Chapter 3 : Tahun Baru Di Rumah Obaa-san
Kuroko no Basket©Fujimaki Tadatoshi
Genre: T
Pairing: MidoTaka
Genre: Family, (sedikit) Romance
Warning! Typo(s), OOC, OC, Mpreg!
Untuk yang masih bingung: Tou-chan (ayah), Kaa-chan, (ibu), Nii-san (kakak laki-laki), Oba-chan (tante)
Selamat membaca
•
•
•
Sore ini, tepat di penghujung tahun, keluarga kecil Midorima berkunjung ke rumah orang tua Shintarou di Tokyo. Kedatangan mereka disambut hangat oleh penghuni rumah, terutama ibu Shintarou.
"Nenek!" ujar Kazurou, berlari mendekati wanita yang tengah bersandar di sofa.
Menyadarinya, wanita itu tersenyum dan memeluk cucu—anak dari putra pertamanya, Shintarou. Di usianya yang sudah berkepala empat, keriput yang biasanya nampak kini tertutup oleh raut bahagia yang tergambar jelas di paras cantiknya. Tangannya sesekali mengusap surai lembut Kazurou. "Selamat datang, Kazurou."
Shintarou di belakang menghela napas melihat tingkah anaknya—yang sama lincahnya seperti Kazunari. "Okaa-san, aku pulang" ujarnya pada sang Ibu.
Kazunari yang baru selesai membereskan barang bawaan bergegas mendekati ibu mertuanya. "Okaa-san, kami datang." Ujarnya lembut. "Apa okaa-san sehat? bagaimana dengan otou-san? Apa otou-san juga sehat? Ah iya, kami membawakan buah-buahan untuk kaa-san dan tou-san."
Selagi kedua insan tadi berbincang, seketika saja Shintarou dikejutkan oleh tangan yang tiba-tiba memukulnya tepat di punggungnya. Matanya melirik dan menangkap sosok gadis berambut hijau panjang yangtergerai sampai ke pahanya. Tak kalah manik emerladnya yang terbingkai oleh kacamata, serta baju terusan berwarna merah muda sepanjang lutut dengan renda putih di bawahnya. Gadis itu adalah Midorima Shinka, adik Shintarou.
"Selamat datang, Onii-chan!" Ujar gadis itu riang.
Shintarou mengangguk. "Tidak kusangka kau sudah sebesar ini." Lanjutnya; membenahkan letak kacamatanya.
"Shinka, di mana tou-san?"
"Tou-san ada di kamar. Masih tidur." Balas Shinka.
•
•
•
Sekian jam berlalu sudah. Langit jingga yang sebelumnya menghiasi langit nampak memudar oleh dominasi biru kehitaman di sana. Malam itu, keluarga kecil Shintarou memutuskan untuk menginap—seperti apa yang sudah disepakati sebelumnya.
Saat ini sudah memasuki waktu makan malam. Suara gesekan antara wajan dengan spatula bertaut dengan bisingnya suara televisi, yang terletak tepat di ruang sebelah dan langsung terhubung dengan dapur. Shintarou yang saat itu tengah membaca buku sontak menutup benda yang cukup tebal itu ke atas meja, dan beranjak menuju dapur.
Di sana, matanya menangkap ketiga sosok manusia kesayangannya tengah asyik bergelut dengan tugasnya masing-masing. Masih dengan sikap sok cueknya, Shintarou menunggu di meja makan sambil menunggu waktunya. Entah angin dari mana, Shintarou merasakan kakinya menyenggol sesuatu yang lembut seperti.. Bulu
Alisnya berkedut, matanya melotot melihat 'sesuatu' yang mengenai kakinya.
'Demi Oha-Asa, siapa yang membawa kucing masuk ke rumah nodayo?!'
Matanya menatap horror mamalia imut yang masih bergelayut manja di kakinya itu. Menjijikan, batinnya. Uhum, mungkin itu hanya berlaku bagimu saja, Shintarou.
"Tou-chan, awas!" suara nyaring dari arah ruang keluarga menjadi penyelamat bagi nyawa Shintarou saat itu. Bocah pemilik suara itu berlari mendekati Shintarou—atau lebih tepatnya kaki Shintarou dan berusaha menangkap sosok cokelat berbulu di sebelah kaki Shintarou. Hup, ia berhasih mendapatkanya.
"Kazurou, kucing siapa itu?" Tanya Shintarou dengan sedikit penekanan. Nampaknya masih trauma.
"Kucing Shinka oba-chan. Kenapa? Tou-chan suka?" dengan polosnya Kazurou menodongkan binatang itu pada ayahnya, tanpa tahu betapa takutnya orang yang sedag ditodonginya.
"Hsh, jangan lakukan itu. Sudah, lanjutkan saja permainanmu" Bujuk Shintarou lembut sambil mengusap puncak si anak. Kazurou pun menurut dan beranjak pergi untuk bermain.
Helaan napas panjang menjadi tanda leganya hati Shintarou yang nyaris copot. Beruntung Kazurou datang tepat waktu—yah, meski sempat ditodongi. Tak beberapa lama, makanan mulai tersaji di meja. Semua anggota keluarga Midorima mulai menempati bangkunya masing-masing, Termasuk Midorima senior yang akhirnya saja menunjukkan dirinya. "Selamat malam, Tou-san" Sapa Shintarou pada ayahnya. Dibalas anggukan singkat dari si lawan bicara.
Makan malam saat itu begitu ramai. Kazurou terus saja meminta tambahan makan, bahkan sampai tiga kali, membuat gelak tawa di ruangan itu.
•
•
•
Kazurou terbangun. Ia mengejapkan matanya beberapa kali, bermaksud untuk tidur lagi. Merasakan adanya cahaya yang menyilaukan matanya, akhirnya ia membuka mata.
"Kazu-chan, ohayou."
Bocah berumur lima tahun itu mengusap matanya. "Ohayou, Kaa-chan."
Orang yang dipanggil 'Kaa-chan' itu mendekat, mengusap kepala Kazurou lembut. "Ayo bangun, jangan tertidur lagi." Tangannya menekan pipi yang terasa Kenyal itu. "Okaa-chan sudah siapkan sup miso untukmu. Setelah ini mandi, okay?" ujarnya dan meninggalkan Kazurou yang masih mengumpulkan nyawa. Tak lama, Kazurou yang nyawanya sudah terkumpul bergegas mandi dan menyusul Kazunari ke ruang makan.
Sedangkan di ruang makan, semuanya sudah mulai melahap sarapan mereka masing-masing. Shinka yang makan dengan porsi paling sedikit—dengan alasan diet—lantas lebih dulu selesai, disusul oleh Shintarou. "Terima kasih atas makanannya (nodayo)"
Shinka mengambil segelas air di tengah meja "Hey, nii-chan?" yang dipanggil menoleh. "Aku ingin memberitahukan sesuatu padamu." Ujarnya mendekat. Shinka dari dulu memang memiliki sifat yang berbeda dengan kakaknya. Ia cenderung (jauh) lebih ramah dan ceria dibanding Shintarou.
"Bilang saja kau mau ikut noday—"
"—Ohayoooooouu!"
Suara berisik dari Tangga memotong perkataan Shintarou yang (sangat) tanggung. Semua yang ada di sana menoleh ke arah datangnya suara. Dari sana, Kazurou muncul dengan wajah sumringah. "Sup misonya di mana?!"
Semua hening. Tidak kah aneh? Datang pun baru saja, langsung menanyakan sesuatu. Sambil berteria pula. "Jangan berteriak, Kazurou." Tegur Shintarou lembut.
Di sebelah Shintarou, Kazunari tegah tersenyum. "Ini, sayang." Ujarnya memberikan semangkuk sup miso kepada Kazurou. Kazurou tersenyum, dan membawanya ke ruangan di depan televisi.
•
•
•
Kazunari sedang mencuci piring yang tadi digunakan untuk sarapan. Dengan telaten, tangannya mengusap permukaan piring maupun mangkuk dengan spons yang tertutupi oleh busa.
"Kazunari."
"Heh?!" Bandannya terlonjak, terkejut dengan kehadiran Shintarou di belakangnya. Tangannya refleks terguncang ke atas, membuat busa—yang ada di spons—bercipratan ke sekitan, termasuk mengenai kacamata Shintarou. Beruntung hanya mengenai kacamatamu,, Shintarou. Ia terdiam.
Sedangkan di hadapannya, Kazunari mencoba menahan tawanya yang nyaris pecah. "Pftt, maafkan aku, Shin-chan." Tangannya berusaha membersihkan busa yang masih menempel di kacamata sang suami—tak lupa ia mencuci tangan sebelumnya. Shintarou yang mash speechless hanya membiarkan tangan itu mengusap kacamata miliknya. Yah, sebenarnya ia tidak keberatan dibeginikan.
Kacamata Shintarou sudah seperti semula, membuat Kazunari sedikit lega. "A-ah iya, kau mau bilang apa, Shin-cha—"
"—Matikan dulu keran airnya, Bakazunari."
"Wops, benar juga. Hehe" Kazunari cengegesan. Ia berbalik dan menutup keran air yang masih menyala (sedari tadi). "Ya, ada apa?" kembali bertanya sambil berbalik menghadap Shintarou.
"Kuharap kau masih ingat tujuan kita ke sini? Bagaimana kalau nanti malam kita pergi ke pantai? Shinka menyarankanku soal ini. Katanya akan ada pertujukann kembang api di sana. Dan kita ajak juga Shinka nanti. Bagaimana?" Shintarou membenahkan letak kacamatanya. Manik emeraldnya mentap intens ke arah Kazunari.
Yang ditatap menaikkan sebelah alisnya. "Tumben Shin-chan peduli dengan orang lain?" Ujarnya menahan tawa (lagi).
Shintarou masih punya sabar kali ini. Ia mencoba untuk tidak meremat pipi tembam Kazunari. "Tch, kau ini. Jawab pertanyaanku dulu, bodoh"
"Hehe, baiklah. Maafkan aku." Kazunari Menyibakkan poninya ke belakang. "Kalau itu maumu, tak apa. Toh Kazurou juga akan senang kalau Adikmu ikut, iya kan?" Ia tersenyum membayangkan seperti apa ekspresi Kazurou nanti.
Alis Shintarou terangkat sedikit mendengar tanggapan Kazunari. "Baiklah. Aku akan memberitahu Shinka." Ujar Shintarou, meninggalkan Kazunari yang kembali mencuci piring.
•
•
•
Setelah memberitahukannya pada Shinka, Tepat pukul 10 malam mereka berangkat menuju Pantai yang lokasinya tak terlalu jauh dari rumah."Tou-san, kapan kita sampai?" Tanya kazurou tak sabar.
"Sebentar lagi." Balas Shintarou singkat.
Tak lama tibalah mereka di lokasi. Kazurou yang girang, langsung berlari keluar, tentu oleh pengawasan Shinka yang mengikutinya di belakang. Kazunari menghela napas melihat tingkah anaknya itu. "Shin-chan, cepatlah. Ayo susul Kazurou!"
"Sabarlah sebentar." Balas Shintarou kasar—seperti biasa.
Setelah beberapa menit, keempatnya sudah menemukan tempat yang cocok untuk menunggu acara utama, tujuan mereka datang ke sini. Shintarou melihat jam tangan yang terpasang di tangan kirinya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas lebih empat puluh lima menit. Hanya butuh waktu lima belas menit lagi untuk menunggu.
Shinka masih sibuk bermain dengan Kazurou. Mereka memang akrab meskipun selisih umur yang banyak. Shinka sudah duduk di kelas satu sekolah menengah atas di Tokyo. Ia memang terkenal sebagai murid yang cerdas—sama seperti sang kakak.
"Nee Kazurou, Aku membawakan ini untuk kita mainan." Ia menyelipkan tagannya ke dalam tas, mengambil bingkisann berisi kembang api. "Apa kau mau main?" Tanyanya tersenyum pada Kazurou.
"Ya, yo main itu, Shinka oba-chan!" Sahut kazurou bersemangat..
"Shinka-chan, tolong awasi Kazurou saat bermain itu ya?" Kazurou tersenyum pada gadis itu. "baiklah, serahkan padaku!"
Sementara dua orang itu bermain, Kazunari sesekali melirik Shintarou yang menatap lurus ke arah langit, seperti memikirkan sesuatu. Ia memperhatikan Suaminya itu sambil terenyum. "Shin-chan?" panggilnya. Jarinya menekan pipi Shintarou pelan.
"Apa?" Shintarou melirik ke arahnya.
"Apa yang sedang kau pikirkan, ha? Serius sekali" Kazunari menyandarkan kepalanya ke pundak Shintarou. Ia mendongakkan kepalanya, menatap mata yang lebih
Tinggi darinya.
Shintarou tersenyum tipis. "Bukan apa-apa." Tangan kirinya membelai pelan surai raven Kazunari. "Dasar kau ini, tukang penasaran." Ia sedikit menundukkan kepalanya dan mengecup singkat kening terbuka Kazunari.
"Hehe, apa salahnya—"
Dor
"Waaah, kembang api!"
Shintarou dan Kazunari memalingkan wajahnya menatap langit. Mata Kazunari Nampak bersinar saat itu. "Selamat tahun baru, Shin-chan"
"Hm, Selamat tahun baru juga, Kazunari."
•
•
•
Selesaaaaii! Maaf kalau ada typo atau apapun itu. Saya belum sempat mengoreksi sedikitpun. Dan, saya harap kalian bias terhibur dengan ini. Oh iya, selamat tahun baru untuk semuanya!
Salam, Hikagecchi~
