Chapter sebelumnya:

"… Netherlands." "Ayo jadi teman." "LO NGAPAIN DIA SAMPAI KAYAK GINI, LON?!" "Kenapa Kak Nesia selalu berprasangka buruk sama Kak Malaysia?" "Iya, bos! Saya sudah menemukan Indie!" "—gue bakal ngelaporin lo ke kepala sekolah atas tuduhan 'perencanaan penjajahan'." Indonesia mulai sadar siapa yang sebenarnya 'teman' di sini.


APH (Awesome(?) Power Hetalia) © Om Hidekaz Himaruya

Sister, Long Time No See © maiTiramisu

Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Masih warning: Di chapter ini anda bisa terserang SOD

(Sinetron Over Dosis), ketularan saya(?) Waspadalah!

Review! *jengjengjeng* Review! *jengjengjeng**mainrebana*


"Atau mungkin gak mau Kak Nesia dan Abang Netherlands berteman lagi."

Dari dulu gue emang ceroboh.

"Gini, kalo misalnya kakak yang slalu ngusilin Kak Malaysia, terus tiba-tiba berniat ngebantuin Kak Malaysia bebas dari si alis tebal itu, tapi malah dianggep jahat gara-gara keusilan kakak yang lalu-lalu, gimana?"

Gue dibutain oleh kebencian untuk ngertiin posisinya.

"Itu cara dia menunjukkan kasih-sayangnya."

Sampe-sampe gue gak bisa mikirin perasaannya.

"Lu yang paling dia sayangi, dan begitulah caranya buat nunjukkin itu."

Gue gak bisa ngertiin dia.

"Lo yang paling disayang sama dia."

Gue gak pernah sadar.

Indonesia terus mengusap air matanya seiring langkah kakinya membawa ia keluar dari gerbang sekolah. Suasana sudah sangat sepi, tak ada satupun orang di sana kecuali dia sendiri.

Mendukungnya untuk terus menangis.

Gue emang bukan kakak yang baik, pikirnya. Dan ternyata gue gak pernah berusaha buat jadi yang terbaik, air mata pun semakin deras menuruni pipinya. Bahkan ia tak menyembunyikan isakan-isakannya.

Namun tiba-tiba, ia menangkap sosok yang masih duduk bersender di depan halte bus sendirian tak jauh dari sana.

Ia menatap lekat-lekat orang itu, air matanya yang masih tertampung menyulitkannya untuk melihat dengan jelas.

Dan betapa terkejutnya dia saat tahu siapa orang tersebut.

Ia berlari kecil menghampiri sosok tersebut.

"M-Malon?" panggil Indonesia dengan suara paraunya.

Malaysia menoleh dengan tatapan mengantuk, namun matanya segera terbuka lebar tepat ketika melihat wajah sang kakak telah sembab memerah sehabis menangis.

"L-Lo nangis? Kenapa lo? Kepeleset terus nyebur got?" tanya Malaysia khawatir seraya bangkit tiba-tiba menghampiri sang kakak.

Indonesia tertawa kecil seraya terus mengusap wajahnya yang penuh air mata. "Apaan, sih, lo, gak lucu tau."

"Siapa juga yang ngelawak." balas sang adik ketus.

Indonesia menatap sang adik dalam.

Ia baru sadar. Jadi selama ini sang adik menunggunya di sini? Sendiri?

Setelah lama saling pandang, akhirnya Indonesia menunduk dan bergumam. "Maaf."

"Huh?" Malaysia telah jelas mendengarnya, namun ia tak mengerti kenapa tiba-tiba—

"Maafin gue yang udah berprasangka buruk sama lo..." jelas Indonesia pelan. Dan dengan seketika, nadanya berubah. "Aturan pas itu gue bantuin lo buat bunuh itu pedo! Dasar laknat, tuh, orang!" bentaknya masih dengan suara paraunya.

"M-Maksud lo Netherlands? E-Emang dia ngapain lo?"

"D-Dia…" Indonesia terisak. "Ternyata dia berencana buat ngejajah gue lagi! Pas gue lagi jalan ke luar gerbang, gue denger dia lagi ngobrol sama bosnya lewat telepon terus ngomongin gue dan rencana busuknya itu!" jelas Indonesia menangis lagi.

"T-Terus lo apain dia?"

"Gue hajar aja pake silat gue!"

Malaysia tersenyum tipis menahan tawa. Kakaknya yang terkenal santai-tapi-lebay itu, kini OOC dan bersikap manja seperti Filipina.

"Jadi lo nangis gara-gara dikhianatin sama 'temen' baru lo itu?"

"Bukan!"

"Eh? Terus?"

"G-Gue nangis gara-gara…" Indonesia sibuk terisak tangis. "…ngerasa bersalah sama lo!"

"Huh?!" Malaysia terkejut bukan main.

"Aturan pas itu gue sadar kenapa lo ngehajar dia! Eh gue malah musuhin lo." ia kembali terisak. "Lo ngehajar dia karena nolak rencananya buat ngejajah gue lagi, kan?"

"Eh? Eumnn…" Malaysia terdiam, mengingat kembali kejadiannya.

/Flashback/

Malaysia berjalan sendiri menyusuri halaman belakang sekolah di mana kejadian kemarin berlangsung. Tas masih dibawanya karena ia tak sempat ke kelas. Ia terus melangkahkan kakinya sebelum menemukan sosok lelaki besar sedang berdiri bersandar di tembok sendirian.

Mendengar suara langkah kaki mendekat, Netherlands menoleh.

Seketika senyum terpampang di wajahnya. "Wah, kau datang juga. Ku fikir kau tak akan datang."

"Memang 'tak akan', tapi gue penasaran." ucap Malaysia tenang sembari menghampiri Netherlands.

"Sepertinya kau jauh lebih cool dari kakakmu itu, ya?" ucap Netherlands berbasa-basi. "Oh iya, kau kan hasil didikan si alis teb—"

"England." interupsi sang siswi.

"Ya...orang itu..."

Hening.

"Untuk apa lo manggil gue ke sini?" tanya Malaysia to-the-point.

Netherlands menoleh dan menatap sang siswi yang sekarang sedang bersandar di tembok di sampingnya. "Oh iya, aku lupa. Aku ingin bicarakan sesuatu denganmu..." jawabnya menatap lurus ke depan. "…tentang Nesia."

Seketika, Malaysia menatap Netherlands dengan sorotan mata geram. "Kenapa sama Indon?"

"Ya...kau dengar semua percakapan kami kemarin, kan?"

Malaysia tersentak. Jadi dia tau?

"Dan dia telah menyetujuiku sebagai teman. Kau dengar bagian itu, kan?"

"Ya, lalu apa?"

Netherlands tersenyum lebar, sebelum menoleh dan kembali menatap wajah penasaran sang siswi di sampingnya. "Bantu aku menjadi lebih dekat dengannya."

"Cih!" Malaysia kesal. "Apa lo gak denger ucapan gue kemarin? Mana mungkin gue nolongin lo?"

Netherlands terkekeh. "Ayolah, kau tahu, aku ingin dia jadi milikku. Maksudku, aku ingin menjadi kakak iparmu."

"The Hell."

Netherlands semakin melebarkan senyumnya. "Atau jangan-jangan kau tak mau menolongku karena kau…" sekilas ia menatap tubuh Malaysia dengan nakal dan berbisik di telinga Malaysia. "…menyukaik—"

*BUKKK!*

/End of Flashback/

Malaysia tersenyum sendiri, tentu tanpa disadari oleh sang kakak.

Waktu itu, Netherlands dipukul olehnya bukan karena ia menolak diajak kerjasama. Ya...mungkin itu termasuk salah satunya. Tapi lebih tepatnya, karena ia merasa geli dengan tingkah mesum sang guru olahraga.

Dasar pedo, pikir Malaysia bergidik ngeri mengingat tatapan dan senyuman itu lagi.

"Lon."

"Huh?"

"Pulang, yuk." ajak Indonesia setelah selesai mengusap semua sisa air mata di pipinya.

Malaysia terdiam memaku.

Sang kakak mengajaknya pulang bersama? Berdua?

"Heh! Lo mau nungguin bis sampe kapan? Udah...jalan kaki aja sama gue." ajak sang kakak lagi sembari berjalan duluan. "Lagipula dengan gini, kita bisa lebih lama berduaannya."

Malaysia langsung melempar tatapan geli pada sang kakak. "Jijik woy!"

Indonesia tertawa keras. Dengan gini, gue bisa lebih ngertiin lo, pikirnya. "Ayo cepetan! Udah mulai gelap nih!" teriak sang kakak.

"I-Iya, iya!" Malaysia pun berlari menyusul sang kakak.

Tanpa disadari, senyumnya merekah. Kembali seperti dulu lagi, pikirnya. Dan gue gak akan ngelepasin lo lagi.

"Lon."

"Huh?"

"Lo sayang sama gue kan?

"JIJIK WOY!"

"AHAHAHAHAHAHA!"

~Fin~


SELESAAAIII~~! *pakejasterbang* *terjundarimenaraeiffel*

Berhasil! Berhasil! Berhasil! Hooray! *jogetsambilngelapingus*

Akhirnya sinetron-gak-kesampean ini selesai juga (=v=)d

Duh, pas saya baca ulang emang lebay banget yak? Wkwkwk Maklum, produksi tahun berapa tau(?)

Memang jati diri Indonesia, ya? *loajakali* *ditimpukbata*

UWAAA ADA REVIEWER LAGI!

Special thanks to: LalaNur Aprilia

Duh, emang gak sesuai banget. Hayalan saya mah keterlaluan, deh =.,=" *gaknyambuuung*

Tapi makasih banyak yaaa! Duh, saya kira review fic ini bakal permanen cuma 1 xDD

Makasih juga buat para readers! Hope you guys like this! x3

Udah, ah! MaiTiramisu mau siap-siap ke pensi sekolah dulu!

Bye-bye~~!