"Aku ingin kau menjadi komite penegak disiplin bersamaku. Bagaimana menurutmu?"
Bagaikan pita kaset rusak kata-kata itu kerap kali terngiang-ngiang di memorinya. Baik sebelum makan, sesudah makan dan mencuci piring pun ia masih saja mengingat kata-kata itu. Bahkan ketika ia berendam dalam bak mandi atau ketika meletakkan kepalanya di atas bantal pun ia masih belum dapat melupakannya. Ia terus saja mengingatnya walaupun matahari sudah muncul dari peraduannya.
Berulang kali ia merutuki dirinya karena mengucapkan kata-kata itu tanpa berpikir dulu. Kalau saja ia berpikir lebih dulu mungkin ia takkan mengusulkan rencana yang tidak dipertanggungjawabkan semacam itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur, ia malah mengajak si murid baru bergabung dalam komite yang bahkan belum diajukan proposalnya pada Ketua Osis.
Memang sih namanya sudah ada dan terdengar meyakinkan. Tapi pada dasarnya 'Komite Penegak Disiplin'itu sama sekali tidak ada di sekolah ini. Ia baru mengucapkannya begitu saja seolah-olah klub semacam itu memang sudah terbentuk.
Ia tidak terlalu khawatir bila murid baru itu bertanya pada siswa lain yang juga tidak tahu menahu. Ia bisa saja mengarang alasan dengan mengatakan bahwa komite semacam itu adalah klub rahasia yang bergerak langsung di bawah Osis. Masalahnya, ia harus segera mengesahkannya pada Asseylum sebelum sang Ketua Osis mendengarnya dari orang lain. Repot urusannya kalau Asseylum tahu bahwa ia membentuk sebuah komite tanpa meminta persetujuannya dulu.
Tapi sebentar, ia melupakan satu hal yang penting.
"Sit down, class! Pelajaran akan segera dimulai!"
Suara Mizusaki-sensei yang menggelegar menyadarkannya dari lamunan. Ia pun mengerjapkan mata dan bersiap mengeluarkan buku-buku pelajarannya. Tangannya meraih laci mejanya, mengambil beberapa buah buku dan bersiap membukanya. Hanya saja tangannya berhenti bergerak ketika ia menatap ke bangku di depannya yang masih kosong.
Alis Inaho terangkat sedikit melihat kekosongan di depannya. Ia pun menggerakkan kepala teringat percakapannya dengan si penghuni sehari sebelumnya. Kalau tidak salah kemarin orang itu bilang bahwa ia terlalu cepat datang. Apakah kali ini orang itu sedang bereksperimen dan menaiki kereta yang jadwalnya sedikit lebih lambat?
"Troyard, Slaine?" Mizusaki-sensei kembali menyadarkannya dari lamunannya. Keheningan mengisi ruang kelasnya selama beberapa saat sebelum suara bolpoin Mizusaki-sensei memecahnya. Wanita itu pun kembali memanggil nama pemuda itu sekali lagi sebelum berkata, "Oh, iya, dia tidak masuk. Baiklah selanjutnya!"
Kepala Inaho bergerak ke arah Mizusaki-sensei mendengarnya. Tidak masuk? Baru dua hari orang itu masuk sekolah dan sudah tidak masuk? Memang apa yang terjadi padanya? Sakit? Entah mengapa Inaho tidak yakin.
Tangannya meraba perutnya dan mengelusnya pelan. Ia masih ingat bagaimana pukulan orang itu masuk ke perutnya diiringi dengan rasa sakit yang nyaris tidak berperikemanusiaan. Inaho tidak lemah, tapi kekuatan Slaine memang berada di level yang berbeda dengan berandalan di sekolahnya. Kalau memang kemarin ia sedang sakit, maka Inaho tidak mau berurusan dengannya saat pemuda itu berada dalam kondisi terbaiknya.
Tapi apa benar pemuda itu sakit? Wajahnya pucat, tapi itu mungkin karena kulitnya yang putih. Tangannya pun kurus dan kelihatan ringkih, tapi dibalik sosok itu, ada pemuda brutal yang kekuatannya tidak main-main. Kalau Inaho belum melihat sosok aslinya, ia mungkin percaya dan menyetujui pendapat siswi-siswi di kelasnya yang mengatakan bahwa Slaine seperti seorang pangeran yang sakit-sakitan. Sayang ia sudah melihat sosok aslinya dan ia sangat tidak yakin soal itu. Daripada pangeran sakit-sakitan, pemuda itu lebih cocok disebut sebagai titisan neraka.
"Sensei," ucap salah seorang siswi saat Mizusaki-sensei selesai mengabsen, "Slaine kenapa tidak masuk?"
Mizusaki-sensei mengangkat alisnya sejenak sebelum kembali berkata, "Ia sedang sakit. Tadi Ayahnya yang menelepon."
Dari tempat duduknya, Inaho bisa melihat bahwa para siswi menggumamkan persetujuan satu sama lain. Ia tidak heran bila besok gelar 'Pangeran sakit-sakitan' sudah menyebar ke setiap sudut sekolah. Bahkan ia tidak terkejut bila salah seorang siswi mengangkat tangan dan berkata, "Apakah kami boleh tahu alamat Slaine-kun? Kami ingin mengantar catatan untuknya."
Mizusaki-sensei terdiam sejenak. Ia memandangi satu persatu tatapan siswi di sekolahnya sebelum menutup buku absennya. Pandangannya menyapu ruangan kelas sebelum akhirnya bertemu dengan Inaho. Begitu melihatnya, wanita itu menganggukkan kepala dan berkata, "Kalian tidak perlu repot-repot. Aku sudah meminta Kaizuka-kun untuk mengantarkan catatan pada Troyard-kun."
Inaho mengerjapkan mata dan memberikan Senseinya pandangan menusuk.
"Kaizuka-kun, tolong ke ruanganku sepulang sekolah," ucap Mizusaki-sensei dengan santai seolah tak menyadari tatapan membunuh para siswi yang ditujukan pada Inaho. "Akan kuberikan alamat Troyard-kun khusus untukmu."
Disclaimer : Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfiksi ini : )
Ordinary Days by cyancosmic
Aldnoah Zero by Gen Urobochi
Enjoy!
Chapter 3. Classmate visitation
Tidak pernah ia bayangkan bahwa ia akan masuk ke ruang guru. Berdiri di hadapan sebuah meja penuh kertas ujian dan seperangkat komputer yang menampilkan soal ujian yang akan datang, Inaho memandang dengan ekspresi datarnya yang biasa. Ia berdiri sembari memanggul tasnya di punggung dan menunggu wanita yang tengah mengetik itu berbalik menghadapinya.
"Tunggu sebentar, Kaizuka-kun, aku sedang menyelesaikan soal yang satu ini," ujar Mizusaki-sensei dengan pandangan yang tertuju pada layar komputer. "Kalau perhatianku teralih, inspirasiku bisa langsung lenyap."
Menghela napas, Inaho pun mengalihkan perhatiannya. Di seberang meja yang berantakan milik wali kelasnya, terdapat satu meja lain yang juga tak lebih rapi dari yang ada di hadapannya. Di balik kubikalnya, seorang wanita dengan rambut hitam panjang mengangkat kepalanya dari meja. Alisnya terangkat saat melihatnya dan senyum secerah matahari pun tertuju padanya.
"Nao-kun~!" Wanita dengan meja berantakan di seberang meja wali kelasnya memutari kubikal yang membatasi mejanya dengan meja Mizusaki-sensei dan berlari ke arahnya. Kedua tangannya terulur dan langsung memeluk sang adik. Ia menyentuhkan pipinya dengan pipi sang adik sembari mengacak-acak rambutnya gemas. "Kenapa Nao-kun di sini? Nao-kun mau pulang dengan Kakak?"
"Yuki-nee~", panggil sang adik sembari berusaha menjauhkan sedikit wajah kakaknya. "Sudah kukatakan untuk tidak memelukku di sekolah."
"Ya, ya, aku mengerti Nao-kun sedang dalam masa pemberontakan," balas sang Kakak yang tak peduli dengan ucapan adiknya. Ia masih saja mengusap-usap rambut sang adik dan memeluknya erat. "Tunggu Kakak sebentar ya, Nao-kun! Nanti kita pulang sama-sama. Sudah lama kita tidak pulang sama-sama."
"Tidak bisa, Yuki-nee," jawab Inaho yang akhirnya pasrah dengan pelukan maut kakaknya. "Mizusaki-sensei memintaku mengantar catatan untuk Slaine."
"Eh? Apa?" Sang Kakak berkata dengan nada terkejut. "Hei Mizusaki! Kenapa adikku disuruh-suruh?"
Mendengar namanya dipanggil sang wali kelas pun memutar kursinya dan memberikan tatapan mematikan pada sang kakak. Sambil memicingkan mata, wanita itu berkata, "Kau bisa diam sedikit, tidak? Suara berisikmu mengganggu konsentrasiku, Kaizuka-senior!"
Orang lain pasti akan ciut mendengar nada tidak bersahabat dari wali kelasnya. Namun beda halnya dengan Kaizuka Yuki. Wanita satu itu malah berkacak pinggang dan berkata, "Ini ruang guru, wajar kalau ada suara berisik. Tapi seperti ucapanku sebelumnya, aku tidak mau kau menyuruh-nyuruh adikku. Memangnya tidak ada murid lain yang bisa melakukannya?"
"Diam kau!" Sang wali kelas berkata dengan sinis sembari memutar kursi dan mengambil kertas yang baru saja keluar dari printer. Diberikannya kertas itu pada Kaizuka junior dan ia berkata, "Ini alamatnya. Segera tinggalkan tempat ini dan jangan ganggu konsentrasiku lagi, Kaizuka-kun!"
"Hei! Kau tidak dengar ucapanku?" Sang Kakak melepaskan pelukannya dari Inaho dan mendekat pada kursi yang ditempati wali kelasnya. "Kenapa harus adikku yang kau mintai tolong? Apa tidak ada orang lain yang bisa melakukannya?"
Mengambil headphone yang tergantung di layar monitor, Mizusaki-sensei pun mengenakannya dan mengeraskan volumenya di hadapan kedua Kaizuka. Melihatnya, Yuki pun mengoceh semakin keras meminta perhatian. Sementara Inaho yang tak mau terlibat pertengkaran kedua wanita itu memilih untuk menjauh dan keluar dari ruang guru. Ia tak mau terseret dalam perdebatan mereka.
Sementara setelah Inaho pergi, Mizusaki-sensei melepaskan headphone dari kepalanya. Tangannya menggerakkan kursor dan memperlihatkan foto diri salah seorang murid di kelasnya. Ditunjuknya wajah itu dan ia berkata, "Aku memintanya mengantar catatan pada anak ini. Bagaimana menurutmu?"
Selama sesaat Yuki berhenti bicara. Matanya menyipit saat menatap murid yang ditunjuk oleh Mizusaki-sensei sementara kepalanya bergerak ke kanan kiri. Tubuhnya yang sebelumnya dicondongkan pada Mizusaki-sensei pun mulai tegak dan ia berkata, "Aku… entahlah, sepertinya aku pernah melihatnya."
"Sudah kuduga," ucap Mizusaki-sensei sambil menganggukkan kepala.
"Tapi," Yuki berkata sementara satu tangannya menyentuh dagu, "perasaanku tidak enak. Wajahnya seolah mengingatkanku akan hal yang tak bisa kumaafkan."
Perhatian Mizusaki tertuju pada layar komputernya dan ia mengangkat bahu seraya berkata, "Menurutku juga begitu."
Setelah menerima alamat dari Mizusaki-sensei, Inaho pun menghela napas. Ia menatap nama jalan yang tertera di tangannya sementara ia melangkah meninggalkan bangunan sekolah. Beruntung hari ini tidak ada rapat osis sehingga ia tidak perlu meminta izin pada Asseylum. Walaupun di satu sisi ia merasa tidak nyaman karena menunda membicarakan soal Komite dadakannya.
Sembari berjalan keluar dari gerbang, Inaho mengetikkan pesan singkat pada gadis itu dan meminta waktunya untuk bicara, semakin cepat semakin baik. Pikirnya, ia bisa membicarakannya besok saat rapat pagi. Semoga saja saat itu Asseylum punya waktu untuk membahas ini dengannya.
Selesai mengetik, ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dan berjalan menuju ke stasiun kereta. Ia membeli tiket lebih dulu sebelum memasuki gerbang dan mengantri di peron tujuan. Alamat yang tertera di kertasnya hanya berjarak dua stasiun dari staisun kereta terdekat. Melihat alamatnya, seharusnya pemuda itu tak perlu repot-repot datang terlalu pagi untuk menyesuaikan dengan jadwal masuk kelas.
Kereta datang tak lama kemudian dan Inaho masuk ke dalam. Mengambil tempat di dekat pintu, Inaho memasangkan earphone di kedua telinganya sembari bersandar pada tiang di samping pintu. Manik merahnya memerhatikan saat kereta melaju sementara ia mendengarkan musik dari ponsel miliknya.
Tak butuh waktu lama baginya untuk tiba di stasiun tujuannya. Dalam kurun beberapa menit, ia sudah keluar dari kereta dan melangkahkan kakinya meninggalkan stasiun. Di luar, ia membaca lagi alamat yang tertera di hadapannya dan mulai berjalan. Di peta yang tertulis, seharusnya rumah pemuda itu sudah dekat.
Melewati beberapa belokan, Inaho akhirnya tiba di bangunan apartemen yang dituliskan di dalam alamatnya. Ia membaca baik-baik nama apartemennya sebelum memutuskan untuk masuk ke dalamnya. Dari depan, bangunannya tidak jauh berbeda dengan apartemen yang ia tempati di Shinawara. Hanya bedanya, apartemen ini tidak begitu tinggi dan hanya terdiri dari lima lantai.
Tidak ada keamanan yang menjaga bangunan dalam apartemen. Hanya ada kamera CCTV yang setiap saat memantau pengunjung yang datang dan pergi, sebuah lift yang tampak usang dan tangga di sebelahnya. Ia mengurungkan niatnya menggunakan lift ketika melihat sejumlah penghuni yang tengah mengantri dan memilih untuk menggunakan tangga. Toh apartemen yang ia tuju hanya berada di lantai tiga.
Begitu tiba di lantai tiga, Inaho pun menggerakkan kepalanya dan mengamati papan nomor yang tertera pada unit apartemen yang berada di sampingnya. Di alamat yang ia pegang tertera nomor sebelas, sementara unit yang ada di hadapannya bernomor dua puluh. Ia pun berjalan lebih jauh di koridor hingga menemukan nomor yang sesuai dengan yang tertera kertasnya.
'Ini dia,' batinnya ketika melihat nomor tersebut. Ia pun menekan bel dan menunggu selama beberapa saat. Tidak ada jawaban dari dalam sehingga ia kembali menekan bel. Sekali lagi ia menunggu dan hanya keheningan yang menyambutnya. Merasa tidak puas, Inaho pun memutuskan untuk menekan bel berulang kali, berharap setidaknya ada jawaban dari penghuni yang tinggal di dalamnya.
Bel ditekan berulang kali namun pintu tetap bergeming. Ia pun menatap alamat di tangannya sebelum kembali menatap pintu apartemen yang masih terkunci. Alamat yang ia tuju tidak salah, tapi tidak ada penghuni di dalamnya. Aneh sekali. Apa mungkin penghuninya sedang tidur?
Baru saja ia hendak membunyikan bel sekali lagi, seseorang keluar dari pintu yang ada di sampingnya. Seorang wanita yang tampaknya sudah berumur menatapnya terlebih dulu sebelum mengunci pintu di belakangnya. Ia menatap Inaho sekali lagi dan berkata, "Ara, apa kau teman Slaine-kun?"
Alis Inaho terangkat sedikit dan ia berkata, "Betul, saya temannya. Apakah Slaine-kun ada di dalam?"
Wanita itu mengerutkan dahi mendengar pertanyaannya dan berkata, "Aku tidak tahu. Tapi tadi pagi aku melihatnya pergi. Mungkin ia belum kembali."
'Belum kembali?'pikir Inaho bingung. Orang sakit mana yang pergi di pagi hari dan belum kembali? Apa orang itu betul-betul sakit?
"Oh, begitu," jawab Inaho sembari mengangguk, tidak mau memancing kecurigaan orang di sekelilingnya. Ia pun membungkukkan badan untuk berterima kasih dan menyelipkan catatannya lebih dulu pada jalusi di pintu apartemen. Baru setelahnya ia berbalik dan meninggalkan tempat.
Sembari menuruni tangga apartemen, pikirannya kembali berputar cepat. Sepertinya dugaannya benar, Slaine Troyard mungkin tidak sakit. Tapi kenapa pemuda itu tidak masuk sekolah dan mengatakan bahwa dirinya sakit? Mizusaki-sensei tidak mungkin berbohong atau semudah itu dibohongi bukan?
Kalau pemuda itu memang sakit dan sedang pergi ke rumah sakit, maka lain lagi ceritanya. Hanya saja ia yakin pemuda itu tidak pergi ke sana. Kalau memang Slaine Troyard terlihat berbeda pagi itu, tetangganya pasti sudah menyelipkan informasi itu dalam kalimatnya tadi. Tapi si tetangga juga tahu bahwa Slaine tidak pergi ke sekolah pagi itu, kalau tidak, wanita itu pasti sudah menyebutkan untuk menunggu karena seharusnya waktu pulang sekolah mereka sama. Terlebih tetangganya juga tahu bahwa ia teman Slaine, yang mungkin bisa disimpulkan karena melihat seragam sekolahnya.
Itu artinya ada beberapa hal. Si tetangga tahu ke mana Slaine pergi tapi tidak mengatakan padanya. Si tetangga juga tahu bahwa Slaine tidak sakit dan tidak bersekolah sekalipun hari ini bukan hari libur. Kemungkinannya, si tetangga bersekongkol dengan Slaine atau si tetangga diam-diam juga menyelidiki pemuda yang menjadi tetangganya?
Masih sambil berpikir, Inaho tidak menyadari bahwa kakinya sudah membawanya hingga ke lantai dasar. Ia melewati pintu apartemen dan baru saja berjalan di trotoar ketika melihat sebuah mobil berwarna putih parkir di depan pintu apartemen. Awalnya ia tidak memerhatikannya hingga melihat pintu mobil terbuka dan pemuda yang dicarinya turun dari mobil.
"Sampai jumpa lagi, Harklight-san!"
Pintu mobil ditutup dan pemuda berambut perak yang keluar dari mobil, berjalan masuk ke dalam bangunan. Begitu melihat sosoknya, Inaho langsung berbalik dan mengejarnya. Ia mengikuti pemuda itu masuk ke dalam bangunan apartemen dan segera menangkap tangannya sebelum pemuda itu naik melalui tangga.
"Slaine!"
Reaksi yang diterimanya adalah putaran di tangan dan nyaris saja sebuah tinju yang diarahkan pada wajahnya. Untung saja ia menyingkir tepat pada waktunya walaupun pegangannya pada pemuda itu sudah terlepas. Manik merahnya bertemu dengan manik tosca milik pemuda itu yang terperangah saat melihat kehadirannya.
"Kaizuka?" Si pemilik manik tosca berkata dengan nada tidak percaya. "Kenapa kau ada di sini?"
Walaupun sempat mewaspadai tinju tangan kanan Slaine, Inaho tetap berjalan mendekat pada pemuda itu. Begitu jarak mereka sudah mengecil ia pun berkata, "Kau tidak masuk. Aku mengantarkan catatan untukmu."
"Oh," ucap pemuda berwajah manis dengan manik sebiru lautan di hadapannya itu. "Terima kasih kalau begitu. Sampaikan salamku untuk wali kelas."
Setelah mengucapkan itu, pemuda yang mengenakan vest berwarna beige dan celana panjang putih tulang itu beranjak menaiki tangga meninggalkan Inaho. Pemuda itu sudah berbalik, namun Inaho justru mengikutinya menaiki anak tangga satu persatu. Ketika langkah kaki si pemuda sudah berada di salah satu anak tangga dan hendak menikung, ia baru menyadari kehadiran orang di belakangnya.
"Kenapa kau mengikutiku?" Ia bertanya sementara tatapan matanya yang tajam tertuju pada Inaho.
"Aku sedang mengunjungimu," jawab Inaho tanpa mengalihkan perhatian. "Wali kelas menyuruhku mengantarkan catatan padamu."
Slaine mengangguk, "Kalau begitu mana catatannya?"
"Kutinggal di pintu apartemenmu," balas Inaho cepat.
Sekali lagi si pemuda bermanik tosca mengangguk dan ia berkata, "Kalau begitu urusanmu sudah selesai 'kan? Bukankah sebaiknya kau pulang?"
"Aku ingin memastikan bahwa aku mengantarkan catatan padamu," jawab Inaho yang lagi-lagi dengan begitu cepat. Ia sendiri bingung kenapa ia tidak mau mengalah dalam perdebatan ini. "Apabila catatan itu sudah berada di tanganmu, aku akan kembali."
Jelas sekali bahwa lawan bicaranya tidak suka mendengar kemungkinan bahwa Inaho akan mengikutinya hingga ke depan pintu apartemen. Namun kali ini ia memilih mengalah dan menunjukkan senyum manis palsunya di hadapan Inaho. Ia pun berkata, "Baiklah kalau begitu,terserah kau saja, Kaizuka-san! Silakan saja mengikutiku kalau kau berkenan!"
Sinisme terdengar begitu jelas dalam setiap nada suara si lawan bicara. Namun Inaho memutuskan untuk berpura-pura tidak mendengar dan memutuskan untuk menganggapnya sebagai tawaran yang baik. "Permisi kalau begitu!"
Di balik senyum yang dipaksakan, Inaho bisa melihat tangan yang menggenggam pegangan tangga sedikit lebih keras dan urat-urat yang menyembul di balik dahi yang tertutup helaian rambut perak. Hentakan langkah yang diambilnya pun menyuarakan kekesalan pemuda itu. Tanpa perlu ditanya lagi pun Inaho sadar, pemuda di hadapannya kesal setengah mati padanya.
Inaho heran. Apakah salah bila ia ingin mengunjungi apartemen milik murid baru ini? Memangnya apa yang disembunyikan di dalam sana sehingga Slaine mengusirnya dari apartemennya? Mayat? Yah, Inaho tidak akan terkejut kalau ia melihat itu di dalam apartemen, apalagi setelah menerima gerakan bela diri darinya.
Mereka tiba di pintu depan tanpa banyak bicara. Berjalan lebih dulu di hadapannya, Slaine Troyard mengambil kunci dari saku celananya dan memasukkannya pada lubang di pintu. Ia memutar kunci dua kali dan membuka pintunya lebar, memberikan Inaho sekilas pandangan ke interior di dalamnya. Tanpa banyak bicara, pemuda itu masuk ke dalam dan mengambil catatan yang tergeletak di depan pintu lebih dulu.
"Ini yang kau maksud?" Pemuda itu bertanya sambil menunjukkan sejumlah kertas di tangannya pada Inaho.
Mengangkat alis, Inaho memandang ke depan. Namun pandangan matanya menyelidik lebih jauh ke dalam apartemen. Di belakang Slaine, Inaho bisa melihat sebuah sofa yang ditempatkan melintang sementara lebih jauh ia bisa melihat balkon. Sekilas tidak ada yang aneh dari interior di dalamnya, apartemen Slaine seperti apartemen kecil pada umumnya.
"Betul," jawab Inaho akhirnya. "Rupanya ini memang apartemenmu."
Slaine menghela napas dan meletakkan catatan tersebut di atas rak sepatu di sampingnya. Pandangan matanya kembali tertuju pada Inaho sementara tangannya memegang pegangan pintu dan ia berkata, "Sudah 'kan? Kau bisa pulang."
"Mizusaki-sensei bilang kau sakit," lanjut Inaho sebelum Slaine menggerakkan pintu dan membantingnya . "Tapi kelihatannya kau sehat-sehat saja."
"Tidak juga," jawab Slaine sembari menggerakkan bahu. "Tadi pagi aku demam cukup tinggi sehingga kuputuskan untuk ke dokter. Sekarang mungkin aku terlihat lebih baik karena baru disuntik."
Inaho jelas-jelas yakin bahwa berkunjung ke dokter sama sekali tidak ada di jadwal pemuda itu. Seorang pemuda yang sakit minimal akan mengenakan mantel atau baju lapis luar saat mengunjungi dokter. Tapi pemuda di hadapannya hanya mengenakan kemeja di balik knit vest berwarna beige dan jeans putih panjang. Dibanding ke dokter, Inaho akan lebih percaya bila pemuda ini mengatakan bahwa ia pergi ke kafe dan meminum secangkir Expresso di sana.
"Sudah 'kan?" Sekali lagi pemuda itu berkata sambil menggerakkan pintu, "Selamat tinggal, Kaizuka-"
Tangannya menahan pintu tepat sebelum pintu itu ditutup. Gerakan yang tidak disangkanya itu tidak berhasil dilawan oleh Slaine sehingga pintu kembali membanting terbuka. Sembari menatap pemuda berambut pirang di belakangnya, Inaho pun berkata, "Kau tahu, rumahku sedikit jauh dari sini. Apa aku boleh menumpang ke kamar mandi?"
Alasan yang sedikit di luar kewajaran itu membuat Slaine ternganga. Ia jelas-jelas keberatan sehingga berkata, "Hah? Di stasiun juga ada kamar mandi. Kau gunakan saja yang di stasiun."
"Tidak bisa, aku harus ke kamar mandi sekarang juga!" Inaho berkata dengan nada mendesak. "Atau aku terpaksa mengotori pintu depanmu."
Keraguan terlihat jelas di wajah Slaine. Ia menatap orang yang baru dikenalnya beberapa hari lalu sebelum menyingkir dari depan pintu. Ia memang tidak percaya dengan apa yang dikatakan pemuda itu, tapi ia yakin pemuda itu akan melakukan apa yang baru saja diucapkannya bila ia terus melarang. Dibanding memberi masalah lebih lanjut, Slaine memilih mengalah dan membiarkan pemuda itu masuk.
"Permisi," ucap Inaho sambil melepas sepatu dan masuk mengikuti tuan rumah. Pandangannya tertuju pada sepatu yang ada di depan dalam ukuran yang bervariasi. Di dalam rak sepatu yang terbuka, ia bisa melihat sepasang sepatu hak tinggi merah yang sedikit out of place dan sepatu kerja pria yang kebesaran. Ia mengerutkan alis sebelum memutuskan masuk ke dalam.
"Kamar mandinya di sini," ujar Slaine sambil menunjuk sebuah ruangan sebelum ruang keluarga. "Wastafelnya juga di dalam."
Sekali lagi ia menggumamkan permisi sebelum masuk ke dalamnya. Ia menutup pintu dan memerhatikan interior di dalam. Pandangan matanya menyapu seluruh interiornya, mulai dari wastafel, closet dan shower mungil di sudut ruangan. Dilihat dari kelengkapan peralatan sanitairnya, sepertinya kamar mandi ini adalah kamar mandi utama di apartemen.
Ia pun mengamati wastafel dan membalik rak di belakang cermin. Di dalamnya ia menemukan beberapa sikat gigi dan sisir. Sekali lagi ia terdiam sebelum menutup kembali rak tersebut. Ia mendekat pada shower dan menemukan sabun juga sampo yang saling berdampingan. Diambilnya salah satu sabun dan dihirupnya wangi mint lembut yang terkadang muncul di tubuh Slaine.
Diletakkannya kembali sabun tersebut dan ia pun menatap closet. Tidak ada yang dapat dilakukannya dengan benda itu sehingga ia menekan tombol flush nya dan membiarkan air mengalir. Setelah itu ia kembali ke wastafel dan mencuci tangannya sebelum keluar dari kamar mandi.
Begitu ia membuka pintu, tuan rumahnya sudah berdiri di depan dengan kedua tangan menyilang di dada. Tatapan tajam diberikan padanya sementara ia balas menatap dengan ekspresi datar yang biasa. Ia pun berkata, "Kenapa menatapku?"
Slaine masih memberinya tatapan curiga sebelum pemuda itu menurunkan kedua tangannya. Ia pun berbalik dan melangkah ke dalam ruang keluarga. Sekali lagi pandangan Inaho menyelidiki seluruh penjuru ruangan dan mengamati baik-baik isinya.
"Tidak ada," jawab Slaine yang berjalan ke konter di balik meja bar. Ia membuka kulkas dan mengeluarkan botol jus bergambar jeruk dengan cairan jingga di dalamnya. Diletakkannya botol itu di atas meja sementara si tuan rumah membuka kabinet di atas dan mengeluarkan dua buah gelas ke atas meja. Dituangkannya cairan jingga itu ke dalam kedua gelas sementara ia menyerahkan salah satunya pada Inaho. "Silakan! Maaf tidak ada yang lain."
Sedikit bingung dengan perubahan sikap si tuan rumah, Inaho memutuskan untuk menerima gelas pemberiannya. Diangkatnya gelas tersebut dan menatap ruan rumahnya yang telah lebih dulu menenggak cairan jingga di dalamnya. Baru setelahnya ia meniru sikapnya dan menyesap isi gelasnya.
"Jadi," ucap Slaine sambil menatapnya, "sudah puas berkunjungnya, Kaizuka-san?"
Sembari meletakkan gelasnya di atas meja bar Inaho pun menjawab, "Begitulah."
"Sudah percaya bahwa sebelumnya aku sakit?"
Inaho hanya bergumam, sehingga Slaine mencondongkan sedikit tubuhnya.
"Kau tidak percaya?"
Dibanding menjawab pertanyaannya, Inaho malah berkata, "Sudah kau pikirkan soal Komite yang sebelumnya kukatakan padamu?"
Manik sebiru lautan mengerjap di hadapannya. Tubuh yang semula dicondongkan ke arahnya kembali ditarik dan sang tuan rumah kembali berkata, "Masih soal itu? Memangnya kau sungguh-sungguh ingin mengajakku?"
Sembari menatap gelas berisi cairan jingga di depannya, Inaho pun berkata, "Kemampuanmu akan berguna."
Dengan pandangan tertuju ke arah lain Slaine berkata, "Entah ya, saat ini aku tidak tertarik bergabung dengan kegiatan apa pun di luar jam sekolah. Bukankah itu sudah kukatakan padamu?"
Inaho mendongak sedikit, menatap pemuda berambut perak yang tengah membalikkan wajah dan menatap ke samping. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, "Kau tidak lupa soal perkelahianmu kemarin 'kan?"
"Ya, ya," jawab Slaine sambil menggerakkan tangan. "Terus saja mengungkitnya."
"Kalau kau tidak bergabung, aku terpaksa mengatakannya pada yang lain," jawab Inaho sembari menatap pemuda di hadapannya. Manik merahnya mengamati dengan seksama, waspada terhadap gerakan sekecil apa pun. "Bahwa kau yang membuat Thrillam-senpai babak belur."
Manik biru dihadapkan padanya dan sebuah senyum yang membuat Inaho terdiam ditujukan padanya. Padanya pemuda itu berkata, "Coba saja katakan, Kaizuka! Paling-paling kau sendiri yang akan dicap sebagai pembohong berhubung orang yang kau maksud sudah melupakan peristiwa tersebut."
Benar. Ia sudah tahu akan kemungkinan yang satu ini. Ia pun sudah menyiapkan jawaban dengan menunjukkan ponselnya dan berkata, "Aku sempat merekamnya di ponsel dan dapat menyebarkannya bila kurasa perlu."
Manik sebiru lautan tertuju padanya dengan kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya. Senyuman lenyap dan kepanikan terlihat jelas di bola mata pemuda itu. Tangan pemuda itu mencengkeram pinggiran meja hingga Inaho bisa melihat uratnya yang menonjol.
"Apa maumu, Kaizuka Inaho?"
Inaho sendiri tidak tahu kenapa ia begitu bersikukuh hendak mengajak Slaine bergabung dalam klub yang bahkan belum dibentuk. Ia bahkan harus terlibat perdebatan sengit hanya untuk mengajak pemuda itu. Apa sebenarnya yang ada di pikirannya?
"Mengajakmu bergabung," jawab Inaho singkat. "Kau pasti akan sangat berguna."
Berguna? Inaho sendiri bertanya-tanya apa gunanya. Apakah ia sebegitu inginnya jadi sansak tinju seorang Slaine Troyard sampai harus seperti ini?
"Bagaimana kalau aku masih juga menolak?"
Sekelebat ingatan kembali muncul dan Inaho kembali melihat dirinya berada di ruangan dengan pencahayaan temaram itu lagi. Di hadapannya, wajah yang sama, rambut perak yang sama dengan baju sederhana berwarna biru kembali mengisi pandangannya. Padanya wajah itu lagi-lagi berkata padanya,'Aku tidak ingin menjadi tahanan rumahmu. Aku menolak.'
Sekali lagi ia membujuknya dengan berbagai perdebatan dibalas dengan jawaban yang pada intinya sama. Ia tidak mau. Ia menolak. Ia tidak ingin. Hanya itu yang selalu diterimanya selama ini.
Mungkin inilah jawabannya kenapa ia terus bersikukuh untuk mengajak Slaine bergabung dengannya. Bergabung dalam komite yang baru akan ia bawa proposalnya pada Asseylum besok dan memaksa gadis itu untuk mengesahkannya sebelum makan siang. Asal bersamanya, ia tidak memikirkan apa pun lagi. Walaupun entah kenapa firasatnya mengatakan bahwa ia tengah menginjakkan kaki pada sesuatu yang berbahaya.
"Tidak masalah, tapi aku akan melaporkan pada Mizusaki-sensei."
"Silakan saja, aku bisa menyebut video-mu sebagai editan, terlebih orang yang terlibat tidak ingat apa pun."
"Bukan soal itu," jawab Inaho sambil mengangkat kepalanya dan menatap pemuda berambut perak platina itu tanpa ragu. "Ini soal absenmu, Slaine."
"Absenku?" Slaine mengerutkan dahi dan kembali mencondongkan tubuhnya. "Apa urusannya absenku denganmu?"
Sekali lagi manik merahnya mengamati Slaine sebelum ia berkata, "Kau tidak sakit, Slaine."
Kerutan di dahi Slaine Troyard semakin dalam, sehingga ia berkata, "Kenapa kau bilang begitu?"
"Orang demam tidak akan minum jus dingin," ucap Inaho sambil menunjuk gelasnya. "Mereka tidak punya selera untuk mengonsumsi apapun yang dingin."
"Oh, aku punya jenis demam yang berbeda" ucap Slaine sambil menggerakkan cairan jingga di tangannya. "Aku lebih suka mengonsumsi minuman dingin saat demam."
"Kau tidak sakit dan kau juga berbohong bahwa kau sakit pada Mizusaki-sensei." Inaho kembali berkata seolah tidak mendengar bantahan Slaine sebelumnya. "Mizusaki-sensei hanya percaya bila ada orang dewasa yang mengabarkan padanya bahwa kau sakit. Tapi di rumahmu tidak ada orang dewasa sama sekali. Hanya kau sendiri yang tinggal di apartemen ini."
Slaine menggerakkan kepalanya dan ia tersenyum. "Oh?"
"Sepatu di depan hanya pajangan," ujar Inaho cepat. "Bagian bawahnya masih mulus dan belum terkikis sama sekali."
Manik biru yang menatap Inaho mengerjap beberapa kali sebelum si pemilik menggerakkan kepalanya dengan tidak percaya.
"Sikat gigi di dalam pun hanya ada satu, dengan sampo dan sabun yang juga hanya ada satu," ucap Inaho cepat. "Kau hanya tinggal sendirian di apartemen ini dan tidak ada orang dewasa yang menemanimu. Pertanyaannya adalah siapa orang dewasa yang menelepon Mizusaki-sensei dan mengatakan bahwa kau sedang sakit?"
Pemuda yang berdiri di hadapannya tidak berkomentar apa pun. Ia tetap diam sambil menatap Inaho. Selama beberapa saat mereka hanya berpandangan sebelum sang tuan rumah mendengus dan bahunya bergetar. Suara tawa terdengar beberapa saat kemudian diiringi dengan applause dari sang pemilik apartemen.
Menurut Inaho ini tidak lucu. Fakta-fakta yang diungkapkannya justru menakutkan baginya. Seorang pemuda normal yang tinggal sendiri seharusnya tidak perlu menyembunyikan fakta itu. Tapi sekali lagi, ini Slaine Troyard. Apa saja tidak wajar di sekeliling pemuda ini.
"Boleh juga," ujar Slaine sembari tersenyum padanya, "apa semua anak SMA sepertimu, Kaizuka? Kalau iya, aku akan lebih berhati-hati saat menaruh sepatu di depan."
Manik merah Inaho memicing menatapnya dan ia berkata, "Kenapa kau berbohong, Slaine? Untuk apa kau melakukannya?"
Suara tawa Slaine berhenti, senyumnya pun lenyap. Ia menatap Inaho dan kembali berkata, "Kau tidak bisa menebaknya?"
Inaho tidak ingin menebak-nebak lebih lanjut. Ia bahkan ingin melarikan diri dari tempat ini sekarang juga kalau saja rasa penasarannya tidak mengganggunya. Kakinya semata-mata bertahan untuk mendengar jawaban dari pemuda berambut perak di hadapannya. "Aku bertanya padamu."
"Yah," Slaine memalingkan kepala dan menatap ke arah lain, "Kenapa ya? Mungkin karena aku bosan."
Bosan? Dari sekian banyak alasan, itulah alasan pemuda ini meletakkan sepatu yang membuat orang lain menyangka bahwa ia tidak tinggal sendirian? Satu-satunya alasan masuk akal yang terlintas di benaknya hanya kemungkinan bahwa pemuda ini diikutistalker. Tapi kemungkinan itu diusirnya jauh-jauh mengingat pemuda ini bukan pemuda lemah yang takut pada orang seperti itu.
"Lagipula, seru juga apabila ada orang sepertimu yang bisa menebak sejauh ini," ucap Slaine dengan seringai di bibirnya. "Kau tidak terlalu mengecewakan, Kaizuka Inaho."
"Senang… mendengar pujianmu," ucap Inaho walau ia tidak yakin. Ia merasa tengah menjejakkan kaki dalam sesuatu yang berbahaya.
"Tapi ngomong-ngomong, aku tetap tidak berminat untuk mengikuti komite seperti yang kau tawarkan."
Inaho memicingkan mata dan menatap pemuda di hadapannya. Ia berusaha untuk fokus berhubung pandangannya sedikit mengabur saat ia mengerjap tadi.
"Bukankah sudah kukatakan bahwa aku akan melaporkanmu?" tanya Inaho dengan suara tenang. "Kau ingin mengujiku?"
Slaine menggelengkan kepala sementara tangannya menggerakkan gelas berisi cairan jingga di tangannya. Ia memberikan senyum manisnya pada Inaho dan berkata, "Bukan, aku tidak berniat mengujimu."
Manik merah Inaho tertuju pada gelas yang ada di tangan Slaine. Ia memandanginya sejenak sebelum menatap pemuda di hadapannya. Begitu melihatnya, sebuah perasaan tidak nyaman muncul di dadanya. Ia pun menelan ludah dan berkata, "Kau tidak minum jusnya."
Alis Slaine terangkat dan ia menunjukkan seringai di wajahnya yang semakin lebar.
"Kau berpura-pura meminumnya di depanku," tuduh Inaho sementara kepalanya mulai terasa sedikit pusing. "Cairannya sama sekali tidak berkurang."
Pemuda di hadapannya kembali mencondongkan tubuh dan berkata, "Betul, tapi sudah terlambat Kaizuka-san."
Inaho ingin membantah namun ia menyerah. Manik merahnya perlahan-lahan mulai mengabur dan kelopak matanya pun berangsur-angsur turun. Pada akhirnya ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh di atas lantai berlapisan kayu di bawahnya.
Begitu melihatnya Slaine tersenyum lebar. Ia membuang cairan jingga di dalam gelasnya ke wastafel dan berbisik, "Selamat tidur, Kaizuka Inaho."
(t.b.c)
A/N :
Ehem, beneran misteri deh :P sebetulnya saya ingin mengakhirinya dengan cepat dan singkat, tapi let's see, semoga saya berhasil membuat misteri singkat. :P
Curcol sedikit, saya sempat bimbang sebenernya antara ff ini dan ff lapak sebelah, mana yang mau saya lanjut duluan, tapi pada akhirnya, ini duluan yang saya pilih entah kenapa XD
manalagi entah mengapa error terus pas update sampe saya pake aplikasi akhirnya TT
Btw untuk :
Fujoshi-desu: fufufufu! Ngadepin di depan meja bar aja sulit, apalagi kalau di ka-PIP (disensor Slaine) Fujocchi. Baru ditawarin minum aja uda tumbang Babang Naho.
Uhm, iyah, 'orang itu' yang dimaksud bahkan nggak sadar bahwa dia ngebuang, sedih tiap inget filemnya dan berharap ada ending yang lebih baik buat Slaine. DIpenjara terus ngarep dia dapet tahanan rumah kayaknya boleh banget :P
Istilah yang kamu pake kayaknya oke juga, Fujocchi :D, memorial berjalan tepat juga buat doi. Setiap orang yang ngeliat dia seolah keinget sesuatu, tapi sepertinya yang bersangkutan nggak punya ingatan apa pun katanya.
Dan lol, requestnya ane tampung dulu ya, kita kan maen nebak penjahat. Bisa tutup lapak ane kalo dari sekarang uda ketauan antagonisnya :P
hachimanBoyss: holla Hachi-san XD ane sungguh berharap mau masukin fangirl, ukh, tapi sejauh ini yang ane dapet masih friendship semata di antara mereka. Mari doakan agar hubungan mereka berkembang lebih dari sekedar friendship (Tharsis sensor mode on, ammo stand by – uh,oh)
Dan iya, saya juga mencoba ambil ingatan-ingatan mereka. Semoga perasaan Bang Naho lebih kuat dibanding keras kepalanya Dedek Slaine. Kalo Abang uda putus asa, Adek juga nggak bisa apa-apa soalnya Bang TT
And last but not the least, thank you for reading this fic,hope you guys like it and if you mind, please share some of your thoughts dan mari kita fangirlingan bareng :P
With love,
Cyan
