Chapter 3..

"Menyewa?" Ujar Itachi setelah sadar dari tidurnya yang panjang, posisinya sekarang duduk di atas tempat tidur dan menarik transfusi yang ditempelkan di lengannya. Tangan kirinya yang terluka dibalut oeh perban, begitu juga dengan dahi dan pipinya.

"Iya…" Ujar Naruto sambil duduk di tempat tidur Sasori.

"Tunggu! Aku punya pertanyaan untukmu, aku heran darimana kau datang, dan bagaimana caranya kau bisa muncul dan menyelamatkan kami?" Tanya Itachi.

"Iya juga yah! Kalau dipikir-pikir itu sangat aneh! Bagaimana caranya kau menemukan kami?" Tanya Sasori.

"Itu.. itu karena aku keluar kamar dan menemukan kalian yang sudah bersimbah darah didepan kamar ku!" Naruto pun kelihatan aneh.

"Tidak masuk akal! siapa yang mengantarkan kami kepadamu? Dan bagaimana caranya kau membawa kami sementara kau ditangkap oleh Paman Narutora?" Tanya Itachi menggebu-gebu.

"Kalian tak perlu tahu itu!"

"Jangan-jangan.. kau dalang dari semua ini!" Ujar Itachi.

"Mana mungkin? Aku mau menyewa kalian untuk mencari adikku dan harta itu! Kenapa kau malah mencurigaiku?" tanya Naruto ketus.

"Karena kau aneh! Muncul tiba-tiba di depan kami, menolong kami! Kami curiga!"

"Itu karena aku ingin menolong kalian!"

"Uso! Ini benar-benar misi yang aneh! AKU KELUAR!" Bentak Itachi lalu menatap sahabatnya.

"Itachi?!" ujar Sasori kaget.

"Kalian?" Naruto pun menjadi kesal.

"Aku tak mau lagi mengurusi misi ini! Aneh! Terlalu aneh! Pertama, cerita kau dan harta itu! Terus pemuda yang bernama Sai yang memukul kami, dan cerita Sai yang kehilangan Konohamaru! Lalu di tambah lagi dengan kau yang menyelamatkan kami! Aku pusing! Kau harus ingat! Aku ini bukan detektif handal! Aku ini hanya pemuda yang terlibat hutang dengan kakak tiri ku! Makanya aku mau melakukan pekerjaan SUPER MEREPOTKAN seperti ini! AKU KELUAR!" Itachi pun angkat tangan.

"Aku juga!" Sasori pun ikutan.

"Tapi? Kalian sudah banyak tau!" Tiba-tiba pemuda itu tiba-tiba loncat ketempat tidur Itachi, dan menodongkan sebilah pisau *lagi* dan dia kaget dan hanya bisa pasrah melihatnya

"Kau?!" Sasori buru-buru bangun dan menepis pisau itu dan menghadang Naruto untuk melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya.

"Apa maumu?! Kau siapa dia? Pacarnya?" Tanya Naruto lalu dia mengambil pisau yang ditepis Sasori.

"Aku adalah aku! Dan juga sahabatnya! Jangan pernah kau mengacungkan pisau lagi kepadanya!" Sasori pun marah dan menarik kaos yang pemuda itu.

"Baiklah! Tapi aku sudah meminta mu! Kalau kau tak selesaikan dalam 4x24jam maka kau tak akan bisa bertemu dengannya!" Ujar Naruto lalu ia tertawa.

"Apa? Apa maksudmu?"

"Sasuke.. kau mengenalnya?" Tiba-tiba memori Itachi berputar.

"Apa maumu?!" Pemuda itu pun bangkit dan mendorongnya hingga jatuh ke lantai.

"Hentikan!"

"Apa maumu? Kenapa? Kenapa? Apa hubungan dengan semua ini?"

"Kojima-san! Kojima san memiliki hutang padaku! Dan kenapa dia mengirim mu untuk kemari karena itu!"

"Ehhh.." Sasori jadi bingung.

"Iya! Dia memiliki hutang dengan ku! Dan dia janji untuk melunasinya asalkan aku bisa mendapatkan harta dari paman Narutora yang telah lama disimpan! Dan kuncinya itu ada di Sai dan Konohamaru!" Naruto pun terlihat ketakutan.

"Kenapa? Kenapa harus Sasuke?"

"Karena anak itu adalah umpan. Kalian pasti mau kan bekerja sama dengan ku! Kalau kalian mau, akan kulepaskan dia!"

"Plaakkk.." Itachi pun menampar pemuda piercingan itu.

Tiba-tiba..

"Yaampun! Kenapa kalian malah berantem?" Ujar suster tadi.

"Brengsek!" kau Itachi!" Dia pun menendang pemuda itu dengan bringas.

"Hentikan!" Suster itu pun berusaha menghentikan perbuatan Itachi.

"Kau tak punya pilihan!" Naruto pun bangun dan memegang pinggangnya yang terasa sakit.

"Lepaskan Sasuke! Dia tak tau apa-apa!" Itachi pun berhasil diamankan oleh beberapa orang suster, seorang suster mengambil jarum suntik dan menyuntikannya ke tubuhnya.

"Tenanglah.." Ujar seorang suster yang kualahan Narutobat pemuda itu.

"Kau harus melakukannya! Kalau tidak akan kujual gadis itu!"

"Prankkkk.." Kaca rumah sakit itu pecah tiba-tiba."

"Siapa lagi itu?" Ujar Sasori bingung dan melihat keluar jendela dan mendapatkan pemuda yang menyerang mereka beberapa hari yang lalu.

"Turun! Dan selesaikan duel kita!" Bentaknya.

"Arghhhh! membingungkan!" Ujar Sasori. Naruto pun masih berdiri didepan Itachi yang mulai terkendali, setelah obat penenang masuk ke tubuhnya. Tatapan pemuda itu tetap tenang.

"Jika kau bisa menang duel dari Sai kau akan mendapatkan sebuah info! Sudah kubilang! Aku tak bisa mengendalikan pikiran Sai kalau pemuda itu sedang emosi.

"Apa kata-katamu bisa kupercaya?" Ujar Sasori.

"Ja..jangan.. jangan percaya dengannya Sasori.. kau sedang di uji ma dia.. jangan pergi Sasori.." Ucap pemuda yang sedang di tangani oleh beberapa orang suster. "Aku yakin Sasuke aman bersama Kojima-san.." ucapnya lemah

"Kau?" dia menatap mata Itachi, "Baiklah! Akan kuturuti mau mu! Tapi kalau Sai berhasil kujinakkan kau harus melepaskan Sasuke!" Ucap Sasori yang membuat Itachi kaget.

"Baiklah! Bila perlu akan kupertemukan dia dan Sasuke! Ikut aku.." Ajak Naruto.

"Kuharap kau bisa lebih tenang Itachi.. aku akan membawa Sasuke untukmu! Aku janji." Ucapnya sambil mengelus tangannya.

"Kau bodoh! Padahal kau baru sehat tapi kau mau sakit lagi!" Ujar Itachi.

"Semoga kau cepat sehat sobat! Titip dia yah suster yang cantik!" goda Sasori lalu pemuda itu pun pergi.

"Kita akan kemana?" Tanya Sasori sambil mengikuti langkah kNaruto Naruto.

"Kita akan- AWASSS!" Naruto tiba-tiba mendorong badan Sasori dan keduanya jatuh di atas tanah.

"Sudah kubilang kau tak bisa lari dariku!"

"Kau lagi! Hadapi aku!" Tantang Sasori.

"Tentu saja." Dengan cepat Sai berlari ke arah Sasori dan hendak menendang dada Sasori tetapi dengan segera ditangkis oleh Naruto, Naruto pun menendang dagu Sai sehingga ia jatuh.

"Kau?" Ujar Sai sambil memegang dagunya yang terluka.

"Aku akan menyadarkan dirimu Sai! Bersiaplah!" tanpa senjata, Naruto pun berlari dan menendang dada Sai sehingga tubuhnya menabrak pohon besar.

"Dukk."

"Pasti sakit." Ujar Sasori. Pemuda berpiercing itu lalu mengambil 2 buah pisau dari saku bajunya dan menusukkan paksa diantara kedua telapak tangan Sai. Darah pun mulai mengalir.

"Uhh.." Ujarnya meringis kesakitan.

"Katakan dimana Konohamaru?" Darah dari tangan Sai terciprat ke muka Naruto.

"Aku tidak tau.." Jawabnya dan ia tersenyum. Naruto pun tanpa belas kasihan mendorong pisau itu lebih dalam.

"Argh!" Teriaknya, "Di.. Dia ada di rumah mu! Menunggumu! Dia sebenarnya tidak pergi! Dia terus berada dikamarnya, saat ayahmu menggumumkan kalau kau di culik, Konohamaru sudah dapat meramalkan hal itu dan dia tetap tinggal dirumah.

"Berarti yang kau bilang Konohamaru yang menghilang itu bohong?!"

"Tentu saja! Itu kubuat agar kalian tetep mengikuti mau ku! Agar aku bisa mendekati apa yang jadi tujuanku! Harta tuan Jiraiya sangat banyak! Aku ingin menguasainya! Aku ingin menggunakan uang itu untuk mengobati ibuku yang sakit keras. Untuk itulah kami berbohong! Naruto tidak bisa mengatakannya karena ia takut kalian terus mencurigainya! Naruto lah korbannya! Aku emang bersalah! Aku lah yang menyebabkan semua ini."

"Jadi ini semua cuma kebohongan? Ayah Naruto yang bilang kalau putranya diculik itu sebenarnya Naruto lah tetap tinggal dirumah tuan Jiraiya? Terus Sai yang bilang bahwa Konohamaru hilang sebenarnya ada dirumah mu!" Sasori pun menunjuk kearah Naruto. "Terus ayahnya?"

"Ayah ku yang membuat ide ini, dia membual supaya Tuan Jiraiya dicurigai, dengan begitu ia dengan mudah melacak harta itu dengan bantuan 2 detektif."

"Owh.." Sasori pun menggangguk.

"Terus?! Paman yang bernama Kojima dan gadis bernama Sasuke adalah kebohongan." Ujar Naruto sambil melepaskan cengkraman tangannya dan menatap sedih.

"Apa?" Sasori pun kaget.

"Tak sengaja aku menemukan ini." Naruto pun menyerahkan selembar poto itu ke Sasori. "Aku membual agar kau atau dia bisa bekerja sama dengan ku untuk mencari Sai dan Konohamaru." Ujarnya malu.

"Kau jahat!" Ujar Sasori sambil mengambil kasar poto itu. "Ini poto yang sangat berarti bagi Itachi!" Sasori pun mengamati dan melihat sisi belakang poto. Ia mengetahui dari mana pemuda itu mengenal Sasuke dan Kojima. "Pantas! Di belakang poto ada tulisannya!"

"Jadi ini cuma kebohongan yang agar kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan?" Tiba-tiba Sasori mendekati Sai.

"Iya.."

"Lalu kisah kalau kau dilatih layaknya prajurit oleh Naruto itu juga kebohongan?" Tanya Sasori.

"Iya, itu juga.. ketika itu aku mengingat beberapa kalimat yang ayah bisikkan kepadaku.. aku pun menjalaninya. Tuan Jiraiya, Naruto dan kalian adalah korban keegoisan ku. Maaf kan aku… aku hanya ingin Ibu ku cepat sembuh." Mata Sai pun berkaca-kaca, lalu airmata nya pun jatuh ke pipi dan ke tangan Naruto.

"Kau?!" Naruto pun dengan cepat menarik pisau yang tertancap di tangan sahabatnya itu.

"Hiks… Aku emang egois! Aku emang tak bisa dimaafkan! Aku benar-benar bersalah! Ibuku akan dioperasi hari ini, tetapi jika tidak ada uang maka akan di undur. PenyNarutotnya sudah parah. Kecil kemungkinan hidup bila tak di operasi." Sai pun menutupi tangisnya dengan tangannya yang berdarah.

"Akan kutanggung! Akan kutanggung biaya rumah sakit ibu! Semuanya! Karena Sai adalah Sahabatku." Naruto lalu memeluk Sai erat. Tangis Sai pun memeluk Naruto.

Esoknya….

"Jadi begitu!" Ujar Itachi sambil menatap Naruto, Sai dan Konohamaru yang ada didepannya.

"Iya.." Ujar Sasori.

"Pantes! Aneh sekali! Tapi aku males komenin itu.. kukira si Kojima punya utang dengan mu! Bikin kaget saja!" Ujar Itachi.

"Hehheheehe.. kau kaget yah sobat?" Ujar Sasori sambil mengacak-acak rambut Itachi.

"Maafkan aku.." Ujar Sai tiba-tiba.

"Kau akan kumaafkan bila biaya rumah sakit ini kau tanggung!"

"Aku yang akan membayarnya! Biaya rumah sakit kalian berdua serta uang sewa.

"Bukannya yang bayar itu ayahmu?" tanya Itachi.

"Akan kubayar dobel!"

"Really?" Tiba-tiba mata Sasori pun berubah menjadi uang.

"Iya!" Ujar Naruto lalu tersenyum.

Setelah misi yang penuh kebohongan, Itachi dan Sasori pun berpamitan dengan klien dan target mereka.

"Jangan ngelakuin hal yang aneh lagi yah!" Ujar Itachi sambil mencubit pipi Sai.

"I..iya.." Ucap Sai sambil memegang pipinya.

"Nah! Naruto-san, Konohamaru-san.. jaga dirimu!" Ujar Sasori ramah lalu pergi bersama Itachi.

"Terimakasih banyak!" Ujar ketiga makluk itu.

"Iya!" Balas Sasori.

"Eh.. Sia-sia saja misi kita kali ini!" Ujar Itachi.

"Iya.. bikin kau pingsan aja! Berat tau!"

"Berisik!"

"Ngomong-ngomong kok dimisi kali ini kau tidak terlalu cepat yah?"

"Apanya?"

"Tindakan mu!"

"Karena aku menunggu!" Ujar Itachi.

"Menunggu?"

"Aku menunggu musuh datang dan menjadikan aku sebagai korban, karena kali ini aku percaya padamu.. aku yakin kau bisa memecahkan misi aneh ini.

"Tunggu sebentar! Berarti kau sudah tau kalau kita di buntutin?"

"Sudah.. sejak pertama kali kita bertemu Sai."

"Apa? Sejak itu?"

"Aku menunggu musuh itu, yang kupikir targetnya adalah Sai, tetapi aku salah.

"…"

"Begitu juga ketika masuk ke lorong itu, mereka melukai kita itu dengan tujuan agar Naruto keluar dari persembunyian, dan itu terjadi.

"Sampai sejauh itu?"

"Sebenarnya tuan Narutora tidak benar-benar menginginkan harta Tuan Jiraiya! Tetapi harta Naruto! Karena Naruto adalah cucu dari orang yang pengusaha kaya raya yang mengelola minyak di kota ini.

"Apa?"

"Jadi.. Naruto harus lebih hati-hati dengan paman Narutora." Sasori pun heran.

"Darimana kau mengetahui hal itu?"

"Dari suster itu! Sewaktu kau pergi mengejar Sai, suster itu bicara banyak tentang dengan ku! Dan kau tahu.. ternyata suster itu adalah anak dari tangan kanan kakek Sai!"

"Whattt?"

"Kota ini membingungkan yah? Aku ingin cepat pulang! Dan memeluk adiku tersayang!" Ujar Itachi.

"Misi kalian sangat bagus!" Ujar Kojima sambil mengipas-ngipas dengan uang hasil kerja Sasori dan Itachi.

"Sudah cukup kan utang kami?" Ujar Itachi sambil mengusap-usap rambut Sasuke

"Pasti sudah!" Ujar Sasori.

"Belum… kalau kalian mau melakukan 1 misi lagi aku akan mengganggap lunas utang mu!"

"APAAAAAAAAAAAAA?" Itachi dan Sasori pun kaget dan bangun dari tempat duduknya.

"Iya.." Kojima pun tersenyum..

.

END

.

Akhinya.. selesai juga, sudah lebih dari 5 tahun terbengkalai di fbku.. semoga yg udah nunggu, terobati