Aku hanyalah sebuah bayangan. Aku tidaklah nyata. Aku dapat melihat, tetapi tak dapat dilihat. Aku menyentuh, tetapi tak dapat disentuh. Aku mendengar, tetapi tak dapat didengar. Aku merasakan, tetapi tidak dapat dirasakan. Aku adalah makhluk yang berada diantara ada dan tiada. Aku tercipta karena adanya tekad dan keinginan yang sangat kuat.
Aku ada karena untuk mengawasimu.
Aku ada karena untuk melindungimu.
Aku ada karena untuk mendampingimu...
Okita Kagura.
.
.
.
Rumah dengan papan nama yang bertuliskan 'Okita' itu mendapatkan tamu sudah sejak beberapa minggu yang lalu. Kamui beserta istrinya menginap disana untuk menemani Kagura. Tidak ada ritual Mizu-Kagami untuk Kagura karena Kamui memaksanya untuk tidak melakukan itu sebelum dia sendiri dapat melihat roh dan iblis dengan baik. Usia kandungan Kagura pun telah menginjak empat bulan. Perutnya sudah lebih menonjol dari sebelumnya.
"Nama apa yang akan kau berikan pada anakmu, Kagura?" tanya Kamui disaat-saat santai setelah makan malam.
"Mou, itu adalah topik pembicaraan yang tabu saat usia kandungan masih dibawah 6 bulan!" seru Soyo.
Kamui memasang wajah polos, "Oh, benarkah? Pengetahuan di Bumi luar biasa."
Kagura menatap Soyo, "Aku baru tahu itu. Terima kasih-aru."
Soyo menghela nafas, "Aku tidak akan pernah menyangkal kalau kalian berdua ini memang Amanto bersaudara."
"Omong-omong, aku bisa melihat youkai saat berkeliling Edo tadi siang," ujar Kamui.
"Dengan kata lain, kau sudah berhasil?!" tanya Kagura langsung.
"Whoa, antusias sekali," komentar Kamui. "Kau ingin segera memastikannya?"
Kagura mengangguk girang. Tindakan bocahnya keluar lagi. Soyo hanya tersenyum geli melihat tingkah sahabatnya yang sekarang adalah adik iparnya.
"Kalau kalian ingin keluar malam ini, pakailah pakaian yang tebal. Salju mungkin akan turun dengan lebat. Jangan lupa bawa payung kalian untuk berjaga-jaga bila terjadi sesuatu dan—"
Kamui membungkam Soyo dengan sebuah kecupan singkat. Kemudian, Kamui tersenyum dan semburat merah muncul dipipi Soyo.
"Kami paham. Jaga diri dirumah dan pastikan kau sudah tidur ketika pukul setengah sepuluh malam walau kami belum kembali. Bagaimanapun juga, kau sedang mengandung anak kita saat ini. Kami berangkat," ujar Kamui.
"S-selamat jalan..." ucap Soyo yang masih setengah shock.
Kagura yang sedang memasang sepatu sejak tadi tidak tahu apa yang terjadi antara kakaknya dan sahabatnya barusan. Kemudian, ia berdiri dan menggeser pintu. Kagura pun keluar bersama kakaknya, Kamui untuk mencari tahu jawaban dari misteri menghilangnya Shinsengumi.
.
.
.
"Oh, sungguh... Kemana perginya semua anggota Shinsengumi itu sampai adikku ini berubah menjadi masokis?" gumam Kamui dalam perjalanan.
"Aku dapat mendengarmu-aru," tutur Kagura dengan ekspresi kesal.
"Misi apa yang mereka lakukan hingga memakan waktu lebih dari 3 bulan? Sekarang sudah 4 bulan. Tidakkah kau pikir ini aneh, Kagura?"
"Karena itulah kecemasanku tak dapat ditahan-aru. Mungkin Shinsengumi melarikan diri dari tugasnya untuk melindungi kota Edo," ujar Kagura asal.
"Pernyataan yang bodoh," komentar Kamui singkat. Keduanya mempercepat langkah ketika jembatan sudah terlihat. "Coba kita lihat siapa yang akan sampai lebih dulu!"
Kamui berlari mendahului Kagura.
"Curang!" seru Kagura yang pada akhrinya menyusul Kamui.
Dua Amanto bersaudara yang berasal dari klan Yato itu benar-benar menikmati persaingan mereka yang terlihat kekanak-kanakan. Tetapi, seperti itulah cara seorang kakak untuk membuat adiknya senang. Kamui tiba di jembatan lebih dulu dibanding Kagura. Kamui tersenyum penuh kemenangan.
"Butuh 100 tahun bagimu untuk mengalahkanku, Kagura," ucapnya.
"Kau curang-aru," ujar Kagura. "Dan juga aku sedang mengandung!"
"Ah, lupakan saja. Apa kau lupa tujuan awal kita?"
Kagura tersenyum, "Bagaimana bisa aku melupakannya?"
"Kalau begitu, ayo!"
.
.
.
Seandainya, aku dapat melihat dan dapat dilihat. Juga dapat mendengar dan didengar... Kau tidak harus melakukan hal ini, kan?
Aku selalu melihatmu melakukan mizu-kagami untuk melihat dan menemuiku. Kau menanggung resiko sampai tenggelam di dalam sungai pada malam hari di musim dingin. Juga, kau terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Maafkan aku karena aku hanya memiliki wujud yang seperti ini. Aku hanya bisa untuk selalu berada di dekatmu tanpa kau sadari kehadiranku.
Kau tidak akan bisa melihatku dan mendengarkanku tanpa bekerja keras. Dan mungkin, pada akhirnya aku bukanlah sosok yang benar-benar ingin kau temui. Ya, itu bukan hanya kemungkinan. Aku sangat yakin karena aku hanyalah sebuah bayangan dari sosok yang kau rindukan.
Aneh, mungkin. Karena aku selalu berkata bahwa aku adalah sebuah bayangan. Tetapi, itu benar. Aku memang ada untuk melindungimu, Kagura. Tetapi, aku bukanlah Okita Sougo. Dan, seperti yang aku katakan sebelumnya...
Aku hanyalah sebuah bayangan.
.
.
.
"Air memang luar biasa, ya," kata Kamui, membuka topik baru. "Hanya dengan melihat pantulan diri saja, kita sudah bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang pada umumnya."
"Yah... sangat luar biasa," tambah Kagura. "Air bahkan dapat menghancurkan batu yang keras-aru."
"Woah, kau juga bisa sependapat denganku, Kagura," ujar Kamui.
Kagura berusaha untuk mengelak pernyataan Kamui, "Aku tidak yakin. Sukonbu lebih luar biasa dari air-aru."
"Apa yang membuat jajanan murah itu lebih luar biasa dibanding—" Kagura menatap Kamui yang tiba-tiba memutuskan perkataannya dan terus menatap ke permukaan air. "Aku melihatnya."
Kagura menatap kembali permukaan air, "Ha—"
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Author's note: Yah... Maafkan saya yang lama-kelamaan membuat fic ini jadi tambah kurang penjiwaan serta points of view-nya tidak beraturan dan berubah-ubah serta... *aish, kebanyakan*. Saya seharusnya bilang kalo tanggal 19 Juli ini, saya sudah harus balik ke asrama :'v entah sempat atau tidak~ Kalau di dalam pikiran saya sendiri sih, untuk saat ini kayaknya chapter 4 adalah chapter terakhir. Tapi, siapa tahu ^^ Toh, tadinya saya cuma mau buat ff ini jadi two-shot. But, saya jadi lebih tertarik untuk melanjutkan setelah saya teringat akan beberapa pengetahuan umum tentang supernatural yang saya ketahui :3 Okelah, see you next chapter!
