Disclaimer: 17 © Pledis Entertainment
.
.
Fake Tale of An Oxygen Thief
.
.
Chapter 3 : My Head's Under Water
Seokmin muncul (lagi) di depan pintunya. Dia mengenakan kaus hitam dan vest berwarna krim di atasnya lalu celana jeans hitam yang menggantung sampai atas matahari kakinya.
Entah kenapa Wonwoo tidak lagi terkejut dengan kunjungan tiba-tiba Seokmin.
"Ada perlu apa?" tanyanya ketus.
"Aku sedang mencari teman untuk makan siang." Seokmin menjawab cepat lalu tersenyum idiot seperti biasa.
"Dan hubungannya denganku?"
"Kau adalah teman yang kumaksud."
"Tidak mau." Wonwoo menggerakkan daun pintu, bersiap untuk menutupnya tapi Seokmin menghentikannya sebelum itu terjadi.
"Ayolah, ini akan menyenangkan."
"Tidak."
"Kutraktir."
"Apa aku terlihat seperti akan setuju karena kau menawariku makanan?" Wonwoo melotot kesal pada Seokmin.
"Ayolah, temani lelaki kesepian ini." Seokmin merapatkan kedua telapak tangannya dan menatap Wonwoo memelas.
"Tidak."
Seokmin kemudian diam dan untuk beberapa menit mereka hanya saling menatap satu sama lain. Melotot kalau untuk Wonwoo. Lalu Seokmin menghela napas dan menatap Wonwoo sedikit menyesal. Wonwoo tidak yakin kenapa dia memasang wajah itu.
"Aku penasaran apa Junhui tahu kalau Mingyu itu sudah punya tunangan."
Motherfucker.
"Tunggu disini selama aku siap-siap." Wonwoo memperbesar pelototannya pada Seokmin. "Kau sebaiknya membawaku ke tempat makan mahal." Gumamnya kesal dan membanting pintu di depan Seokmin. Dia bisa mendengar tawa kemenangan Seokmin dari balik pintu. Si brengsek itu benar-benar melakukan blackmail.
.
.
Seokmin adalah reinkarnasi iblis. Wonwoo yakin. Karena saat si brengsek itu tadi mengajaknya 'makan siang' dia sama sekali tidak memperingatkan kalau mereka akan makan siang bersama KELUARGA Seokmin. Seokmin menggenggam tangan Wonwoo tanpa rasa bersalah sementara keringat nervous tidak berhenti membasahi tangan pemuda itu.
"Hai Bu," Seokmin menyapa seorang wanita paruh baya yang sangat tinggi dan langsung melepaskan genggamannya pada tangan Wonwoo lalu memeluk dan mencium pipi wanita itu.
"Seokmin, putraku." Ibu Seokmin membalas pelukan Seokmin lalu menciumnya.
Wonwoo merasa sangat salah tempat. Dia ingin menenggelamkan dirinya ke dalam tanah saat itu juga karena demi Tuhan ini sangat canggung. Ini ketiga kalinya dia bertemu dengan Lee 'idiot' Seokmin dan si bodoh itu membawanya makan bersama keluarganya. Wonwoo ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di bawah tempurung kepala Seokmin.
"Ah Ibu," Seokmin tiba-tiba menarik tangan Wonwoo dan menyeretnya ke depan ibunya. "Perkenalkan ini Wonwoo."
Wonwoo panik. Sebenarnya apa yang sedang dilakukan si bodoh ini? Nyonya Lee tersenyum hangat padanya. Dan senyum itu membuat kepala Wonwoo pusing. Wonwoo tidak bisa memfokuskan pandangannya kepada wanita di hadapannya. Karena satu detik dia ada di depan pintu apartemennya, diblackmail oleh Seokmin, detik berikutnya dia sedang makan siang dengan keluarga pemuda itu. Bukankah seharusnya kau mengajak kencan partnermu sampai berkali-kali terlebih dahulu sebelum mengenalkannya pada orangtuamu?
Wonwoo menatap jauh ke belakang kepala Nyonya Lee. Ingin melarikan diri dari situasi ini. Tapi matanya segera menangkap sosok dua orang yang berjalan melewati pintu di belakang wanita itu dan Wonwoo lupa dia sedang ada di mana, siapa orang-orang di sekitarnya ini, dan tahun berapa sekarang. Mingyu dan tunangannya berjalan seperti dalam lukisan. Mingyu menggunakan setelan semi resmi, Tzuyu dengan gaun yang menggantung pas di badannya. Keduanya terlihat menarik. Pasangan yang sangat serasi. Wonwoo berkomentar sarkastis dalam kepala. Tapi apa yang mereka lakukan di sini? Dia melirik Seokmin untuk meminta penjelasan. Seokmin sedang menatap objek yang sama.
"Ah benar Bu," ujar Seokmin lantang. Dan Wonwoo sama sekali tidak suka dengan senyum mencurigakan di wajahnya. Wonwoo melihat Mingyu dan Tzuyu yang mengalihkan perhatian kepada Seokmin seperti semua orang di meja itu.
"Biar kuperkenalkan. Ini Wonwoo. Kekasihku."
Wonwoo dapat melihat air muka Mingyu berubah begitu Seokmin selesai berbicara. Dia jelas terkejut mendengar pengakuan Seokmin. Wonwoo jauh lebih terkejut. Didongakkannya wajahnya untuk melihat ekspresi Seokmin. Kuda idiot ini sedang bercanda kan?
.
.
Makan siang berjalan lancar. Sangat canggung tapi tetap lancar. Mingyu tidak berhenti memandang Wonwoo seperti menuntut jawaban, Wonwoo tidak punya penjelasan apa-apa yang bisa ditawarkan untuknya jadi dia berpura-pura sibuk dengan makanannya. Tzuyu berbicara akrab dengan seluruh keluarga Mingyu termasuk dengan Seokmin. Ibu Mingyu, seorang wanita paruh baya yang sangat cantik, rambutnya dipotong pendek dan dia sama sekali tidak terlihat lebih tua dari empat puluh tahun, menyapa Wonwoo ramah. Menawarkan daging di piringnya kepada Wonwoo karena 'Seokmin, kau harus memperhatikan pola makan pacarmu. Lihat pergelangan tangannya sangat kecil.' Wonwoo menolak dengan halus dan berkata kalau dia makan sangat banyak setiap hari, jangan khawatir tapi tubuhnya memang tidak bisa gemuk.
Tzuyu tertawa dari seberangnya, Wonwoo tidak bisa menahan rasa iri dalam dadanya melihat tawanya yang sangat cantik itu dan tangan gadis itu yang bersentuhan dengan Mingyu secara natural di atas meja. Tzuyu berkata, "Oh senang sekali menjadi kau. Aku harus diet ketat tanpa garam dan karbohidrat, ke gym teratur. Tapi aku bahkan masih belum mencapai berat idealku."
Wonwoo melirik tubuh gadis itu sesaat. Sama sekali tidak berniat nyinyir tapi dia tidak lebih baik dari Wonwoo, dia sangat jelas hanya terdiri dari kulit dan tulang. Mau sekurus apa lagi? Tapi yah manusia memang terkadang seperti itu. Menginginkan apa yang tidak dimilikinya. Wonwoo juga begitu. Kalau Tzuyu mau menukar laki-laki di sebelahnya untuk mendapat tubuh kurus Wonwoo, jelas Wonwoo tidak keberatan.
Lalu tiba-tiba Mingyu melompat masuk percakapan. "Bisa gemuk atau tidak, makanlah yang banyak." Lalu sebelum Wonwoo sempat mengatakan apa-apa, dia sudah memindahkan setengah daging dari piringnya ke piring Wonwoo. Tidak sopan untuk mengembalikannya lagi, jadi Wonwoo memakan daging itu tanpa protes lagi. Tidak ada yang menaruh rasa curiga dengan interaksi itu. Hanya Seokmin yang mendengus di sebelahnya sebelum menjalankan sumpit untuk menginvasi piring Mingyu. Sat Mingyu memukul tangannya untuk menjauh, Seokmin mengeluh. "Kau membagi dagingmu dengan pacarku, harusnya kau tidak keberatan berbagi denganku juga."
Makan siang menjadi sedikit kacau setelah itu. Jenis kacau yang menyenangkan—kalau itu masuk akal.
Adik perempuan Mingyu datang sedikit terlambat. Dia sedikit lebih muda dari Wonwoo, matanya mirip dengan Mingyu, potongan rambutnya menyerupai milik ibunya tapi sedikit lebih modern dan diwarnai ungu di ujungnya. Dia sangat cantik, menggunakan celana jeans serta kaus lengan panjang di bawah jaketnya, terlihat percaya diri dan sangat nyaman dengan kulitnya. Minseo tidak banyak bicara selama makan siang, hanya mengunyah dan mendengarkan obrolan yang tertukar di meja makan, menjawab jika namanya disebut. Tetapi dia adalah satu-satunya dari semua anggota keluarga yang hadir hari itu yang membuat darah Wonwoo berdesir panik di bawah tatapannya.
"Kau pacar Seokmin?" Cara dia bertanya tidak terdengar seperti rasa penasaran biasa. Melainkan mengandung tuduhan di dalamnya. Dan dia memandang Wonwoo seolah mengetahui rahasia terkeji yang disimpan Wonwoo dengan sangat baik di bawah lapisan kulitnya. Untuk sesaat Wonwoo merasa sangat bersalah meski dia tidak betul-betul melakukan kejahatan apa-apa. Dalam kepalanya seruan panik tidak mau berhenti. 'Dia tahu. Dia tahu. Dia tahu. Adik Mingyu tahu kalau aku suka dengan kakaknya yang sudah bahagia bertunangan dengan perempuan lain. Dia tahu kalau aku orang yang buruk.'
Tapi Mingyu menyeletuk seraya menyentil dahi adik perempuannya. "Jangan memandangnya seperti itu, Minseo." Kemudian dia menatap Wonwoo dengan pandangan menyesal. "Dia ini dulu suka dengan Seokmin. Jadi dia merasa terancam dengan kehadiranmu. Padahal sudah kubilang sepupu tidak boleh punya perasaan seperti itu."
Minseo memekik mendengar kata-kata Mingyu itu. Dia memukul lengan kakaknya berkali-kali seraya meneriakkan sesuatu yang tidak terlalu koheren ditangkap telinga Wonwoo. Semua orang di meja tertawa, Tzuyu meletakkan satu tangan di lengan Mingyu, tangan yang lain menutup mulutnya. Meski tidak ingin, Wonwoo tidak bisa mengalihkan mata dari gerakan itu. Tidak bisa berhenti cemburu memikirkan betapa intim gesture sederhana itu di matanya. Dia baru berhenti ketika mendengar seseorang berdehem ringan. Saat Wonwoo mengalihkan pandangannya, dia bertemu coklat hazelnut yang mirip dengan iris Mingyu sedang mengawasinya. Wonwoo menundukkan kepala malu hanya beberapa milisekon setelah matanya bersiborok dengan mata Minseo, tidak bisa berhenti berpikir, 'Dia tahu.'
Selain Minseo, tidak ada yang membuat Wonwoo terganggu sepanjang makan siang. Ayah Mingyu tidak hadir sampai akhir. Ayah Seokmin adalah seorang lelaki tua yang mirip dengan anaknya, terutama cara mereka tersenyum. Dia berkali-kali menceritakan lelucon yang membuat semua orang tertawa. Tidak ada yang mempermasalahkan pacar Seokmin adalah seorang laki-laki. Keluarga mereka tidak terlalu konservatif.
Setiap orang bersikap ramah—terlalu ramah—dan berusaha melibatkan Wonwoo sebanyak mungkin dalam percakapan tetapi dia merasa sangat kewalahan karena dia tidak mengerti sangat banyak lelucon personal mereka, tidak tahu apa yang terjadi di rumah nenek Mingyu di Anyang bulan lalu, tidak tahu salon mana yang paling bagus untuk memotong rambut, tips diet untuk menghilangkan lemak di paha dalam para wanita, jadi Wonwoo lebih banyak diam. Sementara Tzuyu sangat natural menjawab semua pertanyaan Nyonya Kim, membalas setiap perkataan mereka, memberitahu apa yang terjadi dengan hidupnya dan Mingyu, dan... dan... sangat terlibat. Seolah ini memang adalah tempatnya. Tidak ada spasi sedikitpun untuk Wonwoo. Dan Wonwoo merasa dia sangat konyol ketika hatinya terbakar rasa iri dan cemburu, dia merajuk dalam hati seakan Tzuyu merebut sesuatu yang tidak pernah menjadi miliknya. Tzuyu sudah ada di sana lebih dulu, tentu saja dia lebih mengenal orang-orang ini.
"Berhenti membicarakan pernikahan kalian. Tidak ada yang mau tahu tentang itu." Minseo satu kali berkata dari kursinya. Saat Wonwoo melihat gadis itu, mereka lagi-lagi bertemu pandang. Seolah kata-kata Minseo itu ditujukan untuknya, karena jelas dia berbicara sambil menatap ke arah Wonwoo. Wonwoo tidak bisa berhenti berpikir, 'dia tahu'.
Yah, seperti itu kira-kira makan siang mereka berjalan dengan canggung namun lancar. Wonwoo tidak melakukan apa pun yang ilegal kecuali kemungkinan bahwa adik perempuan Mingyu tahu kalau dia sama sekali bukan hal yang baik untuk pertunangan kakaknya.
.
.
"Untuk apa itu tadi?" tanya Wonwoo saat dia duduk dalam mobil Seokmin.
"Apanya yang untuk apa?" suara Seokmin sedikit teredam bunyi pintu mobil yang ditutupnya dengan keras.
"Kau tahu apa yang kumaksud dengan apa," kata Wonwoo lagi memutar bola matanya.
Seokmin diam sesaat dan memasang sabuk pengamannya. "Entahlah aku bingung dengan apanya yang apa dan untuk apa."
"Kau benar-benar menyebalkan."
Seokmin tidak menjawab. Hanya menggerakkan perseneling dan menginjak gas lalu menyetir dalam diam.
"Hei katakan sesuatu dong." Seokmin berkata lagi setelah beberapa saat.
"Memangnya apa yang harus kukatakan?"
"Entahlah. Bukankah ada banyak yang bisa dibicarakan?"
"Misalnya?"
"Misalnya… emm…" Seokmin tampak berpikir sejenak, mengalihkan perhatiannya dari jalan kepada penumpangnya. Dia tersenyum menunjukkan barisan giginya sebelum berkata "Misalnya bagaimana tanggapanmu dengan apa yang kukatakan tadi."
Wonwoo mencibir. Rasanya ingin menyelupkan si bodoh di sampingnya ini ke dalam oli dan tidak mengangkatnya sampai empat puluh delapan jam kemudian. "Sekarang kau bertanya tentang itu."
"Yup."
Wonwoo memilih mengabaikan Seokmin dan melanjutkan memeriksa ponselnya.
"Lagipula aku penasaran sebenarnya hubungan apa yang kau milik dengan Mingyu," kata Seokmin lagi.
Wonwoo menggeram kesal. "Tidak ada hubungan dari awal."
Seokmin tertawa. Apa yang lucu dari itu? "Yeah aku tahu itu." kata Seokmin. Senyum aneh itu bertengger di wajahnya lagi. "Jadi tidak salah kan kalau aku mengaku pacarmu," katanya lagi, kali ini diikuti kedipan mata. Wonwoo tidak yakin harus merespon apa terhadap kedipan itu. Tapi dia cukup tahu untuk menjawab pernyataan pemuda itu.
"Aku tidak tahu benar atau salah. Sebenarnya aku keberatan," Wonwoo berharap ekspresi pemuda yang sedang menyetir di sampingnya akan sedikit berubah, tapi Seokmin masih tetap konsisten dengan senyumnya. Dia kemudian melanjutkan dengan sedikit ragu "Tapi aku tidak tahu apa tujuanmu sebenarnya."
"Tujuanku bukan sesuatu yang penting," Seokmin berkata seraya berkonsentrasi membelokkan mobilnya ke arah apartemen Wonwoo. "Pada akhirnya kau akan mengerti. Dan aku sudah berjanji padamu ini akan menyenangkan. Jadi…" menggerakkan sebelah tangan menyisir rambutnya "ini pasti menyenangkan."
.
.
"Kau apa?" Junhui harus memaksa dirinya untuk tidak menelan potato chips di tangannya beserta bungkusnya. Karena ini berita baru dan tergila yang pernah didengarnya dari Wonwoo tahun ini (setelah masalah dia kencan dengan Mingyu, tapi Wonwoo tidak memberitahunya waktu itu jadi yeah ini yang tergila setahun ini). Entah kenapa dia merasa sepertinya Wonwoo punya hobi baru akhir-akhir ini. Membuatnya mengalami serangan jantung ringan.
"Kubilang aku makan siang bersama keluarga Seokmin tadi."
Junhui meletakkan jaketnya di atas sofa Wonwoo. Demi Tuhan dia baru saja melangkahkan kaki ke apartemen sahabatnya beberapa detik lalu dan Wonwoo—dengan sangat santai sambil menikmati kopi dinginnya―mengatakan kalau dia baru saja kembali dari makan siang bersama Lee Seokmin. Lee Seokmin. Apa telinganya sekarang mulai bermasalah? Karena terakhir Junhui ingat, Lee Seokmin dan Wonwoo baru bertemu dua kali dan itu tidak membuat Wonwoo bisa mengikuti acara makan siang bersama keluarga Seokmin. Keluarga besar tepatnya. Dia pasti sudah salah mendengar.
"Tunggu. Tunggu. Kurasa aku salah dengar. Apa tadi kau bilang Lee Seokmin?"
"Yup."
Junhui merasakan migraine di kepalanya secara tiba-tiba. Seperti ada palu raksasa baru saja dihantamkan pada tengkoraknya. Dia berjalan memutari sofa dan duduk di ujung lain sofa itu kemudian. Memandang Wonwoo curiga disertai rasa khawatir.
"Bagaimana bisa? Kenapa? Kapan? Dimana?"
"Tenang Jun. Tenang." Wonwoo menggerakkan tangannya tepat di depan wajah Junhui. Berharap Junhui tidak akan bertingkah seperti ibu-ibu paranoid setiap kali Wonwoo menceritakan sesuatu padanya. Itu membuat Wonwoo sedikit lelah.
"Ini sedikit rumit dan aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya," kata Wonwoo lagi. "Tadi dia tiba-tiba mengajakku makan siang dan aku sama sekali tidak tahu kalau itu dengan keluarganya."
"Bukannya seharusnya kau menolak walaupun itu tidak dengan keluarganya?"
"Aku tahu. Aku tahu. Hanya saja tawarannya sedikit menggiurkan jadi.. yeah." Wonwoo merasa sedikit bersalah berbohong pada Junhui tapi dia tidak bisa membiarkan dirinya mengatakan pada Junhui kalau dia menyetujui ajakan Seokmin karena orang yang bersangkutan sudah mengancamnya dengan sesuatu yang berhubungan dengan Mingyu dan tunangannya dan memberitahu Junhui. Itu akan membuat Junhui semakin marah entah pada Wonwoo atau pada Seokmin atau Mingyu. Mungkin kepada ketiganya.
"Lalu? Apa Mingyu juga ada di sana?"
Wonwoo mendesah pelan. Tidak bisa berbohong tentang ini. "Yeah." Dengan tunangannya.
"Dan?"
"Dan?" Wonwoo mengulangi pertanyaan Junhui tidak yakin apa yang ingin diketahui sahabatnya itu.
"Dan tidak terjadi apa-apa?"
"Hmm tidak ada. Hanya makan siang normal." Wonwoo mengedikkan bahu. Adik Mingyu mungkin tahu aku suka dengan kakaknya, dia sepertinya membenciku. Tapi makan siangnya cukup normal. "Dan aku juga berbicara satu dua kata dengan Mingyu."
"Hanya satu dua?" Junhui masih bertanya menyelidik dan hanya ditanggapi dengan anggukan oleh Wonwoo.
"Makanannya tadi enak," kata Wonwoo akhirnya mengalihkan pembicaraan. Tandanya dia sudah selesai dengan topik tentang makan siang bersama Seokmin dan keluarga. Karena sejak awal dia hanya ingin memberitahu Junhui saja, bukan berdiskusi panjang tentang itu.
Junhui melempar tangannya ke udara. Menyerah. Dia kemudian meraih bantal kursi di sampingnya dan menekannya ke wajah lalu mengerang frustasi. "Sebenarnya apa yang kau lakukan Won?"
"Bukan sesuatu yang berbahaya."
Wonwoo tersenyum meyakinkan Junhui. Tapi bahkan dia sendiri tidak bisa yakin dengan kata-katanya.
.
.
Mingyu menelepon beberapa jam kemudian setelah Junhui meninggalkan apartemen Wonwoo dalam keadaan berantakan pasca menyelesaikan tugas akhir semester yang harus dikumpulkan sebelum natal. Wonwoo harus menggali ponselnya di antara tumpukan kertas selama beberapa waktu sebelum bisa melihat nama pemanggilnya dan segera menerima telepon itu.
"Hei ada apa malam sekali?" ujarnya begitu tersambung dengan Mingyu.
"Selamat malam juga untukmu sepupu ipar."
Wonwoo memutar bola matanya mendengar jawaban Mingyu. "Seriously Gyu?"
"Aku tidak tahu kau berkencan dengannya," kata Mingyu.
Wonwoo ingin mengatakan sesuatu seperti 'aku juga tidak tahu kalau aku berkencan dengannya' tapi sebaliknya yang keluar dari mulutnya adalah "Sama seperti aku tidak tahu kalau kau sudah bertunangan." Dan Wonwoo merasa rasa cemburunya terdengar sangat jelas dalam suaranya. Tapi dia tidak peduli. Biar saja Mingyu mendengarnya.
"Itu berbeda," jawab Mingyu. Dia terdengar kesal, nada bicaranya lebih tinggi dari yang pernah Wonwoo dengar selama ini. Wonwoo tidak mengerti kenapa malah dia yang bereaksi seperti itu. "Kau tidak mengenal Tzuyu dan aku tidak merasa harus memberitahumu tentang itu. Itu pribadi."
Oh.
Wonwoo tidak tahu harus memberikan respon apa. Karena memang Mingyu tidak harus memberitahunya tentang itu. Mereka bukannya punya hubungan spesial seperti yang dipercaya Wonwoo dulu. Tapi hal yang sama juga berlaku untuk Mingyu kalau begitu.
"Maaf tapi bagiku itu juga adalah hal yang pribadi dan aku tidak harus memberitahumu dengan siapa aku berkencan." Pada akhirnya dia memaksa lidahnya berbohong lagi.
Setelah itu tidak ada jawaban dari Mingyu. Wonwoo memutuskan ini adalah akhir dari percakapan mereka.
"Selamat malam Mingyu."
Dia tidak menunggu Mingyu menjawab. Langsung mematikan sambungan telepon mereka dan melempar ponselnya ke atas tumpukan kertas semula. Malam itu Wonwoo tidak bisa menutup matanya tanpa sekalipun memikirkan wajah Mingyu dan Tzuyu. Juga adik Mingyu yang mengintimidasinya. Wonwoo masih berpikir kalau dia pasti tahu sesuatu. Tapi Wonwoo tidak berani mencari tahu apa. Dia juga memikirkan bagaimana untuk pertama kalinya Mingyu berbicara dengan nada tinggi kepadanya. Dia berpura-pura reaksi Mingyu yang seperti itu adalah karena dia cemburu. Itu membantunya untuk dapat tidur.
.
.
Wonwoo duduk di salah satu kursi kayu yang berhadapan tepat dengan air mancur kampusnya. Dia dan Junhui dengan kompak menghembuskan napas lega setelah akhirnya mengumpulkan tugas akhir mereka sebelum deadline. Berikutnya mereka tinggal menikmati libur musim dingin. Mereka tersenyum senang—picik―saat melihat teman-teman mereka yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Ada rasa puas melihat yang lain masih sibuk sedangkan mereka berdua sudah tinggal berkemas untuk liburan musim dingin.
Hohoho.
"Lega rasanya menyelesaikan seluruh tugas ini," cengir Junhui sambil menghirup kopi instan yang baru dibelinya di mesin penjual otomatis.
"Kata seseorang yang hanya melakukan shading akhir," balas Wonwoo. Dia menggenggam mangkuk kopinya erat, mencoba mentransfer kehangatan ke tangannya. Udara akhir-akhir ini semakin tidak bersahabat dengan Wonwoo yang rentan dingin.
Junhui menyesap kopinya pelan dan menyengir lebih lebar. "Tapi kan aku mencari semua bahannya."
"Yeah dan semua itu mendapat sponsor dana dariku. Terimakasih Jun. Kontribusi yang kau berikan sangat besar dalam tugas kelompok ini. Sangat membantu," balas Wonwoo lagi. Dia tidak sedang bersikap sinis sebenarnya karena dia sudah terbiasa dengan ketidakmampuan Junhui membedakan tugas kelompok dengan sedikit membantu orang yang satu lagi dalam mengerjakan tugas yang seharusnya dikerjakan seluruh anggota kelompok.
Junhui hanya terkekeh pelan. Dia menggunakan sebelah tangannya untuk mengacak rambut Wonwoo menghasilkan pekik protes dari sahabatnya.
"Berhenti mengacak rambutku playboy."
"Hei berhenti memanggilku.…"
Tapi Junhui tidak melanjutkan kalimatnya. Dia mengatupkan bibir dan menggigit bagian bawahnya saat dia melihat bayangan seseorang mendekat ke arah mereka melalui sudut matanya.
"Mingyu," sebut Wonwoo seolah-olah Junhui belum tahu kalau Mingyu yang berjalan ke arah mereka. Mingyu terlalu tinggi untuk tidak terlihat oleh Junhui. Dan dia sangat mencolok karena wajah tampannya itu. Persetan dengan wajah tampan.
"Apa yang dilakukan si brengsek itu di sini?"
"Entahlah."
"Kuharap bukan untuk menemuimu," Junhui tidak tahu apa yang mendorongnya untuk mengatakan itu. Tapi Wonwoo sama sekali tidak bereaksi terhadap kata-katanya. Jadi mungkin dia tidak terdengar secemburu yang dia pikirkan. Atau mungkin Wonwoo juga berharap hal yang sama karena alasan tertentu. Dan entah dia senang untuk itu atau tidak.
"Hei Wonwoo dan," Mingyu tampak berpikir beberapa saat seperti berusaha menggali ingatannya tentang orang di samping Wonwoo "temannya Junhui." Sambungnya lagi dengan suara yang dipaksa untuk terdengar ceria. Junhui tidak suka orang ini.
"Sahabat," koreksi Junhui dingin.
Kalaupun Mingyu menangkap ketidaksukaan dalam suara Junhui, dia tidak menunjukkannya. Atau mungkin dia hanya tidak peduli. Sebagai gantinya dia berkata "Apa boleh kupinjam Wonwoo untuk hari ini?"
Junhui ingin berkata tidak. Tapi yang keluar adalah, "Seperti kau tidak meminjamnya satu tahun belakangan saja."
"Jun..." Wonwoo mendesis seraya menyikut rusuk temannya.
Dengan acuh Junhui mengedik ke arah Wonwoo. Wajahnya terlihat lelah, dia tidak ingin bertengkar karena masalah ini lagi. Namun kepahitan dan rasa cemburu di bawah abdomennya bukan sesuatu yang mudah untuk ditenangkan.
Apa yang salah denganmu? Wonwoo melotot kesal padanya.
Semua Won, semua salah sejak Mingyumu masuk dalam gambar kita. Junhui tidak mengatakan ini dan dia yakin Wonwoo juga tidak bisa mengartikan helaan nafas lelahnya seperti itu. Sementara Mingyu hanya berdiri di sana, sangat tinggi, atraktif, dan tidak tahu apa yang terjadi. Dengan getir Junhui berkata, "Kubilang pinjam saja. Lagipula dia butuh merefresh otaknya setelah menggambar perspektif sebanyak itu."
Wajah Wonwoo berubah cerah setelah itu. Dan oh apa yang tidak akan dilakukan Wen Junhui untuk melihat ekspresi itu di wajah sahabatnya.
.
.
"Jadi... sebenarnya ada apa lagi dengan Junhui?" Mingyu bertanya begitu mereka berdua melangkah keluar dari gerbang kampus. Dia membawa ransel Wonwoo di punggungnya dan Wonwoo berjalan tepat di sampingnya. Wonwoo tidak bisa tidak merasa seperti seorang gadis yang diperlakukan dengan sangat baik oleh pacarnya. Tapi dia bukan anak perempuan dan Mingyu bukan kekasihnya. Jadi mungkin itu hanya kebaikan hati Mingyu karena kasihan melihat dia yang sangat penat akibat tugas-tugasnya.
Wonwoo mengedikkan bahu sebagai jawaban pertanyaan Mingyu. Tanda dia juga tidak mengerti dengan kelakuan Junhui. Walau sebenarnya dia tahu.
"Dia membuatku takut," kata Mingyu lagi. "Dan dia sepertinya membenciku."
"Mungkin itu hanya perasaanmu."
Itu tidak benar. Junhui memang benci dengan Mingyu, untuk alasan yang sudah sangat pasti. Tapi Wonwoo tidak tertarik untuk membahas Junhui saat ini. Lebih ingin bertanya apa yang dilakukan Mingyu di kampusnya atau dari mana dia tahu kampus Wonwoo.
"Semalam kau langsung mematikan telepon," kata Mingyu. Seolah dia bisa membaca pikiran Wonwoo. "Jadi kupikir kau marah."
Wonwoo tertawa―tidak tulus—tanpa menatap Mingyu. "Aku tidak marah." Karena memang tidak ada alasan untuk marah dan itu membuat hati Wonwoo jauh lebih sakit.
"Yeah tapi tetap saja kau membuatku khawatir dengan menutup telepon seperti itu," ujar Mingyu santai.
Kata-kata Mingyu membuat Wonwoo berhenti melangkah dan ingin memeluk pria itu. Karena seluruh kata-kata dan sikapnya selalu berhasil membuat tingkat harapan Wonwoo padanya semakin tinggi. Tapi Wonwoo menekan semua perasaannya dan hanya berkata "Ayo cari tempat makan. Aku lapar."
"Aku tahu restoran Cina dekat sini."
.
.
Saat mereka duduk berhadapan di dalam restoran Cina yang dikatakan Mingyu, Wonwoo sama sekali tidak bisa mengalihkan matanya dari pria itu. Dia bertanya-tanya bagaimana manusia sesempurna sosok di hadapannya ini bisa tercipta. Mingyu mempunyai struktur wajah yang diimpikan semua pria—Wonwoo ingin punya garis rahang yang tegas seperti itu. Warna kulitnya yang tan tidak seperti kebanyakan orang Korea biasa adalah yang paling menarik perhatian Wonwoo. Mungkin karena Mingyu sempat tinggal di belahan lain bumi. Dan tatapan matanya yang sendu tapi juga seperti menyimpan cerita di dalamnya. Wonwoo sudah terpesona pada wajah pria ini sejak pertama melihatnya melalui Skype.
"Apa aku memang setampan itu?" bisik Mingyu di dekat telinga Wonwoo membuat pipi pemuda itu memerah seketika. Mingyu sudah duduk di sampingnya dan bibirnya hampir menempel di telinga Wonwoo. Sejak kapan Mingyu menjadi sedekat itu dengannya?
Wonwoo gelagapan dan kehilangan kata-kata. "A..apa maksudmu?"
"Kau tidak berhenti memandangiku dari tadi.
"Dasar bodoh aku tidak memandangimu." Wonwoo memalingkan wajahnya ke samping, berusaha menyembunyikan semburat merah yang perlahan memenuhi wajahnya. "Lagipula dari mana kau tahu restoran ini? Aku saja tidak pernah tahu kalau ada restoran seperti ini dekat kampusku," katanya lagi, jelas-jelas mengalihkan pembicaraan.
Mingyu terkekeh pelan seraya menjauhkan wajahnya dari Wonwoo. "Aku juga pernah tinggal di Seoul, kau tahu." ujarnya geli. "Lagipula kau harus berhenti menghabiskan makan pagi dan siang di kantin Paman Lee. Coba berjalan di daerah sini. Ada banyak tempat makan yang lezat."
"Bagaimana kau bisa…"
"Tentu saja bisa." Mingyu memotong sebelum Wonwoo selesai bertanya "Kau sendiri yang mengatakannya padaku beberapa bulan yang lalu."
"Kau ingat?"
"Aku mengingat semua tentangmu, anak manis."
Mulut manisnya itu lagi. Dia selalu mengatakan sesuatu seperti itu seolah Tzuyu tidak ada. Wonwoo merasa pipinya bersemu lebih merah lagi dan suhu tubuhnya meningkat drastis. "Bagaimana bisa?"
"Entahlah," balas Mingyu acuh sambil mengedikkan bahunya.
"Mungkin karena kau selalu memikirkanku."
"Tidak bisa menyangkal itu."
Akhir-akhir ini banyak hal yang tidak bisa Wonwoo mengerti. Apa motif Mingyu. Apa yang diinginkan Seokmin. Apa yang membuat Junhui seperti sekarang. Apa yang diketahui adik Mingyu. Tapi Mingyu selalu tahu apa yang harus dikatakan untuk membuat Wonwoo lupa dengan semua itu. Seharusnya ada batasan untuk seseorang bisa membuat jantung Wonwoo berhenti selama beberapa milisekon akibat perkataannya. Seharusnya ada filter di depan mulut Mingyu sehingga bisa menyaring setiap kata yang akan keluar sebelum membunuh ewarasan Wonwoo. Tapi itu semua tidak ada.
Wonwoo merasa sangat kecil, tidak tahu apa-apa, tidak tertolong. Dia seperti kehilangan pijakan dan moralnya. Meski tahu ini salah, tapi dia tidak bisa menghentikan dirinya jatuh semakin dalam kepada Kim Mingyu.
Kim Mingyu, pria dua puluh enam tahun yang sudah bertunangan.
tbc
a.n. excuse the mistakes ya :" as usual, sorry for the long wait
