Clek!

Sakura mengunci pintu. Dengan malas Pain menoleh ke sumber suara, espresi malasnya hilang seketika melihat Sakura. Pain sampai harus menahan ludah berkali-kali menahan libidonya yang langsung naik. "Jangan tergoda-jangan tergoda, tahan Pain. Dia sedang menggodamu." Batinnya. Pain mengambil napas berkali-kali menahan gairahnya yang membuncak melihat Sakura yang hanya memakai kemeja kebesaran miliknya. Dia kembali mengatur napas saat Sakura duduk di sampingnya, semakin lama semakin dekat. Bibir Sakura mendekati telinga Pain membuat pria itu kembali mengambil napas dalam-dalam. "Fokus Pain, Fokus!"

.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto. Sejelek dan senistanya fic ini tolong jangan benci Pair/Chara di dalamnya.

.

.

.

Sakura naik ke ranjang dengan lambat dan sensual. Dia membuka satu kancing kemejanya, memberi ruang untuk Pain melihat bra berenda yang membungkus payudara montoknya. Pain kembali menahan napas, wajahnya sudah sangat merah seperti kepiting rebus, sesuatu yang besar menonjol diantara selangkangannya. "Fokus. Fokus. Fokus." Pria itu tidak berhenti menjeritkan kata-kata Fokus dalam hatinya. Tidak sampai disitu, Sakura menggigit bibir bawahnya menatap Pain dengan tatapan polos yang sexy. Pain berusaha sekuat tenaga menahan libidonya saat Sakura menggeser laptopnya dan langsung duduk dipangkuannya. Samar-samar ia mendengar istrinya mendesah pelan. Sial! Kenapa Sakura begitu menggoda dengan desahan kecilnya.

"Kau mau apa?" Suara Pain lebih terdengar seperti bisikan yang serak. Oh sial!

Bukannya menjawab pertanyaan suaminya Sakura malah mengubah posisi duduknya hingga daerah terintim miliknya menekan kejantanan Pain.

"Akh!" Pain tidak bisa menahan desahannya saat kejantanannya bergesekan dengan celana dalam Sakura. Dia semakin mendongak dan mendesah kecil saat tangan Sakura aktif mengelus dadanya yang masih tertutupi kaus putih polos dengan gerakkan naik turun yang sensual.

Sakura tersenyum melihat Pain yang kini mendongak dengan kedua mata terpejam menikmati sentuhannya, dan dengan sengaja Sakura menghembuskan napas pelan keleher Pain, membuat pria itu semakin tegang dan tegang.

Ouh! Sial!

Pain sedikit membuka mata melihat Sakura yang sedang mempermainkannya. Tanpa berpikir dua kali Pain mengangkat tubuh Sakura lalu membantingnya kasar.

"Kyah!" Pekik Sakura kaget.

Pain mendengus sebentar, jangan harap Sakura bisa mempermainkannya. Hanya dia yang boleh bermain disini. Dia menyeringai. Sakura yang kini dalam kungkungan tubuh besar dan tegap Pain hanya bisa meringis melihat seringai suaminya.

Pain melumat bibir Sakura dengan sangat rakus, dan menggigitnya gemas.

"Akhh..." Sakura mendesah membuat Pain semakin ingin cepat menelanjanginya.

Saat Pain akan kembali mencumbu Sakura, Sakura melilitkan tangannya di leher Pain dan menariknya semakin dekat. Menciumi kulit leher pria itu, dan menghisap Jakunnya.

"Akh! Sakurahhh..." Pain mendesah dan menggeram secara bersamaan. Dia balas menciumi pipi Sakura lalu turun keleher dan kembali naik kedaun telinga wanita itu, melumat dan menghisapnya.

"Anhh... Anathaaa..." Desah Sakura. Kedua tangannya tidak tinggal diam, meremas-remas rambut Pain membuat pria itu semakin menghisap dan mengulum telinganya lapar.

"Kau yang memulai Sakurahhh..." Bisik Pain serak disela mencumbu telinga dan leher Sakura.

Tubuh Sakura menggeliat dibawah tubuh Pain saat tangan-tangan nakal pria itu meremas payudaranya dan melepas satu-persatu kancing kemejanya.

Pain menatap Sakura buas, siap menerkam wanita itu tanpa ampun. Dia menjilat belahan dada Sakura, memainkan lidahnya diantara belahan dada Sakura yang menantang.

Pain melepas kaitan bra Sakura tak sabar, dan langsung menghisap salah satu buah terlezat didunia bagi kaum lelaki. Tangannya yang lain mulai meremas payudara Sakura yang menganggur.

"Anhh... Pain!" Sakura mendesah frustasi. Ia menekan kepala Pain semakin tenggelam didadanya. "Akhhh!" Sakura mendesah manja merasakan lumatan bibir Pain diputing kirinya, "Anhhh... Anatahhh" Dia sudah tidak tahan. Lumatan Pain diputingnnya benar-benar nikmat. Sakura menggeliat tak karuan di bawah tubuh Pain membuat pria itu semakin terangsang. Di tambah suara erangan manja yang mangalun indah bagai melodi membuat Pain semakin tidak tahan. Lumatan bibir Pain berpindah pada payudara kanan Sakura, sementara yang kiri kini dia remas-remas dengan kasar namun sensual.

"More, please..." Rintih Sakura melilitkan kedua kakinya di pinggul Pain, untuk membuat Pain merasa senang.

Pain menatap Sakura penuh cinta dan bergairah. "Hmm?"

"Please... Bite it, hard!" Desah Sakura. Karena Sakura tahu hanya ini satu-satunya cara membuat suaminya senang.

Pain tersenyum senang. Dia kembali melumat payudara Sakura. Menjilat, menghisap, dan menggigit putingnya.

"Akh! Pain sakit!"

Pain terkekeh. "Kau bilang 'Hard'"

Menangkup wajah Pain dengan kedua tangannya Sakura tersenyum, senang sekali rasanya melihat Pain kembali tertawa. Pain memejamkan mata, menggesek-gesekkan kulit wajahnya dibelaian tangan halus sang istri. Pain suka saat seperti ini, hanya berdua. Perhatian dan kasih sayang Sakura hanya tertuju untuknya. "Apa kau masih marah padaku?" Tanya Sakura hati-hati menatap langsung wajah Pain yang memejamkan mata.

Pain sedikit membuka mata, mengintip Sakura yang menatapnya penuh harap. Diam-diam dia tersenyum geli melihat espresi istrinya, apa dia sudah sangat keterlaluan? "Menurutmu." Seluruh tubuhnya menghangat merasakan pelukkan Sakura. Dada besar Sakura menggesek dadanya, dan tangan wanita itu memeluk lehernya. Pain tersenyum bahagia. Dia balas memeluk Sakura, mereka saling berpelukan di atas ranjang. Tubuh Pain menghimpit tubuh Sakura dibawahnya.

"Maaf..." Bisik Sakura.

"Untuk?"

"Kemarin malam."

"Kau sudah membayarnya malam ini, Anata." Pain kembali melancarkan aksinya, mencumbu lekukan leher Sakura lembut dan bergairah.

"Mhhh..."

Pain melepas kemeja Sakura pelan dan sensual tanpa melepaskan cumbuannya ditelinga wanita itu. Gerakkannya terhenti saat mengingat sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang. "Dimana Haru dan Izumiku?" Dia melepaskan lilitan kakinya ditubuh Sakura, membiarkan wanita itu duduk diranjang. Pain menatap Sakura cemas. Dimana Haru kecilnya? Kenapa tidak ada suara tangis Haru? Dan dimana Izumi? Copian dirinya. Biasanya si kecil Izumi suka bermain dikamarnya dan Sakura. Melompat-lompat diatas ranjang yang empuk sambil tertawa dan memanggil-manggil dirinya.

Sakura merapikan rambutnya kesamping, terlihatlah leher jenjangnya yang penuh ruam-ruam kemerahan. Wanita itu tersenyum lembut melihat wajah cemas Pain. "Karena kau marah, aku menitipkan mereka dirumah Kaa-san dan Too-chan."

Pain menarik Sakura dalam pelukkannya, menenggelamkan wajahnya dirambut merah muda Sakura yang harum. "Maaf... karena sudah bersikap egois."

Sakura duduk dipangkuan Pain. Menyandarkan kepala di dada bidang pria itu tangannya bermain dipipi kiri Pain, mengelusnya lembut. "Kita sama-sama salah." Pain menunduk menatap manik emerald sayu Sakura. "Harusnya, aku bisa membagi waktu untuk suami dan anak-anakku."

Pain mengecup pucuk kepala Sakura sayang lalu merubah posisi duduk wanita itu hingga kejantanannya menekan daerah Vital Sakura dibalik celana dalam. "Pagi-pagi sekali kita akan menjemput Izumi dan Haru." Bisiknya. Suaranya terdengar lebih seperti bisikan yang serak. Mulutnya kembali aktif menjilat dan mencium daerah leher Sakura. Tangan Pain di bawah sana tidak tinggal diam, mengusap daerah sensitif Sakura dari luar celana dalam. Pain melepas celana piyama, boxer, juga celana dalamnya saat dirasanya milik Sakura sudah cukup basah. Mengurut kejantanannya sebentar, dia lalu menarik celana dalam Sakura kesamping. Perlahan, Pain memasukkan kejantanannya kedalam diri Sakura.

"Anhh..." Sakura mendesah saat seluruh kejantanan Pain yang besar dan panjang memasuki dirinya.

"Argghhh..." Pain menggeram disela kegiatannya memompa Sakura dipangkuannya.

"Ouhh! Akhh... Anhh..." Sakura melepas kaus polos Pain disela desahannya lalu mencium dan menggigit bahu Pain pelan.

"Argghh... Saku!"

Wanita merah muda itu tersenyum nakal melihat tubuh kekar suaminya menegang. Tubuhnya bergunjang hebat saat Pain semakin mengocoknya lebih cepat dan dalam. Tapi, itu tidak membuat Sakura tinggal diam. Ia mengelus dada bidang Pain dengan gerakkan naik turun yang sensual, dan sesekali menggesekkan payudaranya sendiri kedada Pain.

Pain semakin geram. Dia menghentikan sejenak permainannya dan menatap Sakura. "Jangan menggodaku Saku! Atau aku..."

"Aku menggoda suamiku, apa itu salah?" Tanya Sakura sok polos.

"... Tidak bisa mengendalikan diriku sendiri." Dengan geraman penuh napsu Pain membalikkan posisi mereka. Napasnya berat dan memburu. Dia kembali mencumbu setiap lekuk tubuh Sakura, menciumi dan menggigit leher dan payudaranya bergairah. Dan kembali memacu kejantanannya lebih cepat dan dalam.

"Akkhhh!"

.

.

.

OoO

Mereka berbagi selimut diranjang yang sama, saling menatap penuh cinta satu sama lain. Kedua tangan mereka saling bertaut di balik selimut. Pain meremas lembut jemari Sakura dalam genggamannya, Membawa jemari lentik itu tepat di depan wajahnya lalu menciumnya lembut. Sakura tersenyum. Senyumnya semakin lebar saat bibir Pain menciumi satu persatu jemarinya.

Kryuuk!

Wanita merah muda itu menarik tangannya dari bibir Pain. Menutup mulut menahan tawa mendengar perut Pain yang bergemuruh seperti badai di tengah laut.

"Apa yang kau tertawakan, hm?" Kesal Pain. Wajahnya menekuk sebal melihat Sakura yang tidak berhenti tertawa.

Sakura berdehem sebentar sebelum bangun dari tempat tidur. Dia memungut kemejanya yang tergeletak dibawah ranjang. Selesai mengancingkan kemejanya dia menoleh kearah Pain yang bersandar di kepala ranjang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Wanita merah muda itu mendengus lalu melipat tangan di bawah dada. "Kenapa diam saja. Ayo!"

Pain mengernyit tidak mengerti. Dia terus memperhatikan Sakura yang kini menghilang dibalik pintu. Tak lama kemudian Sakura memanggilnya. "Pain!"

"Ya!" Malas-malasan Pain membuka selimutnya lalu turun dari ranjangnya yang hangat. Dia memungut celananya. Tanpa memakai celana dalam lebih dulu Pain memakai celana piyamanya lalu keluar kamar menyusul Sakura.

OoO

Pain diam ditempatnya berdiri memperhatikan Sakura yang sedang menyiapkan makanan dari lemari penghangat makanan. Di liriknya jam dinding yang ada di dapur. "02:56" dini hari.

"Kenapa berdiri disitu, ayo kemari. Kau mau makan apa?"

Sempat terdiam beberapa saat Pain mendekati Sakura. Memeluk Sakura yang sibuk mengeluarkan makanan dari lemari penghangat dari arah belakang, membuat wanita itu berhenti melakukan aktifitasnya. "Aku mau makan nasi dan kare saja." Melepaskan pelukkannya Pain mendekati meja dapur lalu memasukkan kembali makanan yang Sakura keluarkan kedalam lemari penghangat. Ini sudah hampir pagi, sudah waktunya untuk beristirahat, seperti tidur misalnya. Pain tidak mau Sakura sakit hanya karena dirinya.

"Baiklah." Sakura mengambilkan nasi dan semangkuk kare yang baru dia panaskan untuk Pain lalu menarik kursi untuk suaminya.

"Terima kasih." Ucap Pain tulus sambil mendudukkan diri dikursi yang Sakura siapkan.

Sakura tersenyum. "Sama-sama." Ucapnya seraya mendekati lemari pendingin. Dia mengeluarkan puding dari lemari pendingin lalu memotong kecil puding yang kemudian dia lumuri puding coklat itu dengan fla vanila.

Dari tempat duduknya Pain memperhatikan Sakura yang berdiri membelakanginya di meja bar dekat lemari pendingin. Satu suapan terakhir, makanannya habis. Pain membawa piring kotor dan mangkuk kare kebak khusus cuci piring lalu mendekati Sakura yang asik memakan cemilan pagi butanya. Pain memeluk Sakura dari belakang membuat Sakura sedikit tersentak kaget. "Pain."

"Mmm..." Dia menghirup leher Sakura yang bau keringat dan spermanya dengan kedua mata terpejam. "Aku mencintaimu." Bisiknya tepat ditelinga Sakura yang dibalas anggukan samar wanita itu.

"Aku tahu. Lain kali jangan ngambek seperti anak kecil lagi." Goda Sakura.

"Kau!" Kesal Pain. Sakura tertawa melihat wajah Pain yang sangat lucu baginya.

FIN