Disclaimer © Tite kubo

(Bleach bukan punya saya)

Seri drabble :

A sampai Z

By

Ann

Warning : Au, Ooc, typo(s).

Tidak suka? Bisa klik 'Close' atau 'Back'

Sebuah kisah cinta yang terangkai dalam alphabet.

a.n : setiap sub-judul drabble adalah cerita yang terpisah, tapi merupakan kelanjutan dari sub-judul sebelumnya. Oh ya, fic ini sebelumnya pernah dipublish di ffn tahun 2012-2013 tapi belum sampai selesai. Sekarang saya mempublish ulang dengan melakukan beberapa perubahan sekaligus ingin menyelesaikannya.

...

Chapter 3 : K Sampai O

Kunci

"Hua… Akhirnya selesai."

Rukia meletakkan sebuah kardus berisi berbagai macam alat peraga untuk pelajaran Biologi ke dalam sebuah lemari geser yang menempel di dinding laboratorium Biologi.

"Maaf ya, Rukia. Kau jadi pulang terlambat karena harus membantuku membersihkan lab. Biologi padahal hari ini bukan giliranmu." Momo berkata pada Rukia.

"Tidak masalah, bukankah akan lebih cepat selesai jika kita mengerjakannya berdua?" sahut Rukia sambil mengunci lemari geser. "Sekarang apa?"

"Aku harus mengantar buku laporan ke ruang guru," jawab Momo. Kemudian gadis itu melangkah menuju meja paling depan dan mengangkat tumpukan buku yang telihat cukup berat.

"Biar kubantu." Rukia melangkah mendekati temannya itu.

"Tak usah, biar aku yang mengantarnya. Sekaligus mengambil kunci dari Unohana-sensei," Momo menyahut cepat.

"Baiklah, aku akan menunggumu kembali," ujar Rukia.

"Lebih baik kau kembali ke kelas, Rukia. Tasmu masih di sana, kan?"

Rukia mengangguk. "Kutunggu kau di kelas, kita pulang sama-sama."

"Aku akan mentraktirmu eskrim di perjalanan pulang nanti," ujar Momo sebelum menghilang di balik pintu.

Rukia sudah hendak keluar tapi suara-suara berisik dari arah lapangan membuatnya penasaran. Ia melangkah mendekati jendela yang berada di samping lemari geser, lemari yang besar menutupi tubuhnya sehingga ia tak terlihat jika ada yang masuk ke ruangan itu, kecuali jika orang itu mendekati lemari. Ia memerhatikan klub sepak bola yang tengah berlatih di lapangan. Wajahnya berubah cerah saat menemukan seseorang yang ia kenal di antar siswa yang tengah berlatih itu. Ia menarik kunci jendela dan mendorong hingga jendela di depannya terbuka lebar. Lalu matanya kembali fokus pada siswa berambut jingga yang tengah menggiring bola ke arah gawang.

Dua orang tim lawan menghadang Ichigo, membuatnya terpaksa menghentikan laju larinya. Karena tak menemukan celah untuk melewati kedua pemain itu, Ichigo mengoper bola pada kawannya yang sudah menunggu di depan gawang tanpa penjagaan. Lalu dengan cepat kawannya itu melesatkan tembakan ke gawang dan...

Prittt!

"Nice shoot, Izuru!" pelatih berseru dari pinggir lapangan. "Dan Kurosaki, tadi itu umpan yang bagus. Pertahankan. Ingat, sepak bola permainan tim bukan individu!"

Rukia terus memerhatikan Ichigo berlatih di lapangan sampai melupakan janjinya untuk menunggu Momo di kelas. Ia baru tersadar saat mendengar suara pintu ditutup. Ia segera berlari ke arah pintu, tapi terlambat pintu itu sudah terkunci dan orang yang menguncinya sudah beranjak menjauh.

"Hei, buka pintunya! Masih ada orang di dalam!" ia berseru memanggil orang itu sambil menggedor-gedor pintu, berharap hal itu bisa membuat orang itu kembali dan membukakan pintu untuknya. "Bagaimana ini?" Rukia panik karena orang itu tidak kembali juga dan tidak ada seorang pun yang melewati koridor di depan ruang praktek biologi. Siswa-siswa sekolahnya memang jarang melewati ruang biologi, karena letaknya di bagian ujung koridor. Dan lagi ini sudah lewat dari jam pulang, artinya kemungkinnya sangat kecil ada siswa yang melewati koridor itu lagi.

"Momo!" Rukia merogoh kantong roknya, mencari ponselnya untuk menghubungi temannya. Namun sayang ia meninggalkan ponselnya di dalam tas sekolahnya, dan tas itu masih tersangkut di samping meja di ruang kelasnya.

"Bagaimana...?" Rukia menggigit bibir, semakin panik setiap detiknya. Ia lalu teringat pada klub sepak bola yang masih berlatih di lapangan, dan bergegas kembali ke jendela. Saat ia melihat ke lapangan ia sangat bersyukur karena anggota klub sepak bola masih ada di sana. Tanpa pikir panjang ia langsung berteriak memanggil Ichigo. Awalnya pemuda itu tak mendengarnya, dan baru mendengar panggilannya setelah Rukia berteriak sekali lagi dengan lebih kencang. Ichigo terlihat mencari-cari asal suara.

"Jendela lab. Biologi!"

Akhirnya Ichigo mendongakkan kepalanya ke lantai dua dan melihatnya melambai di salah satu jendela. Pemuda itu segera meninggalkan lapangan dan berlari menghampiri Rukia.

"Aku terkunci." Rukia segera memberitahu setelah Ichigo dekat. "Bisa bantu aku membuka pintunya?"

"Bagaima—"

Rukia memotong kalimat Ichigo sebelum pemuda itu selesai. "Cepatlah, kumohon."

Ichigo mengangguk dan segera berlari memasuki gedung.

Tidak sampai sepuluh menit menunggu akhirnya pintu lab. Biologi terbuka dan Ichigo langsung menyerbu masuk ke dalam ruangan.

"Kau tidak apa-apa?" pemuda itu bertanya, peluh membasahi keningnya bergulir turun hingga ke rahangnya.

"Tidak apa-apa. Terima—" belum selesai Rukia mengucapkan terima kasih. Momo menyerbu masuk dan langsung memeluknya.

"Maaf, Rukia. Aku tidak tahu kau tadi masih di dalam," kata Momo.

"Tidak apa-apa, Momo. Aku tadi berdiri di depan jendela di samping lemari, jadi wajar saja kalau kau tak melihatku." Rukia berusaha menenangkan temannya.

Momo melepaskan pelukannnya. "Aku tadi kembali ke kelas dan kau tidak ada, hanya ada tasmu. Lalu aku berpapasan dengan Kurosaki yang berlari tergesa ke ruang guru, aku mengikutinya dan mendengar kalau kau terkunci di sini. Maafkan aku, Rukia. Aku menguncimu di sini." Ia terlihat sangat menyesal.

"Sudahlah Momo, yang penting sekarang pintunya sudah terbuka," kata Rukia. Lalu ia menoleh pada Ichigo. "Terima kasih," ucapnya. "Maaf merepotkanmu," ia menambahkan.

Ichigo menggeleng. Suara-suara berisik kembali terdengar dari lapangan. "Sepertinya aku harus kembali latihan. Kuncinya?"

"Akan kami kembalikan ke Unohana-sensei," kata Momo.

"Kali ini pastikan kau menguncinya setelah Rukia di luar, Hinamori," ujar Ichigo.

"Pasti. Terima kasih, Kurosaki."

Ichigo mengangguk, kemudian beranjak pergi. Sebelum pergi ia tersenyum pada Rukia dan berkata, "Syukurlah kau baik-baik saja."

...

Lemonade

Sudah hampir jam enam sore saat Rukia dan Momo berjalan melewati bagian samping lapangan menuju gerbang depan sekolah.

"Jadi makan eskrimnya gimana?" tanya Momo.

"Besok saja," jawab Rukia. "Rasanya aku ingin cepat pulang."

"Baiklah kalau begitu."

Rukia menoleh ke lapangan, klub sepak bola sudah menyelesaikan latihan sore mereka. Tetapi belum semua anggotanya meninggalkan lapangan, ada seseorang yang masih berada di sana, berlari mengitari lapangan.

"Bukankah itu Kurosaki?" ujar Momo. Rukia hanya mengangguk dengan mata yang tak lepas dari Ichigo. "Dia masih latihan rupanya, rajin sekali."

"Kurosaki sedang dihukum."

Momo dan Rukia berbalik dan menemukan beberapa siswa anggota klub sepak bola berdiri di belakang mereka.

"Kenapa dia dihukum?" tanya Rukia.

"Dia pergi ditengah-tengah latihan, jadi Kiriya-sensei menghukumnya lari dua puluh kali keliling lapangan," jelas siswa itu.

Rukia dan Momo saling bertatapan.

"Gara-gara aku." Tatapan Rukia pada Momo seolah berkata begitu. "Di mana Kiriya-sensei?" ia bertanya pada siswa tadi. Siswa itu menunjuk sebuah arah, Rukia mengikuti telunjuk siswa itu. Ia melihat Kiriya-sensei sedang berbicara dengan beberapa siswa dan langsung berlari menghampiri pelatih klub bola itu.

"Rukia."

Mengindahkan panggilan Momo, Rukia terus berlari.

"Kiriya-sensei!" Rukia menahan langkah Kiriya yang hendak masuk ke ruang klub. Rukia lalu menjelaskan alasan Ichigo meninggalkan latihan untuk menolongnya dan meminta pelatih itu menghentikan hukuman Ichigo.

"Terlambat," kata Kiriya. "Kurosaki sepertinya sudah menyelesaikan hukumannya," ia menambahkan sambil memandang ke lapangan.

Rukia memandang ke lapangan, Ichigo baru saja menjatuhkan tubuhnya ke atas lapangan untuk mengistirahatkan tubuhnya.

"Kau tak bisa membatalkan hukumannya, tapi kau bisa memberinya minuman untuk meredakan lelahnya."

Rukia memandang Kiriya sesaat, lalu senyuman terbit di wajahnya. "Terima kasih, sensei," ucapnya seraya berbalik dan berlari pergi.

...

"Hup!"

Ichigo bangun dari posisinya berbaring di lapangan dengan satu gerakan cepat. Ia hampir jatuh lagi saat melihat Rukia berdiri di depannya.

"Apa yang kaulakukan di sini? Kau seharusnya sudah pulang!" Ichigo langsung menompat berdiri.

Rukia mengabaikan pertanyaan Ichigo. "Maaf, kau kena hukuman gara-gara aku," katanya.

"Jangan terlalu dipikirkan," Ichigo menyahut. "Hanya dua puluh putaran," tambahnya dengan nada cuek.

"Hanya? Biasanya kau mau dihukum lebih berat ya?" ujar Rukia.

Ichigo mengangkat bahu tak acuh. "Ini tak seberapa, Rukia. Biasanya Kiriya-sensei lebih kejam."

"Tapi tetap saja alasan kau dihukum karena aku. Ini." Rukia menyodorkan sebuah botol minuman pada Ichigo. "Untukmu."

"Terima kasih," ucap Ichigo seraya menyambut botol yang disodorkan Rukia. Ia lalu membuka tutupnya dan meminum isinya sedikit. "Asam!" keluhnya. Ia memutar botol di tangannya, membaca tulisan yang tertera di pembungkus botol itu. "Lemonade?" ia bertanya poda Rukia.

"Lemonade bagus untuk mengembalikan tenaga. Tidak suka ya? Mau kuganti yang lain?"

Ichigo menggeleng.

"Kalau tidak suka bilang saja," ujar Rukia.

"Tak apa, cuma belum terbiasa," sahut Ichigo. Lalu meneguk lemonade itu lagi.

"Tak usah dipaksa," kata Rukia. "Biar kubelikan yang lain." Rukia mencoba mengambil botol itu dari Ichigo, tetapi Ichigo dengan gesit mengelak.

"Akan kuminum," Ichigo berkata sambil menjauhkan botol itu dari Ichigo.

"Bukannya kau tidak suka?" Rukia bingung.

"Kalau itu darimu akan kuminum."

"Walau tidak suka?" Rukia bertanya lagi

Ichigo mengangguk. "Asalkan kau yang memberi," ia menyahut yakin.

Rona merah seketika menjalari pipi Rukia. Kata-kata Ichigo seolah-olah dirinya memiliki arti khusus bagi pemuda itu.

"Rukia!"

Rukia memutar kepalanya dan melihat Momo memanggilnya dari pinggir lapangan.

"Kalau begitu, aku pulang dulu," ujar pada Ichigo seraya memutar tubuhnya dan melangkah menjauh.

"Rukia."

Rukia menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menghadap Ichigo. "Ya?"

"Terima kasih," ucap Ichigo sambil mengangkat botol minuman yang tadi diberikan Rukia.

Rukia mengangguk, lalu berbalik dan melanjutkan langkahnya.

...

Misunderstanding(?)

"Saya permisi."

Rukia menarik pintu geser ruang guru hingga tertutup rapat sebelum berbalik dan melangkah menjauhi ruangan itu. Ia baru saja menyerahkan kumpulan buku tugas kelasnya kepada Ukitake-sensei dan berencana pergi ke kantin untuk makan siang bersama Momo dan Rangiku, namun sebelumnya ia ingin singgah ke perpustakaan untuk mengembalikan buku yang ia pinjam tiga hari yang lalu.

Bungsu Kuchiki itu melangkah dengan cepat di koridor lalu berbelok di ruangan yang di atasnya tergantung tulisan "Perpustakaan". Ia langsung menuju meja penjaga perpustakaan dan mengembalikan dua buku yang ia pinjam.

"Oh ya, bukankah kau bilang mau meminjam novel Pride and Prejudice karya Jane Austen, kan?" tanya Nanao yang hari ini bertugas sebagai penjaga perpustakaan.

"Iya, bukunya sudah ada?" Rukia bersemangat.

"Ya, baru saja kutaruh di rak novel terjemahan," kata Nanao.

"Terima kasih, Nanao." Rukia langsung melesat ke rak yang dikatakan Nanao. Ia memang sudah hafal dengan tata letak perpustakaan karena begitu sering mengunjungi tempat itu.

Rukia menemukan novel yang ia cari di rak tengah barisan novel terjemahan. Ia segera mengambilnya dan membawanya untuk dipinjam.

"Aku menyukaimu."

Kalimat yang tiba-tiba masuk ke indera pendengarannya itu membuat langkah Rukia terhenti di tengah jalan. Ia menoleh ke arah suara dan menemukan seorang siswi berdiri tak jauh darinya. Siswi itu tidak menghadap ke arahnya, jadi Rukia yakin pernyataan itu tidak ditujukan padanya namun pada orang lain yang tak bisa ia lihat karena terlindung rak buku. Awalnya Rukia ingin mengabaikannya saja karena ia tak mengenal gadis itu, lagipula ia tak mau menjadi saksi pernyataan cinta seseorang. Namun saat mendengar gadis itu menyebut nama Kurosaki, rasa penasaran Rukia langsung muncul. Ia tentu tak bisa mengabaikan begitu saja jika kemungkinan siswa yang ditembak gadis itu adalah pemuda yang disukainya. Ia pun mengendap-endap di antara rak buku agar dapat melihat siapa Kurosaki yang dipanggil gadis itu. Jika Kurosaki yang dimaksud bukanlah Ichigo, maka ia akan langsung pergi. Jika sebaliknya... ah, lihat saja nanti apa yang akan ia lakukan.

Rukia mengintip di antara buku-buku yang tersusun rapi di rak. Dan dugaannya ternyata benar. Kurosaki yang sedang ditembak gadis itu memang benar Ichigo.

"Aku ingin kau jadi pacarku."

Pernyataan gadis itu membuat Rukia memeluk erat novel Jane Austen di dadanya. Ia menunggu dengan was-was jawaban Ichigo. Dalam hati ia berdoa agar Ichigo menjawab tidak.

"Kau bilang kau ingin aku jadi pacarmu, itu perintah ya?"

"A-aku..." si gadis tergagap tak mampu menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Ichigo itu.

"Bagaimana kalau aku tidak mau? Apa kau akan memaksaku?" Ichigo bertanya lagi.

"A-aku menyukaimu, makanya aku ingin kau jadi pacarku," gadis berambut mahoni itu berkata.

"Terima kasih sudah menyukaiku. Tapi maaf, aku tak bisa jadi pacarmu."

Raut wajah si gadis mahoni langsung berubah muram, berkebalikan dengan Rukia yang merasa lega dengan penolakan Ichigo.

"Kenapa kau menolakku? Apa kau sudah punya pacar?" Nampaknya si gadis mahoni tak mudah menyerah.

Jantung Rukia berpacu. Ia menajamkan pendengarannya, tak ingin melewatkan kata-kata yang akan dikeluarkan mulut Ichigo sebagai jawaban.

"Ya, bisa dibilang begitu." Ichigo tersenyum kecil, Rukia melihatnya saat ia mengintip. Senyum itu membuat Rukia meleleh sekaligus iri pada gadis yang kini berada dalam pikiran Ichigo, karena pasti gadis itulah yang menjadi sumber senyuman itu. Hati Rukia mencelos, kala ia teringat Orihime, gadis berambut karamel yang ia temui beberapa minggu lalu. Perasaan leganya karena Ichigo sudah menolak cinta si gadis mahoni menguap, berganti dengan perasaan lain yang lebih menyesakkan. Ichigo sudah memiliki kekasih, seseorang yang dia sukai, dan itu bukan dirinya.

...

Nomor Baru

Rukia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur tertutup seprai bergambar kelinci putih besar. Tas sekolah ikut terhempas di tempat tidur bersamanya. Hari ini ia tak melakukan ritual yang biasanya ia lakukan setelah pulang sekolah, yaitu ganti baju dan mengeluarkan buku-buku pelajarannya dari dalam tas, pikirannya terlalu kusut sehingga badannya terasa begitu lelah dan hanya menginginkan satu hal, tidur lalu menghilang ke alam mimpi.

Semua itu karena apa yang ia dengar di perpustakaan beberapa jam yang lalu. Jika sebelumnya ia masih bisa berharap Ichigo masih sendiri, sekarang harapan itu sirna karena ia sudah mendengar dari mulut Ichigo sendiri bahwa pemuda itu sudah memiliki tambatan hati.

Rukia patah hati, itulah yang ia rasakan sekarang. Sakit memang, tapi ia harus menerima karena suka ataupun cinta bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan. Jika menyukai seseorang, harus siap dengan kemungkinan perasaan tak berbalas, karena belum tentu orang yang disukai memiliki perasaan yang sama.

Rukia menggapai bingkai foto di meja belajarnya, di dalam bingkai itu terdapat fotonya bersama Ichigo. Foto yang diambil pelayan toko saat mereka makan di sebuah kafe eskrim. Menatap foto itu mengingatkannya kembali pada kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan Ichigo padanya, mulai dari memberinya apel, buku, payung, mengajaknya makan eskrim, hingga menolongnya saat ia terkunci di lab. Biologi. Pemuda itu begitu masih, sehingga membuat Rukia jatuh hati padanya dan berpikir jika perasaannya berbalas.

"Jika aku menyatakan perasaanku lebih dulu, apakah kau akan menerimaku Ichigo?"

Ia bertanya sambil memandang foto Ichigo. Bayangan Orihime tiba-tiba muncul di benaknya. Mau tak mau ia membandingkan dirinya dengan gadis bertubuh semampai itu. "Kurasa tidak," ia menjawab pertanyaannya sendiri. "Kau pastinya akan lebih memilih Orihime. Dia jelas lebih memiliki banyak kelebihan dibanding aku," sungut Rukia. "Arrgghh!" Ia menutup wajahnya dengan bantal untuk meluapkan rasa frustasinya.

Suara ringtone ponselnya mengalun pelan membuat Rukia melepaskan bantal dan mencari-cari keberadaan benda elektronik itu. Ia membongkar tasnya dan menemukan ponsel berwarna putih miliknya. Di layar empat inchi itu nampak gambar malaikat kecil dengan gagang telepon menempel di telinganya, menandakan ada panggilan masuk. Rukia tak segera menjawab panggilan itu karena nomor yang tertera di layar ponselnya tak ia kenal. Ia membiarkan panggilan itu hingga berhenti dengan sendirinya. Selang beberapa detik sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Rukia. Dari nomor yang sama dan isinya hanya satu kata : "Hai."

Rukia mengernyit setelah membaca pesan itu. "Orang iseng." Ia mengambil kesimpulan dan mengabaikan pesan itu. Tetapi si pengirim mengirim pesan lagi hanya berselang setengah menit kemudian.

"Kau Rukia, kan?"

"Iya, lalu kenapa?" Rukia menyahut tetapi tak membalas pesan itu.

Setelahnya masuk satu pesan lagi.

"Kenapa tidak dibalas?"

"Memangnya harus ya?" Rukia bertambah sebal pada si pengirim. Suasana hatinya yang memang sudah buruk menjadi lebih buruk lagi.

"Maaf jika aku mengganggumu, aku hanya ingin memastikan aku tidak menghubungi nomor yang salah."

Rukia merasa bersalah setelah membaca pesan yang terakhir. Ia sudah sangat tidak sopan karena tidak membalas pesan orang itu padahal bisa jadi orang itu adalah salah satu temannya. Ia lalu mengetik pesan balasan, tapi sebelum pesan itu selesai layar ponselnya menunjukkan ada panggilan masuk. Panggilan dari si pengirim pesan.

"Halo." Rukia menjawab panggilan itu.

"Rukia?"

Jantung Rukia melewatkan satu degupan saat mendengar suara lawan bicaranya. "I-Ichigo?"

"Syukurlah tidak salah nomor. Aku tadi meminta nomormu pada Renji, aku takut salah catat karena dia menyebutkannya dengan sangat cepat, sepertinya dia tidak ikhlas memberiku nomor ponselmu," jelas Ichigo.

Perasaan Rukia melambung karena Ichigo mau repot-repot menghubunginya. Namun perasaan itu tak bertahan lama sebab ia teringat jika Ichigo sudah menyukai orang lain. "Kau ada perlu denganku?" Rukia tak bisa menahan lidahnya untuk mengeluarkan kalimat bernada sinis pada Ichigo.

Selang beberapa detik tak ada jawaban dari Ichigo. "Aku mengganggumu ya?" Suara Ichigo akhirnya terdengar.

Rukia menggigit bibir. Ia tak seharusnya bersikap buruk. Bukan salah Ichigo jika pemuda itu tak menyukainya.

"Rukia?"

"Maaf...," ucap Rukia. "Suasana hatiku sedang buruk," ia beralasan.

"Kau ada masalah?"

"Iya, kau lah masalahku." Rukia ingin menjawab begitu tetapi yang keluar dari mulutnya justru, "PMS."

"Eh?" Ichigo kebingungan.

"Sudahlah, tak usah dibahas. Ada apa?"

"Apanya?"

"Kenapa meneleponku?"

"Oh... Tak apa-apa, aku cuma ingin mendengar suaramu."

"Kau seharusnya tidak mengatakan itu, Ichigo," Rukia naik pitam.

"Kenapa? Aku memang ingin mendengar suaramu."

"Kau tidak boleh mengatakan hal seperti itu padaku sementara kau sudah punya pacar!"

"Pacar? Siapa bilang aku punya pacar?"

Rukia terdiam. Ia tak mungkin mengatakan pada Ichigo bahwa ia mendengarnya sendiri tadi siang. "Seseorang mengatakannya padaku," dustanya.

"Siapa?"

"Bukan itu yang sedang kita bahas, Ichigo. Yang—"

"Apapun yang kau dengar tentangku itu tidak benar. Aku belum punya pacar Rukia."

"Tapi kau bilang pada gadis itu kau sudah punya pacar." Rukia segera menyesali apa yang baru saja ia katakan.

"Siapa yang kau maksud?"

"Bukan siapa-siapa," kilah Rukia.

"Kau ada di sana, kan? Di perpustakaan?"

"A-aku... itu bukan sengaja menguping."

"Kau salah dengar, aku tidak bilang kalau aku sudah punya pacar."

"Tapi kau bilang, ya, bisa dibilang begitu," Rukia menyahut cepat.

"Kau salah mengartikannya."

"Lalu yang benar?"

"Aku menyukai seseorang dan berharap orang itu jadi pacarku."

Lidah Rukia gatal untuk bertanya siapa orang yang Ichigo maksud namun ia urung menanyakan hal itu. Harga dirinya melarangnya bertanya.

"Rukia?" terdengar suara Ichigo setelah lama keduanya hanya berdiam diri.

"Ya?"

"Tidak apa-apa kan aku meneleponmu?"

"Hanya untuk mendengar suaraku?"

"Ya."

Rukia mengangguk sambil menjawab, "Tidak apa-apa."

"Baguslah."

...

Orang yang disukai

Undokai, Festival Olahraga adalah kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap tahun di SMA Karakura. Selama satu minggu semua kelas dari setiap tingkat mengirimkan wakil-wakilnya untuk mengikuti setiap pertandingan yang dilombakan. Mulai dari lari estafet, permainan bola, dan berbagai permainan unik yang sudah menjadi tradisi di SMA Karakura.

Lari pembawa pesan adalah salah satu permainan unik yang paling ditunggu. Nama permainan itu memang terkesan kuno karena permainan itu memang dibuat sejak Festival olahraga pertama SMA Karakura dilaksanakan—sekitar 20 tahun lalu—Aturan permainannya adalah di pelari dari masing-masing kelas harus berlari dari titik start menuju garis finish yang berjarak kurang lebih 300 meter, yang tercepat akan mendapat kesempatan pertama memilih salah satu amplop pesan yang disediakan panitia di garis finish. Dalam masing-masing amplop tertulis nama benda/orang yang harus dibawa si pelari kembali ke garis start. Pelari pertama yang mencapai garis start bersama benda/orang sesuai dengan yang tertulis di kertas pesannya yang akan menjadi pemenang.

Rukia sangat bersyukur tahun ini ia tidak terpilih menjadi perwakilan kelasnya untuk permainan itu. Pengalaman terakhirnya mengikuti permainan itu kurang mengenakkan. Tahun lalu ia terpaksa membawa Unohana-sensie ke lapangan karena dalam kertas pesannya tertulis nama guru Biologi itu. Tahun ini Renji yang akan mewakili kelas mereka untuk lomba itu.

"Apa kau yakin tidak mau bertukar tempat dengan Renji, Rukia?" tanya Rangiku.

"Tidak, terima kasih. Aku jadi penonton saja," Rukia menjawab dengan cepat sambil mengambil dua pompom, satu dengan tangan kiri dan satu lagi dengan tangan kanan.

"Yakin?" Rangiku mengerling ke arah Renji yang tengah bersiap di titik start. Tetapi yang ia maksud sebenarnya bukanlah Renji melainkan seseorang yang berdiri di sampingnya. "Kau bisa dekat-dekat dengan Ichigo loh," ujar Rangiku.

Rukia memandangi orang dimaksud Rangiku. Ichigo berdiri bersebelahan dengan Renji, keduanya nampak sedang mengobrol sambil menunggu lomba dimulai.

Untuk dekat dengan Ichigo Rukia tidak perlu ikut perlombaan itu. Ia sudah memiliki benda ajaib lain yang bisa mendekatkannya dengan Ichigo. Ponsel. Dengan benda itu ia bisa lebih dekat dengan Ichigo, bertukar pesan, berbalas email, atau saling menyapa di sosial media, bahkan mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam dengan mengobrol. Sejak pertama kali Ichigo meneleponnya, mereka memang sering bertukar kabar lewat alat komunikasi canggih itu. Mereka menjadi lebih dekat dan akrab, meski hubungan mereka masih berstatus "teman".

"Rukia." Panggilan Rangiku menyadarkan Rukia dari lamunannya. "Yakin tidak mau bertukar posisi dengan Renji?" temannya itu bertanya sekali lagi untuk memastikan.

Rukia mengangguk yakin. "Kami sudah cukup dekat kok," ujarnya seraya melangkah menghampiri teman-teman sekelasnya yang sudah berkumpul untuk menyemangati Renji.

"Eh? Apa maksudnya itu?" Rangiku mengejarnya untuk meminta penjelasan.

"Itu artinya mereka sudah cukup dekat dengan cara lain." ujar Momo yang tiba-tiba muncul.

"Cara apa?" Rangiku menghentikan langkahnya dan berpaling pada Momo. "Kau tahu, kan? Ayo ceritakan padaku," desaknya.

Momo memberi isyarat agar Rangiku mendekat padanya lalu ia berbisik di telinga temannya itu.

Rangiku menyeringai. "Ck, dasar," ia berdecak namun raut wajahnya tak terlihat kesal. Ia lalu mendekati Rukia dan menghadiahi gadis berambut hitam itu dengan cubitan di kedua pipinya.

...

Teetttt!

Bunyi terompet nyaring menandakan perlombaan dimulai. Semua peserta berlari secepat mungkin menuju garis finish. Ichigo dan Renji berada diurutan terdepan, keduanya sama cepat, dan akhirnya mencapai finish disaat bersamaan. Keduanya mengambil amplop dan membukanya, membaca pesan yang tertulis di kertas masing-masing. Keduanya memindai di antara para penonton, lalu pandangan keduanya terhenti pada Rukia yang berdiri di barisan depan. Detik berikutnya setelah menemukan Rukia mereka berdua berlari ke arahnya dengan kecepatan penuh.

Rukia masih belum bangun dari keterkejutannya saat kedua pemuda itu sampai di depannya. Ichigo dan Renji menjulurkan tangan untuk meraihnya. Refleks ia mundur menjauhi mereka, namun salah satunya bergerak lebih gesit dan berhasil menangkap lengan Rukia lalu menariknya. Rukia berlari sambil menatap punggung Ichigo, ingin bertanya namun tahu ia tak akan mendapat jawaban kecuali mereka sudah sampai di garis start. Rasa penasaran memenuhi dirinya, ia ingin tahu isi pesan amplop Ichigo sehingga pemuda itu harus membawanya.

Mereka adalah peserta pertama yang tiba di garis start. Ichigo segera menyerahkan kertas pesannya pada Kyoraku-sensei yang berjaga di garis start. Guru seni sekaligus pengampu klub lukis itu membaca pesan yang tertulis di kertas itu, lalu ia melihat pada Rukia.

"Dia ya?" sensei itu menyeringai.

Ichigo hanya mengangguk.

Kyoraku-sensei menyerahkan kembali kertas pesan Ichigo dan meniup peluit, menandakan jika perlombaan itu sudah mendapatkan pemenangnya. Renji tiba tepat saat peluit ditiup, sambil menarik Rangiku bersamanya.

"Hei babon, kenapa kau menarikku?" omel Rangiku dengan napas tak teratur karena habis berlari. Renji tak menjawab, hanya menyerahkan kertas pesannya pada Rangiku.

"Teman sekelas." Itu yang tertulis di kertas pesan Renji.

"Oh..." Rangiku mengangguk-angguk tanda mengerti. Ia lalu berputar ke arah Ichigo. "Punyamu?" ia bertanya.

Ichigo melengos, tak mau menjawab pertanyaan Rangiku. Ia mencoba menjauh namun langkahnya tertahan karena ia masih menggenggam tangan Rukia. Saat memandang Rukia, semburat merah muda menghiasi wajah tampannya.

"Ichigo?" Rukia menatapnya dengan bingung.

Ichigo meremas kertas pesan di tangannya, ia jelas nampak enggan menyerahkan kertas itu pada Rukia atau memberitahukan apa isinya.

Jantung Rukia berdebar cepat. Tak sabar ingin tahu tulisan apa yang ada di kertas itu.

Setelah semenit penuh mempertimbangkan apa yang akan dilakukan, akhirnya Ichigo melepaskan genggaman tangannya dari jemari Rukia. Lalu ia menyerahkan kertas pesannya pada Rukia.

Wajah Rukia langsung memerah laksana tomat matang saat ia membaca tulisan di kertas pesan itu. Ia melirik Ichigo yang berusaha menatap ke arah lain selain padanya, lalu kembali memandang kertas yang agak lecek yang ia pegangi dengan dua tangan.

"Orang yang disukai." Itulah kaya yang tertulis di kertas pesan Ichigo.

...

bersambung...

...

Review's review :

Virgo24

Makasih dah RnR. Udah diupdate nih.

Darries

Makasih dah RnR ya.

Dulu udah nyampe chap 3, tapi untuk yang sekarang chap 3-nya dirombak ulang dan chap 2 kemaren juga ada beberapa bagian yang diubah.

Udah lanjut nih.

...

Akhirnya chapter ini selesai juga~ Molor seminggu dari jadwal, tapi ga papa yang penting akhirnya bisa dikelarin. Hehe...

Di chapter ini hubungan Ichigo dan Rukia sudah berkembang, paling ga perasaan Ichigo sudah dinyatakan dengan cukup jelas di drabble terakhir. Tapi ini bukan chapter akhir loh, masih ada 3 chapter lagi setelah ini. Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa 3 lagi. Alasannya sih karena saya mau bikin formasi 5-5-5-4-4-3, supaya jumlahnya genap 26. *gubrak!*

Akhir kata, makasih untuk kalian yang udah baca, review, follow dan nge-fav fic ini, dan maaf jika ada kekurangan.

See ya,

Ann *-*