Hello...

Aim kaming... XD

Yo, ini Chapter 3 sudah saya publish...

Moga-moga gak sependek Chapter 2 ya...

Hohoho

Baiklah, sebelum kita memulai ceritanya, saya balas review dulu ya... :D

uchihyuu nagisa : Hahaha. Sasuke emang tega banget di fic ini. Tapi tak apalah, namanya juga fic #buagh. Ok, ini sudah dilanjutkan. Arigatou untuk review anda yang kedua kalinya ^^

X-mobile : Hehe, iya nih. Sasuke memang jahat di sini. Yosh, Ini udah saya Update. Arigatou reviewnya ^^

Botol Pasir : Hu'um. Pendek banget malahan. Chap ini udah saya usahain agak panjang. Arigatou untuk review anda yang kedua kalinya ^^

Lightning Fang : Masih egois ya? Hm, padahal saya udah berusaha menghapus sifat egois itu. Tumben-tumbenan yak? Hehe, ini sudah update. Arigatou reviewnya ^^

OraRi HinaRa : Hehe, memang sengaja saya buat gitu. Biar feel nya kerasa. Kalau mereka saudara kandung, ceritanya gak bener donk ._. Sasuke juga sengaja saya buat jadi playboy #plak. Ini udah saya update. Arigatou untuk review anda yang kedua kalinya ^^

zoroutecchi : Apapun sifatnya, Kakashi memang tetep keren! XD, Ini udah saya Update! Semoga penasarannya hilang ya :D. Arigatou sudah review ^^

Azalea Ungu : Aa, gomen ne... Saya juga manusia, pasti punya kesalahan #plak. Cium kening? Menurut saya untuk kakak dan adik itu biasa, tapi kalau cium bibir luar biasa #buagh. Saya sangat senang kalau anda bilang fic ini 'nice'. Hehe, arigatou untuk review anda yang kedua kalinya ^^

gamekyu hatake : Hehe, udah baca Chapter 2? Kenapa tak rela? Curiga ini saya #plak. Hahaha, arigatou reviewnya ^^

Saya ucapkan makasih banget buat yang udah review dua kali ya... Yang baru review sekali juga makasih ya... Pesan buat semuanya: Chapter ini di-riview juga ya #plak.

Hehe, kita langsung mulai aja deh ceritanya.

Oke, kamera ROCK n ROLL!

Chapter 3: Married

1 bulan kemudian...

Aku duduk termenung di kamarku sambil menatap keluar jendela. Mataku menerawang jauh. Otakku terus menerus memikirkan tentang besok, besok, dan besok.

Kalian tau besok hari apa? Besok adalah hari di mana aku akan menikah dengan Kakashi-nii. Ya, Kakashi-nii, bukan Sasuke. Tau kenapa? Tidak? Kalau begitu, aku akan memberitahu.

Selama sebulan ini, aku melihat bahwa Kakashi-nii benar-benar mencintaiku. Dia bisa membuktikannya padaku.

Oleh karena itulah, aku pun akhirnya percaya padanya dan mau menikah dengannya. Meskipun masih ada sedikit rasa terpaksa. Tapi yang sedikit itu lama kelamaan pasti akan hilang.

Kalian mungkin bertanya, bagaimana dengan Sasuke? Jawabannya, aku meninggalkannya. Sebenarnya, aku sangat tidak rela melakukannya. Aku masih mencintainya. Tapi, aku ingin membahagiakan Kakashi-nii. Dia sudah cukup tersiksa selama ini.

Aku sudah berbicara Sasuke beberapa waktu yang lalu. Dan dia bilang, dia rela melepasku demi kebahagiaanku. Ah, dia tidak tau kalau aku hanya bisa bahagia jika bersamanya.

"Hinata..."

Suara Kakashi-nii mengejutkanku. Aku pun meninggalkan 'aktivitas' melamunku dan berdiri menghadapnya.

"A-ada apa, Ka-Kakashi-nii?" Tanyaku. Kakashi-nii menggeleng pelan.

"Hm, tidak. Kau sedang apa?" Kakashi-nii bertanya balik padaku. Aku menundukkan kepalaku dan menatap lantai.

"Ha-hanya duduk-duduk saja..." Jawabku pelan. Kakashi-nii mengangkat daguku. Tampaknya ia tidak suka kalau aku menatap ke lantai. Kemudian ia bertanya padaku, "Kau tidak bosan?"

"Bo-bosan? Um, se-sedikit"

"Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan, hn, calon istriku?" Seru Kakashi-nii dengan nada yang sukses membuat wajahku memerah. Aku merasa sedikit canggung ketika ia memanggilku dengan sebutan 'calon istri'.

"Ka-Kakashi-nii... Ja-jangan memanggilku seperti itu lagi..."

"Yah, kau tenang saja. Mulai besok, kau bukan lagi calon istriku... Tetapi istriku."

.

.

.

09.39 P.M

Aku berbaring tak tenang di atas tempat tidurku. Aku tak bisa tidur malam ini. Padahal, besok aku harus bangun pagi. Aku harus siap-siap untuk pernikahanku.

Aku bangkit dari posisi tidurku. Kini, aku berjalan mondar-mandir. Ke kiri, ke kanan, dan terus berulang-ulang. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk berhenti dan pergi menemui Kakashi-nii.

TOK TOK TOK

CKLEK

Pintu di hadapanku terbuka. Menampilkan sosok Kakashi-nii yang sedang mengenakan piyama.

"Hinata, belum tidur?"

"A-aku tidak bisa tidur. Aku, aku takut..."

"Apa yang membuatmu takut?"

"Pernikahan. A-aku masih tidak yakin..." Lirihku. Kakashi-nii menatapku dengan tatapan sendu. Ia berusaha untuk tersenyum. "Baiklah, jika kau memang tidak ingin ..." Aku memotong ucapannya, "Bukannya tidak ingin. Lagipula, aku sudah berjanji padamu. Oleh karna itu.."

"..."

"Aku tetap akan menikah denganmu, Kakashi-nii." Kataku dengan mantap. Aku tidak tau sejak kapan aku memutuskannya. Tapi yang pasti, aku serius dengan perkataanku barusan.

"Arigatou. Arigatou, Hinata," ucapnya lirih. Namun tersirat kelegaan di sana. Lalu, Kakashi-nii memelukku.

Dan malam itu, kulewatkan dalam pelukannya.

.

.

.

Hinata's Room, 07.12

"Nah, selesai!"

Aku membuka mataku. Terpampang jelas di depanku, kaca yang sedang memantulkan wajahku sendiri. Rambut indigoku yang biasa tergerai bebas kini diikat keatas dan ditusuk dengan sesuatu yang menyerupai sumpit. Aku terlihat beda sekali.

"Bagaimana? Cantik kan..." Seru penata riasku riang.

"Y-ya..." Jawabku canggung.

"Pakaianmu? Kau suka?"

Aku melihat pakaianku, kimono bewarna putih dengan motif bunga Sakura. Ini cantik sekali!

"Su-suka. Ini bagus sekali, Ino-chan"

"Syukurlah! Nah, sekarang, ayo kita berangkat! Sudah hampir terlambat nih," ucap Ino sambil melirik jam tangannya. Aku hanya mengangguk dan beranjak dari kursiku menuju ke luar kamar.

Kami -aku dan Ino- sudah sampai di luar rumah. Kami tinggal menunggu taksi yang kami pesan datang ke sini. Setelah beberapa saat menunggu, taksi yang dimaksud pun datang. Kami segera menaikinya dan taksi itu pun melaju.

07.48 A.M

Akhirnya taksi yang kami tumpangi sampai di tempat tujuan, yaitu kuil Itsukushima. Pernikahanku dengan Kakashi-nii akan berlangsung di kuil itu.

Aku beserta dengan Ino berjalan ke arah kuil. Di depan pintu kuil itu, ada seseorang yang menyambut kami. Orang itu adalah Kakashi-nii. Dia memakai jas bewarna hitam dengan dasi kupu-kupu, ia juga memakai celana panjang bewarna hitam.

"Hiya," sapa Kakashi-nii ramah. Aku membalasnya dengan tersenyum, begitu juga dengan Ino. Tak lama kemudian, Ino berpamitan pada kami berdua.

"Hinata-chan, Kakashi-san, aku masuk dulu ya. Jaa ne..." Katanya. Kemudian, ia masuk ke dalam kuil. Ugh, Ino, kau ini sengaja sekali.

"Hinata?" Panggil Kakashi-nii setelah sekian lama kami terdiam. Aku yang sedari tadi menatap punggung Ino yang kian menjauh pun mengalihkan pandanganku ke Kakashi-nii.

"Y-ya, Kakashi-nii?" Sahutku.

"Hm, ayo masuk," ajaknya sambil mengulurkan tangannya padaku. Aku pun menerimanya dengan canggung. Setelah itu, kami berdua masuk ke dalam kuil.

Di dalam kuil...

Awalnya ku kira yang akan datang ke pernikahanku dengan Kakashi-nii hanya segelintir orang, tapi rupanya, aku salah besar. Banyak sekali orang di dalam kuil ini. Aku menolehkan kepalaku ke Kakashi-nii yang kebetulan sedang menghadapku.

"Ada apa?" Tanyanya padaku.

"A-ano... Ke-kenapa banyak sekali yang datang?"

"Kau tak suka? Kalau begitu akan ku usir mereka," jawabnya santai seolah-olah tidak akan terjadi apa-apa jika ia mengusir semua orang yang ada di dalam kuil.

"Eh! Ti-tidak perlu. A-aku kan hanya bertanya..." Kataku sambil mengembungkan pipiku. Kakashi-nii tertawa kecil.

"Hahaha, ya sudah, tidak perlu sampai manyun begitu dong..." katanya seraya mengusap-ngusap pelan pelipisku.

"Ka-kakak, kau i-" ucapanku terpotong oleh teriakan seseorang dari Altar.

"Yak! Bagi mempelai pria dan mempelai wanita, harap datang ke mari!"

"Hinata, ayo," kata Kakashi-nii seraya menarikku naik ke Altar. Ah, tamatlah riwayatku. Kami-sama, aku belum siap.

Kini, aku dan Kakashi-nii sudah berada di atas Altar. Aku deg-degan sekali. Kami-sama, buatlah waktu berjalan lebih cepat. Aku tak ingin berlama-lama di saat seperti ini.

"Hatake Kakashi, apa kau bersedia menerima Hyuuga Hinata sebagai pasangan hidupmu dalam suka dan duka, sakit dan sehat, miskin dan kaya?"

"Ya, aku bersedia menerima Hyuuga Hinata sebagai pasangan hidupku dalam suka dan duka, sakit dan sehat, miskin dan kaya"

"Dan kau, Hyuuga Hinata, bersediakah kau menerima Hatake Kakashi sebagai pasangan hidupmu dalam suka dan duka, sakit dan sehat, miskin dan kaya?"

"Y-ya, a-aku bersedia menerima Hatake Ka-Kakashi sebagai pasangan hidupku dalam suka dan duka, sakit dan sehat, miskin dan kaya"

"Kalau begitu, marilah kita berdoa untuk kedua mempelai. Semoga hubungan mereka tidak terpisahkan oleh suatu apapun kecuali sudah dikehendaki oleh yang di atas"

Semua orang yang berada di dalam kuil pun berdoa, termasuk aku dan Kakashi-nii. Setelah berdoa, pendeta yang berdiri di hadapanku dan Kakashi-nii pun berkata dengan lantang, "Hatake Kakashi dengan Hyuuga Hinata telah resmi menikah." Dan dengan itupun, semua orang memberi tepuk tangan yang sangat meriah.

Setelah tepuk tangan itu mereda, pendeta itu berkata pada Kakashi-nii, "Nah, Kakashi Hatake, kau boleh mencium istrimu." Kakashi-nii pun mendekatiku dan mencium bibirku sekilas. Tepuk tangan yang sempat mereda tadi pun kembali terdengar memenuhi seluruh kuil.

.

.

.

End of Flashback

Yah, begitulah asal-usul pernikahanku dengan Hatake Kakashi. Sekarang, sudah terhitung satu bulan lamanya sejak pernikahan itu.

Aku meletakkan gelas berisi teh yang baru selesai kubuat ke atas meja makan. Tak lama kemudian, Kakashi datang ke ruang makan dan mendekatiku. Ia mencium pipiku sekilas lalu berkata 'Ohayou'. Ia selalu melakukan itu setiap pagi.

Setelah itu, Kakashi duduk di salah satu bangku yang berada di sekeliling meja makan. Ia mengambil teh yang buatanku dan menyesapnya sedikit.

"Hm... Enak, seperti biasa," komentarnya. Aku hanya tersenyum simpul menanggapinya.

"Hinata..." Panggilnya. Aku menolehkan kepalaku kepadanya.

"Aku sudah mengambil jatah cutiku. Bagaimana kalau kita melanjutkan bulan madu kita yang tertunda dulu, hn?"

"Aa, be-benarkah?"

"Ya. Dan rencananya, aku ingin kita bulan madu ke Biei. Bagaimana? Kau setuju?"

"I-ide yang bagus. A-aku setuju," jawabku sambil mengangguk kecil. Kakashi beranjak dari kursinya dan kembali mendekatiku. Ia mencium pelipisku.

"Siapkan semuanya. Kita akan berangkat besok," katanya sambil tersenyum. Setelah itu, ia pun pergi meninggalkan ruang makan.

Sekeluarnya Kakashi, aku segera membereskan dapur dan menuju ke kamar. Aku akan mempersiapkan barang-barang untuk besok. Mulai dari baju sampai dengan barang-barang lainnya.

.

.

.

Sasuke's House, Normal POV

Sasuke terlihat sedang asyik dengan laptopnya. Tiba-tiba, terdengarlah suara teriakan seseorang dari luar rumahnya. Dengan malas-malasan, Sasuke beranjak dari laptopnya ke arah pintu. Ia pun membuka pintu itu dan ...

"Sasuke-kun~" seru seorang gadis yang berambut pink sambil memeluk Sasuke. Sasuke yang kewalahan hanya bisa pasrah dipeluk oleh gadis itu. Tak lama kemudian, gadis itu pun melepaskan pelukannya.

"Sasuke-kun, bagaimana dengan liburan kita? Ayolah, kau kan sudah janji padaku..." Tanya gadis pink bernama Sakura itu dengan nada manja. Sasuke memutar bola matanya, kemudian berkata dengan malas, "Baiklah, kita liburan ke Biei saja..."

"Biei? Wah! Asyik!" Serunya sambil kembali memeluk Sasuke.

TBC

Chapter 3 has done! Yeah! #jingkrak2 gaje

Hehe, gimana? Udah agak panjangan kan? XD

Oh ya, saya mau kasih tau, kalau Biei itu adalah sebuah kota kecil di Hokaido. Di sana sangat terkenal dengan keindahan alamnya yang berupa bukit bunga.

Hohoho

Ya sudahlah, ini saja penutup dari saya. Makasih buat yang udah baca dan kasih saya review ya... :D