek? Hehe. Makasih udah review

Guest3 : ini udah dilanjut. Makasih udah review

Rizki5665 : gak papa. Iya aku emang ngambil sifat Yaya dari Halilintar. Hehe… makasih udah bilang terbaik. Makasih juga udah review

Guest4 : Makasih dibilang keren. Iya chapter kemarin, Taufan-nya terkesan lemah ya, tapi chapter ini kayaknya Taufan keliatan laki deh.. hehe. Maaf gak bisa update kilat. Makasih udah review

Edelweiss Lee : Tenten di anime Naruto ya? Aku juga suka Naruto *gaknanya. Iya Yaya-nya OOC banget. Tapi emang sih Yaya kan emang ditakutin. Wah… aku gak nyangka ternyata banyak yang suka Tau-Ya. Makasih semangatnya dan makasih juga udah review

Sekali lagi makasih semua atas dukungannya..

Sampai jumpa di fic aku yang lainnya..

Pesan aku TERUSLAH BERKARYA. JANGAN PLAGIAT. HARGAI KARYA ORANG LAIN, KALO KALIAN PENGEN KARYA KALIAN DI HARGAI JUGA SAMA ORANG LAIN…

Oh ya satu lagi..

SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA BAGI UMAT MUSLIM (termasuk aku)…

SEMOGA DI BULAN YANG SUCI INI KITA SENAN TIASA DALAM LINDUNGAN ALLAH S.W.T. AAMIIN…

Sampai Jumpa…

KRITIK DAN SARAN sangat dibutuhkan..

Terimakasih sudah baca