Incheon International Airport, South Korea
Pesawat jet milik angkatan udara Jepang mulai terbang rendah ketika memasuki langit Korea Selatan. Ikut di dalamnya, Atobe Keigo dan sedikitnya 20 personil tentara bersenjata lengkap. Mereka bertugas untuk mengamankan pendaratan jet pribadi Oshitari di bandara Incheon. Nantinya mereka juga akan dibantu oleh beberapa orang tentara dari Korea Selatan.
15 menit kemudian pesawat jet itu pun mendarat. Didampingi Kapten Yamaguchi dan 2 orang tentara, Atobe turun dari pesawat dan bersiap tidak jauh dari sana. Seorang pria terlihat berlari keluar dari terminal kedatangan. Dia mengenakan seragam petugas bandara lengkap. Dia menghampiri Atobe dan memberi hormat kepadanya. Dia berbicara dengan bahasa Jepang, "Selamat datang di Incheon, Atobe-san. Nama saya Lim Geonwoo."
"Apa kau sudah mendapat informasi dari jet pribadi Oshitari?" tanya Atobe.
"Mereka sedang memutar pesawat untuk mendarat. Sebentar lagi mereka akan masuk bandara. Pasukan pengaman sudah kami siapkan. Total semuanya ada 10 orang, termasuk di dalamnya 2 orang penjinak bom. Sesuai dengan permintaan Anda, Atobe-san."
"10 orang sudah cukup. Aku sendiri membawa 20 orang tentara, termasuk 3 orang penjinak bom. Aku tidak tahu bom macam apa yang dibawa oleh mereka. Yuushi bilang, tombol pemicu bom ada di ponsel si pembajak pesawat."
Tak lama mereka berhenti berbicara, pandangan mereka kemudian tertuju pada sebuah pesawat kecil tengah mendarat di landasan terbang. Pesawat itu kemudian berbelok dan mengarah ke hangar tempat Atobe dan para pasukan pengaman tengah bersiap. Komandan pasukan pengaman dari Jepang bernama Matsuda Kenji kemudian berbicara menggunakan pengeras suara kepada orang-orang yang ada di dalam pesawat itu, "Mohon dengarkan baik-baik suara saya. Para awak pesawat, silakan keluar lebih dulu."
Pintu pesawat terbuka dan tangga turun pun dipersiapkan. Yang pertama keluar adalah 2 orang pramugari. Keduanya tampak ketakutan ketika berjalan turun. 2 orang personil tentara dari Jepang langsung mengamankan keduanya ke dalam terminal kedatangan. Disusul kemudian Kapten Gerard dan Kopilot Lucas berjalan keluar dari pesawat dan langsung dibawa ke terminal kedatangan. Komandan Matsuda kemudian melanjutkan, "Keluarkan sandera kalian!"
Namun yang keluar pertama adalah James. Dia menggenggam pistol di tangan kanannya dan berseru kepada komandan itu, "Letakkan semua senjata kalian!"
"Keluarkan sandera kalian!" tegas Komandan Matsuda sekali lagi.
"Jika kalian tidak meletakkan senjata kalian, akan kutembak kepala Tuan Muda Oshitari! Jika kalian ingin dia selamat, letakkan senjata kalian!"
Nampaknya tidak ada pilihan lain. Mendengar ini, Atobe menoleh dan mengangguk kepada Komandan Matsuda untuk menyetujui permintaan James. Semua pasukan pun akhirnya meletakkan senjata mereka di tanah. James kemudian memberi isyarat kepada Oscar untuk membawa Oshitari keluar dari pesawat. Oscar menempelkan pistol ke tengkuknya dan membawanya turun. James pun ikut berjalan di belakang mereka. Ketika sudah sampai di di bawah, Oscar mendorong Oshitari dan menyuruhnya berjalan sendiri. Laki-laki berambut biru gelap itu berjalan sedikit sempoyongan karena harus menahan rasa sakit di wajah dan perutnya.
"Keigo…Keigo…" gumam Oshitari sambil terhuyung. Dia tidak sabar ingin memeluk Atobe, mendekapnya erat dan tidak akan melepaskannya lagi.
"Yuushi! Menunduk!" tiba-tiba dia mendengar Atobe berseru padanya.
DUAR!
Suara tembakkan terdengar jelas di dekatnya. Dia berlutut, menuruti kata-kata Atobe. Sakit takutnya, dia sampai memejamkan mata. Ketika dia membuka kembali kedua matanya, dia tidak melihat siapa pun di depannya. Perasaannya tidak enak dan dia melihat ke belakang.
"Apa yang-" dia sampai harus menahan nafasnya ketika melihat Atobe jatuh telungkup di tanah. Darah segar tampak keluar cukup banyak dari dadanya. Kedua mata Oshitari terbelalak melihat pemandangan mengerikan ini. "Tidak…" gumamnya lirih. "Keigo…"
Komandan Matsuda langsung berseru lantang begitu melihat Atobe ambruk di tanah, "Angkat senjata kalian dan tangkap mereka!"
Derap langkah para pasukan pengaman terdengar jelas menghentak tanah ketika mereka harus menyergap James dan Oscar. Sementara Oshitari masih berlutut dan tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya sekarang. "Keigo…!" serunya kemudian mengangkat tubuh Atobe dan didekapnya erat. "Buka matamu, Keigo! Lihat aku!"
Atobe terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Dia mencoba berkata meski terbata-bata, "Oh…okaeri…Yuushi…"
"Sudah jangan bicara lagi! Aku akan mengeluarkanmu dari sini sekarang!"
Tetapi Atobe sepertinya tidak ingin Oshitari melakukan apa pun. Dia mencoba mengulurkan tangannya dan memegang pipi Oshitari. Dia tersenyum tipis dan berkata, "Aku senang…kau baik-baik saja…Yuushi…bukan kau yang ditembak. Tapi aku…"
"Apa yang ada di pikiranmu sampai harus melakukan ini, Keigo?! Untuk apa aku bertahan hidup jika harus melihatmu seperti ini? Kau bilang aku harus hidup kan? Aku pulang dalam keadaan selamat! Lalu kenapa…?!"
Atobe mencoba tertawa meski rasa sakit dan lelah itu menguasai tubuhnya. Dia berkata, "Ya, aku senang…kau bertahan hidup. Aku sangat senang…Yuushi…"
Oshitari menambah erat dekapannya dan berkata, "Sudahlah, diam! Aku tidak ingin mendengar kata-katamu lagi! Kita akan keluar dari sini!"
Namun Atobe menggeleng lemah, mencoba untuk tetap tersenyum kepada Oshitari. Dia melanjutkan, "Aku…sungguh merindukanmu…" dan setitik air mata pun keluar dari sudut matanya. "6 tahun lamanya…akhirnya…"
"Aku juga sangat merindukanmu, Keigo. Maka itu, aku mohon…uuukh…"
"Yuushi…maafkan aku. Kau harus melihatku seperti ini…"
"Bodoh, sudahlah! Jangan meminta maaf! Ini salahku, bukan salahmu! Kita pulang ke Jepang, OK? Aku akan menyuruh Kapten Gerard menyiapkan pesawat untuk kita."
Nafas Atobe sudah mulai putus-putus, pandangan matanya sudah mulai kabur. Meski dia sekarat, dia masih bisa merasakan begitu banyak perasaan yang bergejolak di dalam dirinya. Orang yang sangat dirindukannya sekarang ada di depan matanya. Sayangnya, dia tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Udara dingin memenuhi punggung dan tengkuknya. Dia sudah tidak bisa lagi menggerakkan tubuhnya.
"Pulang…ke Jepang…denganmu…" katanya lirih.
"Iya, kita pulang, OK?" balas Oshitari. "Kita pulang sama-sama. Aku janji akan berlibur di Jepang bersamamu, ingat?
"Uhuk…! Uukh…ya…aku sangat senang, Yuushi. Senang sekali…ayo pulang…"
Tidak ada lagi kata-kata yang keluar dari bibir Atobe yang memucat. Kedua matanya terbuka dan melihat ke langit. Tangannya yang tadi memegang wajah Oshitari kini jatuh terkulai di samping tubuhnya. "Keigo…hey, Keigo!" Oshitari mengguncang pundaknya untuk menyadarkannya. Dia menempelkan telinga di dada Atobe. Detak jantungnya tidak lagi terdengar.
"Tidak mungkin! Demi Tuhan, kembalilah, Keigo! Kembalilah, Raja sialan!" Oshitari membuka mantel panjangnya dan mencoba memompa jantung Atobe beberapa kali. Nafas buatan pun dia lakukan agar Atobe bisa kembali hidup. "Kembalilah!" serunya sekali lagi sambil terus memompa jantungnya. Namun Atobe tidak sedikit pun menunjukkan pergerakan.
Tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan darinya…
Tidak ada lagi…
"Keigo! Huaaaaaa~!"
Bersamaan dengan suara teriakan putus asanya, operasi penangkapan 2 pembajak jet pribadi miliknya telah berhasil dilakukan. 2 bom rakitan di bagasi pesawat berhasil dijinakkan dan pelakunya pun berhasil dilumpuhkan. Komandan Matsuda berlari menghampiri Oshitari yang masih mendekap tubuh Atobe.
"Oh tidak…" gumamnya tidak percaya melihat Atobe sudah tidak bergerak. Dia berlutut di dekat Oshitari dan berkata, "Biar para petugas medis yang mengurusnya…"
"Tidak boleh!" bentak Oshitari. Namun Komandan Matsuda tidak menyerah dan bersikeras menyingkirkan Oshitari dari Atobe. Tidak peduli betapa kuatnya Oshitari memberontak, dia memerintahkan petugas medis untuk segera mengangkat tubuh Atobe.
"Tidak ada yang boleh menyentuhnya!" Oshitari masih memberontak.
"Tenangkan diri Anda, Oshitari-san! Atobe-san sudah mati!" balas Komandan Matsuda yang masih memegangi tubuhnya.
Nampaknya Oshitari kehabisan tenaga dan memilih untuk jatuh berlutut sambil mencengkeram kepalanya. Komandan Matsuda tetap berada di sana mendampinginya. Anak buahnya berjalan membawa para tahanan ke terminal bandara untuk selanjutnya diserahkan kepada pihak yang berwajib. Namun ketika mereka melintas di depan Oshitari, James berhenti melangkah memandang Oshitari dingin. Dia menyeringai jahat dan berkata, "Anda layak mendapatkannya, Tuan Muda Oshitari. Sedih rasanya, bukan? Orang yang selama ini mengatur hidup dan mati Anda, lebih dulu mati di depan mata Anda."
Oshitari membalas pandangannya dengan geram dan berkata, "Persetan denganmu, James. Cepatlah mati dan membusuk di neraka!"
"Tanpa Anda menyumpahi pun saya sudah pasti pergi ke neraka. Kita impas, bukan? Anda berhasil menggagalkan niatan saya meledakkan pabrik bijih besi itu. Balasannya adalah Anda kehilangan orang yang sangat berharga untuk Anda."
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu! Enyahlah dari hadapanku, James!"
James tertawa dan melanjutkan, "Paling tidak sebelum saya pergi, izinkan saya mengucapkan terima kasih kepada Anda. Senang bisa bekerja untuk Anda dan keluarga."
Oshitari baru akan membalas kata-katanya, namun Komandan Matsuda mencegahnya mengatakan apa pun. James kembali berjalan dikawal oleh pasukan pengaman ke terminal kedatangan.
"Oshitari-san, kita pergi ke ruang medis sekarang," bujuk Komandan Matsuda.
Sejenak terdiam, Oshitari kemudian bergumam, "Takkan kumaafkan…"
"Saya akan bantu proses hukumnya nanti. Sekarang, kita pergi ke ruang medis. Kita lihat apakah tenaga medis bisa melakukan sesuatu untuk Atobe-san."
"Keigo…dia sudah…"
"Harapan akan selalu ada, Oshitari-san. Ayo kita pergi…"
All is lost, hope remains, and this war is not over…
-to be continue-
Chapter 4 coming up next!
