"Jangan berbohong kepadaku."

"Yixing sudah pergi. Dia diusir, tepat setelah misi terselesaikan. Dia berpesan kepadaku, agar kita tidak usah mencari-carinya lagi."

Joonmyeon hanya terdiam. Tidak berusaha lebih lanjut untuk bertanya, karena sudah tahu cepat atau lambat Yixing akan pergi juga. Tapi Joonmyeon juga tidak menyangka, kepergian Yixing akan terjadi begitu cepat, sehinga dirinya –selalu—terlambat.

Entah bagaimana kehidupan Joonmyeon sekarang, tanpa Yixing di sisinya.

.

.

.

evilkyung's present

.

.

.

Too Late for a While

Cast
Kim Joonmyeon
Zhang Yixing
Luhan
Kim Jongdae

Length
2 / 2

Disclaimer
The cast aren't mine, but the story are mine! Plagiarism? Karma does exist, btw.

Genre
Romance, Angst, Sci-fi?

Summary
Joonmyeon terlalu terlambat, meskipun hanya untuk sesaat / AU / SuLay / GS / Mind to RnR?

Warning
GS, Typo, OOC, AU!Secret-agent. Kesempurnaan hanyalah milik Tuhan semata, kawan o/

.

Happy Reading! ^^

.

Sudah enam tahun semenjak perginya Yixing. Dan semuanya terasa aneh, bahkan sangat aneh menurut Joonmyeon. Yixing pergi dan hanya meninggalkan pesan, "Jangan mencariku lagi."

Setelah itu, boom! Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Yixing masih berada di dunia ini. Namanya tidak lagi ada dalam daftar warga Negara Republik Rakyat Cina, tidak terdaftar pada kantor imigrasi di Korea Selatan, tidak juga terdaftar pada kantor Kedubes Republik Rakyat Cina di Korea Selatan.

Apa mungkin Yixing sudah meninggal?

.

.

.

Joonmyeon menatap jam tangannya gusar, lalu melirik ke luar jendela. Langit masih mendung, angin juga masih melolong-lolong di luar sana. Membuat Joonmyeon yakin bahwa penerbangan akan ter-delay hingga satu-dua jam lagi.

Saat ini Joonmyeon berada di Singapura, hanya transit sesaat, sebelum melanjutkan penerbangan. Padahal jarak yang harus ditempuh masih jauh dan memakan waktu yang lama.

Joonmyeon lelah, serius. Tubuhnya ingin segera berada di kasur setelah misi menyebalkan ini selesai, tapi penerbangan masih ditunda. Belum lagi, bayang-bayang Yixing yang… makin sering menghantui Joonmyeon –padahal sudah enam tahun berlalu, iauaerjgbf—, membuat pemuda berwajah malaikat itu pusing.

Sinar matahari yang mendadak muncul dari sela-sela awan membuat wajah Joonmyeon seperti habis disetrika. Tanpa ragu lagi, Joonmyeon memasang seatbelt-nya. Merilekskan punggungnya yang kaku, dan menyamankan posisi kepalanya. Membiarkan pikiran lelahnya untuk beristirahat sejenak, dengan senyum manis Yixing yang telah menunggu di alam mimpi.

.

.

.

"Gege…"

Chen mendekati sumber suara, dan melemparkan seulas senyumnya. Tangannya yang sedari tadi membereskan alat-alat kedokteran miliknya, kini berpindah mengelus kepala gadis yang terkulai lemah –efek dari obat yang dikonsumsinya.

"Tolong, bawa Luhan dan Joonmyeon kemari, gege. A-aku… merindukan mereka."

"Tentu saja, apapun untukmu…

Zhang Yixing."

.

.

.

"Luhan-sshi, bisa kita bicara sebentar?"

Luhan mendongakkan kepalanya, dahinya berkerut heran. "Tentu," Luhan menganggukkan kepalanya, walau dalam hati dia merasa agak takut, jika identitasnya terbongkar.

"Kalau begitu, ikutlah denganku. Dan aku mohon, rahasiakan semua ini dari para petinggi-mu,"

Entah mengapa, Luhan dengan mudahnya menuruti kata-kata orang itu. Namun hatinya berkata, bahwa sesuatu yang telah lama ditunggunya akan segera terjadi.

.

.

.

"Yi-yixing…" Luhan membelalakkan matanya, tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Yixing berada di sana, tersenyum polos, seakan-akan tidak ada apapun yang terjadi selama enam tahun ini. Entah mengapa, mata Luhan terasa memanas.

"Halo, Luhan."

"Aku akan meninggalkan kalian. Kalau ada apa-apa, aku berada di luar,"

Setelah Chen pergi, entah kenapa suasana menjadi agak awkward. Yixing hanya tersenyum, sementara Luhan hanya membatu di tempatnya. Mata rusa yang biasanya berbinar-binar, kini berlinang airmata.

"Kemana saja kau selama enam tahun ini?" tanya Luhan. Nada bicaranya sama sekali tidak terkontrol. Yixing masih tetap tersenyum di tempatnya, "Aku tidak ke mana-mana. Hanya di sini,"

"Kau menghilang begitu saja—membuatku khawatir setengah mati—dan kau masih bisa tersenyum seperti itu?" bentak Luhan. Emosinya sudah tidak terkendali lagi. Dadanya naik turun, seirama dengan nafasnya yang terputus-putus.

Yixing terkekeh, "Kenapa tidak? Justru kalau aku menangis sekarang, kau akan semakin khawatir, Lu…"

Luhan tidak mengatakan apa-apa, namun langkah kakinya membawa dirinya duduk di sebelah ranjang Yixing. "Ceritakan semuanya kepadaku, Xing. Apapun, tentang apa yang kau lalui selama enam tahun ini,"

"Tentu, tapi… dimana Joonmyeon?"

.

.

.

Joonmyeon melangkahkan kakinya menuju salah satu café yang berada di Bandara Internasional Incheon. Menunggu seseorang—sesama agen—yang akan menjemputnya. Tapi entah kenapa agen junior itu belum muncul juga.

Drrt… Drrt… Drrt…

Luhan is calling

Tanpa memikirkan apapun lagi, Joonyeon menerima telepon dari Luhan.

'Syukurlah, akhirnya kau bisa dihubungi juga Joonmyeon!'

"Ada apa?"

'Datanglah ke Rumah Sakit Internasional tempatmu dirawat dulu. Paviliun Mawar, kamar 17.'

"Siapa yang dirawat?"

'Datang saja. Cepatlah.'

"Tentu."

.

.

.

Joonmyeon membuka pintu di hadapannya tanpa ragu-ragu. Di dalam sana ada seseorang yang terbaring di ranjang—Joonmyeon tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup oleh seorang dokter yang menanganinya. Postur tubuh dokter itu tidak terlalu asing untuk Joonmyeon. Dan Luhan. Wajahnya bersimbah airmata, menatap Joonmyeon dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Joonmyeon…"

Suara itu membuat Joonmyeon terbelalak. Suara yang benar-benar dirindukannya selama enam tahun ini. Yixing.

"Yixing?"

"Yixing, demi Tuhan! Bertahanlah!" desis dokter itu penuh kepanikan. "Jangan menyerah sekarang!"

Yixing hanya tersenyum lemah, lalu menatap Joonmyeon. Membuat pemuda itu membeku di tempatnya, tidak bergedak satu inci pun.

"Wo xihuan ni," bisik Yixing. Gadis itu menutup matanya perlahan, seiring dengan detak jantungnya yang mulai melemah. Hingga akhirnya dia tidak bernafas lagi, bersamaan dengan kardiograf yang menunjukkan garis lurus dan mengeluarkan suara yang menyakitkan untuk Joonmyeon, atau bagi siapa pun yang mendengarnya.

.

.

.

Untuk kali ini pun, Joonmyeon juga terlambat, walau hanya untuk sesaat.

.

.

.

END

.

.

.

[[Sebenernya pengen ditambahin lagi. Tapi sudahlah, aku lelaaah]]

[[Thanks buat yang mau review, baca, follow dan favorite di A While sama part yang kemaren! ILY~]]

Review lagi, boleh?