DIA, TANPA AKU

Remake Story by Esti Kinasih

.

.

Park Chanyeol

Byun Baekhyun (GS)

Ocs

.

.

[DISCLAIMER]

Cerita ini adalah milik penulis aslinya. Saya hanya me-remake kepada versi ChanBaek.

.

.

Capter 3

.

.

Happy reading..

.

.

Akan selalu ada jalan keluar untuk setiap permasalahan. Pasti. Karena Tuhan telah mengaturnya seperti itu. Dan jalan keluar yang disediakan Tuhan agar Kris bisa membeli kaus dan celana jins yang diincarnya, yang sebenarnya terlalu mahal untuk ukuran uang sakunya dan akan memerlukan waktu menabung cukup lama, adalah berjualan lontong dan bakwan.

Promosi yang bermula dari tuduhan transaksi narkoba diruang kepsek itu lalu menjalar ke ruang guru.

Tapi hanya sampai di situ. Kris tidak melayani pembelian dari kalangan murid. Lontong dan bakwan dagangannya hanya untuk kepsek, para guru, karyawan administrasi, dan lain-lain yang non murid. Biar eksklusif. Alasan sebenarnya sih biar bisa dijual lebih mahal.

Namun, meski Kris menganggap dagangannya eksklusif, tentu saja gelar yang kemudian di dapatkannya sama sekali tidak ekslusif. "Kris tukang lontong", bukannya "Ahli kuliner Bidang Pengolahan Beras", atau julukan lain yang kedengaran keren di kuping.

Suho lega banget tidak ikut kebagian gelar. Soalnya ia tidak tahu bagaimana cara menghilangkan aib itu kalau sampai dirinya ikut kebagian predikat juga. Misalnya: "Asisten Tukang Lontong"

Tetapi Kris cuek aja. Jelaslah. Soalnya Baekhyun, cewek gebetannya, nggak satu sekolah. Jadi aman. Lagi pula menurut Kris gelar, "Tukang Lontong"

termasuk positif kok. Ketimbang "Tukang Nyontek", "Tukang Cabut", "Tukang Tawuran", apalagi "Tukang Ngembat Duit SPP". Yang terakhir ini jangan sampe deh. Jangan sampe ketauan siapa-siapa, maksudnya.

Suatu pagi Kris berjalan masuk kelas dengan wajah gembira.

"Woi, Suho. Sini!" Suho yang sedang duduk bersama beberapa cowok di deretan bangku paling belakang segera bangkit. Cowok itu menghampiri.

"Apa?" tanyanya sambil duduk di sebelah Kris.

"Ntar temenin gue, ya? Gue mau beli kaus sama jins yang gue incer itu."

Seketika ekspresi muka Suho tampak aneh. Cowok itu menghela napas.

"Sori nih, bukannya mau matahin semangat lo. Lo yakin, tu kaus sama jins masih ada? Lo ngeliatnya kan udah lama. Udah sebulan lebih, mau dua bulan malah."

"Masih!" Kris mengangguk yakin. "Gue udah pesen sama mbak yang jaga konter. Pasti gue beli! Cuma duitnya belom ada. Dan dia udah janji mau nyimpenin."

"Oh, gitu," Suho masih sangsi. "Mbak-mbak itu yang jaga konter apa yang punya konter sih?"

"Pokoknya pasti masih ada deh!" tandas Kris. Tetap sangat yakin.

"Yaaa…" Suho mengedikkan bahu. "Oke deh kalo lo emang yakin."

"Yakin!" Kris menepuk bahu sahabatnya. "Ntar lo gue traktir. Oke?"

Seharian itu Kris begitu gembira dan kelihatan berbeda. Di setiap mata pelajaran, ia jadi tertib dan tekun. Mencatat dengan rajin dan menyimak penjelasan guru dengan serius. Dan di jam-jam pelajaran yang bikin boring, Kris juga tidak lagi berpartisipasi membuat kelas ingar-bingar.

Pokoknya hari ini Kris manis banget. Tipe pelajar ideal idaman semua guru di seluruh dunia, tapi tipe teman yang paling disebelin semua murid yang duduk di deretan bangku paling belakang, atau murid yang alergi terhadap suasana kelas yang tertib dan tenang.

"Fan, elo kok nggak asyik sih hari ini?" tanya Minho saat jam istirahat kedua. Oh iya lupa, nama asli Kris itu Park Yifan ya, Cuma dipanggil Kris entah kenapa dan siapa yang mulai, pokoknya gitu aja deh.

"Maksud lo?" tanya Kris tanpa menoleh. Sibuk memasukan refill ke dalam pensil mekaniknya.

"Anak-anak di belakang pada dendam, gara-gara minggu kemarin Pak Kim ngasih ulangan mendadak lagi. Mentang-mentang sebentar lagi mau ujian kenaikan kelas, bentar-bentar ulangan mendadak. Jadi tadi kita pada sepakat mau break belajar matematika dulu hari ini. Caranya, Taeyong mau pura-pura kejang-kejang. Kayak epilepsi gitu deh. Trus yang lainnya belagak terkesima,

nggak tau kudu ngapain. Nah, lo kan paling jago tuh bikin muka panik yang keliatan natural banget."

"Sialan!" Kris tertawa. "Gue pasti deh kebagian akting panik yang kudu bisa bikin pak Kim sama cewek-cewek sekelas jadi pada ikutan panik. Gitu, kan?"

"Tepat!" Minho menjentikkan jari lalu tertawa terkekeh-kekeh.

"Nah, Suho bertugas ngehalangin Pak Kim atau siapa pun keluar kelas mencari bantuan. Caranya terserah. Nggak usah lama-lama. Lima belas menit aja. Paling lama dua puluh menit deh. Pak Kim kan kalo kaget ilangnya lama tuh. Pasti abis itu dia jadi nggak konsen ngajar, trus paling kita cuma disuruh nyatet-nyatet doang sampe bel. Tapi rencana ini bakalan gagal kalau kalian nggak kompak. Padahal, kami udah ngebayangin, pasti bakalan seru buuuanget!"

"Eh, tu guru pagi-pagi udah berangkat dari rumah. Bela-belain desak-desakan di kereta api cuma buat ngajar murid-murid bego kayak elo-elo yang duduk di belakang. Untuk guru-guru di sini, meningkatkan prestasi kalian tuh berbanding lurus dengan resiko terkena stroke atau serangan jantung, tau nggak?" kata Kris kalem.

Minho kontan ternganga. Sementara Suho tertawa terbahak-bahak. Kris menoleh dan tersenyum geli melihat ekspresi muka Minho.

"Sori, Min. Bercanda. Bercanda. Gue lagi nggak mood iseng hari ini. Besok aja, ya? Bilangin anak-anak di belakang, sori gitu. Oke? Jangan cemberut gitu dong. Percuma, lo nggak bakalan gue cium."

"Ih, jijik!" jawab Minho. Ia balik badan lalu berjalan keluar kelas. Kris dan Suho tertawa-tawa geli.

Begitu bel pulang berbunyi, keduanya segera pergi. Sampai di mal, Kris langsung menuju konter yang dulu pernah didatanginya. Pramuniaga konter ternyata masih mengenali. Ia langsung menyambut kedatangan Kris dengan senyum lebar.

"Mau ambil kaus sama jinsnya, ya?" tanyanya.

"Iya," Kris mengangguk. "Masih ada kan, Mbak?" sambungnya penuh harap.

"Masih. Kan udah janji mau disimpenin." Pramuniaga itu berjalan menuju lemari kecil yang terdiri atas beberapa laci. Dibukanya salah satu laci dan dikeluarkannya sebuah tas plastik dari sana. Kemudian ia kembali ke depan Kris dan menyodorkan tas plastik itu. Kris menerimanya lalu menoleh ke Suho dan mengacungkan jempol kirinya.

"T-O-P kan mbak ini?"

Kris terharu saat melihat struk yang menempel di tas plastik itu. Mba pramuniaga itu ternyata telah membelikannya lebih dulu kedua benda yang sangat diinginkan Kris itu. Sepertinya dua benda itu sudah dibayar pada hari Kris datang tanpa cukup uang beberapa minggu lalu.

"Coba kalo saya punya kakak kaya mbak, pasti saya bahagia banget deh." puji Kris sungguh-sungguh. Suho langsung membantah dengan menggerakan telapak tangan kanannya kuat-kuat.

"Jangan, Mbak. Ibunya aja sering bilang nyesel banget udah ngelahirin dia."

Kris tertawa. Dimasukkannya tas plastik itu ke tasnya.

"Nggak dicoba dulu?" tanya Suho.

Kris menggeleng. "Udah waktu itu. Keren banget. Iya kan, Mbak?"

"Banget!" Mba pramuniaga itu mengangguk sambil tertawa kecil. Kris mengeluarkan sebuah plastik berisi beberapa potong bakwan udang dan lontong, yang memang sengaja disisihkannya untuk mba yang baik banget ini.

"Ini buat Mbak." Ia ulurkan plastik itu bersama sejumlah uang sebesar yang tertera di struk. Mba pramuniaga menerima dengan mata berbinar.

"Waaah, makasih ya?"

"Iya, sama-sama. Saya makasih juga. Kami balik dulu ya, Mbak. Sekali lagi, thanks banget. Sumpah, Mbak orangnya asyik banget!"

Kris melambaikan tangan yang langsung dibalas pramuniaga itu. Diikuti Suho, ia lalu balik badan dan meninggalkan konter pakaian itu.

"Mbak itu emang baik banget," Suho mengangguk setuju. "Gue tadi sampe terharu, pas tau dia beliin dulu kaus sama jins yang lo incer itu. Eh, jadi traktir nggak nih?"

"Jadi dong!" tagas Kris. "Tapi jangan yang mahal-mahal, ya?" sambungnya. Kemudian ia menarik napas panjang-panjang dan mengembuskannya kuat-kuat. Terlihat sangat lega. "Sekarang gue bisa konsen belajar buat ujian kenaikan kelas!"

.

.

.

.

Malamnya, selesai belajar, Kris mencoba kaus dan jins barunya. Cowok itu berdiri di depan cermin besar di pintu lemari pakaiannya. Berputar ke kiri kemudian ke kanan. Kemudian ke kiri lagi. Lalu ke kanan lagi. Dan setelah

berputar kanan-kiri berkali-kali, ia lalu berdiam diri. Dipandaginya refleksi dirinya di cermin dengan puas. Ketika adiknya yang hanya berselisih umur dua tahun, Chanyeol, memasuki kamar tidur mereka, Kris langsung menyambutnya dengan pertanyaan.

"Gimana penampilan gue, Yeol?" tanyanya.

Chanyeol mengamati kakaknya. "Oke. Keren. Kayaknya tuh kaus mahal. Jinsnya juga. Iya?"

"Jelaslah. Gue sampe nggak jajan. Bawa makanan ke sekolah, abis itu malah jualan." Katanya.

Kalau itu sih orang satu rumah juga tau! gerutu Chanyeol dalam hati. "Buat si Baekhyun aja sampe segitunya."

Kris tidak peduli. Setelah sekali lagi memandangi pantulan dirinya sampai benar-benar puas, ia melepas kaus dan celana jins barunya, lalu dengan sangat hati-hati menggantung keduanya di dalam lemari.

.

.

.

.

.

.

Di sekolah baru Chanyeol, tahun ajaran baru.

Tadinya Chanyeol pikir cewek yang sedang berjalan bersama ibunya itu cuma mirip dengan cewek di foto-foto di dalam laci Kris. Tapi setelah seorang siswa menjeritkan nama cewek itu, lalu cewek itu menoleh kaget dan keduanya saling berlari mendekat serta berpelukan erat sambil tertawa-tawa, keraguan Chanyeol segera tersingkir.

Cewek itu memang Baekhyun!

Tanpa disadari, Chanyeol berdiri diam mengamatinya. Foto dengan realita ternyata bisa berbeda. Cewek itu lucu. Bisa dilihat dari caranya berbicara, gerak-geriknya, ekspresi muka, bahasa tubuh. Dia juga lincah dan gampang tertawa. Dan kalau sedang tertawa, kedua matanya membentuk sudut karakter usil dan jail pemiliknya.

"Manis," gumam Chanyeol tanpa sadar. Pinter juga si Kris.

Begitu sampai rumah, Chanyeol langsung mencari Kris, si pemuja Baekhyun yang membabi buta itu. Ia mendapati kakaknya sedang duduk bersila di tempat tidur. Mukanya tampak kesal.

"Kris, dia satu sekolah sama gue," lapor Chanyeol.

"Udah tau!" jawab Kris ketus.

"Kenapa sih lo? Bi Minah masak kacang panjang lagi?"

Kris memang benci kacang panjang, dan selalu kesal kalau menemukan sayuran itu di meja makan.

"Kenapa sih dia satu sekolah sama elo? Kenapa nggak masuk sekolah gue?"

Ternyata itu masalahnya!

"Jangan ke gue dong protesnya. Mana gue tau?" ucap Chanyeol sambil melempar tasnya ke kasur Kris. Sang kakak sontak berteriak kesal.

"Kenapa sih lo kalo ngelempar tas selalu ke kasur gue? Kenapa nggak ke kasur lo sendiri?" tas itu pun melayang dari kasur Kris. Chanyeol buru-buru menangkapnya. Sambil tertawa geli diletakkannya tas itu di kasurnya sendiri.

"Dia manis, ya? Beda sama fotonya."

"Betul, kaaan?" Tampang keruh Kris langsung berubah cerah. Tapi sedetik kemudian berubah menjadi tegang. Kalau Chanyeol bisa langsung sadar kalau Baekhyun itu manis, berarti cowok-cowok lain juga dong!

"Wah, gawat!" desis Kris, langsung panik. Ia melompat dari tempat tidur dan bergegas menghampiri Chanyeol yang sedang berganti baju. "Yeol, tolong jagain dia, ya? Jangan sampe ditaksir cowok lain."

"Gimana caranya? Gue kenal dia juga nggak. Lo aja nggak kenal dia."

"Ya elo kenalan trus jagain dia," usul Kris. Usul yang aneh banget.

"Besok kan MOS. Tiga hari. Kalo ada yang naksir dia ya kudu nunggu MOS-nya kelar dululah," Chanyeol beralasan.

"Itukan kalo yang naksir anak baru. Kalo senior sih lain. Nanti kalo dia disuruh macem-macem sama senior kalian, yang nggak masuk akal gitu, mengada-ngada, lo belain dia, ya?"

"Hah!?" Chanyeol menatap kakaknya dengan mata terbelalak. "Nggak mau. Gila, apa? Ntar gue yang bonyok, lagi."

"Nanti gue traktir deh."

"Setiap gue abis dibonyokin, lo mau traktir, gitu?" Chanyeol mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi saking takjubnya. Kris kakak yang kejam banget ternyata. Ikhlas adiknya bonyok -bonyok demi cewek gebetannya nggak kenapa-napa.

"Bonyoknya paling segimana sih? Nggak bakalan kaya di IPDN."

"IPDN itu sampai mati, tau! Bukan cuma bonyok-bonyok."

"Nah, itu maksud gue!" Kris menjentikkan jari. "Nggak sampe mati ini!"

Chanyeol ternganga.

"Elo tu kelewatan ya!" ucapnya ketus. Jadi dongkol sungguhan. "Sebodo amat si Baekhyun mau diapain besok di MOS. Bukan urusan gue!"

Dengan kesal Chanyeol berjalan ke arah lemari bajunya, mencari-cari kaus rumahan. Kris membuntuti sambil menyeringai. Ia tahu permintaannya tadi irrational. Impossible. Tapi ia tidak tega membayangkan Baekhyun-nya yang manis dan lucu itu dibentak-bentak lalu diperintah melakukan ini-itu yang nggak jelas.

"Sori, sori. Bercanda," katanya. Dirangkulnya bahu adiknya.

"Ah, gue tau lo serius," jawab Chanyeol.

"Bonyoknya nggaklah. Ya udah. Tolong jagain dia aja, ya?"

"Caranya?"

"Hmm…" Kris terdiam. Sampai mereka tiba di ruang makan, Chanyeol membuka tudung saji lalu mengamati lauk yang ada di meja, mengambil piring kosong, menyendokkan nasi dan siap makan siang, Kris masih saja diam. Masih terus menempeli Chanyeol karena sepertinya ia tidak sadar satu tangannya masih merangkul bahu adiknya.

"Nggak bisa jawab kan lo?" Chanyeol meliriknya.

"Ini gue lagi mikir."

"Bisa nggak lo mikirnya jangan sambil ngerangkul gue gini? Gue mau makan nih."

Kris tersadar.

"Sori." Dilepaskannya rangkulannya dari bahu Chanyeol, kemudian ditariknya satu kursi. Tapi sampai Chanyeol selesai makan, Kris masih juga belum menemukan cara. Akhirnya ia pasrah.

Chanyeol tertawa tanpa suara. Ia berdiri sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Kelakuan lo tu norak, tau nggak?" katanya sambil membawa piring kotor ke dapur.

.

.

.

.

.

MOS hari pertama selesai. Chanyeol melangkah ke luar gerbang sekolah barunya dengan tubuh penat. Salah seorang senior, anak kelas tiga, sepertinya terobsesi jadi tentara. Sedikit-sedikit ia memerintahkan anak-anak baru, yang cowok pastinya, untuk push-up. Lari-lari keliling lapangan atau naik-turun tangga, loncat-loncat dan jalan jongkok.

Langkah lelah Chanyeol yang lambat terhenti ketika didengarnya namanya dipanggil. Surprise, di depannya Kris sedang duduk di atas motor yang diparkirnya di trotoar samping sekolah.

"Gue jemput elo nih. Kakak yang baik kan gue?" kata Kris tersenyum lebar. "Dikerjain apa aja lo, sampe lecek banget gitu?"

"Nggak usah dibahas. Nggak penting," jawab Chanyeol malas.

"Baekhyun mana?" kepala Kris celingukan mencari-cari.

"Nggak tau. Nggak sempet ngurusin dia. Motor siapa nih?"

"Suho. Baru. Tuker tambah sama yang lama. Tapi tadi Baekhyun masuk, kan?"

"Ya masuklah. Emangnya kepengin dibantai besok, hari ini nggak masuk? Kayak gitu kok ngomongnya mau jemput gue. Bilang aja mau liat Baekhyun."

"Ya dua-duanya deh."

Kris tampak kecewa karena tidak berhasil menemukan Baekhyun. Kepalanya masih terus menoleh ke segala arah, mencari-cari. Sekolah sudah mulai lengang, jadi kemungkinan Baekhyun masih ada juga sangat kecil.

"Udah deh. Besok kan masih ada hari. Gue capek banget nih. Besok kudu dateng pagi-pagi lagi. Buruan balik yuk, Fan."

Dengan berat hati Kris menyalakan mesin motor, lalu meninggalkan tempat itu.

Besok siangnya Chanyeol mendapati Kris sedang menunggu di tempat yang sama. Tapi kali ini wajahnya begitu ceria. Pasti dia sudah bertemu, atau paling tidak, melihat Baekhyun. Dan dugaan Chanyeol benar.

"Lucu ya dia, pake pita warna-warni gitu. Ngegemesin. Tapi kasian. Keliatan capek banget dia tadi. Diapain sih sama anak-anak kelas dua sama tiga?" muka sumringah Kris seketika berganti dengan ekspresi marah.

"Mana gue tau! Orang nggak satu kelompok. Lo udah ngomong sama dia? Maksud gue, udah kenalan?"

"Ntar aja, kalo dia udah pake putih abu-abu. Lagian nyokapnya udah dateng duluan, jadi gimana gue mau kenalan? Yuk, ah. Balik. Besok gue nggak jemput ya. Udah hari terakhir, kan?"

"Lo nggak pengin ngeliat Baekhyun lagi?" tanya Chanyeol sambil duduk di boncengan.

"Tadi udah. Ya penting gue udah tau tampangnya pas lagi MOS. Lucu." Kris tertawa kecil, terdengar begitu bahagia. Dihidupkannya mesin motor. Dan sepanjang jalan Chanyeol terpaksa menabahkan diri mendengar celotehan abangnya tentang Baekhyun, yang benar-benar baru berakhir setelah motor masuk halaman rumah.

.

.

.

.

Hari ketiga, MOS berakhir. Kegiatan itu selesai sore hari. Jauh lebih lama daripada dua hari sebelumnya. Meskipun jauh lebih meletihkan daripada hari-hari sebelumnya, para murid baru merasa lega. Soalnya, dengan berakhirnya MOS, kegiatan yang sering tidak jelas manfaatnya dan bisa dibilang "versi SMA"-nya IPDN itu berakhir sudah.

Sebelum pulang mereka berebut melihat papan pengumuman untuk mengetahui di kelas mana mereka akan mulai belajar senin nanti. Kedua alis Chanyeol terangkat tinggi saat ternyata ia dan Baekhyun sekelas.

"Wah, bakalan repot nih!" desisnya. Sudah terbayang di matanya, dirinya bakal jadi kurir. Menyampaikan pesan atau titipan Kris untuk Baekhyun. Bakal jadi bodyguard, untuk menjaga Baekhyun selama di sekolah. Bakal jadi spion, untuk mengawasi apa saja yang dilakukan Baekhyun selama di sekolah, atau siapa-siapa saja cowok yang naksir. Dan lain-lain yang bikin repot, ribet, dan bikin susah.

Bukti pertama bahwa sekelas dengan Baekhyun akan bikin susah, langsung dirasakan Chanyeol begitu memasuki halaman rumah. Kris sudah menunggu di teras dengan muka keruh dan kedua tangan terlipat di depan dada.

"Kok bisa sih dia sekelas sama elo?" protesnya keras.

Chanyeol menatap abangnya itu dengan takjub. Gila, info apa pun tentang Baekhyun, dia langsung tau!

"Yah, berarti dia emang nggak jodoh sama elo, jodohnya sama gue," jawab Chanyeol cuek.

Kris langsung melotot. "Apa lo bilang!?" tanyanya tajam. Dibuntutinya langkah Chanyeol ke dalam.

"Lo aneh deh. Mana gue tau sih, bakalan sekelas sama dia? Emangnya gue yang ngatur? Udah, ah. Gue capek banget nih. Mau makan trus tidur".

Kris menghentikan langkah. Tidak lagi membuntuti dan mengeluarkan suara. Ia hanya menatap adiknya yang berjalan masuk kamar. Ia tahu itu sama sekali bukan salah Chanyeol. Itu di luar kuasa Chanyeol juga. Tapi ia kesaaaal….!

Ia yang memperhatikan Baekhyun selama berbulan-bulan. Menjaganya dari jauh berbulan-bulan. Nahan kangen berbulan-bulan. Menunggu berbulan-bulan. Berharap berbulan-bulan.

Kenapa Baekhyun nggak masuk ke SMA-nya? Atau paling nggak, masuk SMA-SMA yang lokasinya dekat dengan SMA-nya? Kenapa malah satu SMA dengan Chanyeol? Satu kelas pula!

.

.

.

TBC

.

.

.

Spoiler: next chapter lumayan panjang, dan bakal ada konflik yang (mungkin) gak kalian sangka sama sekali.

Btw, Happy Birthday buat Kyungsoo Oppa sama Jongin Oppa…

Big thanks to:

ay (guest) ini udah next ya..

Parkbaexh614 ini udah next ya..

BXoel46 iya. Novel karya mbak esti emang banyak humornya, aku juga pas baca ini ketawa-ketawa sendiri wkwk. Kris emang keren banget. Karakternya di sini emang cowok idaman lah. Bikin para jomblo baper pengen punya secret admirer macam dia (termasuk aku wkwk *abaikan). Ini udah next ya.. makasih udah review

Fujisaki B-Rabbit New iya emang lucu banget kkk.. pantengin terus ya kisah ChanBaekKris hihi

Gomawo buat yang udah nyempetin baca ff ini, apalagi yang review, follow/fav.. nomu nomu gamsahamnida~

Follow ig aku ya.. baekhill_byun

So, how about this chapter?

RnR juseyooo~

Follow my ig: baekhill_byun

_Hill_ 140118