"Kami pulang!"
Naruto membimbing Sakura masuk ke rumah besar bergaya mediterania. Kepala pelayan rumah tersebut menyambut mereka berdua dan membantu Sakura yang tengah kesakitan akibat pukulan telak di punggungnya. Rasanya kepalanya pusing jika terus berlama-lama berdiri.
"Nona Sakura, benar tidak apa-apa? Kami bisa membuatkan Anda obat, jika Anda mau," kata Kepala Pelayan. Sakura menggeleng lemah tanpa suara. "Apa Nona saya antarkan ke kamar sekalian?" tanyanya lagi.
"Tidak usah," sela Naruto membawa Sakura duduk di kursi yang berada di ruang tengah. "Berikan air hangat dan beberapa obat pereda sakit. Juga bikinkan susu hangat buat tulang."
"Buat apa?" Sakura mengernyit.
"Biar itu tulang kembali sedia kala."
Sakura berdecak kesal. "Tidak ada cara lain selain itu? Kamu 'kan tahu, aku tidak suka sama susu. Biar itu susu tulang atau susu penambah tinggi."
"Ck. Sampai di rumah, mulutnya bawel kembali. Heran itu kelakuan di rumah diumbarkan, tapi di sekolah ditutupi." Naruto menggelengkan kepala sembari meletakkan tas sekolah Sakura di sampingnya,lalu meninggalkan Sakura dan naik lantai dua.
Sakura yang termenung seraya meringis pelan akibat luka di punggungnya, mengembalikan dirinya untuk mengingat kejadian-kejadian tadi siang. Mata tajam seorang pria membuatnya ingin menangis. Entah kenapa, rasa kangen masih membuncah dirinya. Lalu, apa salahnya jika seandainya dia ingin membongkar sebuah rahasia. Rahasia besar, hanya dirinya, Naruto dan pria tersebut yang tahu?
Air matanya tiba-tiba menetes ke pipinya saat memejamkan mata. Dan tiba-tiba pula, sebuah jari hangat mengusap tetesan tersebut dari pipinya. Sakura membuka matanya, menoleh ke samping dan mata hijaunya pun membulat.
"Jangan menangis, isteriku."
Question &Answer
.
DISCLAIMER: NARUTO belong to KISHIMOTO MASASHI
WARNING: High School version. Ada typo. Deskripsi biasa. Alternate Universe. Genre: Romance, Fluff, Family, Friendship, Humor
.
Chapter 03: Secret?
"Paman!"
Tiba-tiba pemuda berambut kuning jabrik memeluk tubuh belakang pria itu. Membuat suasana tadi romantis berubah tegang. Sakura yang melongo pun beringsut menjauh, tidak mau masuk dalam masalah sama suami dan temannya—sekaligus keponakan iparnya.
"Lepaskan aku, Naruto!" geram pria itu, tetapi Naruto tidak mau melepaskannya. Wajah pria itu tertutupi oleh poni panjang sambil menundukkan kepala karena beban berat tubuh Naruto. "Atau kamu akan aku beri nilai merah di mata pelajaranku."
Tidak terintimidasi, Naruto mengeratkan pelukannya. "Selama aku menjadi keponakanmu, aku tidak takut sama sekali. Toh, kita ada di rumah," ucapnya seraya cengengesan. Sakura sedari tadi malah bersembunyi di belakang kursi panjang, mengintip mereka takut-takut.
Tidak tahan lagi gara-gara ulah kekanakkan Naruto yang tidak bisa hilang apabila berada di rumah, pria itu mengangkat sebelah tangannya, mencengkram kain dipakai Naruto kemudian melemparkan tubuh itu—alias dibanting.
Kejadian di depannya membuat Sakura melongo, pucat pasi—pastinya, dan ketakutan. Tubuh Naruto melayang, tetapi karena memiliki ilmu yang dikuasainya sejak kecil, Naruto bisa mendarat dengan mudah tanpa terluka ataupun terbanting di lantai. Senyumnya penuh kemenangan.
"Sampai kapan pun, Paman tidak akan mungkin bisa melukaiku."
Pria itu melengos acuh tidak acuh. Tatapan tajamnya melihat isteri tercintanya ketakutan, menghampirinya kemudian membopongnya kembali ke sofa panjang. Mendudukkan di atas pangkuan pria tersebut.
"Maafkan aku jika aku membuatmu takut lagi," Sakura menggeleng, malu. "Punggungmu sudah tidak apa-apa?" Sakura mengangguk kemudian menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria tersebut. Pria itu mengelus kepala Sakura. "Selama kamu di rumah, aku pasti menjagamu, Sayangku."
"Aduuh… lebay tingkat dewa banget, pasangan baru kawin 6 bulan," ejeknya jahil.
Pria itu secepat mungkin mengambil barang terdekat, melemparkannya ke Naruto. Tetapi itu ditangkap oleh laki-laki bersurai rambut kuning mirip bentuk durian.
Karena berisiknya di ruang tengah, kedua pasangan turun dari lantai dua. Memandang tiga orang—dua laki-laki satu perempuan—menatap tajam satu sama lain, tidak mau kalah. Mereka hanya menggeleng-geleng berkat ulah dua anak berbeda umur tersebut.
"Kalian bukan anak-anak lagi. Belajarlah sedikit. Lihatlah, Sakura jadi ketakutan."
Suara itu menghentikan perdebatan dua pemuda berwajah tampan dan sangat populer di sekolah walau berbeda jenis status. Mereka berdua menoleh ke arah dua pasang Orangtua yang tersenyum. Mereka pun ikut terhanyut dalam senyuman dua pasang Orangtua itu. Tetapi satu hanya sumringah dan satunya tersenyum tipis lalu menghilang lagi. Wajah datar.
"Apa kalian tidak malu, misalkan ada orang-orang lain mendengar perdebatan ini? Bisa-bisa reputasi dilakukan Sakura di sekolah bakalan ketahuan." Minato menghela napas. "Sebagai pengawas dan pelindung Sakura di sekolah, bertingkahlah selayaknya tidak pernah terjadi apa-apa. Bahaya bagi Sakura jika ada orang mengetahui rahasia besar ini."
"Oh, tenang saja, Ayah." Naruto bersikap tenang-tenang saja. "Selama aku di sekolah, saat itulah Sakura baik-baik saja. Toh, Sakura tidak terluka. Benar 'kan, Paman?" tanyanya ke pria sedari tadi memeluk Sakura di atas pangkuannya.
"Jangan memanggilku Paman. Usia kita hanya berbeda 6 tahun," gerutu pria itu. "Gara-gara gossip tentang kamu pacaran dengan isteriku, akibatnya dia jadi terluka begini."
"Mana aku tahu," gumam Naruto mengangkat bahunya pelan. Pria itu menggeram tertahan.
Dua wanita di samping dua laki-laki—masing-masing pasangannya—berhamburan mendekati Sakura, memeriksa dengan menyentuh punggung mungil gadis tersebut. Sakura merintih pelan. Raut wajah cemas dan khawatir terpasang di dua wanita setengah baya—tetapi awet muda masih kelihatan.
"Kamu terluka, Sayang?"
"Sakura baik-baik saja, Ma." Sakura menghembuskan napas dan mengeluarkannya berulang-ulang kali. "Ini hanya kecelakaan kecil saja."
"Sudah minum obat pereda nyeri?" tanya wanita satu lagi yang tengah berdiri. Sakura mengangguk. "Kalau masih sakit, kita ke Rumah Sakit saja? Bagaimana?"
"Sakura baik-baik saja, Bunda," tolak Sakura terus menahan nyeri di punggungnya.
Naruto mendekati empat orang di sofa panjang, "Aku harap Paman terus memperhatikan Sakura. Selama dua tahun ini, kita menyembunyikan rahasia besar bahwa Sakura telah menikah dengan salah satu guru di sekolah kami. Baru kali ini, Sakura mengalaminya," katanya—sok—dewasa.
"Selama kalian berdua terus mengawasi Sakura, aku masih bisa menjaga rahasia ini," sahutnya datar. Sakura menunduk menahan kesedihan, entah karena apa.
Pemuda berambut kuning paling tidak suka jawaban biasa-biasa saja tanpa adanya perhatian, menarik tubuh Sakura ke dalam gendongannya dan naik ke lantai dua, tempat di mana Sakura tidur. Sebelum naik, Naruto berhenti dan berbalik badan. Bibirnya naik ke atas, terbentuk senyuman khas biasanya diberikan di dalam rumah ini.
"Apa yang ingin kamu lakukan sebenarnya? Apa kamu ingin melakukannya sampai Sakura pergi darimu?" tanya Naruto terus memandang tajam pria tersebut—tanpa embel-embel panggilan Paman. Senyumnya menantang. "Saatnya dimulai di hari terakhir di kelas XI ini. Iya kan, Sasuke-sensei?"
Nah! Suami Sakura sekaligus Guru Matematika Sakura dan Naruto di sekolah adalah Uchiha Sasuke sendiri. Mereka menikah 6 bulan yang lalu karena permintaan Sasuke sendiri. Alasannya tidak diketahui. Tidak ada yang tahu, kecuali dua keponakannya yang suka sekali menjahilinya di rumah maupun di sekolah. Siapa lagi kalau bukan Naruto dan keponakan berwajah dingin, Namikaze Gaara.
Jangan tanya soal kehidupan mereka. Sebenarnya Sakura sudah mulai menyukai Sasuke, tetapi karena Sasuke cuek di sekolah, Sakura menahan sakit hatinya dan menyembunyikan rasa sukanya ke Sasuke. Ini juga demi melancarkan kelulusan di sekolahnya, sebelum dirinya kena amukan massa dari cewek-cewek di sekolah termasuk cowok-cowok banci penyuka Sasuke. Anggap saja mereka itu Sasuke-sensei Lovers.
Rahasia terbesar ini tidak diketahui oleh siapa pun termasuk teman-teman Naruto dan Gaara juga teman-teman Sakura. Pihak sekolah tidak ada yang tahu kecuali Guru Bahasa Jepang—nanti kalian juga tahu.
Inilah rahasia besar antara siapa Sasuke dan Sakura. Apa yang terjadi dengan mereka kemudian ya?
Balik lagi ke kenyataan.
"Apa maksudmu, Naruto?" tanya Sasuke bangkit berdiri, menatapnya tajam pada Naruto yang memandangnya tenang-tenang saja. Seperti tidak ada masalah.
"Mau. Tahu. Saja."
Naruto pun naik ke lantai dua membawa Sakura yang berada di gendongannya. Sasuke pun menggeram di dalam hatinya sehingga mengakibatkan kepalan tangannya memutih dan rahangnya mengeras. Keempat Orangtua hanya bisa pasrah pada tingkah anak-anak mereka—keponakan dan Paman.
To be continued…
.
A/N: Dorr!
Maaf, agak aneh ya. Bahasa gaul begitu dipadukan dalam bahasa seperti itu. Jangan tanya kenapa, original fiction saja juga menggunakan bahasa itu. Kebanyakan baca di watty, jadinya begitu. Ahaha :P #Kick
Sign,
Zecka Fujioka
04 Mei 2014
