Shadow

.

By DeathSugar

Gore / Death Chara / Thriller / Violence / Psycho / Yandere / Darkfic / Psylogical Thriller

.

Happy Read Minna-san eh Reader-ssi . ww

.

.


DeathSugar

Present and Enjoy

.

.

Happy Reading~

.

.


Oh Sehun's boyfriend?!

Manager Jung menatap layar ponselnya sebelum akhirnya ia menatap pemuda yang tertuduk lemas di lantai dingin rumah sakit dengan keadaan yang begitu memprihatinkan. Oh Sehun hanya menunduk frustasi, menenggelamkan kepalanya pada tekukan lututnya, dengan tangan yang mencengkeram rambutnya kuat. Bahunya sesekali terlihat bergetar.

Dia menangis.

Manager Jung tahu, artis yang diasuhnya itu sedang tidak dalam keadaan baik. Ia ingin memberitahu tentang berita yang baru saja ia baca ketika salah satu staff agensinya memberitahu tentang ini.

Gelombang fans begitu besar. Dan ini tidak baik untuk kelangsungan karir seorang Oh Sehun.

Tapi sungguh, Manager Jung masih memiliki hati untuk tidak semakin menambah beban dipundak Sehun. dia tahu keadaan Luhan didalam sana jauh lebih penting bagi Sehun saat ini. Luhan sudah berada didalam sana hampir selama dua jam dan belum ada tanda-tanda yang baik.

Manager jung juga melihat ketika seorang suster keluar, dan Sehun yang langsung berdiri, menatap suster tersebut tapi tidak ada rekasi dengan meninggalkan Sehun yang semakin membuat seorang Oh Sehun—yang tengah menjadi pujaan remaja—itu begitu kacau.

Manager Jung menatap lagi layar ponselnya, membaca beberapa komentar Netizen dan juga beberapa fanacc dari artisnya itu, nafasnya memberat ketika membaca sebuah komentar yang membuatnya begitu kesal dan geram. Mereka tidak mengetahui apapun tentang kehidupan Oh Sehun dibalik layar kamera yang menyorotnya. Mereka hanya tahu Sehun dengan segala 'topeng' yang Sehun kenakan didepan camera.

Bahkan tentang keberadaan keluarganya, terutama tentang adiknya.

'lihat bahkan dia memiliki pacar seorang pria. Dasar gay menjijikan.'

'Sehun itu tampan! Dan kenapa justru memilih pria frustasi yang seperti itu? aku yakin dia pasti mencoba bunuh diri karena frustasi'

'aku percaya pada Sehun Oppa. Sehun Oppa terlihat khawatir, dia pasti orang yang berharga bagi Oppa. Oppa, fighting! Kami mencintaimu'

'kenapa dia mirip dengan teman sekelasku? Eunsun bukankah dia Luhan? Kenapa dia bisa berada didekat Sehun Oppa?'

'aku tahu siapa yang bersama dengan Sehun Oppa itu. dia satu sekolah denganku!'

"ini tidak baik." Manager Jung mendekat kearah Sehun. "Sehun ini tidak baik. Mereka mengenali Luhan!"

"Apa?!" Sehun menatap Manager Jung dengan tatapan terkejut. Berdiri, mengambil ponselnya. "Kenapa begitu cepat?!"

"Sehu—"

Manager Jung menatap kesal kearah Sehun yang tidak memperdulikannya dan justru sibuk dengan ponselnya. Manager itu hanya bisa mendesah dengan kelakuan artisnya itu, mencoba sebisa mungkin untuk sabar.

"Appa.. Appa, ini tidak baik. Media tahu tentang Luhan."

[…..!]

"maafkan aku. Aku lalai menjaganya."

[….?]

"Aku tidak tahu.. dokter masih menanganinya.. soal berita di internet saat ini.. bisakah Appa mengatasinya? setidaknya media tidak perlu tahu tentang Luhan dulu, Appa. Terutama tentang rehabilitasi."

[…?]

"saat ini sudah terlalu jauh berita tentang Luhan tersebar.. mungkin terpaksa aku harus mengatakan yang sebenarnya.. siapa aku yang sebenarnya dan hubunganku dengan Luhan."

[….!]

"aku tidak bercanda, Appa." Sehun menghela nafas pelan, "setidaknya itu mungkin akan menenangkan kegilaan dan kemarahan Fansku pada Luhan.. Appa hanya perlu membuat informasi tentang Luhan tertutup serapat mungkin… terutama tentang trauma yang dialaminya setelah Eomma meninggal." Sehun mengusap wajahnya kasar, mendesah dengan nada frustasi, "percayakan padaku, Appa.. untuk kali ini.. Kumohon.."

Sambungan itu terputus, Sehun menatap Managernya sebelum akhirnya mendudukkan dirinya di kursi tunggu yang sudah disiapkan oleh rumah sakit. Sehun meremat rambutnya. Oh Sehun benar-benar merasa frustasi dan membuat kepalanya terasa pusing. Mengehela nafas, "Hyung, bisakah kita mengadakan press conference sekarang?"

"kau yakin?"

Tak ada jawaban yang keluar dari bibir tipis milik Oh Sehun itu. Namun sang manager tahu, diam dari Oh Sehun kali ini berarti jawabannya, IYA.

.

.

Ruangan press conference terlihat begitu sesak. Kilatan-kilatan lampu flash camera silih berganti untuk mengambil potrait seorang didepan sana—yang tengah duduk diantara beberapa staff agensi dan juga managernya. Pemuda itu—Oh Sehun terlihat seperti biasa; datar.

Berbeda sekali dengan beberapa jam yang lalu, wajah frustasi miliknya lenyap tak terlihat lagi. Wajah dingin dengan kesan arogan itu menatap kearah media dan juga beberapa fansnya yang berjubal dilobi kantor agensinya.

"Jadi Sehun-ssi, benarkah lelaki yang difoto itu adalah kekasihmu?" pertayaan dari salah satu wartawan dengan kacamata itu membuat Sehun menghela nafas.

"Tidak. Aku tidak sedang dekat dengan siapapun." Membasahi bibirnya sebelum melanjutkan, "dia bukan kekasihku."

"lantas siapa dia, Sehun-ssi.. kau terlihat frustasi ketika kau membawanya ke rumah sakit saat itu.."

Sehun mengepalkan tangannya kuat, mencoba menahan emosinya agar tidak meledak kali ini, "dia adikku…"

Para media dan beberapa fans dari Oh sehun itu terlihat tengah berbisik-bisik, beberapa ada yang terkejut atau bahkan salah satu dari mereka dengan lancang mengatakan kalau mereka tidak percaya.

"kalian mungkin bertanya, kenapa aku tidak pernah terlihat bersamanya atau ketika aku tidak mengenalkannya kepada publik.. itu semua aku lakukan untuk menjaga dirinya." Hening, "tidak banyak informasi yang tersebar di internet tentang diriku maupun tentang keluargaku.. itu karena aku tidak ingin mereka merasa terganggu dengan kelakuan fans yang kadang tidak bisa aku perkirakan.. bahkan kelakuan fans yang kadang diluar nalar."

"apa maksudmu.. seperti kejadian Sulli kemarin?" seorang wartawan perempuan kali ini membuka suara.

Sehun hendak saja membuka suara, namun sang manager lebih dulu menyelanya. "aku rasa kasus Sulli tidak hubungannya dengan ini.. Polisi hanya menduga kalau Sasaeng yang melakukannya, bukan? Dan sampai sekarang Polisi masih melakukan penyelidikan. Dan juga, belum tentu fans dari Sehun yang melakukannya. Kami percaya fans Sehun tidak segila itu."

"seorang fansmu mengatakan kalau laki-laki difoto itu adalah teman sekelasnya yang bernama Luhan. Apakah itu benar?"

"Ya.. adikku bernama Luhan." Hening sejenak, "mungkin kalian bertanya kenapa kami memiliki marga yang sama.. aku memakai marga Ibuku untuk debut karirku.. dan adikku memakai marga ayahku.."

"Oh? Mungkinkah ibumu keluarga salah satu keluarga dari Oh Group?"

"maaf kami tidak bisa menjawab pertanyaan itu kali ini." Kali ini staff dari agensi Sehun yang menjawab.

"Sehun-ssi.. bolehkah kami tahu apa yang terjadi dengan adikmu kemarin?"

Pertanyaan yang Sehun paling hindari.

"dia demam.. dan aku tidak tahu dia menginap di apartemenku.. dia hanya menghubungiku kapan aku pulang.. dan ketika aku sampai disana, dia pingsan dikamar mandi."

Kebohongan apa yang kau buat, Oh Sehun? Bahkan kau sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada adikmu. bahkan sampai detik ini. kau belum melihat bagaimana kondisi adikmu hingga saat ini, dan kau mengatakan seakan-akan kau tahu segalanya.

"kami rasa.. cukup untuk kali ini.. terimakasih untuk kerjasamanya.." kali ini staff membuka suaranya, berdiri dan diikuti oleh Sehun dan semua yang ada disana. Sehun bisa melihat beberapa dari wartawan itu berbisik, Sehun tidak yakin dengan dugaannya, tapi Sehun yakin itu berhubungan dengan Luhan dan Keluarganya.

Sehun mengehela nafas lagi, entah berapa kali ia melakukan itu dan membuat sang manager merasa kasihan padanya. Manager Jung tahu, dibalik tatapan dingin dan arogan itu, Sehun tengah memendam luka yang mana manager Jung sendiri tidak tahu. Sehun tidak pernah mau membuka dirinya pada siapapun. Bahkan tentang keluarganya yang ditutup rapat, apalagi tentang adik dan ibunya.

Manager Jung tidak terlalu tahu tentang kejadian itu, yang pasti dari rumor yang pernah ia dengar dulu ibunya meninggal tepat dihadapan yang adik yang membuat adik dari Sehun mengalami guncangan yang hebat pada mentalnya. Butuh waktu hampir dua tahun untuk keluarganya mengembalikan Luhan seperti semula walau akhirnya ketika sang adik kembali.. ia justru tidak bisa mengingat apapun tentang ibunya.

"Hyung.. apa setelah ini aku bisa langsung ke rumah sakit?"

"ya.. aku akan mengantarmu. Apa Xiumin telah memberimu kabar?"

Sehun hanya menggeleng, "belum.. tapi dia bilang kondisi Luhan sudah membaik."

Sehun tidak tahu harus merasa senang atau kesal ketika ia tahu bahwa teman Luhan itu jauh lebih cerewet dari managernya. Ia bahkan berani mencibir Sehun ketika Sehun meminta orang suruhan ayahnya untuk menjemput Xiumin di flat miliknya dan membawanya dengan paksa ke Rumah Sakit untuk menjaga Luhan.

Pemuda berpipi bakpau itu awalnya terlihat kaget ketika melihat Sehun yang berdiri dihadapannya—mungkin sebenarnya ketika Xiumin tahu kalau Sehun adalah Hyung-Luhan-Yang-Wajahnya-Tidak-Diketahui- itu sih—dan kemudian berubah sedih ketika Sehun menceritakan kejadian sebenarnya ketika ia menemukan Luhan didalam bath up.

Si tampan—Oh Sehun membuka kamar bangsal dengan name tag Luhan dengan pelan. Langkah kaki jenjangnya berhenti, ada bagian dari dirinya yang merasa tersakiti ketika obsidian miliknya bertemu dengan sosok yang masih terbaring tidak berdaya itu.

Ingin rasanya Sehun memeluk sosok rapuh yang tengah terbaring tidak berdaya itu, membisikkan kata-kata sayang, atau menyanyikan lagu lulaby agar sang adik membuka matanya. Apapun.

Sungguh. Adalah hal yang menyakitkan bagi Sehun ketika ia harus melihat adiknya terluka. Ia menyayangi adiknya bahkan dalam artian lebih. Namun kesadarannya sebagai seorang kakak membuatnya harus menahan perasaannya sendiri.

Sehun tidak tahu sejak kapan ia merasa perasaannya pada adiknya berubah. Berkembang dengan sangat tidak terkontrol. Rasa ingin memiliki yang begitu kuat, egois dan bahkan ia cenderung posesif. Bukan tanpa alasan, tapi sang adik yang membuatnya seperti itu.

Mengulurkan tangan, Oh Sehun menyentuh surai lembut adiknya. Ada tatapan pilu dan sendu dari sorotan mata tajam Oh Sehun saat itu. "kapan kau bangun, Rusa Nakal?" tersenyum pilu seperti orang gila, Sehun mendekatkan dirinya kearah Luhan, bibirnya ia dekatkan dengan telinga sang adik—sedikit menyingkirkan surai sang adik—Sang Kakak berbisik lembut, "Hyung mencintaimu.."

Dan kemudian ia menyatukan bibirnya dengan bibir kering sang adik. Ciuman yang lembut dan tidak menuntut. Seakan ciuman itu mampu menyalurkan segala perasaan yang begitu membebaninya saat ini. Bahkan ia juga tidak perduli ketika sang manager dan juga Xiumin melihat ciuman kakak beradik itu.

.

.

"Hyung, Eomma membelikan kita gelang yang sama!" si mungil meloncat senang ketika ia melihat sang Hyung berjalan berjalan kearahnya. Tersenyum, yang lebih tinggi mengusap kasih surai milik si mungil.

"benarkah?"

Si mungil mengangguk antusias. Bibirnya tersenyum lebar ketika ia menarik blazer yang lebih tinggi itu untuk masuk kedalam rumah mereka. "Eomma, Sehunnie-Hyung sudah pulang!"

"selamat datang, Hunnie.." sang Ibu tersenyum kemudian memeluk putranya itu dengan sayang.

"Eomma! Eomma! Ayo berikan gelang itu pada Hyung juga!" si mungil melonjak senang sambil menarik-narik ujung baju sang ibu. Sang ibu tersenyum lagi, menatap mata bening si mungil yang mirip seperti miliknya. Si mungil benar-benar copy-an dirinya sendiri.

Bibir mungil si mungil tersenyum lebar, memperlihatkan satu giginya yang tanggal dan mulai tumbuh—membuatnya terlihat menggemaskan. Mata bulat bening, pipi gembil dan juga hidung mungil yang pas pada dirinya; sang ibu bersumpah jika si mungil yang sekarang bergelayut ditangan kakaknya ini terlahir sebagai perempuan, ia akan dengan senang hati mendandaninya layaknya putri di negeri dongeng.

"Luhannie.." sang ibu memanggil nama si mungil, membuat si mungil itu berbalik menatap sang ibu dengan tatapan kesal; merasa diganggu dengan aktvitasnya dengan sang kakak, si mungil memberengut.

"biarkan Hyung ganti baju dan makan dulu, ya?"

Masih memberengut, namun tidak ingin membantah dengan ucapan sang ibu, Luhan kecil kemudian mengangguk patuh. Membiarkan sang kakak menuju ke kemarnya di lantai atas.

.

Si mungil memeluk yang lebih tinggi ketika si mungil—Luhan menatap kearah anak perempuan kecil dengan rambut dikucir dua itu dengan tatapan tidak suka.

"jangan dekat-dekat dengan Hyung-ku!" si munggil memberengut lucu. Mengembungkan pipinya yang bulat kemerahan itu—yang tersapu desiran angin musim dingin. Tangan mungilnya memeluk lengan sang Hyung posesif.

Adalah tujuh tahun usia Luhan mungil saat itu. Itu adalah hari pertama ia masuk sekolah dasarnya. Si mungil Luhan memeluk sang kakak dengan begitu erat dengan tatapan mata yang tidak suka kepada anak perempuan dihadapannya. "Hyung milikku!"

Dan yang lebih tinggi hanya mendesah, mengusap pelan punggung sang adik yang bisa saja membuatnya tidak bernafas –ini sedikit berlebihan- karena memeluknya seakan mereka akan terpisah karena gadis kecil teman sekelas sang Hyung.

.

"Eomma.. menikah itu apa?" Luhan kecil menatap sang ibu dengan tatapan yang begitu penasaran. Menunggu jawaban dari sang ibu yang tersenyum, dan kemudian menatap sang suami dengan malu.

"menikah itu artinya kau terikat dengan orang yang kau sayangi dan cintai seumur hidupmu, sayang."

"seperti Eomma dan Appa?" Luhan kecil mengerjabkan matanya lucu.

"iya.. kalau Hannie menikah nanti berarti Hannie akan hidup selamanya dengan orang yang akan Hannie nikahi nanti." Sang Ibu mengusap halus pipi gembil putra kecilnya itu. menciumnya dan mencubit pipi gembil itu gemas.

"kalau begitu Luhan ingin menikah dengan Hyung. Bolehkah?" Luhan kecil kemudian menatap Hyung kesayangannya itu dengan mata berbinar, memeluk erat lengan sang kakak, "Hyung, menikahlah denganku! Mau kan?"

Yang lebih tua hanya mengangguk. Tersenyum dan mengusap rambut hitam sang adik dengan lembut, "kau harus tumbuh dengan baik dan jadilah cantik."

Dan kemudian sang Ibu dan juga Sang Ayah tertawa mendengar jawaban anak tertua mereka.

"Sehunnie, kalian tidak boleh menikah. Kalian saudara, ingat itu!"

.

Remaja limabelas tahun itu terjatuh lemas ketika mata tajamnya menatap sebuah peti mati dihadapannya itu. beberapa keluarga yang ia kenal menangis. kakinya terasa lumpuh ketika hatinya memerintah dirinya untuk berdiri, berjalan menuju peti mati itu.

Merasakan seseorang menyentuh bahunya, ia menemukan Jongin disana. Jongin menatapnya, pemuda dengan kulit tan itu mengangguk, memegang bahunya kuat dan kemudian membantunya berdiri.

"S-Sehun-ah.." itu suara bibinya. Menyambutnya kemudian memeluknya erat. Sehun bisa merasakan bahunya basah, air mata dari bibinya. Ia juga bisa melihat pamannya—kakak laki-laki sang ibu yang juga menangis walau mencoba terlihat tegar. Wajah poker face miliknya mencoba untuk mencari seseorang. Tidak ada ayahnya, begitu juga dengan sang adik.

Remaja limabelas tahun itu mencoba menahan sesuatu yang mengganjal di kerongkongannya, menahan sesuatu yang membuat matanya terasa pedas. Sehun bahkan tidak tahu sejak kapan langkah kakinya membawanya menuju peti mati itu. didalam sana ia bisa melihat jasad ibunya yang masih terlihat cantik. Tangannya terulur, mencoba untuk menyibak kain tipis berwarna putih itu sebelum ia mendengar sebuah teriakan dari arah tangga. Matanya yang sudah basah itu bisa melihat ketika sang ayah memeluk sosok mungil dengan keadaan yang begitu memprihatinkan.

"Eomma! Eomma! Appa.. mereka akan membawa eomma jauh dariku lagi, mereka akan menjauhkan aku dari eomma lagi Appa!" si mungil berteriak histeris ketika sang ayah memegangnya erat, kemudian membawanya dalam dekapannya. Sehun tahu sang ayah tengah mencoba menangkan adiknya saat itu.

"APPA!" Si mungil berteriak kesal, memukul dada sang ayah yang menahannya untuk turun kebawah. "JANGAN BIARKAN MEREKA MEMBAWA EOMMA LAGI!" si mungil itu—Luhan berteriak semakin kencang, membuat sang ayah harus semakin mengeratkan pelukannya.

Melangkahkan kakinya, menyusul sang ayah diatas sana, Sehun menatap sang adik dengan tatapan yang sakit, ada bagian dari hatinya yang terluka ketika ia melihat sang adik terlihat begitu menyedihkan.

"Lu.." yang lebih tua tersenyum ketika tatapan sang adik menyambutnya, mata bulat bening yang dulu ia sukai menjadi redup, terlihat tidak bernyawa. "Hyung disini." Sang Hyung menunduk, merebut sang adik dari pelukan sang ayah. Membawa sang adik dalam dekapan hangatnya, Sehun kemudian membiarkan adiknya menangis sejadinya didalam dadanya. Membiarkan sang adik yang berusia sepuluh tahun itu memukulnya, meronta dengan tidak jelas.

"H-Hyung.. eomma pergi bukan karena aku, 'kan?" si mungil melepas pelukannya, menatapnya seakan penuh harap.

"bukan.. Eomma pergi karena Tuhan lebih menyayanginya."

"benarkah?"

Sang Hyung mengangguk, menyentuh rambut lembut sang adik, "bukan salahmu.."

"Hyung.. sejak kapan kau berani berbohong padaku?" si mungil tersenyum pilu, mengusap suatu yang basah di wajah Sehun, Luhan mengusap air matanya yang jatuh. "Hyung.. bukan aku yang membunuh eomma.. aku.. aku.. a-ak—" si mungil tak lagi melanjutkan kalimatnya ketika matanya mulai terpejam dan tubuhnya melemas.

Adiknya pingsan.

Dan tiga hari setelahnya, Sehun melihat seseorang datang dan membawa adiknya dengan alasan rehabilitasi.

.

….

.

Memberikan satu cup kopi hangat untuk Oh Sehun, Xiumin kemudian mendudukan dirinya disamping sisi berlawan dengan Sehun. Xiumin memutuskan untuk membelikan sebuah kopi hangat ketika ia mendapati Oh Sehun bagun dari tidurnya dengan nafas yang menderu; mimpi buruk.

Menatap sosok pucat yang masih terpejam, Xiumin hanya mengembungkan pipinya. Merutuki keheningan yang terjadi disana. Xiumin berjanji akan menambahkan daftar hal yang paling ia benci—ketika ia harus berdua –hanya berdua- dengan Oh Sehun adalah hal yang paling ia hindari.

Berdeham, mencoba menghilangkan kecanggungan dan keheningan disana, Xiumin mencoba memulai sebuah obrolan, "Sehun-ssi.." lirih, namun masih bisa didengar oleh Sehun, dan hanya dibalas dengan sebuah deheman kecil.

"apa kau mengenal seseorang bernama Kris?"

Xiumin bisa melihat reaksi yang berbeda dari wajah datar milik Oh Sehun beberapa saat dan kemudian kembali menjadi datar. "Ya.. aku tahu. Kenapa?" ada nada yang mengganjal dari jawaban itu yang Xiumin sendiri tidak tahu. Seperti sebuah kecanggungan atau sebuah hal yang tidak ingin dibahas.

"Um.. Anou.. Luhan dekat dengannya.. tidakkah lebih baik kalau kau menghubunginya?" melihat reaksi yang berbeda dari manusia es dihadapannya, Xiumin buru-buru untuk membuka suaranya lagi, "maksudku.. memberitahunya kalau Luhan tengah sakit."

"itu tidak perlu. Kau tahu tentang Kris dari Luhan?"

Xiumin mengangguk, "Luhan pernah bercerita padaku.. dan ketika Sehun-ssi menelfonku saat Luhan tidak ada.. Luhan bilang dia bertemu dengan Kris."

"Kau bilang apa?!"

Xiumin mengerjabkan mata ketika mendapati reaksi Oh Sehun yang terlewat tidak biasa itu. Menjawab dengan takut dan keraguan, Xiumin mengangguk, "dia bertemu dengan Kris. Setahuku Luhan dekat dengan Kris.. maka dari itu—"

"Itu tidak mungkin. Kau jangan bercanda! Itu tidak mungkin!"

Menunduk, Xiumin tidak tahu apa yang membuat Sehun terlihat begitu kesal dan marah. Apa yang salah dengan hubungan Luhan dan Kris? Mereka hanya teman bukan?

Menatap kepergian Sehun yang begitu menakutkan, Xiumin hanya menatap sosok yang masih terpejam itu—Luhan. Mengengam tangan milik seseorang yang masih terpejam itu, Xiumin menatap dengan tatapan yang sedih. Sahabat baiknya terlihat begitu rapuh saat itu, dengan selang infuse dan alat bantu oksigen itu—membuat Xiumin merasakan pilu didadanya.

"Lu, kenapa kau tidur terlalu lama? Tidakkah kau sadar.. Hyung kesayanganmu itu begitu menghawatirkanmu.. percayalah tidak ada yang akan menyakitimu.. maka dari itu.. kumohon buka matamu.."

Dan bersamaan dengan desahan nafas berat Xiumin, tangan yang ia genggam itu sedikit terusik. Jemari tangan yang terasa dingin itu bergerak lemah, bersamaan dengan mata yang terpejam itu mengerjab dan kemudian terbuka.

Lirih sangat lirih, bibir yang terkatub rapat dan kering itu terlihat begumam, Xiumin mencoba mendekatkan dirinya dengan Luhan, mencoba mencari tahu apa yang ingin sahabatnya itu katakan.

"H-Hyung…"

Dan Xiumin hanya bisa memejamkan matanya, ketika ia melihat buliran bening itu jatuh melalui sudut mata bak rusa itu. Lewat sorot mata itu Xiumin tahu, Luhan tengah terluka. Dan sungguh Xiumin tidak berharap sama sekali, luka itu adalah luka lama Luhan ketika ia harus kehilangan ibunya dihadapannya sendiri. Xiumin tidak ingin itu terjadi.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Xiumin mengambil ponselnya dan menekan dial dengan nama 'Oh Sehun'.

"Sehun-ssi.. Luhan sadar." Dari seberang sana Xiumin bisa mendengar helaan nafas lega dari Hyung sahabatnya itu.

"Hyung-mu akan datang sebentar lagi."


.

.

tbc

.

.

520

.

08 July 2015

ãDeathSugar